← Daftar isi 1 Tesalonika (2) · bab 7/10

HATI KITA DITEGUHKAN SUPAYA TAK BERCACAT DALAM KEKUDUSAN (2)

Pembacaan Alkitab:

1 Tes. 3:6a, 10, 12-13; Ams. 4:23; Yer. 17:9; Mzm. 73:1; 78:8; Yeh. 36:26;

Mat. 5:8; 15:8, 18-19; 12:34-35; 22:37; Kis. 28:27; 2Kor. 3:15-16;

Rm. 10:10; Ibr. 4:12; 1Tim. 1:5; 2Tim. 2:22

Alkitab memberi tahu kita bahwa sebagai manusia, kita mempunyai bagian-bagian batiniah selain anggota lahiriah dari tubuh jasmani kita. Bagian-bagian batiniah ini adalah bagian-bagian manusia batiniah kita. Menurut Alkitab, manusia terdiri dari roh, jiwa, dan tubuh. Tubuh — apa adanya jasmani kita, adalah yang kelihatan; ini adalah manusia lahiriah kita. Sedangkan roh dan jiwa — apa adanya batiniah kita, adalah yang tidak kelihatan. Jiwa mencakup pikiran, emosi, dan tekad. Alkitab tidak hanya menyinggung tentang beberapa bagian ini sebagai bagian batiniah kita, tetapi juga menyebutkan tentang hati dan hati nurani. Alkitab boleh dikatakan sebuah kitab yang benar-benar menyinggung tentang psikologi, sebab Alkitab membahas tuntas tujuh bagian batiniah manusia: roh, jiwa, hati, pikiran, tekad, emosi, dan hati nurani. Bagian-bagian batiniah ini merupakan unsur-unsur manusia batiniah kita.

KEDUDUKAN HATI

Pada butir ini saya ingin mengajukan dua pertanyaan. Pertama, bagaimana kedudukan hati di dalam manusia batiniah kita? Kedua, apa fungsi hati itu? Dalam pembahasan Kitab 1Tesalonika, kita perlu menemukan jawaban atas kedua pertanyaan ini. Dalam kitab yang mendasar kepada kaum beriman baru ini, Paulus memberi tahu mereka dalam pasal 3 bahwa mereka perlu disempurnakan dalam iman, bertambah-tambah dan berlimpah dalam kasih sehingga Tuhan dapat meneguhkan hati mereka. Sudahlah pasti ucapan Paulus tentang hati dalam 3:13 menunjuk sesuatu yang penting dan menentukan. Mengapa Paulus tidak mengatakan bahwa Tuhan akan meneguhkan hati nurani mereka, atau meneguhkan pikiran, tekad, atau emosi mereka? Sungguh amat penting bahwa di sini Paulus berbicara tentang Tuhan meneguhkan hati.

Bertahun-tahun telah kita tekankan roh, juga kita tekankan pentingnya berpaling ke roh kita. Walaupun telah banyak berita tentang hati yang kita sampaikan, namun penekanan kita terhadap hati belum sebanyak roh. Sekarang kita mempertanyakan, mengapa dalam 3:13 Paulus tidak mengatakan bahwa Tuhan akan meneguhkan roh kita atau jiwa kita, melainkan hati kita?

Kita tahu bahwa diri kita ini terdiri dari tiga bagian utama — roh, jiwa, dan tubuh. Akan tetapi dalam 3:13, akhir dari bagian pertama Kitab 1Tesalonika, Paulus berkata, “Kiranya Dia meneguhkan hatimu, supaya tak bercacat dalam kekudusan, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya” (Tl.). Pada akhir bagian kedua, yang terdiri dari pasal 4 dan 5, Paulus berkata, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa, dan tubuhmu terpelihara sempurna tanpa cacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita” (5:23). Mengapa pada akhir kitab ini Paulus tidak menyinggung tentang hati sama sekali? Apa jadinya hati? Apa pula hubungan hati dengan ketiga bagian utama diri kita itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita lihat beberapa ayat yang memperlihatkan hubungan erat antara hati dengan roh dan jiwa.

