← Daftar isi 1 Tesalonika (2) · bab 8/10

HATI KITA DITEGUHKAN SUPAYA TAK BERCACAT DALAM KEKUDUSAN DAN TUBUH KITA TERPELIHARA

BERSIH DALAM PENGUDUSAN

Pembacaan Alkitab:

1Tes. 3:13; 4:3-8; Ibr. 12:14; Rm. 12:1-2; Ef. 3:17-19;

Mrk. 12:30; Flp. 2:5

Dalam pembacaan Alkitab, kita perlu menjamah beban yang ada di dalam roh penulisnya. Khususnya, kita perlu mengetahui beban yang ada di dalam roh Paulus, ketika ia menulis Kitab 1Tesalonika. Paulus menutup 1Tesalonika 3 dengan kalimat berkat, “Kiranya Dia meneguhkan hati-mu, supaya tak bercacat dalam kekudusan, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya” (ayat 13 Tl.). Paulus menghendaki agar para pembaca surat ini diteguhkan hatinya tak bercacat dalam kekudusan.

Dalam pasal 4, Paulus melanjutkan berpesan kepada kaum saleh agar menjauhi pencemaran oleh dosa percabulan: “Karena inilah kehendak Allah: Pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan.” Dengan cara apakah Paulus berpesan agar mereka menjauhi dosa ini? Dengan pengudusan. Mula-mula ia memberi tahu mereka bahwa kehendak Allah ialah pengudusan kita. Kehendak Allah adalah agar kita dikuduskan, dijaga, dipelihara, dan dilindungi di dalam pengudusan. Cara yang terbaik menjauhi percabulan ialah dikuduskan, dijaga di dalam kekudusan Allah.

Dalam 1Tesalonika 4:3, 4, dan 7, Paulus tiga kali memakai kata “kudus” (berupa pengudusanmu, kekudusan, dan kudus). Dalam ayat 3 dia mengatakan bahwa kehendak Allah itu ialah pengudusan kita; dalam ayat 4 dikatakan bahwa kita wajib mengetahui bagaimana menjaga bejana kita, yaitu tubuh kita, di dalam kekudusan dan kehormatan; dan dalam ayat 7 dikatakan bahwa Allah telah memanggil kita dalam pengudusan (Tl.). Menurut 4:4, kita harus menjaga tubuh kita di dalam kekudusan dan kehormatan. Kekudusan itu di hadapan Allah, dan kehormatan itu di hadapan manusia. Setiap orang cabul kehilangan kehormatannya di depan manusia. Dalam masyarakat, orang cabul selalu dipandang hina; mereka telah kehilangan kehormatan di depan manusia. Karena itu, kita harus menjaga tubuh kita dari dosa semacam itu, dan caranya ialah di dalam pengudusan.

TANGGUNG JAWAB KITA DALAM PENGUDUSAN

Dalam 1Tesalonika 5:23, Paulus mencantumkan kalimat penutup tentang pengudusan, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa, dan tubuhmu terpelihara sempurna tanpa cacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” Di sini kita nampak bahwa seluruh diri kita yaitu roh, jiwa, dan tubuh, perlu dikuduskan. Kita perlu dikuduskan oleh Allah damai sejahtera bukan dalam jiwa dan tubuh kita saja, tetapi juga dalam roh kita.

Menurut 5:23, kita perlu memikul sebagian tanggung jawab atas pengudusan yang menyeluruh. Di satu pihak, Allah akan menguduskan kita seluruhnya. Di pihak lain, roh, jiwa, dan tubuh kita perlu terjaga atau terpelihara. Sekalipun Allah memelihara kita, namun kita perlu memikul sejumlah tanggung jawab agar terpelihara.

Kata “terpelihara” boleh dipandang sebagai kata kerja aktif-pasif. Artinya, walaupun kita ini dipelihara, kita pun perlu memikul tanggung jawab, berinisiatif agar terpelihara. Jadi, “terpelihara” menyiratkan sesuatu yang aktif juga pasif.

