DIBENTUK MENJADI PASUKAN (8)
Pembacaan Alkitab: Bilangan 6:6-12
Dalam berita ini kita akan melanjutkan membahas masalah dikuduskan untuk menjadi seorang nazir yang dibicarakan dalam Bilangan 6.
E. Tidak Menjamah Kematian
Agar Tidak Menjadi Najis
Dalam berita terdahulu kita telah melihat bahwa untuk dikuduskan menjadi seorang nazir, pertama, seseorang tidak boleh menyentuh kesenangan duniawi mana pun (dilambangkan dengan anggur, Bil. 6:3-4) dan, kedua, seseorang harus menjaga dirinya tetap berada di bawah kekepalaan Allah (dilambangkan dengan tidak mencukur rambut kepalanya, Bil. 6:5). Sekarang kita perlu melihat bahwa seorang nazir tidak boleh menyentuh apa pun yang sudah mati, supaya ia tidak menjadi najis. Hal yang paling menjijikkan di mata Allah adalah kematian, dan seorang nazir tidak boleh dinajiskan oleh kematian.
1. Tidak Dinajiskan oleh Kematian Saudara Kandung,
Melainkan Tetap dalam Pengkhususan Dirinya untuk Menjadi Kudus bagi Allah
Seorang nazir tidak boleh dinajiskan oleh kematian saudara kandungnya, saudara yang paling dekat dengannya, tetapi hendaknya tetap dalam pengkhususan dirinya untuk menjadi kudus bagi Allah (Bil. 6:6-8). Bahkan kematian ayah dan ibunya tidak boleh menajiskan dia. Ini menandakan bahwa kita tidak boleh dinajiskan karena kematian yang datang melalui kasih sayang alamiah, melainkan hendaknya menjaga diri kita tetap suci dalam pengudusan kita. Seorang nazir harus tetap dikuduskan sepenuhnya, disisihkan bagi Allah dari segala hal, dan harus terus-menerus melekat erat kepada Allah.
Seorang nazir harus berpantang dari kesenangan duniawi dan tidak boleh dinajiskan oleh kematian yang datang melalui kasih sayang alamiah. Kesenangan adalah masalah kenikmatan, dan kasih sayang alamiah adalah masalah cinta. Untuk menghindari kenajisan, seorang nazir harus berhati-hati, baik terhadap kesenangan duniawi maupun kasih sayang alamiah.
2. Ditahirkan pada Hari Ketujuh dari Kenajisan
yang Disebabkan oleh Kematian Tiba-tiba
dari Seseorang di Dekatnya
Jika rambut seorang nazir tercemar oleh seseorang yang mati mendadak di sampingnya, dia harus ditahirkan pada hari ketujuh (hari terakhir kenazirannya, Kis. 21:27) melalui mencukur rambutnya (Bil. 6:9-12). Ini menunjukkan bahwa jika kita tercemar oleh kematian yang tidak terduga, kita harus ditahirkan dengan memisahkan diri kita kembali kepada Tuhan. Dari sisi manusia, bukanlah kesalahan seorang nazir bila orang di dekatnya mati secara tiba-tiba. Walaupun demikian, kematian tiba-tiba seperti itu akan menajiskan orang nazir tersebut, dan dia harus bertanggung jawab atas kenajisan ini. Hari ini kita hidup di antara orang lain, dan kita tidak dapat menduga kapan, secara rohani, seseorang akan mati di dekat kita. Jika kita dinajiskan oleh kematian yang tidak terduga, kita harus memiliki permulaan yang baru. Kita harus ditahirkan dengan memisahkan diri kita kembali kepada Tuhan. Kita tidak menyadari betapa kotor dan menajiskan kematian itu. Kita menganggap dosa sangat menajiskan, akan tetapi Allah jauh lebih membenci kematian daripada dosa. Dalam hidup gereja dosa bisa masuk untuk menajiskan gereja dan merusak kaum beriman, tetapi kita lebih sering dinajiskan oleh kematian. Kematian adalah sesuatu yang tersembunyi. Sering kali kematian berada tepat di samping kita, akan tetapi kita tidak menyadarinya atau merasakannya, dan menjadi najis karenanya.
Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita telah dinajiskan oleh kematian? Kita mengetahuinya melalui memiliki kesadaran atau perasaan akan kematian. Dosa mendatangkan penghakiman yang akan mempengaruhi hati nurani kita. Bagaimanapun, kematian bukanlah masalah penghakiman, bukan sesuatu yang mempengaruhi hati nurani kita. Kematian membuat kita tenggelam, membuat kita mati.
Sering kali ketika Anda pergi bersidang, Anda menerima suplai hayat dan dihidupkan. Namun, kadang-kadang, pada saat Anda pulang dari sidang, Anda merasa mati, dan Anda tidak tahu mengapa. Anda tidak merasakan tuduhan dalam hati nurani Anda, tetapi ada pembunuhan yang berlangsung di dalam Anda sehingga membuat Anda mati. Roh Anda lemah dan jenuh. Anda ‘tenggelam’ dan tidak dapat bangkit; Anda tidak dapat berdoa selama beberapa hari. Anda tidak mengetahuinya, tetapi dalam sidang tadi itu Anda mengalami pembunuhan, Anda dimatikan oleh semacam kematian. Kita semua mungkin pernah mengalami hal seperti ini.
Sebagai orang-orang yang mutlak dan sepenuhnya bagi Allah, kita harus menghindari kesenangan duniawi dan pengaruh kematian. Berpantang dari kesenangan duniawi itu mudah, tetapi tidaklah mudah untuk merasakan bahwa kita berada dekat seseorang yang mati secara rohani. Akan tetapi, jika kita hidup di dalam roh dalam segala hal, ketika kita datang bersidang, kita segera bisa merasakan kalau ada kematian. Kita bisa menyadari bukan hanya sidang tersebut lesu dan lembam, tetapi juga bahwa dalam sidang itu ada kematian yang tersembunyi di bawah permukaan. Pada saat seperti itu kita harus banyak berdoa untuk menentang situasi yang mati itu: “Tuhan, tutupi aku dengan darah-Mu terhadap semua yang mati, terhadap semua kematian rohani.” Kita harus berperang melawan kematian.
Pada permulaan hidup gereja di kota kelahiran saya, kami berada dalam bulan madu hidup gereja. Segala sesuatu baru dan segar, dan sukar untuk merasakan adanya kematian. Kira-kira setahun kemudian, saya melepas pekerjaan saya, melayani sepenuh waktu, dan pindah ke Shanghai untuk menyertai saudara Nee di gereja di sana. Gereja di Shanghai mempunyai sejarah yang cukup panjang dan telah melewati banyak kesulitan. Jadi, gerejanya agak tua. Walaupun saya berada di pusat pekerjaan dan seharusnya sudah dapat mengenal situasi di sana, saya belajar untuk tidak mengetahui apa-apa, karena semakin banyak yang kita ketahui, kita semakin mati. (Kebanyakan pembicaraan dalam hidup gereja tidak berhubungan dengan hal-hal yang berdosa, tetapi berhubungan dengan kematian). Dalam sebagian sidang saya dihidupkan, tetapi kadang-kadang saya mempunyai perasaan akan kematian. Seolah-olah, lebih lama saya duduk dalam sidang, saya semakin dimatikan. Saya ingin berdoa, tetapi saya tidak mampu mengutarakan apa-apa dalam doa. Saya berada di bawah pembunuhan kematian, dan roh saya tidak dapat bangkit.
Kemudian saya berbicara kepada orang yang lebih tua dan lebih berpengalaman, dan saya mempelajari satu pelajaran. Ketika Anda datang bersidang, Anda harus merasakan apakah ada kematian di sana. Jangan melakukannya dengan sengaja, seakan-akan Anda mengikuti sidang sebagai seorang pengawas. Sebaliknya, Anda harus menjadi seorang yang mampu merasakan adanya kematian dalam sebuah sidang. Jika ada kematian, Anda harus menjadi yang pertama berdoa, “Tuhan, tutupi sidang ini dengan darah-Mu yang menang. Di bawah darah ini kami berbagian dalam hayat ilahi.” Latihlah roh Anda dengan kuat melawan kematian dalam sidang. Maka sementara Anda duduk dalam sidang, Anda akan terlindungi. Ini merupakan bagian dari peperangan rohani.
