PERKEMBANGBIAKAN DI YERUSALEM, YUDEA, DAN SAMARIA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK
SEKERJA PETRUS
(4)
Pembacaan Alkitab: Kis. 2:14-47; Mat. 16:19
Dalam 2:1-13 tercantum baptisan kaum beriman Yahudi dalam Roh Kudus. Kemudian dalam 2:14-17 tercantum berita pertama Petrus kepada orang-orang Yahudi. Dalam bagian dari pasal 2 ini, kita nampak Kristus dan gereja. Pertama, Petrus membicarakan Kristus. Kemudian menjelang akhir pasal 2 ini terdapat perkataan mengenai kehidupan gereja.
PEMAKAIAN KUNCI KALI PERTAMA OLEH PETRUS UNTUK MEMBUKA PINTU KERAJAAN BAGI ORANG-ORANG YAHUDI
Berita Petrus yang pertama kepada orang-orang Yahudi adalah pemakaian kunci kali pertama untuk membuka pintu kerajaan bagi orang-orang Yahudi. Setelah Petrus nampak visi mengenai Tuhan Yesus adalah Kristus, Putra Allah yang hidup (Mat. 16:16), Tuhan berkata kepadanya, ”Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga” (ay. 19). Menurut seja-rah, kunci ini ada dua. Petrus menggunakan satu kunci pada hari Pentakosta untuk membuka pintu bagi kaum beriman Yahudi agar mereka dapat masuk kerajaan (Kis. 2:38-42). Dan dia memakai kunci yang lain di rumah Kornelius untuk membuka pintu bagi kaum beriman bukan Yahudi agar mereka dapat masuk ke dalam kerajaan (10:34-48). Karena itu, pada hari Pentakosta, Petrus memakai kunci yang pertama dari dua kunci ini.
MENJELASKAN PENCURAHAN ROH KUDUS
YANG EKONOMIKAL
Pencurahan Roh Kudus ke atas
Manusia-manusia Daging
Kisah Para Rasul 2:14 mengatakan, ”Lalu Petrus bang-kit berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: Hai orang-orang Yahudi dan semua orang yang tinggal di Yerusalem, perhatikanlah perkataanku ini dan ketahuilah.” Di sini kata ”sebelas” menunjukkan bahwa Matias, yang dipilih dalam 1:26, diakui sebagai salah satu di antara kedua belas rasul itu.
Dalam ayat 15 Petrus melanjutkan berkata, ”Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan.”
Ayat 16-18 melanjutkan, ”Tetapi itulah yang difirman-kan Allah dengan perantaraan Nabi Yoel: Akan terjadi pada hari-hari terakhir demikianlah firman Allah bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan pemuda-pemudimu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Ku curahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat.” Hari-hari terakhir yang disebutkan pada ayat 17 ini menunjukkan periode penutupan zaman ini (2 Ptr. 3:3; Yud. 18), yang dimulai dari kedatangan Kristus kali pertama (1 Ptr. 1:20) dan akan berlangsung sampai kedatangan Kristus kali kedua (lihat catatan 12 dalam 2 Tim. 3).
Pencurahan Roh itu ke atas semua daging berbeda dengan hembusan Roh itu ke dalam murid-murid dari mulut Kristus setelah kebangkitan-Nya (Yoh. 20:22). Pencurahan Roh Allah adalah dari surga di dalam kenaikan Kristus. Penghembusan Roh adalah aspek esensial Roh itu yang dihembuskan ke dalam murid-murid sebagai hayat untuk kehidupan mereka; pencurahan Roh adalah aspek ekonomikal Roh itu yang dicurahkan ke atas mereka sebagai kuasa untuk pekerjaan mereka. Roh yang sama berada di dalam mereka secara esensial dan di atas mereka secara ekonomikal.
Pencurahan Roh dalam kenaikan Kristus adalah turunnya Kristus yang bangkit dan naik ke surga sebagai Roh almuhit untuk melaksanakan ministri surgawinya di bumi untuk membangun gereja-Nya (Mat. 16:18) sebagai Tubuh-Nya (Ef. 1:23) bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah.
”Ke atas” dalam ayat 17 adalah secara ekonomikal, berbeda dengan ”di dalam” dalam Yohanes 14:17. ”Di dalam” berhubungan dengan esens yang di dalam untuk hayat; ”ke atas” berhubungan dengan unsur yang di luar untuk kuasa.
Kisah Para Rasul 2:17 mengatakan bahwa Roh itu dicurahkan ke atas semua manusia (daging, Tl.); ini menun jukkan semua manusia yang telah jatuh, tanpa membedakan jenis kelamin, umur, atau status.
