← Daftar isi Bilangan (1) · bab 20/26

PERJALANAN (5)

Pembacaan Alkitab: Bilangan 13:1—14:10

Dalam berita ini kita sampai pada kegagalan lain di antara bani Israel, tidak percaya kepada Allah (Bil. 13:1— 14:38).

D. Tidak Percaya kepada Allah

1. Allah Memerintahkan Musa untuk Mengutus Dua Belas Orang Guna Mengintai Tanah Kanaan

Allah memerintahkan Musa untuk mengutus dua belas orang guna mengintai tanah Kanaan (Bil. 13:1-20). Pada waktu itu atmosfer dan moral di antara bani Israel telah rusak parah karena situasi pemberontakan mereka. Maka, bukan waktu yang baik untuk mengutus pengintai. Namun, di bawah pengaturan kedaulatan Allah, mereka diutus.

Dari sudut manusia, memang perlu mengintai tanah itu. Namun, secara rohani, dalam segala sesuatu yang kita kerjakan, lebih baik tidak mengintai situasi itu. Mengintai situasi adalah menguji Allah, dan biasanya berakibat negatif.

a. Seorang dari Setiap Suku

“Dari setiap suku nenek moyang mereka haruslah kau suruh seorang, semuanya pemimpin-pemimpin di antara mereka” (Bil. 13:2b). Dua belas “kepala di antara orang Israel” ini (Bil. 13:3) termasuk Kaleb dan Yosua; nama Yosua berarti “TUHAN (Yehova) adalah Juruselamat”.

b. Untuk Melihat Bagaimanakah Tanah Itu

Pengintai pergi untuk melihat bagaimanakah tanah itu, apakah bangsa yang mendiaminya kuat atau lemah, apakah mereka sedikit atau banyak; dan bagaimana negeri yang didiaminya, apakah baik atau buruk, bagaimana kota-kota yang didiaminya, apakah mereka diam di tempat-tempat yang terbuka atau di tempat-tempat yang berkubu, dan bagaimana tanah itu, apakah subur atau tandus, apakah ada di sana pohon-pohonan atau tidak. Para pengintai juga harus membawa sedikit dari hasil negeri itu. Waktu itu ialah musim hulu hasil anggur (Bil. 13:18-20). Mengintai situasi seperti ini melemahkan iman kita. Kita harus percaya saja kepada Allah tanpa mengetahui segala sesuatu.

2. Kedua Belas Orang Itu Pergi dan Mengintai Tanah Tersebut,

dan Memotong dari Lembah Eskol Setandan Buah Anggur

Kedua belas orang itu pergi dan mengintai tanah tersebut. Mereka memotong dari lembah Eskol (yang berarti “tandan”) setandan anggur dan dipikul oleh dua orang dari mereka, juga dengan beberapa buah delima dan buah ara (Bil. 13:21-24). Dari sini kita dapat melihat betapa kaya tanah itu.

3. Kedua Belas Orang Itu Kembali Setelah Lewat Empat Puluh Hari

Setelah lewat empat puluh hari, kedua belas orang itu kembali kepada Musa, Harun, dan segenap jemaah bangsa Israel di padang gurun Paran di Kadesh (Bil. 13:25—14:10). Kadesh adalah batas tanah permai.

a. Membawa Kabar bahwa Tanah Kanaan

Mengalirkan Susu dan Madu,

tetapi Juga Membawa Laporan Busuk

Kedua belas orang itu membawa kabar bahwa tanah Kanaan mengalirkan susu dan madu (Bil. 13:26-27). Namun, kebanyakan orang yang pergi mengatakan, sebagai laporan busuk, bahwa penduduk yang mendiami negeri itu besar dan kuat, bahwa kota-kota di sana berkubu dan besar, dan orang Enak ini (bangsa Nephilim, raksasa-raksasa) ada di sana (Bil. 13:28-29, 31-33).

b. Kaleb Menenteramkan Bangsa Itu di Hadapan Musa

Kaleb menenteramkan bangsa itu di hadapan Musa dan berkata, “Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” (Bil. 13:30).

c. Segenap Umat Israel Meratap, Menangis, dan Bersungut-sungut

Segenap Israel meratap, menangis, dan bersungut-sungut kepada Musa dan Harun, berkata kepada mereka, “Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu. Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: ‘Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini! Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?’” (Bil. 14:1-3). Kemudian mereka bahkan berani berkata satu sama lain, “Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir” (Bil. 14:4). Orang-orang yang tidak percaya dan pemberontak ini sangat pandai berbicara, cerdik, ngotot, dan kuat dalam opini mereka.

d. Musa dan Harun Sujud di Depan Mata Seluruh Umat Israel yang Berkumpul Itu

Musa dan Harun sujud di depan mata seluruh umat Israel (Bil. 14:5). Ini memperlihatkan kelembutan mereka. Mereka tidak menentang bangsa itu.