Gereja-gereja di Amerika Serikat memiliki latar belakang dan sejarah yang luas. Karena latar belakang dan situasi saat ini (1991), banyak unsur yang telah mendatangkan kematian. Saya percaya bahwa inilah penyebab penurunan jumlah kehadiran pada sidang doa di banyak gereja. Kematian tersembunyi bisa menyebabkan sidang doa menjadi tidak aktif. Kita harus berperang melawan kematian dan akibat-akibatnya.
Sebagai orang-orang nazir kita harus belajar menghindari kematian. Kita bisa dengan mudah menghindari kematian yang disebabkan oleh kematian saudara kandung, karena kematian semacam itu jelas. Namun, tidaklah mudah untuk menghindari kematian yang tidak terduga dari seseorang yang ada di dekat kita, sebab kematian seperti ini sering kali tersembunyi. Karenanya, kita harus menjadi orang-orang yang penuh hayat, yang “anti kematian”. Ini tergantung pada berapa banyak kita melatih roh kita untuk berdoa, bukan secara umum, tetapi dengan doa yang berperang melawan musuh.
Dosa berasal dari Satan, Iblis (Yoh. 8:44), yang juga merupakan sumber maut (Ibr. 2:14). Pada pohon pengetahuan yang baik dan jahat terdapat kejahatan, akan tetapi, hasil dari memakan pohon ini bukanlah kejahatan, melainkan kematian. Ketika kita makan pohon hayat, hasilnya adalah hayat. Dalam hidup gereja kita harus terus-menerus berperang melawan kematian. Contohnya, jika dalam sidang doa, kematian membuat kita sulit berdoa, kita harus berperang melawan kematian dan pengaruhnya. Sebagai orang-orang nazir kita harus pantang terhadap kesenangan duniawi, tetap berada di bawah kekepalaan Tuhan, dan belajar berperang melawan kematian. Kematian ada di mana-mana. Masyarakat dipenuhi dengan kuman-kuman kematian. Karena kuman-kuman ini juga ada dalam hidup gereja, kita harus berdoa setiap hari, setiap jam, berperang melawan kematian, musuh terakhir Allah (1Kor. 15:26). Jangan berpikir bahwa orang-orang nazir bukan untuk berperang. Orang nazir dihitung untuk pembentukan pasukan Allah. Mereka sangat waspada, peka untuk berperang melawan kematian. Dalam setiap gereja perlu ada perasaan, kesadaran akan kematian, agar kita bisa berperang melawannya.
a. Pada Hari Kedelapan Orang Nazir Itu Membawa
Dua Ekor Burung Tekukur atau Dua Ekor Anak Burung Merpati
kepada Imam, ke Pintu Kemah Pertemuan,
yang Seekor Dipersembahkan sebagai Kurban Penghapus
Dosa dan yang Lainnya sebagai Kurban Bakaran,
untuk Pendamaiannya
“Pada hari yang kedelapan haruslah ia membawa dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati kepada imam, ke pintu Kemah Pertemuan. Maka haruslah imam mengolah yang seekor menjadi kurban penghapus dosa dan yang lain menjadi kurban bakaran, dan mengadakan pendamaian bagi dia, oleh karena dia telah berdosa dengan berada dekat mayat. Pada hari itu juga ia harus menguduskan kepalanya” (Bil. 6:10-11). Hari kedelapan, hari pertama pada minggu yang baru, melambangkan hari kebangkitan, yang berlawanan dengan kematian. Pada hari kedelapan orang nazir hendaknya memiliki permulaan yang baru dengan membawa dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati kepada imam, satu untuk kurban penghapus dosa dan yang satunya untuk kurban bakaran. Kurban penghapus dosa diperlukan karena ia telah gagal dalam nazar orang nazirnya, dan kegagalan ini merupakan dosa. Kurban bakaran merupakan kurban dari konsekrasi mutlak dan pengudusan mutlak. Melalui kurban ini pendamaian diadakan baginya, dan ia ditebus dari perbuatannya yang salah. Bagi kita hari ini, kurban-kurban ini menunjukkan bahwa kita harus mempersembahkan Kristus baik sebagai kurban penghapus dosa maupun kurban bakaran, dalam kebangkitan, bagi pengampunan kita melalui penebusan-Nya.
