DIBENTUK MENJADI PASUKAN (7)
Pembacaan Alkitab : Bilangan 6:1-5
Saya benar-benar mengagumi urutan dari susunan pasal-pasal dalam Kitab Bilangan. Bilangan 1—4 mencatat pembentukan pasukan ilahi, yang berperang bagi Allah dan melayani Allah. Segera setelah catatan ini, terdapat sebuah pasal tentang penanggulangan pencemaran. Kemudian terdapat ujian tentang kesucian kita, untuk memastikan apakah kita tulus, murni, dan suci terhadap Dia yang kita cintai. Setelah itu, terdapat sebuah pasal tentang kenaziran. Dalam berita ini kita akan mulai membahas orang nazir.
VII. DIKUDUSKAN—
MENJADI SEORANG NAZIR
Allah mendambakan seluruh umat-Nya menjadi orang-orang nazir. Menjadi orang nazir berarti mutlak dan tuntas dikuduskan bagi Allah. Dikuduskan secara demikian berarti hanya untuk Allah saja bukan untuk yang lain. Bagian tentang penanggulangan pencemaran memperlihatkan bahwa Allah ingin umat-Nya suci, benar, dan setia. Ujian untuk kesucian kita menunjukkan bahwa Allah ingin kita hanya mencintai Dia, mencintai-Nya dengan segenap hati kita, pikiran kita, emosi kita, tekad kita, dan dengan kekuatan tubuh kita (Mrk. 12:30). Ia ingin kita tidak memiliki siapa pun dan apa pun selain Dia sebagai cinta pertama kita dan cinta kita yang satu-satunya. Bahkan jika kita mencintai-Nya sedemikian, kita mungkin masih belum mutlak dan tuntas bagi Dia. Kita bisa menggunakan kehidupan pernikahan sebagai ilustrasi tentang mencintai Tuhan tanpa menjadi mutlak bagi Dia. Allah mungkin telah berkenan memberi Anda seorang istri yang benar-benar mencintai Anda. Namun, walaupun ia mencintai Anda dan sama sekali murni terhadap Anda, ia mungkin tidak secara keseluruhan, mutlak, dan tuntas bagi Anda. Bahkan istri yang paling mengasihi pun masih bisa bagi dirinya sendiri dalam hal-hal tertentu. Perihal kenaziran adalah suatu ujian atas kemutlakan kita. Jika kita mau menjadi orang nazir, kita harus secara mutlak, keseluruhan, dan tuntas bagi Allah.
A. Melambangkan Tuhan Yesus dalam Kehidupan-Nya bagi Allah dalam Keinsanian-Nya
Menurut perlambangan, di antara umat manusia orang nazir yang unik adalah Tuhan Yesus. Karena itu, orang na-zir adalah suatu lambang Kristus. Orang nazir melambangkan Tuhan Yesus dalam kehidupan-Nya bagi Allah dalam keinsanian-Nya.
B. Melalui Mengucapkan Nazar Khusus
Mengkhususkan Diri bagi Allah
Bilangan 6:2 berbicara tentang seorang laki-laki atau perempuan yang mengucapkan “nazar khusus, yakni nazar orang nazir, untuk mengkhususkan dirinya bagi TUHAN”. Di sini kita melihat bahwa seorang nazir dikuduskan melalui membuat nazar khusus untuk memisahkan dirinya kepada Allah. Kita mungkin telah berkali-kali mengucapkan nazar kepada Tuhan, tetapi mungkin tidak terlalu kuat dan mutlak, dan kita mungkin tidak menepatinya. Dapatkah Anda mengucapkan nazar dan setia kepadanya seumur hidup Anda?
1. Memisahkan, Menguduskan Diri Sendiri bagi Allah Setelah Menanggulangi Semua Kecemaran
Ada perbedaan antara pemisahan dan pengudusan. Pemisahan berada pada sisi negatif, dan pengudusan pada sisi positif. Pada sisi negatif, kita memisahkan diri kita dari orang-orang duniawi. Pada sisi positif, kita menguduskan diri kita, yaitu, kita menyerahkan diri kita kepada Allah. Mula-mula, kita dipisahkan, kemudian kita dikuduskan. Memisahkan, menguduskan diri sendiri bagi Allah harus menyusul setelah menanggulangi semua kecemaran (Bil. 5). Ini logis, karena menanggulangi kecemaran seharusnya mendahului nazar orang nazir.
