BEKERJA SAMA DENGAN PEKERJAAN ALLAH (2)
Pembacaan Alkitab: 1 Tes. 5:12-28
Ketika menuliskan 5:12-22, dalam hati Paulus masih banyak yang ingin diutarakan kepada kaum beriman baru di Tesalonika. Masih banyak hal yang ingin diajarkannya kepada mereka. Namun berhubung tidak ada waktu untuk menulis lebih lanjut, ia menuangkan macam-macam hal dalam ayat-ayat ini: menghormati para pemimpin, selalu dalam damai, menegur yang tidak tertib, menghibur yang tawar hati, menunjang mereka yang lemah, bersabar terhadap semua orang, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, bersukacita senantiasa, berdoa dengan tidak berkeputusan, mengucap syukur dalam segala hal, tidak memadamkan Roh, tidak menganggap rendah perkataan penutur sabda, menguji segala sesuatu, memegang apa yang baik, menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan. Padahal hampir setiap butir memerlukan satu pasal penuh untuk dibahas dengan memadai.
BEKERJA SAMA DENGAN ALLAH
Dalam ayat 23 Paulus melanjutkan, “(Dan) semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna tanpa cacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” Dalam bahasa aslinya, ada kata “dan” di depan kata “semoga” (Red.). Kata “dan” menghubungkan berkat pengudusan Allah atas seluruh diri kita, yang dikatakan dalam ayat ini, dan pesan untuk menjauhi segala jenis kejahatan yang dikatakan dalam ayat sebelumnya. Di satu pihak, kita menjauhi setiap jenis kejahatan; di pihak lain, Allah menguduskan kita seluruhnya. Kita bekerja sama dengan Allah agar kita bisa menempuh kehidupan yang kudus.
Menurut ayat 16-22, kita harus bersukacita, berdoa, bersyukur, tidak memadamkan Roh, tidak meremehkan perkataan penutur sabda, menguji segala sesuatu, berpegang pada yang baik, dan menjauhi segala jenis kejahatan. Bila kita memperhatikan hal-hal ini, Allah damai sejahtera akan menguduskan seluruh diri kita. Di sini kita nampak masalah kerja sama kaum beriman dengan pekerjaan Allah. Dalam ayat 12-22 terdapat kerja sama kaum beriman dalam menempuh kehidupan yang rohani dan tersisih. Dalam ayat 23-24 terdapat pekerjaan Allah — menguduskan dan memelihara kaum beriman.
Jika kita ingin menempuh kehidupan yang kudus bagi hidup gereja, kita harus bekerja sama dengan pekerjaan Allah. Allah kini tinggal di batin kita. Allah Tritunggal yang berhuni di batin kita ini terus bekerja di batin kita. Inilah sebabnya kita tidak boleh memadamkan Roh itu. Pada hakikatnya, Roh itu adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Nyala api Roh di batin kita adalah pekerjaan Allah Tritunggal di dalam kita, pekerjaan yang memerlukan kerja sama kita. Kita bekerja sama dengan memperhatikan semua hal yang dibahas dalam ayat 12-22. Di pihak kita, kita perlu bekerja sama. Di pihak Allah, Dia terus bekerja di dalam kita. Allah damai sejahtera sendiri akan menguduskan kita seluruhnya. Allah Tritunggal berhuni di batin dan kita adalah orang-orang yang dihuni oleh Dia. Maka, harus ada dua pihak: pihak Allah dan pihak kita. Dia bekerja dan kita bekerja sama dengan pekerjaan-Nya.
Dalam ayat 23, Paulus menyatakan keinginannya dan kedambaannya: semoga Allah damai sejahtera menguduskan seluruh diri kita. Sebenarnya, ini adalah doa rasul. Paulus berdoa agar Allah damai sejahtera menguduskan kita seluruhnya. Boleh dikatakan bahwa bagian pertama ayat 23 merupakan perkataan berkat Paulus; ia menginginkan Allah damai sejahtera menguduskan mereka.
Dalam bagian kedua ayat ini Paulus mengucapkan, “Semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna.” Bagian pertama ayat ini menyinggung Allah menguduskan kita; di sini, Allahlah yang mengambil inisiatif. Tetapi bagian kedua ayat ini menyinggung terpeliharanya roh, jiwa, dan tubuh kita, di sini, kitalah yang harus mengambil inisiatif.
TERPELIHARA
Pesan “terpelihara” ini dapat dipandang sebagai kata kerja aktif maupun pasif. Ini berarti kita mengambil insiatif agar terpelihara. Namun demikian Allah adalah yang memelihara roh, jiwa, dan tubuh kita. Jadi, kita yang mengambil inisiatif, tetapi Allah melakukan pekerjaan memelihara seluruh diri kita. Sebab itu, kita wajib berdoa, “Tuhan, aku mendambakan roh, jiwa, dan tubuhku terpelihara. Namun, aku tidak mampu melakukan hal ini, kecuali mengambil inisiatif, mohon Engkau, Tuhan, untuk melakukannya.”
