← Daftar isi Rahasia Kristus · bab 7/11

PENGURAPAN TUBUH

Pembacaan Alkitab:

1 Yoh. 2:27:“Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu — dan pengajaran-Nya itu benar, bukan dusta — dan sebagaimana Ia dahulutelah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.”

Luk. 3:22: “Dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit, ‘Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.’”

Luk. 4:18: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku.”

Ef. 4:1-10: “Sebab itu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, menasihatkan kamu, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dengan saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera: Satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan melalui semua dan di dalam semua. Tetapi kepada kita masing-masing telah diberikan anugerah menurut ukuran pemberian Kristus. Itulah sebabnya dikatakan, ‘Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia.’ Bukankah ‘Ia telah naik’ berarti bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah? Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi daripada semua langit, untuk memenuhi segala sesuatu.”

Ef. 4:30-32: “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”

Mzm. 133: “Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.”

Alkitab memperlihatkan bahwa pengurapan Allah hanya untuk Dia yang telah sepenuhnya memuaskan hati Allah, yaitu Putra-Nya, Kristus. Jika demikian, mengapa Tubuh juga menerima pengurapan? Mazmur 133 memperlihatkan bahwa minyak yang baik dituangkan ke atas kepala Harun dan mengalir turun ke janggutnya sampai ke ujung jubahnya. Ketika seseorang diurapi, minyak itu dituang ke atas kepalanya, bukan ke seluruh tubuhnya. Namun setelah dituang, minyak itu turun ke bawah dan akhirnya mengalir ke seluruh tubuh. Karena Kepala adalah Kristus, Sang Terurap, maka Tubuh juga adalah Kristus. Kristus adalah Yang Diurapi Allah. Gereja adalah Tubuh-Nya. Saat Kristus diurapi, seluruh Tubuh juga diurapi bersama Dia. Kristus adalah Sang Terurap yang agung, sementara para anggota adalah sang terurap yang kecil. Namun kita tidak diurapi secara terpisah; kita diurapi dalam Tubuh-Nya, yaitu dalam Kristus, ketika Dia diurapi. Mustahil kita diurapi dalam diri sendiri, karena Alkitab mengatakan, “Kepada daging orang janganlah minyak itu dicurahkan” (Kel. 30:32, Tl.). Kita diurapi dalam Kristus.

SYARAT PENGURAPAN IALAH DIKUBURKANNYA MANUSIA ALAMIAH

Lukas 3:22 memberi tahu kita apa yang terjadi setelah Tuhan dibaptis di Sungai Yordan. “Dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.” Lukas 4:18 mengatakan, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin.” Dari ayat-ayat ini kita nampak bahwa Tuhan diurapi dengan Roh Kudus ketika Ia keluar dari air baptisan di Sungai Yordan. Kejadian 8 mencatat bahwa sesudah air bah, Nuh membuka jendela bahtera dan melepas seekor merpati. Tetapi merpati itu tidak mendapatkan tempat kering untuk bertumpu karena seluruh bumi ditutupi air, lalu ia kembali ke bahtera. (Bahtera Nuh melalui air bah adalah suatu lambang mengenai baptisan.) Ketika Kristus dibaptis, Roh Allah turun ke atas-Nya seperti merpati. Ini menandakan bahwa pada saat Kristus dibaptis, Ia menerima pengurapan Roh Kudus. Demikian pula, saat kita dibaptis, kita juga menerima pengurapan Roh.

Baptisan menandakan bahwa segala yang dari manusia alamiah kita yang usang telah dikubur. Datangnya urapan sesudah baptisan berarti untuk menerima pengurapan Roh Kudus, daging kita harus lebih dulu dikubur. Hanya yang berasal dari Tuhan yang dapat bangkit setelah baptisan, karena segala milik orang beriman itu sendiri hanya layak untuk dikubur. Apa saja yang dapat bangkit setelah dikubur pastilah berada dalam kebangkitan. Hal itu bisa bangkit karena Kristus ada di dalamnya. Ketika kita dibaptis dalam Kristus, kita bersama Dia melewati kematian, penguburan, dan kebangkitan. Dengan demikian, ketika Dia diurapi, kita juga diurapi. Kita disalibkan, dikubur, dibangkitkan, dan diurapi bersama Dia.