Allah bermaksud memelihara kita, tetapi apakah kita bersedia dipelihara? Kita dapat memakai hal memberi obat kepada anak-anak sebagai ilustrasi perlunya kita bertanggung jawab agar terpelihara. Adakalanya seorang anak memerlukan obat, tetapi ia tidak mau memakannya. Bahkan ada yang menolak usaha orang tuanya memberi obat, sehingga orang tuanya menggunakan paksaan. Orang tua berbuat demikian supaya kesehatan anaknya bisa terpelihara. Kadang-kadang kita tidak mau bekerja sama dengan Tuhan supaya terpelihara, akibatnya Dia terpaksa menaklukkan kita dengan hal-hal tertentu, atau membatasi kita agar kita dapat menerima apa yang perlu untuk dikuduskan dan dipelihara.

Dalam Kitab 1Tesalonika, kitab mengenai kehidupan yang kudus bagi hidup gereja, kita diberi tahu bahwa berbagai bagian diri kita perlu dipelihara. Hati kita perlu dikuduskan, tubuh kita perlu dipelihara di dalam pengudusan, dan akhirnya roh kita, bagian yang paling tersembunyi dari diri kita, juga perlu dikuduskan.

AGEN PENGGERAK KITA

Pada berita yang lalu, telah kita tunjukkan bahwa hati kita merupakan perwakilan kita. Kini saya ingin membuat hal ini lebih jelas lagi. Boleh jadi istilah “agen penggerak” lebih baik daripada perwakilan. Setiap orang dari kita adalah makhluk, yakni manusia. Kata “makhluk” merupakan ungkapan modern. Istilah Alkitabiah untuk manusia disebut “jiwa”. Ini berarti, setiap orang dari kita ini adalah satu jiwa. Jiwa yang sebagai makhluk mempunyai dua organ: organ batiniah, yaitu roh, dan organ lahiriah, yaitu tubuh. Kita berhubungan dengan dunia jasmani melalui panca indera tubuh kita. Demikian pula, kita berkontak dengan Allah melalui roh, organ yang mempunyai indera tersendiri.

Bisa tidaknya kita berkontak dengan sesuatu tergantung pada organ yang kita gunakan. Bila Anda menutup mata, mustahil Anda dapat melihat sesuatu. Namun, Anda pun tidak mungkin menangkap suara dengan mata. Untuk ini Anda harus menggunakan telinga. Karena orang ateis tidak menggunakan roh mereka, maka mereka mengatakan tidak ada Allah. Kita tidak mungkin mewujudkan Allah tanpa menggunakan roh kita. Yohanes 4:24 mengatakan bahwa Allah adalah Roh dan mereka yang menyembah Dia harus menyembah-Nya dalam roh. Jika kita menggunakan roh, dengan segera terasa bahwa Allah benar-benar ada. Dalam lubuk batinnya, seorang ateis mungkin akan berkata kepada dirinya, “Bila Allah ternyata ada, apa yang akan kauperbuat?” Bibir seorang ateis boleh saja mengatakan tidak ada Allah, tetapi dalam lubuk dirinya dalam rohnya, ia dapat merasakan Allah itu ada.

AKTIF DI DALAM HATI

Jiwa kita harus beraktivitas. Ketika jiwa atau diri kita beraktivitas itulah hati beraktivitas. Tetapi bila kita diam terpaku, ini berarti hati kita tidak beraktivitas.

Kita semua mempunyai dua hati: hati (atau jantung) jasmani dan hati psikologis. Kita tahu di mana letak hati jasmani kita, tetapi kita tidak tahu letak hati psikologis kita. Gerak-gerik atau aktivitas tubuh jasmani kita tergantung pada denyut jantung jasmani kita. Menurut dokter, kematian tubuh jasmani terjadi bila denyut jantung berhenti. Seseorang yang nadinya tidak berdenyut adalah mati, karena jantungnya telah berhenti. Ilustrasi ini memperlihatkan bahwa kematian tubuh terjadi ketika hati atau jantung berhenti berdenyut. Demikian pula hati psikologis.

Baik hati jasmani maupun hati psikologis kita mempunyai arteri (pembuluh nadi). Arteri utama dari hati psikologis kita adalah pikiran, emosi, dan tekad. Serangan jantung sering kali disebabkan oleh tersumbatnya arteri. Akhir-akhir ini saya membaca suatu laporan tentang para dokter yang memeriksa mayat orang-orang muda yang meninggal dalam perang Vietnam. Dokter-dokter itu menemukan bahwa dalam banyak kasus, arteri mereka tersumbat walaupun mereka masih sangat muda. Menyadari bahaya tersumbatnya arteri, maka banyak orang memperhatikan diet atau menu makan mereka serta berolahraga agar pembuluh darah mereka bersih. Problem hati jasmani melukiskan problem hati psikologis. Hari ini ada jutaan orang Kristen, namun berapa banyak orang Kristen yang benar-benar hidup? Kebanyakan mereka tidaklah hidup. Penyebabnya ialah arteri hati psikologis mereka tersumbat. Penyumbatan ini membuat mereka mati secara rohani.

