PERJALANAN (7)
Pembacaan Alkitab: Bilangan 15
Dalam berita ini kita akan membahas ketentuanketentuan dalam Bilangan 15.
IV. KETENTUAN-KETENTUAN
Di tengah-tengah semua kekacauan, Bilangan 15 disisipkan. Mengapa perlu ada sisipan demikian? Menurut perilaku bani Israel, jelas bahwa mereka tidak terlalu memperhatikan kepentingan Allah. Apa yang mereka lakukan kebanyakan untuk mereka sendiri. Situasi ini mendatangkan penghakiman dan penghukuman Allah. Patut diragukan pada saat itu bani Israel mengingat semua arahan mengenai bagaimana diperkenan oleh Allah. Mereka tidak dapat diperkenan melalui diri mereka sendiri atau dalam diri mereka sendiri, melainkan dalam Dia yang menggantikan mereka, Kristus. Dalam perlambangan Perjanjian Lama, Kristus ini, pengganti kita, memiliki banyak aspek, yang dapat dilihat dalam berbagai kurban persembahan. Aspek utama terlihat dalam kurban penghapus dosa, kurban bakaran, dan kurban pendamaian (LAI: keselamatan), yang bisa dipasangkan dengan beberapa kurban persembahan yang berhubungan, seperti roti tipis dan roti bundar kurban sajian dan kurban curahan.
Bilangan 15 disisipkan karena bani Israel tidak memperhatikan kepentingan Allah. Pasal ini mengingatkan mereka bahwa situasi mereka sebenarnya tidak menyenangkan Allah. Kemungkinan mereka lupa mempersembahkan kurban-kurban persembahan yang dituntut Allah untuk mengadakan pendamaian atas kegagalan, kesalahan, dan pemberontakan mereka. Mari kita perhatikan lagi situasi bani Israel. Pertama, mereka yang berada di perbatasan (bukan di pusat perkemahan), bersungut-sungut, mengucapkan perkataan jahat di hadapan Allah. Kemudian orang campuran di antara mereka bernafsu rakus di hadapan Allah. Keduanya telah menerima penghakiman Allah. Setelah ini, sebagai kejutan besar untuk Musa, saudari dan saudaranya yang lebih tua, yang selalu menyertai dia di pusat pergerakan Allah, memberontak. Jadi, situasi dan atmosfer di antara bani Israel sangat lembam, moral beserta semua hal positif telah hilang. Selanjutnya, pengintai dikirim untuk mengintai negeri itu, dan sepuluh dari pengintai ini membawa laporan busuk. Mereka juga menerima penghakiman Allah. Karena itu, sebelum pemberontakan lainnya timbul (lihat Bilangan 16), Allah datang dalam Bilangan 15 sebagai satu sisipan. Jika bani Israel memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam pasal ini, mereka akan tertolong dari kekacauan selanjutnya.
Dua ketentuan yang disisipkan di sini berkaitan dengan kurban-kurban persembahan dan pelanggaran hari Sabat. Mempersembahkan kurban persembahan kepada Allah menunjukkan bahwa kita menyadari bahwa kita tidak dapat melakukan apa-apa untuk menyenangkan Allah. Kita mempersembahkan Kristus kepada Allah karena kita tidak dapat membuat Allah senang, tidak dapat menyenangkan Dia, dan diperkenan oleh Dia. Melalui mempersembahkan Kristus kepada Allah kita mengakui, dalam diri kita sendiri dan oleh diri kita sendiri, kita tidak dapat menyenangkan Allah atau diperkenan Allah. Memelihara hari Sabat adalah mengakui, menyadari, dan menerima fakta bahwa Allah telah melakukan segala sesuatu untuk kita. Kita tidak perlu melakukan apa-apa, dan kita tidak dapat melakukan apa-apa untuk kita sendiri. Allah telah melakukan segala sesuatu, dan kita seharusnya dengan sederhana mengakui dan menerima apa yang telah Allah lakukan untuk kita dan beristirahat di dalamnya. Inilah memelihara hari Sabat.
