BERJAGA-JAGA DAN WASPADA
Pembacaan Alkitab: 1 Tes. 5:1-11
Segera setelah Paulus mengetengahkan pengharapan kehidupan yang kudus bagi hidup gereja, ia mengungkapkan masalah berjaga-jaga dan waspada atas kehidupan ini. Kita memiliki pengharapan yang sangat ajaib, yakni Tuhan Yesus akan datang kembali dan kita akan diangkat oleh-Nya. Pengharapan ini menuntut kita berjaga-jaga dan waspada. Ketika kita sedang mengharapkan, kita perlu berjaga-jaga dan waspada. Inilah alasannya Kitab 1 Tesalonika tidak berakhir pada pasal 4. Dalam kitab yang indah bagi kaum beriman baru ini, Paulus menambahkan kalimat lebih lanjut tentang berjaga-jaga dan waspada. Sekali lagi, kita wajib mengikuti teladan Paulus. Kita tidak boleh hanya membesarkan hati kaum beriman baru di dalam pengharapan mereka. Kita juga harus memberi tahu mereka lebih lanjut bahwa pengharapan ini menuntut mereka berjaga-jaga dan waspada. Mereka tidak boleh terlena, mabuk, atau terbius.
Ketika Paulus menulis bagian akhir dari pasal 4, saya yakin bahwa ia berbeban untuk membicarakan tentang berjaga-jaga dan waspada atas kehidupan yang kudus bagi hidup gereja. Jika kitab ini berhenti sampai pada kesimpulan akhir pasal 4, dan tidak ada 5:1-11, bisa-bisa beberapa orang beriman akan tersesat. Faktanya, gara-gara mereka memi-sahkan 4:13-18 dari kelanjutan kitab ini, sejumlah orang Kristen telah tersesat atau bahkan terbius mentalnya. Sebab itu, kalau menerapkan pasal 4 ke atas situasi kita, jangan sekali-kali mengabaikan 5:1-11. Artinya, ketika menunggu kembalinya Tuhan, kita perlu berjaga-jaga dan waspada.
MASA DAN WAKTU
Dalam 5:1-3 Paulus menunjukkan bahwa hari Tuhan akan tiba seperti pencuri di malam hari. Ayat 1 berbunyi: “Tetapi tentang masa dan waktunya, Saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu.” Masa dan waktu di sini berhubungan dengan kedatangan Tuhan. Ini dikuatkan dengan “hari Tuhan” dalam ayat 2.
HARI TUHAN
Dalam ayat 2 Paulus melanjutkan, “Karena kamu sendiri tahu benar-benar bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.” Dalam pasal sebelumnya, kedatangan Tuhan terutama untuk menghibur dan mendorong. Dalam pasal ini hari Tuhan terutama untuk peringatan (ayat 3-6), karena hari Tuhan yang disebutkan dalam firman Tuhan kebanyakan berhubungan dengan penghakiman Tuhan (1Kor. 1:8; 3:13; 5:5; 2Kor. 1:14; 2Tim. 4:8).
Fakta bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam, ini menunjukkan bahwa hari kedatangan Tuhan dirahasiakan, dan akan datang secara tiba-tiba, tidak diketahui oleh seorang pun sebelumnya (Mat. 24:42-43; Why. 3:3; 16:15). Pendapat ini dikuatkan oleh apa yang Paulus utarakan dalam ayat 3: “Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman — maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil di-timpa oleh sakit bersalin — mereka pasti tidak akan luput.”
PERLINDUNGAN IMAN, KASIH,
DAN PENGHARAPAN
Dari ayat 4-11 kita nampak perihal perlindungan iman, kasih, dan pengharapan. Dalam ayat 4 Paulus mengingatkan bahwa kita tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kita seperti pencuri, dan dalam ayat 5 ia memperlihatkan bahwa kita adalah anak-anak terang dan anak-anak siang, jadi bukan anak-anak malam atau kegelapan. Kemudian ayat 6 menganjuri kita agar berjaga-jaga dan waspada: “Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar (waspada).” Tidur di sini menandakan tidak berjaga-jaga. Berjaga-jaga berlawanan dengan tidur dalam ayat 7, dan sadar berlawanan dengan mabuk. Dalam ayat 7 Paulus berkata, “Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam.” Di sini mabuk berarti tidak sadar, mati rasa.
Orang Kristen tahu benar istilah berjaga-jaga. Namun mungkin juga kita tidak paham arti sesungguhnya. Apa arti berjaga-jaga? Jawabannya akan kabur apabila kita sekadar menerangkan bahwa berjaga-jaga ialah tidak tidur. Dalam hal ini, seperti banyak hal lainnya, kita mungkin menganggap kita sudah mengerti apa yang dimaksud Alkitab, padahal kita tidak mengerti sama sekali. Demikian juga dengan apa yang dimaksud dengan sadar atau waspada.
Berjaga-jaga dan waspada berkaitan dengan perlindungan terhadap tiga susunan dasar kehidupan yang kudus bagi hidup gereja yaitu iman, kasih, dan pengharapan. Ayat 8 menunjukkan hal ini: “Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan.” Baju zirah dan ketopong di sini mengacu kepada peperangan rohani. Baju zirah yang menutupi dan melindungi hati dan roh kita menurut kebenaran Allah (Ef. 6:14), berasal dari iman dan kasih. Ketopong yang menutupi dan melindungi mentalitas kita, pikiran kita, adalah pengharapan keselamatan (Ef. 6:17). Iman, kasih, dan pengharapan adalah tiga unsur dasar penyusun kehidupan orang Kristen yang sejati, seperti yang digambarkan dalam 1Tes. 1:3. Iman berhubungan dengan tekad kita, bagian dari hati kita (Rm. 10:9), dan dengan hati nurani kita, bagian dari roh kita (1Tim. 1:19). Kasih berhubungan dengan emosi kita, bagian lain dari hati kita (Mat. 22:37), dan pengharapan berhubungan dengan pengertian kita, fungsi pikiran kita. Semuanya itu perlu di-lindungi sehingga kehidupan orang Kristen yang sejati bisa terjaga. Kehidupan semacam ini adalah kehidupan yang berjaga-jaga dan waspada (ay. 6-7). Pada awal surat ini, rasul memuji pekerjaan iman, usaha kasih, dan ketekunan peng-harapan kaum beriman (1:3). Di sini, pada penutup surat ini, dia menasihati mereka untuk mempertahankan dan melindungi kebajikan rohani itu dengan berperang bagi hal-hal itu.
BERPENGHARAPAN AKAN KEMBALINYA TUHAN
Pengharapan yang dikatakan dalam ayat 8 ialah pengharapan akan kedatangan kembali Tuhan kita, yang akan menjadi keselamatan kita dari kebinasaan yang akan datang dan dari perhambaan kebobrokan ciptaan lama (Rm. 8:21-25). Penyelamatan dalam ayat 8 dan 9 bukan keselamatan dari kebinasaan kekal melalui kematian Tuhan, melainkan keselamatan dari kebinasaan yang akan datang (ay. 3) melalui kedatangan kembali Tuhan.
Menurut ayat 8 kita memerlukan persenjataan untuk melindungi iman, kasih, dan pengharapan kita. Jika kita ingin melindungi aspek-aspek susunan dasar kehidupan yang kudus bagi hidup gereja, kita perlu berjaga-jaga dan waspada. Karena itu, berjaga-jaga dan waspada merupakan bagian dari kehidupan yang harus kita tempuh selama kita mengharapkan kedatangan Tuhan kembali.
Telah kita tunjukkan bahwa dalam pasal 4 Paulus menghibur kita dengan pengharapan ini, memberi tahu kita bahwa di saat Tuhan datang kita akan diangkat. Kita akan dibawa ke dalam keadaan yang sangat gembira untuk bertemu dengan Tuhan di angkasa. Namun, pengharapan ini menghendaki kehidupan yang berjaga-jaga dan waspada. Kita memerlukan kehidupan yang berjaga-jaga dan waspada untuk menantikan kedatangan kembali Tuhan. Dengan kata lain, sewaktu kita menantikan kedatangan Tuhan, kita harus menempuh kehidupan yang berjaga-jaga dan waspada. Dengan demikian, kita akan melindungi dan mengamankan susunan dasar kehidupan orang Kristen.
MAKNA BERJAGA-JAGA
Sekarang kita sampai pada masalah yang sangat pen-ting untuk memahami makna berjaga-jaga dan waspada. Berjaga-jaga di sini berkaitan dengan peperangan. Beberapa versi memakai istilah siaga, kata yang ada hubungannya dengan peperangan. Dalam peperangan, pasukan dalam perlu siaga dan berjaga-jaga. Fakta berjaga-jaga ada hubungannnya dengan peperangan dibenarkan oleh Paulus melalui ungkapan baju zirah dan ketopong pada ayat 8. Baju zirah dan ketopong bukan jenis pakaian yang umum, melainkan merupakan bagian dari senjata yang digunakan oleh pasukan yang bertempur. Karena itu, konsepsi Paulus tentang berjaga-jaga dan waspada berkaitan dengan peperangan. Dalam ayat-ayat ini Paulus sedang membicarakan suatu peperangan.
Ajaran-ajaran berlapis gula tentang kedatangan Tuhan dan keterangkatan yang diwahyukan dalam pasal 4 tidaklah membuat kaum beriman siap berperang, sebaliknya membuat mereka terbius sehingga mabuk dan mati rasa. Kita perlu nampak bahwa berjaga-jaga ditujukan kepada roh yang tepat dalam peperangan. Bila kita berpegang pada pemikiran ini, kita akan dengan tepat memahami makna berjaga-jaga.
Berjaga-jaga berarti berperang terus. Pasukan di medan perang bukan hanya mengamati keadaan sekeliling; itu bukan berjaga-jaga. Mereka berjaga-jaga karena mereka sedang berperang. Bila mereka berhenti berperang, berarti mereka tidak lagi berjaga-jaga. Menurut pengertian kita, berjaga-jaga semata-mata mengamati sesuatu, misalnya mengamati langkah kita sewaktu kita berjalan. Tetapi bukan ini yang dimaksud di sini. “Berjaga-jaga” yang dimaksudkan dalam ayat-ayat ini ialah selalu ingat bahwa kita sedang menghadapi peperangan, sedang bertempur dan dikepung musuh. Itulah sebabnya kita memerlukan ketopong dan baju zirah.
Berkali-kali telah kita tekankan fakta bahwa 1Tesalonika adalah sebuah surat yang ditulis kepada kaum beriman baru. Kitab ini berisi banyak konsepsi dasar mengenai kehidupan orang Kristen. Dalam setiap pasal dibahas prinsip-prinsip dasar, ajaran-ajaran dasar tertentu. Sampai-sampai dalam kitab yang berkenaan dengan ajaran-ajaran yang dasar, Paulus membahas perkara peperangan rohani. Paulus tidak secara tegas memberi tahu kaum beriman bahwa mereka berada di medan perang dan perlu berperang. Tetapi apa yang dikatakannya dalam 5:11 menyiratkan peperangan rohani.
PENYELAMATAN DARI KEBINASAAN
YANG AKAN DATANG
Dalam ayat 3 kata “kebinasaan” dipakai: “Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman — maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin — mereka pasti tidak akan luput.” Apakah kebinasaan? Ini berkaitan dengan keselamatan yang disinggung dalam ayat 8-9. Keselamatan dalam ayat-ayat ini adalah keselamatan terhadap kebinasaan yang akan datang melalui kedatangan Tuhan, bukan keselamatan terhadap kebinasaan kekal melalui kematian Tuhan. Manusia yang jatuh akan binasa selama-lamanya. Itulah kebinasaan yang kekal. Kita yang telah percaya di dalam Tuhan Yesus akan diselamatkan dari kebinasaan yang kekal. Kita telah beroleh keselamatan pada aspek ini. Kita telah diselamatkan dari kebinasaan yang kekal dan selamanya tidak akan binasa.
Keselamatan yang alkitabiah terhadap kebinasaan yang kekal adalah keselamatan yang kekal. Sekali kita diselamatkan, selamatlah kita untuk selamanya. Berkebalikan dengan ajaran aliran Armenian. Kita mustahil kehilangan keselamatan kita; keselamatan kita adalah sekali untuk selamanya. Tetapi, di sini Paulus membicarakan tentang keselamatan pada aspek lain, yaitu keselamatan dari kebinasaan yang akan datang.
Tidak hanya demikian, dalam terang Roma 8:21-25 kita juga akan diselamatkan dari perbudakan kebinasaan ciptaan lama. Hari ini, semua makhluk ciptaan berada di bawah perbudakan kebinasaan. Seluruh ciptaan lama diperbudak oleh kebinasaan. Segala sesuatu, termasuk tubuh jasmani kita, sedang berangsur-angsur rusak. Tahukah Anda apa artinya menjadi tua? Menjadi tua berarti menjadi rusak. Kita semua sedang mengalami proses perusakan. Perbudakan perusakan ciptaan lama terus mengendali kita, dan kita takluk kepadanya. Tetapi ketika Tuhan Yesus datang dan kita terangkat, kita akan diselamatkan dari perbudakan perusakan ciptaan lama. Sebab itu, kedatangan Tuhan dan terangkatnya kita akan menyelamatkan kita dari dua hal: kebinasaan dan perbudakan perusakan. Inilah keselamatan yang dimaksud dalam ayat 8-9. Namun, makna yang utama ialah keselamatan dari kebinasaan yang akan datang.
Sekarang kita harus menyingkapkan apa yang dimak-sud dengan kebinasaan yang akan datang ini. Kebinasaan ini berkaitan dengan perang yang berkecamuk antara Allah dengan Iblis. Menjelang saat kedatangan Tuhan, kebinasaan bisa tiba-tiba datang. Kebinasaan ini terutama akan datang dari Allah, tetapi sebagian akan disebabkan oleh Iblis. Allah akan menghakimi dunia yang memberontak ini, dan Iblis akan meronta dan menentang. Akibat dari perang sengit yang berkecamuk antara Allah dengan Iblis ialah kebinasaan yang tiba-tiba datang. Pada saat orang mengatakan, “Semuanya damai dan aman”, maka kebinasaan ini menimpa secara tiba-tiba.
Kita perlu diselamatkan dari kebinasaan yang tiba-tiba ini. Cara diselamatkan dari kebinasaan ini ialah berjaga-jaga dan waspada. Selama Allah sedang berperang, kita harus memihak kepada-Nya dan berperang bagi kepentingan-Nya. Dia sedang berperang, kita pun harus berperang.
Sebenarnya, berperang ialah berjaga-jaga. Hanya orang yang sedang berperang itulah yang benar-benar berjaga-jaga. Semakin kita berperang, kita makin berjaga-jaga. Asalkan Anda berperang, Anda tidak perlu mencoba berjaga-jaga, karena Anda akan dengan sendirinya berjaga-jaga. Kadang-kadang angkatan perang tidak tidur beberapa hari berturut-turut. Ini menggambarkan fakta bahwa berperang ialah berjaga-jaga. Kehidupan orang Kristen, kehidupan yang kudus bagi hidup gereja adalah suatu kehidupan peperangan. Kita berada di medan perang dan kita perlu berjaga-jaga, berhati-berhati, dan siaga.
MAKNA WASPADA
Waspada ada hubungannya dengan berjaga-jaga. Waspada adalah tanggapan yang jelas terhadap situasi di medan peperangan, juga pemahaman yang tepat mengenai di mana kita berada dan di mana musuh kita berada. Ini adalah mengenali taktik serang musuh dan bagaimana kita harus membalas serangan. Asal kita waspada, pasti akan jelas arah kita.
Waspada berarti jelas terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan peperangan. Jelas tentang di mana musuh berada, apa yang sedang musuh lakukan, dan bagaimana musuh menyusun serangannya, termasuk tahu jelas bagaimana melindungi diri kita dan bagaimana melancarkan serangan balasan. Orang yang waspada tahu sepenuh-nya tentang situasi dirinya.
KURANG BERJAGA-JAGA DAN WASPADA
Sebagaian besar orang Kristen dewasa ini tidak demikian berwaspada. Akibatnya, mereka mabuk dan mati rasa, kehilangan perasaan yang tepat terhadap arah. Ini justru sering membuat mereka sulit diajak bersekutu. Jika Anda bersekutu dengan orang-orang itu atas hal tertentu, mereka mungkin akan menyalahkan Anda atau bahkan memfitnah Anda.
Dalam ayat 6 Paulus mengatakan, “Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar (waspada).” Berjaga-jaga di sini berlawanan dengan tidur dalam ayat berikutnya, dan sadar atau waspada berlawanan dengan mabuk. Saat membicarakan pengharapan tentang kedatangan Tuhan, kita perlu memperhatikan diri kita sendiri dan bertanya apakah kita berjaga-jaga atau tertidur, waspada atau mabuk. Ada stiker yang ditempelkan pada bemper, menyinggung kedatangan Tuhan, menunjukkan bahwa orang Kristen banyak yang mabuk dan mati rasa. Tidak ada sikap berjaga-jaga dan berwaspada terhadap kedatangan Tuhan. Apakah kita berperang demi kepentingan Tuhan? Apakah kita berjaga-jaga? Apakah kita waspada dan sadar terhadap situasi kita? Kita perlu bertanya kepada diri sendiri tentang hal-hal ini.
Telah kita tegaskan bahwa Paulus menulis Surat 1Tesalonika secara mendasar, menyinggung hal-hal yang mendasar. Ia membicarakan kedatangan Tuhan serta terangkat oleh-Nya. Tetapi ia tidak berhenti di sana, melainkan melanjutkan dengan pasal 5, membicarakan hal berjaga-jaga dan waspada.
MENGENAKAN PERSENJATAAN
Bila kita berjaga-jaga dan waspada, kita akan mengenakan persenjatana. Menurut ayat 8 kita harus mengenakan baju zirah iman dan kasih serta ketopong pengharapan keselamatan. Baju zirah ini melindungi iman dan kasih kita, ketopong melindungi pengharapan kita. Jadi, dengan persenjataan, susunan dasar kehidupan orang Kristen — iman, kasih, dan pengharapan — akan terlindung.
Jika kita membaca 1Tesalonika 5 dengan cermat dan membandingkannya dengan Efesus 6, kita akan nampak bahwa dalam 1Tesalonika terdapat ajaran mendasar tentang peperangan rohani. Namun, dalam Efesus 6, ajaran tentang peperangan rohani itu jauh lebih maju. Karena itu, kita perlu melanjutkan dari 1Tesalonika 5 sampai pada Efesus 6.
Telah kita tunjukkan dengan tegas bahwa berperang dengan tepat berarti berjaga-jaga dan waspada. Peperangan ini mengamankan kehidupan orang Kristen; menjaga dan melindungi susunan mendasar kehidupan orang Kristen.
Beberapa orang yang dahulu bersama-sama dengan kita dalam pemulihan Tuhan, telah menanggalkan persenjataan mereka, sehingga terbuka bagi serangan musuh. Karena tanpa penudungan dan tanpa penjagaan, mereka dikalahkan oleh musuh. Mereka tidak berjaga-jaga dan waspada, malah mabuk dan mati rasa.
Kita perlu berjaga-jaga dan waspada. Ini berarti kita perlu berperang terus. Kita juga perlu mengenakan persenjataan untuk melindungi susunan kehidupan orang Kristen kita. Demikian, ketika Tuhan Yesus datang, kita akan diselamatkan dari kebinasaan yang tiba-tiba itu.
KEBINASAAN YANG TIBA-TIBA
Suatu hari Allah akan menghakimi dunia, sedangkan Iblis ingin membicarakan dunia. Jika kita meneliti Kitab Wahyu, kita akan nampak bahwa selama tiga setengah tahun yang terakhir, Allah akan menumpahkan murka-Nya terhadap dunia yang jahat, penuh dosa, dan memberontak ini, serta menghakiminya. Di samping itu, Iblis juga tidak menginginkan dunia tinggal lebih lama lagi, ia berusaha membinasakannya. Akibatnya ialah kebinasaan yang tiba-tiba.
Dalam ayat 9-10 Paulus mengatakan, “Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan melalui Yesus Kristus, Tuhan kita, yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia.” Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, maka kita harus berjaga-jaga, waspada, dan berjuang (ay. 6, 8) untuk bekerja sama dengan Allah, supaya kita dapat memperoleh keselamatan-Nya melalui Tuhan Yesus. Sebagaimana telah kita tunjukkan, keselamatan dalam ayat ini bukanlah keselamatan yang kekal, melainkan keselamatan dari kebinasaan yang akan menimpa kita dan dari perbudakan perusakan ciptaan lama. Kita sedang menunggu keselamatan dari kebinasaan dan perbudakan perusakan. Kemudian kita akan menikmati kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.
HIDUP BERSAMA TUHAN
Ayat 10 Paulus menyinggung hidup bersama dengan Tuhan. Tuhan mati bagi kita bukan hanya supaya kita diselamatkan dari kebinasaan kekal, tetapi juga supaya kita bisa hidup bersama-Nya melalui kebangkitan-Nya. Kehidupan semacam ini dapat menyelamatkan kita dari kebinasaan yang akan datang. Kita hidup bersama-Nya, entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, yaitu entah kita masih hidup atau sudah meninggal. Di satu pihak, Tuhan meninggalkan kita dan kita sedang menunggu kedatangan kembali-Nya; di pihak lain, Dia berserta dengan kita (Mat. 28:20) dan kita bisa hidup bersama-Nya (Rm. 6:8).