PERKEMBANGBIAKAN DI YERUSALEM, YUDEA, DAN SAMARIA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK
SEKERJA PETRUS
(6)
Pembacaan Alkitab: Kis. 2:14-47
PERKEMBANGBIAKAN KRISTUS
DAN KEHIDUPAN GEREJA
Dalam 2:22-36 Petrus bersaksi tentang Manusia Yesus dalam pekerjaan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya. Dalam ayat 36 Petrus mengumumkan, ”Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” Yesus dijadikan Tuhan adalah untuk memiliki segala dan Dia dijadikan Kristus adalah untuk merampungkan amanat Allah. Sebagai Allah, Tuhan Yesus adalah Tuhan; di dalam keilahian-Nya, Dia tidak perlu dijadikan Tuhan. Namun sebagai manusia, Dia di dalam kenaikan-Nya, dijadikan Tuhan atas semua oleh Allah. Allah membuat Yesus menjadi Tuhan atas semua untuk memiliki segala sesuatu, termasuk kita.
Tuhan Yesus juga adalah Kristus, bahkan sejak kekekalan. Lagi pula, Dia lahir sebagai Kristus (Luk. 2:11). Tetapi, di dalam kenaikan-Nya Dia secara resmi dijadikan Kristus Allah. Ini berarti bahwa di dalam kenaikan-Nya Allah melantik Dia secara resmi menjadi Kristus. Allah telah menunjuk Dia dalam jabatan-Nya, tetapi di dalam kenaikan-Nya, Allah masih melantik Dia ke dalam jabatan-Nya sebagai Kristus untuk melaksanakan amanat-Nya. Kiranya ki-ta semua terkesan dengan fakta bahwa dalam 2:36 ”Tuhan” mengacu kepada kepemilikan, dan ”Kristus” mengacu kepada amanat.
Catatan dalam 2:14-47 menekankan pembicaraan Petrus mengenai Kristus. Petrus membicarakan tentang Kristus, dan ia bahkan menyampaikan Kristus. Ini adalah hal yang pertama tentang membicarakan Kristus oleh kaum beriman. Dalam pembicaraannya, Petrus menyajikan Manusia Yesus kepada kita dan bersaksi tentang Dia kepada kita. Khususnya, Petrus membicarakan tentang Tuhan Yesus dalam pekerjaan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya.
Dalam pembicaraannya mengenai Kristus dalam Kisah Para Rasul pasal dua sampai lima, Petrus tidak menyebut Dia sebagai Putra Allah. Penekanan Petrus di sini bukan pada fakta bahwa Yesus adalah Putra Allah, melainkan menekankan bahwa Tuhan Yesus adalah seorang manusia. Alasan untuk penekanan ini adalah orang-orang Yahudi menyalibkan Kristus sebagai manusia, menganggap Dia hanya sebagai seorang manusia yang hina, seorang Nazaret, seorang yang rendah tingkatannya. Karena itu, Petrus mengatakan bahwa Dia yang dianggap orang Yahudi sebagai seorang Nazaret yang rendah itu diperkenan Allah dalam segala hal yang Dia lakukan.
Seperti yang akan kita lihat, pembicaraan Petrus tentang Kristus menghasilkan perkembangbiakan Kristus. Pada hari Pentakosta perkembangbiakan ini mencakup tiga ribu jiwa yang diselamatkan. Perkembangbiakan ini adalah akibat, hasil, dari pembicaraan Petrus mengenai Kristus. Dari hal ini kita nampak bahwa hal membicarakan Kristus pasti mengarah kepada perkembangbiakan Kristus di dalam orang-orang yang percaya kepada-Nya. Selain itu, kaum beriman sebagai perkembangbiakan Kristus menjadilah gereja. Karena itu, dalam pasal 2 kita nampak bahwa pembicaraan mengenai Kristus menghasilkan satu gereja di Yerusalem. Dalam pasal ini kita memiliki perkembangbiakan Kristus dan kehidupan gereja.
MENYURUH DAN MENGANJURI ORANG-ORANG
YANG DIGERAKKAN ROH ITU
Bertobat
Setelah Petrus membicarakan Tuhan Yesus dalam pe-kerjaan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya, ia menyuruh dan menganjuri orang-orang yang digerakkan Roh itu supaya bertobat, dibaptiskan, dan diselamatkan (ay. 37-41). Kisah Para Rasul 2:37-38 mengatakan, ”Ketika me-reka mendengar hal itu hati mereka sangat tersayat, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: Apa yang harus kami perbuat saudara-saudara? Jawab Petrus kepada mereka: Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk peng-ampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus.” Di sini Petrus mula-mula menyuruh orang-orang untuk bertobat. Bertobat adalah mengalami perubahan pikiran yang menghasilkan penyesalan, mengalihkan tujuan. Secara harfiah bahasa Yunani untuk bertobat berarti memiliki pemikiran yang berbeda, yakni memiliki perubahan pikiran. Bertobat adalah mengalami perubahan pikiran dengan menyesali hal-hal masa lampau dan berpaling untuk masa yang akan datang. Di pihak negatif, bertobat di hadapan Allah bukan hanya bertobat dari dosa-dosa dan perbuatan-perbuatan yang salah, melainkan juga bertobat dari dunia dan perusakannya yang merebut serta merusak orang-orang yang Allah jadikan untuk diri-Nya sendiri, dan bertobat dari kehidupan yang meninggalkan Allah di masa lampau. Di pihak positif, bertobat adalah berpaling kepada Allah dalam segala aspek dan dalam segala hal bagi pencapaian tujuan-Nya dalam menjadikan manusia. Karena itu, ini adalah satu pertobatan kepada Allah (20:21).
Dibaptis dalam Nama Yesus Kristus
Petrus juga menyuruh orang-orang yang digerakkan oleh Roh itu supaya dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Membaptis orang-orang adalah mencelup mereka, mengubur mereka dalam air, yang melambangkan kematian. Menyuruh orang yang bertobat untuk dibaptis menunjukkan bahwa orang yang bertobat itu tidak ada gunanya lagi selain untuk dikuburkan. Karena itu, baptisan melambangkan pengakhiran manusia lama supaya permulaan yang baru dapat direalisasikan dalam kebangkitan oleh Kristus sebagai Pemberi-hayat. Baptisan dalam Alkitab menyiratkan kematian dan kebangkitan. Dibaptis ke dalam air berarti dimasukkan ke dalam kematian dan dikubur. Keluar dari air berarti di-bangkitkan dari kematian.
Dalam Matius 28:19 Kristus yang bangkit menyuruh murid-murid untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya, membaptis mereka ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Tujuan baptisan adalah membawa orang-orang yang bertobat keluar dari keadaan lama mereka dan masuk ke dalam keadaan yang baru, dengan mengakhiri hayat usang mereka dan menunaskan mereka dengan hayat baru Kristus. Setelah Tuhan Yesus merampungkan ministri-Nya di bumi, telah melewati proses kematian dan kebangkit-an, dan telah menjadi Roh pemberi-hayat, Dia menyuruh murid-murid-Nya untuk membaptis orang-orang yang sudah menjadi murid-murid itu ke dalam Allah Tritunggal. Baptisan ini memiliki dua aspek: aspek yang kasat mata dengan air, dan aspek yang tidak kasat mata dengan Roh Kudus (Kis. 2:38, 41; 10:44-48). Aspek yang kasat mata adalah ekspresi, kesaksian dari aspek yang tidak kasat mata, sedang aspek yang tidak kasat mata adalah realitas dari aspek yang kasat mata. Tanpa baptisan Roh yang tidak kasat mata, baptisan ini yang kasat mata adalah sia-sia; dan tanpa baptisan air yang kasat mata, baptisan Roh itu bersifat abstrak dan tidak praktis. Karena itu, keduanya diperlukan.
Tidak lama setelah Tuhan Yesus menyuruh murid-murid untuk melaksanakan baptisan ini, Dia membaptis mereka dan seluruh gereja dalam Roh Kudus (1 Kor. 12:13) pada hari Pentakosta (Kis. 1:5; 2:4) dan di rumah Kornelius (11:15-17). Kemudian, berdasarkan hal itu, murid-murid membaptis orang-orang yang baru bertobat, bukan hanya ke dalam air, tetapi juga ke dalam kematian Kristus (Rm. 6:34), ke dalam Kristus sendiri (Gal. 3:27), ke dalam Allah Tritunggal (Mat. 28:19), ke dalam Tubuh Kristus (1 Kor. 12:13). Air yang melambangkan kematian Kristus dan penguburan-Nya, dapat dianggap sebagai kubur, yang di dalamnya riwayat lama orang-orang yang dibaptis diakhiri. Karena kematian Kristus tercakup di dalam Kristus, dan karena Kristus adalah perwujudan Allah Tritunggal, dan Allah Tritunggal bersatu dengan Tubuh Kristus, maka membaptis orang yang baru percaya ke dalam kematian Kristus, ke dalam Kristus, ke dalam Allah Tritunggal, dan ke dalam Tubuh Kristus, tidak lain melakukan satu hal ini: di pihak negatif, mengakhiri hayat usang mereka, dan di pihak positif, menunaskan mereka dengan hayat baru, hayat kekal Allah Tritunggal, untuk Tubuh Kristus. Jadi, baptisan yang ditetapkan Tuhan Yesus adalah membaptis orang keluar dari hayat mereka dan masuk ke dalam hayat Tubuh.
Dalam Markus 16:16 Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, ”Siapa yang percaya dan dibaptis akan di-selamatkan.” Percaya berarti menerima Tuhan (Yoh. 1:12), tidak hanya untuk pengampunan dosa-dosa (Kis. 10:43), tetapi juga untuk kelahiran kembali (1 Ptr. 1:21, 23), supaya siapa saja yang percaya, dapat menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12-13) dan anggota Tubuh Kristus (Ef. 5:30) dalam kesatuan yang organik dengan Allah Tritunggal (Mat. 28:19). Dibaptis berarti menegaskan hal ini dengan dikuburkan guna mengakhiri ciptaan lama melalui kematian Kristus dan dengan dibangkitkan menjadi ciptaan baru Allah melalui kebangkitan Kristus. Baptisan yang sedemikian ini jauh lebih maju daripada baptisan pertobatan oleh Yohanes (Mrk. 1:4; Kis. 19:3-5). Percaya dan dibaptis merupakan dua bagian dari satu langkah yang lengkap untuk menerima keselamatan Allah yang sempurna. Dibaptis tanpa percaya hanyalah upacara agama yang kosong; percaya tanpa dibaptis berarti hanya diselamatkan pada bagian batiniah tanpa penegasan lahiriah dari keselamatan yang di dalam itu. Keduanya ini harus berjalan seiring. Selain itu, baptisan air harus disertai dengan baptisan Roh, sama seperti umat Israel dibaptis di dalam laut (air) dan di dalam awan (Roh) — (1 Kor. 10:2; 12:13).
Dalam Kisah Para Rasul 2:38 Petrus membicarakan tentang dibaptis ”dalam nama Yesus Kristus.” Nama menun-jukkan persona. Di sini Petrus menyuruh orang-orang untuk dibaptis dalam nama Tuhan.
Perjanjian Baru menggunakan tiga kata depan (preposisi) yang berbeda untuk menjelaskan hubungan baptisan dengan Tuhan. Kata depan yang pertama adalah en, dalam (Kis. 10:48). Dibaptis dalam nama Yesus Kristus berarti dibaptis ke dalam ruang lingkup nama Yesus Kristus, yang di dalam-Nya ada realitas baptisan. Kata depan yang kedua adalah eis, ke dalam (Mat. 28:19; Kis. 8:16; 19:5; Rm. 6:3; Gal. 3:27). Dibaptis ke dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, atau ke dalam nama Tuhan Yesus, berarti dibaptis ke dalam kesatuan yang rohani dengan Kristus yang almuhit, yang adalah perwujudan Allah Tritunggal. Dibaptis ke dalam nama Tuhan Yesus adalah dibaptis ke dalam Persona Tuhan, disatukan dengan Kristus yang tersalib, bangkit, dan naik, diletakkan ke dalam satu kesatuan yang organik dengan Tuhan yang hidup. Kata depan ketiga yang dipakai untuk menggambarkan hubungan baptisan terhadap Tuhan adalah epi, di atas, atau ke atas, dipakai dalam Kisah Para Rasul 2:38. Dibaptis di atas nama Yesus Kristus berarti dibaptis di atas kedudukan yang diwakili oleh nama Yesus Kristus. Nama Yesus Kristus mewakili semua hakiki Persona Yesus Kristus beserta semua yang telah Dia genapkan, keduanya menyusun kepercayaan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Di atas dasar inilah orang-orang beriman dalam Kristus dibaptis.
Pengampunan Dosa-dosa
Menurut Kisah Para Rasul 2:38, baptisan dalam nama Yesus Kristus adalah untuk pengampunan dosa-dosa. Pengampunan dosa-dosa adalah berdasarkan penebusan Kristus yang digenapkan melalui kematian-Nya (10:43; Ef. 1:7; 1 Kor. 15:3). Ini merupakan berkat pertama dan mendasar dari keselamatan Allah yang sempurna. Berdasarkan ini berkat keselamatan Allah yang sempurna terus maju dan rampung pada saat seseorang menerima karunia Roh Kudus.
Menerima Karunia Roh Kudus
Dalam 2:38 Petrus menyuruh orang-orang untuk bertobat, dibaptis untuk pengampunan dosa-dosa, dan mereka akan menerima karunia Roh Kudus. Karunia Roh Kudus ini bukan karunia apa pun yang diberikan oleh Roh itu, seperti yang disebutkan dalam Roma 12:6, 1 Korintus 12:4, dan 1 Petrus 4:10; melainkan Roh Kudus sendiri, yang Allah berikan kepada orang-orang beriman dalam Kristus sebagai karunia satu-satunya yang menghasilkan semua karunia yang disebut dalam Roma 12, 1 Korintus 12, dan 1 Petrus 4.
Roh Kudus dalam Kisah Para Rasul 2:38 adalah Roh almuhit dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses dalam ekonomi Perjanjian Baru-Nya, baik esensial untuk hayat maupun ekonomikal untuk kuasa, yang diberikan kepada orang-orang beriman pada waktu mereka percaya Kristus (Ef. 1:13; Gal. 3:2) sebagai berkat almuhit dari Injil Allah yang penuh (Gal. 3:14), supaya mereka dapat menikmati semua kekayaan Allah Tritunggal (2 Kor. 13:13).
Para rasul memberitakan dan menyuplaikan Kristus. Tetapi ketika para pendengarnya bertobat dan percaya kepada-Nya, orang-orang itu menerima Roh Allah Tritunggal yang ajaib. Ini menyiratkan bahwa Roh itu adalah diri Kristus sendiri, yang telah bangkit dan naik ke surga. Dalam arti yang umum dan menyeluruh, penerimaan Roh itu di sini bersifat esensial juga ekonomikal; ini berbeda dengan penerimaan Roh itu dalam Kisah Para Rasul 8:15-17 dan 19:2-6, yang secara khusus dicurahkan ke atas kaum beriman secara ekonomikal.
Janji untuk Orang Yahudi dan Orang Kafir
Dalam 2:39 Petrus selanjutnya mengatakan, ”Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.” Dalam ayat ini ”kamu” mengacu kepada orang-orang Yahudi; dan ”janji” menunjukkan Roh Kudus. Orang yang masih jauh mengacu kepada orang-orang Kafir, termasuk ”semua manusia” (ay. 17). Orang yang dipanggil oleh Tuhan Allah kita mengacu kepada orang-orang yang dipilih dan ditentukan Allah dalam kekekalan (Ef. 1:4-5) dan yang dipanggil oleh-Nya dalam zaman Perjanjian Baru (Rm. 1:7; 1 Kor. 1:2).
Diselamatkan dari Generasi yang Bengkok Ini
Kisah Para Rasul 2:40 mengatakan, ”Dengan banyak perkataan lain lagi ia bersaksi dan mendesak mereka, katanya: Berilah dirimu diselamatkan dari orang-orang (generasi) yang jahat (bengkok) ini.” Di sini kita diberi tahu bahwa Petrus bersaksi dan mendesak. Bersaksi memerlukan pengalaman melihat dan menikmati Tuhan atau hal-hal rohani. Bersaksi berbeda dengan sekadar mengajar.
Petrus menganjuri orang-orang dengan berkata, ”Beri-lah dirimu diselamatkan dari generasi yang bengkok ini.” Di sini ”berilah dirimu” adalah aktif, dan ”diselamatkan” adalah pasif; karena itu, ”berilah dirimu diselamatkan” bersifat aktif-pasif. Keselamatan dilaksanakan oleh Allah, tetapi manusia perlu dengan aktif menerima apa yang akan Allah lakukan. Pada hari Pentakosta, setiap hal mengenai keselamatan sempurna Allah telah disiapkan, dan Roh Kudus telah dicurahkan sebagai penerapan dan berkat penuh dari keselamatan Allah, siap untuk diterima manusia. Dalam hal ini Allah sedang menunggu manusia, dan manusia perlu mengambil inisiatif. Meskipun kita tidak dapat menyelamatkan diri sendiri, kita harus mau diselamatkan oleh Allah. Allah mau dan siap untuk menyelamatkan kita; meskipun demikian, kita perlu diselamatkan, yaitu kita perlu mengambil inisiatif untuk menerima keselamatan Allah.
Dalam 2:40 Petrus menganjuri orang-orang untuk diselamatkan dari generasi yang bengkok ini. Pada penutup pemberitaannya, Petrus tidak mengatakan, ”Berilah dirimu diselamatkan dari penghukuman Allah.” atau, ”Berilah dirimu diselamatkan dari kebinasaan kekal,” melainkan, ”Berilah dirimu diselamatkan dari generasi yang bengkok ini!” Generasi yang bengkok ini mengacu kepada orang-orang Yahudi yang sesat dalam zaman itu, yaitu mereka yang menolak Kristus Allah (ay. 36) dan yang dianggap Allah sebagai ”dunia jahat yang sekarang ini” (Gal. 1:4). Kalau orang-orang Yahudi yang jahat itu ingin diselamatkan dari dunia jahat yang sekarang ini, mereka harus sungguh-sungguh bertobat atas kejahatan mereka terhadap Allah dan sungguh-sungguh berpaling kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa mereka perlu berpaling kepada Allah bukan hanya dari dosa-dosa mereka, tetapi juga dari generasi mereka, yaitu masyarakat Yahudi, termasuk agama Yahudi. Hasil dari keselamatan ini bukanlah masuk ke surga, melainkan masuk ke dalam generasi yang baru — gereja. Karena itu, orang-orang yang beroleh selamat harus masuk ke dalam gereja, terpisah dari masyarakat Yahudi. Diselamatkan sedemikian menyiratkan diselamatkan dari penghukuman Allah dan kebinasaan kekal Allah bagi kehendak kekal Allah dan per-kenan-Nya (Ef. 3:11; 1:9).
Kisah Para Rasul 2:41 mengatakan, ”Orang-orang yang menerima perkataannya itu dibaptis dan pada hari itu jum-lah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.” Orang-orang ini dibaptis dengan air (10:47-48). Dalam ayat ini ”jiwa” mengacu kepada manusia yang diciptakan Allah (Kej. 2:7).
Menurut 2:41, ada kira-kira tiga ribu jiwa yang menerima perkataan Petrus dan dibaptis. Ini tentu merupakan satu respon yang baik terhadap pembicaraan Petrus mengenai Kristus. Tetapi, orang-orang yang menerima firman dan dibaptis itu hanyalah sejumlah kecil dari orang-orang yang ada di Yerusalem pada waktu itu. Dari beribu-ribu orang Yahudi di kota itu, hanya tiga ribu yang diselamatkan pada hari Pentakosta. Ini menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi itu masih sangat tegar tengkuk. Sejumlah besar orang Yahudi hidup di Yerusalem, dan sejumlah besar orang telah datang ke kota itu untuk perayaan hari raya Pentakosta.
Karena itu dalam perbandingan, jumlah orang yang di-selamatkan pada hari Pentakosta itu tidak besar. Dalam hal ini kita nampak kedegilan generasi yang bengkok itu. Tidaklah mengejutkan bahwa Petrus berkata, ”Berilah dirimu diselamatkan dari generasi yang bengkok ini!”