← Daftar isi 1 Tesalonika (2) · bab 1/10

NASIHAT TENTANG KEHIDUPAN YANG KUDUS BAGI HIDUP GEREJA

Pembacaan Alkitab: 1 Tes. 4:1-12

Surat 1 Tesalonika ditulis untuk kaum beriman baru, mereka yang kurang dari setahun di dalam Tuhan. Sebab itu, dalam tiga pasal pertama dari kitab ini, kita tidak dapat menemukan sesuatu yang setara dengan apa yang diwahyukan dalam Kitab Roma, Efesus, atau Galatia. Paulus tinggal bersama orang-orang Tesalonika hampir satu bulan. Dalam jangka waktu yang pendek itu, ia tidak memiliki kesempatan untuk menyinggung banyak kebenaran yang lebih dalam. Itulah alasannya dalam 3:10 ia mengutarakan hasratnya untuk mengunjungi orang Tesalonika serta menambahkan apa yang masih kurang pada iman mereka. Sudah pasti, kaum beriman baru ini kekurangan iman dalam banyak aspek yang diwahyukan dalam Kitab Roma, Efesus, dan Galatia. Karena itu, Paulus ingin sekali menjenguk mereka lagi agar dapat meministrikan kepada mereka isi dari iman, supaya iman mereka bertambah dan disempurnakan.

Kita semua perlu memiliki penampakan yang luas tentang ekonomi Allah. Begitu kita memiliki penampakan yang sedemikian, kita akan dengan spontan mempercayai apa yang kita tampak itu. Kita tidak dapat tidak percaya setelah nampak sesuatu. Percaya berasal dari penampakan rohani semacam ini. Tulisan Paulus mengajak kita berwisata sambil menunjukkan hal-hal surgawi dan rohani tentang Kristus, perampungan-Nya, pencapaian-Nya, serta apa yang telah diperoleh-Nya. Semakin banyak kita melihat tentang ini, semakin banyak pula kita terkesan, sehingga bertambah banyak iman kita peroleh. Kita akan menemukan bahwa tidak mungkin kita tidak percaya.

Telah kita tegaskan bahwa dalam 1Tesalonika terdapat firman yang ditujukan kepada kaum beriman baru, kaum pemula. Mereka yang bekerja di tengah-tengah kaum muda atau kaum beriman baru dapat mengikuti tuntunan maupun garis besar dari kitab ini. Jika mereka benar-benar mengikuti garis besar atau tuntunan ini, mereka akan membubuhkan fondasi yang baik bagi pekerjaan mereka terhadap kaum beriman baru.

KATA PERINGATAN

Berita ini membahas pasal 4 dari Kitab 1Tesalonika. Dalam pasal 1 terdapat susunan dan asal mula kehidupan yang kudus bagi hidup gereja; dalam pasal 2, ada pemeliharaan terhadap kehidupan semacam ini; dan dalam pasal 3 ada peneguhan ketiga hal yang merupakan susunan dasar kehidupan ini. Setelah mengungkapkan hal-hal ini, dalam pasal 4 Paulus menginjeksikan suatu suntikan ke dalam kaum beriman untuk mencegah kuman yang paling jahat, yang merusak hidup gereja, yakni percabulan.

Percabulan berasal dari hawa nafsu. Orang tidak akan sempat melampiaskan hawa nafsunya tanpa pergaulan sosial. Pergaulan sosial adalah ladang semai percabulan. Seseorang yang kekurangan pergaulan sosial tidak terancam bahaya percabulan. Anda yang hidup sendirian dan jarang bergaul dengan orang lain, hampir tidak mungkin melakukan percabulan. Namun hidup gereja adalah kehidupan perhimpunan, kehidupan komunal (berkelompok). Dengan kata lain, hidup gereja adalah kehidupan bermasyarakat. Untuk menempuh hidup gereja, kita tidak dapat menghindar dari kehidupan berkelompok atau kehidupan bermasyarakat, yang di dalamnya kita sering berkontak satu sama lain.

