PEMULIHAN DAN KESAKSIAN TUMPUAN KEESAAN
Pembacaan Alkitab:
Ezr. 1:1-11; 2:1-2; 3:1-6, 8-13; 6:14-18;
7:6-9; 8:28-30; 9:1-7; 10:1;
Mzm. 126:1-6; Yes. 35:10; 51:11
Pada bab terdahulu kita nampak bahwa bukit pengorbanan menyebabkan tumpuan keesaan rusak dan hilang. Sebelum Salomo dan Yerobeam membangun bukitbukit pengorbanan, bani Israel terpelihara dalam keesaan melalui tempat unik pilihan Allah — Bait Suci Yerusalem. Setiap tahun pada hari-hari raya umat Allah berhimpun di dalam keesaan. Ketika mereka mendaki Gunung Sion, mereka bahkan menyanyikan Mazmur 133: “Sungguh alangkah baik dan indahnya apabila saudara-saudara diam bersama dalam keesaan!” Namun, karena hendak melampiaskan hawa nafsu, Salomo mengepalai mendirikan bukit-bukit pengorbanan. Bukit-bukit pengorbanan itu telah merusak keesaan yang sejati umat Allah, sebab mereka telah merintangi banyak orang pergi ke Yerusalem untuk menyembah kepada Allah. Ada beberapa orang mungkin pergi ke bukit pengorbanan berpura-pura menyembah Allah. Namun, di bukit pengorbanan ada berhala-berhala. Selain itu, demi menyatakan ambisinya, Yerobeam juga mendirikan bukit-bukit pengorbanan. Bukit-bukit pengorbanan itu didirikan di setiap bukit kecil dan di bawah pohon rimbun. Ini menunjukkan betapa umumnya bukit-bukit pengorbanan itu.
SEBUAH LUKISAN SITUASI HARI INI
Bukit pengorbanan adalah sumber aneka ragam kedosaan. Karena bukit pengorbanan melambangkan perpecahan, maka perpecahan juga adalah sumber segala dosa. Bukitbukit pengorbanan didirikan oleh Salomo karena hawa nafsu, sedangkan Yerobeam mendirikan bukit-bukit pengorbanan karena ambisinya. Jadi, hawa nafsu dan ambisi merupakan dua faktor utama pendirian bukit pengorbanan. Dengan istilah hari ini: perpecahan adalah hasil kedagingan dan ambisi. Pada hari ini di kalangan kekristenan terdapat “bukit-bukit pengorbanan” di mana-mana, sebab kekristenan telah dipenuhi dengan perpecahan. Setiap “bukit pengorbanan” pasti meninggikan perkara-perkara tertentu di luar Kristus. Karena itu, kita nampak bahwa situasi kekristenan hari ini benar-benar telah menggenapi lambang Perjanjian Lama.
Pertama, keesaan umat Allah telah dirusak oleh bukitbukit pengorbanan. Bukit-bukit pengorbanan itu telah membangkitkan murka Allah. Allah sudah tidak sabar lagi, karena itu Ia mengutus tentara Asyur menginvasi negara utara Israel. Malapetaka negara Israel seharusnya menjadi peringatan negara selatan Yehuda, namun orang-orang Yehuda tetap menyembah di bukit-bukit pengorbanan. Walaupun ada sejumlah orang yang telah ditawan Firaun Nekho ke Mesir, tetapi umat tetap tidak acuh terhadap peringatan itu. Akhirnya, bala tentara besar Babilon tidak hanya menaklukkan negeri Yehuda, bahkan meruntuhkan Bait Suci dan menawan umat itu sebagai tawanan di Babilon. Tidak hanya itu, bejana-bejana di Bait Suci pun ikut dibawa ke Babilon dan disimpan dalam kuil berhala mereka. Dengan demikian, tumpuan keesaan tidak saja dirusak bahkan sama sekali telah hilang.
Itulah sebuah lukisan situasi kekristenan hari ini. Berbagai denominasi dan kelompok-kelompok bebas adalah “bukit-bukit pengorbanan” hari ini. Setiap “bukit pengorbanan” tentu meninggikan perkara-perkara tertentu di luar Kristus. Bahkan perkara-perkara rohani yang sangat baik telah ditinggikan untuk menimbulkan perpecahan.
