← Daftar isi Bilangan (1) · bab 12/26

DIBENTUK MENJADI PASUKAN (11)

Pembacaan Alkitab: Bilangan 7:1-10,84-89

Dalam berita ini kita sampai pada bagian baru dari Bilangan 7. Pasal ini membicarakan persembahan orang Israel.

IX. PERSEMBAHAN

Setelah menanggulangi kenajisan, menguji kecurigaan, nazar orang nazir, dan berkat Allah Tritunggal, situasi antara Allah dengan orang Israel sampai pada suatu tahap baru. Di pihak bangsa itu, segalanya sudah siap. Mereka telah dibentuk menjadi pasukan dan berkemah secara teratur. Di pihak Allah, Kemah Suci telah dibangun dan didirikan, dan berdiri di atas tanah, menyatakan bahwa Allah yang di langit sekarang mempunyai tempat kediaman di bumi, bahkan di padang gurun. Dari pandangan sekilas, kita melihat dua hal: Kemah Suci dan mezbah. Kemah Suci melambangkan perwujudan Allah di bumi. Perwujudan ini adalah tempat kediaman Allah, di mana Ia dapat tinggal di antara manusia dan yang melaluinya manusia tidak hanya dapat berkontak dengan-Nya, tetapi juga masuk ke dalam-Nya untuk mengambil bagian dalam segala apa adanya Dia dalam unsur-unsur dan atribut-atribut-Nya. Unsur-unsur dan atribut-atribut-Nya ini dilambangkan oleh roti sajian, kaki pelita, mezbah ukupan, dan tabut. Manusia dapat masuk ke dalam Allah. Betapa menakjubkan!

Sebelumnya, Allah tidak mempunyai rumah di bumi. Dikatakan dari aspek bumi, Allah tidak mempunyai rumah. Ia tidak mempunyai tempat untuk didatangi, didiami, atau ditinggali. Abraham adalah teman karib-Nya dan sangat baik terhadap-Nya. Allah sangat menyukai Abraham sebagai teman karib, tetapi Ia hanya dapat datang untuk mengunjunginya, tinggal dalam kemah teman-Nya selama beberapa jam dan kemudian pergi. Ia tidak memiliki tempat untuk menetap dan beristirahat. Ketika bani Israel pergi ke Mesir, mereka dikuasai, dijajah oleh Firaun, yang menjadikan mereka budak-budak. Allah tidak dapat berbuat apa-apa. Pada saat itu, Ia dapat dianggap hanya sebagai Allah di langit, belum sebagai Allah di bumi.

Dalam Kitab Bilangan, situasinya sama sekali berbeda. Sekarang, di padang gurun, di antara kurang lebih dua juta bani Israel, Allah bisa mendapatkan rumah, tempat tinggal, dan dapat menetap serta beristirahat sepenuhnya. Juga, umat-Nya telah dibentuk menjadi pasukan yang teratur, rapi tersusun untuk menyatakan sesuatu kepada musuh Allah. Di samping itu umat pilihan Allah mempunyai hak, melalui mezbah (yaitu penebusan), melalui pencucuran darah kurban persembahan (mengacu kepada Kristus), bukan hanya untuk menghubungi Allah, tetapi juga untuk masuk ke dalam-Nya. Pada tahap ini dalam Kitab Bilangan, Allah tidak lagi hanya berada di langit; Ia adalah Allah di langit dan di bumi. Jadi, Allah sekarang mempunyai dua tempat tinggal, langit dan bumi. Tempat tinggal yang lebih disukai-Nya adalah tempat tinggal-Nya di bumi.

Kemah Suci beserta semua perabotannya sepenuhnya menggambarkan dan melambangkan perwujudan Allah Tritunggal, Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Berada dalam Kemah Suci berarti berada dalam Allah Tritunggal yang terwujud dan telah melalui proses. Begitu kita berada dalam Kemah Suci, kita dapat berwisata di dalamnya dan menyaksikan semua isinya. Kehidupan orang Kristen merupakan sebuah kehidupan berwisata; suatu kehidupan yang setiap hari berkeliling dalam Kemah Suci, lambang Allah Tritunggal. Ini berarti setelah masuk ke dalam Kemah Suci; kita dapat berwisata untuk melihat sifat-sifat dan unsur-unsur Allah. Ketika kita mengadakan wisata seperti ini, kita akan melihat roti sajian, kaki pelita, dan mezbah ukupan yang kesemuanya melambangkan Kristus. Allah itu hayat, meja roti sajian menyajikan roti hayat. Allah itu terang, kaki pelita itu menyinari kita, dan kita berada dalam terang. Allah menerima orang dosa yang bertobat dan ditebus, dan mezbah ukupan menandakan sambutan Allah terhadap kita.