Allah menciptakan segala sesuatu dalam enam hari. Pada akhir penciptaan-Nya, Dia menciptakan manusia. Ketika manusia dihasilkan dari tangan penciptaan Allah, dia tidak perlu melakukan apa-apa. Dia dengan segera menikmati apa yang telah Allah buat untuk dia, dan dia beristirahat di dalamnya. Melanggar hari Sabat adalah menyangkal apa yang Allah telah lakukan untuk kita dan mencoba melakukan segala sesuatu untuk kita sendiri. Ini adalah menghujat Allah. Jika kita mencoba dalam diri kita melakukan sesuatu untuk menyenangkan Allah, usaha kita adalah menghujat Allah, karena menyangkal apa yang telah Allah lakukan untuk kita.
Kita harus selalu memiliki perasaan bahwa kita bukan apa-apa dan bahwa kita tidak dapat melakukan apa-apa. Apa yang dapat kita lakukan dan seharusnya kita lakukan adalah mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai pengganti kita. Kristus adalah Dia yang di dalamnya kita percaya.
Kita juga harus ingat bahwa berjuang di dalam diri kita dan untuk kita sendiri sama sekali tidak berarti apa-apa dan sesungguhnya merupakan penghujatan terhadap Allah. Kita harus hanya menerima Allah dan apa yang telah Dia lakukan untuk kita. Kita tidak boleh seperti orang duniawi yang menyangkal Allah melalui segala usaha mereka sendiri. Mereka menyangkal Allah melalui apa yang mereka lakukan. Bahkan beberapa ateis berkata, “Siapakah Allah? Aku tidak perlu Allah. Aku dapat melakukan segala sesuatu sendiri.” Itu adalah menyangkal Allah dan menghujat Dia.
Ketika kita sampai pada ketentuan-ketentuan dalam Bilangan 15, saya ingin mengingatkan Anda tentang perbedaan antara ketentuan-ketentuan dengan ketetapan-ketetapan di sini. Ketetapan-ketetapan adalah peraturan-peraturan tanpa penghakiman, sedangkan ketentuan-ketentuan adalah peraturan-peraturan yang disertai penghakiman. Sebagai contoh, peraturan mengenai melanggar hari Sabat disertai dengan penghakiman.
A. Mengenai Kurban-kurban Persembahan
Dalam Bilangan 15:1-31 kita memiliki ketentuan-ketentuan mengenai kurban-kurban persembahan.
1. Harus Diterapkan di Tanah Permai
Ketentuan-ketentuan mengenai kurban-kurban persembahan harus diterapkan di tanah permai (Bil. 15:2, 18). Sejak bangsa itu memasuki negeri itu, mereka harus mematuhi ketentuan-ketentuan ini.
2. Untuk Nazar Khusus atau sebagai Persembahan
Sukarela atau Hari-hari Perayaan yang Ditentukan,
untuk Mempersembahkan Bau yang Menyenangkan bagi Allah
Beberapa kurban persembahan adalah untuk nazar khusus atau sebagai persembahan sukarela, dan beberapa kurban dipersembahkan pada hari-hari raya yang ditentukan sebagai bau yang menyenangkan bagi Allah. Menurut arahan-arahan yang diberikan dalam Kitab Keluaran dan Kitab Imamat, Allah memerintahkan bahwa pada hari-hari raya yang ditentukan kurban-kurban dipersembahkan kepada Dia. Bilangan 15 membicarakan beberapa kurban persembahan ini yang merupakan “bau yang menyenangkan bagi TUHAN” (Bil. 15:3b).
a. Mempersembahkan Binatang atau dari Kawanan Ternak
sebagai Kurban Api-apian atau Kurban Bakaran
atau Kurban Pendamaian
Bilangan 15:3 dan 8 membicarakan kurban bakaran dan kurban pendamaian. Kurban bakaran melambangkan satu hayat yang hidup bagi Allah, kepada Allah, untuk kepuasan Allah. Kurban pendamaian adalah untuk persekutuan kita dengan Allah, yang menghasilkan saling menikmati. Mempersembahkan dua macam kurban persembahan ini adalah mempersembahkan Kristus yang disalibkan, Kristus dalam kematian-Nya.
