PERJALANAN (9)
Pembacaan Alkitab: Bilangan 16:19-50
Mengenai pemberontakan yang serius dalam Bilangan 16, kita telah membahas pemberontak-pemberontak, penyebab pemberontakan, dan reaksi Musa. Dalam berita ini kita akan melihat bagaimana Allah menghakimi pemberontakan ini (Bil. 16:19-50).
D. Penghakiman Allah
Tidak peduli perkara apa yang terjadi di bumi, pemerintahan Allah tetap berdiri, bukan saja atas rumah-Nya, gereja, tetapi juga atas seluruh dunia. Dari sejarah dan dari pengamatan kita atas situasi dunia hari ini, kita yakin bahwa segala sesuatu ada di bawah pemerintahan Allah. Karena itu, kita harus percaya bahwa segala sesuatu, termasuk penghakiman, ada di bawah Dia, dan di tangan-Nya. Dalam Bilangan 16, penghakiman Allah rangkap tiga, datang dari bumi, dari langit, dan dari dalam manusia itu sendiri. Bumi terbelah untuk menelan pemberontak-pemberontak, api turun dari langit untuk membakar banyak orang di antara para pemberontak, dan kuman-kuman dari dalam para pemberontak lainnya menimbulkan tulah yang membunuh mereka.
1. Korah Mengumpulkan Segenap Umat Itu untuk Menentang Musa dan Harun
Korah bukan hanya mengumpulkan rekan atau kelompoknya, tetapi juga mengumpulkan segenap umat itu melawan Musa dan Harun di depan pintu Kemah Pertemuan (Bil. 16:19a). Ini memaksa Allah keluar dan menampakkan kemuliaan-Nya kepada segenap umat itu (Bil. 16:19b). Penampakan Allah secara demikian adalah peristiwa yang sangat besar.
2. TUHAN Berbicara kepada Musa dan Harun
TUHAN berbicara kepada Musa dan Harun, menyuruh mereka memisahkan diri dari antara kumpulan ini supaya Dia dapat menghanguskan kumpulan ini dalam sekejap (Bil. 16:20-21). Kemudian Musa dan Harun sujud dan berkata, “Ya Allah, Allah dari roh segala makhluk! Satu orang saja berdosa, masakan Engkau murka terhadap segenap perkumpulan ini?” (Bil. 16:22). Musa dan Harun menyebutkan Allah sebagai “Allah dari roh segala makhluk”. Kumpulan ini adalah kumpulan daging, tetapi mereka semua dalam kumpulan ini memiliki roh. Allah bukanlah Allah atas daging, tetapi Allah atas roh mereka.
3. Korah, Datan, and Abiram,
Bersama-sama dengan Istrinya, Anak-anaknya,
dan Anak-anaknya yang Kecil,
dengan Segenap Orang yang Ada pada Korah
dengan Segala Harta Milik Mereka,
Ditelan oleh Bumi dan Turun Hidup-hidup ke Dunia Orang Mati
Korah, Datan, dan Abiram tidak takut atas apa yang mereka lakukan. Keluarlah Datan dan Abiram, lalu berdiri di depan pintu kemah mereka bersama-sama dengan istrinya, para anaknya dan anak-anak yang kecil (Bil. 16:27). Fakta bahwa kemah-kemah mereka saling berdekatan menunjukkan bahwa mereka sangat akrab. Mereka dari berbagai suku, Korah, suku Lewi, dan Datan dan Abiram, suku Ruben, tetapi mereka sangat dekat. Ketika bumi terbelah, mereka semua ada di tempat yang sama.
Korah, Datan, dan Abiram, bersama-sama istri mereka, anak-anaknya, dan anak-anak kecil mereka, dan semua orang yang ada bersama mereka dengan segala harta milik mereka, ditelan oleh bumi dan turun hidup-hidup ke dalam “sheol” (dunia orang mati) (Bil. 16:28-33). Sheol adalah kata Ibrani yang sama dengan kata Yunani Hades. Sheol, atau Hades, adalah tempat di mana jiwa dan roh orang mati ditahan. Korah dan yang lainnya turun hidup-hidup ke dunia orang mati. Mereka langsung turun ke sana, tidak perlu mati dulu. Hades seperti rumah tahanan, dan lautan api adalah penjara terakhir. Orang-orang binasa ini masuk ke rumah tahanan untuk menunggu penjara akhir dalam lautan api. Mereka turun ke sana tanpa kematian jasmani. Ini adalah sesuatu yang baru yang TUHAN perbuat (Bil. 16:29-30). Kita mungkin berkata, ini adalah mukjizat besar dalam aspek negatif. Dalam hal ini Allah memakai bumi untuk menghakimi para pemberontak. Kemungkinan ini satusatunya peristiwa orang hidup dihukum secara demikian.
4. Api Keluar dari TUHAN dan Membakar
Dua Ratus Lima Puluh Orang yang Mempersembahkan Ukupan
Setelah bumi menelan keluarga Korah, Datan, dan Abiram, masih ada 250 pengikut Korah. Mereka adalah pemimpin-pemimpin yang kenamaan yang dipilih dari antara jemaat. Melalui ini kita dapat melihat bahwa pemberontak itu cukup umum, bahkan universal. Dengan segera setelah ketiga pemimpin ditelan hidup-hidup oleh bumi, api turun dari TUHAN dan membakar 250 orang yang mempersembahkan ukupan (Bil. 16:35). Ini adalah aspek kedua dari penghakiman Allah.
