← Daftar isi Bilangan (1) · bab 23/26

PERJALANAN (8)

Pembacaan Alkitab: Bilangan 16:1-18

Dalam berita ini kita sampai kepada pemberontakan lainnya, pemberontakan yang diuraikan dalam Bilangan 16. Pemberontakan ini terjadi segera setelah sisipan pengajaran dan peringatan dalam Bilangan 15.

V. PEMBERONTAKAN—

KEGAGALAN YANG LEBIH SERIUS

Pemberontakan pertama adalah sungut-sungut, mengucapkan perkataan jahat oleh mereka di perbatasan perkemahan. Pemberontakan kedua adalah nafsu rakus orang campuran. Pemberontakan ketiga melibatkan dua kakak Musa. Sekarang, setelah pemberontakan keempat, yaitu pemberontakan ketidakpercayaan dalam mengintai negeri Kanaan, beberapa orang pemimpin memberontak. Pemberontakan kali ini lebih besar; melibatkan lebih dari 250 orang.

A. Pemberontak-pemberontak

Kita perlu melihat orang-orang yang memberontak.

1. Korah

Korah, keturunan Lewi, adalah satu suku dengan Musa dan Harun; ia melayani Allah bersama mereka. Jadi, ia tidak ada di antara mereka yang di perbatasan juga bukan orang campuran. Sebaliknya, sebagai seorang Lewi, seorang pelayan, bahkan pemimpin di antara orang Lewi, ia ada di tengah perkemahan.

2. Datan, Abiram, dan On

Datan, Abiram, dan On adalah keturunan Ruben (anak sulung Yakub). Mereka mengambil pimpinan di antara bani Israel menurut kelahiran alamiahnya (Bil. 16:1).

3. Dua Ratus Lima Puluh Pemimpin Umat

Bersama Korah, Datan, Abiram, and On, ada 250 pemimpin umat itu. Mereka telah dipilih dari jemaat dan semuanya adalah orang kenamaan (Bil. 16:2). Bilangan 16:1-2 menunjukkan bahwa roh pemberontakan menyebar sampai memenuhi bangsa itu. Pemberontakan ini adalah kesulitan besar bagi Musa dan Harun, karena ini menentang pusat pemeritahan.

B. Penyebab Pemberontakan

1. Berebut Kedudukan dan Kekuasaan

Penyebab pemberontakan adalah berebut kedudukan dan kekuasaan. Dalam Bilangan 16:9-10 Musa berkata, “Belum cukupkah bagimu bahwa kamu dipisahkan oleh Allah Israel dari umat Israel dan diperbolehkan mendekat kepada-Nya, supaya kamu melakukan pekerjaan pada Kemah Suci TUHAN dan bertugas bagi umat itu untuk melayani mereka, dan bahwa engkau diperbolehkan mendekat bersama-sama dengan semua saudaramu bani Lewi? Dan sekarang mau pula kamu menuntut pangkat imam lagi?” Imam-imam memiliki jabatan imam, pelayanan imamat, dan orang Lewi memiliki pelayanan orang Lewi untuk membantu imam dan pelayanan imamat. Namun, seperti ditunjukkan oleh perkataan Musa, pemberontak berebut kekuasaaan dan kedudukan yang lebih tinggi.

2. Tuduhan

Dalam Bilangan 16:3, pemberontak menuduh Musa dan Harun, katanya, “Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu adalah orang-orang kudus, dan TUHAN ada di tengah-tengah mereka. Mengapakah kamu meninggininggikan diri di atas jemaah TUHAN?” Ini memperlihatkan bahwa akar, pemberontakan ini adalah ambisi, perebutan kekuasaan. Sepanjang abad, banyak masalah di antara orang Kristen telah terjadi disebabkan oleh berebut kedudukan dan kekuasaan. Dalam masyarakat perebutan kekuasaan ini ada di mana-mana, di sekolah, di pemerintahan, juga di perusahaan. Di tempat kerja, orang bermain politik supaya mendapat lebih banyak kekuasaan dan kedudukan. Hal yang sama terjadi di antara umat Allah di masa lampau dan telah terulang lagi dan lagi di antara orang Kristen sepanjang abad.

C. Reaksi Musa

Dalam Bilangan 16:4-11, 15-18 kita melihat reaksi Musa.

1. Sujudlah Ia

“Ketika Musa mendengar hal itu, sujudlah ia” (Bil. 16:4). Ini menunjukkan bahwa dalam reaksinya terhadap pemberontakan ini, Musa merendahkan diri.