Pada hari kedelapan orang nazir juga harus menguduskan kepalanya. Ini berarti ia harus memulai konsekrasi baru untuk ketaatannya di bawah kekepalaan.
b. Orang Nazir Itu Mengkhususkan Dirinya Kembali bagi Allah
dan Membawa Seekor Domba Jantan
untuk Kurban Penebus Salah, Waktu Kenazirannya yang Sudah Lewat Menjadi Batal
Bilangan 6:12 berkata bahwa orang nazir tersebut harus “mengkhususkan waktu kenazirannya bagi TUHAN. Ia harus membawa seekor domba jantan berumur setahun menjadi kurban penebus salah. Hari-hari yang sudah lewat dianggap batal, karena rambut kenazirannya telah menjadi najis.” Ini adalah nazar baru persembahan orang nazir untuk memisahkan dirinya kepada Allah sekali lagi. Untuk hal tersebut dia memerlukan seekor domba untuk kurban penebus salah. Kegagalannya dalam bernazar adalah dosa, untuk itu dia memerlukan kurban penghapus dosa. Kesalahannya dalam menjamah sesuatu yang mati adalah satu pelanggaran, untuk itu dia perlu kurban penebus salah, jika kita menerapkan ayat ini pada diri kita hari ini, kita melihat bahwa begitu pemisahan kita yang sudah lewat dianggap batal, kita harus memisahkan kembali diri kita kepada Allah melalui mengambil Kristus sebagai kurban penebus salah kita.
Dari pembacaan ayat-ayat dalam Bilangan 6 ini, kita melihat bahwa mengucapkan nazar orang nazir merupakan hal yang serius. Hal ini tidak boleh dianggap remeh. Dalam mengucapkan nazar seperti ini, kita harus benar-benar berhati-hati untuk menjauhkan diri kita dari kenajisan kematian. Jika kita menjauhkan diri kita dari kenajisan kematian, kita akan menjadi orang yang hidup yang dapat menjadi mutlak bagi Allah, bagi pasukan-Nya, dan bagi keimaman-Nya.
Allah mentahbiskan satu keluarga (keluarga Harun) menjadi imam. Pentahbisan ini mencegah semua orang lain untuk mendapat kesempatan ini. Namun, nazar orang nazir membuka pintu, memberikan kepada seluruh umat Allah kesempatan yang sama. Nazar orang nazir tergantung pada prakarsa kita, bukan pada prakarsa Allah. Hal ini tergantung pada kerelaan kita. Jika kita rela, pintu terbuka.
Di sini kita melihat kedaulatan Allah. Ia mempunyai penetapan-Nya dan juga peraturan-Nya, nazar orang nazir. Bukan hanya keturunan Harun yang mempunyai hak istimewa untuk menjadi mutlak bagi Allah; kesempatan ini terbuka bagi semua orang. Peraturan Allah mengimbangi penetapan-Nya dan memberi kesempatan yang sama kepada seluruh umat Allah untuk menjadi mutlak bagi Allah sebagai seorang laskar atau sebagai seorang imam.
Renungkanlah perkara Samuel. Samuel bukanlah seorang imam; ia adalah seorang nazir yang pada akhirnya memenuhi tugas seorang imam. Samuel mengisi kesenjangan yang disebabkan oleh kekurangan-kekurangan Eli, yang adalah seorang imam sesuai dengan penetapan Allah. Orang yang merupakan sukarelawan mengisi kekurangan dari orang yang menjadi imam karena penetapan Allah. Ini menunjukkan bahwa pada akhirnya, peraturan Allah setara dengan, kalau tidak lebih baik, daripada penetapan-Nya. Penetapan itu tergantung pada prakarsa Allah, tetapi peraturan tergantung pada prakarsa kita. Pintu sekarang terbuka bagi semua orang. Apakah kita mengambil kesempatan tersebut atau tidak, tergantung pada kerelaan kita.