← Daftar isi Rahasia Kristus · bab 9/11

PRINSIP TUBUH

Pembacaan Alkitab:

Kis. 6:6: “Mereka dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itu pun berdoa dan menumpangkan tangan di atas mereka.”

Kis. 8:4-5, 12, 14-17: “Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Tetapi sekarang mereka percaya kepada Filipus yang memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus, dan mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan. Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorang pun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus.”

Kis. 9:3-6, 10-12, 17: “Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya, ‘Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?’ Jawab Saulus, ‘Siapa Engkau, Tuan?’ Kata-Nya, ‘Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu apa yang harus kauperbuat.’ Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Tuhan berfirman kepadanya dalam suatu penglihatan, ‘Ananias!’ Jawabnya, ‘Ini aku, Tuhan!’ Firman Tuhan, ‘Bangkitlah dan pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sedang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.’ Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya, ‘Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.’”

Kis. 19:6: “Ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat.”

Yak. 5:14-16: “Kalau ada seseorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu, hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, sangat besar kuasanya dan ada hasilnya.”

Mat. 18:15-16, 19-20: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Lagi pula Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari antara kamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

1 Tim. 4:14: “Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu melalui nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.”

1 Tim. 5:22: “Janganlah engkau terburu-buru menumpangkan tangan atas seseorang dan janganlah terbawa-bawa ke dalam dosa orang lain. Jagalah kemurnian dirimu.”

2 Tim. 1:6: “Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu melalui penumpangan tanganku atasmu.”

PENUMPANGAN TANGAN OLEH PARA RASUL

Ada sebuah contoh dalam Kisah Para Rasul 8 yang memperlihatkan kepada kita prinsip Tubuh. Saat itu gereja di Yerusalem menderita aniaya besar dan kecuali para rasul, semua murid terpencar. Filipus bukan seorang rasul; dia hanya menangani pembagian makanan. Namun karena dia memiliki hayat, ia pergi ke Samaria dan memberitakan Injil. Banyak yang percaya dan dibaptis, dan “sangatlah besar sukacita dalam kota itu” (ay. 8). Tetapi ada perbedaan antara mereka yang diselamatkan itu dengan kaum beriman di Yerusalem. Mereka yang baru beroleh selamat belum mengalami Roh Kudus turun atas mereka. Karena itu, para rasul mengutus Petrus dan Yohanes sebagai wakil untuk mengisi kekurangan tersebut. Mereka menumpangkan tangan atas orang-orang yang baru bertobat, dan mereka pun menerima Roh Kudus.

Apakah arti penumpangan tangan? Menurut Imamat, ketika seseorang mempersembahkan kurban, ia harus menumpangkan tangan di atas binatang yang akan menjadi kurban. Ini berarti penumpangan tangan merupakan tanda penyatuan. Banyak tempat dalam Perjanjian Baru berbicara mengenai penumpangan tangan. Satu Timotius 5:22 mengatakan, “Janganlah engkau terburu-buru menumpangkan tangan atas seseorang,” seperti dijelaskan Paulus, agar kita jangan “terbawa-bawa ke dalam dosa orang lain.” Ini juga menunjukkan bahwa penumpangan tangan menandakan suatu penyatuan. Kita harus berhati-hati agar jangan mengambil bagian dalam dosa orang lain. Dalam Perjanjian Lama, ketika raja atau imam ditahbiskan, ada penumpangan tangan sekaligus penuangan minyak ke atas kepala. Dengan demikian, ada dua arti utama dari penumpangan tangan: (1) menaruh kaum beriman ke bawah pengurapan Kepala, (2) membawa kaum beriman masuk ke dalam persekutuan Tubuh.

Para rasul adalah wakil-wakil Allah. Mereka juga adalah anggota-anggota perwakilan dalam Tubuh Kristus. Ketika Petrus dan Yohanes menumpangkan tangan ke atas kaum beriman di Samaria, tindakan itu membawa orang-orang yang ditumpangi tangan ke bawah otoritas Kepala dan ke dalam persekutuan Tubuh. Ini berarti bahwa mereka telah diakui sebagai bagian dari Tubuh. Setelah mereka dibawa masuk ke dalam satu Tubuh dan berada di bawah satu pengurapan, Roh Kudus segera turun ke atas mereka. Jika mereka yang baru beroleh selamat di Samaria itu telah menerima Roh Kudus sebelum para rasul tiba, Filipus dapat membanggakan bahwa Petrus dan Yohanes memiliki pekerjaan mereka di Yerusalem sedangkan dia memiliki pekerjaan di Samaria. Jika demikian keadaannya, mereka yang beroleh selamat di Samaria akan terpisah dari kaum beriman di Yerusalem. Jika sebagian mengklaim Petrus untuk Yerusalem dan yang lain mengklaim Filipus untuk Samaria, prinsip Tubuh akan hancur. Peristiwa di Samaria menunjukkan bahwa jika seseorang tidak taat kepada Tubuh, ia tidak dapat menerima pengurapan. Kita tidak bisa mendapatkan pengurapan jika tidak mengenal Tubuh. Roh Kudus tidak diberikan kepada individu, melainkan kepada anggotaanggota Tubuh. Penumpangan tangan oleh para rasul membawa kaum beriman ke dalam persekutuan Tubuh. Dengan demikian, penumpangan tangan mengakui bahwa ada kesatuan, persekutuan, dan satu Tubuh. Tubuh itu satu; karena itu, para anggota perlu mengenal bahwa ketergantungan mereka bukan hanya kepada Kepala, tetapi juga kepada satu sama lain.

Ibrani 6:1-2 menyinggung tentang enam butir asas-asas pertama. Penumpangan tangan adalah salah satu dari enam perkara dasar dari kehidupan orang Kristen. Keenam butir ini dapat dibagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama meliputi pertobatan dari perbuatan yang mati dan iman kepada Allah; ini merupakan sikap atau tindakan batin seseorang terhadap dirinya sendiri dan terhadap Allah. Kelompok kedua meliputi kebangkitan orang mati dan penghakiman kekal; ini merupakan pengajaran yang berkaitan dengan hal-hal di masa yang akan datang. Kelompok ketiga meliputi baptisan dan penumpangan tangan; ini adalah kesaksian luar. Baptisan dan penumpangan tangan adalah dua kesaksian dari gereja yang hakiki untuk mereka yang mau “beralih kepada perkembangannya yang penuh”. Kita tidak mengabaikan kelima butir yang lain, tetapi kita telah mengabaikan yang satu — yaitu penumpangan tangan. Meskipun Alkitab tidak dengan jelas mengatakan bahwa kita harus mempraktekkan penumpangan tangan, namun Alkitab menunjukkan bahwa pada masa para rasul, seseorang menerima penumpangan tangan segera setelah dia beroleh selamat dan dibaptis. Oleh baptisan kita masuk ke dalam Kristus. Oleh penumpangan tangan kita masuk ke dalam Tubuh. Kaum beriman bukan hanya ditempatkan ke dalam Kristus, namun juga ke dalam Tubuh Kristus. Ini adalah posisi kita yang tepat. Kita tahu bahwa setiap orang beriman harus memecahkan roti pada hari Tuhan. Pemecahan roti menyegarkan ingatan kita akan makna baptisan dan penumpangan tangan. Oleh baptisan kita mengemban kesaksian terhadap fakta bahwa kita telah menanggalkan diri kita dan dunia, serta masuk ke dalam Kristus. Oleh penumpangan tangan kita mengemban kesaksian terhadap fakta bahwa kita telah meninggalkan tumpuan sebagai individu dan berdiri pada tumpuan Tubuh. Untuk seterusnya, bahkan jika situasi dan keadaan membawa kita ke wilayah yang terisolasi, kita tidak sendirian, karena seluruh Tubuh akan menyertai kita. Jika kita menderita, semua anggota akan menderita bersama kita, dan kita dapat senantiasa mengharapkan mereka datang membantu kita.

Pada saat menumpangkan tangan, jika Roh Kudus memberikan doa yang bersifat nubuat bagi orang yang dibawa ke bawah pengurapan, maka ciri khusus yang diutarakan dalam nubuat itu akan menjadi ciri dari kehidupan dan ministri orang tersebut di masa yang akan datang. Kita dapat melihat hal ini dalam diri Timotius. Ketika Paulus dan para penatua menumpangkan tangan ke atasnya, perkataan nubuat disampaikan kepadanya, dan Paulus kemudian menasihati Timotius agar jangan mengabaikan karunia yang telah diberikan kepadanya, tetapi harus mengobarkannya (1 Tim. 1:18; 4:14; 2 Tim. 1:6). Jika kita sungguh-sungguh nampak wahyu tentang Tubuh, kita harus melaksanakan penumpangan tangan. Ini adalah kesaksian kita mengenai realitas Tubuh dan komitmen kita terhadap kehidupan Tubuh. Dengan demikian kita mendeklarasikan bahwa segala sesuatu adalah untuk Tubuh dan tidak ada satu pun untuk individu. Jika Tuhan mau memakai kita, kita memuji Tuhan; jika Dia memilih untuk memakai yang lain, kita tetap memuji Dia. Tidak ada tempat untuk iri hati dalam Tubuh Kristus.

PENGURAPAN DAN DOA OLEH PENATUA

Dalam Yakobus 5:14-16 kita melihat penumpangan tangan dalam kaitannya dengan orang sakit. Dalam kasus orang sakit, Yakobus menyuruh kita memanggil para penatua gereja. Mengapa memanggil para penatua, dan bukan orang yang memiliki karunia penyembuhan? Karena orang sakit dalam kasus ini perlu dibawa ke bawah pengurapan; kasus ini harus ditangani oleh para wakil gereja. Dosa-dosa yang disinggung dalam ayat 15 adalah dosa-dosa yang khusus, yaitu dosa-dosa terhadap Tubuh. Bagaimana kita tahu bahwa sakit di sini adalah jenis sakit yang khusus dan bukan sakit yang biasa? Jika kita mengetahui obat yang diberikan oleh dokter, kita bisa menyimpulkan jenis penyakit yang diderita pasien. Karena pasien ini dibawa ke bawah urapan, kita dapat dengan yakin menyimpulkan bahwa penyakit pasien ini disebabkan meninggalkan pengurapan. Firman Allah dengan jelas menyatakan bahwa banyak yang telah menjadi lemah dan sakit, dan bahkan banyak yang telah mati, karena gagal untuk mengenal Tubuh Tuhan (1 Kor. 11:29-30). Yakobus 5 menyajikan satu kasus yang demikian. Jika kita hidup dalam ruang lingkup Tubuh, kita selalu berada di bawah pengurapan Kepala. Tetapi, ketika kita mengambil jalur individual, kita meninggalkan pengurapan dan membuka diri terhadap penyakit dan maut. Dosa dari orang-orang dalam Yakobus 5 pasti adalah dosa melepaskan diri dari Tubuh. Jika dosanya hanya bersifat pribadi, dia dapat segera diampuni dengan mempercayai darah Tuhan dan mengaku kepada sesamanya. Tidak perlu meminta para penatua mengurapi dia dengan minyak. Minyak dari penatua tidak dapat menyingkirkan dosa; hanya darah yang dapat menyingkirkan dosa. Ayat 15 mengatakan bahwa dia akan diampuni jika ia telah berdosa; meskipun demikian, pengampunan ini terjadi karena doa penatua. Karena itu, dosa ini bukanlah dosa biasa; ini adalah dosa bertindak berlawanan dengan Tubuh. Sebagai akibatnya, perlu meminta para penatua gereja mendoakannya dan mengurapinya dengan minyak dalam nama Tuhan, agar dia dapat dibawa kembali ke bawah Kepala dan masuk ke dalam Tubuh.

Ayat 16 berkata, “Karena itu, hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.”Ayat ini menyuruh kita saling mengaku dosa satu sama lain. Kita harus saling mengaku dosa karena ada yang masalah dalam Tubuh Kristus. Ruang lingkup pengakuan harus sesuai dengan ruang lingkup pelanggaran. Jika saya hanya berdosa terhadap Allah, saya harus membuat pengakuan kepada Allah saja. Dosa dalam ayat-ayat ini adalah dosa terhadap Tubuh. Karena telah timbul masalah dalam Tubuh Kristus, maka baik orang yang sakit maupun para penatua harus bertanggung jawab untuk hal itu. Orang yang sakit itu telah melanggar Tubuh, dan para penatua mewakili Tubuh. Karena itu, orang yang sakit harus mengaku, dan para penatua juga harus mengaku. Perhatikan bahwa pengakuannya bersifat timbal balik. Orang yang sakit mengaku, tetapi penatua juga mengaku. Orang sakit itu mengakui bahwa penyakitnya adalah akibat mengambil posisi sebagai individu dan para penatua mengaku bahwa mereka telah gagal dalam perkara kasih dan perhatian; sebab jika mereka tidak gagal, tentu orang sakit itu tidak akan meninggalkan tumpuan Tubuh.

Setelah saling mengaku, ada doa. Saling mendoakan satu sama lain. Ini berarti para penatua berdoa untuk si sakit, dan orang yang sakit itu berdoa untuk penatua. Akibatnya adalah dosa diampuni dan penyakit disembuhkan. Timbal balik adalah ciri dari Tubuh. Apakah Anda melihat betapa Tubuh dititikberatkan dalam perkara pengurapan, pengakuan, dan doa? Di dalam Tubuh setiap anggota harus memiliki kasih dan kerendahan hati. Berada di luar Tubuh bukan hanya mendatangkan penyakit jasmani, tapi juga penyakit rohani. Mereka yang berada di luar Tubuh harus melihat pentingnya berbalik kepada pengurapan dan berbalik kepada Tubuh. Melalui perpalingan ini mereka menerima bantuan dari anggota yang lain.

WAHYU YANG DITERIMA PAULUS SAAT PERTOBATANNYA

Dalam hal pertobatan Paulus kita memiliki ilustrasi lebih lanjut tentang penumpangan tangan. Kisah Para Rasul 9 memperlihatkan dua ciri dari wahyu yang diterima Paulus saat pertobatannya. Ketika Tuhan menampakkan diri kepada Paulus di jalan ke Damsyik, Ia menunjukkan kepadanya bahwa menganiaya kaum beriman berarti menganiaya Dia (ayat 3-5). Tuhan bertanya, “Mengapa engkau menganiaya Aku?” Tuhan tidak bertanya, “Mengapa engkau menganiaya mereka yang percaya kepada-Ku?” Paulus bertanya, “Siapa Engkau, Tuhan?” Tuhan berkata, “Akulah Yesus yang kau aniaya itu.” Tuhan menunjukkan kepada Paulus bahwa dia sedang menganiaya Kepala ketika dia menganiaya anggota-anggota Tubuh. Jika Anda melukai anggota mana pun dari Tubuh, Anda melukai Kepala. Setiap dosa yang melanggar Tubuh berarti melanggar Kepala. Setiap orang beriman milik Tuhan adalah esa dengan Tuhan. Ini adalah keesaan Kepala dengan Tubuh. Paulus adalah orang pertama yang melihat Tubuh Kristus. Sejak hari pertama Tuhan menampakkan diri kepadanya, ia nampak Tubuh.

Setelah pewahyuan yang tinggi ini, Tuhan memerintahkan Paulus untuk masuk ke kota, dan di sana dia akan diberitahu, apa yang harus ia lakukan (ay. 6). Ini juga merupakan pewahyuan tentang Tubuh. Setelah pewahyuan yang demikian tinggi, Tuhan tidak berbicara langsung kepadanya; sebaliknya, Ia menyerahkannya kepada Tubuh. Pada hari Paulus diselamatkan, Tuhan memperlihatkan kepadanya prinsip Tubuh. Tiga hari kemudian Tuhan mengirim seorang murid biasa bernama Ananias untuk menumpangkan tangan ke atasnya, dan Ananias berkata kepadanya, “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus” (ay. 17). Ananias hanya seorang saudara biasa. Kita tidak tahu mengenai riwayatnya sebelum atau sesudah peristiwa ini. Ketika diutus Tuhan kepada Paulus, dia berkata, “Saulus, saudaraku.” Ini membawa Saulus ke dalam Tubuh Kristus, memenuhinya dengan Roh Kudus, dan membawanya ke bawah pengurapan.

PENGHAKIMAN OLEH DUA ATAU TIGA SAUDARA

Matius 18:15-16 bukan membicarakan seseorang itu benar atau salah, juga bukan mengenai seseorang itu merasa dirinya benar atau salah. Di sini membicarakan kesaksian dua atau tiga orang saudara. Jika mereka berkata bahwa Anda salah, Anda salah. Karena itu, ketika saudara-saudara lain berkata bahwa Anda salah, namun Anda tidak merasa bahwa Anda salah, Anda harus mengambil penghakiman mereka dan percaya kepada mereka lebih daripada percaya diri sendiri. Jika dua atau tiga saudara berdiri dalam nama Tuhan dan mengatakan sesuatu kepada Anda, Anda harus mendengarkan mereka.

Di dalam gereja ada empat kelompok orang yang mewakili Tubuh, yaitu: (1) rasul-rasul, (2) para penatua, (3) mereka yang telah Tuhan pilih secara khusus, dan (4) dua atau tiga orang beriman yang telah menyangkal dirinya dan berada di bawah nama Tuhan. Keempat kelompok orang ini mewakili gereja. Jika Anda bersalah, Tuhan akan mengirimkan seorang saudara untuk berbicara kepada Anda mengenai hal itu. Jika kita tidak mendengar perkataan seorang saudara, dia akan memberi tahu dua atau tiga orang saudara lain. Jika Anda tetap tidak mendengarkan perkataan mereka, Anda harus menerima pertolongan dari penatua. Kita tidak boleh melakukan tindakan apa pun yang bebas terlepas dari yang lain. Untuk masalah yang tidak bisa dipecahkan, kita harus berkonsultasi dengan rasul-rasul. Mereka ditunjuk oleh Tuhan untuk mewakili Tubuh. Kita tidak bisa mengabaikan Tubuh, dan kita tidak bisa mengabaikan perwakilan Tubuh. Kiranya Tuhan menampakkan kepada kita wahyu tentang Tubuh agar kita dapat taat kepada Kristus Sang Kepala dan juga kepada perwakilan dari Tubuh.