Sudahkah Anda berwisata dalam Kemah Suci hari ini? Setelah Anda bangun pagi ini, apakah Anda berseru, “Oh Tuhan Yesus”, dan masuk ke dalam tempat kediaman Allah? Dalam tempat kediaman Allah, kita melihat hayat, terang, ukupan bagi perkenanan, dan tabut. Setelah meluangkan waktu di mezbah untuk menanggulangi dosa-dosa kita, kita dapat masuk ke dalam Kemah Suci dan berwisata, melihat meja roti sajian, kaki pelita dan mezbah ukupan. Kemudian kita bisa masuk ke dalam tempat maha kudus dan merenung di depan tabut. Kita bahkan bisa membuka tabut dan melihat hukum kesaksian, tongkat yang bertunas, dan manna yang tersembunyi. Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang berwisata, suatu kehidupan yang mengelilingi Kemah Suci setiap hari.

A. Mengurapi Kemah Suci Beserta Perabotan-perabotannya

dan Mezbah dengan Perkakas-perkakasnya

Bilangan 7:1 mengatakan “Pada waktu Musa selesai mendirikan Kemah Suci, diurapinya dan dikuduskannyalah itu dengan segala perabotannya, juga mezbah dengan segala perkakasnya.” Ini menunjukkan bahwa setelah mendirikan Kemah Suci, Musa mengurapi Kemah Suci beserta perabotan-perabotannya dan mezbah dengan perkakas-perkakasnya.

Kita perlu tahu makna rohani dari pengurapan. Minyak yang dengannya pengurapan dilaksanakan bisa disamakan dengan cat, dan pengurapan dapat disamakan dengan mengecat. Minyak urapan, yang merupakan gabungan dari unsur-unsur yang berbeda, melambangkan Roh almuhit yang majemuk. Roh yang majemuk ini adalah perampungan dari Allah Tritunggal yang melalui proses. Sebagai perampungan dari Allah Tritunggal yang melalui proses, Roh almuhit meliputi sifat ilahi, sifat insani, inkarnasi, kehidupan insani, kematian yang almuhit, kebangkitan yang ajaib, dan kenaikan yang agung dari Kristus. Karena itu, minyak tersebut melambangkan Allah Tritunggal beserta segala yang telah dilalui-Nya (lihat Pelajaran-Hayat Kitab Keluaran,kuning berita 157-166). Mengurapi adalah menuang minyak ke atas benda yang diurapi. Ini dapat diilustrasikan dengan mengecat. Mengecat suatu benda adalah membubuhkan cat pada benda tersebut. Akhirnya, lapisan demi lapisan cat dibubuhkan ke atas benda itu. Demikian juga, mengurapi adalah membubuhkan Allah Tritunggal yang melalui proses, dan rampung dengan sifat ilahi, sifat insani, kehidupan insani, kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya, sebagai suatu kesatuan, pada benda yang diurapi.

Tanpa pengurapan, Kemah Suci dan mezbah tidak ada hubungannya dengan Allah. Jadi, minyak urapan, lambang Allah Tritunggal yang melalui proses, rampung, dan majemuk dengan semua unsur dan proses-Nya, sebagai suatu kesatuan, harus dibubuhkan ke atas Kemah Suci dan mezbah. Mulai saat itu dan seterusnya, Kemah Suci dan mezbah mutlak menjadi satu dengan Allah Tritunggal yang rampung dan majemuk. Hari ini kita juga telah diurapi. Ini berarti kita disamakan dengan Allah Tritunggal yang melalui proses. Setelah Kemah Suci dan mezbah diurapi, keduanya menjadi maha kudus, dan siapa pun yang menjamahnya dikuduskan, dijadikan kudus. Di samping itu, dengan diurapi, dengan disatukan dengan Allah Tritunggal yang melalui proses, Kemah Suci dan mezbah dipersembahkan.