Apakah Anda damba dan berharap agar seluruh diri Anda terpelihara dengan sempurna? Jika tidak, kita harus mohon Tuhan untuk membelaskasihani kita dan mengaru-niai kita keinginan yang sedemikian. Jika kita sudah mempunyai kedambaan ini, kita perlu mengambil inisiatif untuk berdoa agar Tuhan memelihara kita.
Paulus menuliskan ayat 23 bukan menurut doktrin, melainkan menurut pengalamannya. Kita sulit mengatakan apakah ayat ini berisi doa atau berkat Paulus. Yang pasti di sini kita nampak pengharapan dan keinginan Paulus. Paulus mengharapkan agar Allah damai sejahtera menguduskan seluruh diri kaum beriman dan agar kaum beriman mendambakan roh, jiwa, dan tubuh mereka terpelihara sempurna tanpa cacat. Dapatkah Anda menemukan pekerjaan Allah dan kerjasama kita dalam ayat ini? Tidak usah disangsikan, rasul di sini mewakili Allah. Jadi, keinginan Paulus adalah keinginan Allah. Harapan rasul adalah harapan Allah. Ini berarti Allah ingin dan damba menguduskan seluruh diri kita. Tetapi apakah kita memiliki harapan agar roh, jiwa, dan tubuh kita terpelihara? Pekerjaan pengudusan itu adalah pekerjaan Allah, tetapi keinginan agar terpelihara itu kerja sama kita. Ketika kita memiliki kedambaan Allah dan keinginan kita, kita bekerja sama dengan pekerjaan Allah yang menguduskan seluruh diri kita dan memelihara seluruh diri kita.
KEDATANGAN TUHAN
Dalam ayat 23, Paulus menyebut “kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” Ini merupakan peringatan yang lebih lanjut dari tulisan Paulus dalam pasal 4. Dalam ayat 23 Paulus seolah berkata, “Apakah kalian, kaum beriman, bergembira karena Tuhan Yesus datang kembali? Apakah kalian menantikan kedatangan-Nya? Jika kalian gembira dan menantikan, kalian perlu mempraktekkan apa yang baru saja kutuliskan mengenai dikuduskan, dan roh, jiwa, dan tubuh kalian terpelihara. Tanpa melaksanakan hal ini, kalian tidak akan siap menghadapi kedatangan Tuhan. Kalian harus dikuduskan dan dipelihara, baru bisa dikatakan siap, sedia, memenuhi syarat untuk menghadapi kedatangan Tuhan Yesus. Kalian harus mengakui bahwa saat ini kalian belum siap untuk kedatangan Tuhan. Ini berarti Ia harus menunda kedatangan-Nya sampai kaum beriman sudah siap. Saudara-saudara yang terkasih, aku menganjuri kalian agar siap sedia menyongsong kedatangan Tuhan melalui dikuduskan seluruhnya dan dipelihara dalam roh, jiwa, dan tubuh kalian dengan sempurna dan tanpa cacat.”
DIKUDUSKAN SELURUHNYA
Menurut ayat 23, Allah damai sejahtera adalah Yang menguduskan. Pengudusan-Nya mendatangkan damai sejahtera. Ketika kita dari dalam dikuduskan sepenuhnya oleh-Nya, kita memiliki damai sejahtera terhadap-Nya dan terhadap manusia dalam segala hal.
Istilah “menguduskan” di sini berarti memisahkan, yaitu menyisihkan untuk Allah dari hal-hal yang umum atau duniawi. “Seluruhnya” berarti sepenuhnya, tuntas, sampai puncaknya. Allah menguduskan kita seluruhnya, sehingga tidak ada bagian dari diri kita, baik roh kita, jiwa kita, ataupun tubuh kita, yang tetap umum atau duniawi.
Pengungkapan Paulus tentang roh, jiwa, dan tubuh kita, dengan kuat menunjukkan bahwa manusia terdiri atas tiga bagian: roh, jiwa, dan tubuh. Roh sebagai bagian kita yang paling dalam adalah organ batin, yang memiliki kesadaran akan Allah, supaya kita bisa berkontak dengan Allah (Yoh. 4:24; Rm. 1:9). Jiwa adalah diri kita (bandingkan Mat. 16:26; Luk. 9:25), terdapat di antara roh dan tubuh kita, yang memiliki kesadaran akan diri, agar kita bisa memiliki kepribadian. Tubuh sebagai bagian luar kita adalah organ lahiriah, yang memiliki kesadaran akan dunia, agar kita bisa berkontak dengan dunia materi. Tubuh menampung jiwa, dan jiwa adalah bejana yang menampung roh. Dalam roh, Allah sebagai Roh itu tinggal; dalam jiwa, diri kita tinggal; dan dalam tubuh, indra jasmani berada. Allah menguduskan kita pertama-tama, mendapatkan roh kita melalui kelahiran kembali (Yoh. 3:5-6); kedua, meluaskan diri-Nya sebagai Roh pemberi-hayat dari roh kita ke dalam jiwa guna meresapi dan mengubah jiwa kita (Rm. 12:2; 2Kor. 3:18); dan terakhir, memberikan hayat kepada tubuh kita yang fana melalui jiwa kita (Rm. 8:11, 13), dan mentransfigurasi tubuh kita dengan kuasa hayat-Nya (Flp. 3:21).
