HATI KITA DITEGUHKAN SUPAYA TAK BERCACAT DALAM KEKUDUSAN (1)
Pembacaan Alkitab:
1Tes. 3:6a, 10, 12-13; Ams. 4:23; Yer. 17:9; Mzm. 73:1; 78:8; Yeh. 36:26;
Mat. 5:8; 15:8, 18-19; 12:34-35; 22:37; Kis. 28:27;
2Kor. 3:15-16; Rm. 10:10; Ibr. 4:12; 1Tim. 1:5; 2Tim. 2:22
Berita ini mengajak kita membahas makna dari hati kita dikuatkan tanpa cela di dalam kekudusan. Satu Tesalonika 3:13 mengatakan, “Kiranya Dia menguatkan (meneguhkan) hatimu, supaya tak bercacat dalam kekudusan, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya” (Tl.). Tiga kata penting di sini adalah hati, tak bercacat, dan kekudusan. Apa artinya hati kita diteguhkan supaya tak bercacat? Ungkapan ini tidaklah lazim. Sudah tentu peneguhan ini bukan pekerjaan kita, melainkan pekerjaan Tuhan.
KEKUDUSAN DAN PENGUDUSAN
Bagaimanakah pemahaman Anda terhadap ungkapan “tak bercacat dalam kekudusan”? “Dalam kekudusan” ini bukan menerangkan kata kerja “meneguhkan”, melainkan menerangkan “tak bercacat”. Dalam ayat ini Paulus tidak mengatakan bahwa Tuhan meneguhkan hati kita dalam kekudusan, melainkan Tuhan membuat hati kita tak bercacat, bahkan tak bercacat dalam kekudusan. Sebab itu, kita perlu menggali apa yang dimaksud dengan hati kita tak bercacat dalam kekudusan.
Dua Tesalonika 2:13 mengatakan, “Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, Saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah sejak semula telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai.” Ayat ini menyinggung penyelamatan di dalam pengudusan, dan 1Tesalonika 3:13 menyinggung tak bercacat dalam kekudusan. Dalam kekudusan berbeda dengan dalam pengudusan. Tentu saja, kekudusan maupun pengudusan mengacu kepada unsur yang kudus. Kekudusan mengacu kepada unsurnya sendiri, sedangkan pengudusan mengacu kepada proses dijadikan kudus yakni proses dikuduskan. Suatu proses berjalan terus membuat kita kudus; proses ini disebut pengudusan. Jadi, berada dalam kekudusan ialah berada dalam unsur kudus, dan berada dalam pengudusan ialah berada dalam proses dikuduskan.
Penyelamatan Allah berada dalam pengudusan. Ini berarti bahwa penyelamatan Allah melibatkan proses yang terus-menerus, yang melaluinya kita dijadikan kudus. Ketika proses ini terjadi, kita menikmati kuasa penyelamatan Allah. Kekudusan ialah unsur sifat kudus Allah. Di dalam unsur inilah kita tak bercacat.
Sekali lagi saya ambil ilustrasi yang sederhana, yakni menyeduh teh. Teh adalah unsurnya, dan “penyeduhan” merupakan proses pembuatan air teh. Misalkan ada air secangkir. Untuk dijadikan air teh, Anda perlu memasukkan sebungkus teh ke dalamnya. Ketika bungkusan teh baru dimasukkan ke dalam air, nampaknya tidak ada perubahan. Hanya berbeda sedikit dengan air tawar biasa. Namun setelah beberapa saat dan melalui proses pengadukan, air tersebut menjadi air teh. Teh yang ditambahkan ke dalam air telah berbaur dengan air. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa air tadi mengalami proses penyeduhan teh. Akhirnya teh ada di dalam air, dan air ada di dalam teh. Ini berarti unsur teh berbaur dengan air. Setelah penyeduhan ini, teh dan air berpadu menjadi semacam minuman. Minuman ini disebut air teh.
