BERKAT HAYAT YANG TURUN KE ATAS TUMPUAN KEESAAN — MINYAK URAPAN DAN EMBUN (2)
Pembacaan Alkitab:
Mzm. 133:1-3; Yoh. 1:14, 16-17; Kis. 4:33; 11:23; 13:43; 14:26;
Rm. 5:2, 17, 20-21; 1 Kor. 15:10; 2 Kor. 1:12; 9:8, 14; 12:9; 13:14;
Ef. 2:7; 1 Tim. 1:14; 1 Ptr. 3:7; 4:10; 5:10a; Gal. 6:18; Why. 22:21
Menurut Perjanjian Baru, keesaan kaum beriman atau gereja adalah misterius, sebab ia sangat berkaitan erat dengan Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Yohanes 17:21-23 menunjukkan bahwa kaum beriman menjadi esa di dalam Allah Tritunggal sama seperti Bapa di dalam Anak dan Anak di dalam Bapa. Karena berada di dalam Allah Tritunggal, maka kaum beriman itu esa. Tidak hanya demikian, Yohanes 17 mengatakan bahwa kemuliaan yang Bapa berikan kepada Anak telah diberikan oleh Anak kepada kaum beriman, supaya mereka menjadi esa sama seperti Bapa dan Anak adalah esa. Kemudian dalam ayat 23 dikatakan selanjutnya tentang menjadi esa dengan sempurna. Begitu kita percaya, kita segera dimasukkan ke dalam keesaan yang misterius ini. Kini harus maju ke depan untuk disempurnakan ke dalam keesaan ini secara bertahap.
PERBAURAN ALLAH TRITUNGGAL DENGAN TUBUH KRISTUS
Dalam Efesus 4:4-6 Paulus mengetengahkan tujuh aspek dari keesaan: satu Tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, dan satu Allah, yaitu Bapa. Ayat-ayat ini juga memperlihatkan perbauran antara Allah Tritunggal dengan Tubuh Kristus yang misterius. Perbauran ini adalah keesaan kaum beriman. Roh dalam ayat 4 tidak dapat disangsikan lagi ialah Roh almuhit majemuk yang ada di dalam Tubuh dan yang memberi hayat kepada Tubuh. Berdasarkan 1 Korintus 12:13 keberadaan Tubuh adalah melalui baptisan Roh almuhit ini. Begitu kita dibaptis ke dalam satu tubuh, kita harus maju terus untuk meminum Roh itu. Ini menunjukkan bahwa keberadaan Tubuh adalah mengandalkan Roh pemberihayat yang almuhit. Tidak hanya demikian, kelangsungan keberadaan Tubuh juga melalui kita meminum Roh itu. Apa pun yang kita minum akan berbaur dengan insan batiniah kita dengan darah dan setiap jaringan-jaringan organ kita. Demikian juga dengan berbaurnya Roh pemberihayat dengan kita.
Dalam Efesus 4:5 Paulus membentangkan bersamasama antara satu Tuhan dengan satu iman dan satu baptisan. Kita berada di dalam Tuhan memang melalui percaya dan dibaptis. Beriman di dalam Tuhan berarti percaya ke dalam Dia. Tentu saja dibaptis ke dalam Dia berarti diletakkan ke dalam Dia. Ketika kita percaya ke dalam Dia dan dibaptis ke dalam Dia, kita menjadi esa dengan Dia, yaitu berbaur dengan Dia.
Dalam ayat 6 Paulus berkata, “satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan melalui semua dan di dalam semua.” Bapa ini “di atas semua”, ini bersifat obyektif; “melalui semua”, ini sebagian obyektif, sebagian subyektif; dan “di dalam semua”, ini bersifat subyektif. Jadi, Roh itu berbaur dengan Tubuh, Tubuh berada di dalam Tuhan, sedangkan Bapa itu di atas semua, melalui semua, dan di dalam semua. Inilah sebuah lukisan perbauran antara Allah Tritunggal dengan Tubuh Kristus. Di dalam keesaan ini kita memiliki satu pengharapan, yaitu pengharapan akan kemuliaan kelak.