Ayat 17 juga membicarakan tentang nubuat-nubuat, penglihatan-penglihatan, dan mimpi-mimpi. Nubuat-nubuat, penglihatan-penglihatan, dan mimpi-mimpi adalah ekspresi-ekspresi luaran, tidak ada hubungannya dengan hayat batini.
Kita telah nampak bahwa pencurahan Roh yang ekonomikal sebenarnya adalah pencurahan Roh Kudus. Pencurahan ini berbeda dengan hembusan Roh Kudus. Kita juga perlu nampak bahwa Roh Kudus yang dicurahkan pada hari Pentakosta sebenarnya adalah Kristus yang bangkit dan naik itu.
Roh Kudus Dicurahkan
supaya Kita Dapat Berseru
kepada Nama Tuhan dan Diselamatkan
Kisah Para Rasul 2:19-20 mengatakan, ”Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di atas, di langit dan tanda-tanda ajaib di bawah, di bumi, darah dan api dan gumpalan asap-asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu.” Secara harfiah, bahasa Yunani yang diterjemahkan ”mengadakan” dalam ayat 19 berarti mem-berikan. Ayat 19-20, yang dikutip dari nubuat Yoel, tidak berhubungan dengan hal-hal yang terjadi pada hari Penta-kosta, tetapi berhubungan dengan malapetaka-malapetaka pada hari penghakiman Tuhan di masa yang akan datang. Untuk pembahasan yang lebih terperinci mengenai hari Tuhan, bacalah catatan 123 dalam 2 Petrus 3.
Dalam 2:21 Petrus melanjutkan berkata, ”Dan siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.” Berseru kepada nama Tuhan bukanlah suatu praktek baru dalam Perjanjian Baru, melainkan sudah dimulai dalam Kejadian 4:26, yaitu oleh Enos, keturunan ketiga dari umat manusia. Praktek ini diteruskan oleh Ayub (Ayb. 12:4; 27:10), Abraham (Kej. 12:8; 13:4; 21:33), Ishak (Kej. 26:25), Musa dan bangsa Israel (Ul. 4:7), Simson (Hak. 15:18; 16:28), Samuel (1 Sam. 12:18; Mzm. 99:6), Daud (2 Sam. 22:4, 7; 1 Taw. 16:8; 21:26; Mzm. 14:4; 17:6; 18:4, 7; 31:18; 55:17; 86:5, 7; 105:1; 116:4, 13, 17; 118:5; 145:18), pemazmur Asaf (Mzm. 80:19), pemazmur Heman (Mzm. 88:10), Elia (1 Raj. 18:24), Yesaya (Yes. 12:4), Yeremia (Rat. 3:55, 57), dan yang lain (Mzm. 99:6). Mereka semua mempraktekkan berseru kepada nama Tuhan dalam zaman Perjanjian Lama. Yesaya menyuruh pencari-pencari Allah berseru kepada-Nya (Yes. 55:6). Bahkan orang-orang kafir tahu bahwa nabi-nabi Israel mempunyai kebiasaan berseru kepada nama Allah (Yun. 1:6; 2 Raj. 5:11). Orang kafir dari bagian utara yang Allah bangkitkan juga menyeru nama-Nya (Yes. 41:25). Perintah (Mzm. 50:15; Yer. 29:12) dan keinginan Allah (Mzm. 91:15; Zef. 3:9; Za. 13:9) adalah supaya umat-Nya berseru kepada-Nya. Ini adalah jalan sukacita untuk minum sumber air keselamatan Allah (Yes. 12:3-4), dan jalan yang nikmat untuk menyenangkan diri karena Allah (Ayb. 27:10). Menyenangkan diri ka-rena Allah berarti menikmati Dia. Karena itu, umat Allah harus berseru kepada nama-Nya setiap hari (Mzm. 88:10). Praktek sedemikian riang dinubuatkan oleh Yoel (Yl. 2:32) tentang tahun Yobel Perjanjian Baru.
