RUSAK DAN HILANGNYA TUMPUAN KEESAAN
Pembacaan Alkitab:
1 Raj. 11:6-8; 12:26-32; 13:33-34; 14:22-24; 15:14, 34; 22:43;
2 Raj. 12:2-3; 14:3-4; 15:3-4, 34-35; 17:5-12, 18-23; 23:29-35;
2 Taw. 36:5-20; Mzm. 137:1-6;
1 Kor. 1:10-13a; Rm. 16:17-18; Tit. 3:10
Dalam Ulangan 12 Musa berpesan kepada bani Israel, “Kamu harus memusnahkan sama sekali segala tempat, di mana bangsa-bangsa yang daerahnya kamu duduki itu beribadah kepada allah mereka, yakni di gunung-gunung yang tinggi, di bukit-bukit dan di bawah setiap pohon yang rimbun” (ayat 2). Musa juga menyuruh mereka merobohkan mezbah mereka, meremukkan tugu-tugu berhala mereka, membakar habis tiang-tiang berhala mereka, menghancurkan patung-patung allah mereka, dan menghapuskan nama-nama mereka dari tempat itu (ayat 3). Setelah memusnahkan semuanya itu, mereka harus datang ke satu tempat unik yang dipilih Allah. Berdasarkan Kitab 1 Raja-raja, Bait Suci dibangun di Yerusalem yakni tempat pilihan Allah. Allah berkehendak agar tempat unik ini menjadi tempat penyertaan-Nya. Dan tempat unik ini akan memelihara umat Allah tidak sampai tercerai-berai. Karena itu, Allah menyuruh mereka memusnahkan tempat-tempat penyembahan berhala orang kafir, supaya umat-Nya datang ke tempat pilihan-Nya yang unik. Ini adalah pengaturan hikmat Allah.
PEMBANGUNAN KEMBALI BUKIT-BUKIT PENGORBANAN
DAN MAKNANYA
Walaupun bani Israel telah memusnahkan tempattempat orang kafir beribadah kepada allah mereka di gununggunung tinggi, di bukit-bukit dan di bawah pohon-pohon rimbun, dan walaupun Bait Suci telah dibangun di Yerusalem, namun kemudian benda-benda yang telah dimusnahkan itu muncul kembali. Bukit-bukit pengorbanan, pohon-pohon yang rimbun, tiang-tiang berhala, tugu-tugu berhala, dan nama-nama allah itu muncul lagi. Salomo, raja yang membangun Bait Suci di atas tumpuan keesaan sesuai dengan kehendak Allah itu malahan mengepalai pendirian kembali bukit-bukit pengorbanan (1 Raj. 11:6-8). Bukit-bukit pengorbanan yang harus dimusnahkan orang Israel menurut pesan Musa itu dibangun kembali oleh Salomo. Bukit-bukit pengorbanan itu berhubungan dengan perzinaan dan berhala. Dibangunnya kembali bukit-bukit pengorbanan oleh Raja Salomo khususnya berkaitan dengan pelampiasan hawa nafsu. Ia membangun bukit-bukit pengorbanan itu justru karena selir-selirnya yang berasal dari perempuan-perempuan kafir.
Mendirikan sebuah bukit pengorbanan berarti suatu perpecahan. Maka bukit pengorbanan artinya ialah perpecahan. Dalam Perjanjian Lama, kehendak Allah terhadap bani Israel ialah agar mereka terpelihara dalam keesaan dan beribadah kepada-Nya dengan wajar. Untuk memelihara keesaan umat-Nya, maka Allah menghendaki mereka datang ke tempat unik yang dipilih-Nya itu. Namun, bukit pengorbanan adalah pengganti alternatif tempat unik itu. Ini menunjukkan bahwa perpecahan adalah barang pengganti keesaan. Tempat yang unik itu — Yerusalem — melambangkan keesaan, sedangkan bukit pengorbanan melambangkan perpecahan. Pada masa itu segala macam dosa dan perkaraperkara yang keji berkaitan dengan pendirian bukit-bukit pengorbanan. Menurut istilah Perjanjian Baru, segala macam dosa semua berkaitan dengan perpecahan.