Ibrani 4:12 mengatakan, “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk sangat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sunsum; ia sanggup menilai pikiran dan niat hati kita.” Ayat ini menyinggung tentang roh, jiwa, dan hati. Begitu jiwa terpisah dari roh, pasti kita mampu membedakan pertimbangan dan niat hati. Pertimbangan jelas dari pikiran dan niat dari tekad. Menurut ayat ini, karena pertimbangan dan niat adalah dari hati, maka pikiran dan tekad berkaitan dengan hati. Karena itu, hati mencakup pikiran untuk berpikir dan tekad untuk membuat keputusan. Ayat ini menunjukkan bahwa hati amat dekat dengan jiwa dan roh.

Mazmur 78:8 mengatakan, “Dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia rohnya kepada Allah” (Tl.). Dalam ayat ini kita nampak ketika nenek moyang Israel durhaka dan berontak, hati mereka tidaklah tetap dan roh mereka pun tidak setia. Roh tidak akan setia bila hati tidak tetap. Ayat ini menunjukkan betapa dekat hati dengan roh.

Matius 5:3 mengungkapkan tentang roh dan 5:8 tentang hati. Ayat 3, “Berbahagialah orang yang miskin di dalam roh, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga” (Tl.). Ayat 8, “Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Tl.). Dari ayat-ayat ini kita nampak bahwa kita perlu miskin di dalam roh dan murni dalam hati. Semua ayat ini menunjukkan bahwa hati kita amat dekat dengan roh kita, juga dengan jiwa kita.

Telah berkali-kali kita tunjukkan di saat yang lampau bahwa hati kita merupakan komposisi dari semua bagian jiwa kita — pikiran, emosi, dan tekad — ditambah satu bagian dari roh kita, yaitu hati nurani. Jadi, hati merupakan komposisi dari semua bagian jiwa ditambah satu bagian dari roh. Jiwa kita ialah pribadi kita, persona kita, diri kita. Istilah psikologi dalam bahasa Indonesia adalah turunan dari psuche, bahasa Yunani yang berarti jiwa. Jiwa adalah dasar dari semua hal psikologis. Psuche atau jiwa adalah “Aku”, mengacu kepada manusia kita, yakni pribadi kita. Inilah alasannya dalam Alkitab sering kali jumlah manusia disebut jumlah jiwa. Contoh, kita dapat membaca bahwa tujuh puluh jiwa dari keluarga Yakub turun ke Mesir (Kel. 1:5). Ini menunjukkan bahwa manusia adalah jiwa, karena jiwa adalah persona manusia.

Sebagai manusia, kita mempunyai organ lahiriah, yaitu tubuh, untuk berkontak dengan dunia jasmaniah yang kelihatan. Kita juga mempunyai organ batiniah, yaitu roh, untuk berkontak dengan Allah dan ruang lingkup rohani. Jiwa terletak di antara kedua organ ini, sebagai persona kita atau diri kita.

FUNGSI HATI

Jiwa adalah persona orang itu sendiri, sedangkan hati adalah persona dalam tindakan. Ini berarti, kapan saja Anda bertindak, Anda bertindak berdasarkan hati Anda. Boleh dikatakan, hati kita adalah wakil kita dalam tindakan. Kita mempunyai sesuatu di batin kita yang mewakili kita, dan wakil ini ialah hati kita. Ketika seorang saudara berkata kepada istrinya, “Aku cinta kepadamu, sayang,” ini berarti hatinya mengasihi istrinya. Demikian pula, bila kita membenci sesuatu, hati kitalah yang membenci. Bila kita menikmati sesuatu atau tidak menyukai sesuatu, hati kitalah yang menikmati atau tidak menyukai. Jadi, hati kita adalah wakil kita, pengemban tugas atau duta manusia ba-tiniah kita.

Berhubung hati itu perwakilan kita, maka Salomo bertutur dalam Amsal 4:23, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar (hasil) kehidupan.” Menjaga hati kita sesungguhnya berarti melindunginya. Kita harus menjaga hati kita lebih daripada segalanya, karena dari situlah terpancar hasil kehidupan kita. “Hasil” di sini menyiratkan sumber, pancaran, dan pengaliran. keluar. Karena itu, hati berhubungan dengan sumber kehidupan, pancaran kehidupan, dan pengaliran kehidupan. Pertama kita memiliki sumber, lalu pancaran, dan kemudian pengalirannya.

