← Daftar isi 1 Tesalonika (2) · bab 4/10

BEKERJA SAMA DENGAN PEKERJAAN ALLAH (1)

Pembacaan Alkitab: 1 Tes. 5:12-28

Pasal 5 dimulai dengan kata “tetapi”. Ini menunjukkan bagian akhir dari pasal 4, yang menyangkut masalah keterangkatan, memerlukan keterangan lebih lanjut mengenai masalah lain. Menurut 5:1, keterangan yang lebih lanjut ini berhubungan dengan masa dan waktu.

Ketika saya masih muda dan baru percaya Tuhan, saat mendengar tentang kedatangan Tuhan, saya amat tertarik. Kaum beriman baru biasanya senang mendengar tentang kedatangan Tuhan. Boleh jadi mereka mengharapkan Tuhan datang sewaktu-waktu. Itulah sebabnya, mereka perlu keterangan yang lebih lanjut dari Paulus dalam pasal 5.

“Masa” dan “waktu” dalam ayat 1 berhubungan dengan kedatangan Tuhan. Ini dikuatkan dengan “hari Tuhan” dalam ayat 2. Tibanya hari Tuhan itu berbeda dengan apa yang kita bayangkan. Itu sesungguhnya suatu rahasia. Tuhan Yesus sendiri bahkan mengatakan bahwa sebagai seorang manusia, Ia tidak tahu waktu kedatangan-Nya. Tanggal kedatangan Tuhan mutlak tersembunyi sebagai rahasia dalam hati Bapa, dan rahasia ini belum diungkapkan. Karena itu, dalam 5:2 Paulus mengatakan bahwa hari Tuhan akan “datang seperti pencuri pada malam”. Sudah jelas tidak ada pencuri yang mau memberi peringatan terlebih dulu bahwa ia akan datang mencuri sesuatu. Sama halnya, hari Tuhan akan tiba-tiba datang, tanpa diduga-duga. Jadi, kita perlu berjaga-jaga dan waspada. Kita tidak sanggup memastikan kapan Tuhan datang, karena itu kita perlu berjaga-jaga dan waspada.

Setelah membahas masalah berjaga-jaga dan waspada pada 5:1-11, Paulus lalu beralih ke 5:12-24 mengenai kerja sama kita dengan pekerjaan Allah. Dalam ayat-ayat ini Paulus menyinggung beberapa hal secara mendasar.

Dalam Perjanjian Baru tidak ada kitab yang berakhir dengan cara yang begitu mempesona dan almuhit seperti Kitab 1Tesalonika. Kata penutup Paulus meliputi sejumlah hal yang penting dan menentukan, yang oleh Paulus tidak sempat diuraikan secara terperinci. Itulah sebabnya ia merangkaikan semua itu dalam satu bagian, menjelang akhir kitab ini.

MENGHORMATI PARA PIMPINAN

Ayat 12-13 mengatakan, “Kami minta kepadamu, Saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan menegur kamu; dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain.” Kata “menghormati” di sini pertama-tama berarti mengakui, dan kemudian memberi penghormatan dan penghargaan. Menurut Matius 7:23, ketika Tuhan Yesus datang lagi, Ia akan berkata kepada orang-orang tertentu, “Aku tidak pernah mengenal kamu.” Ungkapan “Aku tidak pernah mengenal kamu” berarti tidak mengindahkan atau menghargai apa yang telah dilakukan. Sama halnya, dalam ayat 12 kata “menghormati” berarti mengindahkan dan menghargai mereka yang bekerja keras di antara kita dan yang memimpin di tengah-tengah kita. Di sini mungkin rasul mengacu kepada penatua yang bekerja keras dalam mengajar dan memimpin di antara kaum beriman (1Tim. 5:17).

Memimpin terutama bukan memerintah, melainkan memberikan teladan dalam melakukan sesuatu agar orang lain mengikutinya. Para penatua tidak seharusnya hanya berjerih lelah mengajar, tetapi juga harus melakukan banyak perkara sebagai teladan. Teladan itu bisa menjadi dasar untuk teguran yang mereka sampaikan.

Memang mengejutkan, gereja di Tesalonika yang baru berdiri kurang dari setahun dan dilayani Paulus hanya selama tiga kali hari Sabat, namun sudah muncul beberapa pemimpin. Dalam waktu yang singkat gereja telah didirikan, dan menghasilkan beberapa pemimpin. Paulus benar-benar pekerja Kristen yang memenuhi syarat dan trampil.