Teh di dalam air adalah satu perkara, tetapi air mengalami penyeduhan teh adalah perkara yang lain. Sama halnya, kita perlu tak bercacat dalam unsur kekudusan, dan kita pun perlu mengalami proses pengudusan agar kita dapat menikmati penyelamatan Allah tiap hari bahkan tiap saat.
IMAN DAN KASIH
Bila kita memiliki pandangan menyeluruh terhadap Kitab 1Tesalonika, pasti akan nampak bahwa ketiga pasal yang pertama merupakan satu bagian, dan dua pasal terakhir merupakan bagian lain. Kita telah nampak bahwa surat ini mempunyai susunan dasar yang mengandung tiga unsur: pekerjaan iman, usaha (jerih lelah) kasih, dan ketekunan pengharapan. Paulus menyinggungnya dalam 1:3, “Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha (jerih lelah) kasihmu, dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.” Dengan susunan ini sebagai dasar, Paulus mengatakan dalam 1:9-10 bahwa kaum beriman berbalik dari berhala, melayani Allah yang hidup dan benar, serta menunggu kedatangan Putra-Nya dari surga. Dalam pasal 2 kita nampak pemeliharaan kehidupan yang kudus bagi hidup gereja. Pemeliharaan ini adalah pekerjaan seorang ibu yang mengasuh dan seorang bapak yang menasihati. Hasil dari pemeliharaan yang tepat ini adalah kita hidup sepadan dengan kehendak Allah yang memanggil kita ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya (2:12). Agar bisa berperilaku seperti itu, kita perlu disempurnakan dalam iman kita, dan perlu bertambah-tambah serta berlimpah dalam kasih kita. Dalam pasal 3, Paulus benar-benar menaruh perhatian kepada iman dan kasih orang-orang Tesalonika. Menurut 3:10 ia ingin sekali menyempurnakan apa yang kurang pada iman mereka. Memang, orang-orang Tesalonika beriman, namun perlu disempurnakan. Paulus rindu berjumpa dengan mereka untuk menyempurnakan apa yang kurang pada iman mereka. Dalam 3:12 ia melanjutkan, “Kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu.” Sebagai kaum beriman, kita semua perlu disempurnakan dalam iman dan bertambah-tambah serta berkelimpahan di dalam kasih.
Dalam 3:13 kita mendapatkan alasan khusus tentang perlunya kita disempurnakan atas iman, dan bertambah serta berkelimpahan dalam kasih, yaitu supaya Tuhan meneguhkan hati kita supaya tak bercacat dalam kekudusan. Peneguhan hati kita adalah hasil atau akibat dari penyempurnaan iman kita dan bertambah-tambah serta berlimpahnya kasih kita. Tuhan sedang melakukan pembangunan, yaitu meneguhkan hati kita. Hati kita perlu dibangun, diteguhkan supaya tak bercacat. Nanti, kita akan menerangkan arti perkataan “tak bercacat” dalam ayat 13.
Dalam 3:13 Paulus mengatakan bahwa Tuhan akan meneguhkan hati kita supaya tak bercacat dalam kekudusan. Ia tidak mengatakan bahwa hati kita akan diteguhkan supaya tak bercacat dalam kemurnian atau dalam kebersihan. Perjanjian Baru menekankan hati yang murni. Tuhan Yesus berfirman, “Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat. 5:8 Tl.). Paulus menasihati Timotius agar bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dari hati yang murni (2Tim. 2:22). Tidak hanya demikian, dalam Mazmur 51:12, Daud berdoa supaya Tuhan menciptakan di dalamnya hati yang tahir (bersih). Mengapa Paulus tidak mengatakan tak bercacat dalam kemurnian atau dalam kebersihan, melainkan tak bercacat dalam kekudusan? Ini disebabkan Kitab 1Tesalonika membahas kehidupan yang kudus bagi hidup gereja. Kesimpulan bagian pertama Surat ini, yang terdiri dari pasal 1, 2, dan 3, adalah Tuhan akan meneguhkan hati kita supaya tak bercacat dalam kekudusan.
