← Daftar isi Kisah para Rasul (1) · bab 14/27

PERKEMBANGBIAKAN DI YERUSALEM, YUDEA, DAN SAMARIA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PETRUS

(9)

Pembacaan Alkitab: Kis. 3:1-26

Dalam pembacaan Alkitab kita, kita secara tidak sadar masih dapat dipengaruhi oleh teologi tradisional. Kita perlu meninggalkan teologi tradisional yang usang dan kembali kepada Alkitab dengan cara yang baru, yang segar. Jika kita membaca Kisah Para Rasul 3 secara demikian, kita akan nampak bahwa Tuhan adalah Hamba Allah, Yang Kudus, Yang Benar, dan Perintis Kehidupan. Kita juga akan memperhatikan waktu kelegaan yang dibicarakan dalam ayat 19. Seperti yang telah kita tunjukkan, dalam pengalaman kita Kristus sendiri adalah waktu kelegaan itu, karena Dia ada-lah kenikmatan, perhentian, dan damai sejahtera kita.

MENGENAL BAHWA KITA

DAPAT MENIKMATI TUHAN

Pernahkah Anda mendengar bahwa Anda dapat menikmati Tuhan? Pernahkah Anda mendengar seorang pembicara memakai kata ”menikmati” terhadap hubungan Anda dengan Tuhan? Banyak orang beriman yang belum pernah mendengar bahwa mereka dapat menikmati Tuhan. Dalam agama hari ini, jika ada, hanya ada sedikit kenikmatan terhadap Tuhan. Tetapi, oleh rahmat Tuhan saya dapat bersaksi bahwa selama bertahun-tahun saya telah mendorong umat Tuhan untuk menikmati Dia.

Pada tahun 1965 kita mengadakan satu konferensi di Los Angeles tentang ”makan Yesus”. Selama konferensi itu, kita membahas perihal makan di seluruh Alkitab; pohon hayat, domba Paskah dengan roti yang tidak beragi dan sayur pahit, manna, dan hasil tanah permai. Kita membahas perkataan Tuhan dalam Yohanes 6 mengenai makan Dia dan pesan yang Dia berikan ketika Dia mendirikan meja-Nya, makan tubuh-Nya. Selain itu kita membahas janji Tuhan dalam Wahyu 2:7 bahwa para pemenang akan makan pohon hayat. Kita juga melihat janji dalam Wahyu 22:14, janji bahwa orang-orang yang membasuh jubah mereka dapat memiliki hak atas pohon hayat.

Ada seorang penginjil yang menghadiri konferensi itu. Sesudah itu, ia mengatakan bahwa ia belum pernah mendengar tentang menikmati Tuhan dengan memakan-Nya. Ia heran di mana saya belajar mengenai makan Tuhan dan me-nikmati Dia. Saya memakai contoh ini sebagai suatu ilus-trasi tentang perlunya menyadari, bahwa Tuhan Yesus itu dapat dinikmati.

Ada beberapa orang beriman mungkin tidak menyadari bahwa Kristus dapat menjadi kenikmatan mereka, karena mereka berada di bawah pengaruh pengajaran teologi tradisional dalam pembacaan Alkitab mereka. Setiap kali mereka datang kepada Alkitab, mereka memakai ”kacamata warna” tradisi. Kita perlu menanggalkan ”kacamata” yang demikian dan membaca Alkitab menurut warnanya sendiri. Jika kita melakukan ini, kita akan memperhatikan Perintis Kehidupan dan waktu kelegaan dalam Kisah Para Rasul 3.

MENIKMATI WAKTU KELEGAAN DENGAN BERSERU KEPADA NAMA TUHAN

Jika kita menikmati Kristus, kita akan memiliki waktu kelegaan. Kita dapat memiliki waktu kelegaan hanya dengan berseru kepada nama Tuhan Yesus. Serulah ”O Tuhan Yesus!” dan Anda akan berada dalam waktu kelegaan.

Kita perlu menikmati waktu kelegaan dalam kehidupan pernikahan kita. Misalnya, seorang saudari mungkin kesal terhadap suaminya. Akibatnya, ia terbelenggu seperti perem-puan bungkuk yang dibelenggu Iblis dalam Lukas 13:10-17. Sering kali seorang istri dapat menjadi bungkuk karena ia dibelenggu oleh amarah yang ia rasakan terhadap suaminya. Bagaimanakah seorang saudari dapat dilepaskan dari belenggu yang demikian? Ia dapat dilepaskan hanya dengan berseru, ”O Tuhan Yesus!”

