WAHYU AKHIR KEESAAN LOKAL DAN PEMULIHANNYA
Pembacaan Alkitab:
Kej. 1:1; Mal. 1:1-2; Mat. 1:1; 16:16-18; 18:17;
Yoh. 1:1, 14; 20:17; Kis. 8:1a; 13:1a; 14:23; 1 Kor. 1:2a;
Gal. 1:2; Why. 1:4-5a, 11, 20; 3:22; 22:17a
Pada bab terdahulu kita telah memeriksa dengan cermat beberapa pasal dan ayat dalam Perjanjian Lama. Dalam bab terakhir ini kita akan meninjau secara keseluruhan tentang keesaan lokal dan wahyu akhir pemulihannya dalam Perjanjian Baru.
PEMANDANGAN MENYELURUH ATAS
WAHYU PERJANJIAN LAMA ALLAH
Jika kita memiliki pemandangan yang menyeluruh terhadap Alkitab dan membacanya secara keseluruhan, kita akan nampak bahwa Alkitab mewahyukan empat lukisan utama: pertama, Allah adalah Pencipta. Kejadian 1:1 mengatakan, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Allah ada pada mulanya dan Allah menciptakan segalanya. Maleakhi 1:1-2 mengatakan bahwa Allah ini mengasihi bangsa Israel. Karena itu, Perjanjian Lama mewahyukan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dan juga mengasihi bangsa Israel. Sedikit banyak ini merupakan sebuah ringkasan keterangan dari wahyu Allah dalam Perjanjian Lama. Boleh kita katakan bahwa Allah ini adalah Allah Israel. Istilah ini bahkan pernah digunakan dalam Perjanjian Lama. Sudah tentu orang Yahudi sangat mencintai Perjanjian Lama, sebab ia mewahyukan bahwa Allah yang esa dalam alam semesta, yang menciptakan langit dan bumi, adalah Allah yang mengasihi bangsa Israel.
KRISTUS DAN GEREJA
Kita semua tahu bahwa selanjutnya Perjanjian Baru mewahyukan lebih banyak tentang Allah. Karena itu, kita yang percaya kepada Kristus tidak dapat mengatakan bahwa wahyu tentang Allah dalam Perjanjian Lama adalah wahyu yang lengkap, sebab ia sebenarnya hanya merupakan wahyu Allah sebagian dan tidak lengkap.
Matius 1:1 mengatakan, “Inilah daftar nenek moyang Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.” Alangkah berbedanya pembukaan Perjanjian Baru dengan ayat pertama Perjanjian Lama! Persona yang disebut dalam Matius 1:1 itu diwahyukan lebih lanjut dalam Matius 16. Dalam pasal itu Tuhan bertanya pada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” (ayat 13). Setelah murid-murid-Nya menjawab, Tuhan lalu khusus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (ayat 15). Simon Petrus mendapat wahyu dari Bapa di surga dan ia menjawab, “Engkaulah Mesias (Kristus), Anak Allah yang hidup!” (ayat 16). Tuhan mengakui bahwa itu bukan manusia yang menyatakan, melainkan Bapa. Tuhan berkata selanjutnya, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (ayat 18). Di sini yang kita miliki bukan Israel yang dikasihi Allah, yang kita miliki adalah gereja yang dibangun oleh Kristus.
Yohanes 1:1 mengatakan, “Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Ayat 14, “Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita . . . penuh anugerah dan kebenaran.” Firman yang bersama-sama dengan Allah pada mulanya dan yang telah menjadi manusia ialah Allah Pencipta segala sesuatu, tetapi Dia tidak hanya demikian. Ketika kita memberitakan Injil, kita perlu menunjukkan hal ini kepada teman-teman Yahudi kita. Kita perlu mengajar mereka tentang kebenaran ilahi! Allah Pencipta segala sesuatu telah menjadi manusia melalui inkarnasi. Kita harus memberi tahu mereka bahwa Allah tidak berhenti hanya sebagai Allah yang mengasihi bangsa Israel saja. Menurut Injil Yohanes, Dia telah menjadi seorang manusia. Karena itu, tidaklah lengkap jika orang hanya mengenal Dia sebagai Allah.
Setelah hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun, Kristus mati di atas salib, kemudian masuk ke dalam kebangkitan. Pada hari kebangkitan-Nya, Kristus berkata, “. . . pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu” (20:17). Dalam Matius ada Kristus dan gereja, dalam Yohanes ada Anak Allah dan saudara-Nya, yakni gereja. Setelah kebangkitan-Nya, Kristus mulai menyebut murid-murid saudara, sebab melalui kebangkitan-Nya, melalui hayat ilahi yang Ia bebaskan lewat kematian-Nya yang menyalurkan hayat, mereka telah beroleh kelahiran kembali (1 Ptr. 1:3; Yoh. 12:24). Kristus tadinya adalah Anak tunggal Bapa, ekspresi tunggal Bapa. Kini, melalui mati dan bangkit, Anak tunggal Allah telah menjadi “yang sulung di antara banyak saudara” (Rm. 8:29). Banyak saudara itu mengacu kepada anak-anak Allah, gereja (Ibr. 2:10-12), menjadi ekspresi korporat Bapa di dalam Anak.
Mengenai hal ini, melalui wahyu Alkitab kita nampak ada tiga pemeran utamanya: Allah, Kristus, dan gereja. Allah terwujud di dalam Kristus dan Kristus diekspresikan melalui gereja. Inilah wahyu akhir dari kitab-kitab Injil.
GEREJA-GEREJA LOKAL
Sekarang kita harus maju ke depan dari Kisah Para Rasul ke Wahyu. Di sini kita tidak hanya melihat Allah, Kristus dan gereja, kita juga melihat gereja-gereja. Dalam Matius 16 Tuhan berkata, “di atas batu karang ini Aku akan mendirikan gereja-Ku” (ayat 18). Ini adalah gereja universal yang unik, yang dilambangkan oleh Sion. Namun, seperti halnya Sion memiliki banyak puncak gunung, maka gereja yang universal itu pun memiliki banyak ekspresi lokal. Dalam Matius 18 Tuhan membicarakan sebuah kasus yang disampaikan kepada gereja, kita nampak satu dari ekspresiekspresi lokal itu. Kita juga boleh mengibaratkan gereja universal sebagai sebuah pohon, dan gereja-gereja lokal sebagai ranting-rantingnya. Dalam Matius 18 kita nampak sebuah ranting di antara ranting-ranting pohon universal itu. Di situ ada satu gereja lokal yang kepadanya kita bisa membawa masalah kita untuk diselesaikan. Sebuah gereja yang demikian bisa menghadapi orang-orang tertentu, bahkan bisa memandang mereka sebagai orang kafir dan pemungut cukai.
Dalam Kisah Para Rasul kita nampak gereja di Yerusalem (8:1) dan gereja di Antiokhia (13:1). Berdasarkan 14:23, rasul memilih dan mengangkat para penatua di masing-masing gereja. Yang dimaksud di sini ialah mendirikan gereja-gereja di propinsi Asia kecil. Satu Korintus 1:2 mengatakan tentang “gereja Allah di Korintus”. Selain itu, dalam Galatia 1:2 tercatat “gereja-gereja di Galatia”. Galatia adalah sebuah propinsi di Kekaisaran Romawi kuno yang terdapat banyak kota di dalamnya. Seperti halnya di negara bagian California terdapat banyak gereja hari ini. Demikian pula, pada zaman Paulus terdapat banyak gereja di wilayah Galatia.