BERKAITAN DENGAN HAWA NAFSU, AMBISI, DAN BERHALA
Berdasarkan catatan 1 Raja-raja, kedua raja — Salomo (raja yang baik) dan Yerobeam (raja yang jahat) — mengepalai mendirikan bukit-bukit pengorbanan. Salomo mendirikan bukit pengorbanan berhubungan dengan pelampiasan hawa nafsu. Salomo memiliki ratusan istri dan selir, ia mendirikan bukit-bukit pengorbanan untuk memenuhi keinginan mereka. Istri-istri dan selir-selir itu telah menggoda hatinya condong kepada allah lain (1 Raj. 11:4). Sedangkan Yerobeam mendirikan bukit-bukit pengorbanan karena ambisinya untuk mempertahankan takhta kerajaannya (1 Raj. 12:26-32). Jika orang-orang Israel semua pergi ke Yerusalem menyembah kepada Allah, ia khawatir kekuasaan pemerintahannya akan dimiliki keluarga Daud, maka “ia membuat juga kuil-kuil di atas bukit-bukit pengorbanan” (ayat 31). Jadi ambisi Yerobeam itulah yang menyebabkan dia memutuskan untuk membuat bukit-bukit pengorbanan. Tidak hanya itu, Yerobeam juga membuat dua anak lembu jantan dari emas dan berkata kepada bani Israel, “Sudah cukup lamanya kamu pergi ke Yerusalem. Hai Israel, lihatlah sekarang allah-allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir” (ayat 28). Kemudian, “ia menaruh lembu yang satu di Betel dan yang lain ditempatkannya di Dan” (ayat 29). Lalu, “Yerobeam menentukan suatu hari raya pada hari yang kelima belas bulan kedelapan, sama seperti hari raya yang di Yehuda” (ayat 32). Yerobeam bahkan “mengangkat imam-imam dari kalangan rakyat yang bukan dari bani Lewi” (ayat 31). Alangkah dosanya semua yang berkaitan dengan bukit-bukit pengorbanan itu! Bukit-bukit pengorbanan berkaitan dengan hawa nafsu, ambisi, dan berhala. Karena bukit pengorbanan melambangkan perpecahan, maka ini menunjukkan bahwa perpecahan-perpecahan di kalangan kekristenan hari ini berkaitan dengan perkara-perkara jahat itu.
Jarang sekali orang Kristen menyadari bahwa perpecahan berkaitan dengan hawa nafsu, ambisi, dan penyembahan berhala. Kebanyakan orang Kristen hanya mengatakan bahwa perpecahan itu tidak benar dan tidak sesuai dengan Alkitab; mereka tidak menyetujuinya. Akan tetapi dalam pandangan Tuhan, perpecahan bersangkut-paut dengan hawa nafsu, ambisi, dan penyembahan berhala. Ingatlah, bukit-bukit pengorbanan adalah tempat tinggi yang melampaui tanah datar. Ini menunjukkan bahwa bukitbukit pengorbanan mencakup peninggian tertentu. Pada prinsipnya, setiap bukit pengorbanan, yakni setiap perpecahan dalam kekristenan hari ini selalu mengandung peninggian atau penyanjungan perkara-perkara tertentu di luar Kristus. Perkara yang ditinggikan itu mungkin bukan dosa, bahkan mungkin hal-hal yang sangat baik, seperti pengkajian Alkitab atau pengajaran Alkitab. Pengajaran Alkitab sudah tentu baik, tetapi pengajaran Alkitab pun mungkin berkaitan dengan perpecahan. Dalam kasus demikian, sebuah sidang pengajaran atau pemahaman Alkitab mungkin saja menjadi bukit pengorbanan dan ia mungkin mengakibatkan peninggian perkara tertentu untuk menggantikan Kristus.
