PERJALANAN (4)
Pembacaan Alkitab: Bilangan 12
Dalam berita ini kita akan memperhatikan kegagalan lain yang dicatat dalam Kitab Bilangan, menghujat.
C. Menghujat
Dalam Bilangan 11 dan 12, masalah demi masalah terjadi di antara bani Israel. Mula-mula, mereka yang bajingan (ekstrimis) dari perkemahan Israel bersungut-sungut, mengucapkan perkataan jahat menentang Allah dan Musa, dan kemudian orang campuran bernafsu rakus untuk makan daging. Setelah ini, Miryam dan Harun, kakak perempuan dan laki-laki Musa, keduanya lebih tua daripada Musa, mengikuti orang yang bersungut-sungut dan memberontak berdiri menentang Musa dan menghujat dia. Pada saat itu, ada kekacauan di antara orang Israel; tidak ada damai sejahtera atau ketenteraman. Telah terjadi banyak gosip beredar di antara bangsa itu, dan kemungkinan ini menggerakan Miryam dan Harun untuk mengatai Musa. Saya percaya bahwa motivasi mereka melakukan hal ini telah ada di dalam mereka untuk sejangka waktu; bukan sesuatu yang baru yang timbul pada saat itu.
1. Musa Menikahi Perempuan Kush
Bilangan 12:1b memberi tahu kita bahwa Musa menikahi perempuan Kush. Kita tidak diberi tahu kapan Musa melakukan hal ini; kita juga tidak bisa menemukan di mana atau mengapa dia melakukan hal ini.
2. Miryam dan Harun Berbicara Menentang Musa, Wakil Otoritas Allah
Kelihatannya, dalam Bilangan 12, bani Israel ada di masa yang penuh sungut-sungut, gosip, dan pemberontakan. Maka, “Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya” (Bil. 12:1a). Untuk alasan tertentu, mereka tidak senang dengan Musa mengenai hal ini. Namun, Alkitab tidak memberi tahu kita bahwa Allah terganggu oleh pernikahan ini atau bahkan menyalahkannya.
Musa, Harun, dan Miryam adalah saudara kandung. Mereka semua di atas usia delapan puluh tahun. Musa telah dipanggil Allah, dan Harun juga telah dipanggil Allah. Kita tidak diberi tahu bahwa Miryam dipanggil, tetapi Alkitab mengatakan dia adalah seorang nabiah (Kel. 15:20). Miryam telah ditetapkan Allah, dan ketika bani Israel menyeberang Laut Merah, Miryam memimpin bani Israel memuji Allah (Kel. 15:21). Ketiganya sangat khusus di antara bangsa itu. Mereka berpendidikan baik, mereka dekat dengan Allah, mereka mengetahui hal-hal tentang Allah, dan mereka dianggap pemimpin di antara bangsa Israel. Namun demikian, ada “kuman-kuman” tersembunyi di dalam Miryam dan Harun yang digerakkan oleh “angin-angin” yang berembus dengan diikuti kekacauan. Dari sini kita perlu belajar bahwa dalam melayani Tuhan, kita tidak boleh membiarkan segala sesuatu yang negatif tersembunyi di dalam kita. Segala hal semacam ini yang tidak disingkirkan bersih dari diri kita, cepat atau lambat akan muncul keluar. Kita perlu waspada dan berjaga-jaga terhadap segala kuman yang masih ada di dalam kita. Kita mungkin kelihatannya sangat baik, tetapi ketika angin tertentu mulai berembus atau ketika “badai” tertentu atau kekacauan bangkit, kita mungkin dipengaruhi dan terlibat. Kemudian, seperti Miryam dan Harun, kita akan disingkapkan.
