PERKEMBANGBIAKAN DI YERUSALEM, YUDEA, DAN SAMARIA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK
SEKERJA PETRUS
(13)
Pembacaan Alkitab: Kis. 5:17-42
Dalam 5:17-42 kita melihat kelanjutan penganiayaan oleh para agamawan Yahudi. Bagian dari Kisah Para Rasul ini meliputi empat perkara: penangkapan para rasul oleh Mahkamah Agama dan pertolongan Tuhan (ay. 17-28), ke-saksian para rasul (ay. 29-32), larangan dan pembebasan Mahkamah Agama (ay. 33-40), dan sukacita dan kesetiaan para rasul (ay. 41-42).
PENANGKAPAN PARA RASUL OLEH MAHKAMAH AGAMA DAN PERTOLONGAN TUHAN
Kisah Para Rasul 5:14 mengatakan, ”Makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan.” Karena hal ini, ”Mulailah Imam Besar dan pengikut-pengikutnya, yaitu orang-orang dari aliran Saduki, bertindak sebab mereka sangat iri hati. Mereka menangkap rasul-rasul itu, lalu memasukkan mereka ke dalam penjara umum” (ay. 17-18). Ungkapan ”penjara umum” itu menunjukkan rumah penjara luar, bukan penjara dalam yang dipakai untuk kasus-kasus serius. Selama malam itu, seorang malaikat Tuhan membuka pintu-pintu pen-jara itu dan membawa para rasul itu keluar (ay. 19). Orang-orang yang menjaga pintu-pintu itu tidak tahu apa yang telah terjadi. Pagi berikutnya Mahkamah Agama dan majelis tua-tua dari bani Israel mengutus para petugas ke penjara untuk mengambil para rasul itu: ”Tetapi ketika pejabat-pejabat itu datang ke penjara, mereka tidak menemukan rasul-rasul itu di situ. Lalu mereka kembali dan memberitahukan, katanya: Kami mendapati penjara terkunci rapat-rapat dan semua pengawal ada di tempatnya di depan pintu, tetapi setelah kami membukanya, tidak seorang pun kami temukan di dalamnya” (ay. 22-23). ”Ketika kepala pengawal Bait Allah dan imam-imam kepala mendengar laporan itu, mereka bingung.” Kemudian ”datanglah seseorang mendapatkan mereka dengan kabar: Lihat, orang-orang yang telah kamu masukkan ke dalam penjara, ada di dalam Bait Allah dan mereka mengajar orang banyak” (ay. 24-25). Meskipun para agamawan tidak dapat memahami apa yang telah terjadi, para rasul telah diselamatkan dari penjara dan sedang mengajar di dalam Bait.
FIRMAN HAYAT INI
Ketika malaikat Tuhan menyelamatkan para rasul dari penjara, ia berkata kepada mereka, ”Pergilah, berdirilah di Bait Allah dan beritakanlah seluruh firman hidup (hayat) itu kepada orang banyak” (ay. 20). Kita perlu memperhatikan perkataan ”itu”, karena ini menunjukkan satu hayat yang khusus. Bahasa Yunani yang diterjemahkan ”seluruh firman” di sini adalah rhema, yang mengacu kepada perkataan seketika, bukan perkataan tertulis yang konstan. Oleh karena itu, malaikat berkata kepada para rasul, ”Pergilah . . . dan beritakanlah seluruh firman hidup itu kepada orang banyak.”
Hayat apakah yang dimaksud dengan ”hayat itu”? Ini adalah hayat ilahi yang Petrus beritakan, suplaikan, dan perhidupkan. Hayat ini mengalahkan penganiayaan, ancaman, dan pemenjaraan dari pemimpin-pemimpin orang Yahudi. Perkataan ini menunjukkan bahwa hidup dan pekerjaan Petrus membuat hayat Allah begitu riil dan nyata dalam situasinya, bahkan malaikat pun melihat dan menunjukkannya.