Orang Kristen hari ini sering meninggikan perkaraperkara tertentu ke atas kedudukan Kristus. Misalkan, ada beberapa orang meninggikan cara baptisan selam. Walaupun pembaptisan yang mencelupkan seluruh tubuh ke dalam air itu benar dan sesuai dengan cara Alkitab, akan tetapi meninggikan cara yang demikian di atas kedudukan Kristus itu salah. Perbuatan demikian berarti membangun sebuah bukit pengorbanan; sejenis cara khusus yang meninggikan hal pembaptisan. Dan eksistensi bukit pengorbanan yang sedemikian sering memberi satu kesempatan bagi pelampiasan hawa nafsu dan kepuasan bagi ambisi. Namun, tempat unik pilihan Allah akan membunuh hawa nafsu kita dan mengekang ambisi kita. Bahkan sebuah perkara yang sangat baik, seperti halnya pengkajian Alkitab, kalau ditinggikan hingga melampaui Kristus, itu pun akan membuka jalan bagi hawa nafsu dan ambisi. Hawa nafsu pasti disusul dengan penyembahan berhala. Ambisi pada hakikatnya ialah sejenis bentuk penyembahan berhala.
Menjelang bani Israel menyeberangi Sungai Yordan untuk memasuki negeri permai, karena rasa prihatin yang sangat dalam, Musa menyuruh mereka memusnahkan semua tempat ibadah orang kafir, dan menghendaki mereka pergi ke tempat unik pilihan Allah. Pesan Musa yang demikian adalah karena ia tahu dengan pasti bahwa tempat unik pilihan Allah itu dan pemusnahan tempat-tempat ibadah kafir berkaitan dengan nasib mereka di hadapan Allah. Jika mereka dengan tulus memusnahkan pusat-pusat ibadah kafir, dan datang ke tempat unik pilihan Allah, itu berarti mereka melakukan perkara yang benar dalam pandangan-Nya. Namun jika mereka tidak menaati pesan tersebut, itu berarti mereka melakukan perkara yang jahat dalam pandangan Allah. Ketika mereka memasuki tanah permai, mereka benarbenar memusnahkan bukit-bukit pengorbanan dan nama-nama berhala. Hasilnya, mereka merebut negeri itu dengan kemenangan. Samuel dan Daud boleh mewakili orang-orang yang mutlak menaati pesan Allah melalui Musa itu.
Ketika Salomo memerintah sebagai raja, Bait Suci dibangun di Yerusalem. Satu Raja-raja 8 menunjukkan kepada kita betapa kemuliaan Allah memenuhi Bait Suci itu. Zaman pembangunan Bait Suci adalah zaman emasnya sejarah bangsa Israel. Namun, tidak lama setelah Bait Suci dibangun, Salomo, si pembangun Bait Suci itu, mulai membangun kembali bukitbukit pengorbanan. Sudah kita katakan bahwa perbuatan Salomo itu adalah untuk menyenangkan istri-istri dan selirselirnya semata. Hal itu menunjukkan dengan jelas bahwa bukit-bukit pengorbanan berhubungan dengan hawa nafsu Salomo. Salomo kemudian mati, dan Yerobeam bermusuhan dengan Rehabeam, ia pun karena ambisi membangun bukitbukit pengorbanan. Kedua kasus pembangunan bukit-bukit pengorbanan itu telah membangkitkan murka Allah.
Pembangunan bukit-bukit pengorbanan oleh Salomo dan Yerobeam bukan sekadar suatu fakta dalam sejarah, di balik catatan sejarah ini terkandung makna rohani untuk menjadi pelajaran bagi kita hari ini. “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita” (Rm. 15:4). Karena itu, catatan mengenai Salomo dan Yerobeam adalah untuk pelajaran rohani bagi kita hari ini.