Keesaan ini mutlak berbeda dengan persatuan yang terdapat dalam kekristenan hari ini. Persatuan itu hanyalah terbentuk dari pertambahan semata. Pertambahan demikian juga bisa menimbulkan pengurangan. Keesaan yang diwahyukan dalam Alkitab ialah perbauran antara Allah Tritunggal yang telah melalui proses dengan umat pilihan-Nya. Karena itu, keesaan dalam Alkitab merupakan perbauran persona, yaitu perbauran antara persona ilahi (Allah Tritunggal) dengan kaum beriman. Allah Tritunggal yang berbaur dengan kita ini telah melalui proses inkarnasi, kehidupan di dunia, ketersaliban, dan kebangkitan. Keesaan sejati yang mengacu kepada perbauran ajaib semacam ini adalah yang diwahyukan dengan jelas di dalam Yohanes 17 dan Efesus 4.
SEBUAH LAMBANG DARI KEESAAN YANG SEJATI
Kita bersyukur kepada Tuhan karena hampir setiap perkara rohani dalam Perjanjian Baru ada lambangnya dalam Perjanjian Lama. Dalam Ulangan 12 kita nampak sebuah lambang dari keesaan yang sejati. Dalam pasal ini tanah permai melambangkan Kristus yang almuhit, sedangkan gunung-gunung besar, bukit-bukit, dan pohon-pohon yang rimbun melambangkan berbagai pusat penyembahan. Dan macam-macam kurban persembahan yang tercantum dalam pasal ini melambangkan berbagai aspek dari kekayaan Kristus. Ulangan 12 adalah catatan pesan Allah kepada orang-orang Israel menjelang mereka memasuki tanah permai itu. Rincian dari pesan ini tidak saja merupakan petunjuk yang harus ditaati secara harfiah oleh bani Israel pada masa itu, tetapi juga merupakan suatu lambang. Kita boleh menggunakan anak domba hari Paskah sebagai contoh. Di satu aspek ia mengandung makna harfiah, di aspek lain ia juga mengandung makna perlambangan. Anak domba yang disembelih pada hari Paskah itu melambangkan Kristus sebagai Penebus kita. Seprinsip dengan ini, manna yang dimakan bani Israel di padang gurun melambangkan Kristus sebagai makanan surgawi kita. Prinsip ini pun berlaku atas tanah permai dalam Ulangan 12. Tanah permai tidak sekadar mengacu kepada wilayah material yang diduduki bani Israel, juga merupakan lambang dari Kristus Sang almuhit. Dalam pasal ini Allah berpesan kepada umat pilihan-Nya untuk pergi ke satu tempat unik yang dipilih oleh-Nya. Allah memilih tempat ini adalah agar keesaan di antara bani Israel terpelihara. Jadi tempat tersebut tidak saja mengacu kepada sebuah tempat sebenarnya di negeri Kanaan, ia pun melambangkan keesaan sejati kaum beriman dalam Kristus pada hari ini.
KRISTUS YANG KORPORAT
Mazmur 133 mengiaskan keesaan umat Allah dengan minyak urapan dan embun. Minyak urapan mahal itu tertuang ke atas kepala Harun, lalu meleleh ke janggut, dan terakhir meleleh ke leher jubahnya. Lukisan keesaan ini berkaitan dengan seseorang, Harun, yang melambangkan Kristus yang menunaikan jabatan keimaman. Kristus adalah Imam Besar yang melayani Allah, menggenapkan tujuan Allah dan mewujudkan kehendak Allah. Namun, Harun dalam Mazmur 133 tidak sekadar melambangkan diri Kristus, juga melambangkan Kristus dan Tubuh-Nya. Jadi ini berarti Harun di sini melambangkan Kristus yang korporat — Kepala dan Tubuh. Pada hakikatnya gereja adalah Kristus yang korporat. Gereja adalah manusia raya universal yang memiliki banyak aspek: Tubuh, mempelai perempuan, manusia baru, laksar. Aspek-aspek gereja ini semuanya berkaitan dengan persona.
