← Daftar isi Bilangan (1) · bab 7/26

DIBENTUK MENJADI PASUKAN (6)

Pembacaan Alkitab: Bilangan 5:11-31

Dalam berita ini kita akan melanjutkan melihat perihal menanggulangi pencemaran yang digambarkan dalam Bilangan 5.

D. Menanggulangi Istri yang Dicemburui Suaminya

Dalam Bilangan 5:11-31 tercatat perihal menanggulangi seorang istri yang dicemburui suaminya. Perkara ini mewahyukan bahwa Allah tidak hanya berdaulat atas anak-anak-Nya, tetapi juga bisa melakukan sesuatu yang ajaib dalam menanggulangi suatu pencemaran. Dalam memahami Kitab Bilangan, kita dapat dengan mudah mengerti secara logis penanggulangan korporat dan individu dalam Bilangan 5:1-10. Bagaimanapun tidaklah mudah untuk memahami secara logis penanggulangan dalam Bilangan 5:11-31; suatu hal yang tidak disinggung di tempat lain dalam Alkitab. Satu-satunya cara untuk memahami penanggulangan ini secara logis adalah mengambilnya sebagai bagian dari perlambangan. Wahyu dalam Alkitab diberikan kepada kita dalam berbagai cara. Pertama, wahyu ilahi diberikan dalam firman yang jelas, seperti Kejadian 1:1; di mana kita diberi tahu bahwa pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

Kedua, wahyu disampaikan melalui catatan-catatan sejarah. Kitab-kitab dari Keluaran sampai Maleakhi merupakan sejarah panjang bani Israel, menyingkapkan kepada kita banyak kebenaran ilahi. Ketiga, wahyu ilahi diberikan melalui kehidupan berbagai tokoh, seperti orang-orang besar dalam Kitab Kejadian (Adam, Habel, Enos, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf). Sebagai contoh, Enos adalah manusia yang lemah, rapuh, fana, tetapi ia memiliki ciri khas menyeru nama Tuhan (Kej. 4:26). Walaupun Enos lemah, tetapi melalui menyeru nama Tuhan, ia menjadi orang yang kaya dan kuat, karena ia memasuki kekayaan dan kekuatan Allah yang kepada-Nya ia berseru.

Akhirnya, wahyu Ilahi diberikan melalui perlambangan. Perlambangan menyiratkan kiasan, bayangan, lambang, dan pola. Misalnya, kedua istri Abraham merupakan kiasan dari dua perjanjian: Hagar melambangkan perjanjian hukum Taurat, dan Sara melambangkan perjanjian anugerah (Gal. 4:21-31). Cerita tentang Sara dan Hagar bisa dianggap bukan hanya sebagai suatu kiasan, tetapi juga sebagai bayangan. Baik perjanjian hukum Taurat maupun perjanjian anugerah tidak dibuat pada masa Hagar dan Sara. Akan tetapi, Hagar dan Sara masing-masing merupakan bayangan dari perjanjian hukum Taurat dan anugerah.

Bahkan kata-kata yang jelas dan gaya bahasa dapat dihubungkan dengan perlambangan. Amsal 4:18 mengatakan, “Jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.” Amsal ini adalah perkataan yang jelas, tetapi di dalam perkataan ini terdapat tanda-tanda yang merupakan bagian dari perlambangan. “Cahaya fajar”, matahari terbit, melambangkan kedatangan Kristus (Luk. 1:78). Tanda ini bisa juga melambangkan pemulihan (penyegaran) kita di pagi hari. Dari ilustrasi ini kita melihat bahwa perkataan yang jelas bisa meliputi tanda-tanda yang bisa dianggap sebagai bagian dari perlambangan. Perlambangan dalam Alkitab merupakan hal yang besar dan memiliki banyak aspek. Mungkin, dalam Perjanjian Lama wahyu ilahi yang disampaikan melalui perlambangan sama banyak dengan yang disampaikan dalam perkataan yang jelas.