TIDAK ADA ALASAN BERPECAH-BELAH
Berdasarkan Roma 14, orang Kristen tidak memiliki alasan untuk berpecah-belah. Namun, mayoritas orang Kristen sudah terbiasa melihat keberadaan “bukit-bukit pengorbanan”, sehingga menganggap “bukit-bukit pengorbanan” itu benar dan perlu. Kita bisa mempunyai konsepsi demikian karena kita lahir dan dibesarkan dalam lingkungan yang penuh dengan berbagai macam “bukit pengorbanan” — perpecahan. Kita terbiasa menjumpai perpecahan-perpecahan sehingga tidak mempunyai seberapa perasaan terhadapnya. Sama sekali berbeda dengan perasaan Paulus dalam Roma 14. Dia menasihatkan kita jangan berdebat tentang makanan dan pemeliharaan hari raya. Dalam hal ini kita harus menguasai diri sendiri, tidak menyatakan opini. Dengan demikian keesaan kaum beriman terpelihara.
Pada bab terdahulu pernah kita singgung, pada tahun 1963 di Los Angeles ada beberapa organisasi Kristen bersidang bersama dengan kita. Mereka bersidang dengan kita dengan harapan ingin mempraktekkan hidup gereja. Mendengar minat mereka dan menerima saran mereka untuk bersidang bersama, saya lalu menyampaikan sebuah berita berdasarkan Roma 14. Saya tegaskan jika kita mau mempraktekkan hidup gereja, kita harus bertindak menurut apa yang ditunjukkan Paulus dalam pasal tersebut. Banyak orang Kristen dapat membicarakan kehidupan Tubuh dalam Roma 12, namun mereka mengabaikan prinsip dalam pasal 14. Tanpa Roma 14, mustahil ada kehidupan Tubuh yang dilukiskan dalam Roma 12. Sepanjang abad orang Kristen terpecah-belah karena opini yang berbeda terhadap ajaran dan bentuk praktek. Misalkan, orang Kristen terpecah-belah karena masalah pembaptisan. Mereka tidak seopini tidak saja karena cara pembaptisan, juga karena air dan nama yang disebut dalam pembaptisan. Karena ketidaksamaan opini terhadap perkara pembaptisan, maka timbullah banyak perpecahan, bahkan menyebabkan banyak kasus yang hanya mengukuhi opini sendiri dan meninggikan diri sendiri. Karena itu, berpegang pada ajaran Paulus dalam Roma 14 adalah sangat penting. Orang-orang yang bersidang bersama dengan kita itu memberi jaminan kepada saya bahwa mereka pasti mau melakukan begitu.
Namun, beberapa minggu berselang, timbullah kesulitan. Ada yang mempertahankan menabuh tambur dan berbahasa lidah di kala bersidang, ada pula yang bersikeras menentang praktek tersebut. Kedua belah pihak itu tidak rela melepaskan opini mereka sendiri dan memperhatikan perasaan orang lain demi memelihara keesaan. Karena itu, sidang bersama itu akhirnya tidak dapat dilanjutkan. Orang-orang dalam beberapa organisasi itu selalu menuntut agar orang lain yang harus sama dengan mereka. Jika kita mempunyai tuntutan demikian, tidak mungkin ada hidup gereja. Hidup gereja harus merangkum semuanya, dan dapat mencakup berbagai macam orang Kristen sejati.
Mengenai makanan dan pemeliharaan hari tertentu dalam Roma 14, Paulus tidak memihak pada siapa pun. Dia hanya berkata, “Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Siapa yang makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa yang tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan dia juga mengucap syukur kepada Allah” (ayat 6). Inilah sikap Paulus, ini seharusnya juga menjadi sikap kita pada hari ini.
Janganlah kita menghendaki setiap orang sama seperti kita. Misalkan, walaupun kita tidak berbahasa lidah, kita tidak boleh melarang orang lain berbahasa lidah. Di aspek lain, mereka yang berbahasa lidah juga tidak boleh bersikeras supaya orang lain harus sama seperti mereka. Kalau kita mempunyai sikap demikian, tentu tidak akan ada sekte, dan tidak akan ada “bukit pengorbanan” di antara kita.