Sampai Kitab Wahyu, wahyu Allah dalam Alkitab telah mencapai tahap kesempurnaan. Gereja universal — Tubuh Kristus terekspresi melalui gereja-gereja lokal. Gereja-gereja yang mengekspresikan Tubuh Kristus itu bersifat lokal (1:12, 20). Wahyu 1:4 mengatakan, “Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat yang di Asia kecil.” Asia Kecil adalah sebuah propinsi dari Kekaisaran Romawi kuno, yang di dalamnya terdapat tujuh kota yang tercatat dalam 1:11. Ketujuh gereja itu secara terpisah berada di tujuh kota, bukan di satu kota. Kitab Wahyu tidak membicarakan gereja universal, melainkan gereja-gereja lokal di berbagai kota. Kita telah nampak, yang pertama diwahyukan dalam Matius 16:18 adalah gereja universal, sedangkan yang dicatat dalam Matius 18:17 adalah gereja lokal. Gereja yang didirikan dengan riil dalam Kisah Para Rasul itu bersifat lokal, misalkan gereja di Yerusalem (8:1), gereja di Antiokhia (13:1), dan gereja-gereja di Siria dan Kilikia (15:41). Tanpa gereja-gereja lokal, niscaya gereja universal akan tidak ada pelaksanaan dan perwujudannya. Gereja universal terwujud melalui gereja-gereja lokal. Mengenal gereja secara universal harus berakhir dengan mengenal gereja secara lokal. Adalah suatu kemajuan besar bagi kita bila kita mengenal dan mempraktekkan gereja-gereja lokal. Mengenai gereja, Kitab Wahyu adalah dalam tahap kemajuan, sebab ia ditulis kepada gereja-gereja lokal. Jika kita ingin memahami kitab ini, haruslah kita tidak saja mengenal gereja universal, tetapi juga harus maju ke depan mengenal dan mempraktekkan gereja-gereja lokal.
SATU KOTA, SATU GEREJA
Dalam Wahyu 1:11 ada suara berkata kepada Yohanes, “Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia.” Cara penulisan ayat ini sangatlah penting. Kitab ini dikirim ke tujuh gereja, sama dengan dikirim ke tujuh kota. Ini dengan jelas menampakkan kepada kita bahwa pelaksanaan hidup gereja adalah satu gereja untuk satu kota, satu lokal memiliki satu gereja. Di tiap kota tidak seharusnya ada lebih dari satu gereja. Ruang lingkup satu gereja lokal seharusnya mencakup keseluruhan lokal itu. Ruang lingkup gereja lokal tidak boleh lebih besar daripada lokal itu, juga tidak boleh lebih kecil daripada lokal. Semua orang beriman yang berdomisili di satu kota seharusnya terbentuk menjadi satu gereja lokal unik di dalam ruang lingkup satu kota itu. Jadi, satu gereja sama dengan satu kota, satu kota sama dengan satu gereja. Itulah gereja lokal yang kita maksudkan.
ANUGERAH DAN DAMAI SEJAHTERA DARI
ALLAH TRITUNGGAL BAGI KETUJUH GEREJA
Wahyu 1:4-5 adalah ayat-ayat yang sangat bermakna: “Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat yang di Asia Kecil: Anugerah dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya, dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini.” Berdasarkan ayat-ayat ini anugerah dan damai sejahtera ditransmisikan dari Allah Tritunggal kepada ketujuh gereja. Perhatikan, di sini ada tiga “dari”. Dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang (Bapa); dari ketujuh Roh (Roh itu); dan dari Yesus Kristus (Anak). Ini merupakan wahyu yang sangat lengkap dari Allah Tritunggal. Dialah Allah Bapa yang kekal, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang; Dialah Allah Roh, yang di dalam operasi Allah sebagai Roh intensif tujuh ganda; Dia adalah Allah Putra, adalah Saksi, penyataan Allah, ekspresi Bapa, yang pertama bangkit dari antara orang mati bagi gereja, ciptaan baru, dan Penguasa atas raja-raja di bumi. Dari Allah yang sedemikianlah anugerah dan damai sejahtera disalurkan kepada gereja-gereja.
Dalam dua ayat ini wahyu Allah jauh lebih sempurna daripada wahyu dalam Kejadian 1:1. Allah yang diwahyukan dalam Kitab Kejadian tidak dapat disebut Yesus, sebab pada waktu itu belum ada inkarnasi. Berdasarkan Yohanes 1, Allah Pencipta adalah Firman yang menjadi daging dan diam di antara kita. Ketika Firman ini menjadi daging, Ia bernama Yesus. Wahyu 1:5 mengatakan bahwa Yesus adalah Saksi yang setia, yang berkuasa atas raja-raja di bumi. Wahyu 1:4-5 mencakup wahyu akhir dari Alkitab. Wahyu Alkitab berawal dari Allah sebagai Pencipta dan mencapai kesempurnaannya melalui Allah Tritunggal yang telah melalui proses, yang menyalurkan anugerah dan damai sejahtera kepada gereja-gereja lokal. Berdasarkan Wahyu 1:4, Roh Kudus telah menjadi tujuh Roh, yakni Roh yang almuhit. Tambahan pula, Sang Anak telah menjadi Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja di bumi. Setelah inkarnasi, menjadi manusia di bumi, tersalib, bangkit, dan naik ke surga, Dia telah berada di takhta, melampaui semua raja di bumi. Allah Tritunggal yang telah melalui proses ini tidak saja mempunyai hubungan umum dengan perorangan atau gereja, juga dengan gereja-gereja lokal seluruhnya. Itulah sebabnya Wahyu 1:4-5 khusus mengatakan bahwa anugerah dan damai sejahtera dari Allah Tritunggal kepada ketujuh gereja.
KEMAJUAN WAHYU ILAHI
Wahyu Allah dimulai dari diri Allah sendiri dan berlanjut dengan Kristus dan Roh itu, dan terus mencapai kepada lokal, maka wahyu ilahi akan tanpa tujuannya. Dalam hal ini kekurangan orang Yahudi, banyak orang Kristen, bahkan orang-orang yang disebut orang rohani menjadi nyata. Orang Yahudi memiliki Allah, kebanyakan orang Kristen memiliki Allah dan Kristus, orang Kristen yang maju memiliki Roh Kudus, namun sangat sedikit orang Kristen yang memiliki hidup gereja yang wajar dalam gereja-gereja lokal. Hari ini kita berada di dalam gereja lokal, kita memiliki Allah, Kristus, Roh itu, dan gereja.
Hasil kemajuan dari manifestasi Allah ialah gereja. Allah terwujud pada Kristus, Kristus terealisasi dan teralami sebagai Roh itu, yang menyalurkan hayat kepada kita; sedangkan hasil dari Roh itu ialah gereja-gereja. Ketika kita mengalami dan merealisasikan Kristus sebagai Roh pemberi-hayat, hasilnya ialah gereja-gereja. Gereja adalah Tubuh Kristus, kepenuhan-Nya. Kemajuan wahyu ini ialah Allah, Kristus, Roh itu, gereja, dan gereja-gereja lokal. Inilah wahyu yang Allah berikan kepada kita dalam firman kudus-Nya.