e. Yosua dan Kaleb Mengoyakkan Pakaiannya dan Berkata kepada Segenap Umat Israel

Yosua dan Kaleb mengoyakkan pakaiannya dan berkata kepada segenap umat Israel, “Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya, dan berkata kepada segenap umat Israel: ‘Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka’” (Bil. 14:6-9). Sulit mengatakan apa artinya “yang melindungi mereka”; ini mungkin mengacu kepada dewa yang melindungi mereka. Kata-kata “janganlah memberontak kepada TUHAN” menunjukkan bahwa tidak percaya kepada Allah berarti memberontak melawan Dia.

f. Segenap Umat Itu Mengancam untuk Melontari Mereka dengan Batu

Segenap umat itu mengancam untuk melontari Yosua dan Kaleb dengan batu. Kemudian kemuliaan TUHAN tertampak di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel (Bil. 14:10) Pada butir ini, saya ingin membicarakan perkataan mengenai makna rohani tanah permai, tanah Kanaan. Kali pertama saya diutus ke Amerika Serikat dengan membawa pemulihan Tuhan, pada sidang istimewa pertama di Los Angeles, saya menyampaikan serangkaian berita, terutama berdasarkan Ulangan 8:7-10. Berita ini diterbitkan dalam buku berjudul “Kristus yang Almuhit”. Dalam berita-berita tersebut, saya menunjukkan bahwa tanah permai adalah gambaran dari Kristus yang almuhit. Tanah permai dipakai oleh Allah untuk melambangkan satu persona, yang adalah perwujudan Allah. Perwujudan Allah ini adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung dalam satu persona, Yesus Kristus.

Alkitab adalah kitab yang ajaib, dan berisi berbagai tulisan dan pokok (subyek). Sebenarnya, seluruh Alkitab menyajikan satu hal bahwa Allah damba diwujudkan dalam satu persona, yang adalah Dia yang unik di alam semesta. Tidak mungkin kita bisa menceritakan persona ajaib ini sampai tuntas. Allah dan manusia ada dalam persona ini; Dia mencakup semua unsur dan atribut sifat ilahi dan semua kebajikan dari sifat insani. Dalam Dia kita memiliki realitas sifat ilahi dan sifat insani. Dalam Dia kita juga memiliki hayat, terang, dan Roh itu. Semua hal positif yang ada di alam semesta diwujudkan, dikandung, dan direalisasikan dalam satu persona ini, Manusia-Allah yang almuhit, yang adalah inti dan makna alam semesta. Agama Kristen telah ada di bumi selama lebih dari sembilan belas abad. Walaupun demikian, sejak masa para rasul, persona Kristus yang ajaib belum disajikan sepenuhnya kepada orang seperti Dia diwahyukan dalam Alkitab (wahyu ini sedikit banyak tersembunyi) dan seperti yang kita lihat hari ini. Kita bersyukur kepada Tuhan karena Ia membukakan firman kudus-Nya kepada kita, memampukan kita melihat aspek-aspek Kristus yang telah terselubung selama berabad-abad.

Tidak lama setelah abad pertama, Alkitab, wahyu dari persona ajaib ini, menjadi terselubung dan kemudian terkunci oleh Katolik. Selama Reformasi, Alkitab terbuka, tetapi belum tersingkap. Sejak waktu itu, hal-hal yang dilihat orang Kristen dalam Alkitab terutama berhubungan dengan keselamatan Allah. Hal-hal ini termasuk ciptaan Allah, atribut-atribut ilahi, seperti kesetiaan, kebenaran, kekudusan, dan kasih; kejatuhan dan dosa manusia; kasih Allah terhadap manusia; Kristus yang menyelamatkan dan menebus manusia melalui kematian penggantian-Nya di kayu salib; kebangkitan-Nya dari antara orang mati; dan Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta; membuat kaum beriman menjadi gereja. Kebanyakan orang Kristen tidak melihat ekonomi Allah. Apa yang mereka ajarkan, beritakan, dan siarkan sebagian besar adalah menurut pemikiran manusia, hanya sedikit yang menurut pemikiran ilahi. Dalam pemberitaan mereka, mereka tidak menekankan penyaluran hayat. Sebaliknya, mereka menekankan pengampunan, penebusan, pembenaran oleh iman, dan pengudusan. Mereka tidak melihat penyaluran Allah Tritunggal kepada manusia tripartit, agar manusia mendapatkan hayat ilahi dan memiliki sifat ilahi untuk menjadi bagian dari Kristus yang diperbesar. (Banyak dari mereka yang menekankan hayat batini melihat bahwa kaum beriman adalah anggota Kristus yang diperbesar, tetapi mereka melihat ini hanya samar-samar, tidak jelas.)

