← Daftar isi Bilangan (1) · bab 21/26

PERJALANAN (6)

Pembacaan Alkitab: Bilangan 14:11-45

Dalam berita ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang kegagalan bani Israel karena tidak percaya kepada Allah (Bil. 14:11-38). Kemudian kita akan melihat juga kegagalan mereka berupa pelanggaran terhadap firman Allah (Bil. 14:39-45). Mengenai perkara ini, ada beberapa hal serius yang ingin saya katakan.

4. Allah Membenci Umat Israel

Karena kegagalan di Kadesh, Allah membenci umat Israel (Bil. 14:11-38). Allah telah membawa bani Israel ke perbatasan tanah permai, dan mereka sebenarnya dapat dengan mudah melintasi perbatasan dan memasuki negeri itu. Namun, Allah tahu hati mereka, dan Dia menguji mereka. Dia menyuruh mereka mengutus dua belas pengintai untuk mengintai negeri itu (Bil. 13:1-2). Menurut Ulangan 8:2, Allah sengaja melakukan ini untuk menguji mereka. Ujian ini menyingkapkan mereka sama sekali.

Iman kita mungkin sangat lemah dan kecil, hampir-hampir tidak ada sama sekali. Karena situasi kita mungkin demikian, kita harus belajar merendahkan diri di hadapan Allah, mengakui kelemahan iman kita dan memohon Dia mengampuni kita. Ini adalah roh yang harus kita miliki di hadapan Allah. Akan tetapi, seperti ditunjukkan oleh apa yang mereka katakan, umat Israel tidak memperhatikan Allah, melainkan hanya memperhatikan diri sendiri. Perasaan mereka berpusat bukan pada Allah, melainkan pada diri sendiri. Hari ini, 3500 tahun kemudian, melalui membaca catatan Alkitab kita dapat melihat bahwa walaupun Allah membawa bangsa itu ke dalam tanah permai kelihatannya untuk bangsa itu, sebenarnya itu untuk merampungkan rencana kekal Allah, yang sepenuhnya berpusat pada Kristus yang almuhit. Ini adalah di aspek positif.

Di aspek negatif, Allah masih memiliki musuh, Satan (Iblis). Kelihatannya, yang menduduki dan merebut bumi adalah manusia; sebetulnya, perebutnya bukan manusia, melainkan Iblis. Inilah alasan dalam Matius 6:10 Tuhan Yesus menyuruh kita berdoa agar kehendak Bapa terlaksana di bumi seperti di surga. Ini menunjukkan bahwa kehendak Allah belum rampung di bumi. Mengenai kehendak Allah terlaksana, tidak ada masalah di surga, tetapi ada masalah di bumi. Karena itu, kita perlu berdoa agar kehendak Allah terlaksana di bumi seperti di surga. Pada zaman Kitab Keluaran, seluruh bumi diduduki oleh bangsa kafir, yang berada di bawah tangan Iblis. Bahkan tidak ada satu bagian dari bumi yang diciptakan Allah berada di bawah kendali-Nya. Umat Israel berada di Mesir, tetapi Mesir bukan negeri mereka. Mereka harus menemukan satu negeri, dan Allah telah menyiapkan satu negeri untuk mereka. Ratusan tahun sebelumnya, Allah telah memberi tahu nenek moyang mereka Abraham bahwa Dia akan memberikan tanah Kanaan kepada keturunannya (Kej. 13:14-17). Sebenarnya, maksud hati Allah adalah agar keturunan Abraham memperoleh tanah permai ini bagi kehendak-Nya.

Ketika orang-orang mengintai negeri itu, mereka menemukan bahwa keturunan orang Enak, orang khusus yang Alkitab sebut Nephilim, atau raksasa-raksasa, tinggal di sana (Bil. 13:33). Asal usul orang Nephilim terlihat dalam Kejadian 6. Singkatnya, Kejadian 6 memberi tahu kita bahwa ketika manusia jatuh sampai tingkat tertentu, manusia menjadi daging (Kej. 6:3), malaikat-malaikat yang jatuh turun ke bumi mengawini anak-anak perempuan manusia (Kej. 6:1-2, 4). Kawin campur ini menghasilkan raksasa-raksasa, orang Nephilim. Allah tidak dapat mentoleransi percampuran ini. Karena percampuran ras manusia dengan malaikat yang jatuh ini, Allah memusnahkan seluruh ras manusia dengan air bah. Di kemudian hari, ras campuran yang sama, orang Nephilim, percampuran dari malaikat yang jatuh dengan manusia yang jatuh, tinggal di tanah Kanaan. Maka, Allah memerintahkan bani Israel untuk mengambil alih tanah itu dan memusnahkan segala makhluk hidup di sana, supaya ras manusia dapat dibersihkan (Ul. 7:1-2).