Dalam ayat 13 Paulus berpesan kepada kita agar menghormati dalam kasih kepada para pimpinan oleh karena pekerjaan mereka. “Menghormati” di sini berarti mengarahkan pikiran melalui proses nalar kepada suatu kesimpulan; jadi, memikirkan, mempertimbangkan, menilai, menghormati, dan menghargai. Para pimpinan harus memandang diri mereka sebagai budak yang melayani kaum beriman. Namun kaum beriman harus menghormati mereka dengan kasih, oleh karena pekerjaan mereka.

Sewaktu Paulus menulis surat ini, satu pikiran demi satu pikiran susul-menyusul. Seperti yang telah kita tujukkan, pokok bagian sebelumnya (5:1-11) adalah berjaga-jaga dan waspada. Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang berjuang bagi kepentingan Allah, dan untuk itu kita perlu berjaga-jaga dan waspada. Selanjutnya Paulus meneruskan dengan mengatakan bahwa kita harus belajar menghargai, menghormati para pemimpin dalam gereja. Kelihatannya perkara berjaga-jaga, waspada, dan menghormati para pimpinan tidak ada hubungan yang logis. Namun, ketiganya justru berkaitan secara riil. Jika kita mempertahankan untuk siaga penuh dalam peperangan rohani, kita pasti akan menghormati para pimpinan. Mereka yang telah berpengalaman dalam dinas militer mengetahui bahwa prajurit harus menghargai, menghormati perwira komandannya. Tanpa menghormati para pimpinan, pasukan itu takkan dapat berperang dengan semestinya. Hal pertama yang harus dipelajari oleh seorang prajurit agar mampu bertempur adalah menghormati orang yang memimpinnya. Saya percaya bahwa inilah konsepsi Paulus dalam mengalihkan pembicaraannya kepada perkara menghargai para pimpinan atas butir ini.

HENDAKLAH BERDAMAI

SEORANG DENGAN YANG LAIN

Dalam ayat 13 Paulus memberikan nasihat ini, “Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain.” Menghormati orang yang memimpin dan berdamai seorang dengan yang lain adalah keadaan yang tepat dari suatu gereja lokal. Akan tetapi apabila kaum saleh di sebuah gereja lokal tidak mengindahkan para pimpinannya, pastilah tidak ada damai. Prinsipnya sama dengan kehidupan keluarga. Jika anak-anak tidak menghormati orang tua mereka, mana mungkin ada damai? Situasi demikian mustahil menciptakan damai dalam keluarga tersebut. Begitu juga, tidak ada damai dalam pasukan jika para prajuritnya tidak mengindahkan perwira atasannya.

Rangkaian pemikiran Paulus dalam ayat-ayat ini sangat bermakna. Pertama, kita harus berjaga-jaga dan waspada dalam menghadapi peperangan rohani. Kedua, kita harus menjunjung tinggi para pimpinan. Kemudian kita akan hidup damai dengan sesama kita.

MENEGUR, MENDORONG, MENUNJANG,

DAN BERSABAR

Dalam ayat 14 Paulus melanjutkan, “Kami juga mena-sihati kamu, Saudara-saudara, tegurlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah (tunjanglah) mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang.” Mereka yang tidak tertib itu mungkin mengacu terutama kepada orang yang malas dan tidak mau bekerja, suka mencampuri urusan orang (2Tes. 3:11), tidak disiplin, tidak mengikuti peraturan, pemberontak. Mereka berbuat semaunya, tidak tertib serta tidak mempedulikan aturan yang semestinya dalam hidup gereja. Menurut ayat 14, semua saudara, bukan hanya para pemuka, harus menegur yang tidak tertib. Ini berarti semua orang beriman harus berfungsi menggembalakan orang lain dan membina mereka.

Dalam ayat 14 Paulus juga mendorong kita untuk menghibur yang tawar hati. Secara harfiah, bahasa Yunaninya tawar hati berarti “berjiwa kecil”, yaitu kapasitas pikiran, emosi, dan tekadnya sempit dan lemah. Mereka yang berjiwa sempit amatlah terbatas kapasitasnya dalam menanggung penderitaan atau kesulitan. Di antara umat saleh, ada orang yang terlahir dengan jiwa yang sempit. Mereka perlu dihibur.

