← Daftar isi Kisah para Rasul (1) · bab 13/27

PERKEMBANGBIAKAN DI YERUSALEM, YUDEA, DAN SAMARIA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PETRUS

(8)

Pembacaan Alkitab: Kis. 3:1-26

Dalam 3:1-26 terdapat berita Petrus yang kedua kepada orang-orang Yahudi. Ayat 1 sampai 10 menggambarkan kesembuhan seorang lumpuh, dan ayat 11 sampai 26 mencatat berita aktual masa itu yang diberikan oleh Petrus

KESEMBUHAN SEORANG LUMPUH

Kisah Para Rasul 3:1 mengatakan, ”Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu jam tiga sore, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah.” Kita telah menunjukkan bahwa dalam permulaan ekonomi Perjanjian Baru Allah, kaum beriman yang sebermula bahkan kelompok rasul sebermula itu tidak jelas bahwa Allah telah meninggalkan agama Yahudi dengan praktek-praktek dan fasilitas-fasilitas-nya, termasuk baitnya. Karena itu, menurut tradisi dan kebiasaan mereka, mereka masih pergi ke Bait Allah.

Kaum beriman yang sebermula tidak jelas mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah dalam kaitannya dengan Bait agama Yahudi, para rasul sebermula pun tidak memiliki visi yang jelas bahwa Allah telah meninggalkan hal-hal yang berhubungan dengan agama Yahudi. Karena itu, meskipun Allah telah mencurahkan Roh ke atas mereka pada hari Pentakosta untuk memulai satu zaman yang baru, mereka masih tidak ingin memisahkan diri dari Bait agama Yahudi. Pada tahap permulaan, Allah masih mentoleransi ketidaktahuan mereka dalam hal ini. Namun hal ini menimbulkan campur-aduk antara gereja dengan agama Yahudi, dan gereja sebermula di Yerusalem tidak menghakiminya (lihat 21:20-26). Akhirnya, Bait itu dimusnahkan oleh Titus dengan tentara Romawinya pada 70 M, seperti yang Tuhan nubuatkan dalam Matius 23:38 dan 24:2. Peng-hancuran itu membersihkan percampuran agamawi.

Ketika Petrus dan Yohanes, yang akan masuk ke dalam Bait, melihat seorang yang lumpuh sejak lahirnya, mereka menatapnya dan berkata, ”Pandanglah kami!” (3:2-4). Orang itu ”menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka. Tetapi Petrus berkata: Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, bangkit dan berjalanlah! Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan pergelangan kaki orang itu” (ay. 5-7). Petrus tidak memiliki perak dan emas, tetapi katedral St. Petrus di Roma didirikan dengan banyak emas. Petrus tidak memiliki perak dan emas, tetapi ia memiliki nama Yesus Kristus, yaitu Persona Yesus Kristus. Petrus miskin dalam perak dan emas, tetapi ia kaya dalam Kristus. Gereja di Tiatira dipenuhi dengan emas, tetapi tidak dipenuhi dengan Persona Kristus; kaya akan emas, tetapi miskin akan Kristus.

Dalam berbicara kepada orang lumpuh itu, Petrus menyuruhnya berjalan dalam nama Yesus Kristus orang Nazaret. ”Orang Nazaret” menunjukkan Dia yang dihina oleh para pemimpin Yahudi (Yoh. 1:45-46; Kis. 22:8; 24:5).

PEMBERITAAN PETRUS

Memalingkan Perhatian Orang

dari Mujizat-mujizat kepada Persona Tuhan Yesus

Petrus dan Yohanes melakukan satu mujizat, dan orang-orang memperhatikannya. Tetapi dalam pembicaraannya Petrus memalingkan perhatian orang-orang dari mujizat itu kepada satu Persona, kepada Tuhan Yesus. Meskipun Petrus dan Yohanes telah melakukan satu mujizat, Petrus tidak membicarakan mujizat itu. Sebaliknya, ia memakai mujizat itu sebagai dasar untuk memalingkan pendengarnya kepada Kristus. Petrus memalingkan perhatian orang-orang dari kesembuhan kepada Sang Penyembuh.

Pemberitaan Petrus berdasar pada mujizat kesembuhan orang lumpuh itu. Tetapi, beban Petrus bukanlah membicarakan kesembuhan ilahi. Sebaliknya, bebannya adalah mengembangbiakkan Kristus. Petrus berbeban menyampaikan Kristus, mengutarakan Kristus.