Ada beberapa orang mengatakan bahwa kita ini sempit atau picik. Sebenarnya kita tidak picik, sebab kita menerima semua orang Kristen sejati. Mereka yang mempertahankan ajaran atau praktek tertentu itu baru benar-benar picik. Mereka mempertahankan perkara khusus tertentu dan meninggikannya ke atas kedudukan Kristus.
TUMPUAN KEESAAN HILANG SAMA SEKALI
Semua perpecahan dalam kekristenan adalah kasus orang meninggikan dirinya sendiri karena hawa nafsu dan ambisi. Perpecahan telah membuka pintu masuk bagi dosa. Lihatlah dosa yang dilakukan Yerobeam. Dia membuat anak lembu emas, satu ditempatkan di Betel, satunya lagi di Dan. Dia juga mendirikan bait di bukit pengorbanan, dan mengangkat rakyat biasa menjadi imam. Yerobeam “menentukan suatu hari raya pada hari yang kelima belas bulan kedelapan, sama seperti hari raya yang di Yehuda, dan ia sendiri naik tangga mezbah itu” (1 Raj. 12:32). Semuanya itu boleh diterapkan pada kekristenan hari ini. Misalkan, hanya orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan, yang mempunyai hayat Kristus, yang mengasihi Tuhan, dan yang mengerti Alkitab baru boleh menjadi imam. Tetapi dalam kalangan kekristenan hari ini banyak pendeta bahkan tidak percaya bahwa Kristus adalah Anak Allah. Dalam kekristenan ada banyak hari raya, antara lain seperti hari Natal, hari kebangkitan, . . . , semuanya adalah yang ditetapkan oleh manusia. Lagi pula, ketika orang Israel berada di tempat pembuangan, mereka sama sekali kehilangan keesaan. Demikian juga, hari ini orang Kristen telah tertawan di Babilon. Tumpuan keesaan tidak saja rusak, bahkan hilang sama sekali. Jarang sekali orang Kristen yang masih memiliki ide terhadap tumpuan keesaan. Hari ini siapakah yang memperhatikan keesaan yang sejati? Sulit sekali kita temukan orang yang demikian. Sejak beberapa abad yang lampau, keesaan yang sejati kaum beriman dalam Kristus sudah hilang. Maka situasi kekristenan hari ini sudah seluruhnya menjadi Babilon. Walaupun ada beberapa orang membicarakan keesaan, tetapi bukan keesaan sejati yang diwahyukan dalam Alkitab. Ketika kita membicarakan soal keesaan, sulit sekali kita jumpai satu orang yang mengerti apa yang sedang kita bicarakan. Bagi kebanyakan orang Kristen, membicarakan tumpuan keesaan adalah bahasa asing.
TERPULIHNYA SEGALA PERKARA POSITIF
Perjanjian Lama tidak hanya mewahyukan rusak dan hilangnya tumpuan keesaan, juga mewahyukan terpulihnya kesaksian tumpuan ini. Yeremia bernubuat bahwa sesudah 70 tahun masa pembuangan, maka Tuhan akan membawa umat-Nya kembali ke negeri permai. Yeremia 29:10, “Sebab beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini.” Nubuat Yeremia ini disinggung dalam Kitab Ezra 1:1, di situ dikatakan bahwa pada tahun pertama zaman Koresy, raja negeri Persia, Tuhan menggerakkan hati Koresy, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia, sehingga disiarkan di seluruh kerajaan Koresy secara lisan dan tulisan tentang perkara pembangunan rumah Allah di Yerusalem. Ini menunjukkan bahwa kembalinya ke Yerusalem bukan inisiatif manusia. Berdasarkan catatan jelas Alkitab, itu adalah inisiatif Allah sendiri.
