DIBENTUK MENJADI PASUKAN (3)
Pembacaan Alkitab : Bilangan 3
Dalam berita ini kita akan mulai membahas pelayanan kudus, yang diliput dalam Bilangan 3 dan 4.
V. PELAYANAN KUDUS
Pelayanan kudus semuanya diserahkan kepada suku Lewi. Jadi, suku Lewi bukanlah untuk berperang melainkan untuk pelayanan kudus. Pelayanan itu kudus karena tugasnya adalah mengurus Kemah kesaksian Allah.
A. Kemah Kesaksian Beserta Semua Perabotannya
dan Mezbah, yang Dipelihara oleh para Imam
dan Orang Lewi Melambangkan Kristus dalam Semua Aspek Kekayaan-Nya,
yang Dilayani oleh Kaum Beriman Perjanjian Baru
Kemah kesaksian beserta semua perabotannya dan mezbah, yang dipelihara oleh para imam, melambangkan Kristus dalam semua aspek kekayaan-Nya, yang dilayani oleh kaum beriman Perjanjian Baru. Kemah Kesaksian adalah kemah, dan mezbah, yang terletak di pelataran luar, adalah tempat kurban dipersembahkan kepada Allah. Mezbah mengacu kepada penebusan Kristus sebagai perwujudan Allah, yang melaluinya Allah tinggal di antara manusia dan yang melaluinya manusia dapat masuk ke dalam Allah untuk menikmati segala adanya Dia.
Memelihara adalah melayani, dan melayani adalah menyuplai orang melalui membantu mereka, sama seperti seorang pelayan (pramusaji) menyuplai orang dengan makanan. Pelayanan para imam dan orang-orang Lewi selalu menyuplai orang dengan kekayaan Kristus. Salib Kristus adalah untuk penebusan, dan kekayaan Kristus adalah untuk suplai. Hari ini kita, kaum beriman Perjanjian Baru, melayani orang lain dengan salib Kristus untuk penebusan dan kekayaan Kristus untuk suplai hayat.
B. Pelayanan Kudus para Imam dan Orang Lewi
Berada dalam Peperangan
Dalam bahasa Ibrani, kata yang diterjemahkan “wajib tugas” dalam Bilangan 4:3, 35, 39, 43 berarti “peperangan”, menunjukkan wajib militer. Sebab itu, pelayanan kudus para imam dan orang Lewi pun adalah suatu peperangan. Hari ini sebagai para imam Injil Allah, kita harus menganggap diri kita sebagai laskar-laskar. Pada saat kita berkhotbah, mengajar, membina orang lain, dan membangun Tubuh Kristus, kita sedang berperang. Para imam Perjanjian Baru adalah laskar-laskar, dan pelayanan imamat kita merupakan peperangan.
C. Pelayanan yang Kudus Tergantung pada Peperangan
Pelayanan imamat, pelayanan yang kudus, tergantung pada peperangan. Hal ini diilustrasikan dalam 1Samuel 4.
D. Prinsip Dasar Pelayanan Kudus
Prinsip dasar pelayanan kudus adalah berdasar pada hayat; tanpa kekacauan. Segala sesuatu dalam pelayanan kudus berada dalam susunan yang teratur dan di bawah penetapan ilahi. Karena pelayanan kudus berdasar pada hayat, maka pelayanannya tidak kacau. Kita bisa memakai tubuh manusia sebagai ilustrasi. Kekacauan dalam tubuh manusia merupakan tanda adanya penyakit. Karena tubuh terbentuk dari hayat, maka tubuh tidak bisa membiarkan kekacauan. Demikian juga, dalam Tubuh Kristus sebagai pasukan Allah, yang sepenuhnya adalah perkara hayat, juga harus ada koordinasi yang baik.
Jabatan imam adalah suatu organisme, dan dapat dipraktekkan dengan benar hanya dalam Tubuh organik Kristus, bukan dalam kekristenan yang terorganisir. Suatu organisasi dapat terus berlangsung bahkan pada saat terdapat banyak kesulitan; tetapi Tubuh Kristus akan terganggu pada saat timbul sedikit kesulitan. Karena itu, kita harus menghindari kekacauan. Jalan terbaik untuk menanggulangi kekacauan adalah menghindarinya. Jika kita menghindari kekacauan, kita akan menghindari banyak kesulitan.