Namun, bani Israel tidak mengetahui hal ini. Mereka tidak memperhatikan kepentingan Allah, tetapi untuk kepentingannya sendiri. Mereka tidak memperhatikan Allah sedikit pun, tetapi hanya memperhatikan keamanan mereka, damai sejahtera mereka, dan keberadaan mereka. Mereka tidak mengakui kelemahannya atau merendahkan diri di hadapan Allah. Akhirnya, mereka menyalahi Allah sampai tingkat tertentu sehingga mereka dibenci Allah. Apa yang mereka lakukan sepenuhnya dibenci di mata-Nya. Sebagai manusia kita perlu memperhatikan kehidupan sehari-hari kita, pekerjaan kita, keamanan kita, dan perlindungan kita. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa musuh Allah, Iblis, tersembunyi di balik layar dan bahwa persoalan sesungguhnya di bumi hari ini bukanlah perkara antara Allah dengan manusia, melainkan antara Allah dengan Iblis. Jadi, jika kita hanya memperhatikan keberadaan, perlindungan, keamanan, damai sejahtera, dan masa depan kita, kita boleh jadi dibenci di mata Allah.

Hari ini banyak orang beriman sangat memperhatikan diri sendiri, memperhatikan keamanan mereka, dan berkat-berkat materi, tetapi tidak memperhatikan kehendak Allah. Orang Kristen demikian percaya kepada Yesus Kristus hanya untuk keuntungan mereka sendiri; mereka sama sekali tidak memikirkan kepentingan Allah di bumi dan di alam semesta. Memang kita adalah anak-anak Allah, dan Allah adalah untuk kita. Tetapi untuk siapakah kita? Banyak orang Kristen tidak memikirkan kepentingan Allah, keuntungan atau kerugian Allah. Mereka berpikir dan berbicara hanya tentang diri sendiri dan keamanan mereka. Di antara penduduk duniawi hari ini, keamanan adalah berhala besar. Segala sesuatu yang mereka kerjakan adalah untuk keamanan mereka. Untuk keamanan mereka, mereka belajar dengan rajin dan bekerja keras. Bahkan banyak orang yang takut akan Allah dan percaya kepada Kristus, juga untuk keamanan mereka sendiri.

Mengapa umat Israel dibenci oleh Allah dalam Bilangan 13 dan 14? Mereka dibenci karena mereka terlalu memperhatikan diri sendiri. Dalam segala sesuatu dan segala cara mereka hanya untuk diri sendiri, bukan untuk kepentingan Allah. Jika mereka memikirkan sedikit saja tentang kepentingan Allah, mereka akan berkata, “Ya Allah, Engkau begitu baik kepada kami, kami hanya mengasihi Engkau. Kami mau mengorbankan masa depan kami, keamanan kami, perlindungan kami, keberadaan kami, dan segala sesuatu untuk kehendak-Mu. Kami melupakan keuntungan kami. Kami hanya memperhatikan supaya Engkau merampungkan kehendak-Mu. Untuk kehendak-Mu, mari kita maju dan memperoleh tanah ini.”

Memperhatikan Allah dan kepentingan-Nya menghasilkan iman. Ketika kita terlalu memperhatikan diri sendiri, kita sulit memiliki iman dalam Allah. Namun, jika kita berdiri pada kedudukan bahwa kita untuk Allah dan untuk kepentingan-Nya, kita mau mempertaruhkan segala sesuatu, masa depan kita, keluarga kita, bahkan nyawa kita, iman akan dengan spontan timbul di dalam kita.