Para rasul tidak disuruh membicarakan hayat ilahi secara doktrinal. Hari ini ada orang-orang Kristen tertentu yang dapat membicarakan hayat, tetapi pembicaraan mereka itu sangat doktrinal. Kita perlu mencari belas kasihan dan kasih karunia Tuhan supaya kapan saja kita membicarakan hayat ilahi, kita membicarakan firman-firman hayat yang kita perhidupkan. Ini berarti hayat ilahi itu menjadi hidup kita sehari-hari. Hayat inilah yang harus kita suplaikan kepada orang lain.
Kisah Para Rasul 5:26 mengatakan, ”Kemudian pergilah kepala pengawal serta orang-orangnya ke Bait Allah, lalu mengambil rasul-rasul itu, tetapi tidak dengan kekerasan, karena mereka takut, kalau-kalau orang banyak melempari mereka dengan batu.” Para pemimpin agama itu tidak tahu bagaimana mereka menghadapi situasi itu. Khususnya, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan ”hayat itu”. Karena takut kepada orang-orang, mereka tidak melakukan kekerasan kepada para rasul itu. Sebaliknya, ”Mereka membawa rasul-rasul itu dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Lalu Imam Besar mulai menanyai mereka, katanya: Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami” (ay. 27-28). Secara harfiah, kata Yunani yang diterjemahkan ”Dengan keras kami melarang kamu” berarti, ”Kami menyuruh kamu dengan suatu perintah.” Orang-orang yang ada di dalam Mahkamah Agama itu memerintahkan para rasul itu supaya tidak berbicara di dalam nama Yesus lagi.
KESAKSIAN PARA RASUL
Dalam ayat 29-31 dikatakan ”Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab: Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu bunuh dengan menggantung-Nya pada kayu salib. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Perintis dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.” Inkarnasi Yesus membuat Dia menjadi seorang manusia, kehidupan insani-Nya di bumi melayakkan Dia menjadi Juruselamat manusia, ketersaliban-Nya menggenapkan penebusan yang sempurna bagi manusia, kebangkitan-Nya membenarkan pekerjaan penebusan-Nya, dan peninggian-Nya menobatkan Dia menjadi Perintis yang me-merintah supaya Dia bisa menjadi Juruselamat. Peninggian-Nya adalah langkah akhir dalam proses menjadikan Dia Juruselamat manusia (Yoh. 2:10; 5:9).
Mengenai Perintis dan Juruselamat
Kata Yunani yang diterjemahkan ”Perintis” adalah archegos, yang berarti pencipta, asal, pemula, kepala pemimpin, kapten. Dalam 3:15 kata Yunani yang sama diterjemahkan ”Perintis”. Allah meninggikan Manusia Yesus, yang ditolak dan dibunuh oleh pemimpin-pemimpin Yahudi, sebagai Pemimpin yang Mahatinggi, Pangeran, Penguasa raja-raja untuk menguasai dunia (Why. 1:5; 19:16), dan Juruselamat untuk menyelamatkan umat pilihan Allah. ”Pemim-pin” berhubungan dengan otoritas-Nya, dan ”Juruselamat” berhubungan dengan karunia keselamatan-Nya. Dia ber-daulat memerintah atas bumi dengan otoritas-Nya sehingga situasinya sesuai bagi umat pilihan Allah untuk menerima karunia keselamatan-Nya (Kis. 17:26-27; Yoh. 17:2).
Siapakah yang memerintah bumi hari ini? Kita mung-kin mengatakan bahwa bumi ini diperintah oleh raja-raja dan presiden-presiden, tetapi Tuhan Yesus sebagai Penguasa yang mahatinggi ada di atas mereka. Menurut Wahyu 1:5, Dia adalah Penguasa raja-raja di bumi. Gelar manakah yang Anda kira lebih tinggi penguasa atau raja? Mungkin banyak orang akan mengatakan bahwa seorang raja itu lebih tinggi daripada seorang penguasa. Tetapi, Perjanjian Baru membicarakan Kristus sebagai Penguasa raja-raja, dan Petrus mengatakan bahwa Dia adalah Perintis, Kepala pemimpin.
Kristus sebagai Penguasa raja-raja menyingkirkan takhta semua raja. Hanya Dialah Sang Penguasa. Selain itu, menurut Wahyu 19:16, Dia adalah Raja atas segala raja dan Tuan atas segala tuan. Kristus adalah Penguasa dan Raja. Sebagai Penguasa, Dia memerintah seluruh bumi. Kelihatannya raja-raja dan para presiden yang memerintah bumi ini dan bahwa Tuhan Yesus tidak berada di takhta. Meskipun demikian, Dia yang kelihatannya tidak berada di takhta ini adalah Sang Penguasa dari semua orang-orang yang bertakhta. Hari ini seluruh dunia berada di bawah pemerin-tahan Tuhan. Dia adalah Perintis yang sesungguhnya, Penguasa kepala.
Untuk tujuan apakah Tuhan Yesus memerintah bumi ini? Sebagai Perintis, Penguasa, Dia memerintah bumi un-tuk tujuan keselamatan kita. Dia memerintah supaya kita dapat diselamatkan. Marilah kita mengambil satu ilustrasi tentang orang-orang China yang berimigrasi ke Amerika Serikat. Kita telah menemukan bahwa sejumlah besar dari imigran itu sangat terbuka kepada Tuhan. Tetapi jika mereka tetap tinggal di China, mereka tidak akan terbuka seperti sekarang ini. Tuhan Yesus melaksanakan otoritas-Nya untuk membuat begitu banyak orang asing datang ke Amerika Serikat. Kemudian, setelah mereka tiba, mereka menjadi terbuka kepada-Nya. Ini adalah satu ilustrasi tentang pemerintahan Tuhan atas bumi ini demi menyelamatkan manusia.
Kita percaya bahwa Allah telah memilih kita, dan kemudian pada waktu yang tepat, Tuhan Yesus, Penguasa raja-raja di bumi, melaksanakan otoritas-Nya untuk meng-hasilkan lingkungan tertentu supaya kita tidak memiliki pilihan lain kecuali percaya kepada-Nya. Di satu pihak, kita ”ditangkap” oleh Tuhan. Sejumlah orang kudus bersaksi bahwa mereka telah ditangkap oleh Dia. Kita mungkin tidak merasakan hal ini ketika kita berada dalam waktu kelegaan. Tetapi, ketika ”langit” di atas kita itu tidak cerah, dan kita berada dalam situasi yang ”berawan”, kita mulai memikirkan bahwa Tuhan telah menangkap kita, bahkan memerangkap kita. Kita mungkin juga percaya bahwa kita ditangkap di dalam kehidupan gereja. Kita tidak berdaya melarikan diri dari ”perangkap” Tuhan. Kita telah ditangkap oleh Kristus dan di dalam Kristus; selanjutnya, kita telah ditangkap di dalam gereja. Inilah keadaan kita. Kita telah ditangkap Tuhan di dalam kedaulatan-Nya.
Sebelum kita diselamatkan, kita seperti tikus yang bebas berlari. Tetapi Tuhan Yesus melaksanakan otoritas kedaulatan-Nya memasang satu perangkap untuk menangkap kita. Semakin cepat kita lari, semakin mudah Dia menangkap kita. Dalam perkara inilah Dia berdaulat; Dia adalah Penguasa raja-raja, yang mengatur lingkungan supaya kita ditarik untuk percaya kepada-Nya. Tanpa ling-kungan yang demikian, kita tidak akan percaya kepada-Nya. Sebenarnya, percaya kepada Tuhan itu bukan tergantung pada kita itu mutlak tergantung pada-Nya. Dia telah di-tinggikan untuk menjadi Perintis semua raja guna mengatur lingkungan supaya umat pilihan-Nya percaya kepada-Nya.