b. Dengan Kurban Sajian dari Tepung Halus yang Dibaurkan dengan Minyak
Kurban sajian dipasangkan dengan kurban bakaran dan kurban pendamaian. Setiap kali kita mempersembahkan kurban bakaran atau kurban pendamaian, kita perlu memasangkan kurban persembahan ini dengan kurban sajian dari tepung halus yang dibaurkan dengan minyak (Bil. 15:4). Kurban sajian demikian melambangkan Kristus dalam keinsanian-Nya berbaur dengan Roh Kudus menjadi makanan Allah dan manusia. Apa yang kita persembahkan kepada Allah sebagai kurban sajian menjadi makanan bukan hanya untuk Allah, tetapi juga untuk kita.
c. Dengan Anggur untuk Kurban Curahan
Anggur untuk kurban curahan adalah tambahan pasangan kurban persembahan (Bil. 15:5). Kurban curahan melambangkan Kristus mencurahkan diri-Nya sendiri untuk menyenangkan Allah. Kristus telah mencurahkan diri-Nya sendiri sebagai anggur untuk membuat Allah senang. Semua kurban persembahan ini melambangkan Kristus. Setiap hari kita perlu mengambil Kristus yang demikian sebagai kurban-kurban persembahan dan mempersembahkan-Nya sebagai bau harum yang menyenangkan bagi Allah.
d. Ketetapan dan Ketentuan yang Sama Berlaku
untuk Semua Orang Israel, Orang Asing, dan Orang Asing
yang Tinggal di Antara Bangsa Israel
Ketetapan dan ketentuan yang sama berlaku untuk semua orang Israel dan orang (pengembara) asing dan orang asing yang tinggal di antara orang Israel (Bil. 15:13-16). Ini melambangkan bahwa semua orang asing dan pengembara asing mengambil Kristus dalam cara yang sama seperti bangsa Israel (Ef. 2:12-19; 3:6).
3. Untuk Persembahan Unjukan bagi Allah
Bani Israel juga harus mempersembahkan persembahan unjukan (tatangan) kepada Allah (Bil. 15:17-21 Tl.). Kristus dalam kematian-Nya dilambangkan oleh kurban bakaran dan kurban pendamaian. Kurban sajian melambangkan Kristus dalam keinsanian-Nya berbaur dengan Roh ilahi, dan kurban curahan melambangkan Kristus yang mencurahkan diri-Nya untuk kepuasan Allah. Kurban unjukan (tatangan) melambangkan Kristus yang naik ke surga, Kristus dalam kenaikan-Nya. Hari ini Kristus bukan di bumi, Dia tidak lagi dalam kematian-Nya. Memang, Dia masih dalam keinsanian-Nya, tetapi Dia adalah manusia yang berbaur dengan keilahian dalam kenaikan. Dia adalah Kristus yang naik ke surga, Kristus yang di surga, Kristus yang surgawi. Ketika kita mempersembahkan Dia sebagai kurban unjukan (tatangan), kita mempersembahkan sesuatu dengan unsur, atmosfer, esens, dan rasa surgawi.
a. Roti Bundar dari Adonan Pertama
“Tepung jelaimu yang mula-mula haruslah kamu persembahkan sebagai persembahan khusus (unjukan) berupa roti bundar” (Bil. 15:20a). Roti bundar dari adonan pertama melambangkan Kristus sebagai buah sulung (1Kor. 15:20, 23). Kristus yang kita persembahkan dalam kenaikan-Nya kepada Allah sebagai makanan Allah adalah buah sulung dalam kebangkitan.
b. Sebagai Persembahan Unjukan dari Tempat Pengirikan
“Sama seperti persembahan khusus (unjukan) dari hasil tempat pengirikanmu, demikianlah harus kamu mempersembahkannya” (Bil. 15:20b). Hasil dari tempat pengirikan mengacu kepada bertih gandum yang segar, gandum utuh dan belum digiling.
Ada perbedaan antara gandum utuh dengan roti bundar yang dibuat dari adonan pertama. Adonan pertama dibuat dari biji gandum yang telah digiling. Roti bundar seluruhnya dibuat dari tepung yang digiling dari banyak butir gandum. Roti bundar dalam ayat 20 tidak hanya mengacu kepada Kristus sendiri, tetapi juga menunjukkan Tubuh Kristus, gereja.