Selama umat Allah berada di Babilon, mereka tidak mempersembahkan kurban di sana. Kita tidak menemukan dalam Alkitab yang mencatat bahwa mereka mempersembahkan kurban bakaran setiap pagi di Babilon. Tentu saja orang-orang seperti Daniel, Ezra, dan Nehemia berdoa tiap hari. Tetapi mereka tidak memiliki tumpuan untuk mempersembahkan kurban bakaran kepada Allah. Di Babilon juga tidak ada mezbah. Karena tidak ada mezbah, sudah tentu tidak mungkin mempersembahkan kurban. Selain itu, di sana setiap tahun umat Allah tidak dapat memelihara hari raya. Situasi itu alangkah kasihan! Babilon adalah tempat yang baik untuk berdoa sambil berpuasa, tetapi bukan tempat yang baik untuk merayakan hari raya. Di sana cocok untuk meratap, tidak cocok untuk bergembira ria. Mazmur 137:1 mengatakan, “Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion.” Begitu tumpuan keesaan hilang, segalanya pun nyaris hilang. Umat Allah kehilangan kelimpahan negeri permai, mezbah, dan hari-hari raya. Hanya di Gunung Sion pilihan Allah baru mereka dapat menikmati segala perkara yang indah itu.
BEJANA-BEJANA DAN MEZBAH
Ketika Allah menggerakkan roh umat-Nya untuk kembali ke Yerusalem, yang terpulih tidak hanya tumpuan, bahkan dengan spontan terpulih juga segala perkara positif yang dulu telah hilang. Bejana-bejana (peralatan) yang dijarah Nebukadnezar dan disimpan dalam kuil allahnya sendiri juga dikembalikan ke Yerusalem (Ezr. 1:7-11). Lagi pula, ketika orang-orang Israel yang tersisa itu bersamasama kembali, mereka lalu “mendirikan mezbah itu di tempatnya semula” (Ezr. 3:3). Umat Allah tahu bahwa tempat mendirikan mezbah bukan di Babilon, melainkan di tempat unik pilihan Allah — Yerusalem. Mezbah itu bahkan tidak boleh didirikan di tempat lain di negeri permai, ia harus didirikan di atas Gunung Moria, yaitu di tempat Abraham mempersembahkan Ishak. Siapa pun yang ingin mempersembahkan persembahan kurban kepada Allah, haruslah pergi ke tempat unik khusus dan tertentu itu.
Hari ini tempat unik ini adalah keesaan. Kapan kala orang Kristen kehilangan keesaan, dengan otomatis ia kehilangan tempat untuk mendirikan mezbah. Akibatnya ia tidak dapat mempersembahkan kurban yang wajar kepada Allah. Sebelum masuk ke dalam hidup gereja, banyak di antara kita yang ingin mempersembahkan diri kepada Allah. Saya dapat bersaksi, saya sendiri justru pernah berkali-kali mempersembahkan diri kepada Allah. Namun berdasarkan pengalaman kita sebelum dan sesudah masuk ke dalam hidup gereja, kita dapat bersaksi bahwa itu bukan persembahan yang sejati. Tanpa kembali ke tumpuan keesaan yang sejati, tidak ada jalan untuk mempersembahkan sesuatu kepada Allah. Begitu umat Allah kembali ke Yerusalem, mereka segera membangun mezbah dan mulai mempersembahkan kurban mereka. Dalam pengalaman kita juga demikian. Setelah kita masuk ke dalam hidup gereja, barulah kita dapat mempersembahkan diri kita dengan wajar dan sesungguhnya.
FUNGSI HATI NURANI YANG WAJAR
Selain itu, setelah umat Allah kembali dari tempat pembuangan, barulah mereka menanggulangi masalah kawin dan mengawinkan dengan orang kafir (Ezr. 9:1-7). Hati nurani mereka tidak dapat mentolerir lagi perbuatan yang tidak takwa itu. Ini merupakan akibat spontan dari kembali ke tumpuan keesaan. Tentu saja ketika mereka di Babilon ada beberapa orang yang menikah dengan orang kafir. Akan tetapi hanya ketika mereka kembali dari tempat pembuangan barulah hati nurani mereka menyadari perkawinan semacam itu dan menanggulanginya.