Dalam 5:31 Petrus mengatakan bahwa Allah telah meninggikan Kristus ke sebelah kanan-Nya sebagai seorang Perintis (Pemimpin) dan Juruselamat. Setelah Tuhan menangkap kita, Dia menjadi Juruselamat kita. Tetapi Dia tidak menyelamatkan kita dari tangkapan itu; sebaliknya, Dia membiarkan kita dalam satu ”perangkap” untuk menyelamatkan kita dari penghakiman Allah, dari telaga api, dan dari banyak hal yang jahat. Dia menjadi Pemimpin adalah untuk otoritas, dan Dia menjadi Juruselamat adalah untuk keselamatan.
Saya tidak tahu apakah ada orang yang telah dipilih untuk percaya kepada Yesus menurut keinginannya sendiri. Kita semua dipaksa untuk percaya kepada-Nya. Banyak orang bersaksi, ”Mengenai percaya kepada Tuhan Yesus, aku tidak memiliki pilihan lain. Aku harus percaya kepada-Nya.” Sebenarnya, tidak ada seorang pun dari kita yang rela percaya kepada Tuhan. Kita semua telah ditangkap oleh Dia dan didesak untuk percaya kepada-Nya. Puji Tuhan bahwa kita percaya kepada-Nya!
Kita telah menunjukkan bahwa kita tidak dapat lari dari perangkap Tuhan. Kita dapat memakai bahtera yang dibuat oleh Nuh sebagai ilustrasi. Bahtera ini adalah satu lambang Kristus. Begitu kita masuk ke dalam Kristus sebagai bahtera kita, kita tidak dapat keluar. Kita perlu bahtera ini, karena tanpa bahtera ini kita akan binasa.
Dalam salah satu berita dari berita-berita tentang kitab Kejadian, saya mengatakan bahwa gereja lokal adalah satu bahtera bagi kita pada hari ini. Sekarang kita semua ada di dalam bahtera ini. Siapakah yang memasukkan Anda ke dalam bahtera gereja? Apakah Anda menaruh diri Anda sendiri di sana? Tuhan adalah Dia yang telah menaruh kita ke dalam bahtera gereja. Dia telah ditinggikan oleh Allah untuk menjadi Pemimpin, dan sebagai Pemimpin, Dia telah me-letakkan kita ke dalam bahtera itu. Sering kali kita ingin keluar dari bahtera gereja, tetapi kita tidak dapat melarikan diri. Karena Tuhan Yesus sebagai Pemimpin, kita berada di dalam bahtera ini dan kini kita harus hidup bersama-sama di dalamnya.
Mengenai Pertobatan dan Pengampunan
Menurut perkataan Petrus dalam 5:31, Tuhan adalah Pemimpin dan Juruselamat ”supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.” Agar bisa memberikan pertobatan dan pengampunan dosa kepada umat pilihan Allah, Kristus perlu ditinggikan sebagai Pemimpin yang memerintah dan Juruselamat. Pemerintahan-Nya yang berdaulat membuat dan memimpin umat pilihan Allah bertobat; karunia keselamatan-Nya, yang berdasarkan penebusan-Nya, memberikan pengampunan dosa kepada mereka.
Pertobatan adalah untuk pengampunan dosa (Mrk. 1:4). Di pihak Allah, pengampunan dosa adalah berdasarkan penebusan Kristus (Ef. 1:7); di pihak manusia, pengampunan dosa adalah melalui pertobatan manusia.
Pertobatan dan pengampunan adalah karunia-karunia utama, dan hanya Tuhan Yesus sebagai Pemimpin dan Juruselamat yang layak memberikannya. Tidak ada yang lain yang layak memberikan pertobatan dan pengampunan dosa-dosa kepada orang lain. Kita perlu sadar bahwa di alam semesta ini hanya Dialah yang layak memberikan pertobatan dan pengampunan dosa-dosa.