a. Karena Iri Hati
Kuman yang tersembunyi di dalam Miryam dan Harun adalah iri hati. Miryam dan Harun lebih tua daripada Musa, dan Miryam kemungkinan yang tertua. Karena lebih tua daripada Musa, mereka menganggap diri mereka lebih tinggi daripada Musa dan iri akan penghormatan lebih besar yang Musa terima. Miryam dan Harun berkata, “Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?” (Bil. 12:2). Miryam mungkin berkata, “Aku adalah nabiah, orang yang berbicara untuk Allah. Allah telah berbicara bukan saja melalui Musa, tetapi juga melalui aku.” Maka, masalah yang riil di sini adalah soal siapa yang menjadi jurubicara Allah. Anda mungkin dipakai Allah untuk berbicara bagi Dia, tetapi Anda mungkin bukan jurubicara Allah. Pada zaman Musa, jurubicara Allah adalah Musa. Menurut Pentateukh, Allah sering kali berbicara kepada Musa. Kapan kala TUHAN menginginkan sesuatu dilakukan, mula-mula Dia membicarakannya kepada Musa. Sebenarnya, Harun dan Miryam bukanlah jurubicara Allah; hanya satu, Musa, yang menjadi jurubicara Allah. Iri hati mengenai hal ini adalah kuman yang menyebabkan “penyakit” dalam Bilangan 12. Sepanjang generasi, kuman-kuman iri hati dan persaingan mengenai berbicara untuk Tuhan telah ada di antara hamba-hamba Allah.
Dalam perkataan menentang Musa, Miryam dan Harun berbicara menentang wakil kekuasaan Allah. Walaupun Musa lebih muda daripada Miryam dan Harun, Allah telah menunjuk Musa menjadi wakil kekuasaan-Nya, perwakilan kekuasaan-Nya. Allah telah memanggil Harun dan membangkitkan Miryam, tetapi tidak ada petunjuk bahwa Allah memerintahkan mereka untuk menjadi perwakilan-Nya. Namun, Allah memberi tahu Musa dengan jelas bahwa Dia memilih Musa menjadi perwakilan kekuasaan-Nya di bumi (Kel. 3:10-17; 7:1). Karena sifat pemalu Musa, Allah memberikan Harun kepada Musa sebagai pembantunya (Kel. 4:10-16; 6:30-7:1). Namun, ini tidak berarti bahwa Dia menunjuk Harun menjadi kekuasaan-Nya. Menurut pengaturan pemerintahan Allah, Miryam dan Harun harus tunduk kepada Musa. Tetapi mereka memberontak.
b. Mengambil Kesalahan Musa yang Kelihatan sebagai Alasan
Miryam dan Harun mengambil kesalahan Musa yang kelihatan dalam menikahi perempuan Kush sebagai alasan untuk berbicara menentang Musa. Namun, sebenarnya mereka sedang bersaing dengan Musa dalam hal berbicara untuk Allah. Mereka bersaing dengan Musa. Persaingan itulah yang menjadi penyebab sesungguhnya dalam pembicaraan mereka menentang Musa, bukan perempuan Kush.
3. Musa Sangat Lembut, Lebih dari Setiap Manusia yang di Muka Bumi
“Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi” (Bil. 12:3). Dalam kamus Allah, dalam kamus rohani, menjadi lembut adalah tidak melawan, tidak menyerang balik ketika orang lain menyerang dirinya. Dalam undang-undang Kerajaan Surga, satu dari sembilan berkat diberikan kepada orang yang lemah lembut: “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi” (Mat. 5:5). Bukan orang yang menyerang atau menentang yang akan memiliki bumi, melainkan orang yang lemah lembut. Dua Timotius 2:24 mengatakan, “Sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus pandai mengajar, sabar.” Musa adalah orang yang demikian; dia tidak menyerang atau menentang.
Bilangan 12:3 ditulis oleh Musa. Tidak mudah bagi Musa menulis perkataan demikian mengenai dirinya. Ini memperlihatkan kesetiaan; kejujuran Musa (Bil. 12:7; Ibr. 3:2, 5). Apa pun yang Allah suruh tulis, dia tulis, bahkan jika ini adalah sesuatu yang baik mengenai dirinya. Jika dia menolak, berarti dia tidak setia, dan dia berpolitik. Dia akan bermain politik. Dalam setiap wilayah masyarakat manusia, kita dapat melihat permainan politik. Sulit menemukan kejujuran dari orang yang melayani Allah menurut apa yang Allah katakan.