4. Untuk Dosa Umat Israel yang Tidak Disengaja, yang karena Tidak Tahu Tidak Melakukan Semua Perintah Allah
Ketika kita mempersembahkan hal-hal yang merawat, memuaskan, dan harum ini untuk Allah, kita tidak boleh lupa bahwa kita masih ada dosa, bahwa kita masih manusia alamiah dalam ciptaan lama. Tidak peduli berapa banyak kita mencari Tuhan dan berjalan oleh Roh itu, kita masih ada dalam daging. Maka, kita perlu mempersembahkan sesuatu untuk ini. Menurut Bilangan 15:22-26 harus ada kurban persembahan untuk dosa umat Israel yang tidak disengaja, yang karena tidak tahu tidak melakukan semua perintah Allah. Ini menunjukkan bahwa hari ini kita perlu berdoa mengenai dosa yang tidak disengaja dalam gereja. Gereja mungkin dengan tidak sengaja melakukan hal-hal tertentu yang menyalahi orang dan Allah. Hal-hal ini dilakukan tidak dengan sengaja, dan tanpa sadar. Walaupun demikian, kita tetap perlu mempersembahkan sesuatu karena dosa ini.
a. Seekor Lembu Jantan Muda Menjadi Bau yang Menyenangkan bagi TUHAN
Untuk dosa yang tidak disengaja, “maka haruslah segenap umat mengolah seekor lembu jantan muda sebagai kurban bakaran menjadi bau yang menyenangkan bagi TUHAN” (Bil. 15:24a). Kurban bakaran ini melambangkan Kristus dalam kesegaran-Nya untuk memuaskan Allah.
b. Dengan Kurban Sajiannya dan Kurban Curahannya
Kurban bakaran untuk dosa yang tidak disengaja dipersembahkan dengan kurban sajiannya dan kurban curahannya (Bil. 15:24b). Seperti telah kita tunjukkan, kurban sajian melambangkan Kristus dalam keinsanian-Nya menjadi makanan Allah dan manusia, dan kurban curahan melambangkan Kristus mencurahkan diri-Nya sendiri untuk memuaskan Allah. Kurban persembahan sedemikian diperlukan untuk dosa gereja yang tidak disengaja.
c. Seekor Kambing Jantan untuk Kurban Penghapus Dosa
Kurban persembahan untuk dosa yang tidak disengaja juga memerlukan seekor kambing jantan untuk kurban penghapus dosa (Bil. 15:24c). Kurban penghapus dosa melambangkan Kristus yang dijadikan dosa karena kita.
d. Untuk Mengadakan Pendamaian bagi Segenap Umat Israel, supaya Mereka Beroleh Pengampunan
“Maka haruslah imam mengadakan pendamaian bagi segenap umat Israel, sehingga mereka beroleh pengampunan” (Bil. 15:25a). Dalam berita yang lalu, kita melihat Musa berdoa agar bani Israel beroleh pengampunan. Pengampunan Allah berdasarkan penebusan Kristus yang dirampungkan untuk pendamaian, tanpa itu Allah tidak memiliki tumpuan untuk mengampuni manusia. Maka, jika orang mau diampuni, sesuatu harus dipersembahkan kepada Allah untuk pendamaiannya. Jika kita, mengambil kematian penebusan Kristus sebagai pendirian kita, memohon Allah mengampuni kita, Dia harus melakukannya berdasarkan pada kebenaran-Nya, bukan pada belas kasihan-Nya (1Yoh. 1:9). Ini menurut pengaturan pemerintahan Allah. Dengan mempelajari hal-hal seperti ini dapat menjaga kita dari melakukan dosa-dosa yang lain.
5. Untuk Seorang yang Berdosa dengan Tidak Sengaja
Dalam Bilangan 15:27-29 ada perkataan mengenai seorang yang berdosa dengan tidak sengaja.
a. Seekor Kambing Betina Berumur Setahun untuk Kurban Penghapus Dosa
“Apabila satu orang saja berbuat dosa dengan tidak sengaja, maka haruslah ia mempersembahkan kambing betina berumur setahun sebagai kurban penghapus dosa” (Bil. 15:27). Kambing ini melambangkan Kristus, yang tidak mengenal dosa, namun dijadikan dosa karena kita oleh Allah (2Kor. 5:21). Perkara ini, yang sesuai dengan kebenaran Allah dan administrasi pemerintahan-Nya, bersifat dalam dan misterius.