Beban Petrus adalah membicarakan Kristus secara langsung ke dalam orang lain, supaya mereka dapat menjadi pengembangbiakan Kristus untuk menjadi anggota-anggota-Nya yang hidup, agar Kristus dapat memiliki satu Tubuh di bumi. Pentakosta adalah untuk pengembangbiakan Kristus, bukan untuk mujizat, tanda ajaib, tanda-tanda, dan kesembuhan ilahi. Semua hal itu bukanlah yang utama. Sekalipun seorang yang lumpuh telah disembuhkan melalui Petrus dan Yohanes, penekanan Petrus bukanlah pada kesembuhan itu, melainkan pada nama Tuhan Yesus. Mula-mula, Petrus berkata kepada orang lumpuh itu, ”Dalam nama Yesus Kristus orang Nazaret itu berjalanlah!” Kemudian dalam beritanya ia melanjutkan berkata, ”Karena kepercayaan kepada Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kenal ini” (ay. 16). Karena itu, Petrus bukan memberitakan kesembuhan atau mujizat; ia memberitakan Persona Tuhan Yesus Kristus.

Meskipun Petrus memalingkan perhatian orang-orang dari kesembuhan kepada Sang Penyembuh, orang-orang Kristen hari ini yang menekankan kesembuhan sering kali mengarahkan perhatian orang dari Sang Penyembuh kepada kesembuhan, bahkan kesembuhan yang palsu. Kebanyakan yang disebut kesembuhan-kesembuhan dalam pertemuan-pertemuan Pentakosta itu tidak sejati. Di sini, setelah orang lumpuh itu disembuhkan, ”ia melompat berdiri lalu berjalan ke sana ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, sambil berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah” (ay. 8). Ini adalah kesembuhan yang sejati. Meskipun demikian, Petrus mengarahkan orang-orang kepada Sang Penyembuh, kepada Tuhan Yesus. Kita juga harus memalingkan perhatian kita dari kesembuhan kepada Sang Penyembuh.

Bersaksi tentang Yesus dalam Kematian dan Kebangkitan-Nya

Allah Kebangkitan Memuliakan Hamba-Nya Yesus

Ketika semua orang itu sangat heran terhadap Petrus, Yohanes, dan orang lumpuh itu, Petrus berkata kepada mereka, ”Hai orang Israel, mengapa kamu heran tentang kejadi-an itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-olah kami membuat orang ini berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri? Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus memutuskan untuk melepaskan Dia” (ay. 12-13). Beberapa naskah mencantumkan ”Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub” (ay. 13). Mengapa dalam ayat 13 Petrus membicarakan Allah sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub? Mengapa ia tidak membicarakan Allah saja? Gelar ini mengacu kepada Allah Tritunggal, Yehova, AKU ADALAH yang agung (Kel. 3:14-15). Menurut perkataan Tuhan dalam Matius 22, gelar ilahi ini menyiratkan kebangkitan: ”Tetapi tentang kebangkitan orang-orang mati tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika Ia bersabda: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup” (ay. 31-32). Petrus menyebut Allah sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, karena sebutan ini menunjuk-kan bahwa Dia adalah Allah kebangkitan.

Petrus memberi tahu orang-orang bahwa Allah Abraham, Ishak, dan Yakub ”memuliakan Hamba-Nya Yesus”. Allah memuliakan Tuhan Yesus melalui kebangkitan dan kenaikan-Nya (Luk. 24:26; Ibr. 2:9; Ef. 1:20-22; Flp. 2:9-11).

Yang Kudus

Dalam 3:14 Petrus berkata kepada orang-orang, ”Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta meng-hendaki seorang pembunuh untuk diberikan kepada kamu.” Apakah arti mengatakan bahwa Tuhan adalah Yang Kudus? Dalam ayat ini ”kudus” menunjukkan bahwa Yesus orang Nazaret, Dia yang dihina oleh para pemimpin Yahudi, ada-lah mutlak bagi Allah dan dipisahkan kepada-Nya. Selain itu, Dia mutlak bersatu dengan Allah. Menurut makna kata ”kudus” dalam Alkitab, ”kudus” berarti orang yang mutlak kepada Allah, yang mutlak bagi Allah, dan yang mutlak bersatu dengan Allah. Dalam seluruh sejarah manusia hanya Tuhan Yesus yang kudus. Daud itu baik, tetapi sedikitnya dalam satu hal, ia bagi dirinya sendiri, bukan bagi Allah. Namun, sepanjang hidup-Nya, Tuhan Yesus mutlak terpisah kepada Allah, bagi Allah, dan bersatu dengan Allah. Tidak pernah ada satu hal yang menunjukkan Tuhan Yesus tidak mutlak bagi Allah dan menjadi satu dengan Allah. Karena itu, Dia disebut Yang Kudus. Dia sendiri layak mendapat gelar ”Yang Kudus”.