BANYAK GEREJA LOKAL
Mazmur 133 juga mengibaratkan umat Allah dengan embun Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Gunung-gunung ini melambangkan gereja-gereja lokal. Setiap gereja lokal adalah sebuah gunung dari Sion. Sion hanya satu, tetapi banyak gunung, itu melambangkan banyak gereja lokal. Ditinjau dari segi manusia, gereja itu unik. Ditinjau dari segi tempat, gereja di satu aspek adalah Sion yang unik, di aspek yang lain adalah banyak gunung dari satu Sion itu. Dalam alam semesta hanya ada satu gereja, namun ada banyak gereja lokal. Setiap gereja lokal ialah salah satu puncak dari Gunung Sion. Karena itu, manusia adalah bersifat universal, sedang gunung bersifat lokal. Keesaan kita ibarat minyak urapan mahal yang tertuang di atas kepala Harun dan juga ibarat embun yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Tempat kediaman Allah — Bait Suci — dibangun di atas Sion. Di satu aspek gereja adalah satu manusia, di aspek lain gereja adalah satu tempat; pada diri manusia ada minyak urapan, pada tempat ada embun.
KESEMPURNAAN ULTIMAT DARI
ALLAH TRITUNGGAL YANG TELAH MELALUI PROSES
Minyak urapan mahal dalam Mazmur 133 adalah minyak urapan yang dilukiskan dalam Keluaran 30. Minyak urapan ini melambangkan Roh pemberi-hayat almuhit yang majemuk itu. Minyak urapan ini mengandung banyak unsur: sifat Allah, sifat manusia, kehidupan manusia, khasiat kematian Kristus, dan kuasa kebangkitan Kristus. Roh almuhit ini adalah manifestasi Allah yang telah melalui proses. Tuhan memberi beban kepada saya untuk mengulangi hal ini, agar kita semua memiliki kesan yang dalam terhadap hal ini.
Yohanes 1 mengatakan kepada kita bahwa Firman yang pada mulanya bersama dengan Allah dan adalah Allah sendiri telah menjadi daging dan tinggal (mendirikan kemah) di antara kita (1:1). Firman ini — Kristus — pernah hidup selama tiga puluh tiga setengah tahun di bumi, kemudian melalui salib, masuk ke dalam kebangkitan, dan menjadi Roh pemberi-hayat. Jadi, Roh pemberi-hayat ini adalah perampungan sempurna dari Allah yang telah melalui proses. Dalam Yohanes 14, 15, dan 16 kita nampak bahwa Tuhan Yesus adalah satu dengan Bapa. Siapa saja yang melihat Dia berarti melihat Bapa (14:9). Dalam 14:10 Tuhan Yesus berkata, “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.” Ketika Tuhan berbicara, saat itu pula Allah bekerja. Pada pasal ini Tuhan berkata lebih lanjut kepada murid-murid-Nya bahwa Roh kebenaran itu pada hakikatnya adalah realisasi dari diri-Nya sendiri. Ini berarti pada saat Roh Kudus tinggal di dalam murid-murid, itulah Tuhan sendiri yang tinggal di dalam mereka. Jadi, Anak, Roh, dan Bapa adalah Allah Tritunggal yang unik.
Setelah melalui berbagai tahap proses, Allah Tritunggal ini menjadi Roh pemberi-hayat. Yohanes 7:39 mengatakan, “Sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.” Roh yang dijanjikan dalam pasal 14 hingga 16 itulah Roh yang dimaksud Yohanes 7:39. Melalui menerima Roh itu yang sebagai perampungan sempurna dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses, kita telah bersatu dengan Allah Tritunggal. Itulah sebabnya setelah Tuhan membicarakan Roh itu dalam pasal 14, pada pasal 15 Tuhan lalu berkata bahwa jika kita tinggal di dalam Dia, Dia pun tinggal di dalam kita. Berdasarkan Yohanes 14:23, jika kita mengasihi Tuhan, maka Bapa dan Anak akan datang kepada kita dan mengatur tempat tinggal bersama dengan kita. Tempat tinggal ini adalah sebuah tempat tinggal timbal balik, agar Allah Tritunggal tinggal di dalam kaum beriman, dan kaum beriman tinggal di dalam Allah Tritunggal. Tinggal bersama yang sedemikian ini adalah suatu perkara perbauran.