Pelajar-pelajar teologi secara umum diajarkan bahwa mereka tidak boleh menciptakan istilah-istilah teologi yang baru. Hal ini dikarenakan kekhawatiran bahwa istilah baru akan membawa masuk ajaran bidah ke dalam teologi ortodox. Namun, tahun 1930-an, Tuhan telah membukakan firman-Nya kepada kita dan memperlihatkan kepada kita banyak butir yang terselubung selama berabad-abad. Untuk menggambarkan hal-hal ini, kita terpaksa menciptakan sejumlah istilah baru. Sebagai contoh, dalam membicarakan Allah menyalurkan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya, kita memakai istilah “penyaluran” (dispensing).

Istilah ini harus dibedakan dari kata benda “zaman” (dispensation), yang mengacu kepada berbagai zaman (masa) yang diatur Allah untuk merampungkan ekonomi-Nya.

Jadi, ketika kita membicarakan pengaturan pemerintahan ilahi, atau pengaturan Allah dalam ekonomi-Nya, kita memakai kata “zaman”, tetapi ketika kita membicarakan Allah menyalurkan diri-Nya ke dalam kita, kita memakai kata “penyaluran”.

Wahyu besar dalam firman yang Tuhan perlihatkan kepada kita terdapat dalam Kitab Wahyu, kitab terakhir Alkitab: Roh yang “belum ada” sebelum kebangkitan Yesus (Yoh. 7:39 Tl.), disebut “Roh itu” (Why. 22:17). Roh itu adalah perampungan sempurna dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Ketika kita menerima Roh itu, kita menerima persona almuhit yang adalah perampungan sempurna dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Ini bukan teologi saya; ini adalah teologi alkitabiah, teologi Alkitab. Tidak ada teologi yang setinggi ini.

Pada permulaan pemulihan Tuhan di China, kita menggunakan banyak hal dari teologi Kaum Saudara. Namun, sejak tahun 1930-an, Tuhan telah membawa kita terus maju, dan sejumlah kemajuan telah terjadi di antara kita. Hari ini, teologi yang kita lihat dari Alkitab jauh lebih tinggi, dalam, dan kaya daripada teologi Kaum Saudara. Butir utama teologi alkitabiah adalah ekonomi Allah, yang sepenuhnya berpusat pada Kristus yang almuhit.

Kita mungkin sudah menikmati persona almuhit ini pada tahap permulaan sebagai Juruselamat kita, tetapi ini tidak berarti kita telah memiliki Dia sebagai tanah permai. Perhatikan lagi perlambangan dalam Perjanjian Lama. Dalam lambang, ketika bani Israel ada di Mesir, mereka menerima Kristus sebagai anak domba, memercikkan darah anak domba untuk penebusan mereka, dan memakan daging anak domba sebagai suplai hayat mereka supaya dapat berjalan keluar dari Mesir. Kemudian di padang gurun mereka terus menikmati Kristus sebagai manna surgawi dan sebagai batu karang hidup yang mengikuti mereka dan yang terbelah untuk mengalirkan air hayat. Di Gunung Sinai, mereka menerima hukum Taurat dan membangun Kemah Suci, keduanya adalah lambang Kristus, dan mereka masuk ke dalam Kemah Suci untuk bersekutu dengan Allah dan menikmati meja roti sajian, kaki pelita, dan mezbah ukupan. Walaupun mereka menikmati Kristus dalam hal-hal ini, mereka belum menikmati tanah permai. Karena itu, mereka masih perlu masuk ke dalam tanah permai.

Kita telah berbagian dalam Kristus sebagai realitas semua butir yang dinikmati oleh bani Israel. Kita telah mengalami Dia sebagai Paskah, manna, batu karang, air hidup, hukum Taurat yang menggambarkan Allah, kurban-kurban persembahan, dan Kemah. Namun, kita belum masuk ke dalam Kristus sebagai tanah permai. Kita masih di perjalanan, dan sementara kita ada dalam perjalanan, Allah menguji kita. Mungkin kita sekarang di perbatasan tanah permai, yaitu, pada tepian Kristus yang almuhit. Jika kita mencoba mengintai negeri itu, kita akan kehilangan iman kita. Daripada mengintai negeri ini, kita harus berkata, “Haleluya untuk Kristus yang almuhit! Dia adalah tanah permai yang mengalirkan susu dan madu. Aku tidak perlu mengintai negeri ini, aku akan masuk ke negeri ini demi iman.” Kita perlu masuk ke dalam negeri ini dan memperoleh negeri ini berdasarkan iman, seperti yang dilakukan oleh Kaleb dan Yosua.