Dalam Perjanjian Baru, menyeru nama Tuhan pertamatama disinggung oleh Petrus (Kis. 2:21) pada hari Pentakosta sebagai penggenapan nubuat Yoel. Penggenapan ini berhubungan dengan pencurahan Roh almuhit secara ekonomikal oleh Allah ke atas umat pilihan-Nya supaya mereka dapat berbagian dalam yobel Perjanjian Baru. Nubuat Yoel dan penggenapannya tentang yobel Perjanjian Baru Allah memiliki dua aspek: pada aspek Allah, Dia mencurahkan Roh-Nya dalam kenaikan Kristus yang bangkit; pada aspek kita, kita menyeru nama Tuhan yang naik ke surga, yang telah merampungkan semua, mencapai semua, dan mendapatkan semua. Menyeru nama Tuhan sangatlah perlu bagi kita, orang-orang beriman dalam Kristus, agar kita dapat berbagian dan menikmati Kristus yang almuhit dengan se gala yang telah Dia rampungkan, capai, dan dapatkan (1 Kor. 1:2). Menyeru nama Tuhan adalah praktek yang utama dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah yang memungkinkan kita menikmati Allah Tritunggal yang telah melalui proses untuk keselamatan kita yang sempurna (Rm. 10:10-13). Kaum beriman sebermula mempraktekkan hal ini di mana-mana (1 Kor. 1:2). Terhadap orang-orang yang tidak percaya, terutama para penganiaya, menyeru nama Tuhan menjadi satu tanda populer dari orang-orang yang percaya kepada Kristus (9:14, 21). Ketika Stefanus dianiaya, ia menyeru nama Tuhan (7:59), dan ini pasti memberi kesan yang dalam kepada Saulus, salah satu penganiayanya (7:58-60; 22:20). Kemudian, Saulus yang tidak percaya menganiaya orang-orang yang berseru kepada Tuhan dengan mengambil seruan mereka sebagai satu tanda (9:14, 21). Segera setelah Saulus ditangkap oleh Tuhan, Ananias, yang membawanya masuk ke dalam persekutuan Tubuh Kristus, menyuruh Saulus dibaptis sambil berseru kepada nama Tuhan; ini untuk memperlihatkan kepada orang lain bahwa ia juga telah menjadi penyeru yang demikian. Perkataannya kepada Timotius dalam 2 Timotius 2:22 menunjukkan bahwa pada masa sebermula, semua pencari Tuhan adalah orang-orang yang menyeru nama Tuhan. Tidak dapat disangkal, dia mempraktekkan hal ini, karena ia menyuruh Timotius, sekerjanya yang muda untuk melakukannya, supaya Timotius juga da-pat menikmati Tuhan seperti dia.
Istilah Yunani untuk ”berseru kepada” adalah epikaleo, yang terdiri atas epi, kepada, dan kaleo, berseru (dengan menyebut nama), yaitu memanggil dengan suara yang ter-dengar bahkan dengan nyaring, seperti yang dilakukan Stefanus (Kis. 7:59-60).
Kisah Para Rasul 2:21 membicarakan tentang berseru kepada nama Tuhan. Nama mengacu kepada personanya. Yesus adalah nama Tuhan, dan Roh itu adalah persona-Nya. Ketika kita berseru, ”Tuhan Yesus,” kita menerima Roh itu.
Menurut konteksnya, 2:21 adalah kesimpulan dari kutipan nubuat Yoel yang dimulai dari ayat 17, menunjuk-kan bahwa hasil pencurahan Roh Allah ke atas semua manusia adalah keselamatan mereka melalui menyeru nama Tuhan. Pencurahan Roh Allah adalah penerapan keselamat-an Tuhan atas umat pilihan-Nya. Diselamatkan adalah me-nerima Roh ini, yang adalah berkat Injil dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah (Gal. 3:2, 5, 14). Roh ini adalah Tuhan sendiri sebagai hembusan (Yoh. 20:22) dan air hidup (Yoh. 4:10, 14) bagi kita. Untuk menghirup Dia sebagai hembusan dan minum Dia sebagai air hidup kita, kita perlu menyeru nama Tuhan. Ratapan 3:55-56 (American Standard Version) menunjukkan bahwa seruan kita kepada Tuhan adalah nafas kita, dan Yesaya 12:3-4 menunjukkan bahwa seruan kita kepada Tuhan adalah minuman kita. Setelah kita percaya kepada Tuhan, kita perlu berseru kepada-Nya supaya kita bukan hanya dapat diselamatkan, tetapi juga dapat me-nikmati kekayaan-Nya (Rm. 10:12-13). Ketika kita memakai roh kita berseru kepada-Nya, menghirup Dia, dan menerima Dia, kita menikmati kekayaan-Nya. Ini adalah penyembahan yang sejati kepada Allah. Tuhan menghubungkan penyembahan Allah (Yoh. 4:24) dengan meminum air hayat yang Dia berikan (Yoh. 4:14).
Kalau kita membahas ayat 21 dalam konteksnya, kita nampak bahwa pencurahan Roh Kudus ke atas semua manusia, yaitu ke atas semua manusia milik daging, adalah untuk tujuan agar orang-orang mau berseru kepada nama Tuhan dan diselamatkan. Ini adalah alasan Paulus mengatakan bahwa jika seseorang ingin diselamatkan, ia perlu berseru kepada nama Tuhan (Rm. 10:12-13).