5. Pembaraan Dua Ratus Lima Puluh Orang Itu Kudus dan Ditempa Tipis-tipis sebagai Salut Mezbah
Perbaraan 250 orang yang berdosa, yang mencelakakan nyawa diri mereka sendiri, ditempa tipis-tipis sebagai salut mezbah, sebagai satu tanda kepada bani Israel dan satu peringatan kepada mereka, supaya tidak seorang pun yang adalah orang asing, yang bukan keturunan Harun, mendekat untuk membakar ukupan di hadapan TUHAN; kalau tidak mereka akan menjadi seperti Korah dan rekannya (Bil. 16:36-40). Dua ratus lima puluh orang ini dibakar oleh Allah dalam penghakiman-Nya. Kemudian perbaraan mereka ditempa tipis-tipis untuk menyalut mezbah. Ketika orang datang untuk mempersembahkan kurban di mezbah, mereka mengingat pemberontakan dan penghakiman Allah atas Korah dan rekannya.
6. Menyingkapkan Sifat Pemberontak Bangsa Israel yang Tidak Taat
Kita mungkin berpikir bahwa setelah dua kali penghakiman ini, seluruh bani Israel mau merendahkan diri dan tunduk. Namun, mereka tidak demikian. Sifat pemberontak mereka masih ada di dalam mereka, dan ini disingkapkan. Dalam Bilangan 16:41-50 kita melihat penyingkapan sifat pemberontak bani Israel yang tidak taat.
a. Pada Keesokan Harinya Segenap Umat Israel Bersungut-sungut kepada Musa dan Harun
Sungut-sungut bangsa itu terhadap Musa dan Harun membuktikan bahwa sifat pemberontakan mereka belum ditaklukkan. “Tetapi pada keesokan harinya bersungut-sungutlah segenap umat Israel kepada Musa dan Harun, kata mereka: ‘Kamu telah membunuh umat TUHAN’” (Bil. 16:41). Saya merasa betapa mengerikannya, mereka bisa bersungut-sungut kepada Musa dan Harun secara demikian.
b. Campur Tangan Allah
Allah segera campur tangan. Kemuliaan-Nya terlihat dalam awan yang menutupi Kemah Pertemuan (Bil. 16:42). Dia memberi tahu Musa bahwa Dia akan menghanguskan umat itu dalam sekejap (Bil. 16:43-45a), dan Dia akan mengirim tulah untuk membunuh mereka di bawah murka-Nya (Bil. 16:46b). Kuman-kuman tulah itu kemungkinan telah ada di dalam mereka.
c. Pendamaian untuk Bani Israel Melalui Musa dan Harun
Pada saat ini, Musa dan Harun melakukan sesuatu sebagai tindakan darurat. Musa dan Harun sujud (Bil. 16:45b). Harun meletakkan api dari mezbah dalam perbaraan, menempatkan ukupan pada api, membawa perbaraan dengan cepat kepada jemaah itu, dan berdiri di antara orang mati dan orang hidup, mengadakan pendamaian untuk mereka. Kemudian tulah itu berhenti. Walaupun demikian, 14.700 orang telah mati. Ini adalah penghakiman Allah dari dalam orang yang memberontak. Melalui membaca Bilangan 17, kita dapat melihat bahwa sisa umat itu masih tidak taat. Saat itu telah terjadi penghakiman ajaib Allah rangkap tiga. Allah telah menghakimi mereka oleh bumi, oleh api dari langit, dan oleh tulah yang ditimbulkan oleh kuman-kuman di dalam mereka. Setiap penghakiman seharusnya cukup untuk menaklukkan mereka dan menyebabkan mereka sujud di hadapan Allah serta menyembah Dia. Mereka tentu takluk oleh penghakiman ketiga. Namun, bahkan setelah penghakiman ketiga, bangsa itu masih bersungut-sungut (Bil. 17:13). Betapa mengerikan situasi mereka! Mereka sangat berani dalam pemberontakannya, tidak peduli jika mereka pergi ke dunia orang mati atau lautan api. Mereka mempertaruhkan hidupnya, bahkan jiwa mereka. Mula-mula mereka memberontak melawan Musa dan Harun, akhirnya mereka memberontak melawan Allah, TUHAN. Dari sini kita melihat betapa jahat sifat pemberontak umat manusia yang jatuh.
Jika kita memperhatikan cara Allah menghakimi, kita akan melihat bahwa Dia melaksanakan penghakiman-Nya dari tiga arah: dari bumi, dari langit, dan dari dalam orang yang memberontak. Namun, orang yang memberontak tidak takluk karena hal ini. Sebenarnya, menurut catatan Alkitab, Allah tidak pernah menaklukkan orang melalui penghakiman. Setelah seribu tahun pemurnian dalam Kerajaan Seribu Tahun, umat manusia masih akan memberontak (Why. 20:7-9). Penghakiman Allah tidak menaklukkan orang; sebaliknya, akan menghanguskan mereka. Setelah membaca bagian Alkitab seperti Bilangan 16, sebagian dari kita mungkin mempertanyakan kasih, belas kasihan, kebaikan, dan pengampunan Allah. Mengapa Allah mengampuni orang Israel yang berdosa, tetapi masih menghukum mereka? Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu menyadari bahwa menurut pengajaran Alkitab, pengampunan Allah ada beberapa macam. Salah satunya adalah pengampunan melalui penghukuman. Bagi Allah, mengampuni adalah satu hal, dan menghukum adalah hal lainnya. Dalam situasi tertentu Allah mengampuni, tetapi Dia mengampuni melalui penghukuman; maka, ini adalah pengampunan dengan penghukuman. Kita perlu memiliki rasa takut yang kudus terhadap Allah. Kita harus sujud dan merendahkan diri di hadapan Dia dan berdoa, “Tuhan, belaskasihanilah aku. Hanya belas kasihan-Mu yang dapat menjaga dan memelihara aku dalam anugerah-Mu.”