Setelah Tuhan selesai berbicara dalam pasal 14, 15, dan 16, maka dalam pasal 17 Tuhan berdoa kepada Bapa. Kalimat-kalimat yang dipakai Tuhan dalam doa itu sama sekali bersifat ilahi. Dalam doa ini Tuhan menunjukkan perbauran yang misterius dan ajaib antara Allah Tritunggal yang telah melalui proses dengan kaum beriman. Berulang-ulang kita katakan bahwa perbauran ini adalah keesaan.
HAKIKI KEESAAN KITA
Keesaan ini menjadi sungguh dan riil melalui minyak urapan yang menyebar dari Kristus Sang Kepala ke atas Tubuh. Asalkan kita tinggal di dalam Tubuh, kita akan mengambil bagian dalam minyak urapan ini. Di dalam minyak urapan ini kita adalah esa. Karena itu, pengurapan Roh pemberi-hayat almuhit majemuk ini adalah hakiki keesaan. Artinya: para anggota gereja bisa menjadi esa adalah berdasarkan pengurapan Roh. Jika kita tidak tinggal di bawah pengurapan ini, mustahillah kita menjadi esa dengan siapa pun, bahkan mustahil menjadi esa dengan diri kita sendiri.
Menjadi esa dengan orang lain bukanlah mengandalkan kepandaian alamiah kita. Ada beberapa orang beriman menyombongkan diri bahwa mereka mempunyai temperamen yang baik sehingga mudah akur dan bersatu dengan orang lain. Walau demikian, kesatuan semacam itu bukan keesaan berharga yang dikatakan Alkitab. Sebenarnya, itu adalah sejenis kesatuan buruk yang memuakkan. Orang boleh saja menyombongkan diri memiliki kesatuan semacam itu, tetapi sebenarnya ia tidak dapat bersatu dengan orang dalam waktu yang lama. Sebaliknya, pada akhirnya mungkin dia menimbulkan banyak kekacauan. Keesaan yang sejati adalah berasal dari hidup di bawah pengurapan Roh almuhit yang majemuk itu, dan Roh itu adalah perampungan sempurna dari Allah Tritunggal. Hanya di bawah minyak urapan semacam ini barulah kita memiliki keesaan yang sejati dan yang tidak berubah. Di antara kita ada ribuan orang dapat bersaksi tentang keesaan yang kita nikmati di bawah pengurapan Roh majemuk ini. Perbauran antara Allah Tritunggal yang telah melalui proses dengan kaum beriman yang mistrius ini adalah sumber keesaan kita. Seperti telah kita katakan pada bab terdahulu, semakin kita terurap dengan minyak urapan majemuk, kita akan semakin esa. Terpujilah Tuhan, Roh almuhit sedang tak henti-hentinya mengurapi kita.
TINGGAL DI ATAS SEBUAH “PUNCAK” DI SION
Aspek gereja sebagai persona memang riil, namun aspek gereja sebagai tempat itu lebih riil lagi. Kita tidak ada problem apa pun terhadap gereja sebagai manusia universal, namun kita sangat mungkin ada problem terhadap gereja sebagai puncak-puncak Gunung Sion di aspek tempat. Itu dikarenakan boleh jadi kita tidak begitu menyukai gereja di tempat kita sendiri, dan ingin pindah ke tempat lain. Tetapi jika kita pindah ke kota lain, kita akan segera menjumpai masalah serupa di tempat itu. Ini disebabkan kita sendiri tidak berubah, jadi kita inilah penyebab masalahnya. Ada beberapa orang “menjamin” saya bahwa mereka selamanya tidak akan meninggalkan hidup gereja. Tetapi ketika mereka tidak puas dengan tempat mereka, mereka lalu memilih “gunung” yang mereka sukai. Saya dapat bersaksi, bagi saya, setiap “gunung” itu sama saja. Tak peduli di mana saja, saya selalu ingin memuji Tuhan dan mengalami pekerjaan pengubahan-Nya.