Dalam ayat 14 Paulus mendorong kita pula untuk menunjang yang lemah. Yang lemah di sini mungkin secara umum mengacu kepada orang yang lemah, entah dalam rohnya, jiwanya, tubuhnya, atau imannya (Rm. 14:1; 15:1). Kaum beriman di antara kita ada yang lemah. Boleh jadi lemah dalam tubuh atau dalam roh, dalam hati atau dalam tekad. Ada yang lemah dalam iman atau dalam doa. Apa yang akan kita perbuat terhadap orang-orang yang lemah ini? Menurut nasihat Paulus, kita perlu menunjang mereka.

Hari ini kita masih berada dalam ciptaan lama, bukan dalam Yerusalem Baru. Inilah sebabnya banyak masalah di antara umat saleh. Menurut pengalaman saya, setiap kita bisa saja merupakan masalah bagi orang lain. Saya mungkin merupakan masalah bagi Anda dan Anda mungkin merupakan masalah bagi saya. Di satu pihak, kita bisa mengasihi semua orang beriman; di pihak lain, mereka mungkin merupakan masalah bagi kita. Karena itu, kita perlu bersabar terhadap semua orang.

Jangan berkhayal gereja sebagai Utopia (negeri impian). Sebaliknya hidup gereja penuh dengan masalah. Kalau seorang beriman tidak ada masalah apa pun, ia tidak mung-kin masuk ke dalam hidup gereja. Mereka yang tidak punya masalah apa pun tidak memerlukan hidup gereja. Di satu aspek, gereja adalah rumah sakit yang penuh dengan mereka yang sakit. Karena itu, kita perlu bersabar terhadap semua orang beriman.

Jangan kesal apabila ada orang mendatangi Anda dengan membawa masalah, bahkan masalah yang sepele dan tidak berarti. Khususnya mereka yang berjiwa sempit mungkin datang membawa masalah yang kecil-kecil. Bagi orang yang demikian, seutas rambut pun seolah beban yang amat berat. Bantulah mereka menanggulangi masalah-masalah mereka, dan janganlah memarahi mereka karena masalahnya sepele. Seorang penatua mungkin saja dibuat gusar karena masalah kecil yang dibawa ke hadapannya. Wahai para penatua, belajarlah bersabar, lebih-lebih terhadap yang lemah dan yang berjiwa sempit. Setiap saudara yang damba menjadi penatua harus sabar. Namun, ungkapan Paulus dalam ayat 14, bukanlah terbatas pada penatua saja, melainkan ditujukan kepada semua orang beriman.

Sering kali kaum beriman datang kepada saya dengan mengatakan bahwa mereka sudah tidak betah terhadap hidup gereja di lokal mereka dan ingin pindah ke tempat lain. Saya beri tahu mereka andaikata mereka pindah ke tempat lain, mereka akan menemukan bahwa situasi di tempat baru itu bahkan lebih buruk lagi. Jika mereka berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, akhirnya akan merasa lebih baik di lokal semula mereka. Inilah pengalaman yang umum di antara para wisatawan gereja. Janganlah berpikir untuk pindah ke tempat lain yang Anda kira keadaannya lebih baik, tetaplah di tempat Anda berada saat ini dan bersabarlah terhadap semua orang. Karena tidak ada gereja yang surgawi yang tanpa masalah, semua orang beriman perlu sabar, bukan para penatua saja.

Dalam ayat 15 Paulus melanjutkan, “Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas yang jahat dengan yang jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang.” Ini berarti, tidak peduli bagaimana orang lain memperlakukan kita, bahkan meskipun perlakuan mereka jahat, kita harus mengusahakan yang baik untuk mereka. Namun, tanpa bersabar, kita akan membalas kejahatan dengan kejahatan.

BERSUKACITA, BERDOA, DAN BERSYUKUR

Ayat 16 mengatakan, “Bersukacitalah senantiasa.” Anjuran ini didasarkan pada keadaan yang disebutkan dalam ayat 14-15. Bersukacita mencakup menyeru nama Tuhan. Dapatkah Anda bersukacita di dalam Tuhan tanpa menyeru nama-Nya? Saya tidak yakin hal itu bisa terjadi. Kita mustahil bersukacita dalam Tuhan tanpa menyebut nama-Nya. Karena itu, nama Tuhan tersirat dalam pesan Paulus untuk bersukacita senantiasa. Sebab itu, ketika kita bersukacita, kita bersukacita karena nama Tuhan.

Dikatakan oleh Paulus dalam ayat 17, “Tetaplah berdoa.” Yang dimaksudkannya ialah bersekutu tanpa henti dengan Allah dalam roh kita. Hal ini perlu dipertahankan dengan gigih (Rm. 12:12; Kol. 4:2) dengan roh yang kuat (Ef. 6:18).