Suasana semacam itu juga terdapat dalam pemulihan Tuhan hari ini. Setelah kita masuk ke dalam hidup gereja, hati nurani kita baru berfungsi dengan wajar. Kita segera mengetatkan ikat pinggang kita dan bersikap serius terhadap hal-hal yang selama ini sangat kendur. Sebelum kita datang ke dalam hidup gereja, kita boleh sembarangan mengambil bagian dalam hiburan-hiburan dunia tertentu. Namun sesudah masuk ke dalam hidup gereja, seluruh insan kita telah mengetatkan ikat pinggang. Kita mulai menuntut kesucian dan ketakwaan dan semakin damba berdoa dan membaca Alkitab. Dengan sendirinya kita bisa menanggulangi hati nurani kita secara tuntas. Tindakan semacam itu bukan akibat dari pengajaran dan peraturan, melainkan suatu dampak spontan dari kembalinya kita ke tumpuan keesaan. Karena kita telah masuk ke dalam hidup gereja, maka kita bisa mendambakan ketakwaan; kita bisa mencampakkan banyak perkara negatif, dan mengalami banyak perkara positif. Misalkan, dari dalam batin kita merasa tidak seharusnya melanjutkan merayakan hari Natal. Tidak ada yang memberi tahu kita jangan melanjutkan merayakannya, tetapi justru perasaan diri kita sendiri merasa tidak seharusnya mengulangi perayaan itu. Demikian juga, kita mulai meninggalkan banyak perkara negatif dan menikmati perkara-perkara positif. Ini menunjukkan begitu tumpuan keesaan terpulih, maka segala perkara positif pun ikut terpulih.
KEDAMBAAN YANG KUDUS
Tidak ada apa pun yang lebih memuaskan orang daripada tumpuan keesaan. Begitu kaum saleh Perjanjian Lama masuk ke pelataran rumah Allah, bangkit rasa kudus dan takwa dalam jiwa mereka. Hal ini banyak tercatat dalam Kitab Mazmur. Mazmur-mazmur itu penuh dengan kedambaan terhadap kekudusan, ketakwaan, dan penyertaan Tuhan. Sungguh demikian, hanya merenungkan Bait Suci saja sudah cukup membangkitkan kedambaan semacam itu.
PENYERTAAN ALLAH
Penyertaan Allah erat sekali hubungannya dengan tumpuan keesaan. Sebelum masuk ke dalam hidup gereja, saya sudah mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh. Namun saya tidak seberapa menikmati penyertaan Allah. Tetapi begitu saya masuk ke dalam hidup gereja secara riil, setiap hari saya menikmati penyertaan Allah. Sekalipun ketika saya menggumuli suatu pekerjaan yang sangat sulit, saya tetap dapat menikmati penyertaan Allah. Berdasarkan pengalaman saya, saya tetap dapat menikmati bahwa masuk ke dalam hidup gereja akan mengubah kehidupan kristiani kita secara besar-besaran.
Banyak di antara kita yang dapat bersaksi demikian. Sebelum masuk ke dalam hidup gereja, kita memang berada di Babilon. Kita mengasihi Tuhan dan menuntut Tuhan, tetapi kita tidak seberapa banyak menikmati penyertaan Tuhan. Setelah kita masuk ke dalam hidup gereja, berbagai kedambaan kekudusan itu dibangkitkan, sehingga kita semakin damba hidup di hadapan Allah. Itu adalah akibat spontan dari kembalinya kita ke tumpuan keesaan — tempat unik pilihan Allah. Saat bani Israel kembali ke Yerusalem, semua perkara positif yang hilang ketika mereka berada di tempat pembuangan di Babilon diperoleh kembali. Semua perkara ilahi, ibadah, dan surgawi dengan sendirinya kembali lagi. Dalam pemulihan Tuhan hari ini keadaannya juga demikian.
PENUH DENGAN SUKACITA
Mazmur 126:1-2 mengatakan, “Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai.” Umat Allah yang kembali itu penuh dengan tawa dan sorak-sorai. Sebab semua perkara yang positif telah terpulih. Sebelum kembali ke Yerusalem, mereka tidak bisa bersukacita sedemikian. Namun setelah kembali, mereka menikmati banyak perkara yang indah, sehingga seperti orang-orang yang bermimpi.
Dalam Yesaya 35:10 dan 51:11 juga sama mengisahkan kesukacitaan umat Allah pada waktu mereka kembali. Dalam kedua ayat itu dikatakan, “Dan orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka.” Perkara ini berulang-ulang diungkapkan, membuktikan betapa pentingnya hal ini. Sebab perkara apa pun yang diulang-ulang dalam Alkitab pasti mengandung makna yang istimewa. Pada zaman Yesaya belum terjadi kasus pembuangan ke Babilon. Namun Yesaya bernubuat mengisahkan sukacita keselamatan yang dinikmati umat tebusan Allah. Yesaya melihat terlebih dulu sukacita umat yang kembali dari pembuangan. Saya tidak percaya Salomo dan orang-orang yang sezaman dengannya bisa memiliki sukacita seperti yang dimiliki Zerubabel, imam Yosua, Ezra, dan orang-orang tertawan yang kembali ke Yerusalem. Mereka lebih banyak mengalami sukacita keselamatan Allah. Tidak heran kalau pemazmur 126 mengatakan mereka seperti orang-orang yang bermimpi.