Orang-orang yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain mungkin menyukai gereja universal, namun mereka mempunyai problem dengan gereja lokal. Mereka bisa mengumumkan bahwa mereka telah nampak Tubuh Kristus dan mengasihi pemulihan Tuhan, tetapi tak peduli mereka tinggal di tempat mana, mereka selalu menimbulkan masalah dengan “puncak gunung” Sion di tempat itu. Mereka mungkin menduga gereja lokal di tempat tertentu pasti paling baik, tetapi setelah pindah ke tempat itu, mereka kecewa lagi, sebab mereka menemukan bahwa di tempat itu tidak ada perbedaannya dengan “puncak gunung” yang dulu. Kita tidak perlu pindah dari satu “puncak gunung” ke “puncak gunung” lain. Kita harus tinggal saja di atas “puncak gunung” di Sion, dan di sana menikmati embun yang turun dari Hermon.
EMBUN — ANUGERAH HAYAT
Secara perlambangan, Hermon melambangkan surga, tempat tertinggi dalam alam semesta; embun melambangkan anugerah hayat (1 Ptr. 3:7). Jika tidak ada Perjanjian Baru, tidak mudahlah kita memahami bahwa embun melambangkan anugerah. Istilah anugerah selalu dicantumkan oleh Paulus dalam pembukaan maupun penutupan Suratsurat Kirimannya. Waktu saya masih muda, sebagai orang Kristen di denominasi saya diberi tahu orang bahwa anugerah itu berarti kebaikan yang kita dapatkan tanpa jasa. Menurut tafsiran itu berarti kita menerima suatu kebaikan yang tidak layak kita terima. Dan banyak orang Kristen mengira kebaikan yang diperoleh tanpa jasa itulah berkatberkat jasmani yang diterima dari Tuhan. Misalkan, ada beberapa orang menghitung-hitung berkat-berkat yang Allah berikan dalam satu tahun: suatu pekerjaan yang ideal, sebuah rumah yang besar, sebuah mobil model terbaru, dan seterusnya. Namun berdasarkan perkataan Paulus dalam Filipi 3:8, setiap benda selain Kristus adalah sampah. Bila Paulus membanding-bandingkan rumah, mobil, profesi, dan lain-lain dengan Kristus, tentu semuanya itu dianggapnya sampah. Anugerah yang disebut dalam Alkitab tidak hanya mengacu kepada berkat-berkat jasmani. Dalam Perjanjian Baru banyak ayat yang mengatakan dengan jelas bahwa anugerah adalah Allah yang telah melalui proses menjadi suplai hayat untuk kenikmatan kita.
Dikatakan secara ketat, anugerah adalah satu istilah dalam Perjanjian Baru. Istilah ini dalam Perjanjian Lama mengandung arti hadiah kesayangan. Yohanes 1:17 mengatakan bahwa anugerah datang oleh Yesus Kristus. Ketika firman menjadi daging dan mendirikan kemah di antara kita, anugerah pun turut datang. Ini berarti anugerah datang bersama dengan Allah yaitu firman menjadi daging. Sebelum Kristus berinkarnasi, anugerah itu belum datang. Anugerah datang melalui firman yang menjadi daging.
Dalam Kisah Para Rasul ada banyak ayat yang mengatakan anugerah. Kisah Para Rasul 4:33 mengatakan, “Dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam anugerah yang melimpah-limpah.” Ayat ini menunjukkan bahwa kuasa yang besar dalam kebangkitan itu adalah anugerah yang melimpah-limpah. Kristus di dalam kebangkitan itulah anugerah. Anugerah yang dimaksud di sini bukanlah rumah yang bagus, profesi atau mobil mewah, melainkan Allah yang dialami, diterima, dan dinikmati oleh kaum beriman. Kisah Para Rasul 11:33 mengatakan pula bahwa Barnabas di Antiokhia melihat anugerah Allah. Sudah tentu dia bukan melihat berkat-berkat jasmani, melainkan melihat betapa kaum beriman di Antiokhia di dalam Kristus mengalami Allah sebagai suplai hayat untuk kenikmatan mereka.