Saya yakin bahwa kita semua memiliki iman, kasih, dan pengharapan. Kita telah berbalik kepada Allah dari berhala, melayani Allah yang hidup, dan sedang menunggu kembalinya Tuhan Yesus. Jadi, kita memiliki iman, kasih, dan pengharapan, juga memiliki perpalingan, pelayanan, dan penantian. Tetapi kita masih perlu disempurnakan dalam iman kita. Iman dalam Kitab 1Tesalonika mengacu pada kemampuan percaya kita juga mengacu kepada apa yang kita percayai. Karena itu, iman merupakan hal yang besar. Aspek obyektif kepercayaan yakni hal-hal yang kita percayai, merupakan bidang yang luas sekali, meliputi banyak hal. Berita yang kita beritakan selama beberapa tahun telah mencakup berbagai hal dalam kepercayaan ini. Berita-berita ini menunjukkan betapa banyaknya isi yang tercakup dalam kepercayaan orang Kristen, bahkan mencakup masalah pembauran Allah Tritunggal dengan manusia yang telah diselamatkan dan dilahirkan kembali.
Melalui pemberitaan Paulus, orang Tesalonika mendengarkan Injil. Ini berarti mereka mendengarkan tentang kepercayaan. Bukan hanya mendengarkan tentang kepercayaan, mereka pun menerimanya. Namun berhubung Paulus berada di antara mereka hanya sebentar, kurang lebih tiga minggu, maka ia belum sempat menyajikan seluruh isi kepercayaan Perjanjian Baru. Tidak heran ia rindu mengunjungi mereka dan berjumpa muka dengan muka untuk membicarakan lebih lanjut tentang kepercayaan ini dan menyempurnakan mereka dalam iman. Sebagaimana orang-orang Tesalonika, kita pun perlu disempurnakan dalam iman kita.
Orang Tesalonika memiliki iman dan kasih. Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita juga mengasihi satu sama lain. Kasih ilahi tidak ada batas ukuran; mustahil terukur. Karena itu, kita perlu bertambah-tambah dan berlimpah-limpah dalam kasih kita.
Jika kita disempurnakan dalam iman, dan bertambah-tambah serta berlimpah-limpah dalam kasih, maka kehidupan kita, perilaku sehari-hari kita akan sepadan dengan panggilan Allah. Bila kita mau memiliki kehidupan semacam ini, Tuhan perlu meletakkan hati kita pada dasar yang kukuh. Inilah yang disebut meneguhkan dan membangun hati kita.
HATI YANG BERUBAH-UBAH
Kebanyakan orang Kristen hatinya berubah-ubah dan goyah, bukan hati yang diteguhkan. Kita memerlukan hati yang diteguhkan dengan kokoh, bukan yang berubah-ubah. Namun, berdasarkan kelahiran alamiah, hati kita selalu berubah-ubah. Yang paling berubah-ubah pada diri kita adalah hati kita. Contoh, pagi-pagi, seorang saudara mungkin bersikap baik terhadap istrinya. Namun ketika sarapan pagi, mungkin karena terganggu oleh suatu hal, ia berlaku kurang baik terhadap istriya. Ilustrasi ini melukiskan hati kita yang berubah-ubah.
Hati kita bukan hanya berubah-ubah dalam hubungan dengan sesama manusia, bahkan dalam hubungan kita dengan Tuhan. Allah tidak berubah; Ia tidak pernah berubah. Kita adalah orang yang berubah-ubah, berubah dalam hati. Karena inilah Paulus menaruh perhatiannya pada hati kaum beriman baru di Tesalonika yang perlu dimantapkan, dibangun, dan diteguhkan.
Ayat 13 dimulai dengan “Kiranya . . . supaya”, menunjukkan dampak atau akibat dari ayat-ayat sebelumnya, khususnya ayat 6-12. Kita perlu membaca ayat 6-13 sebagai bagian yang lengkap. Kemudian kita akan nampak bahwa ayat 13 merupakan kesimpulan dari yang dibahas Paulus dalam bagian ini. Dalam ayat-ayat ini Paulus memperhatikan iman dan kasih orang Tesalonika. Ia menghen-daki agar iman mereka disempurnakan dan kasih mereka bertambah-tambah serta berlimpah-limpah sehingga Tuhan dapat meneguhkan hati mereka.