Menurut sejarah, masalah percabulan telah terjadi berkali-kali di dalam gereja dan antar gereja. Fakta menyatakan bahwa para pekerja Kristus khususnya sering terjebak oleh percabulan karena sering berhubungan dengan orang lain. Di samping itu, percabulan merupakan faktor perusak terhadap mereka yang di dalam gerakan Pentakosta. Di tempat-tempat tertentu gerakan ini telah terbatasi karena adanya dosa percabulan.

Dalam 4:3 Paulus mengatakan, “Karena inilah kehendak Allah: Pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan.” Allah menghendaki umat tebusan-Nya, kaum beriman dalam Kristus, menempuh kehidupan yang kudus menurut sifat kudus-Nya, kehidupan yang seluruhnya tersisih bagi-Nya dari segala sesuatu yang bukan Dia. Demi inilah Ia menguduskan kita seluruhnya (5:23).

Pada zaman Paulus, baik di Korintus maupun di Tesalonika, kemesuman dan pelampiasan hawa nafsu merupakan hal yang umum dalam agama kafir, bahkan dikembangkan oleh penyembahan kafir. Manusia diciptakan untuk mengekspresikan Allah (Kej. 1:26). Disinggung dari tujuan ini, tidak ada perkara yang lebih merusak manusia daripada percabulan. Percabulan membuat manusia tidak kudus, tidak terpisah bagi Allah, bahkan mencemari manusia sampai puncaknya sehingga manusia tidak bisa menggenapkan maksud tujuan kudus Allah. Karena itu, rasul dengan tegas menasihati kaum beriman bukan Yahudi yang baru beroleh selamat agar mereka menguduskan diri bagi Allah, menjauhi percabulan, dosa yang paling kotor dan kasar dalam pandangan Allah, supaya mereka bisa terhindar dari perusakan dan pencemarannya.

Dalam 1Tesalonika 4 Paulus memberikan sebuah peringatan tentang percabulan. Ia juga pernah mengatakan dengan tegas tentang percabulan dalam Kitab 1 Korintus. Karena di Korintus dan Tesalonika terlalu banyak kasus amoral, maka Paulus paham bahwa seiring dengan pemeliharaan dan peneguhan kaum beriman di Tesalonika, dia perlu mengingatkan mereka tentang dosa percabulan. Sekarang kita bisa memahami mengapa dalam sebuah kitab yang ditujukan kepada kaum beriman baru, Paulus menganggap perlu membicarakan masalah percabulan. Ia menghendaki kaum beriman dalam kota yang jahat itu waspada terhadap bahaya itu. Sebagai gereja di tempat yang seperti itu, mereka perlu diperingatkan tentang percabulan.

Dalam 1 Korintus 16:20 Paulus berkata, “Sampaikanlah salam seorang kepada yang lain dengan ciuman kudus.” Paulus tidak melarang orang Korintus berhubungan satu dengan yang lain, kalau melarang itu menyimpang dari perikemanusiaan. Namun, Paulus menyuruh mereka memberi salam seorang kepada yang lain dengan ciuman kudus. Perkataan yang sedemikian dituliskan karena latar belakang situasi di Korintus. Sama halnya, percabulan dipermasalahkan juga dalam 1 Tesalonika 4, mengingat lingkungan di Tesalonika. Gereja yang muda telah dibangun di tengah-tengah lingkungan yang jahat dan asusila. Mengetahui bahwa gereja di kota itu sulit menghindari masalah percabulan, maka Paulus menyampaikan peringatan tentang hal tersebut.

Kita juga memerlukan peringatan yang sama pada hari ini. Pergaulan antara pria dengan wanita di Amerika Serikat dan Eropa hampir tanpa batas apa-apa. Situasi ini mudah sekali melibatkan orang ke dalam percabulan. Agar gereja bertahan di daerah-daerah ini, diperlukan peringatan tentang percabulan.

Ketika membaca 4:1-12, kita nampak bahwa nada Paulus di sini adalah sebuah peringatan. Nada ini berbeda dengan yang terdapat dalam tiga pasal pertama. Setelah Paulus merampungkan tugasnya memelihara dan memelihara kehidupan yang kudus bagi hidup gereja, ia lalu mengubah nadanya. Peringatan pertama yang ia berikan kepada kita adalah mengenai percabulan. Sebagaimana akan kita nampak, dalam peringatannya terhadap percabulan, Paulus membentangkan perkara yang ajaib tentang pengudusan.