Satu Korintus 15:10 Paulus berkata, “Tetapi karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan anugerah yang diberikan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku.” Ayat ini boleh kita bandingkan dengan Galatia 2:20, di sana Paulus berkata, “tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Bukan Paulus yang bekerja lebih keras daripada semua rasul lainnya, melainkan anugerah Allah yang menyertainya. Anugerah inilah yang memungkinkan Paulus bekerja lebih keras melampaui orang lain. Tidak perlu disangsikan bahwa anugerah ini adalah Kristus sendiri yang menjadi kekuatan dan suplai hayat dalam pengalamannya.
Dalam Roma 5:2 Paulus berkata, “Melalui Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman ke dalam anugerah ini.” Anugerah yang dimasuki Paulus sudah tentu bukan rumah atau suatu jabatan atau profesi, melainkan Roh almuhit jelmaan Allah Tritunggal yang telah melalui proses yang adalah perampungan sempurna-Nya sendiri. Melalui Kristus, kita dapat masuk ke dalam Roh almuhit ini.
Roma 5:17 Paulus berkata selanjutnya, “ . . . maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan anugerah dan karunia kebenaran, akan hidup dan berkuasa karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.” Bila kita memiliki anugerah yang melimpah, kita akan berkuasa (menjadi raja) di dalam hayat. Ayat ini menyiratkan anugerah adalah hayat, hayat adalah anugerah. Dalam 1 Petrus 3:17 Petrus mengatakan bahwa suami dan istri bersama-sama mewarisi anugerah hayat. Dalam Roma 5:21 Paulus mengatakan anugerah itu berkuasa supaya orang beroleh hidup yang kekal. Ayat-ayat itu semua menunjukkan bahwa anugerah tidak lain ialah Kristus menjadi kekuatan dan suplai hayat kita yang kita alami dan nikmati.
Jika kita telah jelas akan hal ini, maka terhadap Kristus yang dilambangkan oleh embun dalam Mazmur 133, kita akan menaruh apresiasi yang lebih besar. Anugerah ibarat embun menjadi kenikmatan kita dan untuk dinikmati bersama dalam keesaan yang sejati. Akan tetapi, bila kita tidak berada di bawah pencurahan, pendirisan, dan penjenuhan embun ini, kita tidak akan mungkin menjadi esa dengan kaum saleh lainnya. Hanya di atas gununggunung Sion saja baru kita dapat mengalami embun yang sedemikian. Jika kita ingin menikmati anugerah almuhit yang dilambangkan oleh embun ini, kita harus berada di atas sebuah puncak gunung di Sion.
MENGALAMI ANUGERAH
Banyak di antara kita yang walaupun mengalami anugerah, tetapi tetap tidak mengenal anugerah. Ini sangatlah kasihan! Boleh jadi kita hanya pada doktrinalnya saja mengetahui Kristus sebagai suplai hayat kita untuk kenikmatan kita. Kita harus mengenal anugerah melalui pengalaman.
Misalkan, seorang saudara bermasalah dengan istrinya, kemudian ia mencari seorang pendeta Kristen. Si pendeta itu mungkin menasihatinya dengan ajaran tentang suami dan istri dari Paulus dalam Surat Efesus atau memberi suatu peringatan kepadanya. Namun, cara yang begitu sama sekali tanpa anugerah. Yang diperlukan saudara itu ialah adanya orang yang dapat melayaninya dengan hayat dan berdoa bersamanya. Kalau demikian, maka anugerah akan menyuplai dia agar dia dapat menghadapi masalahnya dengan istrinya itu.
Setiap saudara dan saudari yang telah menikah harus belajar datang dan berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, aku perlu Engkau. Aku tidak tahan lagi dengan situasi yang begini.” Asalkan mau terbuka sedemikian terhadap Tuhan, anugerah akan tersalur ke dalam kita. Melalui suplai anugerah seperti ini, kita akan beroleh kekuatan untuk maju ke depan.
Akhir-akhir ini ada seorang saudara bersaksi bagaimana ia bermasalah dengan istrinya sampai titik beku. Ia jarang sekali berbicara dengan istrinya, demikian pula sebaliknya. Pada suatu hari ia meminta agar istrinya mau berdoa bersama dengannya. Setelah berdoa, segalanya berubah. Ini adalah suatu kesaksian dari anugerah Tuhan.