Yang Benar

Menurut 3:14, Petrus menyebut Tuhan Yesus bukan hanya ”Yang Kudus” melainkan juga ”Yang Benar”. Benar adalah benar terhadap Allah, terhadap setiap orang, dan terhadap segala sesuatu. Hanya Tuhan Yesus yang dapat disebut ”Yang Benar”, karena hanya Dia yang benar terhadap Allah, terhadap setiap orang, dan terhadap segala sesuatu. Di dalam diri kita sendiri, kita tidak benar terhadap Allah, terhadap orang lain, atau bahkan terhadap segala sesuatu. Misalnya, sewaktu kita marah, kita mungkin menendang pintu atau memukul kursi. Ini berarti kita tidak benar ter-hadap pintu atau kursi. Karena itu, kita tidak dapat disebut ”yang benar”.

Sebagai Yang Benar, Tuhan Yesus adalah Sang Benar. Dia tidak pernah salah terhadap Allah, terhadap setiap orang, atau terhadap segala sesuatu. Lihatlah sewaktu Dia membersihkan bait: ”Di halaman Bait Allah didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Allah dengan semua domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan” (Yoh. 2:14-16). Tuhan Yesus memang benar dalam melakukan hal ini. Jika Dia tidak melakukan-Nya, Dia akan bersikap seperti seorang politikus. Tuhan melihat situasi yang penuh dosa itu, dan Dia marah. Tetapi, misalnya Dia berkata kepada diri-Nya sendiri, ”Aku tidak boleh melakukan sesuatu yang berasal dari kemarahan. Jika Aku melakukannya, akan tercatat bahwa Aku pernah melakukan sesuatu ketika Aku marah. Aku perlu memperhatikan diri-Ku sendiri dan bersikap hati-hati.” Tetapi, sebagai Yang Benar, Tuhan membersihkan Bait Allah dengan cara yang benar. Dia tidak pernah salah, karena Dia selalu Yang Benar.

Dalam beritanya yang kedua kepada orang Yahudi, Petrus menyebut Sang Penyembuh itu Hamba, Yang Kudus, dan Yang Benar. Bagaimanakah Petrus, yang tidak terpelajar itu, dapat menyampaikan perkataan yang demikian? Seperti yang akan kita lihat, ketika orang-orang di dalam Mahkamah Agama itu mengetahui bahwa Petrus dan Yohanes ”keduanya orang biasa dan tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus” (4:13). Meskipun Petrus tidak terpelajar, tidak mengenyam pendidikan khusus, namun ia dapat menyampaikan berita yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 3 berdasarkan Roh pemberi-hayat yang ada di dalamnya. Di sini Roh itu tidak berbicara secara langsung oleh diri-Nya sendiri, melainkan menurut prinsip inkarnasi, Roh itu berbicara melalui Petrus, orang yang tidak terpelajar. Karena itu, semua butir mengenai Tuhan Yesus adalah ilahi, tetapi pembicaraannya justru berasal dari seorang nelayan yang tidak terpelajar. Dalam pembicaraannya Petrus dapat meng-umumkan bahwa Tuhan Yesus adalah Yang Kudus, Dia yang mutlak terpisah kepada Allah, bagi Allah, dan bersatu dengan Allah, dan juga Yang Benar, Orang yang benar terhadap Allah, terhadap setiap orang, dan terhadap segala sesuatu.

Perintis Kehidupan

Dalam 3:15 Petrus melanjutkan berkata, ”Kamu telah membunuh Perintis Kehidupan, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi.” Di sini bahasa Yunani yang diterjemahkan ”Perintis” adalah archegos, berarti pencipta, asal, pemula, kepala pemimpin, kapten. Ini menekankan Kristus sebagai asal atau Pemula hayat, karena itu Dia adalah Perintis Kehidupan, berlawanan dengan pembunuh dalam ayat sebelumnya.