PENGUDUSAN LAWAN PERCABULAN

Dalam 4:1 Paulus berkata, “Akhirnya, Saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.” Dalam ayat 3 Paulus mengatakan bahwa Allah ingin agar kita dikuduskan. Pengudusan ini berlawanan dengan percabulan. Agar hidup kita berkenan kepada Allah, kita perlu dikuduskan.

Tidak ada perkara yang lebih merusak manusia daripada percabulan. Menurut perkataan Paulus dalam 1 Korintus 6, percabulan menghancurkan tubuh seseorang. Dosa-dosa lain tidak dapat merusak kita secara subyektif, namun percabulan merusak tubuh kita, mencemarkan seluruh diri kita, serta membuat kita tidak kudus sama sekali. Selain itu, percabulan digunakan seteru Allah untuk merusak manusia yang Allah ciptakan demi tercapainya maksud tujuan-Nya. Sebab itu, percabulan harus ditinggalkan seluruhnya. Inilah alasan Paulus mengatakan “menjauhi percabulan” dalam 4:3. Kata “menjauhi” sangat tegas, dan menunjukkan bahwa kita harus lari menjauhi percabulan. Allah menghendaki kita tersisih sepenuhnya bagi diri-Nya, dikuduskan seluruhnya bagi pencapaian tujuan-Nya. Hal ini menuntut kita menjauhi percabulan.

Dalam ayat 4-5 Paulus meneruskan, “Supaya kamu masing-masing tahu bagaimana memiliki bejananya sendiri dan hidup di dalam kekudusan dan kehormatan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.”(Tl.). Memiliki bejana di sini berarti menjaga, melindungi. Tentang penafsiran “bejana” di sini, ada dua macam pendapat, yang pertama menganggap bejana ini adalah tubuh manusia, seperti yang disebut dalam 2 Korintus 4:7; yang lain menganggap bejana ini adalah istri seseorang seperti yang disebut dalam 1 Petrus 3:7. Konteks ayat ini dan ayat berikutnya, yang meliputi frase seperti “kamu masing-masing”, “dalam kekudusan dan kehormatan”, dan khususnya “bukan di dalam keinginan hawa nafsu”, menguatkan penafsiran pendapat pertama, bukan pendapat yang kedua. Di sini rasul menganggap tubuh manusia sebagai bejana manusia, sama seperti yang dilakukan Daud dalam 1Samuel 21:5. Dalam perkara pemakaian tubuh, Paulus dan Daud menganggap tubuh manusia sebagai bejana. Menjaga atau melindungi bejana manusia dalam kekudusan dan kehormatan, tidak mengizinkannya melampiaskan hawa nafsu adalah perlindungan terhadap perbuatan percabulan.

Kekudusan lebih mengacu kepada keadaan yang kudus di hadapan Allah; kehormatan mengacu kepada kedudukan yang dihargai di hadapan manusia. Manusia diciptakan untuk tujuan Allah dengan kedudukan yang tinggi, dan pernikahan ditetapkan Allah untuk perkembangbiakan manusia demi menggenapkan tujuan Allah. Jadi, pernikahan harus dilangsungkan dengan penuh hormat (Ibr. 13:4). Menjauhi percabulan bukan hanya agar berada dalam keadaan yang dikuduskan di hadapan Allah, tetapi juga memegang dan menjaga kedudukan yang terhormat di hadapan manusia. Begitu seseorang melakukan percabulan, ia pasti tercemar, dan pengudusannya habis. Di samping itu, ia juga kehilangan kehormatan di hadapan manusia. Bahkan orang yang tidak beriman pun tidak menghormati orang yang melakukan percabulan. Sebab itu, kita harus tahu bagaimana memiliki, menjaga, dan melindungi tubuh kita sendiri dalam keadaan kudus terhadap Allah dan terhormat di hadapan manusia. Kita harus menjadi orang yang dikuduskan terhadap Allah dan yang memiliki kehormatan di depan manusia. Agar menjadi orang yang demikian, kita harus mutlak menjauhi percabulan dan tidak menimbulkan kecurigaan dalam hal tersebut.

