← Daftar isi Bilangan (1) · bab 13/26

DIBENTUK MENJADI PASUKAN (12)

Pembacaan Alkitab: Bilangan 8

Dalam berita tentang Bilangan 8 ini kita akan dengan singkat membahas dua perkara, menyalakan pelita (Bil. 8:2-4) dan mempersembahkan orang Lewi (orang-orang yang melayani jabatan imam, Bil. 8:5-26). Perkara-perkara ini tidak akan kita bahas secara rinci, melainkan kita hanya akan memperhatikan beberapa butir yang penting saja.

X. MENYALAKAN PELITA

Bilangan 7 membicarakan persembahan-persembahan yang berhubungan dengan transportasi, dan Bilangan 8:2-4 berbicara tentang menyalakan pelita. Setelah persembahanpersembahan itu dipersembahkan, barulah Harun menyalakan lampu.

A. Setelah Berbicara dengan Allah

Melalui Persembahan

Bilangan 7 berakhir dengan Musa berbicara dengan Allah melalui persembahan (Bil. 7:89). Pelita-pelita dinyalakan setelah pembicaraan ini.

B. Ketujuh Pelita Menerangi di Depan Kaki Pelita

Bilangan 8:2 dan 3 mengatakan, “‘Apabila engkau memasang lampu-lampu itu, haruslah ketujuh lampu itu menerangi yang disebelah depan kandil.’ Demikianlah diperbuat Harun. Di sebelah depan kandil dipasangnyalah lampu-lampunya, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.” Di sini kita melihat bahwa ketujuh lampu, yang melambangkan ketujuh Roh (Why. 4:5), memancarkan terang di depan kandil (kaki pelita), memancar ke arah tengah, atau bagian pusat Kemah Suci. Jadi, cahaya pelita berada pada arah yang tepat untuk pelayanan dan pergerakan. Di dalam Kemah Suci tidak ada terang dari matahari, bulan, atau bintang. Tanpa cahaya kaki pelita, seluruh Kemah Suci akan berada dalam kegelapan.

C. Pembuatan Kaki Pelita

“Dan beginilah kandil itu dibuat: dari emas tempaan; kandil itu tempaan, baik kakinya maupun kembangnya; sesuai dengan apa yang telah diperlihatkan TUHAN kepada Musa, demikianlah kandil itu dibuatnya” (Bil. 8:4). Pembuatan kaki pelita itu menggambarkan pembentukan Kristus sebagai penampung terang. Sepotong emas ditempa menjadi berbentuk kaki pelita sesuai dengan pola yang telah Allah perlihatkan kepada Musa (Kel. 25:31-40; 37:17-24). Emas melambangkan sifat ilahi Kristus, dan penempaan emas tersebut melambangkan penderitaan Kristus dalam keinsanian-Nya, yang melaluinya Ia dibentuk sebagai penampung terang ilahi untuk bersinar dalam tempat kediaman Allah, agar orang-orang yang melayani Allah dapat melayani di sana. (Untuk keterangan lebih lanjut mengenai kaki pelita, lihat Pelajaran-Hayat kuningKitab Keluaran, berita 92-94).

Sampai tahap ini, umat sudah siap, transportasi telah dipersembahkan, dan lampu sudah dinyalakan. Dengan demikian, umat Allah dapat mulai melakukan pelayanan-pelayanan rohani mereka kepada-Nya.

XI. MEMPERSEMBAHKAN ORANG LEWI (ORANG-ORANG YANG MELAYANI DALAM IMAMAT)

Mempersembahkan orang Lewi, orang-orang yang melayani dalam imamat (jabatan imam), terdapat dalam Bilangan 8:5-26. Sebenarnya, pekerjaan orang Lewi seharusnya menjadi satu dengan jabatan imam. Karena pengaturan Perjanjian Lama, Allah membaginya menjadi dua bagian. Jabatan imam adalah pelayanan ilahi yang diberikan langsung kepada Allah, dan orang-orang Lewi melayani jabatan imam. Hal-hal seperti perawatan binatang-binatang dan pengangkutan perabotan Kemah Suci adalah pekerjaan orang Lewi.

A. Mentahirkan Orang Lewi

“Ambillah orang Lewi dari tengah-tengah orang Israel dan tahirkanlah mereka” (Bil. 8:6). Semua orang Lewi harus ditahirkan. Bilangan 8:7-8 berbicara tentang pentahiran orang Lewi.

