← Daftar isi Bilangan (1) · bab 14/26

DIBENTUK MENJADI PASUKAN (13)

Pembacaan Alkitab: Bilangan 7:1, 87-88; 8:12; 6:14-17

Dalam berita ini saya ingin memberikan sepatah kata mengenai perbekalan ilahi yang diwahyukan dalam Bilangan 6—9. Bilangan 5:1—9:14 merupakan suatu bagian yang dapat dianggap sebagai sisipan dalam catatan tentang pembentukan pasukan itu. Sisipan ini meliputi dua hal, persyaratan Allah dan perbekalan Allah. Mula-mula kita membahas persyaratan Allah dan setelah itu kita membahas perbekalan Allah. Bilangan 5—6 dapat dianggap sebagai persyaratan Allah; yang meliputi berbagai penanggulangan, ujian, dan tuntutan tertinggi bagi orang nazir. Semuanya ini adalah persyaratan Allah atas umat tebusan-Nya untuk membentuk mereka menjadi pasukan-Nya. Bilangan 7—8 dan bagian depan dari Bilangan 9 bisa dianggap sebagai perbekalan ilahi. Sekarang, mari kita bahas hal-hal yang termasuk dalam perbekalan ilahi.

MINYAK URAPAN

Lambang dari Allah Tritunggal yang Telah Melalui Proses dan Rampung

Hal pertama dari perbekalan ilahi dalam pasal-pasal ini adalah minyak untuk mengurapi Kemah Suci dan semua perabotannya dan mezbah beserta segala perkakasnya (Bil. 7:1). Minyak melambangkan Allah Tritunggal yang telah rampung setelah melewati semua proses. Dalam seluruh Alkitab, minyak ini merupakan salah satu perbekalan terbesar yang telah Allah siapkan bagi umat tebusan-Nya. Sampai Bilangan 7, Kemah Suci dan mezbah telah dibangun oleh Allah melalui umat-Nya dan merupakan milik Allah. Namun, jika tidak diurapi, Kemah Suci dan mezbah tetap terpisah dari diri Allah, juga tidak ada hubungannya dengan hayat Allah, sifat Allah, atau sesuatu yang telah Allah rampungkan, dapatkan, dan capai.

Kita diurapi, berarti Allah Tritunggal yang telah melalui proses dimasukkan ke dalam kita dan ke atas kita, bahkan bersatu dengan kita. Kita bisa memakai pengecatan benda yang terbuat dari kayu sebagai ilustrasi. Setelah beberapa lapisan cat dibubuhkan pada benda tersebut, ia benar-benar menjadi satu dengan catnya. Benda tersebut mungkin terbuat dari kayu, tetapi setelah dicat, kita tidak melihat kayunya lagi; sebagai gantinya, kita melihat sifat, intisari, unsur, karakter, penampilan, warna, dan ekspresi dari cat tersebut, karena cat tersebut telah dibubuhkan pada benda yang terbuat dari kayu itu dan telah menjadi satu dengannya. Kita diurapi oleh Allah berarti kita “dicat” dengan-Nya, Allah sendiri diletakkan ke dalam kita dan ke atas kita.

Setelah pembuatan Kemah Suci dan mezbah, Allah masuk untuk ‘mencat’ kedua benda ini dengan minyak urapan, lambang dari diri-Nya sendiri bukan sebagai Allah yang semula, melainkan sebagai Allah yang telah rampung. Dalam kekekalan yang lampau, Allah itu benar-benar sempurna, tetapi Ia belum rampung. Ia mempunyai sifat-sifat ilahi, tetapi tidak mempunyai sifat insani. Bagaimanapun, menurut kehendak-Nya, dalam kekekalan yang akan datang, Ia, Allah itu sendiri, akan menjadi Allah yang tidak hanya memiliki sifat ilahi, tetapi juga memiliki sifat insani. Karena dalam kekekalan yang lampau, Allah belumlah rampung, Ia harus masuk ke dalam waktu, jembatan antara kedua kekekalan tersebut, untuk melalui banyak proses agar menjadi rampung.

Sebelum Allah menjadi manusia, Ia pernah datang kepada Abraham dalam Kejadian 18 dalam rupa manusia. Kira-kira tahun 1989, sebuah jurnal denominasi mengakui bahwa orang yang datang kepada Abraham ini adalah Yesus. Allah datang dan berbicara kepada Abraham seperti kepada seorang teman. Abraham menghidangkan makanan untuk Tuhan, dan Ia memakannya. Allah sendiri makan makanan yang dihidangkan untuk-Nya oleh Abraham. Selain itu, Abraham membawakan-Nya air, dan ia membasuh kaki-Nya. Ketika Tuhan akan pergi, Ia tidak pergi dengan cepat-cepat. Sambil menemani-Nya, Abraham berjalan bersama-Nya dan mengantar-Nya pergi. Abraham tidak berdoa kepada orang ini, melainkan berbicara kepada-Nya sebagai seorang teman. Menurut Kejadian 18, Allah menampakkan diri kepada Abraham dalam rupa manusia jauh sebelum Ia berinkarnasi. Hal-hal seperti ini mengenai persona Tuhan, tidak dapat kita pahami.

Di malam hari pada hari kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus kembali kepada murid-murid-Nya dalam tubuh jasmani (Luk. 24:37-43; Yoh. 20:19-29). Tanpa membuka pintu, Ia tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka (Yoh. 20:19). “Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu” (Luk. 24:37). Tuhan berkata kepada mereka, “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku. Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku” (Luk. 24:39). Setelah berkata demikian, “Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka” (Luk. 24:40). Kemudian Ia bertanya kepada mereka apakah mereka mempunyai makanan, dan ketika mereka memberi-Nya sepotong ikan goreng, “Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka” (Luk. 24:41-43). Pikiran kita yang terbatas tidak dapat memahami bagaimana Tuhan Yesus dengan tubuh daging dan tulang, dapat tiba-tiba masuk ke dalam sebuah ruangan yang pintu-pintunya tertutup. Inilah persona Kristus yang ajaib.

Dalam kekekalan yang lampau, Allah tidak memiliki tubuh jasmani. Ia harus melalui proses tertentu untuk membuat diri-Nya rampung, sehingga Ia bisa dirampungkan. Ia sudah sempurna, tetapi Ia tidak hanya mau sem-purna, Ia juga mau diproses agar menjadi rampung. Ia tidak ingin hanya menjadi Allah untuk selamanya; Ia ingin menjadi manusia-Allah. Dalam kekekalan yang lampau Ia adalah Allah, tetapi Ia bukanlah manusia-Allah. Karena itu, dalam waktu, Ia telah melalui banyak proses agar menjadi sempurna dan rampung.

Minyak Urapan Melambangkan Allah yang Telah Rampung

Allah yang telah rampung atau sempurna dilambangkan dengan minyak urapan yang terdiri atas empat macam rempah-rempah dan minyak zaitun (Kel. 30:22-25). Minyak urapan ini disinggung dalam 1Yohanes 2:20 dan 27. Dalam ayat-ayat ini istilah “pengurapan” dipakai untuk melukiskan pergerakan dari minyak urapan itu. Ketika Anda mengoleskan krim pada wajah Anda, Anda membuat krim tersebut bergerak. Kita bisa mengatakan bahwa dalam Keluaran 30 kita menemukan “krim” tersebut, minyak urapan tersebut, dan dalam 1Yohanes 2 ada pergerakan krim itu, minyak urapan. Kita mengalami pengurapan ini, pergerakan dari minyak urapan tersebut, di dalam kita.

Minyak urapan itu bukanlah benda, melainkan satu pribadi, Allah yang telah rampung. Minyak urapan di dalam kita adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses, rampung, dan majemuk. Allah yang telah melalui proses yang diperlukan agar menjadi sempurna. Inilah perbekalan terbesar yang telah Allah siapkan bagi umat tebusan-Nya.

Roh itu

Dalam Alkitab, sebutan terakhir yang diberikan pada Roh Allah adalah “Roh itu” (Why. 22:17 Tl.). Allah yang telah rampung adalah Roh itu. Yohanes 7:39b mengatakan, “Sebab Roh itu belum ada, karena Yesus belum dimuliakan” (Tl.). Ketika Yesus dimuliakan, yaitu, ketika Ia masuk ke dalam kebangkitan (Luk. 24:26), Allah Tritunggal dirampungkan dan disempurnakan menjadi Roh itu. Jadi, Roh itu adalah Allah Tritunggal yang melalui proses dan rampung.

Mari kita bahas susunan dari Roh itu. Di dalam Roh itu ada keilahian, yaitu sifat ilahi. Roh itu juga meliputi keinsanian, yaitu sifat insani. Ini berarti Roh itu meliputi unsur inkarnasi. Inkarnasi benar-benar suatu hal yang besar! Allah dikandung dalam rahim seorang perawan dan tinggal di sana selama sembilan bulan. Keterkandungan ilahi merupakan bagian dari suatu proses yang menakjubkan. Keterkandungan ini diikuti oleh kelahiran Tuhan dan kehidupan insani Tuhan. Selama tiga puluh tahun Tuhan Yesus hidup di dalam rumah seorang tukang kayu. Setelah itu, Ia ke luar untuk melayani selama tiga setengah tahun, melalui berbagai macam penderitaan. Dalam penyaliban-Nya, Ia merampungkan kematian yang almuhit. Kemudian Ia berjalan menembus kematian, bangkit dari kematian, dan masuk ke dalam kebangkitan. Dalam kebangkitan, Ia, Adam yang akhir, menjadi Roh pemberi-hayat (1Kor. 15:45), dan Roh pemberi-hayat ini sekarang menjadi Roh itu, perampungan dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Sekarang Ia siap untuk dibubuhkan pada kita sebagai minyak urapan. Ia adalah Allah Tritunggal, Tuhan Yesus Kristus, Roh Kudus, dan Roh itu. Di dalam Dia ada Allah, manusia, penebusan, pemberi hayat, dan kuasa kebangkitan. Perbekalan ilahi yang sangat ajaib! Allah kita sekarang sedang mengurapi kita dengan perbekalan ini. Ia mengurapi kita dengan Roh yang majemuk, dari Allah Tri-tunggal yang telah melalui proses.

Saya dapat bersaksi bahwa pada saat saya mempersiapkan diri untuk berbicara bagi Tuhan, biasanya saya berdoa, “Tuhan, isilah aku dengan diri-Mu sendiri sebagai Roh yang esensial dan curahkan diri-Mu atasku sebagai Roh yang ekonomikal. Oh Tuhan, dalam perkataanku jadilah satu roh denganku sehingga Engkau berbicara dalam perkataanku.” Bila saya berdoa seperti itu, saya dikuatkan, diteguhkan, diinfus, dan diisi dari dalam dan luar dengan Allah Tritunggal yang telah rampung.

Diurapi untuk Menjadi Manusia-Allah

Dalam ekonomi Perjanjian Baru-Nya, Allah tidak menghendaki kita hanya menjadi manusia yang baik, Ia ingin kita menjadi manusia-Allah, orang-orang yang telah berbaur dengan Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Semakin banyak minyak itu, yaitu Allah Tritunggal yang telah rampung, dibubuhkan pada kita, kita semakin menjadi manusia-Allah. Sekali lagi kita bisa memakai pengecatan sebagai ilustrasi. Sebelum sebuah benda kayu dicat, benda tersebut tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan cat. Namun, ketika cat dibubuhkan pada benda kayu tersebut, benda tersebut menjadi benda yang dicat. Ia tidak lagi hanya merupakan benda kayu; ia sekarang adalah benda kayu yang ke atasnya telah dibubuhkan cat. Dalam cara yang sama, kita sedang dicat dengan Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Semakin kita dicat oleh-Nya dan dengan-Nya, kita semakin berbaur dengan-Nya untuk menjadi manusia-Allah.

MEMPERSEMBAHKAN DIRI KEPADA ALLAH UNTUK MENERIMA PERBEKALAN-NYA

Karena Allah telah mempersiapkan perbekalan yang demikian besar bagi kita, apa yang harus kita lakukan? Kita harus mempersembahkan diri kita kepada Tuhan untuk menerima perbekalan-Nya. Walaupun Allah telah mempersiapkan perbekalan ini untuk kita, mungkin kita tidak datang kepada-Nya, atau kita datang kepada-Nya tanpa mempersembahkan diri kita dan menyerahkan diri kita kepada-Nya. Mempersembahkan diri kita kepada Tuhan berarti menyerahkan diri kita kepada-Nya. Kita perlu menerima perbekalan ilahi dengan mempersembahkan diri kita kepada Tuhan. Kita perlu berdoa, “Terima kasih, Tuhan. Engkau telah mempersiapkan segalanya untukku. Sekarang aku berserah kepada-Mu.” Inilah arti mempersembahkan diri kita kepada-Nya.

Dalam Bilangan 7 mula-mula ada pengurapan di pihak Allah, setelah itu ada persembahan di pihak kita. Allah telah diproses menjadi minyak untuk dibubuhkan pada kita. Untuk menerima pembubuhan minyak ini, kita harus rela berserah kepada Tuhan, menaruh seluruh diri kita ke dalam tangan-Nya dan berkata, “Ya Tuhan, lakukanlah apa saja yang ingin Engkau lakukan.” Tuhan ingin mengecat kita dengan diri-Nya di dalam dan di luar, membuat diri-Nya menjadi satu dengan kita.