Tidak mudah menerangkan Bilangan 5:11-31 dengan kata-kata yang jelas. Apa yang digambarkan di sini tidak ada sangkut pautnya dengan sejarah atau seorang tokoh, tetapi ia berhubungan dengan perlambangan. Dalam perlambangan, Allah mendapatkan suatu bangsa di Gunung Sinai dan memakai mereka untuk membangun tempat tinggal di bumi. Ia kemudian memberi mereka serangkaian hukum, peraturan, dan ketetapan bagi penyembahan mereka kepada Dia. Setelah itu, Ia datang untuk membentuk bangsa ini menjadi pasukan. Bangsa yang diperoleh Allah untuk dibentuk menjadi pasukan yang dapat berperang bagi Dia, dan keimaman yang dapat melayani Dia haruslah bersih seluruhnya, dalam tubuh mereka, sifat mereka, pembicaraan mereka, penampilan mereka, sikap mereka, cara mereka bergerak dan bertindak, dan bahkan dalam apa yang mereka miliki.

Penanggulangan korporat dalam Bilangan 5 hanya meliputi tiga hal: penyakit kusta, lelehan, dan kematian. Akan tetapi, hal-hal ini terdiri dari semua kenajisan yang harus ditanggulangi di antara umat kudus Allah. Di pihak perorangan, penanggulangan kesetiaan seseorang merupakan penanggulangan menurut kebenaran Allah. Inilah sebabnya perlu ada bagian seperti Bilangan 5:1-10.

Bilangan 5:11-31 adalah suatu bagian khusus dalam keenam puluh enam kitab dari Alkitab, yang memperlihatkan kepada kita bukan hanya kedaulatan Allah, tetapi juga keajaiban-Nya. Catatan di sini merupakan suatu catatan keajaiban. Ujian dengan air pahit (Bil. 5:18) memakai kombinasi air (mengacu pada Roh Kudus), debu dari lantai Kemah Suci (mengacu kepada sifat insani manusia), dan kurban sajian (mengacu kepada Kristus). Istri yang dicurigai diminta meminum air tersebut. Jika ia berdosa, air tersebut akan bekerja di dalam perutnya mennyebabkan perutnya mengembung dan membuat pahanya mengempis. Ini tampaknya tidak seperti catatan sesuatu yang ilahi. Namun, ini merupakan suatu keajaiban yang menakjubkan.

Catatan dalam Bilangan 5 sama dengan catatan tentang apa yang dilakukan Tuhan Yesus dalam Yohanes 9:1-7. Ia menyembuhkan seorang buta dengan mengaduk air ludah dengan debu untuk membuat tanah liat dan kemudian mengurapi mata orang buta itu dengan tanah liat tersebut. Hari ini, jika Tuhan mencoba untuk melakukan hal ini kepada kita, kita mungkin menganggapnya lelucon, dan kita mungkin tidak rela membiarkan Dia melakukan hal seperti itu kepada kita.

Dalam catatan Bilangan 5:11-31 kita dapat melihat perlambangan. Air melambangkan Roh Kudus, kurban sajian dari tepung jelai melambangkan Kristus yang dibangkitkan, dan debu mewakili manusia ciptaan (Kej. 2:7). Karena itu, makhluk ciptaan, Roh, Kristus, dan kematian serta kebangkitan-Nya semuanya terlibat. Air yang ke dalamnya dimasukkan debu dari lantai Kemah Suci bukan hanya menjadi air pahit yang membawa kutukan, melainkan juga menjadi air yang menyebabkan perut mengembung dan paha mengempis.

Jika kita hendak menjelaskan Bilangan 5:11-31, kita harus tahu bagaimana menjelaskan lambang-lambang itu secara rinci. Butir paling sukar untuk dijelaskan adalah debu di lantai Kemah Suci. Debu mengacu kepada manusia alamiah, manusia yang diciptakan oleh Allah, dan Kemah Suci adalah tempat kediaman Allah. Tempat kediaman Allah dibangun pada manusia yang diciptakan oleh-Nya. Inilah debu di lantai Kemah Suci. Tempat kediaman Allah itu kudus, tetapi ada semacam debu yang dapat digabungkan dengan tempat kediaman Allah. Mengambil debu itu dan memasukkannya ke dalam air sama dengan mengambil sifat manusia yang dapat digabungkan dengan tempat kediaman Allah dan memasukkannya ke dalam Roh Kudus. Air yang mengandung debu ini kemudian ditaruh bersama Kristus sebagai kurban sajian yang terbuat dari tepung jelai (dalam kebangkitan), tetapi tanpa kemenyan dan tanpa minyak (tanpa khasiat kebangkitan dan tanpa Roh Kudus) di atasnya. Di sini kita melihat sifat manusia yang diciptakan Allah digabungkan dengan tempat kediaman Allah, dimasukkan ke dalam Roh Kudus, dan diaplikasikan dengan Kristus yang telah bangkit. Hal seperti ini akan menjadi ujian yang sesungguhnya pada kesucian kita.