B. Mempersembahkan Enam Buah Kereta dan Dua Belas Ekor Lembu

Bilangan 7:2-9 berbicara tentang mempersembahkan enam buah kereta dan dua belas ekor lembu. Persembahan ini adalah untuk pengangkutan Kemah Suci (tidak termasuk perabotan-perabotannya) dan mezbah, dan untuk mengimbangi pergerakan Allah dalam tempat kediaman-Nya di bumi. Keenam buah kereta dan kedua belas ekor lembu dipersembahkan oleh orang-orang yang telah menanggulangi kecemaran dan telah dikuduskan untuk menerima berkat Allah dalam trinitas ilahi-Nya. Allah, sesuai dengan ekonomi kekal-Nya, tidak akan mengerjakan apa-apa sendirian. Ia mengerjakan sesuatu sendirian hanya dalam ciptaan lama. Namun, dalam ciptaan baru, Ia tidak akan melakukan apa pun sendirian dan Ia tidak akan bergerak sendirian. Ia harus bergerak dan bekerja melalui manusia.

Dalam Kitab Bilangan, Allah yang maha kuasa bergerak dalam rumah yang dapat berpindah-pindah dalam kereta-kereta yang ditarik oleh lembu. Kita mungkin merasa terkejut mengetahui Allah bergerak dengan cara demikian. Pada akhir Alkitab Tuhan berkata, “Aku datang segera” (Why. 22:20). Mengapa Tuhan masih belum datang juga? Tampaknya Ia datang sangat lambat. Sebenarnya bukanlah Dia yang berada dalam kereta yang lambat, tetapi lembu-lembunya yang lambat. Ini menunjukkan bahwa kendaraan yang kita persembahkan kepada-Nya lambat. Jika kita mempersembahkan alat transportasi yang lebih cepat kepada Allah, seperti Boeing 747, sudah tentu Ia akan memakainya. Maksud saya di sini adalah menurut ekonomi Perjanjian Baru Allah, Allah tidak akan bergerak, bertindak, atau mengerjakan apa pun sendirian. Ia memerlukan kerja sama manusia, bahkan koordinasi manusia. Ia memerlukan kita, dan kita perlu mempersembahkan diri kita kepada-Nya.

C. Mempersembahkan Dua Belas Pinggan Perak,

Dua Belas Bokor Penyiraman dari Perak,

dan Dua Belas Cawan Berisi Ukupan

Para pemimpin kedua belas suku mempersembahkan 12 pinggan perak, 12 bokor penyiraman perak, dan 12 cawan emas berisi ukupan (Bil. 7:84-86). Mereka bekerja sama dengan Allah dalam pelayanan-pelayanan kepada Allah dengan mempersembahkan perkakas-perkakas perak dan emas serta ukupan, yang melambangkan Kristus dalam penebusan-Nya dan sifat ilahi-Nya sebagai wangi-wangian yang memuaskan Allah.

Benda-benda ini dipersembahkan oleh kedua belas suku dalam 12 hari, melambangkan baik orang-orang yang mempersembahkan dan waktu persembahannya secara kekal lengkap dalam administrasi Allah. Perlu waktu 12 hari untuk mempersembahkan semua benda itu. Ini menunjukkan bahwa Allah itu sabar terhadap kelambanan manusia dalam koordinasinya. Walaupun kecepatannya lambat, baik orang-orang yang mempersembahkan maupun waktu persembahannya secara kekal lengkap dan sempurna untuk administrasi ilahi.

D. Berbagai Kategori Persembahan

Para pemimpin kedua belas suku juga mempersembahkan 12 ekor lembu jantan, 12 ekor domba jantan, 12 ekor domba berumur 1 tahun, dan kurban sajian untuk kurban bakaran; 12 ekor kambing jantan untuk kurban penghapus dosa; 24 ekor lembu jantan, 60 ekor domba jantan, 60 ekor kambing jantan, dan 60 ekor domba jantan berumur setahun untuk kurban pendamaian (Bil. 7:87-88 Tl.).