Ada beberapa perkara penting yang belum dijelaskan sepenuhnya dalam Perjanjian Baru. Saya percaya Tuhan dengan sengaja menyuruh kita merenungkan berdasarkan perlambangan dalam Perjanjian Lama. Misalkan, tentang rusak dan hilangnya tumpuan keesaan, hal ini tidak begitu banyak dibicarakan dalam Perjanjian Baru. Hanya tiga tempat dalam Perjanjian Baru yang menyinggungnya secara singkat: 1 Korintus 1:10-13; Roma 16:17-18; dan Titus 3:10. Namun masalah perpecahan terungkap dengan jelas dalam perlambangan Perjanjian Lama. Seperti halnya kita perlu meneliti catatan tentang hari Paskah dalam Kitab Keluaran baru kita bisa memahami dengan penuh tentang Kristus sebagai Anak Domba Allah. Demikian juga kita perlu memeriksa Kitab Ulangan, 1 dan 2 Raja-raja, dan 1 dan 2 Tawarikh, baru kita bisa memahami secara lengkap tentang perpecahan serta rusak dan hilangnya tumpuan keesaan. Berdasarkan catatan Perjanjian Lama, perpecahan dikarenakan hawa nafsu dan ambisi. Yang terdahulu Salomo sebagai contohnya, sedang yang di belakang Yerobeam sebagai contohnya. Perjanjian Lama juga mewahyukan kepada kita bahwa hanya tempat unik pilihan Allah baru dapat menanggulangi hawa nafsu dan ambisi. Alasan begitu ditekannya tempat unik pilihan Allah adalah karena hanya tempat ini yang tidak mentolerir kesempatan melampiaskan hawa nafsu dan memenuhi ambisi.
SATU PERINGATAN
Dalam 1 Raja-raja 8, Salomo pernah menyampaikan sebuah doa yang indah. Sebagai penulis Kitab Kidung Agung, Salomo memiliki pengenalan yang dalam terhadap perkaraperkara rohani. Namun dalam 1 Raja-raja 11, kita nampak “hatinya telah menyimpang dari pada TUHAN, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya, dan yang telah memerintahkan kepadanya dalam hal ini supaya jangan mengikuti allah-allah lain, akan tetapi ia tidak berpegang pada yang diperintahkan TUHAN” (ayat 9-10). Alangkah gawatnya kejatuhan Salomo! Kejatuhan Salomo boleh menjadi peringatan bagi kita. Jika kita enggan menerima pembatasan pilihan Allah, kita juga akan jatuh seperti Salomo. Padahal itu pun merupakan pengalaman banyak orang yang pernah sejangka waktu mengambil bagian dalam pemulihan Tuhan. Mereka seolah sangat berguna bagi gereja Tuhan. Dalam kurun waktu tertentu mereka seolah Salomo masa kini yang membangun Bait Suci dan menulis Kidung Agung. Namun hanya karena hawa nafsu tertentu, mereka telah menempuh jalan perpecahan. Mereka telah membangun sebuah bukit pengorbanan untuk memuaskan keinginan mereka. Keadaan demikian pernah saya lihat baik di China maupun di Amerika Serikat.