Secara korporat dan secara individual umat Allah seharusnya suci bagi Allah. Tidaklah cukup hanya bersih. Menjadi bersih adalah satu hal, dan menjadi suci adalah hal lain. Kita mungkin tidak berpenyakit kusta, kita mungkin tidak mengeluarkan lelehan, dan kita mungkin tidak bersentuhan dengan kematian, tetapi apakah kita suci? Kita mungkin sangat setia, tetapi kita tidak mempunyai karakter yang luhur jika kita tidak suci. Seorang istri mungkin baik dalam segala hal, tetapi jika ia mencintai orang lain, cinta yang lain itu akan merusak kesuciannya. Umat Allah seharusnya tidak hanya bersih dalam segala hal dan dalam setiap aspek, mereka juga perlu suci. Karena itu, kita perlu belajar bagaimana menjadi suci terhadap Tuhan. Sekarang, kita akan membahas secara sederhana rincian yang berhubungan dengan penanggulangan terhadap seorang istri yang dicemburui suaminya.

1. Melambangkan Kecemburuan Kristus kepada Kaum Beriman-Nya dan Gereja-Nya

Penanggulangan terhadap seorang istri yang dicemburui suaminya melambangkan kecemburuan Kristus terhadap kaum beriman-Nya dan gereja-Nya. Kita harus ingat bahwa gereja dan seluruh kaum beriman mempunyai seorang suami, Kristus. Kita mungkin bukan pemberontak (berpenyakit kusta), kita mungkin cukup menguasai diri sendiri dan dapat menahan perasaan (tidak mengeluarkan lelehan), dan tingkah laku kita mungkin benar, baik terhadap Allah maupun terhadap manusia, tetapi sebagai seorang istri bagi Kristus, apakah kita suci? Untuk menjadi suci, seorang istri tidak boleh memiliki cinta lain selain suaminya. Jika seorang istri mengagumi laki-laki lain, ia sudah mengarah kepada kehilangan kesuciannya.

Jika kita adalah seorang istri yang suci bagi Kristus, kita bisa mengikuti Suami kita untuk berperang. Daud mempunyai seorang istri yang berperang (1Sam. 25). Dalam Kitab Wahyu, pasukan perang Kristus terdiri atas pemenang-pemenang-Nya, yang merupakan istri yang berperang, berpadanan dengan Kristus (Why. 19:7-9, 11-14). Untuk menjadi bagian dari pasukan perang Kristus, kita harus suci. Penanggulangan dalam Kitab Bilangan memperlihatkan bahwa syarat umat Allah untuk dibentuk menjadi pasukan sangatlah tinggi. Gereja dan semua orang beriman harus memiliki Kristus sendiri sebagai cinta mereka (2Kor. 11:2-3). Jika gereja atau orang beriman mencari dan mengejar sesuatu yang bukan Kristus, itu adalah perzinaan rohani di mata Allah. Orang yang melakukan perzinaan rohani akan dihakimi dan dikutuk oleh Allah (1Kor. 16:22), tidak akan sanggup berperang bagi Allah dan melayani Allah. Begitu kita kehilangan kesucian kita, kita kehilangan kemampuan kita untuk berperang bagi Allah dan melayani Dia.

2. Membawa Istrinya kepada Imam

Orang yang cemburu terhadap istrinya harus membawa istrinya kepada imam (Bil. 5:15a). Imam di sini dapat melambangkan Kristus atau seseorang yang sangat dekat kepada Allah.

3. Dengan Kurban Sajian

“Maka haruslah orang itu membawa istrinya kepada imam. Dan orang itu harus membawa persembahan karena perempuan itu sebanyak sepersepuluh efa tepung jelai, yang ke atasnya tidak dituangkannya minyak dan yang tidak dibubuhinya kemenyan, karena kurban itu ialah kurban sajian cemburuan, suatu kurban peringatan yang mengingatkan kepada kedurjanaan” (Bil. 5:15). Imam kemudian harus meletakkan kurban sajian cemburuan ini ke atas telapak tangan perempuan itu (Bil. 5:18). Kurban sajian melambangkan Kristus dalam keinsanian-Nya dipersembahkan kepada Allah supaya umat Allah bisa diperkenan. Dalam kasus ini, kurban sajian adalah roti jelai tanpa minyak atau kemenyan di atasnya. Tepung jelai melambangkan Kristus yang bangkit, minyak melambangkan Roh Kudus, dan kemenyan melambangkan kebangkitan. Kurban sajian cemburuan seperti ini mengingatkan kepada kedurjanaan.