Kita semua perlu bertanya kepada diri kita, apakah kita ini sehat secara rohani. Agar sehat secara jasmani kita memerlukan hati (jantung) yang kuat. Kesehatan rohani juga memerlukan hati yang kuat. Semua penyakit rohani berasal dari hati psikologis. Hati psikologis kita mungkin saja salah dalam banyak hal. Salah di dalam pikiran kita, di dalam kasih atau benci kita, atau di dalam cara menggunakan tekad kita.

Jika hati psikologis kita sehat, hati kita akan sangat aktif dalam berpikir, mengasihi, membenci, dan mengambil keputusan. Hati kita adalah agen penggerak kita. Ini berarti bila kita aktif, pasti hati kita akan aktif dalam pikiran, emosi, dan tekad. Namun, jika seseorang tidak aktif di dalam hatinya, kita akan sangsi apakah ia hidup secara rohani. Kalau ia hidup, mengapa tidak ada aktivitas di dalam hatinya? Mengapa hatinya tidak berfungsi dengan normal, sedangkan hati adalah agen penggeraknya. Saya dapat bersaksi, walaupun saya sudah tua, saya ini amat aktif dalam hati saya. Saya penuh pikiran, perasaan, dan keinginan. Seluruh diri saya — roh, jiwa, dan tubuh — aktif. Namun agen dari aktivitas ini bukanlah roh, jiwa, atau tubuh; agen penggeraknya ialah hati berikut tiga pembuluh nadinya, pikiran, emosi, dan tekad.

PEMBARUAN PIKIRAN

Dalam Roma 12:2 Paulus membicarakan pembaruan pikiran. Sebagaimana tubuh mewakili manusia lahiriah kita, maka pikiran mewakili manusia batiniah kita. Menurut Roma 12:1, tubuh kita perlu dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban persembahan dan pikiran kita perlu diperbarui. Diperbarui ialah dijenuhi oleh dan dengan Allah. Inilah pengudusan. Diperbarui sesungguhnya adalah dikuduskan, dan dikuduskan adalah ditransformasi. Pikiran kita perlu diperbarui, dikuduskan, dan ditransformasi.

EMOSI DIJAMAH OLEH KASIH KRISTUS

Dalam Efesus 3:17 Paulus berkata, “Sehingga oleh imanmu Kristus tinggal di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.” Kasih adalah masalah emosi. Menurut ayat ini, Kristus berumah di dalam hati kita, dan kita sendiri berakar dan berdasar di dalam kasih-Nya. Ini menunjukkan bahwa emosi kita telah dijamah oleh kasih-Nya sehingga kita bertumbuh di dalam kasih ini. Emosi kita yang dipenuhi oleh kasih Kristus merupakan aspek pengudusan. Selain itu, setelah kita berakar dan berdasar di dalam kasih, kita pasti dapat “mengenal kasih Kristus yang melampaui segala pengetahuan” (Ef. 3:19). Ini pun berkaitan dengan pengudusan hati kita, khususnya pengudusan emosi. Emosi kita dipenuhi oleh kasih Kristus berarti kita dijenuhi oleh Kristus. Tak perlu disangsikan, inilah pengudusan emosi kita.

MENGASIHI TUHAN DENGAN SELURUH DIRI KITA

Markus 12:30, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu (pikiranmu) dan dengan segenap kekuatanmu.” Di sini disebutkan hati, jiwa, akal budi (atau pikiran). Jiwa disebut di antara hati dan pikiran. Ketiga bagian dari jiwa yaitu pikiran, emosi, dan tekad adalah bagian dari hati juga. Tetapi, mengapa Markus 12:30 tidak menyebutkan emosi atau tekad? Karena emosi dan tekad tercakup di dalam jiwa. Lalu, mengapa pikiran disebutkan? Karena pikiran merupakan bagian utama dari hati maupun jiwa. Itulah sebabnya, kita perlu mengasihi Tuhan Allah kita dengan segenap hati kita, segenap jiwa kita, dan segenap pikiran kita.