b. Mengadakan Pendamaian di Hadapan Allah, supaya Orang Itu Beroleh Pengampunan
“Dan imam haruslah mengadakan pendamaian di hadapan TUHAN bagi orang yang dengan tidak sengaja berbuat dosa itu, sehingga orang itu beroleh pengampunan karena telah diadakan pendamaian baginya” (Bil. 15:28). Tanpa pendamaian, walaupun Allah memiliki hati untuk mengampuni kita, Dia tidak memiliki jalan. Pendamaian Kristus memberi Allah jalan untuk menggenapkan kedambaan hati-Nya yang pengampun.
6. Orang yang Berbuat Sesuatu dengan Sengaja,
Menjadi Penista Allah, Harus Dilenyapkan
dari Tengah-tengah Bangsanya
“Tetapi orang yang berbuat sesuatu dengan sengaja, baik orang Israel asli, baik orang asing, orang itu menjadi penista TUHAN, ia harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya” (Bil. 15:30). Berbuat sesuatu dengan sengaja adalah berbuat sesuatu tanpa mempedulikan orang lain. Mereka yang berperilaku demikian sama sekali tidak menghargai manusia dan Allah. Mereka bertindak seolah hanya mereka sendiri yang tinggal di alam semesta. Kadang-kadang kita menjumpai perilaku demikian dalam gereja. Ada orang bertindak seolah-olah dirinya adalah satu-satunya orang penting; ia acuh tak acuh, mengabaikan, memandang rendah, dan menolak satu sama lain. Kita tidak boleh melakukan sesuatu dengan sikap dan roh demikian.
a. Orang Demikian Menghina Firman Allah dan Merombak Perintah-Nya
Orang yang melakukan sesuatu dengan sengaja “Sebab ia telah memandang hina terhadap firman TUHAN dan merombak perintah-Nya” (Bil. 15:31a). Orang demikian berperilaku seperti tidak ada Allah.
b. Kesalahan-Nya Tertimpa Atasnya
Kesalahan orang yang melakukan segala sesuatu dengan sengaja akan tertimpa atasnya (Bil. 15:31b). Kita semua mengasihi Perjanjian Baru; Perjanjian Baru menyuruh kita untuk menikmati Kristus, mencari Kristus, dan mengejar Kristus, tetapi tidak ditunjukkan kepada kita cara menikmati Kristus. Peta perjalanan dengan semua rincian untuk menikmati Kristus ditemukan dalam Perjanjian Lama. Ketentuan-ketentuan dalam Bilangan 15 mengenai bagaimana mempersembahkan Kristus sebagai aneka kurban persembahan tidak hanya untuk umat Israel; dalam perlambangan kurban-kurban itu juga untuk kita. Ketika Perjanjian Lama diterapkan dalam cara perlambangan, Perjanjian Lama menjadi Perjanjian Baru untuk kita, karena Perjanjian Lama menjadi peta yang memperlihatkan kepada kita cara menikmati Kristus.
Karena kekacauan di antara bani Israel, di satu aspek, Allah terpaksa menyisipkan ketentuan-ketentuan yang dicatat dalam Bilangan 15. Khususnya pada masa kekacauan kita perlu mengingat ketentuan-ketentuan mengenai kurban-kurban persembahan kita untuk Allah. Ini akan memelihara kita dalam hubungan yang tepat dengan Allah. Namun, jika kita mengabaikan ketentuan-ketentuan ini, kita akan dihukum dan bahkan mungkin dibenci Allah.
B. Mengenai Melanggar Hari Sabat
Dalam Bilangan 15:32-36 kita memiliki ketentuan-ketentuan mengenai melanggar hari Sabat.
1. Seseorang Mengumpulkan Kayu pada Hari Sabat
“Ketika orang Israel ada di padang gurun, didapati merekalah seorang yang mengumpulkan kayu api pada hari Sabat. Lalu orang-orang yang mendapati dia sedang mengumpulkan kayu api itu, menghadapkan dia kepada Musa dan Harun dan segenap umat itu” (Bil. 15:32-33). Ketentuan mengenai melanggar hari Sabat diberikan karena perbuatan yang dilakukan orang ini pada hari Sabat.