Kita harus mempersembahkan diri kita kepada Allah untuk mengimbangi keperluan-Nya bagi pergerakan-Nya. Persembahan ini adalah kerja sama kita dengan Allah. Bagaimanapun, karena kita berdosa, kita tidak dapat bekerja sama dengan Allah melalui diri kita sendiri. Jika kita mencoba melakukan hal ini, kita tidak akan diperkenan. Kita perlu Kristus. Mula-mula, kita harus mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita untuk menebus kita dari dosa. Kemudian, kita harus mempersembahkan Kristus sebagai kurban bakaran agar kita bisa hidup untuk Allah dalam Kristus, dengan Kristus, dan oleh Kristus. Sebagai kurban bakaran kita, Kristus adalah untuk kehidupan kita bagi Allah. Hasil dari kurban penghapus dosa dan kurban bakaran adalah kurban pendamaian, melambangkan kenikmatan kita dengan Allah dan kenikmatan Allah dengan kita. Hasil dari kurban penghapus dosa dan kurban bakaran adalah kurban pendamaian yang kaya, yang melaluinya kita dan Allah saling menikmati Kristus dalam damai.

1. Untuk Menyembah Allah

Kurban-kurban ini adalah untuk menyembah Allah. Penyembahan yang benar terhadap Allah sangatlah berbeda dengan penyembahan dalam agama Yahudi, agama tertentu, dan juga agama Kristen. Menurut Alkitab, untuk menyembah Allah, kita harus mempersembahkan diri kita kepada-Nya. Kemudian kita harus mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa, kurban bakaran, dan kurban pendamaian kita. Hasilnya, Allah dipuaskan, kita juga dipuaskan. Kemudian, kita dan Allah dapat duduk bersamasama untuk menikmati Kristus secara timbal balik.

Bahkan untuk transportasi rumah Allah yang dapat bergerak pindah, ada kenikmatan timbal balik antara Allah dengan umat-Nya dalam Kristus sebagai kurban penghapus dosa, kurban bakaran, dan kurban pendamaian. Prinsipnya sama bagi kita hari ini. Misalnya, ketika Anda membersihkan balai pertemuan, Anda harus datang dalam cara yang ditunjukkan oleh lambang dalam Bilangan 7. Ini berarti, mula-mula Anda harus mempersembahkan diri Anda untuk bekerja sama dengan Allah dan kemudian mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa, kurban bakaran, dan kurban pendamaian Anda. Jika Anda mempersembahkan Kristus secara demikian, Anda dan Allah akan menikmati Kristus dalam kebersamaan dan dipuaskan bersama-Nya.

2. Memuaskan Allah Melalui Kurban Bakaran, Kurban Penghapus Dosa, dan Kurban Pendamaian

Bila kita melakukan penyembahan terhadap Allah dengan benar, Allah dipuaskan oleh kurban bakaran, kurban penghapus dosa, dan kurban pendamaian. Semua kurban ini melambangkan Kristus sebagai penebusan umat Allah dalam berbagai aspek.

3. Dipersembahkan oleh Kedua Belas Suku dalam Dua Belas Hari; Jumlah Kurban-kurbannya Adalah Dua Belas Dikalikan Satu, Dua, atau Lima

Kurban-kurban ini dipersembahkan oleh kedua belas suku dalam dua belas hari. Jumlah dari kurban-kurban adalah dua belas dikalikan satu (12), dua (24), atau lima (60), menandakan bahwa waktu mempersembahkan, orang-orang yang mempersembahkan, dan kurban-kurbannya secara kekal lengkap dalam administrasi Allah.

E. Memberikan Waktu bagi Musa untuk Berbicara dengan Allah

Persembahan dalam Bilangan 7 memberikan waktu bagi Musa untuk berbicara kepada Allah. “Apabila Musa masuk ke dalam Kemah Pertemuan untuk berbicara dengan Dia, maka ia mendengar suara yang berfirman kepadanya dari atas tutup pendamaian, yang di atas tabut hukum Allah, dari antara kedua kerub itu, demikianlah Ia berfirman kepadanya” (Bil. 7:89). Pada tutup pendamaian di atas tabut hukum, terjadi percakapan antara manusia dengan Allah. Dalam percakapan ini Musa bisa mendengar suara Allah. Betapa ajaib Allah dan manusia dapat menjadi satu sampai pada tingkat di mana mereka bisa bercakap-cakap seperti itu!