Dalam hal positif, kita telah ditangkap oleh Tuhan Yesus. Jika kita belum ditangkap, siapakah di antara kita yang akan bertobat? Tidak ada seorang pun dari kita yang akan bertobat jika Tuhan belum menangkap kita. Sebenarnya, Tuhan memaksa kita untuk bertobat. Kalau tidak, kita tidak akan bertobat. Pertobatan itu bukan berasal dari kita; pertobatan adalah satu karunia yang diberikan oleh Pemimpin dan Juruselamat yang ditinggikan. Setelah pertobatan, kita menerima karunia pengampunan. Puji Tuhan untuk karunia pertobatan dan pengampunan! Puji Dia bahwa Dialah yang layak memberikan pertobatan dan pengampunan kepada umat pilihan Allah!
Dalam 5:32 Petrus melanjutkan berkata, ”Kamilah saksi dari peristiwa-peristiwa itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang menaati Dia.” Kata ”peristiwa-peristiwa” di sini dalam bahasa aslinya mengacu kepada perkataan-perkataan seketika. Para rasul dan Roh Kudus adalah saksi dari hal-hal ini. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus bersatu dengan para rasul. Dalam ayat ini Petrus mengatakan bahwa Allah memberikan Roh Kudus kepada orang-orang yang menaati Dia. Ketaatan adalah cara dan syarat untuk menerima dan menikmati Roh Allah.
LARANGAN DAN PEMBEBASAN
MAHKAMAH AGAMA
Kisah Para Rasul 5:33-40 menggambarkan larangan dan pembebasan para rasul oleh Mahkamah Agama. Ayat 33 mengatakan, ”Mendengar perkataan itu sangatlah tertusuk hati mereka dan mereka bermaksud membunuh rasul-rasul itu.” Secara harfiah, ”tertusuk hati” itu berarti ”digergaji.” Ini adalah ungkapan kiasan yang keras untuk suasana hati yang kesal.
Ayat 34 melanjutkan, ”Tetapi seorang Farisi dalam Mahkamah Agama itu, yang bernama Gamaliel, seorang pengajar hukum Taurat yang sangat dihormati seluruh orang banyak, berdiri dan meminta, supaya orang-orang itu disuruh keluar sebentar.” Orang-orang Farisi adalah orang-orang sekte agama Yahudi yang paling ketat (Kis. 26:5). Sekte ini dibentuk kurang lebih 200 SM. Mereka membanggakan kesucian kehidupan keagamaan, pengabdian kepada Allah, dan pengetahuan Alkitab mereka yang sangat tinggi.
Dalam ayat35 Gamaliel berkata kepada Mahkamah Agama, ”Hai orang-orang Israel, pertimbangkanlah baik-baik, apa yang hendak kamu perbuat terhadap orang-orang ini!” Kemudian setelah menunjukkan kasus tentang Teudas dan Yudas orang Galilea, ia melanjutkan, ”Karena itu aku berkata kepadamu: ”Janganlah bertindak apa-apa terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat me-lenyapkan orang-orang ini; bahkan mungkin ternyata kamu justru melawan Allah.” (ay. 38-39). Di sini Gamaliel mengucapkan satu perkataan yang sangat baik.
Gamaliel adalah seorang yang saleh, beribadah. Tetapi apakah ia berada di dalam ekonomi Allah? Apakah ia mengetahui sesuatu mengenai ekonomi Allah? Gamaliel tidak berada di dalam ekonomi Allah, dan ia tidak tahu apa-apa tentangnya. Sepanjang abad banyak orang yang beribadah seperti Gamaliel. Meskipun mereka itu saleh dan beribadah, mereka tidak tahu apa-apa tentang ekonomi Allah. Mereka tidak mengerti akan pergerakan Allah. Seperti Gamaliel, yang tidak tahu apa yang sedang Tuhan lakukan melalui Petrus dan Yohanes, orang-orang yang saleh itu pun tidak tahu apa yang sedang Tuhan lakukan pada zaman mereka.