Saudara-saudara yang tinggal bersama mungkin sekali timbul pergesekan, sehingga merasa tak tahan untuk tetap tinggal bersama. Bila para saudara mempunyai perasaan demikian, mereka harus datang ke hadapan Tuhan, mengontak-Nya dan berkata kepada-Nya bahwa kalian tidak tahan lagi dengan situasi kalian. Begitu berdoa demikian, anugerah pasti akan menyuplai mereka.
Empat puluh tahun lebih yang silam di Chefoo pernah terjadi satu kasus yang dapat mengungkapkan bahwa anugerah Tuhan itu cukup untuk kita pakai. Ada dua orang saudara bertengkar karena masalah uang. Yang satu mengatakan bahwa yang lain berhutang sekian kepadanya, sedangkan yang lainnya tidak mengaku. Akhirnya, kasus itu disampaikan ke hadapan penatua gereja untuk dibereskan. Namun, kasus itu tetap tak terselesaikan. Bahkan mereka saling menuduh di hadapan para penatua. Pada akhirnya saya berkata kepada kedua saudara itu, siapa yang menerima anugerah, dialah yang rela melupakan masalah hutang-piutang itu. Saya berkata bahwa “pengadilan” gereja sama sekali berbeda dengan pengadilan dunia. Bedanya ialah bahwa “pengadilan” gereja tidak peduli siapa yang benar atau salah, melainkan dengan anugerah menyuplai dan menyelesaikan kasusnya. Kalau kalian menerima anugerah Tuhan, kalian harus memuji Dia dan dengan rela hati menganggap kasus ini sudah beres. Kedua saudara itu dan para penatua merasa heran. Lalu saya mengusulkan, baiklah kita berdoa bersama. Setelah berdoa sejenak, kedua saudara tersebut menangis, kemudian mulailah kami memuji Tuhan. Hasilnya, mereka dengan senang hati membiarkan kasus itu berlalu, dan tidak ada masalah lagi. Dalam hal itu kami semua telah makan pesta perjamuan anugerah Tuhan.
MENIKMATI ANUGERAH DALAM HIDUP GEREJA
Di gereja lokal setiap hari kita berada di bawah embun, di bawah anugerah. Tidak peduli kita yang sudah menikah atau yang belum, tua atau muda, kita semua berada di bawah embun yang turun di Sion. O, betapa kita menikmati anugerah Tuhan yang melimpah, ajaib, dan beraneka aspek! Anugerah ini tidak lain adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri menjadi suplai hayat kita. Bila kita ingin menikmati anugerah ini secara melimpah, kita perlu berada dalam hidup gereja. Berdasarkan Mazmur 133, anugerah tidak turun ke atas rumah masing-masing orang beriman, melainkan turun ke atas gunung-gunung Sion yang melambangkan gerejagereja lokal. Karena itu, jika kita ingin menikmati embun yang turun dari Hermon, kita harus berada di atas satu puncak Gunung Sion. Seandainya kedua saudara di Chefoo tadi meninggalkan hidup gereja, niscaya mereka akan terpisah dengan anugerah Tuhan. Jika demikian halnya, mereka tidak hanya tidak dapat membereskan masalah itu berdasarkan anugerah Tuhan di dalam gereja, jangan-jangan mereka malah akan minta pemberesan dari pengadilan dunia. Karena kekurangan anugerah Tuhan, mereka mungkin akan saling menuduh siapa yang benar dan siapa yang salah. Namun, karena mereka tetap berada dalam hidup gereja, embun surgawi pun turun ke atas mereka. Hasilnya, masalah mereka beroleh penyelesaian yang indah. Dalam hidup gereja, embun yang turun ke atas kita itu melimpah. Kita bersukaria karena kita mempunyai suplai melimpah dari anugerah yang serba kaya dan cukup.