E. Orang-orangnya dan Tugas Mereka
Bilangan 3 membicarakan banyak hal tentang orang-orang dan tugas mereka. Kita perlu merenungkan hal ini karena sebenarnya hal ini berhubungan dengan kita dan tugas kita.
1. Para Imam—Orang-orang yang Diurapi yang Melayani Allah secara Langsung
Mula-mula kita akan membahas tugas-tugas para imam dan kemudian tugas-tugas orang Lewi. Para imam adalah orang-orang yang diurapi yang melayani Allah secara langsung.
a. Berkemah di Depan Kemah,
di Sebelah Timur ke Arah Matahari Terbit
“Yang berkemah di depan Kemah Suci di sebelah timur, di depan Kemah Pertemuan, ialah Musa, dan Harun serta anak-anaknya” (Bil. 3:38a). Di sini kita melihat bahwa para imam harus berkemah di depan Kemah Pertemuan, di sebelah timur, ke arah matahari terbit. Para imam sebenarnya merupakan penjaga pintu, menjaga jalan masuk ke Kemah Pertemuan. Siapa pun yang ingin melayani Allah harus terlebih dahulu melewati para imam.
Jabatan imam hari ini bukan lagi merupakan masalah keluarga seperti sebelumnya pada masa Harun; jabatan imam itu universal. Tidak semua orang bisa melewati penjaga pintu untuk mencapai tabut di balik tirai. Mereka yang ingin melaksanakan hal ini harus melewati jabatan imam terlebih dahulu. Begitu seorang beriman telah melewati imam yang menjaga Kemah Pertemuan, ia berhak untuk masuk ke dalam Kemah Pertemuan, melewati tirai kedua, dan mencapai tabut, di mana Allah bertemu dengan umat-Nya. Jabatan imam hari ini bersifat universal. Ini berarti setiap orang beriman adalah imam dan harus melayani sebagai imam. Namun, bukan setiap orang beriman benarbenar berfungsi sebagai imam.
b. Mengerjakan Tugas Pemeliharaan Tempat Kudus
Para imam harus mengerjakan tugas pemeliharaan tempat kudus (Bil. 3:38b, 32). Tempat kudus adalah Kemah Suci dengan kedua bagiannya, tempat kudus dan tempat maha kudus. Perkataan mengerjakan tugas mengacu kepada tanggung jawab. Bagi para imam, mengerjakan tugas pemeliharaan tempat kudus berarti mereka bertanggung jawab atas seluruh tempat kudus dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Jika ada sesuatu yang rusak atau dicuri, para imamlah yang bertanggung jawab.
c. Mengerjakan Tugas yang Allah Berikan kepada Orang Israel
Para imam harus mengerjakan tugas pemeliharaan Kemah Suci “bagi orang Israel” (Bil. 3:38b). Berkenaan dengan Kemah Suci, sejumlah tugas diberikan Allah kepada orang Israel. Mereka diharuskan mengerjakan hal-hal tertentu dan tidak boleh melakukan hal-hal lainnya. Jika umat tersebut menunaikan tugas-tugas ini, para imam beruntung. Jika orang Israel tidak menunaikan tugas-tugas ini, para imam harus bertanggung jawab. Para imam harus mengoreksi orang Israel atau menjauhkan mereka dari tempat kudus, atau melaksanakan tugas mereka. Inilah apa yang dimaksudkan dengan perkataan bahwa para imam mengerjakan tugas pemeliharaan tempat kudus bagi orang Israel.
Jika kita mempunyai pengalaman dalam pelayanan rohani terhadap Allah, kita akan menyadari bahwa pada prinsipnya, imam-imam Perjanjian Baru memikul tanggung jawab yang sama hari ini. Kita tidak hanya bertanggungjawab atas tugas kita sendiri untuk memelihara tempat kudus, tetapi sering kali kita harus memikul tanggung jawab bagi pelayanan orang lain. Jika mereka melakukan kesalahan, kita harus mengoreksi mereka dan juga mengajari mereka melakukan hal yang benar. Yang paling penting di sini adalah bahwa para imam diberi tugas untuk memelihara tempat kediaman Allah yang kudus.
d. Orang Awam yang Mendekat Dihukum Mati
“Tetapi orang awam yang mendekat, haruslah dihukum mati” (Bil. 3:38c). Orang awam di sini adalah orang yang bukan imam. Orang awam mana pun yang mendekat harus dihukum mati.