1. Memercikkan Air Penghapus Dosa kepada Mereka

“Beginilah harus kaulakukan kepada mereka untuk mentahirkan mereka: percikkanlah kepada mereka air penghapus dosa” (Bil. 8:7a). Memercikkan air penghapus dosa kepada orang Lewi melambangkan penerapan khasiat penebusan Kristus ke atas kaum beriman yang melayani. Hari ini prinsipnya sama dengan kita. Setiap hari, pagi-pagi, kita ditahirkan kembali melalui pemercikan darah penebusan Kristus.

2. Mencukur Seluruh Tubuh Mereka

Mengenai pentahiran orang Lewi, Musa diperintahkan untuk “Kemudian haruslah mereka mencukur seluruh tubuhnya” (Bil. 8:7b). Ini melambangkan pemotongan semua kekuatan alamiah. Rambut di atas tubuh, yang melambangkan kekuatan alamiah, haruslah dicukur. Ini menunjukkan bahwa dalam pelayanan kita kepada Allah, kita tidak boleh mengandalkan kekuatan alamiah kita.

3. Mencuci Pakaian Mereka dan Mentahirkan Diri Mereka

Orang Lewi juga diharuskan “mencuci pakaiannya dan dengan demikian mentahirkan dirinya” (ayat 8:7c). Ini melambangkan penanggulangan sikap mereka dan pribadi mereka. Baik diri pribadi maupun sikap orang-orang yang melayani harus ditanggulangi.

4. Mempersembahkan Seekor Lembu Jantan Muda untuk

Kurban Penghapus Dosa dan Seekor Lembu Jantan Muda yang Lain

untuk Kurban Bakaran dan Kurban Sajiannya

“Sesudah itu haruslah mereka mengambil seekor lembu jantan muda dengan kurban sajiannya dari tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, juga seekor lembu jantan muda yang lain haruslah kauambil untuk kurban penghapus dosa” (Bil. 8:8). Orang-orang Lewi mempersembahkan seekor lembu jantan muda (Kristus yang segar) untuk kurban penghapus dosa. Ini menunjukkan bahwa mereka berdosa. Mereka juga mempersembahkan seekor lembu jantan muda yang lain untuk kurban bakaran. Ini menunjukkan bahwa mereka harus hidup bagi Allah. Kurban sajiannya dari tepung terbaik diolah dengan minyak menunjukkan bahwa mereka harus hidup sebagaimana Kristus hidup dalam keinsanian-Nya. Kristus yang mereka persembahkan menunjukkan bahwa mereka harus sama seperti persembahan mereka. Akan tetapi, mereka tidaklah seperti itu. Jadi, mereka memerlukan Kristus untuk menjadi persembahan mereka dan pengganti mereka. Mereka memerlukan Kristus sebagai kurban penghapus dosa, kurban bakaran, dan kurban sajian.

B. Mempersembahkan Orang Lewi kepada Allah

Setelah orang Lewi ditahirkan, mereka dipersembahkan kepada Allah. Bilangan 8:9-22 menggambarkan perihal mempersembahkan orang Lewi ini.

1. Umat Israel Meletakkan Tangan Mereka ke Atas Orang Lewi

“Selanjutnya haruslah kausuruh orang Lewi mendekat ke depan Kemah Pertemuan, dan kaupanggil berkumpul segenap umat Israel. Apabila engkau telah menyuruh orang Lewi mendekat ke hadapan TUHAN, maka haruslah orang Israel meletakkan tangannya atas orang Lewi itu” (Bil. 8:9-10). Di sini kita melihat bahwa umat Israel meletakkan tangan mereka atas orang Lewi. Ini berarti orang Israel menyatukan diri mereka dengan orang Lewi.

Sebenarnya, pelayanan atas Kemah Suci seharusnya dikerjakan oleh anak-anak Israel, namun Allah memilih orang Lewi untuk menggantikan anak-anak Israel. Sekarang orang-orang Lewi ini akan dipersembahkan kepada Allah. Karenanya, anak-anak Israel meletakkan tangan mereka atas orang Lewi untuk menyatukan diri mereka dengan orang Lewi.