Dari hati kita terpancar segala hasil kehidupan sehari-hari kita. Sebagai manusia, kita mempunyai hayat dan hayat ini bertindak melalui hati kita. Menggunakan ilustrasi listrik dan saklar, kita boleh mengatakan bahwa hati itu saklar apa adanya batiniah kita, hayat insani kita. Sebagaimana aliran listrik tergantung pada saklar, begitulah kehidupan sehari-hari kita tergantung pada sikap hati kita terhadap suatu hal. Hati kita merupakan saklar hayat manusia kita, hidup sehari-hari kita, dan seluruh diri kita. “Kehidupan” dalam Amsal 4:23 menyiratkan unsur organik, unsur hayat, juga menyiratkan kehidupan dan aktivitas sehari-hari kita, yang pada hakikatnya adalah seluruh kehidupan kita sebagai manusia. Jadi, kata “kehidupan” dalam ayat ini mencakup segalanya. Sebagai manusia, kita memiliki kehidupan manusia dan kehidupan manusia ini mempunyai unsur organik dan kehidupan sehari-hari. Saklar hayat ini adalah hati.

Misalkan ketika seorang saudara sedang membaca Alkitab, ia terganggu oleh gonggongan anjing. Karena gangguan suara ini, ia membentak anjing itu. Pikiran dan keinginan membentak anjing itu bersumber di dalam hatinya, terpancar dari hati dan sekaligus mengalir keluar. Ketika ia sedang membaca Alkitab dan terganggu oleh suara anjing, sesuatu di dalam hati saudara ini membuatnya membentak anjing itu. Bentakan ini merupakan hasil yang terpancar dari sumber di hati. Inilah ilustrasi hati sebagai wakil tindakan seluruh diri kita.

Aktivitas dan gerakan tubuh jasmani kita tergantung pada hati fisik kita. Demikian pula, kehidupan sehari-hari kita tergantung pada hati psikologis kita. Bagaimana kita berperilaku tergantung pada macam hati yang kita miliki.

HATI YANG DIPERBARUI

Karena kita telah jatuh dan berdosa, hati psikologis kita menjadi rusak dan licik. Menurut Yeremia 17:9, hati kita lebih licik daripada segala sesuatu, rusak hingga puncaknya. Menurut bahasa aslinya kata-kata “rusak hingga puncaknya” lebih baik diterjemahkan “tidak dapat disembuhkan”. Hati kita rusak, busuk sedemikian rupa sehingga tidak dapat disembuhkan. Inilah keadaan hati psikologis semua keturunan Adam.

Berpaling kepada Allah

Tetapi Allah dalam penyelamatan-Nya berjanji memberi kita sebuah hati yang baru. Yehezkiel 36:26, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.” Hati yang baru dalam ayat ini bukan mengacu kepada hati yang lain, melainkan hati yang telah diperbarui. Ciri khas pertama dari hati yang diperbarui ini ialah berpaling kepada Allah. Berpalingnya hati kita kepada Allah merupakan pertanda yang amat sehat bahwa Ia telah memperbaruinya. Hati yang rusak selalu menjauhi atau menghindari Allah. Jika hati kita menjauhi Dia, itulah tanda bahwa hati kita masih rusak. Mungkin ada orang yang bertanya, bagaimana mereka dapat tahu hati mereka telah diperbarui. Ciri-ciri hati yang diperbarui ialah berpaling kepada Allah. Ciri-ciri hati yang bobrok ialah menjauhi dia. Sebab itu, kita dapat mengetahui apakah hati kita telah diperbarui dengan melihat hati kita berpaling kepada Allah atau menghindari Dia.