Dalam Roma 10, Paulus membicarakan dua hal — di-benarkan dan diselamatkan. Dibenarkan adalah suatu hal yang batini, dan diselamatkan adalah suatu hal yang luar-an. Paulus mengatakan bahwa untuk dibenarkan, kita perlu percaya dalam hati, demikian kita dibenarkan. Jika kita percaya dalam hati bahwa Tuhan Yesus mati bagi kita dan bahwa Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati, kita akan dibenarkan di hadirat Allah. Tetapi, untuk di-selamatkan, kita masih perlu berseru kepada nama Tuhan.
Ketika kita memberitakan Injil dan membantu orang lain beroleh selamat, kita perlu mendorong mereka untuk berseru kepada nama Tuhan dan berkata, ”O Tuhan Yesus!” Dari pengalaman kita tahu bahwa semakin kuat seseorang berseru kepada nama Tuhan Yesus, maka semakin kuat pengalamannya terhadap keselamatan.
Misalnya ada orang yang telah mendengar pemberitaan Injil dan ingin diselamatkan, ia berdoa dengan lemah, ”Tuhan Yesus, Engkau mengasihi aku, dan Engkau mati bagiku. Aku percaya kepada-Mu.” Mungkin sulit untuk mengakui apakah seseorang yang berdoa dengan cara yang lemah seperti itu diselamatkan. Tetapi, seandainya seseorang dengan kuat berseru kepada nama Tuhan Yesus dan ber-kata, ”Tuhan Yesus! O Tuhan Yesus! Aku adalah orang dosa, Tuhan, tetapi Engkau mati bagiku! O Tuhan Yesus, aku cinta pada-Mu!” Tidak diragukan lagi, orang yang berdoa seperti ini, berseru dengan kuat kepada nama Tuhan, pasti dise-lamatkan. Dia bahkan mungkin lupa diri karena sukacita di dalam Tuhan untuk keselamatan-Nya.
Menurut Kisah Para Rasul 7:59, ketika Stefanus dilempari batu, ia ”berseru, katanya: Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku!” (Tl.). Saulus dari Tarsus menyetujui pembunuhan ini, dan bergabung dalam penganiayaan besar terhadap gereja di Yerusalem. Menurut 9:14, Saulus memiliki kuasa dari imam-imam kepala untuk membelenggu semua orang yang berseru kepada nama Tuhan Yesus. Maksud Saulus pergi ke Damsyik adalah untuk menangkap semua orang yang berseru kepada nama Tuhan. Ini menunjukkan bahwa pada masa sebermula, hal berseru kepada nama Tuhan Yesus adalah satu tanda dari seorang pengikut Tuhan. Seruan ini tentunya cukup nyaring sehingga orang lain dapat mendengar. Demikianlah seruan itu menjadi suatu tan-da. Pada zaman Saulus, kaum beriman adalah orang-orang yang berseru kepada nama Tuhan Yesus.
Tuhan menampakkan diri kepada Saulus dalam per-jalanannya ke Damsyik, dan Saulus berkata, ”Siapakah Engkau, Tuan?” (9:5). Kemudian, Ananias datang kepada Saulus dan berkata kepadanya, ”Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan dengan berseru kepada nama Tuhan!” (22:16). Di sini Ananias seolah-olah berkata, ”Saudara Saulus, Anda menganiaya kaum beriman karena berseru kepada nama Tuhan Yesus. Mereka menganggap Anda penganiaya, orang yang menangkap kaum beriman karena berseru kepada nama Tuhan. Sekarang Anda telah bertobat dan berpaling kepada Tuhan. Tetapi bagaimanakah orang-orang yang menganggap Anda penganiaya mengakui bahwa Anda sekarang seorang saudara? Satu-satunya jalan bagi mereka untuk mengakui Anda adalah Anda berseru kepada nama Tuhan. Maka bangunlah dan berilah dirimu dibaptis dengan berseru kepada nama Tuhan Yesus. Sewaktu Anda dibaptiskan dan berseru kepada nama Tuhan Yesus, orang-orang kudus akan menjadi sangat gembira mendengar bahwa Anda juga berseru kepada nama ini.”
Hari ini banyak kaum beriman tidak memiliki praktek berseru kepada nama Tuhan Yesus. Beberapa orang yang hanya mengikuti praktek tradisional malah mengkritik orang-orang yang berseru kepada nama Tuhan. Seperti yang telah kita tunjukkan, berseru kepada nama Tuhan bukanlah suatu praktek yang baru; ini bukanlah sesuatu yang kita temukan. Menurut Alkitab, berseru kepada nama Tuhan dipraktekkan untuk kali pertama dalam Kejadian 4.
Seperti yang Dijanjikan Allah dalam Kitab Yoel
Kita telah nampak dalam 2:14-21 bahwa Petrus dalam berita pertamanya kepada orang Yahudi menjelaskan pencurahan Roh Kudus yang ekonomikal. Pencurahan Roh Kudus yang ekonomikal ini dijanjikan Allah dalam Yoel 2:28-29, 32.