Kapan saja kita terbelenggu, kita perlu berseru kepada Tuhan. Kemudian kita akan dapat berkata, ”Amin, Tuhan Yesus! Aku sekarang berada dalam waktu kelegaan.” Saya mendorong Anda menikmati waktu kelegaan dengan berseru kepada nama Tuhan.

Beberapa orang yang memiliki banyak pengetahuan teologi mungkin tidak mau berseru kepada nama Tuhan. Mereka mungkin takut ”kehilangan muka” mereka. Tetapi kita mungkin perlu kehilangan muka kita untuk mendapatkan Tuhan Yesus. Sungguh nikmat berseru kepada nama-Nya! Kadang-kadang saya lupa diri karena bersukacita dalam Tuhan sambil berseru kepada-Nya dan menikmati wak-tu kelegaan. Hari demi hari, dari pagi hingga malam, kita dapat menikmati waktu kelegaan hanya dengan berseru kepada Tuhan.

Ada beberapa orang yang mengecam praktek berseru kepada nama Tuhan Yesus dan menyatakan bahwa itu adalah buatan kita sendiri. Berseru kepada Tuhan adalah praktek alkitabiah; ini bukan buatan kita. Berseru kepada nama Tuhan bukanlah suatu praktek yang baru dalam Perjanjian Baru. Berseru kepada nama Tuhan ini dimulai dari Enos, keturunan ketiga umat manusia (Kej. 4:26), dan dilanjutkan oleh banyak orang beriman lainnya (lihat catatan 211 dalam Kis. 2).

Ketika beberapa orang mendengar bahwa berseru kepada Tuhan dimulai dari Enos, mereka mungkin menyatakan bahwa Enos tidak berseru menurut cara yang kita lakukan hari ini. Untuk hal ini saya akan menjawab, ”Lalu, bagaimanakah Enos berseru kepada nama Tuhan? Apakah ia berkata: O Tuhan, belas kasihanilah aku. Tuhan, aku ber-ada dalam situasi yang kasihan dan memiliki banyak masa-lah. Tuhan apakah yang dapat aku lakukan?”

Kita tidak dapat memahami cara berseru kepada nama Tuhan hanya dengan membaca satu ayat saja. Sebaliknya, kita perlu memeriksa hal ini di seluruh Alkitab. Jika kita membaca Perjanjian Lama dari Kejadian 4 sampai Yesaya 12, kita akan menemukan cara berseru kepada Tuhan. Yesaya khususnya menunjukkan bahwa kita perlu berseru kepada Tuhan dengan penuh sukacita: ”Maka kamu akan

menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan. Pada waktu itu kamu akan berkata: Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur!” (Yes. 12:3-4). Kita menimba air dari mata air keselamatan dengan berseru kepada nama Tuhan sambil bersukacita.

Misalnya, seorang saudara memiliki sejumlah masalah. Istrinya ada di rumah sakit, anaknya yang tertua kehilangan pekerjaannya, dan anaknya yang bungsu berprestasi buruk di sekolah. Saudara ini seharusnya tidak berkata, ”Tuhan, aku perlu Engkau membelaskasihani aku karena aku memiliki kebutuhan yang besar. Tuhan, istriku ada di rumah sakit, anakku yang tertua kehilangan pekerjaannya, dan anakku yang bungsu gagal dalam pendidikan. Tuhan, tolonglah aku.” Daripada berdoa semacam ini, lebih baik sau-dara itu berseru kepada Tuhan dan berkata, ”Tuhan Yesus, Engkau adalah Tuhan! Engkau berdaulat. Tuhan Yesus aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau tahu keadaanku. Engkau tahu, Tuhan, bahwa istriku ada di rumah sakit, bahwa anakku yang tertua kehilangan pekerjaannya, dan bahwa anakku yang bungsu gagal dalam pendidikan. O Tuhan Yesus!” Inilah berseru kepada Tuhan dengan kuat dan penuh sukacita. Tentunya, begitulah cara orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berseru kepada nama Tuhan.