KEESAAN YANG ALMUHIT
Demi pemulihan keesaan yang sejati, alangkah kita bersyukur pada Allah! Keesaan di dalam Kristus ini sudah hilang sejak dulu. Keesaan ini bersifat almuhit, ia mencakup semua perkara positif. Sebaliknya, perpecahan juga mencakup semua perkara negatif. Seperti sudah kita nampak, ketika kita kembali ke keesaan, semua perkara ibadah, surgawi, dan rohani ikut kembali. Sebab perkara-perkara itu berada di dalam keesaan. Di satu pihak kita mengakui bahwa kita sendiri masih sangat kurang, masih harus menempuh jalan yang panjang. Di pihak lain, kita dapat bersaksi bahwa kekayaan Tuhan pasti berada di dalam pemulihan. Tumpuan keesaan ada di sini, dan segala kekayaan rohani tercakup di dalam tumpuan ini. Di atas tumpuan keesaan ini segala perkara ibadah dan rohani adalah milik kita.
KESAKSIAN TUHAN YANG ADA DI ATAS TUMPUAN KEESAAN
Hari ini kesaksian Tuhan dengan tumpuan keesaan adalah paralel. Kesaksian ini tidak tergantung pada bagaimana giatnya kita memperbaiki diri sendiri; kita boleh bertekad memperbaiki diri sendiri, namun hasilnya adalah kegagalan demi kegagalan belaka. Kesaksian Tuhan tidak tergantung pada kegiatan kita, melainkan tergantung pada pekerjaan-Nya yang Ia lakukan di dalam kita di atas tumpuan keesaan. Setelah kita masuk ke dalam hidup gereja, kedambaan kita terhadap hal ibadah, kekudusan, dan kerohanian akan bangkit dengan sendirinya dalam batin kita. Itu bukan perbuatan kita sendiri, melainkan keesaan yang wajar, firman Allah terbuka dengan jelas bagi kita. Ini sama sekali merupakan berkat Tuhan di atas tumpuan keesaan. Di mana pemulihan tumpuan keesaan, di situlah ada kesaksian Tuhan.
Ketika umat Allah kembali ke Yerusalem pada zaman Perjanjian Lama, segala perkara yang berkaitan dengan Allah terpulihkan: mezbah, kurban persembahan, Bait Suci, hari raya, dan kenikmatan yang kaya. Akan tetapi, orang-orang yang tertinggal di Babilon tidak ada bagian dalam kesaksian Tuhan. Perkara-perkara ibadah itu tidak dapat dijumpai di Babilon. Semua itu hanya ada di Yerusalem — tempat unik pilihan Allah. Umat Allah yang kembali itu walaupun ada yang lemah dan yang kurang memadai dalam banyak aspek, namun kita tidak dapat menyangkal bahwa kesaksian Tuhan ada pada diri mereka. Kesaksian Allah tidak terdapat pada diri orang-orang yang di Babilon.
Bukan hanya itu, kembalinya umat Allah ke tumpuan keesaan juga dipakai Allah untuk membawa Kristus datang. Maria — ibu Yesus adalah keturunan orang-orang yang kembali dari pembuangan. Jika orang-orang itu tidak kembali, maka Kristus tidak ada jalan untuk dilahirkan di Betlehem, juga tidak ada sarana atau perantara untuk membuat kelahiran-Nya sesuai nubuat nabi. Karena itu, untuk kedatangan Kristus, kembalinya orang-orang yang tertawan di Babilon itu merupakan persiapan yang diperlukan. Seprinsip dengan itu, saya percaya bahwa pemulihan Tuhan hari ini juga merupakan persiapan yang dipakai Allah bagi kembalinya Kristus. Untuk kembalinya Kristus, semoga Tuhan memakai pemulihan-Nya sepenuhnya!