Dalam penyelamatan Allah, pembaruan hati adalah sekali untuk selamanya. Namun dalam pengalaman, hati kita diperbarui terus-menerus, karena hati kita mudah berubah. Boleh jadi saat Anda diselamatkan, hati Anda berpaling dengan kuat kepada Allah. Tetapi setelah sejangka waktu, hati Anda mungkin agak menjauhi Dia. Setidaknya pada taraf tertentu, hati Anda menjauh. Kemudian oleh belas kasihan Allah, hati Anda sekali lagi berpaling sepenuhnya kepada Dia. Melalui persekutuan dengan seorang beriman, melalui datang bersidang, atau melalui sarana anugerah lain, hati Anda kembali kepada Tuhan. Ketika hati Anda menjauhi Dia, sedikit atau banyak hati Anda telah terusak. Tetapi ketika hati Anda kembali kepada Tuhan, hati Anda diperbarui. Kita perlu berkata, “Tuhan, aku berterima kasih karena dalam belas kasihan-Mu, Engkau telah mengunjungi hatiku sambil memalingkannya kembali kepada-Mu.” Berpaling kepada Tuhan adalah ciri khas pertama dari hati yang telah diperbarui.

Menuntut Kemurnian

Ciri kedua dari hati yang telah diperbarui ialah menuntut kemurnian. Satu Timotius 1:5, menyinggung tentang kasih yang timbul dari hati yang murni. Dalam 2Timotius 2:22 Paulus menganjuri Timotius untuk bersamasama “dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.” Apa artinya hati menuntut kemurnian? Menurut Alkitab, memiliki hati yang murni berarti memiliki hati yang bermotivasi tunggal. Jadi, murni adalah masalah motivasi. Jika kita melakukan sesuatu dengan motivasi ganda, berarti hati kita tidak murni. Apa pun yang kita lakukan harus bertujuan tunggal, motivasi tunggal, yakni bagi Allah sendiri. Janganlah memiliki tujuan yang lain. Kita mengasihi Allah, dan karena itu kita melakukan sesuatu bagi-Nya tanpa motivasi lain. Jika demikian, murnilah hati kita.

Dalam Matius 5:8 Tuhan Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang suci (murni) hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Berhati murni ialah bertujuan tunggal, bersasaran tunggal demi penggenapan kehendak Allah bagi kemuliaan Allah. Berdasarkan ayat ini, mereka yang murni hatinya akan melihat Allah. Untuk melihat sesuatu dengan jelas, kita harus berfokus pada hal itu. Inilah cara memurnikan penglihatan kita. Sama halnya, memurnikan hati ialah bertujuan tunggal. Sasaran kita, tujuan kita, haruslah Allah sendiri, tanpa motivasi yang lain.

Jika kita membaca semua ayat Alkitab mengenai hati, kita pasti nampak bahwa kedua ciri khas hati yang telah diperbarui — berpaling kepada Tuhan dan murni — merupakan hal mendasar dalam Alkitab yang berkaitan dengan hati. Jika kita berpaling kepada Allah dan menuntut kemurnian, kita akan tahu cara yang tepat membuka “saklar” hati kita terhadap Allah. Dengan memalingkan hati kita kepada-Nya, dan bermotivasi murni terhadap Dia, tersentuhlah saklar hati kita, dan listrik ilahi mengalir ke dalam kita. Kalau tidak, saklar hati kita akan dimatikan, dan Allah secara riil terputus dari kehidupan sehari-hari kita. Kemudian, hal-hal yang jahat akan terbit dari hati kita. Itulah sumber, pancaran, dan pengaliran segala corak kejahatan. Menurut Matius 12:34-35, hal yang baik maupun yang jahat bisa saja mengalir keluar dari hati kita: “. . . Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.” Tidak hanya demikian, dalam Matius 15:8 Tuhan mengisahkan orang-orang yang hatinya jauh dari Allah. Kemudian dalam ayat 18-19 Ia melanjutkan, “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinaan, percabulan, pencurian, kesaksian palsu dan hujat.” Dari ayat-ayat ini kita nampak bahwa dari hati mengalir keluar pancaran hayat manusia.

Berpaling kepada Allah dan murni terhadap Allah, merupakan dua hal yang mengendalikan hati kita. Mazmur 73:1 mengungkapkan hati yang bersih: “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.” Telah kita tunjukkan betapa Tuhan Yesus maupun Paulus menekankan pentingnya hati yang murni. Kita memang memerlukan hati yang berpaling kepada Allah dan hati yang murni terhadap Dia.