BUKIT PENGORBANAN DAN AMBISI
Pada tahun 1963 di Los Angeles ada orang-orang dari beberapa organisasi Kristen mengajak kita mengadakan sidang bersama. Dalam sekali kesempatan sidang bersama itu saya pernah menyampaikan sebuah berita dengan mengutip Roma 14 untuk memperingatkan kaum saleh bahwa opini yang berbeda itulah asal mulanya perpecahan. Saya tegaskan bahwa kita harus belajar satu pelajaran menurut Roma 14 itu. Akan tetapi tidak lama kemudian, paling sedikit ada dua “bukit pengorbanan” telah dibangun. Satu di antaranya adalah “bukit pengorbanan” yang menekankan bahasa lidah, sedangkan satunya lagi meninggikan ajaran Alkitab. Mereka yang membuat “bukit pengorbanan” — perpecahan — sama sekali tidak memperhatikan tempat unik pilihan Allah. Dengan perkataan lain, mereka tidak sungguh-sungguh mementingkan keesaan. Yang mereka pentingkan hanyalah memuaskan keinginan mereka. Selain itu, ada yang karena ambisius lalu berbeda pendapat; mereka berambisi menjadi pemimpin. Pada akhirnya mereka meninggalkan pemulihan Tuhan. Ketika ambisi mereka tidak terpenuhi dalam hidup gereja, mereka mengingkari bahkan melawan gereja. Pada awalnya mereka sangat menghormati pemulihan Tuhan, namun karena ambisi mereka yang ingin menjadi pemimpin itu tidak terpenuhi, mereka lalu pergi meninggalkan gereja dan mendirikan segunduk “bukit kecil” untuk memuaskan ambisi mereka. “Bukit kecil” itu adalah “bukit pengorbanan” lain yang menyebabkan perpecahan.
Kita harus memperhatikan beberapa butir dalam Ulangan 12, ini sangat penting. Kita harus belajar takwa kepada Tuhan Allah kita. Janganlah kita melakukan perkara yang benar menurut pandangan kita sendiri. Takutlah kepada Tuhan dan kita harus melakukan perkara yang benar dalam pandangan-Nya. Dalam hal takwa kepada Allah, tidak ada apa pun yang lebih penting daripada memelihara keesaan. Kalau ada orang Kristen tertentu mendirikan tempat pelesiran dunia, kita akan segera menghakimi tindakan itu. Tetapi bila ada orang mendirikan sebuah sidang Kristen perpecahan, tidak banyak orang yang menghakiminya dengan serius. Kebanyakan orang Kristen hanya akan berkata, “Ya, kita tidak begitu setuju dengan sidang seperti itu.” Sebaliknya, bahkan ada yang menyetujui tindakan itu, dan mengatakan bahwa bagaimana pun itu bertujuan mengajar orang mengenal Alkitab dan mengikut Tuhan. Secara permukaan, sidang semacam itu menyatakan keinginan untuk memberi bantuan rohani kepada orang, namun pada hakikatnya, itu adalah perpecahan yang bersumber dari keinginan atau ambisi manusia. Di “bukit pengorbanan” semacam itu pasti ada sesuatu yang bukan Kristus yang ditinggikan.
Pada tahun 1933, ketika untuk pertama kali saya pergi ke Shanghai, saya bertemu dengan seorang saudara yang sangat aktif dalam hidup gereja. Saudara ini sudah ada dalam gereja sejak tahun 1927, dia memang seorang saudara yang menuntut Tuhan. Pada suatu hari, Saudara Watchman Nee berkata kepada saya bahwa saudara tersebut sangat berambisi menjadi penatua gereja. Tetapi akhirnya, pada tahun 1948, ia meninggalkan gereja karena keinginannya untuk menjadi penatua tidak pernah terwujud. Kemudian ia mengadakan sidang di rumahnya sendiri, dan membayar seorang penginjil keliling sebagai pendetanya. Dia sama sekali mengingkari gereja. Bukan hanya itu, penginjil yang diupahnya itu malah mengarang sebuah buku yang isinya mengecam dan merendahkan Saudara Watchman Nee, serta menyebarkan banyak kabar bohong. Saudara ini telah menempuh hidup gereja dua puluh satu tahun lamanya, namun akhirnya ia meninggalkan gereja demi mendirikan suatu “bukit pengorbanan”.