Markus 12:30 juga menyuruh kita mengasihi Tuhan dengan semua kekuatan kita. “Kekuatan” di sini ditujukan kepada tubuh jasmani kita. Karena itu, kita perlu mengasihi Tuhan dengan semua kekuatan jasmani kita dan dengan segenap hati, jiwa, dan pikiran kita. Ini menunjukkan bahwa seluruh diri kita, apa adanya batiniah dan apa adanya lahiriah kita, harus diduduki oleh Tuhan Allah kita dan dijenuhi oleh Dia. Inilah pengudusan yang membuat kita kudus.

ROH DAN HATI

Saya berbeban menunjukkan bahwa sebagai orang Kristen, kaum beriman di dalam Kristus, kita harus hidup. Menjadi orang beriman yang hidup melibatkan roh, juga hati kita. Secara doktrinal dapat dikatakan bahwa kita bisa menjadi hidup dengan menggunakan roh kita. Tetapi dalam prakteknya, sering kali menggunakan roh kita nampaknya tidak manjur. Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa kita telah menggunakan roh kita, namun tetap tidak selalu berhasil membuat kita hidup. Menggunakan roh namun tidak berkhasiat, itu dikarenakan hati tidak bergerak. Ini berarti ada sesuatu yang tidak beres dalam hati. Boleh jadi pikiran belum diperbarui, dikuduskan, atau ditransformasi; mungkin belum dipenuhi oleh Tuhan dan diduduki oleh-Nya. Sebaliknya, mungkin malah dipenuhi hal-hal duniawi. Kita boleh saja menggunakan roh kita sambil mengatakan, “Puji Tuhan!” Akan tetapi, penggunaan roh ini tetap tidak berhasil membuat kita hidup, kecuali jika hati kita aktif.

Bila hati kita diam atau tertidur, maka menggunakan roh kita berseru kepada nama Tuhan tidak akan manjur. Penggunaan ini tidak akan berhasil bila agen penggerak kita yaitu hati kita diam saja. Inilah sebabnya kita perlu menanggulangi dengan tuntas hati kita. Penanggulangan ini harus mencakup pikiran, emosi, dan tekad kita. Pikiran kita seharusnya adalah pikiran Kristus, emosi kita harus dijenuhi dengan kasih Kristus, dan tekad kita harus bersatu dengan tekad-Nya. Kalau keadaan hati kita demikian, hati kita akan aktif dan berfungsi. Kemudian, begitu kita menyeru nama Tuhan ketika hati kita aktif, penyeruan ini akan sangat manjur.

Kita semua perlu mohon Tuhan membelaskasihani kita. Kita perlu berdoa, “Tuhan, belas kasihanilah aku. Aku ingin pikiranku diperbarui. Aku ingin emosiku dipenuhi dengan kasih-Mu. Aku ingin tekad yang benar-benar satu dengan tekad-Mu.” Jika kita memiliki hati yang demikian, maka hati sebagai agen penggerak kita akan diteguhkan supaya tak bercacat dalam kekudusan, yaitu tanpa cacat dalam keadaan menjadi kudus.

MENJAGA TUBUH KITA DI DALAM

KEKUDUSAN DAN KEHORMATAN

Sewaktu Paulus menulis 1Tesalonika 3, tentunya ia bermaksud bertolak dari apa adanya batiniah — hati, lebih lanjut membicarakan apa adanya lahiriah — tubuh. Inilah sebabnya ia berpesan agar menjauhi percabulan, menjaga tubuh diri sendiri di dalam kekudusan dan kehormatan.

Percabulan adalah dosa yang kasar dan kotor. Menurut Alkitab, Iblis bermaksud menggunakan dosa untuk menodai manusia yang diciptakan Allah bagi diri-Nya. Setiap jenis bejana tercemar bila kotor. Tidak hanya demikian, bejana yang kotor dan cemar menjadi hilang fungsinya. Misalnya, kita tidak menggunakan cangkir yang kotor. Sebelum digunakan, cangkir yang kotor harus dibersihkan dulu. Allah menciptakan manusia sebagai bejana yang murni, namun Iblis menginjeksikan dosa ke dalam manusia dengan maksud mencemarkan dan merusaknya. Dosa yang paling men-cemarkan adalah percabulan. Mencuri memang dosa dan tidak bersih, tetapi tidak secemar percabulan. Percabulan itu benar-benar merusak maksud tujuan Allah, merusak tubuh manusia, merusak keluarga dan masyarakat. Tidak ada hal lain merusak keinsanian seberat percabulan. Karena itu, setelah membicarakan pengudusan hati — apa adanya batiniah, Paulus tidak lupa membicarakan apa adanya la-hiriah.

