← Daftar isi Kisah para Rasul (1) · bab 10/27

PERKEMBANGBIAKAN DI YERUSALEM, YUDEA, DAN SAMARIA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PETRUS

(5)

Pembacaan Alkitab: Kis. 2:14-47

Dalam berita pertama Petrus kepada orang Yahudi (2:14-47) kita nampak empat hal: penjelasan pencurahan Roh Kudus yang ekonomikal (ay. 14-21), menyaksikan Yesus da-lam pekerjaan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya (ay. 22-36), menganjuri orang-orang yang digerakkan Roh itu (ay. 37-41), dan permulaan kehidupan gereja (ay. 42-47). Dalam berita sebelumnya kita telah membahas penjelasan Petrus tentang pencurahan Roh Kudus yang ekonomikal. Marilah kita sekarang melanjutkan membahas kesaksiannya mengenai Tuhan Yesus.

MENYAKSIKAN YESUS DALAM PEKERJAAN,

KEMATIAN, KEBANGKITAN, DAN KENAIKAN-NYA

Pekerjaan-Nya — Penyataan Allah tentang Dia

Dalam 2:22 Petrus berkata, ”Hai orang-orang Israel, de-ngarlah perkataan ini: Yesus dari Nazaret adalah orang yang telah ditentukan Allah dan dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda ajaib yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu ketahui.” Berita pertama dari pemberitaan Injil para rasul berpusat pada satu Orang. Dalam Injilnya, Lukas memperkenalkan Orang ini kepada para pembacanya, mulai dari keterkan-dungan-Nya, melalui kelahiran-Nya, masa kecil-Nya, hidup-Nya di bumi, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya, sampai kenaikan-Nya. Sekarang, dalam kitab ini, Lukas menerus-kan memberi tahu kita bahwa Orang ini diberitakan oleh para rasul sebagai Juruselamat yang ditetapkan Allah.

Bahasa Yunani yang diterjemahkan dinyatakan dalam ayat 22 secara harfiah berarti ditunjukkan, diperlihatkan, dipamerkan, yaitu dibuktikan dengan menunjukkan, dan karenanya diakui. Ini menunjukkan bahwa pekerjaan Tuhan adalah penyataan Allah terhadap Dia, pameran-Nya terhadap Dia. Sewaktu Kristus hidup dan menunaikan ministri, apa pun yang Dia lakukan adalah suatu pameran dari fakta bahwa pekerjaan-Nya dilakukan oleh Allah. Dalam empat kitab Injil kita memiliki pameran dari Persona yang ajaib, manusia-Allah. Kitab-kitab Injil memamerkan manusia-Allah ini sebagai Dia yang sepenuhnya telah teruji, terbukti, dan disetujui. Pemikiran Petrus dalam ayat 22 adalah bahwa Yesus sepenuhnya telah teruji, terbukti, dan disetujui Allah.

Kematian-Nya menurut Penetapan dan Pengenalan Allah Sebelumnya

Dalam 2:23 kita nampak bahwa kematian Tuhan adalah menurut penetapan dan pengenalan Allah sebelumnya: ”Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka.” Rencana yang ditetapkan ini pasti telah ditentukan dalam suatu musyawarah yang diadakan oleh Trinitas Ilahi sebelum dunia dijadikan (1 Ptr. 1:20; Why. 13:8). Ini menunjukkan bahwa ketersaliban Tuhan bukanlah perkara yang kebetulan dalam sejarah manusia, melainkan suatu perampungan dengan tujuan khusus dari ketetapan ilahi Allah Tritunggal.

Kematian Kristus juga menurut pengenalan Allah sebelumnya. Kristus telah ditetapkan, disiapkan oleh Allah untuk menjadi Anak Domba yang menebus (Yoh. 1:29) bagi orang-orang pilihan-Nya menurut pengenalan diri-Nya sebelum dunia dijadikan (1 Ptr. 1:20). Ini dilaksanakan menurut kehendak dan rencana kekal Allah, tidak terjadi secara ke-betulan. Karena itu, dalam pandangan kekal Allah, sejak dunia dijadikan, yaitu sejak kejatuhan manusia sebagai bagian dari dunia, Kristus sudah disembelih (Why. 13:8).

