OTORITAS DALAM TUBUH
Pembacaan Alkitab:
Ef. 1:22: “Segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada”
Ef. 2:15: “Sebab dengan kematian-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera.”
Ef. 3:3-6: “Yaitu, bagaimana rahasia itu diberitahukan kepadaku melalui wahyu, seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat. Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui pengertianku tentang rahasia Kristus, yang pada zaman orang-orang dahulu tidak diberitahukan kepada anakanak manusia, tetapi sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus.”
Ef. 4:15-16: “Sebaliknya, dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari Dialah seluruh tubuh — yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota — menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.”
Kol. 2:19: “Sedangkan ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh yang ditopang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, bertumbuh menurut pertumbuhan yang berasal dari Allah.”
Kol. 3:10-11: “Dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Penciptanya; dalam hal ini tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.”
OTORITAS TUBUH TERLETAK PADA KRISTUS SANG KEPALA
Alkitab menegaskan kepada kita bahwa Kristus adalah Kepala. Suatu hari Allah akan meletakkan segala sesuatu dalam alam semesta ini di bawah ke-Kepalaan Kristus. Hari ini alam semesta masih belum berada di bawah ke-Kepalaan Kristus dan segala sesuatu masih berada dalam keadaan kacau. Namun suatu hari nanti Allah akan meletakkan segala sesuatu di bawah ke-Kepalaan Kristus. Allah telah menentukan Kristus menjadi Kepala atas segala sesuatu, tetapi hari ini posisi sebagai Kepala tersebut harus terlebih dulu dilaksanakan dalam gereja, dan kemudian melalui gereja dilaksanakan atas segala sesuatu. Hari ini Kristus adalah Kepala atas gereja, kelak Ia akan menjadi Kepala atas segala sesuatu. Gereja adalah sarana Allah untuk memperbesar Kristus, dan pembesaran ini akan berlangsung terus sampai Dia memenuhi segenap alam semesta. Gereja adalah “kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu” (Ef. 1:23). Jika posisi Kristus sebagai Kepala tidak didirikan di dalam gereja, maka posisi tersebut juga tidak dapat didirikan di dalam alam semesta.
Apakah arti Kristus sebagai Kepala gereja dan gereja sebagai Tubuh Kristus? Keduanya berarti bahwa segala otoritas berada di dalam Dia. Segala otoritas ada di dalam Dia karena segala hayat ada di dalam Dia. Seluruh Tubuh mengalami penyempurnaan di dalam Dia; Dia adalah sumber dari hayat Tubuh. Tubuh Kristus tidak memiliki hayatnya sendiri. “Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya” (1 Yoh. 5:11). Bahkan setelah hayat kekal itu diberikan kepada kita, hayat itu tetap diam dalam Putra-Nya. Putra tidak berpisah dengan hayat itu; Ia tetap membuat hayat itu ada dalam diri-Nya sendiri. “Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup” (ay. 12). Alkitab tidak mengatakan, “Siapa yang memiliki hayat, ia memiliki hayat.” Kita bukan memiliki hayat dikarenakan mendapatkan hayat, melainkan dengan memiliki Putra barulah kita memiliki hayat. Orang Kristen menerima hayatnya dari Tuhan, namun hayat ini tidak pernah bisa dipisahkan dari Tuhan. Orang beriman bukan hanya berhubungan dengan hayat. Melalui berhubungan dengan hayat, orang beriman berhubungan dengan Putra Allah. Hayat ini membuat kita menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus. Hubungan hayat ini membuat kita tidak bisa terpisah dari Kepala, karena hayat kita berasal dari Kepala. Aliran hayat di dalam kita terus-menerus tergantung pada hubungan kita terhadap Putra. Begitu ada penghalang dalam persekutuan kita dengan Dia, hayat di dalam kita segera terhambat. Dia adalah Kepala dari Tubuh, dan hayat dapat mengalir dengan bebas kepada kita hanya jika Dia sepenuhnya memegang kendali.