FUNGSI PENGURAPAN

Pengurapan itu sangat mustika, karena kasih karunia mengalir dari Kepala kepada Tubuh melalui pengurapan. Fungsi pengurapan adalah memelihara hubungan antara Kepala dengan Tubuh, dan juga hubungan antar sesama anggota. Pengurapan adalah pekerjaan Roh Kudus di dalam manusia. Hubungan antara Roh Kudus, Kristus, dan gereja dapat disamakan dengan jaringan syaraf dalam tubuh manusia. Syaraf-syaraf mengarahkan dan mengkoordinasi semua anggota tubuh. Kepala mengarahkan dan berkomunikasi dengan semua anggota melalui jaringan syaraf, dan melalui syaraf setiap anggota dihubungkan satu sama lain. Seluruh anggota dalam tubuh bergerak menurut pengarahan syaraf. Tunduk kepada syaraf adalah tunduk kepada kepala. Begitu pula, dalam Tubuh rohani, Roh Kudus membawa pikiran dari Kepala kepada tiap anggota. Sebagai anggota Tubuh Kristus, kita harus takluk kepada otoritas Roh Kudus. Ketika kita takluk kepada otoritas Roh Kudus, kita takluk kepada Kepala. Saat kita mendukakan Roh Kudus, kita mengacaukan hubungan kita dengan Kepala. Kita berpegang kepada Kepala dengan takluk kepada Roh Kudus.

PENGAJARAN PENGURAPAN

Dalam Alkitab Roh Kudus dilambangkan dengan banyak hal, seperti angin, air hidup, dan api. Pada saat yang sama, Roh Kudus juga adalah hayat, kuasa, dan sebagainya. Tetapi 1 Yohanes 2:27 dengan mustika mengatakan Roh Kudus sebagai pengurapan, yaitu pengajaran Roh Kudus. Roh Kudus mengajar melalui pengurapan. Bagaimana kita mengenal kehendak Allah? Bukan melalui penyelidikan atau mempertimbangkan positif negatifnya suatu perkara. Kita mengenal kehendak Allah melalui pengajaran pengurapan. Roh Kudus menyampaikan pikiran Kristus kepada kita. Kita tidak perlu terus-menerus bertanya, “Apakah ini kehendak Allah?”, tetapi “Kami memiliki pikiran Kristus” (1 Kor. 2:16). Ketika Kepala menginginkan salah satu anggota Tubuh bergerak, Ia memberitahukannya melalui pengurapan, dan begitu ia mengikuti pengurapan itu, hayat mengalir dengan leluasa dari Kepala. Jika ia melawan pengurapan itu, hubungan dengan Kepala akan terganggu dan aliran hayat pun terhenti. Banyak orang beriman gagal memperoleh pimpinan Tuhan karena mereka tidak berada di bawah Kepala. Pengurapan tidak turun langsung ke atas Tubuh, tetapi ke atas Kepala. Kaum beriman hanya dapat menerima pengurapan yang mengalir dari Kepala kepada Tubuh jika mereka secara langsung berada di bawah Kepala.