2. Harun Mempersembahkan Orang Lewi kepada Allah sebagai Persembahan Timangan

“Dan Harun harus mengunjukkan (mempersembahkan) orang Lewi itu sebagai persembahan timangan (Tl.) dari antara orang Israel di hadapan TUHAN, dan demikianlah mereka diuntukkan melakukan pekerjaan jabatannya bagi TUHAN” (Bil. 8:11). Dalam perlambangan, persembahan timangan melambangkan Kristus yang bangkit. Di sini kurban itu bukan terdiri atas ternak, melainkan orang-orang yang hidup, orang-orang Lewi. Orang Lewi dipersembahkan sebagai persembahan timangan supaya mereka dapat melakukan pelayanan Allah.

3. Orang Lewi Meletakkan Tangannya atas Lembu-lembu Jantan,

Musa Mempersembahkannya sebagai Kurban Penghapus Dosa dan yang Lain sebagai Kurban Bakaran

“Setelah orang Lewi meletakkan tangannya atas kepala lembu-lembu jantan muda itu, maka haruslah yang seekor diolah sebagai kurban penghapus dosa dan yang lain sebagai kurban bakaran bagi TUHAN untuk mengadakan pendamaian bagi orang Lewi” (Bil. 8:12). Orang Lewi menumpangkan tangan ke atas lembu jantan muda itu berarti mereka menyatukan diri mereka dengan lembu jantan itu. Melalui menumpangkan tangan, tiga pihak, anak-anak Israel, orang Lewi, dan lembu jantan, disamakan satu dengan yang lain. Musa mempersembahkan seekor lembu jantan muda sebagai kurban penghapus dosa dan yang lain sebagai kurban bakaran, untuk mengadakan pendamaian bagi orang Lewi. Orang Lewi telah ditahirkan, tetapi mereka masih berada di bawah penghakiman karena mereka masih mempunyai dosa. Di satu pihak, Harun dapat mempersembahkan mereka kepada Allah, tetapi, di pihak lainnya, Musa harus mengadakan pendamaian bagi mereka.

4. Musa Menghadapkan Orang Lewi kepada Harun

dengan Anak-anaknya dan Mengunjukkan Mereka sebagai Persembahan Timangan bagi TUHAN

“Maka haruslah engkau menghadapkan orang Lewi kepada Harun dengan anak-anaknya dan mengunjukkan mereka sebagai persembahan timangan (Tl.) bagi TUHAN” (Bil. 8:13). Mula-mula Harun mempersembahkan orang Lewi kepada Allah sebagai kurban timangan sebelum penebusan (Bil. 8:11). Kemudian, Musa mempersembahkan kurban penghapus dosa dan kurban bakaran untuk mengadakan pendamaian bagi orang-orang Lewi. Setelah itu ia menghadapkan mereka kembali kepada Harun dan anak-anaknya dan mempersembahkan mereka sebagai kurban timangan bagi TUHAN.

5. Musa Memisahkan Orang-orang Lewi dari Tengah-tengah Orang Israel

“Demikianlah harus engkau memisahkan (Tl.) mereka dari tengah-tengah orang Israel, supaya orang Lewi itu menjadi kepunyaan-Ku” (Bil. 8:14). Melalui prosedur yang terdahulu, Musa memisahkan orang-orang Lewi dari tengah-tengah orang Israel, dan orang Lewi menjadi milik Allah.

6. Orang Lewi Masuk untuk Melakukan Pekerjaan

pada Kemah Pertemuan Ganti Semua Anak Sulung Orang Israel

“Aku mengambil orang Lewi sebagai ganti semua anak sulung yang ada pada orang Israel” (Bil. 8:18). Karenanya, orang Lewi masuk untuk melakukan pekerjaan pada Kemah Pertemuan ganti semua anak sulung yang ada pada bani Israel (Bil. 8:15-18). Jika orang Lewi tidak melaksanakan pelayanan ini, maka anak sulung yang ada pada orang Israel akan diminta untuk melaksanakannya.

7. Allah Telah Menyerahkan Orang Lewi kepada Harun dan Anak-anaknya

“Dan Aku (telah) menyerahkan orang Lewi dari tengah-tengah orang Israel sebagai pemberian kepada Harun dan anak-anaknya untuk melakukan segala pekerjaan jabatan bagi orang Israel di Kemah Pertemuan, dan untuk mengadakan pendamaian bagi orang Israel, supaya orang Israel jangan kena tulah apabila mereka mendekat ke tempat kudus” (Bil. 8:19). Di sini kita melihat bahwa Allah memberikan orang Lewi kepada Harun (kepala imam), dan kepada anak-anaknya (para imam), untuk melakukan pekerjaan jabatan dalam Kemah Pertemuan dan untuk mengadakan pendamaian bagi orang Israel.