Dalam Wahyu 22:17 kita membaca sebuah kalimat yang ajaib: “Roh dan pengantin perempuan itu berkata . . .” Di sini kita jumpai subyek majemuk — Roh dan pengantin perempuan itu. Roh itu adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan pemberi-hayat; sedang pengantin perempuan adalah gereja, mencakup gereja-gereja dan seluruh kaum saleh. Roh itu dan pengantin perempuan mengatakan perkataan yang sama, ini mengacu kepada Allah Tritunggal sudah esa sepenuhnya dengan umat tebusan-Nya. Alangkah indahnya!
Kita harus mempunyai kesan yang dalam terhadap kemajuan wahyu ilahi dalam Alkitab. Seperti telah kita tunjukkan bahwa dalam Perjanjian Lama Allah adalah Pencipta, juga yang mengasihi bangsa Israel. Kemudian, dalam Injil Matius dan Yohanes kita nampak silsilah Yesus Kristus dan inkarnasi-Nya dan tinggal di antara kita. Dalam kitab-kitab itu kita juga melihat Kristus membangun gereja serta banyak saudara dari Anak Allah, yakni gereja. Dalam Kisah Para Rasul kita nampak gereja dibangun di banyak kota. Kitab kiriman sebagian besar ditulis kepada masing-masing gereja lokal. Terakhir, dalam Kitab Wahyu, kita nampak anugerah dan damai sejahtera dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses diberikan kepada seluruh gereja lokal. Berdasarkan Wahyu 22:17, Roh itu berbicara bersama dengan pengantin perempuan, mengacu bahwa Allah Tritunggal benar-benar telah menjadi esa dengan umat tebusan-Nya.
GEREJA LOKAL KITA
Jika kita jelas akan wahyu dalam Alkitab, kita akan nampak bahwa hari ini gereja-gereja lokal adalah tempat yang tepat untuk menikmati Allah. Khususnya kita perlu berada di dalam satu gereja lokal yang pasti, sehingga kita dapat berkata, inilah gereja lokal kita. Walau saya mengasihi gereja-gereja lokal, namun saya harus bersaksi dengan jujur bahwa bagi saya tidak ada gereja lain yang lebih mustika, tersayang daripada gereja di Anaheim, sebab gereja di Anaheim adalah gereja lokal saya. Kita harus mempunyai perasaan demikian terhadap gereja lokal di mana kita berdomisili.
Betapa kasihan situasi sebagian besar orang Kristen hari ini! Sebab mereka tidak berada dalam hidup gereja, mereka seperti yatim piatu yang tidak mempunyai rumah. Itu juga merupakan situasi kita sebelum kita masuk ke dalam hidup gereja dalam pemulihan Tuhan. Pada waktu itu kita tidak hanya sebagai yatim piatu, bahkan sebagai pengembara. Sebelum kita masuk ke dalam hidup gereja, kita tidak pernah merasa bahwa kita sudah berada di rumah, atau sudah mencapai tujuan. Tetapi pada suatu hari, kita berada dalam hidup gereja, kita sadar bahwa kita sudah pulang ke rumah. Setelah mengembara bertahun-tahun lamanya, pada akhirnya kita sampai ke tempat tujuan kita. Kita berkata dari lubuk batin kita, “Di sinilah tempat kita.” Sebaliknya, hari ini banyak orang Kristen yang menuntut, namun tetap sebagai turis. Mereka melancong dari satu denominasi ke denominasi lain. Akan tetapi, pada suatu hari, kita datang ke dalam hidup gereja, kita tidak mengembara lagi. Gereja lokal adalah kedambaan Allah hari ini. Ini adalah pos terakhir dari wahyu-Nya.
Semua orang Kristen sejati percaya bahwa Kristus adalah Allah Pencipta alam semesta. Dia menjadi manusia, lalu mati di atas salib demi menebus kita, kemudian Dia bangkit secara jasmani dari antara orang mati. Semua orang Kristen sejati telah menerima Kristus sebagai Juruselamat dan Jurutebus mereka. Akan tetapi, orang-orang Kristen sejati semacam itu dalam pengalaman mereka sangat mungkin masih tetap berada dalam kitab-kitab Injil dan Kisah Para Rasul. Kita harus menjadi orang Kristen dalam Kitab Wahyu, artinya, kita harus masuk ke dalam wahyu kesempurnaan akhir Allah. Kita harus menikmati perbauran antara Allah Tritunggal yang telah melalui proses, yang almuhit, dan pemberi-hayat, dengan gereja. Jika kita berada di dalam realitas ini, kita adalah orang Kristen dalam Kitab Wahyu.
Kaum beriman lebih mudah nampak gereja universal, namun tidak mudah nampak gereja-gereja lokal. Wahyu terhadap gereja-gereja lokal adalah penyingkapan akhir dari Tuhan mengenai gereja, yang tercatat dalam kitab terakhir dalam firman ilahi. Jika kita ingin mengenal gereja secara sepenuhnya, kita harus mengikuti pimpinan Tuhan dari kitab-kitab Injil, melewati Surat-surat Kiriman hingga ke Kitab Wahyu, yaitu sampai melihat penyingkapan gerejagereja lokal di sini. Visi pertama dalam Kitab Wahyu ialah gereja-gereja lokal. Kristus dan gereja merupakan fokus dalam administrasi ilahi yang akan digenapkan dalam kehendak kekal Allah.
Kita telah melihat empat peran utama dalam Alkitab: Allah, Kristus, gereja, dan gereja-gereja. Allah tidak hanya Pencipta dalam Kejadian 1:1, Dia lebih-lebih adalah Allah yang telah melalui proses dalam Wahyu 1:4-5. Dia adalah yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang; Dia adalah ketujuh Roh itu; Dia adalah Yesus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati, yang berkuasa atas raja-raja di bumi. Jika kita mempunyai pengenalan demikian terhadap Allah, dan memiliki pandangan yang menyeluruh terhadap Alkitab, berbahagialah kita! Dan betapa istimewa hak yang kita peroleh bila kita dapat mendengar perkataan tentang wahyu akhir dalam Alkitab dari Allah! Hari ini di dalam gereja lokal kita dapat menikmati Allah Tritunggal yang telah melalui proses, yang almuhit, dan pemberi-hayat.
ROH ITU BERBICARA KEPADA GEREJA-GEREJA
Dalam Wahyu 2 dan 3 berulang-ulang dikatakan bahwa Roh itu berbicara kepada gereja-gereja. Ini berbeda besar dengan ungkapan “Demikianlah firman TUHAN” dalam Perjanjian Lama. Karena Roh itu hari ini berbicara kepada gereja-gereja, maka jika kita ingin mendengar perkataan-Nya, kita harus berada di dalam satu gereja lokal dari antara gereja-gereja lokal. Hari ini Roh itu berbicara langsung kepada gereja-gereja lokal. Karena itu, alangkah pentingnya kita hidup di dalam sebuah gereja di antara gereja-gereja lokal. Kita harus berada di dalam suatu gereja lokal, dan kita dapat menentukannya sebagai gereja lokal kita sendiri.