Kita telah nampak bahwa Trinitas Ilahi mengadakan suatu musyawarah mengenai kematian Kristus. Dalam musyawarah itu telah ditentukan bahwa yang Kedua dari Trinitas akan menjadi seorang manusia dan mati di atas salib. Karena itu, ketersaliban Tuhan, yang sesuai dengan pengenalan Allah sebelumnya, adalah hasil dari penetapan yang dibuat oleh Trinitas dalam suatu musyawarah yang kekal. Jadi, ketersaliban Tuhan bukanlah hal yang kebetulan, melainkan terjadi menurut penetapan kekal Allah Tritunggal.

Kisah Para Rasul 2:23 mengatakan bahwa melalui tangan orang-orang durhaka, Tuhan Yesus dipaku di atas salib dan dibunuh. Orang-orang durhaka ini termasuk Yudas Iskariot (Luk. 22:3-6), imam-imam kepala, pengawal-pengawal bait, tua-tua (Luk. 22:52-53), Imam Besar, Mahkamah Agama Yahudi (Luk. 22:54, 66-71), Pilatus, Herodes, dan prajurit-prajurit Romawi (Luk. 23:1-25) — terutama agamwan-agamawan Yahudi dengan wakil-wakil mereka dan politikus-politikus Kafir beserta bawahan mereka. Ini menunjukkan bahwa Yesus dibunuh oleh seluruh umat ma-nusia.

Kisah Para Rasul 2:23 mengatakan bahwa Tuhan Yesus dipaku di atas salib. Hukuman mati orang Yahudi dilak-sanakan dengan merajam (Im. 20:2, 27; 24:23; Ul. 13:10; 17:5). Penyaliban adalah praktek bangsa kafir (Ezr. 6:11) yang diambil oleh orang Romawi untuk menghukum mati budak dan pelaku kejahatan yang berat saja. Penyaliban Tuhan Yesus bukan hanya menggenapi nubuat Perjanjian Lama (Ul. 21:23; Gal. 3:13; Bil. 21:8-9), tetapi juga mengenapi firman Tuhan tentang cara mati-Nya (Yoh. 3:14; 8:28; 12:32). Ini tidak dapat digenapi dengan dirajam. Ini adalah kedaulatan Allah bahwa tidak lama sebelum Tuhan Yesus mati, kekaisaran Romawi membuat undang-undang yang menyatakan bahwa hukuman mati bagi para penjahat adalah dengan cara disalibkan. Dengan cara demikianlah Tuhan dihukum mati. Ini membuktikan bahwa kematian Tuhan tidak terjadi secara kebetulan, melainkan telah ditetapkan Allah (2:23).

Kebangkitan-Nya — Persetujuan Allah terhadap Dia sebagai Mesias

Dalam 2:24-32 Petrus membicarakan kebangkitan Tuhan Yesus. Kebangkitan-Nya itu adalah persetujuan Allah terhadap-Nya sebagai Mesias. Melalui kebangkitan Kristus, Allah mengumumkan bahwa Kristus yang bangkit itu adalah Mesias yang sejati, Yang diurapi dan ditunjuk Allah untuk melaksanakan amanat kekal-Nya.

Kisah Para Rasul 2:24 mengatakan, ”Tetapi Allah membangkitkan Dia setelah melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.” Di sini dan dalam ayat 32 Petrus berkata bahwa Allah telah membangkitkan Yesus. Dalam 10:40-41 dia kembali mengatakan hal yang sama tetapi dengan menambahkan, ”Ia bangkit dari antara orang mati.” Mengenai Tuhan sebagai manusia, Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati (1 Tes. 4:14). Mengenai Dia sebagai Allah, Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa Dia sendiri bangkit dari antara orang mati (Rm. 14:9). Sama prinsipnya, mengenai Tuhan sebagai manusia, Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa Dia dibunuh oleh manusia (Mrk. 9:31). Tetapi mengenai Dia sebagai Allah, Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa Dia menyerahkan hayat-Nya sendiri (Yoh. 10:18). Ini juga membuktikan status ganda-Nya: insani dan ilahi.

Kisah Para Rasul 2:24 mengatakan bahwa tidak mungkin bagi Tuhan untuk tetap berada di dalam kuasa maut. Tuhan adalah Allah juga kebangkitan (Yoh. 1:1; 11:25), memiliki hayat yang tidak dapat binasa (Ibr. 7:16). Karena Dia adalah Yang hidup selamanya, maka maut tidak dapat menahan Dia. Dia menyerahkan diri-Nya sendiri kepada maut, tetapi maut tidak berdaya menahan-Nya; sebaliknya, maut itu dikalahkan-Nya dan Dia bangkit dari maut.