2. Orang Itu Dimasukkan ke Dalam Tahanan
Orang itu dimasukkan ke dalam tahanan “oleh karena belum ditentukan apa yang harus dilakukan kepadanya” (Bil. 15:34). Allah berkata kepada Musa mengenai hal ini, kata-Nya, “Orang itu pastilah dihukum mati; segenap umat Israel harus melontari dia dengan batu di luar tempat perkemahan” (Bil. 15:35). Kita mungkin berpikir bahwa mengumpulkan kayu pada hari Sabat bukan kesalahan yang serius dan bahwa penghukuman yang diberikan begitu berat. Kita perlu memahami mengapa kesalahan ini begitu serius. Melanggar hari Sabat bukan saja melakukan sesuatu yang salah; melanggar hari Sabat adalah menyangkal Allah dan semua yang telah Dia lakukan untuk kita. Memelihara hari Sabat oleh bani Israel adalah tanda besar bahwa mereka mengakui Allah dan apa yang telah Dia lakukan untuk mereka. Setiap orang yang menyangkal Allah dan pekerjaan-Nya melalui melanggar hari Sabat harus dilenyapkan.
3. Segenap Umat Melakukannya seperti yang Allah Perintahkan kepada Musa
“Lalu segenap umat menggiring dia ke luar tempat perkemahan, kemudian dia dilontari dengan batu, sehingga ia mati, seperti yang difirmankan TUHAN kepada Musa” (Bil. 15:36). Saat ini bangsa itu bukan tidak taat. Mereka mungkin merasa takut. Tanpa kecuali, mereka semua melakukan seperti yang Allah perintahkan kepada Musa.
4. Makna Memelihara Hari Sabat
Kita perlu tahu makna memelihara hari Sabat. Memelihara hari Sabat adalah percaya kepada Allah dan menaati Allah untuk berbagian dalam apa yang telah Dia rampungkan untuk kita. Melanggar hari Sabat adalah melanggar prinsip bahwa kita seharusnya tidak berusaha untuk kita sendiri. Melanggar prinsip ini mengarah kepada kematian.
C. Mengenai Pakaian Bangsa Itu
Dalam Bilangan 15:37-41 kita memiliki ketentuan mengenai pakaian bangsa itu.
1. Membuat Jumbai-jumbai pada Punca Baju dan Membubuhkan Benang Ungu Kebiru-biruan
“Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun-temurun, dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan” (Bil. 15:38). Kata Ibrani yang diterjemahkan “jumbai-jumbai pada punca baju” dapat juga diterjemahkan “rumbai pada pinggir jahitan”. “Benang” di sini melambangkan pengikat, dan “biru” melambangkan surgawi. Maka, benang biru melambangkan pengikat surgawi. Untuk kita hari ini, benang biru ini melambangkan bahwa sebagai anak-anak Allah, tingkah laku kita dan perilaku kita harus indah dan berada di bawah pengikatan pemerintahan surgawi.
2. Memandang Jumbai-jumbai, Mengingat dan Melakukan Semua Perintah Allah
Bangsa itu memandang jumbai-jumbai, mengingat dan melakukan semua perintah Allah, tidak menurut hatinya sendiri atau mata mereka sendiri, seperti yang biasa mereka perbuat dalam ketidaksetiaan mereka (Bil. 15:39). Demikian, mereka akan mengingat dan melakukan perintah Allah mereka dan menjadi kudus bagi Allah. Menurut catatan dari keempat Injil, Tuhan Yesus mengenakan jenis pakaian ini. Suatu hari seorang perempuan datang menjamah punca jubah-Nya (Mat. 9:20-22), yang melambangkan keindahan kebajikan insani-Nya, yang darinya kuasa penyembuhan-Nya keluar. Ini menunjukkan bahwa kita, anak-anak Allah, harus berjalan di bawah pengikatan surgawi. Sebagai umat Kerajaan Surga, kita harus diikat bukan oleh polisi atau pengadilan, tetapi oleh pengikat surgawi, oleh pemerintahan dan kekuasaan surgawi. Ini akan menghasilkan keindahan dalam perilaku dan kebajikan kita.