2. Orang Lewi—Menggantikan Anak Sulung Israel
Orang Lewi menggantikan anak sulung Israel (Bil. 3:5-9, 11-37, 39-51). Mengapa anak sulung Israel perlu digantikan atau ditebus? Pada waktu Paskah di Mesir, semua anak sulung dikutuk. Namun, tidak seperti anak sulung orang Mesir, semua anak sulung orang Israel tidak dibunuh. Melalui Paskah, semua anak sulung orang Israel ditebus, diselamatkan, dan digantikan. Karena hal ini, pada generasi selanjutnya, semua anak sulung laki-laki di antara orang Israel harus digantikan oleh orang Lewi, orang-orang yang melayani. Anak sulung telah kehilangan kedudukan mereka, dan karenanya mereka perlu digantikan oleh orang Lewi. Karena alasan ini, jumlah orang Lewi harus sama dengan jumlah anak sulung, dan jika ada kekurangan harus ditebus. Penggantian anak sulung oleh orang Lewi ini, orang-orang yang melayani, menunjukkan bahwa setiap orang yang telah ditebus, diselamatkan, dan digantikan harus melayani. Karena hari ini kita telah ditebus, diselamatkan, dan digantikan, kita harus melayani.
a. Melayani Imam
“Suruhlah suku Lewi mendekat dan menghadap imam Harun, supaya mereka melayani dia” (Bil. 3:6). Di sini kita melihat bahwa orang Lewi harus melayani imam.
b. Melakukan Pekerjaan Jabatannya pada Kemah Suci
“Mereka harus mengerjakan tugas-tugas bagi Harun dan bagi segenap umat Israel di depan Kemah Pertemuan dan dengan demikian melakukan pekerjaan jabatannya pada Kemah Suci” (Bil. 3:7). Ini mewahyukan bahwa tanggung jawab orang Lewi adalah melakukan pekerjaan jabatannya pada Kemah Suci.
c. Bani Gerson Berkemah di Belakang Kemah di Sebelah Barat
dan Bertugas Memelihara Kemah Suci
dengan Semua Bagiannya
Lewi mempunyai tiga orang anak laki-laki, Gerson, Kehat, dan Merari. Bani Gerson, keturunan Gerson, berkemah di belakang Kemah Suci di sebelah barat dan bertugas memelihara Kemah Suci dengan semua bagiannya (Bil. 3:21-26). Karena mereka berkemah di belakang Kemah Suci, mereka melindunginya dari musuh yang datang dari belakang. Ini merupakan tanggung jawab yang penting, karena musuh sering kali menyerang dari belakang. Selain itu, setiap saat Kemah Suci dipindahkan, kaum Gerson memelihara seluruh Kemah Suci dengan semua bagiannya.
Allah memberi Yakub 12 orang anak laki-laki supaya ada 12 suku berkemah di sekeliling Kemah Suci dengan tiga suku di masing-masing sisinya. Allah memberi Lewi tiga orang anak laki-laki untuk berkemah di sekeliling tiga sisi dari Kemah Suci, bani Gerson di sebelah barat, bani Kehat di sebelah selatan, dan bani Merari di sebelah utara. Musa, Harun dan anak-anak Harun berkemah di sebelah Timur, di depan Kemah Suci. Ketika kita membahas hal ini, kita menyadari bahwa hanya Allah yang dapat menulis Kitab Bilangan, dan hanya Allah yang dapat menyediakan bahan-bahan untuk disusun secara demikian.
Tidak satu pun dari orang yang terlibat dalam susunan ini yang digaji, semuanya karena kelahiran. Kedua belas suku dilahirkan oleh Yakub, dan mereka yang menjaga Kemah Suci dilahirkan oleh Lewi. Karena tidak seorang pun yang merupakan orang upahan, maka tidak seorang pun dapat dipecat. Kelahiran adalah masalah hayat, tetapi menggaji dan memecat tidak ada sangkut pautnya dengan hayat. Pembangunan Tubuh Kristus hari ini tidak ada hubungannya dengan mempekerjakan atau memecat orang; pembangunan Tubuh Kristus adalah masalah hayat semata dan karenanya bersifat organik.