2. Berdiri pada Posisi Wakil Otoritas Allah

Meskipun Musa rendah hati dengan bersujud, dia tidak melepaskan posisi yang telah diberikan Allah sebagai wakil kuasa Allah (Bil. 16:5-11, 16-18). Dia menegur Korah dan semua pengikutnya dan menyuruh mereka hadir di hadapan TUHAN dengan pedupaan mereka. Dia berkata bahwa TUHAN tahu siapa kepunyaan-Nya, dan siapa yang kudus, dan Ia akan memperbolehkan orang itu mendekat kepada-Nya. Ini menunjukkan bahwa dalam perebutan kekuasaan, satu-satunya yang dapat menghakimi dan menyingkapkan situasi sesungguhnya adalah Allah sendiri. Musa tidak menyerang balik; sebaliknya, dia menghadapkan para pemberontak dan orang yang mereka tentang kepada Allah. Sebagai wakil, utusan, kuasa Allah, Musa menyerahkan kasus ini kepada Allah sebagai penguasa tertinggi untuk berbicara, menyingkapkan, dan menghakimi.

3. Sangat Marah

Musa sangat marah dan berdoa, “Janganlah perhatikan segala persembahan mereka. Belum pernah kuambil satu ekor keledai pun dari mereka, dan belum pernah kulakukan yang jahat kepada seorang pun dari mereka” (Bil. 16:15). Doa Musa agar Allah tidak memperhatikan segala persembahan mereka adalah serius. Tidak mudah seorang pelayan Allah berdoa demikian. Di sini kelihatannya Musa ngotot membela diri, tetapi Allah tidak menyalahkan dia untuk hal ini.

4. Menyuruh Orang Memanggil Datan dan Abiram

Musa menyuruh orang memanggil Datan dan Abiram (Bil. 16:12a), tetapi dengan berdalih, mereka menjawab bahwa mereka tidak mau datang (Bil. 16:12b-14). Saya tidak suka membicarakan pemberontakan umat Allah, tetapi Alkitab memberi kita bagian panjang di sini dalam Bilangan 16 yang membahas masalah ini. Ambisi untuk kedudukan dan kekuasaan selalu merupakan masalah umat Allah. Ambisi adalah “tikus tanah” yang secara diam-diam meruntuhkan rencana Allah dan merusak umat-Nya. Saya kagum atas keberanian Musa dalam menghadapi masalah ini. Dia diserang begitu sengit. Mereka yang memberontak bukan hanya menyerang dia, tetapi juga memberontak menyerang dia sebagai otoritas yang ditetapkan Allah. Dia kesulitan untuk mengatakan sesuatu.

Ketika saya bersama Watchman Nee di daratan China, saya melihat dia diserang berkali-kali. Dia tidak pernah melakukan sesuatu atau mengatakan sesuatu untuk membela dirinya, dan dia tidak pernah mengeluh terhadap orang lain. Dia memberi tahu saya, karena dia adalah sasaran, dia sulit mengatakan sesuatu mengenai dirinya tanpa membela diri, dan dia sulit mengatakan sesuatu tentang orang lain tanpa menghakimi. Maka jalan terbaik, katanya, dia tidak mengatakan apa-apa. Sekalipun Saudara Nee adalah orang yang diserang, yang mengalami perusakan adalah gereja dan yang dirugikan adalah rencana Allah. Selain itu, banyak orang muda, yang tidak memiliki daya pembeda mengenai hal-hal ini, dirusak. Namun, pihak lain, gereja juga menerima bantuan positif dari semua kekacauan.

Ambisi untuk kekuasaan dan perebutan kekuasaan ada dalam darah kita. Ambisi dan perebutan ini dapat ditemukan bukan hanya di antara laki-laki tetapi juga di antara perempuan. Pemberontakan Miryam dan Harun terhadap Musa membuktikan hal ini. Saya yakin bahwa pemberontakan itu dihasut oleh Miryam. Saya telah melihat kasus seorang saudari menghasut suatu pemberontakan dari belakang layar. Ia memakai seorang saudara untuk melaksanakan maksudnya. Kita semua perlu berhati-hati agar terjaga dari serangan “tikus tanah” ambisi di dalam kita.

Generasi pertama pengikut Kristus diganggu oleh perebutan kekuasaan. Pada saat yang penting, ketika Tuhan Yesus pergi ke Yerusalem untuk disalibkan, Dia memberi tahu pengikut-pengikut-Nya apa yang akan menimpa Dia (Mat. 20:17-19). Mereka mendengar Dia berbicara, tetapi tidak mendengar apa yang Dia katakan, juga tidak peduli terhadapnya. Ketika Dia memberi tahu mereka tentang kematian-Nya, mereka malah berebut kekuasaan. Ibu Yakobus dan Yohanes (bibi Yesus) bahkan membawa dua orang anaknya kepada Tuhan, meminta Dia menempatkan satu di sebelah kanan-Nya dan satu di sebelah kiri-Nya dalam kerajaan (Mat. 20:20-28). Murid lain marah terhadap kedua saudara ini. Ini menunjukkan bahwa ada perebutan kekuasaan di antara murid-murid.