JANGAN MENINGGIKAN PERKARA APA PUN
KE ATAS KEDUDUKAN KRISTUS
Setelah Anda mengamati keadaan kekristenan hari ini, Anda akan mengetahui bahwa setiap perpecahan selalu dikarenakan peninggian secara khusus terhadap perkaraperkara tertentu. Mengajarkan Alkitab memang baik, tetapi pelajaran Alkitab itu tidak seharusnya menjadi sesuatu yang ditinggikan yang memisahkan umat Allah. Mengenai doa-baca juga sama. Mungkin Anda merasa melakukan doabaca sangat membantu, tetapi Anda tidak perlu meninggikannya sebagai keharusan mutlak dalam sidang. Bila Anda meninggikan doa-baca, bahkan doa-baca pun bisa menjadi satu faktor perpecahan. Kita harus mohon Tuhan membelaskasihani kita agar kita tidak meninggalkan opini apa pun untuk menggantikan Kristus. Bila kita bersikap meninggikan opini atau kesukaan kita, itu berarti membangun sebuah “bukit pengorbanan” perpecahan. Itulah kasus orang-orang Kristen di Los Angeles pada tahun 1963 yang ingin mengadakan sidang bersama. Orang-orang yang menentang bahasa lidah meninggikan sikap dan pandangan mereka, sedangkan orang-orang yang memprakarsainya juga meninggikan opini mereka sendiri. Mereka semua tidak mau mendengar perkataan saya yang menghendaki mereka memperhatikan perasaan orang lain, mereka hanya bertindak menurut pikiran mereka sendiri. Cara berpikir mereka itulah yang menyebabkan mereka mendirikan “bukit pengorbanan”.
Kita semua, khususnya kaum muda, harus belajar tidak meninggikan perkara apa pun selain Kristus. Hanya Dia saja yang patut ditinggikan. Dalam hidup gereja kita tidak seharusnya mempunyai “bukit pengorbanan” macam apa pun. Kita semua harus di atas kedudukan yang sama meninggikan Kristus.
SATU PERKARA YANG SANGAT PENTING
Bukit-bukit pengorbanan yang dibangun Salomo dan Yerobeam telah merusak tumpuan keesaan dengan serius. Kalau bukit-bukit pengorbanan itu tidak begitu serius, tentu tidak berulang-ulang disinggung dalam Perjanjian Lama. Satu Raja-raja 14:22-23 mengatakan, “Tetapi orang Yehuda melakukan apa yang jahat di mata Tuhan dan mereka menimbulkan cemburu-Nya dengan dosa yang diperbuat mereka . . . sebab mereka pun juga mendirikan tempattempat pengorbanan dan tugu-tugu berhala dan tiang-tiang berhala di atas setiap bukit yang tinggi dan di bawah setiap pohon yang rimbun.” Kata “setiap” yang dipakai di sini menunjukkan bahwa perkara-perkara itu sangat biasa dan sangat umum. Begitu bukit-bukit pengorbanan itu dibangun, tidak mudahlah ditiadakan, bahkan raja yang paling baik, Asa, pun tidak berdaya. Asa melakukan perkara yang baik di mata Tuhan, dia memusnahkan semua berhala yang dibuat oleh nenek moyangnya. Akan tetapi bukit-bukit pengorbanan tidak dijauhkan (1 Raj. 15:14). Terhadap keberadaan bukit pengorbanan, boleh jadi umat Israel bersikap memaafkan atau membenarkan, yaitu mengatakan bahwa tempat-tempat itu tidak dipakai untuk menyembah tiang berhala atau patung-patung berhala, melainkan untuk mempersembahkan kurban bagi Allah. Cobalah lihat Yosafat, kita tahu bahwa “Ia hidup mengikuti jejak Asa, ayahnya; ia tidak menyimpang dari padanya dan melakukan apa yang benar di mata TUHAN. Hanya bukit-bukit pengorbanan tidak dijauhkan. Orang masih mempersembahkan dan membakar kurban di bukit-bukit itu” (1 Raj. 22:43-44). Selain itu, walaupun Yoas juga melakukan apa yang benar di mata Tuhan, namun ketika ia memerintah, ia pun tidak meniadakan bukit-bukit pengorbanan, dan “Bangsa itu masih mempersembahkan dan membakar kurban di bukit-bukit itu” (2 Raj. 12:3). Kita berulang-ulang melihat umat itu “masih mempersembahkan dan membakar kurban di bukit-bukit itu” (2 Raj. 14:3-4; 15:3-4, 34-35).