d. Bani Kehat Berkemah pada Sisi Sebelah Selatan Kemah Suci
dan Bertugas Memelihara Tabut, Meja, Kaki Pelita,
Kedua Mezbah, Perkakas Tempat Kudus dan Tirai
Bani Kehat berkemah pada sisi selatan Kemah Suci dan bertugas memelihara isi Kemah Suci: tabut, meja, kaki pelita, kedua mezbah (mezbah kurban bakaran di luar Kemah Suci, untuk penebusan, dan mezbah ukupan di dalam Kemah Suci, untuk perkenan Allah), perkakas tempat kudus, dan tirai (Bil. 4:27-31). Kita perlu mengetahui arti rohani dari memelihara isi Kemah Suci. Secara rohani, memelihara tabut berarti memelihara Kristus, yaitu, melayankan Kristus kepada orang lain sebagai tabut, perwujudan dari Allah Tritunggal. Kita perlu mengunjungi orang dan memberi tahu mereka bahwa Kristus, perwujudan Allah, adalah Allah Tritunggal yang berinkarnasi menjadi manusia dengan dua sifat, ilahi dan insani. Kemudian kita bisa melanjutkan mengatakan bahwa di atas tabut terdapat tudung dan di dalam tabut terdapat tiga benda, tongkat yang bertunas, manna yang tersembunyi, dan loh kesaksian, semuanya mengacu kepada Kristus. Kristus adalah tongkat yang bertunas, manna yang tersembunyi, dan kesaksian Allah. Inilah menyajikan Kristus sebagai tabut.
Dalam menyajikan Kristus sebagai tabut, perwujudan Allah, kita bisa melanjutkan dengan memberi tahu orang yang kita kunjungi bahwa dalam perlambangan Perjanjian Lama, Allah menemui umat-Nya bukan di mezbah atau pada meja roti sajian, atau pada kaki pelita, atau pada mezbah ukupan, melainkan pada tudung tabut. Tudung ini disebut tutup pendamaian, dan di atasnya dipercikkan darah penebusan. Darah penebusan dicurahkan di atas mezbah untuk menebus kita terlepas dari dosa-dosa kita, dan kemudian darah ini dibawa masuk ke dalam tempat maha kudus dan dipercikkan di atas tudung tabut, di mana Allah bertemu dengan umat-Nya.
Perkataan seperti ini mengenai Kristus mungkin mengejutkan orang, karena mereka belum pernah mendengar penyajian Kristus yang sedemikian. Menyajikan Kristus kepada orang lain secara demikian adalah mengabarkan Injil. Pernahkah Anda menyajikan Kristus dengan cara demikian sebagai perwujudan Allah? Jika kita tidak tahu bagaimana menyajikan Kristus dengan cara ini, kita tidak mengetahui bagaimana memelihara tabut. Selain belajar menyajikan Kristus sebagai tabut, kita juga perlu belajar menyajikan aspek-aspek Kristus yang dilambangkan dengan meja roti sajian, kaki pelita, kedua mezbah, dan perkakas tempat kudus, serta tirai.
e. Bani Merari Berkemah pada Sisi Sebelah Utara Kemah Suci
dan Bertugas Memelihara Papan-papan Kemah Suci,
Kayu-kayu Lintangnya, Tiang-tiangnya, Alas-alasnya,
Segala Perabotannya, Segala Pekerjaan yang Berhubungan
dengan Itu, dan Tiang Pelataran Sekelilingnya,
serta Alas, Patok, dan Talinya
Bani Merari berkemah pada sisi sebelah utara Kemah Suci dan bertugas memelihara papan-papan Kemah Suci, kayu-kayu lintangnya, tiang-tiangnya, alas-alasnya, segala perabotannya, segala pekerjaan yang berhubungan dengan itu, dan tiang pelataran sekelilingnya, serta alas, patok, dan talinya (Bil. 4:30-37). Kemah Suci mempunyai 48 buah papan. Angka 48, terdiri atas 6 dikali 8, melambangkan manusia alamiah dalam kebangkitan. Enam melambangkan manusia yang diciptakan pada hari keenam, dan 8 melambangkan Kristus yang dibangkitkan, Kristus yang dibangkitkan pada hari kedelapan. Untuk rincian tambahan mengenai benda-benda ini, silakan lihat Pelajaran-Hayat Kitab Keluaran.