KEDUDUKAN ANGGOTA TUNDUK KEPADA OTORITAS KEPALA
Kekuatan keberadaan kita bertumpu pada diri Kristus. Karena itu, kita tidak dapat melakukan apa pun secara merdeka. Tuhan sajalah Kepala kita, dan Dia sajalah yang memiliki otoritas untuk mengarahkan pergerakan anggota-anggota Tubuh-Nya. Dalam zaman yang jahat hari ini, segala saran tentang perlunya berada di bawah otoritas tidak disukai; namun jika kita ingin memahami dan memasuki kehidupan Tubuh, kita harus mengenal otoritas Kepala. Tangan saya tidak dapat berbuat apa pun tanpa pengarahan dari kepala. Kepala harus memerintah agar anggota-anggotanya bisa bergerak. Kristus adalah hayat dari Tubuh, Kristus juga adalah otoritas dalam Tubuh. Segala pergerakan anggota Tubuh-Nya harus berada di bawah pengarahan Kepala. Kristus menjadi Kepala berarti Dialah yang memiliki otoritas dalam Tubuh. Kita bukanlah kepala dan kita tidak memiliki otoritas. Satu-satunya hal yang harus kita lakukan adalah tunduk kepada otoritas Tuhan. Jika kita ingin mengenal kehidupan Tubuh, satu pertanyaan akan segera muncul: Apakah kita mutlak tunduk kepada otoritas Tuhan? Sejak awal kita akan diperhadapkan dengan ke-Kepalaan Kristus. Kita tidak bisa berkata, “Tetapi . . .” Kita tidak bisa berkata, “Saya pikir . . .” Kita hanya dapat tunduk kepada kedaulatan-Nya. Kita perlu menyadari bahwa jika kita menjadi anggota Tubuh, kita tidak bisa menjadi Kepala. Kita tidak bisa mendikte, memilih, atau bahkan berhasrat. Alkitab berkata bahwa kita harus mengikut Tuhan. Apa artinya mengikut Tuhan? Mengikut berarti berjalan di belakang. Tuhanlah yang menentukan jalan kita. Kita tidak punya alasan apa pun untuk pilihan pribadi kita. Satu-satunya kewajiban Tubuh terhadap Kepala adalah ketaatan dan kepatuhan diri tanpa opini, gagasan, atau usulan apa pun. Dalam Tubuh Kristus, tidak satu pun gagasan atau usulan individual yang terhitung; semua itu harus diruntuhkan. Kita harus tunduk hanya kepada otoritas Kepala. Kita hanya mendengar perintah-Nya dan melakukannya.
Menerima Kristus sebagai Kepala berarti menolak kepalakepala yang lain. Kristus sendiri adalah Kepala Tubuh; tidak ada yang lain yang dapat menjadi Kepala. Anda tidak dapat menjadi kepala, orang lain juga tidak dapat menjadi kepala, karena hanya satu yang bisa menjadi Kepala dalam Tubuh; tidak bisa ada dua kepala. Hanya Kristuslah Kepala. Karena itu, kita semua harus menaati Kristus. Hari ini kita melihat begitu banyak metode dan aturan manusia di dalam gereja. Ini sangat salah! Rencana dan keputusan manusia bertentangan dengan kedudukan Kristus sebagai Kepala. Jika Kristus adalah Kepala saya, maka saya tidak berani menyenangkan diri sendiri atau orang lain; saya harus berusaha menyenangkan Dia saja. “Allah telah membuat Yesus . . . menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis. 2:36). Perhatikan bahwa Allah tidak menetapkan Kristus sebagai Juruselamat, tetapi sebagai Tuhan. Petrus terlebih dulu mengatakan Kristus sebagai Tuhan dan kemudian sebagai Juruselamat. Ketika Paulus ditangkap di jalan menuju ke Damsyik, pertanyaan pertamanya adalah, “Siapa Engkau, Tuhan?” (Kis. 9:5). Hanya Kristuslah Kepala dalam gereja; tidak ada kepala yang lain. Jika kita ingin hidup di dalam Tubuh Kristus, kita harus belajar taat kepada otoritas Yesus sebagai Tuhan. Orang yang tidak bisa taat, yang selalu mengungkapkan opini dan usulnya, serta yang berkeras mau menjadi kepala, dia belum pernah melihat Tubuh. Begitu seseorang menyadari bahwa dirinya adalah satu anggota dalam Tubuh, ia pasti memiliki perasaan taat, karena taat adalah hukum dari Tubuh.