Dalam ayat ini versi King James mengatakan ”Tuhan Hayat”. Ini adalah terjemahan yang tidak tepat. Dalam 3:15 archegos itu bukan mengacu kepada Tuhan, melainkan sumber, asal, bahkan pemula hayat, Perintis Kehidupan. Di sini Petrus mengatakan bahwa Sang Penyembuh adalah sumber hayat, Pemula hayat; Dia adalah Perintis; Kepala Pemimpin, dalam hayat. Petrus menunjukkan bahwa Sang Penyembuh itu bukan hanya Sang penyembuh, Dia lebihlebih adalah sumber, asal, dan Pemula hayat.

Apa yang terdapat dalam Kisah Para Rasul 3 ini bukan hanya hal kesembuhan. Di sini kita nampak penyaluran hayat ke dalam orang lain. Ini adalah untuk mengembangbiakkan Kristus. Untuk pengembangbiakan yang demikian, kita perlu Tuhan sebagai Perintis Kehidupan, sebagai sumber hayat.

Banyak orang Kristen mengikuti teologi tradisional, membaca Alkitab dengan cara yang dangkal. Inilah sebabnya saya mendorong orang-orang kudus untuk meninggalkan teologi tradisional dan kembali kepada Alkitab. Dalam Alkitab ada banyak ”tambang” yang di dalamnya kita perlu menggali. Salah satu tambang yang dalam ini adalah kata archegos dalam 3:15.

Kita perlu nampak di mana hayat itu, dari mana hayat itu berasal. Kata ”Perintis” dalam ayat 15 menunjukkan bahwa hayat berasal dari Sang Penyembuh ini, yang adalah Yang Kudus dan Yang Benar. Sang Penyembuh ini bukan hanya memiliki kuasa untuk menyembuhkan; Dia sendiri adalah sumber, asal hayat, karena Dia adalah Penciptanya, Pemula hayat. Ketika kita memiliki hayat, kita juga memiliki kesembuhan. Penyebab orang-orang sakit adalah mereka lemah dalam hayat. Dokter-dokter tahu bahwa ketika kita lemah dalam hayat, kita bisa menderita sakit. Tetapi jika kita kuat dalam hayat, hayat itu akan menelan ke-matian.

Petrus ingin orang-orang itu menyadari bahwa Dia yang mereka bunuh itu adalah Perintis Kehidupan. Dia bukan hanya Sang Penyembuh, Dia adalah Perintis Kehidupan. Tetapi meskipun Dia telah dibunuh, Allah telah membang-kitkan Dia dari antara orang mati. Seperti yang telah kita tunjukkan, mengenai Tuhan sebagai manusia, Perjanjian Baru mengatakan bahwa Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati. Namun, mengenai Dia sebagai Allah, Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa Dia sendiri bang-kit dari antara orang mati (Rm. 14:9). Selain itu, para rasul adalah saksi-saksi dari Kristus yang bangkit, yang bersaksi tentang kebangkitan-Nya, yang adalah fokus penting dalam pelaksanaan ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Dalam 3:16 Petrus berkata, ”Karena kepercayaan kepada Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kenal ini; dan kepercayaan itu telah memberi kesembuhan kepada orang ini di hadapan kamu semua.” Bahasa Yunani yang diterjemahkan ”karena kepercayaan kepada Nama Yesus” secara harfiah berarti ”atas dasar iman dalam nama-Nya”, yaitu di atas kedudukan iman dalam nama-Nya. Nama menunjukkan persona. Persona adalah realitas namanya; karena itu, nama-Nya penuh kuasa.

Dalam 17-18 Petrus melanjutkan berkata, ”Nah, Saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena tidak tahu apa yang kamu lakukan, sama seperti semua pemimpin kamu. Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita.” Pertama-tama kematian

Kristus yang menebus telah ditetapkan Allah dalam kekekalan (2:23) kemudian diberitakan sebelumnya melalui para nabi pada Perjanjian Lama. Ini sekali lagi membuktikan bahwa kematian Kristus bukan perkara yang terjadi secara kebetulan dalam sejarah, melainkan suatu tindakan yang telah direncanakan Allah menurut tujuan kerelaan kehendak-Nya dan telah diberitakan sebelumnya oleh para nabi.