Kita semua perlu terkesan dengan fakta bahwa di dalam kita ada kelemahan dan kita tidak memiliki iman. Siapa di antara kita yang dapat bermegah bahwa dirinya memiliki iman? Iman adalah Allah, iman ada di dalam Allah, dan iman berasal dari Allah. Jika kita mau memiliki iman, kita harus belajar memperhatikan kepentingan Allah dan tidak untuk keuntungan kita. Orang duniawi setiap hari memperhatikan keamanan dan keuntungan mereka sendiri, tetapi kita harus memperhatikan Allah dan kepentingan-Nya. Sejarah menunjukkan bahwa mereka yang memperhatikan Allah dan tidak memperhatikan keuntungan mereka sendiri menjadi orang beriman, dan sebagian malah menjadi tokoh iman.

a. Allah Mau Memukul Mereka dengan Penyakit Sampar

dan Menjadikan Musa Bangsa yang Lebih Besar daripada Mereka

Dalam kebencian-Nya kepada umat Israel, Allah mau memukul mereka dengan penyakit sampar dan menjadikan Musa bangsa yang lebih besar daripada mereka (Bil. 14:11-12).

b. Musa Berdoa untuk Mereka Menurut Firman Allah

Musa berdoa untuk mereka menurut firman Allah, yaitu bahwa TUHAN adalah panjang sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah, mengampuni kesalahan dan pelanggaran (Bil. 14:13-19). Musa adalah seorang manusia-Allah; dia mengenal Allah. Karena itu, dia tidak berdoa menurut konsepsinya; sebaliknya, dia berdoa menurut konsepsi Allah, menurut apa adanya Allah, apa yang Allah katakan, dan apa yang Allah janjikan. Musa tidak berbantahan dengan Allah, tetapi dia berdoa kepada Allah. Doanya, mengatakan bahwa TUHAN itu panjang sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah, mengampuni kesalahan dan pelanggaran, mengikat Allah menurut apa yang Dia katakan dan apa adanya Dia.

c. Allah Mengampuni Mereka Menurut Doa Musa

Allah mengampuni bangsa itu menurut doa Musa (Bil. 14:20), tetapi walaupun demikian ketidakpercayaan mereka mengakibatkan risiko negatif tertentu (Bil. 14:21-38).

1) Allah Tidak Mengizinkan Orang yang Bersungut-sungut Menentang Dia Melihat dan Masuk ke Dalam Tanah Permai

Allah tidak mengizinkan orang yang bersungut-sungut menentang Dia melihat dan masuk ke dalam tanah permai. Sebaliknya, selain Kaleb dan Yosua, mayat-mayat mereka akan bergelimpangan di padang gurun (Bil. 14:22-30, 32).

2) Allah Membawa Anak-anak Mereka ke Dalam Negeri Itu

Bangsa itu berkata bahwa anak-anak mereka akan menjadi tawanan dan akan dirampas oleh orang Kanaan dan orang Enak. Tetapi Allah berkata, “Tentang anak-anakmu yang telah kamu katakan: Mereka akan menjadi tawanan, merekalah yang akan Kubawa masuk, supaya mereka mengenal negeri yang telah kamu hinakan itu” (Bil. 14:31).

3) Mereka dan Anak-anaknya Akan Mengembara di Padang Gurun Selama Empat Puluh Tahun

Orang-orang yang memberontak dan anak-anaknya akan mengembara di padang gurun selama empat puluh tahun untuk menanggung kesalahan mereka menurut jumlah hari (satu hari dihitung satu tahun) saat mereka mengintai negeri itu (Bil. 14:33-34).

4) Orang-orang yang Kembali dengan Laporan Busuk Mati karena Tulah di Hadapan TUHAN

Orang-orang yang kembali dengan laporan busuk dan membuat seluruh jemaat bersungut-sungut menentang Musa mati karena tulah di hadapan TUHAN (Bil. 14:36-38). Sekalipun semua orang memberontak menentang Dia, Allah tidak memusnahkan seluruh bangsa itu. Allah hanya membunuh sepuluh orang yang menghasut pemberontakan.

E. Melanggar Firman Allah

Dalam Bilangan 14:39-45, kita melihat bahwa bangsa itu gagal sekali lagi dengan melanggar firman Allah.