Menurut ayat 5, kita tidak seharusnya mengumbar hawa nafsu tubuh kita seperti bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Ketidaktahuan manusia akan Allah adalah penyebab utama manusia melampiaskan keinginan hawa nafsu.

Ayat 6 Paulus melanjutkan, “Dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan merugikan saudara seimannya atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu.” Secara harfiah, terjemahan kata “merugikan” bahasa Yunaninya berarti melewati batas, melanggar, melebihi, melampaui. Melampaui saudara seimannya atau memperdayakannya mengacu kepada berzina dengan istri seorang saudara. “Memperdayakan” bahasa Yunaninya juga berarti mengambil keuntungan dirinya, menipunya. “Hal ini” mengacu kepada hal percabulan yang disebutkan dalam ayat 3. Dalam ayat 6 Paulus menegaskan pula bahwa Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini; semuanya ini mengacu kepada hal-hal seperti melanggar orang lain, memperdaya orang lain dan sebagainya. Tuhan menghakimi orang-orang yang melakukan percabulan dan perzinaan sebagai pembalas, penghukum, yang melaksanakan keadilan.

Percabulan selalu berkaitan pelanggaran atas peraturan hubungan pernikahan. Hubungan antara pria dengan wanita telah ditetapkan oleh Allah dan di bawah peraturan-Nya yang ketat. Karena itu, hubungan antara pria dengan wanita haruslah menurut ketentuan dan peraturan Allah. Jika tidak, pasti akan timbul pelanggaran, perusakan peraturan Allah.

Dalam ayat 7 Paulus berkata, “Allah memanggil kita bukan untuk (berdasarkan) kecemaran, melainkan dalam pengudusan” (Tl.). Terjemahan kata “untuk” dalam ayat ini, bahasa Yunaninya “epi” yang artinya berdasar pada, dalam keadaan. Kecemaran dalam ayat ini ditujukan kepada hal-hal cemar seperti percabulan dan perzinaan. Ada orang mengajarkan bahwa kecemaran di sini mengacu kepada keuntungan yang tidak sah dalam bisnis, dan bahwa ayat 6 membicarakan menipu seorang saudara dalam bisnis. Namun, ajaran semacam itu tidak dapat diterima dalam konteks bagian ini, yang dimulai dari ayat 3 dengan nasihat untuk menjauhi percabulan. Sebenarnya, ayat 7 adalah kata penutup dari nasihat ini.

Nasihat rasul untuk menjauhi percabulan diberikan atas dasar pengudusan (ayat 3), dikuatkan oleh pengudusan (ayat 4), dan diakhiri di sini dengan pengudusan. Karena percabulan adalah perkara yang paling najis, merusak kedudukan dan karakter kudus umat saleh yang dipanggil oleh Allah.

Allah tidak memanggil kita berdasar pada kecemaran, tetapi Ia telah memanggil kita dalam pengudusan. Ini menunjukkan bahwa kita harus selalu tinggal dalam pengudusan. Panggilan Allah tidak ada hubungannya dengan kecemaran. Panggilan-Nya adalah dalam pengudusan, dan pengudusan ini berlawanan dengan percabulan.

Ayat 8 mengatakan, “Karena itu, siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.” Ayat ini adalah kesimpulan bagian yang dimulai dari ayat 3. Istilah “menolak” di sini mengacu kepada menolak nasihat dalam ayat-ayat sebelumnya. Di sini Paulus seolah-olah berkata, “Aku telah memberi kalian suatu peringatan. Jika kalian menolaknya, kalian bukan menolak aku, melainkan menolak Allah yang telah memberikan Roh Kudus-Nya kepada kalian.” Roh Kudus yang diberikan Allah kepada kita adalah Yang Kudus yang menguduskan kita, menjadikan kita kudus di hadapan Allah (Rm. 15:16; 1Ptr. 1:2; 1Kor. 6:11).