BERPEGANG KEPADA KEPALA
Paulus berbicara tentang “berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh Tubuh yang ditopang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, bertumbuh menurut pertumbuhan yang berasal dari Allah” (Kol. 2:19). Karena Kristus adalah Kepala Tubuh, maka kita harus berpegang kepada Kepala. Berpegang kepada Kepala berarti mengakui bahwa hanya Kristuslah Kepala; itu berarti secara mutlak berada di bawah otoritas-Nya. Kita dapat disatukan dengan saudara saudari yang lain hanya jika kita berpegang kepada Kepala. Para anggota Tubuh disusun bersama dan mampu menempuh kehidupan Tubuh melalui berpegang kepada Kepala. Hubungan kita terhadap Kepala menentukan hubungan kita terhadap anggota lainnya. Segala pertanyaan mengenai hubungan kita dengan saudara saudari hanya dapat terjawab ketika kita taat di bawah otoritas mutlak Tuhan. Kecuali kita mengakui otoritas Kristus sebagai Kepala di dalam Tubuh, kita tidak akan pernah memiliki persekutuan yang sempurna dengan anggota lainnya, karena persekutuan bersama dengan Kristuslah yang menyebabkan kita dihubungkan satu dengan yang lain. Kita bisa terlihat berbeda di luar, namun Kristus yang di dalam kita adalah sama. Itu sebabnya kita dapat bersekutu satu sama lain dan esa dengan yang lain. Terlepas dari Kristus, kita tidak memiliki sarana untuk bersekutu. Jika kita tidak berpegang kepada Kepala, persekutuan kita menjadi cacat. Dasar persekutuan kita adalah kita masingmasing berpegang kepada Kepala. Jika kita semua berpegang kepada Kepala, kita semua akan diikat menjadi satu. Jika hubungan kita dengan Kepala normal, hubungan kita dengan Tubuh juga akan normal.
Jika kita berpegang kepada Kepala, kita tidak bisa memiliki hubungan, perasaan, atau persekutuan yang khusus dengan individu atau sekelompok individu tertentu. Tidak ada tempat untuk selera pribadi kita di dalam Tubuh. Kita tidak memiliki persekutuan langsung satu sama lain; semua harus melalui Kepala. Misalnya, ketika tangan kiri saya sakit, tangan kanan saya segera memberikan pertolongan. Tangan kanan melakukan ini karena kedua tangan, baik kiri maupun kanan, berada di bawah pengaturan kepala. Hubungan timbal balik antar anggota harus lebih dulu melalui Kepala. Apakah bergolonggolongan? Bergolong-golongan berarti beberapa orang Kristen memiliki hubungan langsung satu sama lain dan terlepas dari otoritas Kepala. Mereka berkomunikasi secara langsung satu sama lain dan komunikasi tersebut tidak lebih dulu melalui Kepala. Mereka memiliki hubungan khusus satu sama lain, tapi hubungan itu tidak melalui Kepala.
Kita tidak boleh bergerak dalam hubungan dengan anggota lain kecuali di bawah pengaturan Tuhan. Jika Dia meminta kita melakukan sesuatu untuk anggota lain dan anggota tersebut tidak menghargai tindakan kita, kita tidak perlu khawatir karena segala urusan kita adalah dengan Kepala. Jika kita berpegang kepada Kepala, mendapatkan semua arahan dari Dia dan melakukan segalanya untuk Dia, kita tidak perlu khawatir mengenai akibat yang mungkin terjadi.
Jika kita berpegang kepada Kepala, kita tidak bisa memiliki penafsiran yang berbeda terhadap Alkitab. Perbedaan muncul ketika seseorang tidak berpegang kepada Kepala, karena Ia tidak mungkin plin-plan kepada tiap anggota-Nya. Jika perbedaan muncul, kita tidak boleh meluruskannya dengan berdiskusi; sebaliknya, kita cukup mengakui Kristus sebagai Kepala. Di dalam gereja, kita semua harus berpegang kepada Kepala, entah itu melibatkan pemahaman kebenaran, penanganan urusan, atau perkara apa saja. Kristus adalah otoritas unik di dalam Tubuh. Tempat dari semua anggota adalah berpegang kepada Kepala dan mengakui Dia sebagai otoritas unik dan tertinggi dalam segala hal. Jika kita membiarkan salib menanggulangi hayat alamiah kita, kita tidak akan menemui kesulitan dalam hubungan kita dengan sesama anggota Tubuh.