1. Umat Israel Berkabung dengan Sangat dan Mengatakan

bahwa Mereka Akan Pergi ke Tempat yang TUHAN

Telah Firmankan

Setelah mendengar perkataan Musa kepada mereka, umat Israel berkabung dengan sangat (Bil. 14:39). Kemudian mereka bangun pagi-pagi, pergi ke puncak gunung, dan berkata, “Sekarang kita hendak maju ke negeri yang difirmankan TUHAN itu; memang kita telah berbuat dosa” (Bil. 14:40). Perkataan mereka menunjukkan bahwa mereka bukan saja orang yang memberontak, tetapi juga orang yang tegar tengkuk, keras kepala.

2. Musa Melarang Mereka

Musa melarang mereka, sebab Allah tidak menyertai mereka dikarenakan mereka telah berbalik dari mengikuti Allah (Bil. 14:41-43). Bangsa itu sebenarnya telah meninggalkan Allah. Perjalanan dari Mesir bukan perjalanan mereka, melainkan perjalanan tabut. Dari Mesir mereka telah mengikuti tabut, yang adalah perwujudan Allah (lambang Allah Tritunggal dalam inkarnasi-Nya yang diwujudkan dalam Kristus), tetapi sejak saat ini, mereka meninggalkan Allah dan tidak mengikuti Dia lagi. Prinsipnya mungkin sama dengan kita hari ini dalam mengikuti Tuhan. Ketika kita memberontak menentang Tuhan, kita menolak Dia dan tidak mengikuti Dia lagi. Betapa mengerikan situasi yang demikian!

3. Bangsa Itu dengan Lancang Pergi ke Puncak Gunung

Bangsa itu dengan lancang pergi ke puncak gunung, walaupun tabut perjanjian Allah dan Musa tidak meninggalkan tempat perkemahan (Bil. 14:44). Bangsa itu seharusnya bergerak hanya ketika tabut bergerak. Namun, ketika Allah meminta mereka bergerak, mereka tidak melakukannya. Sekarang mereka lancang bergerak sendiri.

4. Orang Amalek dan Kanaan Turun dari Gunung dan Mengalahkan Mereka

“Lalu turunlah orang Amalek dan orang Kanaan yang mendiami pegunungan itu dan menyerang mereka; kemudian orang-orang itu menceraiberaikan mereka sampai ke Horma” (Bil. 14:45). Di Kanaan sedikitnya ada tujuh suku bangsa, tetapi hanya dua suku yang keluar berperang melawan bangsa Israel. Dalam perlambangan Alkitab, orang Amalek melambangkan daging, yaitu orang yang jatuh milik daging. Perang pertama umat Israel yang terjadi setelah mereka keluar dari Mesir adalah melawan Amalek (Kel. 17:8-16). Orang Kanaan melambangkan manusia yang telah bersatu dengan roh-roh jahat, penguasa kegelapan satani di angkasa.

Kita perlu membaca sejarah Israel sebagai sejarah kita. Tanpa belas kasihan dan anugerah Allah, kita sama seperti mereka. Maka, kita harus sangat waspada. Kita tidak boleh berpikir bahwa menjamah gereja, hidup gereja, jalan gereja, atau tumpuan gereja adalah satu perkara kecil. Sejarah kita di tahun 1970-an memberi tahu kita bahwa menjamah jalan Allah, yang adalah gereja, bukanlah satu perkara kecil. Tanpa gereja, Allah tidak bisa maju terus. Dalam Perjanjian Lama, umat Israel adalah jalan Allah, Jika Allah tidak dapat merampungkan kehendak-Nya pada diri mereka, Dia tidak akan memiliki jalan di bumi. Hari ini gereja adalah jalan Allah. Karena itu, menjamah gereja, mengatakan sesuatu yang jahat atau baik tentang gereja, adalah satu perkara yang serius. Harapan saya adalah kita semua akan diberkati dengan menjamah jalan Allah, yang adalah Tubuh Kristus. Apa pun situasinya, kita harus memegang sikap yang tepat dalam roh yang tepat dan berdiri pada tumpuan yang tepat untuk menjamah gereja, menempuh hidup gereja, membicarakan tentang gereja, dan memandang segala hal mengenai gereja. Kemudian kita akan diberkati, dan berkat kita akan menjadi berkat orang lain.