DIBATASI OLEH PILIHAN ALLAH
Seandainya ketika itu kita berada di situ, boleh jadi kita juga akan membela orang-orang yang mempersembahkan kurban di “bukit-bukit pengorbanan”. Orang-orang yang pergi ke “bukit-bukit pengorbanan” akan berkata, “Pergi ke Yerusalem setahun tiga kali itu terlalu jauh dan tidak mudah.” Orang Kristen hari ini juga dengan alasan serupa memaafkan diri mereka sendiri. Setiap perpecahan orang Kristen pasti mempunyai satu alasan untuk membenarkannya. Namun, pada zaman Perjanjian Lama, Tuhan tidak berkenan pada kurban persembahan apa pun yang dipersembahkan di “bukit-bukit pengorbanan”. Dan kurbankurban yang dipersembahkan di sana sangat dibenci-Nya, sebab kurban-kurban itu dipersembahkan di atas tumpuan perpecahan, yakni di tempat yang membuka pintu bagi pelampiasan hawa nafsu dan yang memberi kesempatan untuk menuntut ambisi. Hanya penyembahan, persembahan kurban dan pembakaran ukupan yang dilakukan di tempat unik pilihan Allah baru dianggap benar. Tempat unik ini akan membunuh hawa nafsu dan tidak memberi kesempatan bagi ambisi. Sekalipun mempersembahkan suatu kurban yang benar, namun jika di luar tempat unik pilihan Allah, itu akan memberi kesempatan bagi pelampiasan keinginan egoistis. Setiap “bukit pengorbanan” yang sekalipun dipakai untuk mempersembahkan suatu kurban yang benar, itu dapat merusak tumpuan keesaan. “Bukit-bukit pengorbanan” itu hanyalah suatu alat yang digunakan orang untuk memuaskan keinginan dan ambisinya belaka.
Menurut pengalaman saya dalam pemulihan Tuhan di daratan China, saya dapat bersaksi bahwa tumpuan unik pilihan Allah ini tidak memberi kesempatan bagi pelampiasan hawa nafsu dan pernyataan ambisi. Selama tahuntahun ketika saya berada di daratan China, saya selalu menerima bimbingan ministri Saudara Watchman Nee. Semua khotbah saya selalu seragam dengannya. Semua “bukit pengorbanan” telah dirobohkan, karena itu saya sama sekali tidak memberi kedudukan bagi pelampiasan hawa nafsu dan bagi pernyataan ambisi. Kita di sini hari ini juga demikian. Kita hanya memperhatikan menjunjung tinggi Kristus. Bila kita mempertahankan tumpuan keesaan tanpa meninggikan perkara apa pun di luar Kristus, kita pasti tidak mungkin ada perpecahan. Dalam pemulihan Tuhan, kita hanya meninggikan Kristus.
Kita sudah banyak membicarakan tentang hayat, namun kita tidak meninggikan hayat hingga menjadi sebuah “bukit pengorbanan”. Di antara kita ada beberapa saudara sangat lincah dan memiliki bakat alamiah, tetapi kelincahan dan bakat mereka harus dibatasi oleh tumpuan pilihan Allah. Pembatasan semacam ini akan membuat mereka tidak meninggikan perkara apa pun ke atas kedudukan Kristus. Dalam pemulihan Tuhan, kita dapat bersaksi bahwa kita dengan kekristenan hari ini memiliki perbedaan yang mencolok; kita tidak mempunyai “bukit pengorbanan”. Di kalangan kekristenan, di mana-mana dapat dijumpai “bukit pengorbanan”. Setiap sekte, setiap kelompok bebas merupakan “bukit-bukit pengorbanan” yang menonjol. Berulangulang kita tegaskan bahwa peninggian-peninggian itu selalu berkaitan dengan keinginan nafsu dan ambisi.