Kisah Para Rasul 2:25 mengatakan, ”Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku memandang Tuhan senantiasa di hadapanku, karena Ia berada di sebelah kananku, aku tidak goyah.” Kata ”aku memandang” memperkenalkan deklarasi Kristus dalam kebangkitan-Nya. Di sini ”Tuhan” mengacu kepada Allah. Ketika Kristus dipegang Allah (seperti dalam Yes. 41:13; 42:6), Allah berada di sebelah kanan-Nya. Ketika Kristus ditinggikan Allah, Dia duduk di sebelah kanan Allah (Kis. 2:33; Mzm. 110:1; Ef. 1:20-21).

Kisah Para Rasul 2:26 melanjutkan, ”Sebab itu hatiku bersukacita dan lidahku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dalam pengharapan.” Ini adalah kutipan dari Mazmur 16:9 dalam Septuagin. Dalam bahasa aslinya (bahasa Ibrani), kata untuk lidah adalah ”kemuliaan”. Menurut Kejadian 49:6 dan Mazmur 7:6 (ASV), kata kemuliaan sino-nim dengan jiwa. Karena Kristus percaya kepada Allah, maka hati-Nya bersukacita, dan jiwa-Nya bersorak-sorai walau-pun ia sedang berada di dalam alam maut (Kis. 2:27).

Bahasa Yunani yang diterjemahkan ”diam” juga dapat diterjemahkan berhuni, tinggal, mendirikan kemah. Setelah Kristus mati di atas salib, jiwa-Nya bersorak-sorai di dalam alam maut, daging-Nya (tubuh-Nya) beristirahat dalam pengharapan di dalam kubur, karena Dia percaya kepada Allah.

Kisah Para Rasul 2:27 selanjutnya mengatakan, ”Sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasa-an.” Dunia orang mati, seperti Sheol dalam Perjanjian Lama (Kej. 37:35; Mzm. 6:5), adalah tempat persemayaman jiwa-jiwa dan roh-roh orang-orang mati (Luk. 16:22-23). Di sini ”kebinasaan” dalam Kisah Para Rasul 2:27 mengacu kepada kebinasaan tubuh di dalam kubur.

Kisah Para Rasul 2:28 melanjutkan, ”Engkau memberi-tahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu.” Di sini jalan kehidupan adalah jalan keluar dari maut dan masuk ke dalam ke-bangkitan. Bahasa Yunani untuk ”hadapan” juga berarti wajah. Kristus bangkit, masuk ke hadirat Allah, terutama di dalam kenaikan-Nya (2:34; Ibr. 1:3).

Dalam 2:29-31 Petrus berkata, ”Saudara-saudara, aku dapat berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapak leluhur kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan bersumpah bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan.” Bahasa Yunani yang diterjemahkan ”keturunan” dalam ayat 30 adalah karpos, berarti ”buah dari bagian pinggang”. Kata ini dipakai untuk Kristus hanya dalam hal keturunan di sini dan dalam Lukas 1:42; dan dipakai untuk buah pohon hayat dalam Wahyu 22:2. Kristus adalah ranting Yehova (Yes. 4:2, Tl.) dan ranting Daud (Yer. 23:5, Tl.), juga adalah buah Maria dan Daud, supaya kita dapat makan Dia sebagai pohon hayat.

Kisah Para Rasul 2:30 membicarakan Kristus sebagai Dia yang akan duduk di atas takhta Daud. Ini juga dinyatakan kepada Maria oleh malaikat pada saat keterkandungan Kristus (Luk. 1:32-33).

Dalam Kisah Para Rasul 2:32 Petrus memberikan suatu perkataan kesimpulan mengenai kebangkitan Kristus: ”Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.” Bahasa Yunani untuk ”hal itu” juga dapat diterjemahkan ”Dia”. Para rasul adalah saksi-saksi dari Kristus yang bangkit, bukan hanya dalam perkataan, tetapi juga dalam hidup dan tindakan mereka, terutama bersaksi tentang kebangkitan-Nya (4:33). Bersaksi tentang kebangkitan Kristus adalah butir penting, inti, dalam me-rampungkan ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Kenaikan-Nya — Peninggian Allah terhadap-Nya

Kenaikan Kristus adalah perihal Allah meninggikan Dia. Dalam meninggikan Kristus, Allah membuat Dia menjadi Tuhan dan Kristus. Pencurahan Roh Kudus adalah suatu bukti bahwa Allah telah meninggikan Tuhan Yesus dan telah membuat-Nya menjadi Tuhan dan Kristus.