Dalam gereja kita mempunyai minyak urapan dan embun. Di sini kita mengalami pengurapan minyak urapan Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Dengan sendirinya kita akan menikmati anugerah Allah yang telah melalui proses sebagai suplai hayat untuk kenikmatan kita. Melalui anugerah ini kita dapat menampilkan sejenis kehidupan yang tidak dapat ditampilkan oleh orang dunia. Para saudara dapat mengasihi istri mereka hingga tingkat tertinggi, para saudari juga dapat menaati suami mereka dengan sepenuhnya. Melalui anugerah yang diterima di gunung-gunung Sion kita bisa menampilkan kehidupan semacam ini.
Jangan sekali-kali kita meremehkan gereja sebagai manusia korporat yang menerima minyak urapan dan tempat turunnya embun ini. Jika kita pada kedua aspek ini meninggalkan gereja, kita mustahil menikmati minyak urapan dan tidak ada bagian dalam embun itu. Mungkin orang Kristen lainnya akan mengecam kita karena kesaksian kita yang demikian bagi hidup gereja. Mereka mungkin mencela kita terlalu sempit atau picik, dan dengan dalih Allah itu Mahahadir membenarkan kecaman mereka terhadap kita. Namun banyak di antara kita bisa bersaksi bahwa di dalam gereja tidak sama. Benar, di rumah kita masing-masing kita dapat membaca Alkitab dan berdoa, dan dengan itu kita pun mungkin beroleh anugerah dalam kadar tertentu. Akan tetapi anugerah yang sedemikan itu jika dibandingkan dengan yang kita peroleh di dalam gereja, tidaklah begitu manis, limpah, kuat, memberi inspirasi, dan memuaskan. Saya dapat bersaksi, tidak peduli suasana gereja tinggi atau rendah, kaya atau miskin, asalkan saya datang bersidang, saya selalu menikmati minyak urapan embun. Semakin sering saya datang bersidang, saya semakin terlindung di dalam anugerah Tuhan. Namun, orang-orang yang memisahkan diri dari hidup gereja, mereka telah memutuskan suplai yang serba lengkap dari anugerah itu. Jika tidak dirahmati Tuhan, tidak lama berselang, mungkin saja mereka akan sama sekali kembali ke dalam dunia.
Hendaklah kita selalu menghadiri sidang-sidang gereja, sekalipun seolah-olah sidangnya tidak sangat berlimpah. Asalkan kita hadir dalam sidang, kita akan terpelihara, sebab embun senantiasa turun di atas gunung-gunung Sion. Asalkan kita bersidang, kita akan berada di bawah pendirisan embun itu. Hal ini terbukti berulang-ulang dalam pengalaman kita.
MENGALAMI KEESAAN YANG SEJATI DAN MEMELIHARANYA
Keesaan yang kita bicarakan adalah minyak urapan mahal yang tertuang ke atas kepala Kristus, dan embun segar yang turun di atas gunung-gunung Sion. Memelihara keesaan ini atau menolaknya, perbedaannya sangatlah serius. Hari ini orang-orang Kristen yang mondar-mandir dengan bebas adalah karena mereka tidak nampak keesaan yang sejati ini. Mereka tidak memiliki unsur yang ditunjang dan dipelihara oleh keesaan itu. Dalam pemulihan Tuhan kita telah menerima petunjuk dari Tuhan bahwa keesaan sejati adalah perbauran antara Allah Tritunggal yang telah melalui proses dengan umat pilihan-Nya. Di satu aspek Allah yang telah melalui proses ini adalah Roh almuhit dan majemuk, yang mengurapi kita dari hari ke hari; di aspek lain, Allah yang telah melalui proses ini adalah suplai hayat untuk kenikmatan kita. Di bawah pengurapan minyak urapan dan pendirisan embun itu, kita telah mengalami keesaan yang sejati. Asalkan kita terpelihara dalam pengalaman minyak urapan dan embun ini, kita tidak mungkin terpecah-belah, melainkan akan terpelihara dalam keesaan. Inilah makna perkataan Paulus dalam Efesus 4:3 yang berbunyi “Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh.” Sebenarnya keesaan ini tidak lain adalah Roh pemberi-hayat yang almuhit itu sendiri. Melalui tetap tinggal di bawah minyak urapan dan embun, niscayalah kita akan mengayomi dan memelihara keesaan ini.