4. Imam Menghadapkannya kepada Allah, Menguraikan Rambutnya,

dan Memasukkan Debu dari Lantai Kemah Suci

ke Dalam Air Suci yang Terdapat dalam Tempayan Tanah

“Apabila imam sudah menghadapkan perempuan itu kepada TUHAN, haruslah ia menguraikan rambut perempuan itu” (Bil. 5:18a). Membiarkan rambut perempuan terurai memperlihatkan bahwa ia tidak menundukkan dirinya kepada kekepalaan. Imam juga mengambil air suci (Roh Kudus) dalam sebuah tempayan tanah (manusia alamiah) dan mengambil debu (sifat manusia alamiah, Kej. 3:19; Mzm. 22:16) dari lantai Kemah Suci dan membubuhkannya ke dalam air untuk membuatnya menjadi air pahit yang mendatangkan kutuk (Bil. 5:17-22).

5. Imam Menuliskan Kutuk pada Sehelai Kertas,

Menghapusnya dengan Air Pahit,

dan Memberi Perempuan Itu Minum Air

yang Mendatangkan Kutuk

“Lalu imam harus menuliskan kutuk itu pada sehelai kertas dan menghapusnya dengan air pahit itu, dan ia harus memberi perempuan itu minum air pahit yang mendatangkan kutuk itu” (ayat 23-24a). Kutuk di sini mengacu kepada perkataan penghakiman Allah.

6. Imam Mengambil Kurban Sajian Cemburuan dari Tangan Perempuan Itu,

Mengunjukkannya ke Hadapan Tuhan,

dan Membakar Segenggam darinya sebagai Ingat-ingatan di Atas Mezbah

“Maka haruslah imam mengambil kurban sajian cemburuan dari tangan perempuan itu lalu mengunjukkannya ke hadapan TUHAN, dan membawanya ke mezbah. Sesudah itu haruslah imam mengambil segenggam dari kurban sajian itu sebagai bagian ingat-ingatannya dan membakarnya di atas mezbah” (ayat 25-26a). Pengunjukan atau meminang kurban sajian melambangkan kebangkitan. Segenggam kurban sajian yang dibakar di atas mezbah dipersembahkan kepada Allah sebagai bagian ingat-ingatan (Bil. 5:26).

7. Perut Perempuan yang Telah Mencemarkan Dirinya Mengembung,

Pahanya Mengempis,

dan Perempuan Itu akan Menjadi Sumpah Kutuk di Antara Bangsanya

“Setelah terjadi demikian, apabila perempuan itu memang mencemarkan dirinya dan berubah setia terhadap suaminya, air yang mendatangkan sumpah serapah itu akan masuk ke badannya dan menyebabkan sakit yang pedih, sehingga perutnya mengembung dan pahanya mengempis, dan perempuan itu akan menjadi sumpah kutuk di antara bangsanya” (Bil. 5:27). Rahim (daerah perut) yang mengembung berarti menjadi tidak normal. Paha yang mengempis berarti kekuatan perempuan itu berkurang. Penanggulangan ini meliputi penciptaan, penebusan, kebangkitan, Roh Kudus, dan tempat kediaman Allah. Penanggulangan sedemikian benar-benar ajaib.

8. Perempuan yang Tidak Mencemarkan Dirinya, Suci dan Akan Mengandung

“Tetapi apabila perempuan itu tidak mencemarkan dirinya, melainkan ia suci, maka ia akan bebas dan akan dapat beranak” (Bil. 5:28). Secara harfiah, kata Ibrani yang diterjemahkan “anak” berarti benih. Perempuan yang tidak mencemarkan dirinya akan mengandung benih. Penanggulangan dalam Bilangan 5:11-31 menunjukkan bahwa ujian Allah atas kesucian umat-Nya sangatlah keras. Karakter kita harus luhur dalam kesucian. Kemudian kita bisa berperang bagi Allah dan melayani Allah.