Kisah Para Rasul 2:33 mengatakan, ”Sesudah Ia diting-gikan oleh tangan kanan Allah dan menerima dari Bapa, Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya Roh itu seperti yang kamu lihat dan dengar di sini.” Ini bukanlah janji yang diberikan Tuhan dalam Yohanes 14:16-17 dan 15:26, melainkan janji yang diberikan Bapa dalam Yoel 2:28, yang dikutip Petrus dalam Kisah Para Rasul 2:17, dan yang disinggung oleh Tuhan dalam Lukas 24:49 dan Kisah Para Rasul 1:4, mengenai Roh Kudus. Kristus yang ditinggikan menerima janji Roh Kudus, ini sesungguhnya Dia sendiri yang menerima Roh Kudus. Kristus dikandung dari Roh Ku-dus secara esensial untuk keberadaan-Nya dalam keinsanian (Luk. 1:35; Mat. 1:18, 20), dan diurapi dengan Roh itu secara ekonomikal untuk ministri-Nya di antara manusia (Mat. 3:16; Luk. 4:18). Setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya, Dia masih perlu menerima Roh itu secara ekonomikal supaya Dia dapat mencurahkan diri-Nya sendiri ke atas Tubuh-Nya untuk merampungkan ministri surgawi-Nya di bumi bagi perampungan ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Dalam Kisah Para Rasul 2:34-35 Petrus melanjutkan, ”Sebab bukan Daud yang naik ke surga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.” Ini membuktikan bahwa sampai pada saat Pentakosta, Daud masih belum naik ke surga. Kuburnya pun masih ada di antara murid-murid. Fakta ini menyingkirkan pengajaran tidak tepat berdasarkan Efesus 4:8-10 yang mengatakan bahwa ketika Kristus dibangkitkan, Dia membawa Firdaus beserta semua orang kudus Perjanjian Lama, dari alam maut ke dalam surga.

Dalam ayat 34 terdapat kutipan perkataan Daud, ”Tuhan telah berfirman kepada Tuanku . . .” Tuhan mengacu kepada Allah, dan Tuan mengacu kepada Kristus. Daud menyebut Kristus sebagai ”Tuanku” (Mat. 22:44-45).

Kisah Para Rasul 2:34 membicarakan tentang Tuhan Yesus duduk di sebelah kanan Allah. Di sini ”di sebelah ka-nan” menunjukkan kedudukan yang mulia, terhormat, dan berkuasa (Kel. 15:6; 1 Raj. 2:19; Mrk. 14:62).

Menurut 2:35, Tuhan akan duduk di sebelah kanan Allah sampai musuh-musuh-Nya dibuat menjadi tumpuan kaki-Nya. Ini menunjukkan, setelah kenaikan Kristus, Allah masih bekerja untuk mengalahkan musuh-musuh Kristus, su-paya Kristus dapat kembali meraja di dalam Kerajaan universal Allah (1 Kor. 15:25; Why. 11:15).

Dalam 2:36 Petrus menyimpulkan, ”Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” Dalam ayat ini ”kamu” bersifat mempertegas.

Sebagai Allah, Tuhan selamanya adalah Tuhan (Luk. 1:43; Yoh. 11:21; 20:28). Tetapi sebagai manusia, Dia dijadi-kan Tuhan di dalam kenaikan-Nya setelah Dia membawa keinsanian-Nya ke dalam Allah di dalam kebangkitan-Nya. Sebagai Yang diutus dan diurapi Allah, Dia adalah Kristus sejak lahir (Luk. 2:11; Mat. 1:16; Yoh. 1:41; Mat. 16:16). Namun sebagai yang demikian, Dia baru secara resmi dijadikan Kristus Allah di dalam kenaikan-Nya. Tuhan dijadikan Tuan, yaitu Tuan dari segala, untuk memiliki segala; dan Dia dijadikan Kristus, Yang diurapi Allah (Ibr. 1:9), untuk merampungkan amanat Allah.