KAKI PELITA EMAS
Dalam Kitab Wahyu, kaki pelita emas yang melambangkan gereja lokal adalah yang bersaksi bagi Yesus (1:2, 9). Mereka memiliki sifat ilahi, yang terpisah di masing-masing lokal dan yang secara kolektif memancarkan sinar di dalam kegelapan. Gereja harus memiliki sifat ilahi — emas; mereka harus sebagai kaki, yaitu kaki pelita, yang menopang pelita yang berisikan minyak (minyak adalah Kristus pemberihayat) dan yang terpisah dan kolektif bercahaya di dalam kegelapan. Kaki pelita tunggal di atas lokal, namun kolektif di alam semesta. Mereka tidak saja bersinar di masing-masing lokal, bahkan mengemban satu kesaksian secara merata baik bagi alam semesta maupun lokal. Mereka mempunyai sifat dan bentuk yang sama; mereka menopang pelita sama dan bertujuan sama. Mereka satu sama lain adalah seragam, tanpa ciri khas pribadi apa pun. Ketidaksamaan gereja-gereja lokal dalam catatan Wahyu 23 semua adalah dalam perkara-perkara negatif, tidak terkandung pada sifat positifnya. Dalam kegagalan perkara-perkara negatif memang mereka saling berbeda; tetapi pada aspek positif, pada sifat, bentuk, dan tujuan mereka, semua mutlak seragam, bahkan saling berkaitan.
MENYIRATKAN MAKNA ALLAH TRITUNGGAL
Sepanjang abad sangat jarang orang Kristen yang mengenal makna kaki pelita secara dalam, yakni mengenalnya sebagai lambang atau simbol gereja-gereja lokal. Menurut konsepsi alamiah kita, kaki pelita tidak lebih sebagai satu alat untuk menopang lampu yang bersinar dalam kegelapan. Dalam Keluaran 25 dikatakan bahwa kaki pelita terbuat dari emas murni; Kitab Zakharia 4 dan Kitab Wahyu juga mengatakan kaki pelita itu dari emas. Memang hakiki kaki pelita adalah emas. Kita nampak ada tiga perkara penting mengenai kaki pelita: emas, kaki pelita, dan pelita-pelita. Kaki pelita emas menyiratkan makna Allah Tritunggal. Emas adalah sejenis esens untuk membentuk kaki pelita; kaki pelita adalah perwujudan konkret dari emas; sedangkan pelita adalah ekspresi kaki pelita. Emas melambangkan Bapa sebagai substansi, kaki pelita melambangkan Anak sebagai perwujudan konkret dari Bapa, sedangkan pelita melambangkan Roh sebagai ekspresi Bapa di dalam Anak. Jadi, makna Allah Tritunggal telah terkandung di dalam kaki pelita emas. Dari segi hakiki, kaki pelita emas memang satu, tetapi dari segi perwujudan, kaki pelita adalah tujuh, karena ia adalah satu kaki pelita yang berpelita tujuh. Dari bawah kaki pelita itu satu, dari atas ia adalah tujuh. Apakah kita masih harus berdebat ia satu atau tujuh? Dalam hakikinya, kaki pelita memang segumpal emas yang menopang tujuh buah pelita. Hal ini menunjukkan dengan misterius bahwa pada hakikinya Allah Tritunggal itu memang satu; namun pada ekspresinya ialah tujuh Roh. Bapa yang sebagai hakiki itu terwujud pada Anak yang menjadi bentuk, sedang Anak pun terekspresi menjadi tujuh Roh.
Bagaimana kita membuktikan bahwa ketujuh pelita itu adalah Roh yang mengekspresikan Kristus? Ketujuh pelita pertama-tama tercantum dalam Kitab Keluaran. Andaikata hanya satu ayat ini saja, sangat sukarlah kita mengenal bahwa tujuh pelita itu adalah Roh itu. Tetapi ketika kita maju dari Keluaran ke Kitab Zakharia, kita segera nampak bahwa tujuh pelita adalah tujuh mata Kristus, juga tujuh mata Allah (Za. 3:9; 4:10). Jika kita lanjutkan lagi sampai Kitab Wahyu, kita nampak bahwa ketujuh mata Anak Domba adalah Roh Allah yang diperkuat. Jadi, kita mempunyai dasar yang kuat untuk mengatakan bahwa ketujuh pelita adalah Roh yang diperkuat tujuh kali lipat sebagai ekspresi Kristus.
PERWUJUDAN DAN EKSPRESI ALLAH TRITUNGGAL
Kita sudah nampak bahwa kaki pelita emas menyiratkan makna Allah Tritunggal. Ia melambangkan telah terwujud dan terekspresinya Allah Tritunggal. Allah Bapa adalah emas ilahi yang terwujud di dalam Kristus Sang Anak, kemudian terekspresi penuh melalui Roh itu. Terekspresi berbeda dengan terwujud. Terwujud itu pasti hanya satu, sebab Allah itu esa adanya; maka perwujudannya seharusnya adalah satu kaki pelita. Namun terekspresi harus sempurna, yaitu harus sempurna dalam pergerakan Allah. Ingatlah bahwa tujuh merupakan angka kesempurnaan pergerakan Allah. Sepanjang abad, Allah telah beroleh ekspresi dalam pergerakan-Nya. Karena itu, tujuh pelita melambangkan Roh yang diperkuat tujuh kali lipat yang mengekspresikan Kristus dalam pergerakan Allah yang sempurna. Ini adalah pengertian yang sebenarnya atas masalah tritunggal.
Tritunggal adalah untuk Allah menyalurkan diri-Nya sendiri kepada manusia. Allah — Sang ilahi — pertama terwujud di dalam Kristus, kemudian terekspresi melalui Roh yang diperkuat tujuh kali lipat. Kini tidak hanya ada Allah Tritunggal, di atas kaki pelita masih ada Allah Tritunggal yang terekspresi dengan solid dan riil. Emas telah ditempa menjadi kaki pelita yang solid. Ia asalnya hanya emas saja, kini telah menjadi kaki pelita. Emas menjadi kaki pelita adalah untuk merampungkan tujuan Allah. Kalau tidak ada kaki pelita, tujuan Allah mustahil terampungkan. Seperti yang telah kita nampak, kaki pelita yang melambangkan Kristus telah terekspresi melalui tujuh pelita yang dilambangkan oleh tujuh Roh Allah. Ketujuh Roh Allah tidak terpisah dengan Allah sendiri; mereka adalah tujuh mata Allah, juga adalah tujuh mata Anak Domba — Sang Penebus. Mereka juga adalah tujuh mata dari batu pembangunan Allah (Za. 3:9). Karena itu, mereka membawa penebusan Kristus dan tujuh mata bagi pembangunan Allah. Kapan saja mata-mata ini memandang orang, orang itu akan tertebus dan terbangun di dalam rumah Allah.
REPRODUKSI KRISTUS DAN ROH ITU
Yang ditekankan Kitab Keluaran adalah kaki pelita, yang ditekankan Kitab Zakharia adalah pelita, sedangkan yang ditekankan Kitab Wahyu 1 adalah reproduksi. Dalam Keluaran dan Zakharia, kaki pelita hanya satu, tetapi dalam Wahyu, ia telah direproduksi menjadi tujuh. Paling awal, yang diperhatikan Kitab Keluaran adalah kaki pelita, yakni Kristus. Kemudian, yang diperhatikan Kitab Zakharia adalah pelita, yakni Roh itu. Terakhir pada Kitab Wahyu, kaki pelita dan pelita keduanya sama-sama diperhatikan, itulah direproduksikannya Kristus dan Roh itu menjadi gereja-gereja lokal. Pada Kitab Keluaran dan Zakharia hanya terdapat satu kaki pelita, tetapi dalam Kitab Wahyu terdapat empat puluh sembilan pelita, sebab setiap kaki pelita mempunyai tujuh buah pelita. Jadi, satu kaki pelita telah berubah menjadi tujuh buah kaki pelita, tujuh pelita telah berubah menjadi empat puluh sembilan pelita. Jadi kaki pelita dan pelita dalam Kitab Wahyu adalah reproduksi Kristus dan Roh itu. Ketika Kristus direalisasikan, Dia adalah Roh itu, dan ketika Roh itu direalisasikan, adalah gereja-gereja sebagai reproduksinya.
SUBSTANSI, EKSISTENSI, DAN EKSPRESI
Gereja tidak hanya esa pada sifat universalnya, ia pun terekspresi di banyak kota pada sifat lokalnya. Dalam alam semesta hanya ada satu Kristus, satu Roh, dan satu gereja. Jika demikian mengapa harus ada tujuh gereja? Itulah sebabnya perlu ada ekspresi. Jika untuk eksistensi, satu gereja sudah cukup. Namun untuk ekspresi, perlu ada banyak gereja. Bila kita ingin mengenal gereja, kita harus mengenal substansi, eksistensi, dan ekspresinya. Ditinjau dari aspek substansi, gereja, bahkan gereja-gereja adalah esa. Untuk ekspresi, maka banyak gereja adalah banyak kaki pelita. Apakah gereja itu? Gereja adalah ekspresi Allah Tritunggal, dan ekspresi ini terdapat di banyak lokal dan tertampak oleh manusia. Gereja bukan yang dilambangkan oleh sebuah kaki pelita, melainkan tujuh kaki pelita. Dalam Kitab Wahyu 1 tercatat tujuh kaki pelita dan empat puluh sembilan pelita yang bersinar dalam alam semesta. Inilah kesaksian Yesus.
Gereja adalah kesaksian Yesus. Artinya, gereja pada aspek substansi dan penampilan adalah ekspresi Allah Tritunggal. Menurut substansinya, gereja dalam alam semesta hanya ada satu substansi. Menurut penampilannya, gereja adalah banyak kaki pelita dengan banyak pelita yang bersinar mengekspresikan Allah Tritunggal di dalam kegelapan. Bapa sebagai hakiki yang terwujud di dalam Anak, Anak adalah perwujudan yang terekspresi melalui Roh itu, dan Roh itu terealisasi sepenuhnya serta tereproduksi menjadi gerejagereja, sedangkan gereja-gereja adalah kesaksian Yesus. Jika kita nampak visi ini, kita akan terkendali sehingga tidak akan pecah selama-lamanya.
Kita telah nampak bahwa kaki pelita adalah emas yang ilahi terwujud menjadi bentuk solid yang merealisasikan tujuan Allah dalam pergerakan-Nya. Kaki pelita terekspresi melalui pancaran sinar pelita. Ketika pelita terekspresi, pancaran ini merealisasikan tujuan kekal Allah. Karena itu, kaki pelita tidak hanya melambangkan Allah Tritunggal, tetapi juga melambangkan Allah Tritunggal dalam pergerakan-Nya dalam perwujudan dan ekspresi. Kita juga telah nampak bahwa gereja lokal adalah perwujudan Allah Tritunggal dan reproduksi ekspresi-Nya. Kita tidak seharusnya merasa puas dan berkata bahwa gereja-gereja lokal adalah kaki pelita yang bersinar dalam kegelapan. Walau berkata demikian tidak salah, tetapi itu sangat dangkal. Kita harus nampak bahwa gereja adalah reproduksi dari perwujudan dan ekspresi Allah Tritunggal.
DALAM GEREJA LOKAL ATAS TUMPUAN KEESAAN
Kita telah menunjukkan bahwa dalam Perjanjian Lama begitu umat Allah kehilangan tumpuan keesaan, mereka dengan sendirinya juga kehilangan banyak perkara rohani dan ilahi. Namun, begitu mereka kembali ke Yerusalem, kembali ke tumpuan keesaan, perkara-perkara rohani dan ilahi itu semua kembali lagi. Prinsip ini sama dalam pemulihan Tuhan pada hari ini. Hari ini Allah kita — Allah Tritunggal, adalah Bapa yang terwujud di dalam Anak, Anak terealisasi menjadi Roh yang almuhit. Hari ini Roh itu sedang berbicara kepada gereja-gereja. Karena itu, untuk bisa mendengar suara Roh itu, kita harus berada di dalam salah satu dari gereja-gereja lokal. Terakhir, Roh dan mempelai perempuan yang terbentuk dari gereja-gereja dan seluruh kaum beriman akan menjadi esa dan berbicara bersama. Hari ini kita mendengar Roh itu berbicara, namun suatu hari tidak lama lagi, Roh itu bersama dengan mempelai akan berkata, “Marilah!” Terpujilah Tuhan karena visi demikian! Kita mempunyai visi yang demikian jelas di hadapan kita, maka kita tahu hari ini kita harus berada di mana. Kita harus berada dalam keesaan yang bersifat lokal, yaitu di dalam gereja lokal yang ada di atas tumpuan keesaan.
Jika kita tidak berada dalam keesaan yang bersifat lokal, kita tidak berada di dalam gereja secara sungguh dan riil. Tidak hanya demikian kita pun mustahil mengalami Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan almuhit secara penuh. Hari ini banyak orang Kristen yang miskin dalam kerohanian, itu dikarenakan mereka tidak memiliki keesaan yang sejati, dan tidak mengalami Roh almuhit dengan sepenuhnya. Mereka mempunyai Alkitab, namun tidak mempunyai seberapa pengalaman terhadap Kristus sebagai hayat. Mereka mempunyai nama Kristus, tetapi tidak seberapa beroleh realitas persona Kristus sendiri. Banyak perkara rohani menjadi langka karena tumpuan keesaan telah rusak bahkan hilang. Hanya berada di atas tumpuan keesaan barulah kita mempunyai pengalaman yang penuh terhadap Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Ingatlah, menurut Kitab Wahyu 1:4-5, penyaluran Allah Tritunggal ditujukan kepada gereja-gereja lokal.
TUMPUAN LOKALITAS
Tumpuan keesaan yang kita bicarakan adalah tumpuan lokalitas. Dua puluh tahun lebih yang silam, di Taipei ada seorang Kristen dari Amerika Serikat, ia sahabat baik kami, juga dokter keluarga kami. Walaupun ia telah mendengar berita tentang tumpuan gereja lebih dari 30 berita, pada suatu hari ia berkata kepada saya bahwa ia sama sekali tidak mengerti masalah tumpuan lokalitas ini. Saya dengan sangat teliti menjelaskan kepadanya, tetapi ia tetap tidak mengerti. Akhirnya ia mengakui bahwa ia sudah sedikit mengerti tentang masalah tumpuan keesaan, tetapi terhadap tumpuan lokalitas ia tetap tidak paham.