C. Usia bagi Pelayanan Orang Lewi

Bilangan 8:23-26 membicarakan usia bagi pelayanan orang Lewi.

1. Mulai Dua Puluh Lima Tahun ke Atas

“Inilah yang berlaku bagi orang Lewi: setiap orang yang berumur dua puluh lima tahun ke atas wajib bertugas, supaya ia bekerja pada Kemah Pertemuan” (Bil. 8:24). Menurut standar Alkitab, untuk melayani, seorang Lewi, sedikitnya harus berumur 25 tahun, umur yang diperlukan untuk mendapat pendidikan penuh dan untuk mencapai pertumbuhan yang matang dari manusia seutuhnya.

2. Mulai dari Umur Lima Puluh Tahun

“Tetapi jika ia berumur lima puluh tahun haruslah ia dibebaskan dari pekerjaan itu, sehingga tak usah ia bekerja lebih lama lagi. Ia boleh membantu saudara-saudaranya di Kemah Pertemuan dalam menjalankan tugas mereka, tetapi tidak usah lagi ia menjabat pekerjaan itu. Demikianlah harus kaulakukan kepada orang Lewi mengenai tugas mereka” (Bil. 8:25-26). Mulai umur lima puluh tahun orang Lewi dibebaskan dari pekerjaan itu, tetapi mereka perlu membantu saudara-saudara mereka dalam Kemah Pertemuan, untuk menjalankan tugas mereka. Ini menunjukkan bahwa walaupun mereka harus pensiun dari pekerjaan itu, pengalaman mereka masih tetap dibutuhkan. Orang Lewi memerlukan 25 tahun persiapan dan 25 tahun untuk mengerjakan tugas sebenarnya. Setelah itu, mereka membantu saudara-saudara mereka. Apa yang telah mereka peroleh dalam pengalaman selama 25 tahun pekerjaan mereka masih tetap diperlukan setelah mereka berusia 50 tahun.

Tugas dalam Kemah Pertemuan itu almuhit. Ada banyak tugas yang berbeda-beda berkenaan dengan pelayanan dalam Kemah Suci beserta segala isinya, mezbah, dan pelataran luar. Masing-masing persembahan juga mempunyai peraturannya tersendiri; peraturan kurban penghapus dosa, peraturan kurban penebus salah, peraturan kurban bakaran, peraturan kurban pendamaian, dan peraturan kurban sajian. Selain persembahan-persembahan dasar ini, terdapat sejumlah persembahan lainnya, masing-masing dengan peraturannya tersendiri. Karena terdapat banyak peraturan, maka perlu ada “pengacara-pengacara” untuk mengajari bangsa itu. Sebenarnya, “pengacara-pengacara” ini adalah para imam yang mengajari bangsa itu mengenai peraturan persembahan-persembahan tersebut. Yang penting di sini adalah adanya kebutuhan akan orang-orang berpengalaman untuk mengajari umat Allah agar mereka tidak melakukan kesalahan yang berdosa terhadap Allah. Karena Allah serius dalam hal peraturan-peraturan untuk mengatur Kemah Suci, persembahan-persembahan, dan pekerjaan orang Lewi, maka perlu ada sejumlah orang yang tahu bagaimana memelihara hal-hal itu sehingga pelayanan kepada Allah bisa berlangsung dengan lancar.

Di sini, dalam Kitab Bilangan, kita mendapatkan lambang yang utuh dari pelayanan gereja. Saya berharap Tuhan membuka mata kita untuk melihat bahwa kalau kita bandingkan dalam pelayanan gereja, kita agak kendur. Mengenai prinsip rohani, kita tidak begitu bersungguh-sungguh, ketat, dan benar. Kesalahan yang kita perbuat secara tidak sadar bisa menjadi alasan yang menyebabkan kita telah kehilangan banyak berkat Allah. Dalam melayani Allah, kita tidak boleh kendur, tetapi harus serius. Kita semua, terutama kaum muda, perlu belajar peraturan-peraturan rohani dan hukum-hukum rohani berkenaan dengan pelayanan kepada Allah.