Percabulan selalu berasal dari hati yang berubah-ubah, hati yang belum diteguhkan. Kalau hati Anda sudah diteguhkan, Iblis akan sulit membujuk Anda melakukan percabulan. Tetapi mereka yang mudah berubah dan yang lemah hati, mudah jatuh ke dalam perangkap percabulan.

Ketika Paulus menulis pasal 3, ia mungkin bermaksud melanjutkan tulisanya mengenai apa adanya lahiriah kaum beriman. Ia seolah berkata kepada dirinya, “Paulus, engkau membicarakan apa adanya batiniah. Iman itu soal hati, dan kasih itu soal emosi. Keduanya berkaitan dengan apa adanya batiniah. Bagaimana dengan tubuh lahiriah?” Paulus adalah penulis yang ulung. Bila ia menulis tentang suatu hal, ia akan menulis setuntas-tuntasnya. Jadi, ketika ia sampai pada masalah pengudusan lahiriah, ia menanggulangi dosa yang paling mencemarkan, yakni percabulan.

Jauhilah percabulan. Jika Anda terlibat dalam percabulan, Anda akan membuka pintu lebar-lebar kepada segala macam bentuk kebejatan. Baik kaum beriman maupun kaum tak beriman, telah dirusak oleh percabulan. Karena itu, Paulus menyuruh kaum beriman menjauhi percabulan. Ia memberi tahu mereka bahwa pengudusan itulah yang Allah kehendaki. Karena kehendak Allah ialah ingin memelihara kita selalu di dalam pengudusan, maka kita harus men-jauhi segala sesuatu yang tidak bersih, agar tubuh kita terjaga.

Dalam butir ini, saya ingin menyampaikan sepatah dua patah kepada kaum muda. Sebagai orang Kristen, kita perlu membaca koran agar mengetahui situasi dunia. Saya sendiri membaca koran hampir tiap hari, tetapi beberapa halaman tertentu tidak pernah saya baca, sebab bisa mencemarkan. Begitu pikiran Anda tercemar karena melihat gambar tertentu, Anda sulit menyingkirkan unsur yang mencemarkan itu. Tidak hanya demikian, kita juga tidak boleh mendengarkan percakapan tertentu atau menyentuh sesuatu yang tidak bersih. Namun yang paling penting, kita harus menjauhi percabulan. Kita harus memelihara, melindungi, menjaga bejana kita bersih dalam pengudusan di hadapan Allah. Bejana kita harus kudus, tersisih, dan dijenuhi dengan Allah dan terpelihara dalam kehormatan di hadapan manusia.

Manusia diciptakan oleh Allah dalam kehormatan, sebab manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Karena itu, kita harus mengekspresikan Allah dan mewakili Dia. Kita telah dianugerahi kedudukan yang terhormat. Pernikahan adalah hal yang kudus dan terhormat, untuk tercapainya maksud tujuan Allah. Inilah alasan Alkitab menyuruh kita menghormati pernikahan. Tetapi percabulan menghancurkan umat manusia dan membuat orang yang jatuh ke dalamnya kehilangan kehormatannya. Sebab itu, kita harus memelihara tubuh kita bersih di dalam kekudusan dan kehormatan.

KEHIDUPAN YANG KUDUS BAGI HIDUP GEREJA

Saya yakin kita sudah menjamah beban yang ada dalam roh Paulus ketika ia menulis 1Tesalonika 3 dan 4. Pertama-tama ia menanggulangi apa adanya batiniah yang diwakili oleh hati, dan kemudian apa adanya lahiriah yang diwakili oleh tubuh. Secara batiniah, hati kita harus diteguhkan menjadi kudus; secara lahiriah, tubuh kita harus dipelihara di dalam kekudusan dan kehormatan. Inilah menempuh kehidupan yang kudus, dan kehidupan yang kudus ini adalah bagi hidup gereja. Bila hati kita diteguhkan sehingga tak bercacat dalam kekudusan, tubuh terpelihara bersih di dalam kekudusan dan kehormatan; demikian, secara riil kita akan menempuh kehidupan yang kudus bagi hidup gereja.