Kehendak (ayat 3), panggilan (ayat 7), dan Roh Allah, semuanya adalah untuk pengudusan kita. Pertama, Allah memiliki kehendak-Nya, lalu memanggil kita, dan kemudian memberi kita Roh Kudus-Nya. Demi Roh-Nya kita dikuduskan, menjawab panggilan-Nya, dan menggenapkan kehendak-Nya.

Allah telah mengaruniakan Roh Kudus-Nya kepada kita untuk menguduskan kita, menjadikan kita kudus, menyisihkan kita kepada Allah demi tujuan-Nya. Karena itu, Roh Kudus ini senantiasa bergerak, bekerja, dan bertindak di dalam kita demi satu tujuan. Jika kita jatuh ke dalam percabulan, berarti kita menolak Roh yang berhuni di batin yang sedang bekerja di batin kita untuk menguduskan kita kepada Allah. Inilah yang dimaksud Paulus dalam ayat yang mengakhiri bagian mengenai pengudusan lawan percabulan.

Semoga kita semua, terutama kaum muda, terkesan oleh kata-kata peringatan Paulus. Zaman kita tidak lebih baik daripada zaman Paulus. Lagi pula, kota-kota yang kita diami hari ini tidaklah lebih baik daripada Korintus atau Tesalonika. Malahan sebaliknya, bisa-bisa zaman maupun kota-kota kita lebih buruk. Maka, kita perlu peringatan mengenai pengudusan lawan percabulan ini.

KASIH PERSAUDARAAN

Dalam ayat 9-10 Paulus melanjutkan nasihatnya kepada kaum beriman tentang kasih persaudaraan, “Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah. Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara seiman di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, Saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya.” Frase “kasih persaudaraan” diterjemahkan dari kata Yunani “philadelphia”, terbentuk dari kata “phileo”, mengasihi (mengacu kepada kasih secara umum, seperti menaruh kasih sayang kepada), dan “adelphos”, saudara. Di sini Paulus menegaskan kembali kata-katanya dalam 3:12 tentang kasih, “Kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu.” Penegasan atas kasih ini menunjukkan bahwa kasih adalah faktor utama dalam kehidupan orang Kristen. Menurut Galatia 5:14 dan Roma 13:10, kasih adalah penggenapan hukum Taurat. Kalau kita mengasihi orang lain, tentu kita tidak akan melakukan percabulan, mencuri, atau berbohong.

HIDUP YANG SOPAN

Dalam 4:11-12 Paulus menyinggung tentang hidup yang sopan: “Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka.” Dalam ayat 11 Paulus memberi kita perkataan yang baik “sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang.” Orang yang cerewet sangat sulit disuruh tenang. Kalau orang semacam itu dapat tenang setengah jam saja, berarti ia sudah menang.

Yang paling merusak hidup gereja adalah percabulan, kemudian iri hati, dan setelah itu orang-orang yang usil. Orang yang usil ingin sekali mengetahui segala sesuatu, padahal ia bukan apa-apa. Sebab itu, Paulus berpesan agar orang-orang yang usil berusaha untuk hidup tenang. Ini berarti mereka perlu memiliki ambisi untuk menenangkan diri mereka. Sudah tentu saya menganjurkan kaum saleh supaya lebih banyak bersekutu. Tetapi mereka yang usil, harus dianjurkan agar mengurangi aktivitasnya dan lebih banyak tenang. Mereka tidak seharusnya berusaha menjadi meja informasi gereja atau ingin tahu urusan orang lain. Sebaliknya, seperti kata Paulus, mereka seharusnya mengurusi persoalan-persoalan sendiri. Boleh jadi mereka perlu meluangkan lebih banyak waktu untuk membersihkan rumah atau menata barang-barang mereka sendiri. Mereka perlu menghindari keingintahuan urusan orang lain yang merusak hidup gereja.

Mereka yang terlalu ingin tahu urusan orang lain haruslah bertekad untuk hidup tenang dan mengurus persoalan-persoalannya sendiri. Tetapi mereka yang tidak menaruh perhatian pada orang lain dan yang meluangkan terlalu banyak waktu untuk urusannya sendiri harus didorong agar mencurahkan lebih banyak waktu untuk memperhatikan orang lain dengan tepat. Berhubung kita ini dilahirkan dalam sifat yang berbeda-beda, maka atas hal ini, kita semua perlu diseimbangkan.