Nabi

Dalam 3:22-23 Petrus menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah Nabi: ”Bukankah telah dikatakan Musa: Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku: Dengarkanlah Dia dalam segala sesuatu yang akan dikatakannya kepadamu. Dan akan terjadi bahwa setiap orang yang tidak mendengarkan nabi itu, akan dibinasakan dari tengah-tengah umat.” Jadi, dalam pasal ini kita nampak bahwa Tuhan Yesus ada-lah Hamba, Yang Kudus, Yang Benar, Perintis Kehidupan, dan Nabi.

Menasihatkan Orang untuk Bertobat dan Berpaling,

Berbagian dan Menikmati Kristus yang Naik ke

Surga dan yang Akan Datang Lagi

Dalam 3:19-26 Petrus menasihatkan orang-orang Yahudi untuk bertobat dan berpaling supaya mereka dapat berbagian dan menikmati Kristus yang naik ke surga dan yang akan datang lagi. Di sini Petrus seolah-olah berkata, ”Kalian telah melakukan sesuatu yang sangat bodoh, tetapi sekarang kalian perlu bertobat dan berpaling supaya kalian dapat berbagian dalam Kristus yang naik ke surga dan yang akan datang lagi itu serta menikmati-Nya. Kristus adalah Hamba Allah, Yang Kudus, Yang Benar, dan Perintis Kehidupan. Dia telah merampungkan segala sesuatu, dan Dia telah mencapai dan mendapatkan segala sesuatu. Sekarang Dia ada di surga, tetapi Dia akan datang kembali. Kristus ini adalah bagianmu. Bertobatlah, berpalinglah, dan datanglah untuk berbagian dalam-Nya dan menikmati Dia. Jika kalian datang kepada-Nya, kalian akan menikmati Dia.” Inilah penekanan pemberitaan Petrus yang kedua kepada orang-orang Yahudi.

Waktu Kelegaan

Dalam 3:19-20a Petrus berkata, ”Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan.” Secara harfiah bahasa Yunani untuk ”kelegaan” berarti menyejukkan, memulihkan; karena itu, melegakan, menyegarkan. Waktu kelegaan mengacu kepada waktu kebangunan segala sesuatu, penuh sukacita dan perhentian, waktu pemulihan segala sesuatu yang disebutkan dalam 3:21, yang akan dibawa masuk oleh kedatangan Mesias di dalam kemuliaan-Nya, seperti diajar-kan dan dinubuatkan oleh Juruselamat dalam Matius 19:28.

Tampaknya perkataan Petrus dalam 3:19 ini melompati zaman gereja dan langsung beranjak dari masa Pentakosta ke masa seribu tahun. Ini mungkin menunjukkan bahwa Petrus tidak memiliki visi yang jelas tentang zaman gereja dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah. Seluruh Perjanjian Baru mewahyukan bahwa sebelum waktu kelegaan, gereja menduduki sejangka waktu yang cukup panjang dalam ekonomi Allah.

Kita telah menunjukkan bahwa waktu kelegaan adalah waktu kesejukan, kebangunan, pemulihan. Pernahkah Anda masuk ke dalam waktu kelegaan demikian? Pernahkah Anda mengalami waktu sukacita dan perhentian demikian? Sebenarnya, setiap pertobatan yang tepat adalah waktu kelegaan. Setiap kelahiran kembali yang sejati adalah waktu kenikmatan. Ketika kita diselamatkan, kita memiliki wak-tu kenikmatan. Selama waktu itu kita memiliki sukacita dan damai sejahtera. Kita menikmati Kristus sendiri sebagai sukacita dan damai sejahtera kita. Sampai tingkat tertentu, kita semua telah mengalami hal ini.

Sebenarnya, waktu kelegaan itu adalah diri Kristus sendiri. Bila kita memiliki Dia, kita memiliki Dia sebagai kelegaan kita. Dia adalah kenikmatan dan damai sejahtera kita.

Pemulihan Segala Sesuatu

Dalam 3:20-21 Petrus berkata, ”Dan mengutus Yesus, yang sejak semula ditetapkan bagimu sebagai Kristus. Kristus itu harus tinggal di surga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu.” Waktu pemulihan segala sesuatu adalah waktu pemulihan dalam masa seribu tahun, seperti dinubuatkan dalam Yesaya 11:1-10 dan 65:18-25, dan disebut oleh Kristus dalam Matius 17:11 dan 19:28. Waktu pemulihan segala sesuatu itu akan tiba ketika Kristus kembali.