Dalam 5:35-39 kita nampak bahwa Gamaliel cukup bijaksana dan juga netral. Perhatikan waktu ia memakai kata ”jika” dalam ayat 38-39. Dalam ayat 38 ia berkata, ”Jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap.” Kemudian dalam ayat 39 ia melanjutkan berkata, ”Kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini.” Sebagai pengganti dari keberpihakan, Gamaliel menyerahkan seluruh situasi itu kepada Allah. Ia tahu bahwa jika pekerjaan itu berasal dari manusia, tentu akan lenyap. Tetapi jika pekerjaan ini berasal dari Allah dan bukan berasal dari manusia, tidak ada yang dapat melenyapkannya. Seperti yang telah kita tunjukkan, meskipun Gamaliel itu beribadah dan saleh, juga bijaksana dan netral, ia tidak mengetahui ekonomi Allah, dan ia tidak berada di dalamnya. Dari tahun ke tahun banyak orang seperti Gamaliel. Mereka sangat beribadah dan saleh, tetapi tidak peduli betapa beribadah dan salehnya mereka, mereka tidak mengetahui apa yang sedang Allah lakukan di bumi.
Dari kasus Gamaliel ini kita nampak bahwa tidaklah memadai hanya menjadi ibadah dan rohani. Kita juga perlu tahu bagaimana Allah bergerak pada hari ini. Ke manakah Allah bergerak dan dengan cara bagaimanakah Dia bergerak? Karena Allah selalu bergerak, kita harus menemukan dengan cara bagaimana Dia bergerak. Apakah Dia sedang bergerak dengan cara Roma Katolik, atau dengan cara denominasi? Apakah Dia sedang bergerak dengan cara Pentakosta, atau dengan cara hayat batin? Dengan cara bagaimanakah Allah bergerak sekarang? Kita tidak dapat percaya bahwa Allah itu tidak aktif. Karena Dia sedang bergerak, kita perlu memiliki kepastian batin, kepuasan batin, bahwa kita tahu pergerakan-Nya dan kita berada di dalamnya. Kita perlu kepastian tentang pergerakan Allah yang mutakhir.
Kita tidak boleh seperti orang-orang yang ada di dalam Mahkamah Agama, dan kita tidak boleh seperti Gamaliel. Sebaliknya, kita harus seperti Petrus-Petrus dan Yohanes-Yohanes hari ini. Dari catatan dalam wahyu ilahi kita dapat nampak bahwa Petrus dan Yohanes berada di dalam ekonomi Allah. Mereka bergerak bersama Allah, atau lebih tepatnya, Allah bergerak bersama mereka. Mereka telah dimotivasi untuk bergerak bersama Allah.
Bagaimana dengan kita hari ini? Saya dapat bersaksi bahwa saya memiliki kepastian bahwa pergerakan Tuhan ada di dalam dan bersama pemulihan-Nya. Mengenai hal ini, kita memiliki Roh Kudus sebagai saksi batin. Bersama Petrus kita dapat berkata, ”Kamilah saksi dari peristiwa-peristiwa itu, kami dan Roh Kudus.” Kita memiliki kepastian dan kepuasan batin bahwa kita berada di dalam pergerakan Tuhan yang mutakhir. Kita bukanlah Gamaliel-Gamaliel; kita adalah Petrus-Petrus dan Yohanes-Yohanes hari ini.
SUKACITA DAN KESETIAAN PARA RASUL
Orang-orang yang di dalam Mahkamah Agama itu menerima perkataan Gamaliel. Setelah memanggil para rasul, lalu ”mencambuk mereka dan melarang mereka meng-ajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan” (ay. 40). Oleh karena itu, ”rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan sukacita, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus” (ay. 41). Dihina demi Nama Yesus adalah menderita malu karena Nama itu. Adalah suatu kehormatan yang sejati dapat dihina karena Nama itu, yaitu nama Yesus yang dihina manusia tetapi dihormati Allah. Karena itu, orang-orang yang dihina bersukacita karena mereka dianggap layak dihina karena Nama itu.
Kisah Para Rasul 5:42 mengatakan, ”Setiap hari mereka mengajar di Bait Allah dan di rumah-rumah dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias.” Di sini kita nampak bahwa para rasul memberitakan Injil di dalam Bait dan di rumah-rumah kaum beriman. Kita memiliki beban untuk mengikuti praktek pemberitaan dan pengajaran dari rumah ke rumah ini.