Jika Anda membaca Kitab Kisah Para Rasul dan Surat Kiriman, Anda akan melihat bahwa perebutan kekuasaan ini ada sejak permulaan hidup gereja. Ananias dan Safira (Kis. 5:1-4) adalah suami istri yang mendustai Allah. Sebenarnya, dusta mereka adalah perebutan kekuasaan. Mereka ingin menjadi lebih penting, mengangkat diri mereka sendiri di mata orang lain. Pada akhir Surat Kiriman, Yohanes menyebutkan seorang yang berebut kekuasaan, Diotrefes (3Yoh. 9-11). Sejarah kekristenan adalah sejarah perebutan kekuasaan. Perebutan ini ada di dalam setiap orang dari kita. Anda mungkin tidak menyadarinya, tetapi hal ini tersembunyi di dalam Anda. Akhirnya, hidup gereja akan menjadi ujian untuk situasi kita sesungguhnya. Selama kita ada dalam hidup gereja, cepat atau lambat kita akan diuji dan disingkapkan. Perhatikan pemberontak-pemberontak di antara bani Israel dalam Kitab Bilangan. Beberapa pemberontak berada pada perbatasan perkemahan, beberapa orang berkumpul dengan orang campuran, dan beberapa orang sangat dekat dengan Musa, orang yang memimpin. Sekarang, dalam Bilangan 16, 250 pemimpin memberontak. Dalam memandang semua ini, kita harus percaya bahwa perebutan kekuasaan ada di dalam setiap orang dari bani Israel.

Kita telah menghadapi masalah ini selama puluhan tahun. Para penatua tahu bahwa jika mereka melayani di gereja lokal tertentu selama beberapa tahun, mereka akan benar-benar melukai orang lain. Sebagian orang mencari kedudukan dan kekuasaan, dan jika, karena para penatua, mereka tidak dapat mencapai apa yang mereka inginkan, mereka akan terluka. Sebagai contoh, pada tahun 1935 seorang sekerja di Shanghai bangkit mengambil keuntungan dari situasi kacau untuk mencari “promosi”. Saat itu Saudara Nee tidak ada di tempat dan meletakkan administrasi gereja dan kepemimpinan pekerjaan kepada saya. Saudara yang mencoba mengambil keuntungan dari kekacauan datang kepada saya, tetapi saya tidak memberi dia jawaban yang positif. Akhirnya, sekerja ini memusuhi Saudara Nee.

Mereka yang dalam hidup gereja atau dalam pekerjaan Tuhan yang memiliki kedudukan mengambil pimpinan tak dapat dihindarkan menyinggung beberapa orang yang tamak akan kekuasaan. Karena kedambaannya untuk kekuasaan dan nafsu mereka untuk kedudukan tidak dipuaskan, orang tamak ini tersinggung dan tidak senang dengan mereka yang memimpin. Dalam kasus demikian, Kitab Bilangan memberi kita petunjuk yang membantu kita mengenal apa yang harus kita lakukan. Dalam Bilangan 16, Musa berani dan setia dalam menghadapi pemberontakan skala besar, pemberontakan 250 orang pemimpin. Walaupun dia sujud, dia masih melakukan sesuatu. Dia membawa perkara ini terang-terangan kepada Allah, membiarkan Allah datang untuk berbicara, menghakimi, dan membela.

Berbeda dengan apa yang Musa lakukan, mereka yang memberontak, khususnya para pemimpin, sangat kuat dan keras kepala. Mereka memutuskan untuk tidak taat. Ketika Musa meminta Datan dan Abiram datang ke Kemah Pertemuan, yaitu, kepada Tuhan, mereka menuduh Musa, berkata bahwa dia membawa mereka keluar dari negeri yang mengalirkan susu dan madu (Mesir), bahwa dia menjadikan dirinya penguasa atas mereka, dan bahwa dia tidak membawa mereka ke dalam negeri yang mengalirkan susu dan madu. Akhirnya, mereka berkata, “Masakan engkau dapat mengelabui mata orang-orang ini? Kami tidak mau datang” (Bil. 16:14b). Mereka pandai berbicara dan sangat keras kepala.

Apa yang seharusnya kita lakukan dalam situasi demikian? Dalam situasi pemberontakan demikian, lebih baik kita tidak melakukan apa-apa. Tuhan itu hidup. Dia masih ada di takhta, dan masih berdaulat. Dia adalah Tuhan yang berdaulat dan juga otoritas tertinggi. Dia adalah Kepala Tubuh hari ini. Jadi, kita harus selalu menyerahkan hal-hal ini kepada Dia dan membiarkan Dia melakukan menurut apa adanya Dia. Inilah yang dapat kita lakukan, dan inilah yang harus kita lakukan. Mengenai kita sendiri, kita perlu menyadari bahwa tanpa belas kasihan dan anugerah Tuhan, kita mungkin sama seperti Korah, Datan, dan Abiram. Namun, karena belas kasihan-Nya kita ada di sini. Sekarang kita harus belajar berjaga-jaga dan berdoa sehubungan dengan segala situasi pemberontakan.