Dalam ayat 12 Paulus berpesan agar kita hidup dengan sopan, tidak aneh-aneh atau eksentrik. Kita harus hidup dengan sopan di mata umum.

Orang muda zaman sekarang suka yang aneh-aneh. Ada yang berpendapat semakin “khas” mereka, semakin hebat mereka. Mereka ingin menarik perhatian umum dengan gaya khas mereka. Namun kita harus berperilaku secara normal, sopan, dan biasa. Tetapi, dengan berbuat demikian kita bukanlah mengikuti ketentuan atau peraturan apa pun. Saya yakin bila kita ingin mengasihi Tuhan, memperhidupkan Tuhan, hidup seturut hati-Nya, pasti di batin kita terasa ada suatu tuntutan yang menghendaki kita normal dan sopan dalam segala hal yang kita lakukan. Dalam hal mengendarai mobil, tata rambut kita, pakaian kita, dan semua hal lainnya, kita akan berusaha menjaga kesopanan.

Segala sesuatu yang menarik perhatian orang lain secara aneh itu tidaklah pantas. Kita perlu hidup dan berperilaku dengan sopan. Khususnya, kita harus hidup dengan sopan terhadap orang luar.

MEMPERHATIKAN KAUM BERIMAN BARU

Semakin membaca Kitab 1Tesalonika dan menyimak isinya, kita semakin menyadari bahwa kitab ini dituliskan kepada kaum beriman baru. Kitab 1Tesalonika mutlak berbeda dengan Kitab Efesus. Kitab Efesus memuat banyak istilah yang dalam: rahasia Kristus, Tubuh Kristus, kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan di dalam segala sesuatu. Sebaliknya, Kitab 1Tesalonika tidak memakai istilah-istilah yang dalam, malah hanya berupa sejumlah peringatan yang sederhana. Misalnya, kita diberi tahu bahwa Allah menghendaki kita dikuduskan. Ini adalah pembicaraan dasar. Contoh lain ialah anjuran Paulus mengenai kasih persaudaraan. Dia mengatakan bahwa kita telah diajarkan oleh Allah untuk saling mengasihi, dan kemudian ia mendorong kita agar berkelimpahan di dalam kasih ini. Selanjutnya, Paulus menganjuri kita untuk berusaha hidup tenang, jangan usil, bekerja dan mengurus persoalan kita sendiri. Kalimat-kalimat ini memang tingkat dasar, namun sangat riil, dan kita memerlukannya.

Mengapa dalam anjurannya dalam pasal 4 Paulus hanya menyebutkan tiga hal? Mengapa ia hanya menyebutkan pengudusan lawan percabulan, kasih persaudaraan, dan hidup yang sopan? Jawaban pertanyaan ini ialah apabila kita memperhatikan pengudusan, kasih persaudaraan, dan hidup yang sopan, kita akan sempurna. Karena itu, hendaklah kita semua memperhatikan pengudusan kita, kasih kita terhadap orang lain, dan hidup yang sopan.

Satu Tesalonika jelas merupakan kitab yang ditujukan kepada kaum beriman baru. Dalam kitab ini Paulus menaruh perhatiannya kepada kaum beriman baru secara riil. Tetapi, ini tidak berarti kaum beriman baru tidak memerlukan kitab-kitab seperti Roma, 1 dan 2Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, dan Ibrani. Mereka tentu saja memerlukan kitab-kitab itu. Namun, berhubung mereka masih muda, pertama-tama mereka memerlukan sesuatu yang sederhana dan riil. Inilah alasan Paulus menuliskan Kitab 1Tesalonika dengan cara yang telah dilakukannya itu. Ia tahu benar bahwa kaum beriman itu berada di dalam Tuhan kurang dari satu tahun, karena itu ia menulis kepada mereka dengan cara yang sangat riil. Semoga kita semua mengikuti teladan Paulus serta mengambil caranya menggarap kawan muda dan kaum beriman baru.