Bahasa Yunani untuk ”berseru” dalam 2:21 adalah epikaleo, yang terdiri dari epi, kepada, dan kaleo, berseru dengan menyebut namanya, yaitu berseru dengan bersuara, bahkan dengan nyaring, seperti yang dilakukan Stefanus (7:59-60).

Dari hal ini kita nampak bahwa berseru kepada nama Tuhan adalah berseru kepada-Nya dengan bersuara. Ini bukanlah pengajaran atau praktek buatan kita; ini adalah fakta alkitabiah. Jika Anda membaca catatan panjang tentang berseru dalam Versi Pemulihan, Anda akan nampak betapa alkitabiahnya praktek ini. Berseru kepada Tuhan ini sepenuhnya berdasar pada wahyu dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Selain itu, dari pengalaman, kita tahu bahwa ketika kita berseru kepada nama Tuhan Yesus, kita menikmati waktu kelegaan. Kapan saja kita berseru kepada-Nya, kita berada dalam waktu kelegaan. Ini adalah fakta dalam firman itu dan dalam pengalaman kita, dan saya mendorong Anda untuk mencobanya.

BERBAGAI ASPEK KRISTUS SEBAGAI

SANG PENYEMBUH

Dalam 3:22-23 Petrus menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah seorang Nabi: ”Bukankah telah dikatakan Musa: Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku: Dengarkanlah dia dalam segala sesuatu yang akan dikatakannya kepadamu. Dan akan terjadi, bahwa setiap orang yang tidak mendengar-kan nabi itu, akan dibinasakan dari tengah-tengah umat.” Sebagai Nabi, Kristus berbicara bagi Allah, dan Dia mem-bicarakan Allah.

Dalam 3:25 kita nampak bahwa Tuhan Yesus juga adalah keturunan Abraham: ”Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Melalui keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati.” Dalam ayat ini ”keturunan” mengacu kepada Kristus (Gal. 3:16). Di sini Petrus seolah-olah berkata, ”Manusia Yesus, orang Nazaret, Dia yang dihina oleh para pemimpin Yahudi, adalah ke-turunan Abraham yang melalui Dia semua bangsa di bumi akan diberkati. Dia bukan hanya Hamba Allah, Yang Kudus, Yang Benar, Perintis Kehidupan, dan Nabi Dia juga adalah keturunan Abraham, yang melaluinya seluruh bumi akan diberkati.”

Sang Penyembuh dalam Kisah Para Rasul 3 ini menakjubkan. Kita harus berpaling dari kesembuhan dan memperhatikan Sang Penyembuh. Kita mengapresiasi kesembuhan, tetapi kita jauh lebih mengapresiasi Sang Penyembuh. Penyembuh ini adalah Dia yang melalui-Nya semua keluarga di bumi, semua ras, warna, dan kebangsaan, akan diberkati.

Ketika kita membaca Kisah Para Rasul 3, kita perlu memperhatikan semua butir yang berhubungan dengan Kristus sebagai Sang Penyembuh. Dia adalah Hamba Allah, dan Yang Kudus, Dia yang mutlak bagi Allah. Sebagai Yang Benar, Dia benar terhadap Allah, terhadap manusia, dan terhadap segala sesuatu yang di surga dan di bumi. Selain itu, Dia adalah Perintis Kehidupan. Dia bukan hanya hayat Dia adalah Pemula hayat, sumber, dan asal hayat. Dia juga mendatangkan waktu kelegaan. Ketika kita mengontak Dia, kita berada dalam waktu kelegaan. Penyembuh ini juga adalah Nabi yang berbicara bagi Allah dan mengutarakan Allah. Akhirnya, Dia adalah keturunan (Abraham) yang melalui-Nya semua bangsa di bumi akan diberkati.