Saudara T. Austin Sparks juga mempunyai kesulitan serupa. Bertahun-tahun yang lampau saya pernah mengadakan dialog panjang dengannya sebanyak 20 kali tentang tumpuan gereja, tiap kali dialog sampai 2 atau 3 jam lamanya. Dia berkata kepada saya bahwa dia tetap tidak paham tentang istilah tumpuan lokalitas. Saya menunjukkan kepadanya bahwa dia pasti tidak meragukan orang Israel hanya diizinkan membangun Bait Suci di tempat tertentu, yaitu di Gunung Moria, di tempat Abraham mempersembahkan Ishak. Tempat unik itulah tempat tumpuan pembangunan bait. Dan tempat itu telah memelihara keesaan umat Allah. Saya katakan lagi bahwa Allah tidak mengizinkan umat-Nya membangun bait di Babel, sekalipun bait itu dibangun dengan ukuran sama dan dengan desain sama dengan bait yang di Yerusalem. Semua orang yang kembali dari pembuangan harus kembali ke tumpuan keesaan di Sion, dan membangun bait itu kembali. Jadi, bait yang dibangun di Gunung Sion itu dibangun di atas tumpuan keesaan. Itu adalah lukisan keesaan sejati semua orang Kristen hari ini. Keesaan ini berada di atas tumpuan yang wajar, yaitu di atas tumpuan lokalitas. Saya percaya Saudara Sparks mengerti hal itu, tetapi ia enggan mengakuinya. Padahal makna tumpuan lokalitas tidak sulit dimengerti. Banyak orang merasa sulit terhadap hal ini karena mereka tidak rela melepaskan konsepsi mereka.
PERLU BERADA DI DALAM KEESAAN LOKAL
Berdasarkan Kitab Wahyu, keesaan kaum beriman di dalam Kristus adalah keesaan lokal. Siapa saja tidak berada dalam keesaan lokal, pada hakikatnya dia sama sekali tidak berada dalam keesaan. Orang-orang yang tidak berada dalam gereja lokal, berarti tidak sesungguhnya berada di dalam gereja. Kalau ingin berada di dalam gereja, maka kita harus berdiri di dalam gereja lokal. Seprinsip dengan itu, jika kita ingin di dalam keesaan, haruslah kita berada di dalam keesaan lokalitas, yaitu di dalam keesaan riil di tempat kita tinggal. Keesaan lokal sangatlah riil lagi personal. Jika tidak berada di dalam keesaan secara personal, itu bukanlah dalam keesaan yang riil, dan itu berarti tidak benarbenar berada di dalam gereja. Karena itu, judul bab ini ialah tentang wahyu akhir keesaan lokal. Kita memuji Tuhan karena wahyu dan pemulihan keesaan ini!
PEMULIHAN HIDUP GEREJA
Pada waktu gereja Katolik terbentuk, keesaan lokal telah rusak, bahkan telah hilang sama sekali. Sejak abad keempat, Kaisar Konstantinus sudah memulai mendirikan gereja Katolik. Pada tahun 325, karena ingin menyelesaikan perselisihan teologi yang menimbulkan keresahan di seluruh kekaisarannya, ia mengadakan suatu konferensi besar di Nicea. Dia dengan pengaruh politiknya menciptakan sejenis persatuan. Pada akhir abad keenam, setelah sistem kepausan terbentuk, maka gereja Katolik pun terbentuk sepenuhnya. Ketika itu keesaan lokal sudah rusak secara total.
Pada abad-abad berikutnya disebut zaman kegelapan. Rakyat dilarang membaca Alkitab, kebenaran keselamatan juga tertutupi. Kemudian terjadi reformasi, rakyat boleh membaca Alkitab, kebenaran pembenaran oleh iman terpulih kembali. Dalam hal pembenaran, Martin Luther memang sangat gagah berani, namun dalam hal gereja, dia sangat kecil hati. Dia bahkan mendukung pendirian gereja negara di Jerman. Jadi gereja negara pertama berdiri di Jerman dengan bantuan Luther. Luther tidak hanya membuat kesalahan gawat, tetapi juga menganiaya kaum beriman yang mementingkan pengalaman hayat. Sebagai contoh, Schwenckfeld dituduh sebagai Iblis. Dalam dekade-dekade berikutnya banyak kaum beriman yang setia telah dianiaya, bahkan ada yang mati martir karena kepercayaan. Ada pula yang mati di bawah tangan gereja negara. Pada waktu itu di Eropa ada banyak negara yang mendirikan gereja negara.
PEMULIHAN PADA ABAD KE-18
Pada awal abad ke-18, ada banyak kaum beriman, karena menghindari penganiayaan, melarikan diri ke Bohemia. Zinzendorf memiliki kasih dan beban untuk memperhatikan para pengungsi itu. Namun, di tengah-tengah mereka terjadi perselisihan karena doktrin dan praktek. Ketika perselisihan mereka sampai membuat mereka tidak dapat tinggal bersama dengan rukun, Zinzendorf lalu meminta para pemimpin mereka menandatangani sebuah pernyataan, yaitu supaya mereka setuju mengesampingkan perbedaan di antara mereka, dan hidup bersama dalam keesaan. Setelah itu, pada sidang pemecahan roti berikutnya, mereka mengalami pencurahan Roh secara hebat. Dengan demikian mereka telah memulihkan praktek hidup gereja, setidaktidaknya pada permulaannya.
PEMULIHAN PERSAUDARAAN
Jenis reaksi lain terhadap formalitas dan kelembaman agama ialah yang berasal dari aliran mistis seperti Madame Guyon dan Fenelon. Walau reaksi ini terjadi pada abad ke17, tetapi sampai abad ke-18 hidup gereja barulah terpulih. Memang praktek hidup gereja pimpinan Zinzendorf sangat baik, tetapi belum memadai. Karena itu, pada awal abad ke-19, demi langkah lebih lanjut untuk pemulihan hidup gereja, Tuhan membangkitkan segolongan orang lagi di Inggris, khususnya orang-orang yang bersama dengan J.N. Darby. Kira-kira selama 25 tahun, orang-orang atau saudarasaudara yang dipimpin oleh Darby itu mengalami pemulihan hidup gereja yang sangat indah, bahkan lebih berisi dan sempurna, melampaui pemulihan Zinzendorf seabad sebelumnya. Namun, karena perselisihan doktrin, keesaan pun hilang, dan Kaum Persaudaraan itu terpecah. Setelah tahun demi tahun berlalu, mereka terpecah belah menjadi lebih dari seratus golongan. Karena keesaan telah rusak dengan serius, maka penyertaan Tuhan terhadap mereka menjadi berkurang secara besar-besaran.
PEMULIHAN DI CHINA
Pada tahun 1920-an, Tuhan membangkitkan sekelompok kaum muda di China di bawah pimpinan Saudara Watchman Nee. Saudara Watchman Nee pernah berkata kepada saya bahwa Tuhan seakan-akan dipaksa datang ke China, sebab dalam hal pelaksanaan hidup gereja, China merupakan tanah perawan (virgin soil), sedangkan Amerika Serikat dan Eropa telah dirusak, Tuhan tidak berdaya memulai hidup gereja yang wajar di Amerika Serikat dan Eropa. Karena itu, benih pemulihan hidup gereja ditaburkan di China, sebidang tanah yang belum pernah dibajak.