Hati kita tetap perlu diteguhkan. Ini berlaku bagi yang muda maupun yang tua. Saya memaklumi pengalaman orang muda. Saya pun memaklumi bahwa orang muda mudah berubah. Saya masih ingat pengalaman saya di masa muda puluhan tahun yang lalu. Orang muda tidaklah mantap. Kini, sebagai orang yang tua, saya juga dapat membicarakan mereka yang tua. Orang tua tidaklah lebih mantap daripada orang muda. Sebenarnya tidak ada seorang pun yang menurut hayat insani alamiahnya bisa mantap di dalam hatinya. Sebagai manusia, kita semua mudah berubah. Sekadar bertambah tua dalam usia, tidaklah berarti ada perubahan yang mendasar dalam sifat kita. Misalkan gelas itu sangat rapuh. Setelah berselang 50 tahun, gelas itu tetap rapuh. Umur tidak membuatnya lebih kuat. Sama halnya dengan hidup manusia. Yang tua maupun yang muda mudah berubah hatinya. Sebab itu, saya sarankan kepada kalian terutama yang tidak terlalu muda, janganlah menaruh keyakinan pada hati Anda. Berhubung begitu mudah berubah-ubah, hati kita tidak boleh dipercaya sama sekali.
Dalam ministri, saya telah menjumpai ribuan orang. Selama ini pula saya melihat hati manusia mudah berubah. Sekali demi sekali, selalu ada orang dengan hati yang berubah-ubah. Karena hati kita berubah-ubah, keperluan yang mendesak dalam kehidupan orang Kristen kita adalah peneguhan hati kita.
Meskipun hati kita perlu diteguhkan, namun kita tidak sanggup melakukannya sendiri. Hanya Tuhan yang dapat meneguhkan hati kita. Jadi, kita memerlukan Dia untuk meneguhkan hati kita dengan kukuh, dan dibangun.
HATI YANG TAK BERCACAT
Kita telah nampak bahwa menurut ayat 13, Tuhan hendak meneguhkan hati kita agar tak bercacat. Tahukah Anda mengapa hati kita bercacat (patut dicela)? Hati kita bercacat karena mudah berubah-ubah (plin plan). Jika hati Anda mantap, dibangun, dan diteguhkan pada pondasi yang kukuh, barulah akan menjadi tak bercacat. Hati yang tak berubah-ubah adalah hati yang tak bercacat.
Kadang-kadang kita mengkritik orang lain mudah berubah-ubah, sedangkan kita sendiri juga berubah-ubah. Misalnya, seorang saudara memberi tahu putrinya agar jangan percaya kepada seorang pemuda karena ia itu plin-plan, mudah berubah. Sebagai orang tua kita boleh saja berkata demikian demi melindungi anak-anak kita. Demikian juga, demi memperhatikan kaum beriman baru, kita boleh juga mengingatkan mereka agar jangan sembarang percaya kepada orang-orang tertentu yang plin plan. Akan tetapi bagaimana dengan diri kita? Apakah kita ini tidak plin plan? Saya harus mengakui bahwa dalam hayat alamiah, saya ini sangat plin plan. Malahan kebanyakan keadaan plin plan tersebut bersifat negatif. Beberapa tahun yang lampau, saya mencatat beberapa hal dalam buku harian saya, misalkan mengenai bagaimana saya membereskan suatu perkara khusus dengan tuntas di hadapan Tuhan. Namun bertahun-tahun kemudian saya tidak berani membaca apa yang telah saya tuliskan itu, karena setelah menulis catatan yang sedemikian itu, saya mengalami perubahan.
Kita harus nampak dan mengakui bahwa hati kita plin plan. Sebab itu, kita perlu menerima belas kasihan dan anugerah dari Tuhan agar Dia ada kesempatan meneguhkan hati kita. Ia sedang menunggu izin kita sebelum melakukan peneguhan itu di batin kita. Setelah hati kita diteguhkan, hati kita akan tak bercacat.