Kita mungkin membaca Kisah Para Rasul 3 tanpa memperhatikan aspek tentang Kristus sebagai Sang Penyem-buh yang diwahyukan di dalam pasal ini. Bagaimana mungkin kita membaca pasal ini tanpa melihat hal-hal ini? Mungkin saja demikian akibat pengaruh teologi yang tradi-sional. Ketika kita membaca Kisah Para Rasul 3, pengaruh itu dapat menghalangi kita melihat berbagai hal yang berbeda yang berhubungan dengan Kristus sebagai Sang Penyembuh. Kita perlu nampak bahwa Sang Penyembuh itu adalah Hamba, Yang Kudus, Yang Benar, Perintis Kehidup-an, Nabi, dan keturunan (Abraham) yang melalui-Nya semua bangsa di bumi ini akan diberkati. Dia benar-benar Sang Penyembuh! Daripada memperhatikan kesembuhan, lebih baik kita menikmati Sang Penyembuh. Asal kita memiliki Sang Penyembuh ini, kita akan memiliki waktu kelegaan.

ALLAH MENGUTUS KRISTUS YANG NAIK

KE SURGA

Setelah menyajikan Kristus sebagai Sang Penyembuh dalam berbagai aspek, Petrus mengungkapkan satu perkata-an kesimpulan dalam ayat 26: ”Bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya ke-pada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan membuat kamu masing-masing berbalik dari segala kejahatanmu.” Allah telah mengutus kembali Kristus yang naik ke surga, pertama-tama kepada orang-orang Yahudi dengan mencurahkan Roh-Nya pada hari Pentakosta. Karena itu, Roh yang Allah curahkan itu adalah Kristus yang dibangkitkan dan ditinggikan ke atas segala tingkat langit oleh Allah. Ketika para rasul memberitakan dan melayankan Kristus ini, Roh itu dilayankan kepada orang-orang.

Pada waktu Petrus membicarakan firman yang tercatat dalam ayat 26 ini, Hamba Allah telah naik ke surga dan tetap ada di sana. Meskipun demikian, Petrus memberi tahu orang-orang bahwa Allah telah mengutus Kristus untuk memberkati mereka. Apakah artinya? Sebenarnya, Allah telah menerima Kristus ke dalam surga. Tetapi Petrus mengatakan bahwa Allah telah mengutus Dia yang naik ini kepada umat. Dengan cara bagaimanakah Allah mengutus Kristus yang naik ini kepada umat Yahudi? Allah mengutus Dia dengan mencurahkan Roh itu. Itulah cara Allah meng-utus Kristus yang naik kepada umat. Ini menyiratkan bahwa Roh yang dicurahkan itu sebenarnya adalah diri Kristus yang naik itu. Ketika Roh yang dicurahkan itu sampai kepada orang-orang, itu adalah Kristus, Dia yang telah naik, yang diutus oleh Allah kepada mereka. Dari hal ini kita nampak bahwa Roh yang dicurahkan itu identik dengan Kristus yang naik. Dalam ekonomi Allah bagi pengalaman umat-Nya, Kristus yang naik dan Roh yang dicurah-kan itu adalah satu. Dalam ekonomi Allah, Kristus dan Roh itu adalah satu bagi kenikmatan kita.

Dalam menyajikan Kristus kepada orang-orang, Petrus membicarakan Dia sebagai Hamba Allah, Yang Kudus, Yang Benar, Perintis Kehidupan, Nabi, dan keturunan (Abraham) yang melalui-Nya kita menerima berkat Allah. Kemudian Petrus menyimpulkan dengan berkata, ”Bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu . . .” Di sini Petrus seolah-olah berkata, ”Allah telah mengutus Dia, pertama-tama kepada ka-mu untuk memberkati kamu. Bagaimanakah Allah meng-utus Kristus? Allah mengutus Dia dengan cara mencurahkan Roh-Nya kepada kamu untuk memberkatimu. Sekarang kamu perlu menerima Dia. Dia tidak jauh darimu. Meskipun Dia ada di surga, secara ekonomikal Dia ada di antara kamu sebagai Roh yang dicurahkan untuk memberkati kamu. Jika kamu berseru kepada nama-Nya, kamu akan menerima per-sona-Nya Roh Kudus. Nama-Nya adalah ”Yesus”, tetapi persona-Nya adalah Roh itu. Berserulah kepada nama Tuhan Yesus dan terimalah Roh itu. Maka kamu akan memiliki berkat Allah.” Inilah cara kita menerima berkat yang ingin Allah berikan kepada kita dengan kembali mengutus Kristus yang naik kepada kita sebagai Roh pemberi hayat.