Gereja pertama yang dibangun dalam pemulihan Tuhan berdiri pada tahun 1922 di Foochow, kampung halaman Saudara Watchman Nee. Setelah saya beroleh selamat pada tahun 1925, saya berkontak dengan Saudara Watchman Nee melalui majalah-majalah tulisannya. Buku-buku Saudara Watchman Nee telah membantu banyak orang nampak kekeliruan denominasi. Kami nampak walaupun kami berpegang pada nama Tuhan, Injil, dan Alkitab, tetapi kami harus menolak dan meninggalkan banyak perkara milik kekristenan yang terorganisir. Di bawah pimpinan Saudara Watchman Nee, kami telah mempelajari sejarah gereja, biografi-biografi, dan semua bacaan rohani dan yang berkaitan dengan doktrin-doktrin. Melalui pengkajian itu, kami memperoleh pengetahuan yang mendetail tentang kekristenan. Kami berangsur-angsur mengerti dengan jelas bahwa pada aspek pelaksanaannya, kami harus menerima baptisan selam, jabatan kepenatuaan, kekudusan yang riil, dan kepenuhan pencurahan Roh Kudus yang wajar. Orang-orang yang mengunjungi sidang kita sering menjadi bingung dan tidak dapat mengategorikan aliran apa sebenarnya kita. Bagi beberapa orang, kita dikira aliran Baptis, ada pula yang mengira kita aliran Presbiterian, ada lagi yang mengira kita Kaum Saudara (The Brethren), dan lain-lain.
Pada tahun 1932, gereja dibangkitkan di kampung halaman saya, Chefoo, propinsi Shantung. Kami tidak tahu bagaimana menempuh hidup gereja. Kami hanya tahu mengasihi Yesus, dan kami tidak dapat membenarkan situasi dan kondisi kekristenan yang tradisional. Kami berhimpun bersama hanya dengan hati untuk Tuhan dan kerinduan terhadap Alkitab. Kami tidak mengerti harus bagaimana bersidang, khususnya tidak mengerti harus bagaimana mengadakan sidang pemecahan roti. Walau demikian, kami menikmati kemanisan penyertaan Tuhan.
BATAS LOKALITAS
Pada tahun 1930, Saudara Watchman Nee mengunjungi Eropa, Kanada, dan Amerika Serikat. Selama perjalanan pelawatannya, dia melihat kekacauan dan perpecahan-perpecahan di antara Kaum Saudara. Situasi itu membuat Saudara Watchman Nee gundah, maka dia menetapkan untuk mengkaji lagi kitab Perjanjian Baru, menyelidiki seberapa besar seharusnya ruang lingkup sebuah gereja lokal. Melalui pengkajian itu dia nampak bahwa ruang lingkup sebuah gereja lokal haruslah sebesar ruang lingkup administrasi lokalitas itu. Kebenaran ini pernah dimuat dalam buku yang berjudul The Assembly Life (Kehidupan Sidang). Dalam buku tersebut Saudara Watchman Nee sangat menekankan apa yang dia sebut batas lokalitas.
TUMPUAN LOKAL
Pada tahun 1937, Saudara Watchman Nee melihat lebih maju lagi, yakni tumpuan keesaan lokalitas gereja. Dari batas lokal dia maju melihat tumpuan lokal. Dia kemudian mengadakan sidang “darurat” bersama semua rekan sekerja dan menyampaikan banyak berita, yang kemudian dibukukan dengan judul “Kehidupan Gereja yang Normal”. Buku tersebut menekankan tumpuan lokal. Maka pada tahun 1937, masalah keesaan lokal sudah terpulih sepenuhnya di tengah-tengah kita. Kita jelas sekali bahwa untuk melaksanakan hidup gereja, kita harus berada di tumpuan lokal, yakni di atas tumpuan keesaan.
Sejak terpulihnya tumpuan lokal, banyak orang Kristen pernah berdebat dengan kita tentang masalah ini. Ada yang berkata, “Kalian mengatakan bahwa kalian gereja lokal, kalian sombong. Bagaimana kalian berkata hanya kalianlah gereja, kami bukan? Kalian mengklaim bahwa kalian adalah gereja di Shanghai, bukankah kami juga gereja di Shanghai?” Mula-mulanya kita merasa resah terhadap kecaman demikian. Kita tidak mempunyai pengalaman untuk menghadapinya. Kemudian, melalui membela kebenaran keesaan, kita telah belajar bagaimana menghadapi berbagai macam kritikan, penentangan, dan perdebatan.
SEBUAH ILUSTRASI YANG EFEKTIF DARI KEESAAN LOKAL
Jika ada orang berdebat dengan Anda tentang tumpuan keesaan, Anda boleh menunjuk situasi umat Israel di negeri Kanaan sebagai satu ilustrasi. Yerusalem adalah tempat unik, pusat unik pilihan Allah untuk memelihara keesaan umat Allah. Kemudian, umat Allah tertawan, ada yang ditawan ke Mesir, ada yang ke Asyur, dan ada pula yang ke Babel. Asalnya umat Allah itu esa, hanya ada satu pusat penyembahan — Gunung Sion di Yerusalem. Tetapi kemudian mereka berserakan, paling tidak terbagi menjadi tiga kelompok. Setelah penuh tujuh puluh tahun berada dalam pembuangan di Babel, Allah menyuruh mereka kembali ke Yerusalem, dan ada sebagian umat tersisa yang kembali. Setelah mereka kembali ke Yerusalem, dengan sendirinya mereka menjadi kelompok keempat dari umat Allah. Sebelum mereka kembali dari tanah pembuangan ke Yerusalem, mereka hanya ada tiga kelompok atau golongan, yang masing-masing terpencar di Mesir, Asyur, dan Babel. Walau ketiga kelompok itu terpecah-belah, tetapi kelompok keempat yang kembali ke Yerusalem bukanlah yang terpecah-belah. Orang-orang dari kelompok keempat ini memang terpisah dengan yang lainnya, tetapi mereka jelas bukan suatu perpecahan, melainkan pemulihan.
Mungkin saja umat Allah yang suka tinggal di Babel akan berkata, “Saudara-saudara, kalian jangan begitu picik, Allah itu maha hadir. Kita tidak perlu kembali ke Yerusalem untuk menyembah Allah. Tengoklah Daniel, dia mengasihi Tuhan dan melayani Allah, tetapi dia tidak pulang ke Yerusalem. Kalau dia boleh tetap di Babel, kami pun boleh.” Di bawah kuasa kedaulatan Allah, bahkan setelah Raja Koresy menurunkan titah memerintahkan orang-orang buangan pulang ke Yerusalem, Daniel tetap tinggal di Babel (1 Taw. 36:22; Dan. 1:21; 10:1). Sebelumnya, Daniel berdoa tiap hari dengan membuka jendela mengarah ke Yerusalem. Ini menunjukkan bahwa Daniel berharap pulang ke Yerusalem, hanya saja dia tidak beroleh kesempatan itu. Oleh karena itu, keadaan Daniel tidak boleh kita jadikan alasan untuk membenarkan orang menetap terus di Babel, yaitu tinggal di dalam perpecahan.
Menetapnya umat Allah di Mesir, Asyur, dan Babel berarti menetap di dalam perpecahan. Dan sekelompok orang yang pulang ke Yerusalem sama sekali tidak berarti memperbanyak perpecahan, sebaliknya, mereka telah menikmati pemulihan keesaan sejati. Dari keempat kelompok orang itu, hanya merekalah yang layak terbilang sebagai negara Israel. Boleh jadi jumlah orang-orang yang tinggal di Babel jauh lebih banyak daripada mereka yang pulang ke Yerusalem, tetapi hanya orang-orang yang kembali ke Yerusalem yang dapat disebut negara Israel, sedangkan orang-orang yang tidak pulang, tidak dapat.
Keadaan negara Israel hari ini pun sama. Hanya orang-orang yang pulang ke tanah kudus yang diakui sebagai negara Israel, orang-orang Israel yang berserakan di berbagai tempat tidak dapat disebut negara Israel. Misalkan, orang-orang Yahudi di New York jumlahnya jauh lebih banyak daripada orang-orang Yahudi di tanah Israel, namun yang diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah orang-orang Yahudi di tanah kudus sebagai negara Israel; mereka yang di New York tidak bisa menjadi sebuah negara. Orang-orang yang tinggal di New York mungkin sangat mengasihi negara Israel, bahkan mendukungnya dengan murah hati, namun hanya karena mereka tidak kembali ke negeri leluhur mereka, maka mereka tidak bisa diakui sebagai negara Israel. Untuk menjadi bagian dari bangsa Israel, tidak saja perlu menjadi orang Yahudi, tetapi juga harus menjadi orang Yahudi yang berada di atas tumpuan yang wajar, yakni di tanah permai atau tanah kudus.
ORANG-ORANG YANG MEMBENTUK GEREJA
Kita boleh menerapkan prinsip yang terkandung dalam ilustrasi ini ke atas situasi gereja hari ini. Ketika kita menyatakan bahwa kita adalah gereja di Anaheim, banyak orang Kristen akan memprotes. Mereka mungkin akan bertanya, “Bagaimana kalian mengatakan bahwa kalian adalah gereja di Anaheim, dan kami bukan?” Jika ada orang mengajukan pertanyaan begini, selidiki dulu mereka berada di denominasi mana atau dari kelompok perpecahan kekristenan mana. Jika ia berada di dalam sebuah perpecahan, maka pada hakikatnya ia bukan bagian dalam gereja di lokalitasnya. Hari ini banyak orang Kristen mirip dengan orang Yahudi yang belum pulang ke tanah Israel. Hanya orang-orang Yahudi yang telah kembali ke tumpuan keesaan yang semula, ke negeri leluhur mereka, barulah terbilang sebagai bagian dari negara Israel. Sesuai dengan prinsip ini, jika Anda ingin menjadi bagian dari gereja lokal, Anda harus tidak saja orang Kristen, harus pula orang Kristen yang berada di atas tumpuan keesaan. Hanya kaum beriman yang meninggalkan setiap tumpuan perpecahan dan kembali ke tumpuan keesaan barulah dapat membentuk gereja. Tak peduli berapa sedikit jumlah mereka, merekalah gereja di lokalitas mereka itu.
Jika kita bersidang di tumpuan keesaan Anaheim, tetapi bukan sebagai gereja di Anaheim. Lalu apakah kita? Saya minta orang-orang yang berbantah-bantahan dengan kita tentang kesaksian gereja memberi kita sebuah nama. Padahal kita tidak punya nama. Kita hanya bersidang bersama sebagai gereja di lokalitas kita.
Pada waktu kita berbicara tentang tumpuan keesaan, belajarlah menggunakan ilustrasi kembalinya orang-orang Israel dari pembuangan. Juga tunjukkan situasi negara Israel hari ini. Banyak orang Yahudi di New York yang mungkin lebih baik daripada orang-orang Yahudi di Palestina. Namun oleh karena orang-orang yang di Palestina berdiri di atas tumpuan yang wajar, mereka adalah negara Israel. Demikian pula halnya, orang-orang Kristen yang telah kembali ke tumpuan keesaan barulah gereja. Mereka belum tentu lebih rohani daripada orang lain, tetapi mereka telah kembali ke tumpuan yang wajar — tumpuan keesaan.
BERDIRI DI ATAS TUMPUAN KEESAAN HARUS MEMBAYAR HARGA
Tahukah Anda mengapa kebanyakan umat Allah menetap terus di Babel, enggan menempuh perjalanan jauh untuk pulang ke Yerusalem? Alasannya tak lain karena mereka sudah menetap dengan nyaman di Babel dan tidak mau membayar harga untuk kembali ke tanah permai. Demikian pula keadaan kebanyakan orang-orang Yahudi di Amerika Serikat hari ini. Mereka boleh jadi sangat setia dan gairah kepada negara Israel, tetapi mereka merasa tidak mudah untuk pindah ke sana guna menjadi bagian dari negaranya. Karena mereka telah mempunyai tempat tinggal di Amerika Serikat, maka mereka merasa lebih baik menjadi Yahudi-Amerika. Ini menunjukkan bahwa mereka enggan membayar harga demi berdiri di atas tumpuan keesaan unik itu. Sungguh disayangkan kebanyakan orang Kristen hari ini juga demikian keadaannya. Banyak di antara mereka yang sudah nampak beberapa kebenaran tentang keesaan, tetapi persoalannya hanya karena mereka enggan membayar harga. Kembali ke tumpuan keesaan akan menyebabkan banyak orang kehilangan kedudukan, nama, reputasi atau popularitas. Demi belas kasihan Tuhan, kita telah memilih menempuh jalan sempit salib dan berdiri di atas tumpuan keesaan. Kita tidak punya pilihan kecuali menerima pilihan Tuhan, sekalipun mungkin kita difitnah, dihina, dan dikritik. Kita harus membayar harga untuk berdiri di atas tumpuan keesaan, dan tidak peduli orang lain dengan perkataan jahat yang bagaimana mengatai kita.
Terpujilah Tuhan karena perkara-perkara rohani dan surgawi yang telah kita alami di atas tumpuan lokal ini! Di sini, di dalam keesaan lokal unik ini, kita memiliki penyertaan Tuhan, mezbah, kediaman, dan pesta. Tidak ada yang bisa dibandingkan dengan kenikmatan kekayaan rohani di atas tumpuan yang wajar ini. Betapa senangnya saya bisa bersama-sama dengan kalian di dalam keesaan lokal! Kecuali Tuhan memimpin kita benar-benar bermigrasi ke kota (lokal) lain, kita harus tinggal saja di gereja lokal kita, tidak pindah menuruti selera atau pilihan kita sendiri. Marilah kita tinggal di gereja di mana Tuhan telah menempatkan kita. Kita memuji Tuhan untuk visi tentang pemusnahan bukit-bukit pengorbanan dan pemulihan keesaan lokal. Haleluya bagi wahyu keesaan lokal dan pemulihannya! Mengambil bagian dalam pemulihan hari ini adalah hak istimewa kita.