TERTAWAN SEBAGAI TAWANAN
Berdasarkan catatan Perjanjian Lama, setelah tumpuan keesaan itu dirusak, maka pada hakikatnya keesaan itu telah hilang. Negara Israel di Utara ditaklukkan oleh bangsa Asyur, sedangkan negara Yehuda di Selatan ditaklukkan oleh bangsa Babilon. Karena dosa pembangunan bukitbukit pengorbanan oleh Yerobeam, bani Israel tertawan sebagai tawanan oleh bangsa Asyur. Di bawah murka-Nya, Allah mencampakkan mereka dari negeri kudus. Dua Raja-raja 17:22-23 mengatakan, “demikianlah orang Israel hidup menurut segala dosa yang telah dilakukan Yerobeam; mereka tidak menjauhinya, sampai TUHAN menjauhkan orang Israel dari hadapan-Nya . . .” Selama orang Israel berada di negeri kudus, mereka berada di hadapan Allah, tetapi ketika mereka tertawan di Asyur, mereka telah dijauhkan Tuhan dari hadapan-Nya.
Tertawannya orang Israel seharusnya menjadi peringatan bagi orang Yehuda, namun negara Yehuda tidak memperhatikan peringatan itu. Seperti dikatakan dalam 2 Raja-raja 17:19, “Juga Yehuda tidak berpegang pada perintah TUHAN, Allah mereka, tetapi mereka hidup menurut ketetapan yang telah dibuat Israel.” Orang-orang yang di Yehuda justru membangun lebih banyak bukit pengorbanan, dan memberi lebih banyak kesempatan untuk masuknya dosa. Karena itu Allah mengutus Firaun Nekho datang (2 Raj. 23:29-35). Firaun Nekho menghapus takhta kerajaan Yoahas dan menggantikannya dengan Elyakim yang kemudian diubah namanya menjadi Yoyakim (2 Raj. 23:23-34). Yoahas dibawa ke Mesir dan mati di sana. Karena orang Yehuda tidak memusnahkan bukit pengorbanan, maka pada akhirnya Tuhan mengutus Nebukadnezar membawa bala tentaranya untuk meruntuhkan Bait Suci dan menawan sebagian besar rakyat itu ke Babilon.
Dahulu bani Israel tinggal di negeri permai, mereka adalah suatu bangsa yang mempunyai satu pusat penyembahan di Yerusalem. Terlebih dulu, karena mereka mendirikan bukit-bukit pengorbanan di setiap tempat, maka keesaan terusak. Akhirnya, karena invasi bangsa Asyur dan Babilon, mereka kehilangan keesaan. Setelah terusir dari negeri permai, umat Allah menjadi orang Yahudi Mesir, orang Yahudi Asyur dan orang Yahudi Babilon. Tumpuan keesaan telah habis sama sekali.
Mazmur 137:1-6 melukiskan keadaan mereka di Babilon. Umat Allah di negeri kafir itu tidak dapat menyanyikan kidung Allah. Mereka duduk di tepi Sungai Babilon dan meratap begitu teringat akan Sion. Betapa miripnya lukisan itu dengan keadaan orang-orang Kristen hari ini! Mayoritas orang Kristen telah tertawan menjadi tawanan. Tumpuan keesaan tidak saja telah dirusak, bahkan telah habis sama sekali. Jarang sekali orang Kristen yang mengenal apa itu tumpuan keesaan. Akibat tertawannya orang Israel, bahkan banyak di antara mereka yang lupa akan bahasa mereka sendiri. Pada akhirnya mereka menjadi orang Mesir, orang Asyur, dan orang Babilon. Itulah sebuah lukisan hidup dari orang Kristen hari ini. Semoga Tuhan berfirman lebih banyak kepada kita tentang rusak dan hilangnya tumpuan keesaan ini!