4. Campur Tangan Allah
Dalam Bilangan 12:5-9 Allah turun tangan.
a. Turun dalam Tiang Awan dan Berdiri di Pintu Kemah Itu, Berbicara kepada Harun dan Miryam
“Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya” (Bil. 12:5). Allah menganggap kata-kata Miryam dan Harun serius, karena perkara ini menentang kekuasaan Allah. Menjamah, melawan, atau menentang kekuasaan Allah adalah menyerang takhta Allah. Ini sangat serius, jauh lebih serius dibandingkan sungut-sungut, mengucapkan perkataan jahat, dan nafsu rakus untuk makan daging.
b. Membela Musa
Allah membela Musa sebagai hamba-Nya, orang yang setia dalam segenap rumah-Nya (Bil. 12:7). Allah juga membela Musa sebagai orang yang dengan Dia berbicara berhadap-hadapan, terus terang, dan bukan dengan teka teki, dan sebagai orang yang memandang rupa TUHAN (Bil. 12:8a).
c. Menegur Harun dan Miryam
Allah menegur Harun dan Miryam. Dia menanyai mereka, “Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?” (Bil. 12:8b). Amarah TUHAN membara terhadap mereka, dan Dia meninggalkan mereka (Bil. 12:9).
5. Miryam Dihukum
Dalam Bilangan 12:10-12 kita melihat bahwa Miryam dihukum. Walaupun yang memberontak dua orang, mengapa hanya satu yang dihukum? Mengapa Allah menghukum perempuan, tetapi tidak menghukum yang laki-laki? Kita mungkin mengira laki-laki memikul tanggung jawab lebih besar dan laki-laki harus dihukum, bukan perempuan. Saya percaya, ada dua alasan Allah menghukum Miryam dan bukan Harun. Pertama, kemungkinan Miryam yang mengambil pimpinan dan menghasut dalam pemberontakan ini. Ia adalah penghasut, pencetus, yang menggerakkan Harun. Miryam, bukan Harun, sumber utamanya. Kedua, karena pemberontakan secara khusus tak pantas untuk seorang perempuan. Dalam hal pemberontakan, terhadap orang laki-laki mungkin masih bisa ditolerir, tetapi tidak sama sekali bagi perempuan. Allah menghukum Miryam untuk mengingatkan dan memperingatkan semua perempuan di antara bani Israel, supaya mereka jangan mengikuti Miryam.
a. Sakit Kusta
Miryam dihukum melalui sakit kusta. “Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya bahwa dia kena kusta” (Bil. 12:10). Ini adalah penanggulangan pemerintahan Allah.
b. Harun Memohon Musa untuk Miryam
Harun memohon Musa untuk Miryam (Bil. 12:11-12). Harun telah dihasut oleh saudara perempuannya, dan sekarang dia menjadi pengantara Miryam, yang berdoa syafaat untuk Miryam. Kita harus belajar dari sini untuk tidak mengikuti penghasut. Jika kita mengikuti orang demikian, akhirnya kita mungkin harus memohon untuk orang itu. Dalam memohon untuk Miryam, Harun mengakui kebodohan mereka. “Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami” (Bil. 12:11). Kemudian dia melanjutkan dengan membela Miryam, agar Miryam tidak seperti anak gugur. “Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya” (Bi. 12:12). Harun memohon agar Miryam tidak mati secara mengenaskan.
6. Musa Berdoa untuk Kesembuhan Miryam
Musa berdoa untuk kesembuhan Miryam, katanya, “Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia” (Bil. 12:13). Ini adalah petunjuk lebih lanjut dari kelembutan hati Musa. Jika dia tidak lemah lembut, dia tidak mau berdoa untuk Miryam, sebaliknya, akan membiarkan Miryam mati dalam kustanya. Jika seseorang memberontak melawan Anda, dapatkah Anda berdoa untuk kesembuhan orang itu? Pernahkah Anda berdoa seperti ini?
Allah mendengar doa Musa dan menghukum Miryam dengan mengucilkannya di luar perkemahan selama tujuh hari (Bil. 12:14-15a). Bangsa itu menunda bergerak sampai Miryam diterima kembali (Bil. 12:15b). “Kemudian berangkatlah mereka dari Hazerot dan berkemah di padang gurun Paran” (Bil. 12:16). Prinsip dalam kasus Miryam dan Harun sama dengan kita hari ini. Saya harap Tuhan akan berbicara lebih banyak kepada Anda dibanding apa yang saya katakan, supaya kita semua dapat belajar pelajaran ini.