2. Imam-imam Menjadi Demikian karena Keturunan
Para imam yang menjadi sedemikian karena keturunan (sejak dilahirkan) ditahbiskan oleh Allah atas prakarsa-Nya. Seorang imam haruslah seorang nazir, seseorang yang mutlak bagi Allah. Ini sesuai dengan pengaturan Allah. Menjadi imam merupakan masalah prakarsa Allah; hal ini tidak tergantung pada apa yang dikerjakan orang tersebut, melainkan pada apa yang dikerjakan Allah berkenaan dengan dia.
3. Orang-orang Nazir Menjadi Demikian Melalui Nazar
Seorang nazir yang menjadi demikian melalui nazar, disisihkan bagi Allah oleh dirinya sendiri atas prakarsa dirinya sendiri. Ini berarti seseorang bukanlah seorang nazir sejak lahir, tetapi dapat menjadi seorang nazir melalui mengucapkan nazar khusus. Jadi, para imam ditahbiskan oleh Allah atas prakarsa-Nya, tetapi orang-orang awam menjadi orang nazir melalui nazar atas prakarsa mereka sendiri. Hari ini kita berada dalam pemulihan Tuhan karena prakarsa Allah dan juga atas prakarsa kita. Keduanya diperlukan.
4. Penggenapan Kehendak Allah Memerlukan Kerja Sama Manusia untuk Melengkapi Penentuan Allah
Penggenapan kehendak Allah memerlukan kerja sama manusia untuk melengkapi penentuan Allah. Ini diilustrasikan oleh kasus Samuel. Samuel adalah seorang nazir yang melengkapi Eli yang tidak sempurna, imam yang ditahbiskan oleh Allah. Dalam masa tuanya, Eli memiliki kekurangan-kekurangan tertentu. Akan tetapi, Samuel atas prakarsanya sendiri, masuk untuk mengisi kesenjangan yang disebabkan oleh kekurangan-kekurangan Eli dan dengan demikian melengkapi Eli yang tidak sempurna.
C. Berpantang Anggur dan Segala Sesuatu yang
Berhubungan dengan Sumbernya
“Maka haruslah ia menjauhkan dirinya dari anggur dan minuman yang memabukkan, jangan meminum cuka anggur atau cuka minuman yang memabukkan dan jangan meminum sesuatu minuman yang dibuat dari buah anggur, dan jangan memakan buah anggur, baik yang segar maupun yang kering. Selama waktu kenazirannya janganlah ia makan sesuatu apa pun yang berasal dari pohon anggur, dari bijinya sampai kepada pucuk rantingnya” (Bil. 6:3-4). Di sini kita melihat bahwa seorang nazir harus berpantang anggur dan segala sesuatu yang berhubungan dengan sumbernya. Ini melambangkan berpantang dari kenikmatan dan kesenangan duniawi (bandingkan dengan Mzm. 104:15; Pkh. 10:19). Berpantang dari segala macam anggur berarti berpantang dari segala macam kenikmatan dan kesenangan duniawi.
Kita harus berhati-hati terhadap apa pun yang duniawi yang membuat kita senang. Kesenangan duniawi menimbulkan tingkah laku yang penuh nafsu dan tujuan yang penuh nafsu. Kenikmatan dan kesenangan duniawi bisa mencemarkan seorang nazir. Seorang nazir harus berpantang dari cuka yang dibuat dari anggur, dari air buah anggur, dan dari buah anggur segar atau yang kering. Ini melambangkan berpantang dari segala sesuatu yang berasal dari kenikmatan dan kesenangan duniawi. Cuka dikelompokkan dengan anggur karena sumbernya sama. Anggur, cuka, dan air anggur semuanya dilarang. Dari hal ini kita melihat bahwa orang yang mutlak bagi Allah sama sekali disisihkan dari segala kesenangan duniawi. Ini memperlihatkan kemutlakan orang nazir.