Allah tidak hanya menguduskan kita seluruhnya, tetapi juga memelihara dengan sempurna roh, jiwa, dan tubuh kita. “Seluruhnya” beraspek kuantitatif, berhubungan dengan jumlah; “sempurna” beraspek kualitatif, berhubungan dengan mutu. Secara kuantitatif, Allah menguduskan kita seluruhnya; secara kualitatif Allah memelihara kita dengan sempurna, yaitu Dia menjaga roh, jiwa, dan tubuh kita sempurna. Karena kejatuhan, tubuh kita dirusak, jiwa kita tercemar, dan roh kita dimatikan. Dalam keselamatan sempurna Allah, seluruh diri kita akan diselamatkan, disempurnakan. Untuk ini, Allah memlihara roh kita dari unsur yang mematikan (Ibr. 9:14), memelihara jiwa kita agar tidak tinggal lagi di dalam alamiah dan keusangan (Mat. 16:24-26), dan memelihara tubuh kita dari perusakan dosa (1Tes. 4:4; Rm. 6:6). Pemeliharaan Allah yang sedemikian ini dan pengudusan-Nya yang tuntas menunjang kita untuk menempuh kehidupan yang kudus hingga mencapai kematangan, agar kita dapat bertemu dengan Tuhan dalam parousia-Nya.
Dalam ayat 24 Paulus berkata, “Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” Allah yang setia yang memanggil kita juga akan menguduskan kita seluruhnya dan menjaga seluruh diri kita dengan sepenuhnya sempurna. Beginilah kata-kata keyakinan Paulus kepada kaum beriman.
PENUTUP SURAT
Ayat 25-28 menerangkan penutup surat ini. Ayat 25 mengatakan, “Saudara-saudara, doakanlah kami.” Bukankah mengherankan Paulus mohon kepada mereka yang baru saja di dalam Tuhan kurang dari setahun untuk mendoakan dia? Maukah Anda mohon kepada kaum beriman muda yang seperti itu untuk mendoakan Anda? Permohonan Paulus untuk didoakan dalam ayat ini dapat diibaratkan seorang kakek minta didoakan cucunya yang masih muda. Namun, Paulus minta kaum beriman baru, yang belum lama di dalam Tuhan, berdoa bagi para rasul. Paulus tahu, betapa pun sedikit pengalaman berdoa mereka, tetapi doa mereka akan tetap berguna. Dari sini kita nampak bahwa kita tidak boleh merendahkan orang yang baru atau muda. Sebaliknya, kita harus mohon mereka mendoakan kita.
Dalam ayat 26-27 Paulus mengatakan, “Sampaikanlah salam kami kepada semua saudara seiman dengan ciuman yang kudus. Demi nama Tuhan aku minta dengan sangat kepadamu, supaya surat ini dibacakan kepada semua saudara seiman.” Beberapa naskah kuno menambahkan “yang kudus”. Ini berarti, karena surat ini membahas kehidupan yang kudus kaum beriman, maka dalam nasihat penutupnya, rasul menyebut kaum beriman “saudara-saudara yang kudus”.
Ucapan penutup Paulus ialah: “Anugerah Yesus Kristus, Tuhan kita, menyertai kamu!” “Anugerah” ialah Allah di dalam Putra menjadi kenikmatan kita. Menurut Yohanes 1:17, “Sebab hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus.” Hukum Taurat menuntut manusia menurut apa adanya Allah, tetapi anugerah menyuplai manusia dengan apa adanya Allah guna memenuhi tuntutan-tuntutan Allah. Tak seorang pun bisa berbagian akan Allah melalui hukum Taurat, tetapi anugerah memungkinkan manusia menikmati Allah. Jadi, anugerah ialah Allah dinikmati manusia.
Dalam 1Korintus 15:10 ada kalimat yang lebih lanjut tentang anugerah. Di sini Paulus mengatakan, “Tetapi karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan anugerah yang diberikan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku.” Anugerah dalam ayat ini adalah Kristus yang bangkit menjadi Roh pemberi-hayat, untuk membawa Allah Tritunggal yang telah melalui proses di dalam kebangkitan, ke dalam kita sebagai hayat dan suplai hayat kita, agar kita dapat hidup dalam kebangkitan. Karena itu, anugerah adalah Allah Tritunggal manjadi hayat dan segala-gala bagi kita.
Anugerah yang mendorong Paulus dan beroperasi di dalamnya, bukan suatu hal atau sebuah barang, melainkan satu persona yang hidup, Kristus yang telah bangkit, perwujudan Allah Bapa yang menjadi Roh pemberi-hayat yang almuhit, berhuni di batin Paulus sebagai segala sesuatunya. Hanya ketika kita menikmati Tuhan sebagai anugerah, barulah kita dapat menempuh kehidupan yang kudus bagi hidup gereja, yakni kehidupan yang murni dan tepat bagi gereja berdasarkan Tuhan sebagai suplai hayat.