Dalam ayat 18 dilanjutkan, “Ucapkanlah syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Kita harus bersyukur dalam segala hal karena segala hal bekerja bersama-sama untuk kebaikan kita, agar kita dapat diubah dan diserupakan dengan gambar Kristus (Rm. 8:28, 29). Klausa “sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” menjelaskan tiga hal yang disebutkan sebelumnya. Allah ingin kita menempuh hidup yang bersukacita, berdoa, dan bersyukur. Kehidupan semacam ini merupakan kemuliaan bagi Allah dan memalukan musuh-Nya.

Urutan dari ayat 16-18 sesuai dengan pengalaman Paulus. Paulus tahu bahwa pertama-tama kita bersukacita, lalu berdoa, dan kemudian bersyukur. Jika Anda mencoba mempraktekkannya dengan urutan yang sebaliknya, pasti akan tahu bahwa Paulus telah menaruh urutan yang benar berdasarkan pengalamannya. Kehendak Allah di dalam Kristus Yesus bagi kita ialah agar kita bersukacita, berdoa, dan bersyukur.

JANGAN MEMADAMKAN ROH

Ayat 19 Paulus meneruskan, “Janganlah padamkan Roh (itu).” Roh itu menyebabkan roh kita menyala-nyala (Rm. 12:11) dan karunia kita berkobar (2Tim. 1:6). Karena itu, kita tidak seharusnya memadamkan-Nya.

Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang diilhami dan digerakkan oleh roh. Sepanjang hari kita seharusnya mengalami Roh itu mengilhami dan menggerakkan kita, beroperasi dan beraktivitas di dalam kita. Jadi, janganlah memadamkan Roh itu, melainkan kobarkanlah nyala api yang ada di dalam kita. Istilah “memadamkan” menyiratkan ada api. Roh itu menyala di dalam kita. Kita tidak boleh memadamkan api ini, sebaliknya harus mengobarkannya.

TIDAK MEREMEHKAN NUBUAT-NUBUAT

Dikatakan Paulus dalam ayat 20-21, “Dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat (perkataan penutur sabda). Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” Menganggap rendah di sini ialah menganggap tidak ada, menganggap remeh atau ringan. Nubuat-nubuat (perkataan penutur sabda) dalam ayat 20 mengacu kepada tutur sabda yang berasal dari wahyu, tidak selalu merupakan ramalan (lihat 1Kor. 14:1, 3-4). Bertutur sabda ialah berbicara bagi Tuhan dan mengutarakan Tuhan. Hanya sebagian kecil dari tutur sabda yang bersangkut-paut dengan ramalan. Kita tidak boleh menyepelekan pembicaraan semacam ini. Ujilah segala sesuatu mencakup membedakan perkataan penutur sabda (1Kor. 14:29), membedakan roh-roh (1Kor. 12:10), menguji roh-roh (1Yoh. 4:1), membuktikan apa itu kehendak Allah (Rm. 12:2), dan membuktikan apa yang berkenan kepada Tuhan (Ef. 5:10). Di satu pihak, kita tidak boleh menyepelekan perkataan penutur sabda; di pihak lain, kita tidak boleh mengikutinya secara membuta. Kita perlu membuktikan segala sesuatu, menguji segala sesuatu, dan kemudian berpegang teguh pada yang baik.

JAUHKAN DIRI DARI SEGALA KEJAHATAN

Ayat 22 mengatakan, “Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.” Versi King James mengatakan, “Jauhkan-lah diri dari berbagai rupa kejahatan.” Karena memakai terjemahan ini, beberapa guru Alkitab telah salah tafsir terhadap ayat ini menyangka bahwa ayat itu menyuruh kita menghindari bukan hanya kejahatan bahkan juga segala corak rupa kejahatan, segala sesuatu yang dicurigai sebagai kejahatan. Pada masa silam, kita juga terpengaruh oleh pemahaman ini. Tetapi jika kita pertimbangkan dengan teliti makna “corak” atau “rupa” dalam bahasa Yunaninya, kita akan mempunyai pengertian yang tepat terhadap ayat ini. Secara harfiah, istilah ini berarti “spesies”, menyatakan sesuatu yang terlihat, sesuatu yang dapat dirasakan, karena itu ini berarti suatu pemandangan. Istilah ini bukan mengacu kepada penampilan yang jahat, melainkan mengacu kepada jenis, bentuk, model, pemandangan dari perkara yang jahat. Kaum beriman yang menempuh kehidupan yang kudus dalam iman, kasih, dan pengharapan harus menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan.