← Daftar isi 1 Tesalonika (2) · bab 2/10

PENGHARAPAN KEHIDUPAN ORANG KRISTEN

Pembacaan Alkitab: 1 Tes. 4:13-18

Dalam 4:13-18 Paulus memberikan perkataan mendasar tentang kedatangan Tuhan dan pengangkatan kaum beriman. Sebagai perkataan yang menghibur, pengangkatan kaum beriman pada saat kedatangan Tuhan disajikan di sini secara umum. Rincian tentang hal ini diwahyukan dalam kitab lain dalam Perjanjian Baru, misalnya Kitab Matius dan Kitab Wahyu.

Apa yang Paulus bahas dalam 4:13-18 merupakan pengharapan yang umum bagi semua orang beriman. Inilah pengharapan kehidupan yang kudus bagi hidup gereja. Kehidupan semacam ini tidaklah berdosa atau duniawi, malahan sebaliknya, murni dan kudus. Lagi pula, kehidupan yang kudus bagi hidup gereja ini mempunyai suatu pengharapan.

Karena manusia jatuh, maka tidak ada pengharapan bagi umat manusia. Satu-satunya pengharapan yang dimiliki orang-orang yang tidak percaya ialah kematian. Kematian adalah nasib mereka. Hari demi hari, mereka menempuh hidup menuju kematian, dan mereka justru berada di jalan menuju kematian. Kematian adalah masa depan mereka.

Dalam Efesus 2:12, Paulus melukiskan situasi tanpa pengharapan orang-orang yang tidak percaya: “Pada waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.” Orang-orang yang tidak percaya tidak memiliki pengharapan karena mereka tidak memiliki Allah. Karena terpisah dari Kristus dan hidup tanpa Allah, mereka tidak memiliki pengharapan apa pun. Satu-satunya perkara yang menanti mereka ialah kematian. Setiap orang tahu hal ini dan menganggapnya memang seharusnya demikian. Itulah sebabnya orang-orang yang tidak percaya tidak suka memikirkan masa depan mereka. sesungguhnya, mereka tidak memiliki masa depan yang positif. Ada kegelapan maut meliputi masa depan mereka.

Sebagai orang yang percaya di dalam Kristus, kita memiliki kehidupan yang penuh dengan pengharapan. Pengharapan kita adalah kedatangan kembali Tuhan. Tidak hanya demikian, pengharapan kita juga meliputi kebangkitan dan keterangkatan. Kebangkitan bukan sekadar masalah hayat, tetapi juga masalah hayat yang mengalahkan maut. Ketika hayat mengalahkan maut, itulah kebangkitan. Keterangkatan adalah sesuatu yang melampaui kebangkitan. Seseorang mungkin saja dibangkitkan, namun tidak terangkat.

KEBANGKITAN DAN KETERANGKATAN

Kehidupan yang kudus bagi hidup gereja adalah kehidupan yang mempunyai masa depan, pengharapan. Pengharapan ini bukan hanya kedatangan Tuhan, tetapi juga kedatangan Tuhan dengan kebangkitan dan keterangkatan. Kedatangan kembali Tuhan Yesus akan mewujudkan kebangkitan dan keterangkatan. Sebagaimana telah kita tunjukkan, kebangkitan dan keterangkatan, keduanya adalah tambahan kepada hayat. Hayat itu milik kita hari ini. Kita memiliki hayat, kita di dalam hayat, dan kita menikmati hayat. Namun, kita sedang menunggu kedatangan Tuhan, dan kedatangan-Nya akan membawa kebangkitan dan keterangkatan.

Kebangkitan, sudah tentu bagi mereka yang sudah mati. Hari ini kita sedang menempuh kehidupan yang kudus bagi gereja. Andaikan Tuhan menunda kedatangan-Nya, kita semua akhirnya akan “tidur”, yaitu meninggal secara jasmani. Semua orang beriman yang telah meninggal sedang menunggu kebangkitan. Jika kita hidup sampai kembalinya Tuhan Yesus, pasti tidak akan memerlukan kebangkitan. Tetapi kita tetap memerlukan keterangkatan. Mereka yang telah meninggal perlu dibangkitkan dan diangkat. Seluruh kaum beriman, baik yang mati maupun yang hidup, memerlukan keterangkatan. Jadi, keterangkatan sebenarnya adalah akhir riwayat kita di bumi. Ini berarti kesimpulan riwayat kita bukanlah kematian atau kebangkitan, melainkan keterangkatan.

Dalam Alkitab tidak ada istilah keterangkatan ini, tetapi pemikiran tentang keterangkatan ini ada. Sebagaimana digunakan oleh guru-guru Kristen, istilah keterangkatan berarti dibawa pergi seperti yang dialami Henokh dan Elia (Kej. 5:24; 2Raj. 2:1, 11). Matius 24:40-41; Lukas 17:34-36; 21:36; 1Tesalonika 4:17; Wahyu 3:10; 7:9; 11:12; 12:5; 14:1, 16; 15:2 semua mengacu kepada keterangkatan, kaum beriman dibawa ke langit.

Dalam Perjanjian Baru, keterangkatan merupakan topik yang penting. Dalam 4:13-18 Paulus membentangkan hal ini secara umum dan mendasar. Ia memberi tahu kita bahwa kita yang masih hidup, bersama kaum beriman yang sudah meninggal dan dibangkitkan akan terangkat untuk berjumpa dengan Tuhan di angkasa. Dalam ayat-ayat ini Paulus tidak menerangkan rinciannya lebih lanjut. Apa yang ia paparkan di sini dapat diibaratkan guru sekolah dasar yang memberi prinsip-prinsip dasar matematika kepada murid-muridnya. Padahal, perkara keterangkatan bukanlah hal yang sederhana. Karena itu, banyak perdebatan di antara guru-guru Alkitab mengenai hal ini.

Paulus bermaksud memberi kaum beriman baru konsepsi dasar mengenai pengharapan kehidupan orang Kristen kita. Ia ingin mereka terkesan dengan fakta bahwa kehidupan orang Kristen, yakni kehidupan yang kudus bagi hidup gereja mempunyai suatu pengharapan. Karena itu, kehidupan ini mutlak berbeda dengan kehidupan yang tidak berpengharapan yang ditempuh umat manusia yang telah jatuh. Pengharapan kehidupan orang Kristen ialah kembali-nya Tuhan, dan pengharapan ini meliputi kebangkitan dan keterangkatan.

Dalam ayat 13 Paulus mengatakan, “Selanjutnya kami tidak mau, Saudara-saudara bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang tidur, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan” (Tl.). Kalimat “mereka yang tidur” ditujukan kepada orang-orang yang meninggal (ayat 16; Yoh. 11:11-14; 1Kor. 11:30). Bagi Tuhan dan rasul, kaum beriman yang mati adalah tidur. Boleh jadi pada saat Paulus menulis Surat Kiriman ini, beberapa orang beriman di Tesalonika telah meninggal. Kalau tidak, Paulus tidak perlu menyinggung hal ini.

Dalam ayat 14 Paulus melanjutkan, “Karena jikalau kita percaya bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa dengan perantaraan Yesus, Allah akan mengumpulkan bersama-sama dengan Dia mereka yang telah tertidur” (Tl.). Percaya dalam pengharapan yang digambarkan di sini meliputi percaya kepada kebangkitan Tuhan. Setiap orang yang tidak percaya kepada kebangkitan Kristus, tidak bisa percaya kepada pengharapan ini. Tetapi jika kita percaya kepada pengharapan ini, ini menandakan bahwa kita telah percaya kepada kebangkitan Kristus.

Beberapa orang mungkin menunjuk ayat 14 dan berkata, “Ketika kaum saleh meninggal, mereka pergi ke surga, dan ketika Tuhan Yesus kembali, Ia akan membawa mereka dari surga bersama-Nya.” Menafsirkan ayat ini sedemikian berarti mengabaikan paruhan yang pertama dari ayat tersebut, yang memberi tahu kita bahwa Yesus telah mati dan bangkit. Ini jelas mengacu kepada kebangkitan-Nya. Seandainya kaum beriman yang meninggal sudah berada di surga, dan seandainya Tuhan akan membawa mereka beserta-Nya dari surga ketika Ia datang, pasti kaum beriman yang telah mati itu tidak perlu dibangkitkan.

Ayat 15-16 akan membantu Anda untuk memahami apa yang saya maksudkan: “Hal ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: Kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. Sebab pada waktu aba-aba diberi pada waktu pemimpin malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit.” Perhatikanlah kata “bangkit” dalam ayat 16. Jika orang yang mati telah berada di surga, mengapa mereka perlu dibangkitkan? Selain itu, mereka juga tidak perlu diangkat atau dibawa kepada Tuhan. Mereka hanya perlu turun dari surga bersama Tuhan Yesus. Fakta bahwa ayat 16 menyebutkan orang yang telah mati dalam Kristus akan bangkit menunjukkan bahwa mereka pasti di suatu tempat yang bukan surga.

Dalam ayat 15, kata “kedatangan” bahasa Yunaninya, parousia berarti penyertaan, kehadiran. Dalam ayat 16 “aba-aba diberi” bahasa Yunaninya berarti tanda untuk berkumpul. Sangkakala Allah adalah sangkakala terakhir (1Kor. 15:52), untuk mengumpulkan umat tebusan Allah (lihat Bil. 10:2).

Dalam ayat 17 Paulus meneruskan, “Sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.” Menurut ayat ini, baik kaum beriman yang sudah mati maupun yang masih hidup akan diangkat dan dibawa kepada Tuhan. Pertama-tama yang mati akan dibangkitkan dan kemudian kita akan diangkat bersama-sama, dibawa ke suatu pertemuan dengan Tuhan di angkasa.

Dalam Wahyu 12, anak laki-laki, yaitu para pemenang dibawa lari, diangkat ke takhta Allah di langit ke tiga sebelum terjadi kesusahan besar tiga setengah tahun terakhir dari zaman ini (Why. 12:5-6, 14). Di sini, sebagian besar orang beriman, termasuk orang yang bangkit dari antara orang mati, dan orang yang masih hidup pada saat itu, diangkat ke angkasa pada akhir kesusahan besar, pada saat kedatangan Tuhan.

ORANG-ORANG KUDUS YANG TELAH MATI BERADA DI FIRDAUS

Sebagian dari kita mungkin masih memegang konsepsi bahwa orang-orang kudus yang telah mati itu pergi ke surga dan kini berada di sana bersama Tuhan Yesus. Jika Paulus tidak melanjutkan ucapannya dalam ayat 14, konsepsi itu mungkin akan ada dasar atau alasannya. Tetapi dalam ayat 16 Paulus menambahkan bahwa ketika Tuhan Yesus datang, orang-orang kudus yang telah mati akan bangkit. Dari manakah mereka akan bangkit? Dari surga? Jika mereka sudah berada di surga, masih perlukah kebangkitan? Jika mereka sudah berada di surga tingkat tiga bersama-sama Tuhan, ke tempat apa mereka akan dibangkitkan?

Banyak orang Kristen dibohongi dengan ajaran-ajaran religius yang dilapisi gula. Salah satu di antara ajaran itu mengatakan, “Oh, Anda tidak perlu menangisi ibu Anda yang telah meninggal. Karena ia sudah percaya kepada Tuhan Yesus, ia sekarang bersama-sama Tuhan di surga. Ia bersemayam di wisma surgawi yang jauh lebih baik daripada rumah Anda. Lalu mengapa Anda menangis? Suatu hari Anda akan bergabung dengannya di surga.” Ajaran semacam itu penuh ragi dan amat menipu. Saya telah mempelajari Alkitab lebih dari lima puluh tahun, dan tidak pernah menemukan sebuah ayat pun yang mengajarkan hal semacam itu. Ajaran itu adalah takhayul bersumber dari agama kafir, atau dari agama tertentu yang telah diserap oleh kekristenan tertentu.

Berdasarkan Alkitab, kaum beriman yang telah me-ninggal berada di Firdaus (Luk. 23:43), bagian yang nyaman di alam maut (Hades) (Luk. 16:22, 25-26). Alam maut terbagi menjadi dua bagian: bagian yang nyaman dan bagian yang sengsara. Bagian yang sengsara berbeda dengan lautan api. Bagian yang tidak nyaman dalam alam maut dapat diibaratkan dengan rumah tahanan yang berbeda dengan penjara. Rumah tahanan adalah tempat para pelaku kejahatan ditahan untuk sementara waktu. Tetapi setelah seorang pelaku kejahatan diperiksa dan diputus perkaranya, ia lantas dibawa dari rumah tahanan dan dijebloskan ke dalam penjara. Orang dosa yang kini sengsara di bagian yang tidak nyaman dalam alam maut sedang menunggu putusan terakhir yang akan dibacakan pada takhta putih Allah. Setelah itu, orang dosa akan dicampakkan ke dalam lautan api, yakni penjara yang kekal.

Kaum saleh yang telah meninggal berada di Firdaus, ketika Tuhan Yesus datang nanti, mereka akan bangkit. Mereka bukan akan bangkit ke surga, melainkan bangkit dan diangkat bersama dengan orang-orang kudus yang masih hidup. Ini alasannya ayat 16 menerangkan bahwa orang-orang yang telah meninggal di dalam Kristus akan bangkit dahulu. Kemudian menurut ayat 17, mereka yang masih hidup akan diangkat pada saat yang sama dengan mereka untuk berjumpa dengan Tuhan. Ini berarti semua orang beriman, yang mati maupun yang masih hidup, akan terangkat ke angkasa. Ajaran ini bukan ajaran yang berlapis gula, dan tidak mengandung ragi apa pun. Malahan sebaliknya, ajaran ini sesuai dengan firman Allah yang murni.

Berdasarkan firman Allah, ketika Tuhan Yesus turun dari surga, orang-orang kudus yang sudah meninggal akan bangkit. Roh dan jiwa mereka akan bangkit dari Firdaus, tubuh mereka akan bangkit dari kubur, lalu roh, jiwa, berikut tubuh mereka akan menjadi sempurna. Mereka akan bergabung dengan kaum beriman yang masih hidup dan semuanya akan diangkat kepada Tuhan.

KETERANGKATAN KAUM BERIMAN

YANG MASIH HIDUP

Dalam ayat 15 Paulus berkata, “Kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan.” Dalam ayat 17 ia juga berkata, “Kita yang hidup, yang masih tinggal.” Mengapa Paulus menambahkan perkataan “yang masih ting-gal sampai kedatangan Tuhan” dalam ayat 15 dan perkataan “yang masih tinggal” dalam ayat 17? Jika Anda mem-perhatikan hal ini dengan saksama, Anda akan mengetahui bahwa ini menunjukkan (atau paling tidak menyiratkan) ada sejumlah orang beriman yang masih hidup yang sudah tidak “tinggal” lagi. Beberapa orang beriman yang masih hidup sudah “tidak ada”; orang-orang beriman yang masih hidup tetapi tidak tinggal itu adalah para pemenang.

Ada suatu perbedaan antara keterangkatan kaum pemenang dengan keterangkatan kaum beriman yang masih hidup dan masih tinggal sampai kedatangan Tuhan. Keterangkatan pemenang akan terjadi sebelum tiga setengah tahun yang terakhir, periode yang terkenal sebagai kesusahan besar. Dengan kata lain, para pemenang akan diangkat sebelum masa kesusahan besar tiba (Why. 3:10). Tetapi, mereka yang hidup dan yang masih tinggal akan diangkat pada akhir masa kesusahan itu, yaitu pada saat sangkakala terakhir dibunyikan (1Kor. 15:52). Inilah keterangkatan yang disebutkan oleh 1Tesalonika 4. Mengenai waktunya, kedua keterangkatan ini berbeda: yang satu terjadi sebelum kesusahan besar, dan yang lain pada akhir kesusahan besar. Selain itu, terdapat perbedaan lokasi. Menurut Wahyu 12, para pemenang diangkat ke takhta Allah di langit tingkat tiga. Namun menurut 1Tesalonika 4, mereka yang hidup dan yang masih tinggal akan diangkat ke awan di angkasa.

PAROUSIA

Telah kita tunjukkan bahwa kata “kedatangan” dalam ayat 15 bahasa Yunaninya adalah parousia, sama dengan yang digunakan oleh Matius 24:3. Kedatangan Kristus adalah penyertaan-Nya (kehadiran-Nya) bersama dengan kaum beriman-Nya. Parousia ini dimulai dari saat pemenang diangkat ke takhta, berlanjut dengan kedatangan-Nya ke angkasa (Why. 10:1), dan berakhir dengan kedatangan-Nya ke bumi. Selama parousia-Nya berlangsung, akan terjadi keterangkatan terhadap sebagian besar orang beriman ke angkasa (1Tes. 4:15-17), takhta penghakiman Kristus (2Kor. 5:10), dan pernikahan Anak Domba (Why. 19:7-9).

Parousia menunjukkan penyertaan Tuhan, bukan langsung menunjukkan kedatangan-Nya. Tentu penyertaan-Nya mencakup kedatangan-Nya. Setelah saya jauh dari keluarga dan kemudian berkumpul lagi dengan mereka, pasti penyertaan saya itu juga mencakup kedatangan saya. Sesungguhnya penyertaan saya sama dengan kedatangan saya. Karena itu, istilah parousia bisa diterjemahkan kedatangan. Diterjemahkan secara harfiah sebagai “penyertaan” memang sedikit canggung. Tetapi mengatakan “sampai pada penyertaan Tuhan” tidaklah salah.

Menurut Perjanjian Baru, parousia Tuhan, yang juga adalah penyertaan-Nya akan berlangsung sejangka waktu. Mungkin dimulai segera menjelang kesusahan besar itu tiba. Kedatangan Tuhan (parousia) mungkin akan dimulai hampir bersamaan dengan kesusahan besar itu. Sekarang ini, Tuhan sedang di surga tingkat ketiga. Ketika kesusahan besar terjadi di bumi, Tuhan akan meninggalkan takhta di surga dan turun dari takhta ke angkasa dengan diselubungi oleh awan. Wahyu 10:1 mengatakan tentang “seorang malaikat lain yang kuat turun dari surga, berselubungkan awan”. Malaikat yang kuat ini adalah Kristus, yang secara tersembunyi turun ke angkasa dari langit tingkat ketiga. Boleh jadi Tuhan akan berada di angkasa sejangka waktu dengan berselubungkan awan dan mungkin lebih dari tiga tahun. Inilah alasan kita mengatakan bahwa parousia Tuhan di angkasa akan berlangsung sejangka waktu.

Ketika Tuhan berada di angkasa, Ia akan melakukan banyak hal. Ia akan mengangkat orang beriman baik yang bangkit maupun yang masih hidup. Ia akan duduk di atas takhta penghakiman-Nya dan menghakimi semua orang yang telah beroleh selamat. Saat itu Ia akan membuat keputusan tentang siapa yang akan mendampingi-Nya dalam Kerajaan Seribu Tahun dan siapa yang tidak. Penghakiman ini sudah tentu akan terjadi setelah keterangkatan yang disebutkan dalam 1Tesalonika 4. Sketsa ini akan memberi kita sebuah pandangan umum tentang kedatangan Tuhan menurut firman yang murni. Sketsa ini berbeda dengan ajaran-ajaran yang aneh atau tradisional.

Sebagai orang Kristen, kita harus menempuh satu kehidupan yang kudus bagi hidup gereja. Kehidupan ini mempunyai pengharapan, yaitu kembalinya Tuhan yang hari ini kita layani. Pada waktu kembali-Nya, orang-orang kudus yang telah mati akan bangkit dari Firdaus, dari kubur untuk diangkat bersama mereka yang masih hidup dan masih tinggal.

PERKATAAN YANG MENDASAR

Perkataan mengenai pengharapan kita ini dituliskan kepada kaum beriman sebagai perkataan penghiburan dan dorongan atas kematian kerabat mereka. Ini merupakan perkataan yang mendasar mengenai kembalinya Tuhan dan terangkatnya kita kepada-Nya. Kalau kita ingin mengetahui rinciannya, kita perlu mempelajari Matius 24 dan 25, seluruh Kitab Wahyu, 1Korintus 15, dan bagian firman yang lain termasuk 2Tesalonika. Setelah mempelajari semua bagian Alkitab ini, kita akan nampak bahwa kedatangan Tuhan dan pengangkatan kita tidaklah sesederhana yang dipaparkan oleh kebanyakan orang hari ini. Perincian tersebut meliputi terangkatnya kaum beriman yang menang, penghakiman di takhta penghakiman Kristus, pahala dalam kerajaan, dan pendisiplinan kerajaan. Semua hal ini berkaitan dengan kedatangan Tuhan dan terangkatnya kita.