Pengurapan adalah sesuatu yang sangat halus dan menyejukkan. Pengajaran Roh Kudus bukanlah sesuatu yang kasar atau liar; tidak melanda kita seperti angin keras atau membakar kita seperti api. Sebaliknya, pengurapan mengurapi kita seperti minyak. Inilah cara Roh Kudus mengajar kita. Di mana ada minyak, di situ ada pekerjaan Allah. Pekerjaan Allah tidak tergantung pada kata-kata, penafsiran alkitabiah, penalaran, penilaian mengenai salah dan benar, dan sebagainya. Pekerjaan dan pimpinan Allah di dalam kita datang melalui sejenis perasaan hayat di dalam batin. Perasaan hayat ini adalah pengurapan Roh. Kepala tidak memakai sarana luar untuk mengendalikan Tubuh. “Hidup itu adalah terang manusia” (Yoh. 1:4). Untuk mengetahui kehendak Allah, tidak bisa dengan bertanya, “Apakah ini salah atau benar?” Sebaliknya, kita harus bertanya, “Apakah dalam hal ini aku mengalami hayat?” Jika kita merasa mati di batin, itu berarti tidak ada pengurapan, dan jika kita bekerja tanpa pengurapan, itu berarti kita bekerja tanpa berada di bawah otoritas Kepala. Misalnya, kadang-kadang kita ingin mengunjungi seseorang, namun batin kita merasa dingin dan acuh tak acuh. Ditinjau dari doktrin, perasaan manusia, atau prinsip alkitabiah, kita harus mengunjungi dia. Namun semakin kita memutuskan untuk pergi, kita semakin dingin. Ini berarti Roh Kudus melarang kita pergi. Pada saat yang lain, kita mungkin mengunjungi seseorang dan merasa seperti berada di bawah pengurapan yang manis; segala sesuatunya menyejukkan dan nyaman. Inilah pengajaran yang berasal dari pengurapan Roh Kudus. Semakin kita mengikuti pengurapan ini, semakin kuatlah kita, dan semakin kuat “amin” di dalam kita.

Pengajaran pengurapan Roh Kudus tidak ada hubungannya dengan perkara benar atau salah, boleh atau tidak boleh dilakukan. Pengajaran ini merupakan perasaan hayat dalam batin. Banyak orang masih bekerja menurut prinsip pohon pengetahuan yang baik dan jahat, yaitu pohon yang buahnya dimakan Adam. Ini berarti berjalan menurut prinsip salah dan benar. Namun pekerjaan Allah dalam Kristus adalah perkara hayat, yaitu perkara pengurapan Roh. Di mana ada pengurapan, di situ ada hayat. Selama seseorang memiliki pengurapan dan hayat, segala sesuatunya benar dan sesuai dengan kehendak Allah. Mereka yang pandai dan mengenal doktrin dalam Alkitab belum tentu lebih memahami pekerjaan Allah. Kadang kala seorang saudara atau saudari dari pedesaan bisa lebih mengenal pekerjaan Allah. Mereka tidak memiliki pengetahuan, namun mereka memiliki hayat. Jika cara Allah bukan demikian, Allah tentu tidak adil. Orang dari pedesaan yang buta huruf akan celaka karena mereka tidak memiliki pengetahuan sehingga tidak akan mampu mengenal kehendak Allah. Tetapi Allah kita tidak pilih kasih. Entah Anda memiliki pengetahuan atau tidak, entah pandai atau bodoh, pengajaran pengurapan tetap di dalam Anda. Selama kita berjalan menurut pengurapan batin dari Roh, kita akan mengenal kehendak Allah dan memahami pekerjaan Allah.

PENGURAPAN DAN HUKUM TAURAT

Dalam Perjanjian Lama manusia memiliki firman Allah, yaitu Hukum Taurat. Dalam Perjanjian Baru, manusia juga memiliki firman Allah; tetapi jika dalam firman ini tidak ada pengurapan Roh, firman itu juga menjadi hukum. Tuhan Yesus menyajikan firman Allah, tetapi firman itu adalah roh dan hayat. Para rasul juga menyajikan firman Allah, dan firman yang mereka sajikan juga roh dan hayat. Tetapi ketika orang Farisi menyajikan firman Allah, tidak ada pengurapan Roh yang menyertainya, dan firman itu menjadi hukum-hukum yang mati. Banyak orang mempraktekkan baptisan, penumpangan tangan, dan penudungan kepala hanya sekadar menuruti petunjuk Alkitab. Perkara-perkara itu adalah hukum bagi mereka. Jika seseorang bertindak hanya menurut huruf-huruf Alkitab, ia adalah murid Musa dan bukan orang Kristen. Orang Kristen memiliki pengurapan Tuhan di atas dirinya. Dalam Tubuh Kristus tidak ada hukum, yang ada hanyalah pengurapan Tuhan. Karena itu, agar kita dapat hidup di dalam Tubuh Kristus, kita harus berjalan menurut pengurapan Roh, bukan menurut hurufhuruf hukum. Kita harus melakukan segala sesuatu menurut pengurapan Roh. Inilah bertindak menurut pengajaran Roh.

CARA UNTUK DIURAPI

Bagaimana kita menerima pengurapan? Mazmur 133 adalah bagian kunci dalam Perjanjian Lama mengenai pengurapan. Kita harus tahu bahwa Mazmur 120 sampai 134 adalah nyanyian ziarah. Mazmur-mazmur ini adalah nyanyian yang dinyanyikan umat Israel tiga kali setahun ketika mereka dari berbagai tempat berziarah ke Sion untuk bertemu Tuhan di Yerusalem, tempat kediaman Allah. Meskipun nyanyian-nyanyian tersebut berbeda-beda, mereka memiliki satu kemiripan, yakni semuanya adalah nyanyian ziarah. Dalam nyanyian-nyanyian itu, umat Israel tidak berbicara tentang ekonomi, pendidikan, peperangan, atau politik. Hati mereka tertuju ke Sion, kepada Allah, dan mereka bergerak naik. Mazmur 133:1 mengatakan, “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.” Tindakan “diam dengan rukun” ini bersifat korporat; tidak ada penyekat, tidak merdeka sendiri. Mereka telah mencampakkan perpecahan, iri-dengki, dan kebencian mereka. Ini seperti minyak yang baik yang dituangkan ke atas kepala Harun dan turun sampai ke janggut dan leher jubahnya. Dalam keadaan demikianlah mereka menerima pengurapan Allah. Ketika minyak mengalir turun, mereka yang ada di bawah kepala akan secara spontan menerima minyak urapan. Mazmur 133 sebanding dengan Efesus 4. Ketika kita berada dalam Tubuh dan tekun memelihara keesaan Roh, kita memiliki pengurapan Roh. Kita harus menempatkan diri di bawah Kepala, dan kita harus hidup dalam Tubuh, barulah kita dapat menerima pengurapan. Banyak orang tidak mendapatkan pimpinan Tuhan karena mereka tidak berdiri di tempat yang tepat. Mereka tidak berada di bawah Kepala dan belum menundukkan diri kepada otoritas Kepala. Mereka juga tidak berada dalam Tubuh. Agar kita menerima pengurapan, kita harus tunduk kepada Kepala dan hidup dalam Tubuh.

Dasar persekutuan kaum beriman adalah Kristus. Kita bisa bersekutu satu dengan yang lain karena Kristus adalah hayat Tubuh dan Kepala dari Tubuh. Bersamaan dengan itu, kenikmatan atas persekutuan ini adalah Roh Kudus. Semakin kita hidup dalam persekutuan Tubuh, kita makin menikmati pengurapan Roh. Namun ada satu syarat untuk ini: Kita harus membiarkan salib menanggulangi daging dan hayat alamiah kita secara menyeluruh. Dapat tidaknya orang beriman menikmati persekutuan ini tergantung pada apakah dia telah menanggulangi hayat alamiahnya. Daging alamiah kita hanya layak mati, hanya layak berada dalam abu, dipaku di atas salib. Kita tidak bisa berpikir dari diri sendiri; kita tidak memenuhi syarat untuk mengusulkan sesuatu. Kita harus membiarkan Kristus berdaulat mutlak atas segala sesuatu, membiarkan Dia mutlak menjadi Tuhan. Jika hayat alamiah kita ditanggulangi oleh salib, jika kita tunduk kepada ke-Kepalaan Kristus dan menempuh kehidupan Tubuh, kita akan memiliki pengurapan Roh dan menikmati persekutuan Tubuh.