HATI YANG DITEGUHKAN TAK BERCACAT

DALAM KEKUDUSAN

Sekarang kita sudah siap mengulas tentang makna hati kita diteguhkan tak bercacat dalam kekudusan. Hati kita tidak saja harus berpaling kepada Allah dan murni, bahkan perlu ditambahkan unsur kekudusan. Menjadi kudus adalah tersisih bagi Allah, diduduki sepenuhnya oleh Dia, dan dijenuhi oleh Dia. Hati menjadi kudus berarti tersisih bagi Dia, diduduki Dia, dimiliki Dia, dan dijenuhi oleh Dia.

Sekali lagi, kita boleh menggunakan ilustrasi membuat air teh. Misalnya ada air tawar secangkir. Air ini tidak mengandung teh sama sekali. Ketika unsur teh ditaruh ke dalam air, maka air itu menjadi air teh. Air itu tersisih untuk teh, dimiliki, dan diduduki oleh teh, bahkan dijenuhi oleh teh. Hasilnya, terjadilah air teh. Setelah air menjadi teh sepenuhnya, maka keadaannya adalah air teh. Ini mengilustrasikan makna hati kita diteguhkan tak bercacat dalam kekudusan.

Salah satu versi menerjemahkan 3:13 “dalam keadaan yang kudus”. Kata kudus menunjukkan keadaan; bukan menunjukkan proses. Proses ditunjukkan dengan kata pengudusan. Sebab itu, tidaklah salah mengatakan kekudusan di sini sebagai keadaan dijadikan kudus.

Ketika kita jauh dari Tuhan, hati kita juga jauh dari Dia. Lalu kita dijajah oleh barang-barang lain, tidak diduduki oleh Tuhan. Selain itu, hati kita jelas tidak dijenuhi oleh Tuhan. Maka, hati kita menjauhi Tuhan, tidak diduduki oleh Tuhan, dan tidak dijenuhi oleh Tuhan. Namun kita dapat memuji Tuhan bahwa melalui belas kasihan dan anugerah-Nya, kita sedang dalam proses disisihkan sepenuhnya bagi Tuhan, untuk diduduki seluruhnya olehnya, dan dijenuhi sepenuhnya oleh-Nya. Bila proses ini rampung, hati kita akan berada dalam keadaan yang kudus, dalam kekudusan.

Agar hati kita diteguhkan tak bercacat dalam kekudusan perlu diakukan banyak hal, bukan hanya hati kita berpaling kepada Tuhan dan murni terhadap Tuhan. Ini berarti hati kita berpaling dan murni disisihkan kepada Tuhan, diduduki oleh Tuhan dan dijenuhi oleh Tuhan. Hati yang sedemikian ini bukan hanya telah berpaling kepada Tuhan tetapi juga bermotivasi murni, disisihkan untuk-Nya, diduduki seluruhnya oleh-Nya, dijenuhi sepenuhnya oleh-Nya. Dalam keadaan seperti inilah hati kita diteguhkan. Begitu diteguhkan, barulah hati kita akan mantap dan tidak lagi goyah atau berubah. Tidak hanya demikian, ketika hati kita sedemikian keadaannya, barulah kita tak bercacat.

Tak bercacat berbeda dengan sempurna. Barang yang sempurna itu tidak ada kekurangannya dan tidak bernoda. Ini melampaui tak bercacat. Dengan kata lain tak bercacat tidaklah sebaik tanpa noda. Dalam 3:13 Paulus tidak me-nuntut kesempurnaan, melainkan hanya menuntut agar hati kita tak bercacat. Jalan agar hati kita tak bercacat ialah diteguhkan oleh Tuhan. Jika hati kita diteguhkan oleh Dia, kita akan menjadi orang-orang yang hatinya tersisih bagi Tuhan, diduduki oleh Dia, dan dijenuhi oleh Dia. Kemudian hati kita akan mantap, diteguhkan, dibangun, dalam kekudusan. Dalam keadaan kekudusan inilah dan dalam keadaan dikuduskan inilah, hati kita akan menjadi tak bercacat.