KRISTUS ADALAH PENGGANTI DAN

PERAMPUNGAN SEMUA PERSEMBAHAN

Setelah kita mempersembahkan diri kita kepada Tuhan untuk menikmati perbekalan-Nya, Kristus tersedia bagi kita sebagai pengganti dan perampungan semua persembahan. Dalam Perjanjian Lama terdapat bermacam-macam persembahan, tetapi hari ini kita mempunyai satu persembahan yang almuhit, Kristus yang almuhit. Persembahan diri kita kepada Allah merupakan perbekalan Allah yang kedua, dan Kristus yang almuhit adalah perbekalan ilahi ketiga.

Untuk pengalaman dan kenikmatan kita yang riil, Kristus terutama merupakan tiga macam kurban. Kurban penghapus dosa, kurban bakaran, dan kurban pendamaian. Sebagai orang-orang yang diurapi Allah dan yang mempersembahkan diri kepada-Nya, kita harus meletakkan tangan kita atas Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita. Bila kita masuk ke dalam perbekalan Allah melalui mempersembahkan diri kita, kita merasa dihakimi. Dalam hati nurani kita, kita merasa bahwa kita tidak benar dalam banyak hal. Kita merasa bahwa dalam berbagai hal kita kekurangan, salah, dan najis. Pada saat-saat demikian, kita perlu meletakkan tangan kita atas Kristus dan mengambil-Nya sebagai kurban penghapus dosa kita. Bila kita melakukan hal ini, kita tahu bahwa kita ditebus, didamaikan, dan diampuni, dan kita memiliki damai dalam batin. Pada saat ini kita damba hidup bagi Allah. Akan tetapi, kita menyadari bahwa kita telah gagal dalam hal ini dan bahwa dalam diri kita, kita tidak dapat hidup bagi-Nya. Namun, Dia yang atas-Nya kita telah meletakkan tangan kita juga merupakan kurban bakaran kita. Dengan demikian, dalam pengalaman kita, kurban penghapus dosa menjadi kurban bakaran. Setelah itu kita dapat berdoa, “Oh Tuhan Yesus! Aku bersatu dengan Engkau dalam hidup bagi Allah dan hidup terhadap Allah secara mutlak.” Setelah menikmati Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan kurban bakaran kita, kita tidak lagi merasakan tuduhan, cercaan, atau penghukuman. Sebagai gantinya kita mempunyai damai. Kita sekarang menikmati Kristus sebagai kurban pendamaian kita yang berlimpah. Damai ini kemudian menjadi persekutuan antara kita dengan Allah di mana kita dengan Allah saling menikmati Kristus.

MENIKMATI KRISTUS SEBAGAI PERSONA

YANG DAPAT DIMAKAN, DIMINUM, DAN DIMASUKI

Bersamaan dengan kurban penghapus dosa, kurban bakaran, dan kurban pendamaian, kita memiliki sekeranjang roti, roti bundar, roti tipis, dan kurban curahan. Roti, roti bundar, dan roti tipis melambangkan Kristus dalam berbagai aspek sebagai suplai makanan kita. Kurban curahan juga merupakan suatu lambang dari Kristus. Sebagai kurban curahan yang riil, Kristus telah dicurahkan untuk memuaskan Allah dan juga untuk memuaskan kita. Sebagai roti, roti bundar, dan roti tipis, Kristus dapat dimakan, dan sebagai kurban curahan, Ia dapat diminum. Kristus tidak hanya dapat dimakan dan diminum, Ia juga dapat dimasuki. Melalui makan dan minum Dia, kita masuk ke dalam-Nya, dan Dia masuk ke dalam kita untuk menjadi diri kita sendiri. Kristus juga dapat dimasuki! Sekarang kita berada di dalam-Nya, dan Dia di dalam kita.

Kehidupan orang Kristen adalah suatu kehidupan yang setiap hari mengambil bagian dalam perbekalan ilahi. Ini berarti kita tidak boleh mencoba dalam diri kita dan dalam kekuatan alamiah kita untuk menempuh kehidupan orang Kristen. Rambut, yang melambangkan kekuatan alamiah, harus dicukur (Bil. 8:7), menunjukkan bahwa kekuatan alamiah kita harus ditanggalkan. Sebagai ganti dari bersandar kekuatan alamiah kita, kita harus menikmati dan mengambil bagian dalam semua perbekalan ilahi. Hal terakhir dari perbekalan ilahi yang diwahyukan dalam Bilangan 6—9 adalah Paskah. Dalam berita selanjutnya kita akan membahas catatan mengenai Paskah dalam Bilangan 9:1-14.