D. Tidak Mencukur Rambutnya
“Selama waktu nazarnya sebagai orang nazir janganlah pisau cukur lalu di kepalanya; sampai genap waktunya ia mengkhususkan dirinya bagi TUHAN, haruslah ia tetap kudus dan membiarkan rambutnya tumbuh panjang” (Bil. 6:5). Tidak mencukur rambutnya melambangkan tidak menolak kekepalaan Tuhan (bandingkan dengan 1Kor. 11:3, 6).
Untuk menjadi seorang nazir kita harus memperhatikan dua hal. Pertama, kita tidak boleh mempunyai hubungan dengan kesenangan duniawi. Kedua, kita harus mutlak berada di bawah kekuasaan, di bawah kekepalaan. Pencukuran rambut sering menandakan penolakan akan kekepalaan Tuhan. Dari sudut rohani, mencukur rambut kita berarti kita membuang kekuasaan Tuhan atas kita. Orang nazir harus membiarkan rambutnya tumbuh panjang (dengan bebas); yaitu, ia harus tetap dalam penguasaan kekepalaan Tuhan, di dalam kekepalaan ini terdapat kekuatan (Hak. 16:17). Hari ini adalah zaman pelanggaran hukum. Jika kita menyingkirkan polisi dan menutup gedung pengadilan, masyarakat akan penuh dengan perampok dan pembunuh. Kita tidak akan tahan hidup dalam situasi yang demikian tak terkendali. Amerika Serikat memiliki undang-undang yang hebat, dan berdasarkan undang-undang ini ada hukum-hukum yang tegas dan pengadilan untuk memastikan hukum-hukum ini dilaksanakan. Setiap orang yang muncul dalam pengadilan harus tunduk kepada hukum pemerintah Amerika Serikat. Jika tidak, seluruh masyarakat akan rusak.
Manusia yang telah jatuh adalah manusia pemberontak. Sifat pemberontak masih ada di dalam kita. Karenanya akan berbahaya berada dalam suatu situasi di mana tidak ada wakil kekuasaan. Inilah alasan Allah mendirikan pemerintahan manusia (Kej. 9:5-6). Seluruh pemerintah merupakan wakil kekuasaan yang mewakili kekuasaan Allah. Menyinggung hal ini, Paulus berkata, “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada ditetapkan oleh Allah. Sebab itu siapa yang melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah” (Rm. 13:1-2a). Guru, majikan, dan polisi adalah wakil-wakil kekuasaan. Di setiap tempat di bumi ada wakil kekuasaan.
Mari kita terapkan masalah wakil kekuasaan ini pada gereja. Apakah ada wakil kekuasaan dalam gereja? Jika tidak ada wakil kekuasaan dalam gereja, mengapa ada penatua? Baru-baru ini, sebagian orang mengatakan tidak ada wakil kekuasaan dalam Perjanjian Baru. Jika hal itu benar, mengapa Perjanjian Baru mengatakan bahwa dalam gereja ada penatua? Sudah tentu, Kristus adalah Kepala, dan otoritasnya adalah Roh Kudus, tetapi kita masih memerlukan para penatua dalam gereja. Tanpa penatua, gereja akan menjadi anarki (tanpa pemerintah).
Dalam kehidupan keluarga kita juga ada wakil kekuasaan. Orang tua adalah wakil kekuasaan bagi anakanak (Ef. 6:1), dan para suami adalah wakil kekuasaan bagi para istri (Ef. 5:23). Paulus bahkan berkata bahwa seorang istri hendaknya takut kepada suaminya (Ef. 5:33 Tl.). Bagi seorang istri, takut kepada suaminya berarti ia menganggap suaminya sebagai wakil kekuasaan. Bahkan dalam sebuah keluarga kecil pun ada wakil kekuasaan. Jika demikian, gereja lebih memerlukan wakil kekuasaan!
Dua ciri khusus, atau dua tanda, dari seorang nazir adalah, pertama, ia tidak menjamah kesenangan duniawi mana pun, dan, kedua, ia selalu menaruh dirinya di bawah kekuasaan tertentu. Ini adalah perkara yang serius. Sebagai orang yang mau mutlak bagi Allah, kita harus berpantang dari kesenangan duniawi. Di samping itu, kita tidak boleh mencukur rambut kita; yaitu kita harus menghormati kekuasaan dan tetap berada di bawah kekepalaan Tuhan dalam segala hal.