← Daftar isi Tumpuan Keesaan yang Sejati · bab 6/10

BERKAT HAYAT YANG TURUN KE ATAS TUMPUAN KEESAAN — MINYAK URAPAN DAN EMBUN (1)

Pembacaan Alkitab:

Mzm. 133:1-3; Yoh. 17:21-23; Ef. 3:16— 4:6; 1 Yoh. 2:27; 1 Ptr. 3:7

Kebenaran keesaan sangat besar dan dalam. Makna keesaan sejati yang diwahyukan dalam Alkitab jauh melebihi apa yang dapat kita mengerti. Karena keesaan yang diungkapkan Alkitab sulit dimengerti, maka dalam Yohanes 17 Tuhan Yesus tidak membicarakan hal tersebut dengan murid-murid-Nya, melainkan hanya mendoakan keesaan itu. Saya percaya Tuhan mengetahui bahwa murid-murid-Nya tidak dapat memahami ikhwal keesaan, karenanya Ia hanya berdoa bagi keesaan.

Yohanes 17 benar-benar merupakan satu pasal yang dalam, rohani, dan misterius. Pasal ini sendiri cukup membuktikan bahwa Alkitab adalah wahyu Allah. Di antara umat manusia tidak ada yang dapat mengarang sebuah karya tulis seperti Yohanes 17. Selama lima puluh tahun lebih yang lampau saya pernah berulang-ulang merenungkan pasal ini. Namun saya harus mengakui bahwa yang saya jamah hanya sekelumit kecil dari kebenaran yang ada di dalamnya.

SATU SAMA SEPERTI BAPA DAN ANAK

Ayat 21-23 boleh merupakan wakil dari kedalaman pasal ini. Dalam ayat 21 Tuhan berdoa, “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita . . .” Kesatuan (keesaan) apakah yang dikatakan dalam ayat ini? Apa artinya kita menjadi satu sama seperti Bapa di dalam Anak dan Anak di dalam Bapa? Kesatuan ini benar-benar melampaui apa yang mampu kita pahami. Dalam ayat 22 Tuhan berdoa: “Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” Apakah kemuliaan yang Bapa berikan kepada Anak, lalu diberikan juga kepada kita? Lagi pula, apa artinya kita menjadi satu sama seperti Bapa dan Anak adalah satu? Ada orang mengira bahwa kesatuan ini tak lain ialah tiadanya pertengkaran, perdebatan, dan perselisihan antara ketiga persona dari Sang Tritunggal ilahi itu. Menurut konsepsi demikian, menjadi satu berarti harmonis dan tidak ada persilangan pendapat. Mereka yang memahami ayat 22 dengan cara begitu akan berkata bahwa bila ada sekelompok orang beriman bisa tinggal bersama tanpa berdebat atau berselisih, maka mereka sudah menjadi satu sama seperti Bapa dan Anak adalah satu.

Pengertian kesatuan seperti di atas terlampau dangkal. Kesatuan di sini pasti tidak hanya mengacu kepada tinggal bersamanya satuan-satuan individual dalam keharmonisan dan kesepakatan. Tuhan berkata di sini bahwa Dia telah memberikan kepada kita kemuliaan yang Bapa berikan kepada-Nya, supaya kita menjadi satu di dalam Bapa dan Anak. Ini menunjukkan bahwa kesatuan semacam ini berada di dalam sifat ilahi dan hayat ilahi. Tiga dari Allah Tritunggal itu adalah esa dalam sifat dan hayat mereka.

Kesatuan (keesaan) di antara kaum beriman pada esensinya seharusnya juga demikian. Digunakannya istilah kemuliaan membuktikan ini. Karena kita telah menerima kemuliaan yang diterima Anak dari Bapa, maka kita boleh menjadi satu sama seperti Bapa dan Anak adalah satu. Hal ini menunjukkan bahwa kesatuan semacam ini tidak sekadar suatu pertambahan dari satuan-satuan individual, melainkan suatu kesatuan yang berkaitan dengan sifat dan hayat. Jika tidak, dalam ayat ini tidak perlu dipakai istilah kemuliaan. Kemuliaan adalah faktor dari keesaan semacam ini. Tuhan memberikan kemuliaan kepada kita dengan tujuan supaya kita menjadi satu, sama seperti Bapa dan Anak adalah satu. Jadi, kemuliaan Sang ilahi adalah faktor kesatuan di antara kaum beriman di dalam Kristus.

Ayat 23 mengatakan, “Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna . . .” Sekali lagi kita nampak bahwa ini bukan sekadar kesatuan pertambahan. Menjadi satunya semua orang beriman bukan hanya karena ditambahkan atau digabungkan. Dalam membahas kesatuan, ayat 23 bahkan lebih kuat dibandingkan dengan ayat 21 dan 22, sebab di situ dikatakan kita bisa menjadi satu dengan sempurna. Ini menunjukkan bahwa kita boleh menjadi satu, namun kesatuan kita mungkin baru dalam tahap permulaan, belum bertumbuh besar, dan belum mencapai kesempurnaannya.

Meskipun kita dapat menunjukkan beberapa hal tertentu dalam ayat ini, tetapi kita tetap tidak dapat memahaminya sepenuhnya. Tambahan pula, sekalipun kita berulang-ulang membaca beberapa ayat ini, sulit bagi kita untuk menerangkan titik utama dari masing-masing ayat tersebut. Ini menunjukkan bahwa kesatuan yang didoakan Tuhan dalam pasal ini benar-benar dalam dan jauh melampaui apa yang dapat kita pahami.

PERBAURAN ANTARA ALLAH TRITUNGGAL

DENGAN KAUM BERIMAN

Dalam Alkitab ada empat pasal besar yang membahas masalah keesaan: Ulangan 12, Mazmur 133, Yohanes 17, dan Efesus 4 dengan bagian belakang Efesus 3. Jika kita memisahkan Efesus 4:1-6 dengan 3:16-21, kita akan rugi besar dalam memahami potongan ayat tersebut. Namun jika semua ayat ini kita gabungkan menjadi satu unit, sangatlah berfaedah. Keesaan dalam Efesus 4:1-6 ada hubungan yang sangat erat dengan apa yang dibicarakan dalam 3:16-21. Dalam 3:16-21 Paulus berdoa kepada Bapa supaya Ia menguatkan dan meneguhkan kita oleh Roh-Nya di dalam manusia batiniah kita, supaya Kristus diam di dalam hati kita, supaya kita berakar dan berdasar di dalam kasih, dan berkekuatan memahami bersama semua orang saleh apa itu lebar, panjang, tinggi, dan dalam, dan dapat mengenal kasih Kristus yang melampaui segala pengetahuan, supaya kita menjadi segala kepenuhan Allah. Hasilnya, menurut kuasa yang bekerja di dalam kita, kemuliaan bagi Allah di dalam gereja dan di dalam Kristus. Dalam terang semua firman inilah, pada 4:1, Paulus memgumumkan: “Sebab itu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, menasihatkan kamu, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.” Dari konteksnya kita nampak dengan jelas bahwa yang menjadi titik berat hidup berpadanan dengan panggilan Tuhan mengacu kepada memelihara keesaan (kesatuan) di dalam roh. Dari ayat 4-6 Paulus menunjukkan lebih lanjut bahwa keesaan Roh itu pada hakikatnya adalah Allah Tritunggal itu sendiri. Paulus menyinggung Tubuh, juga satu roh, satu Tuhan, satu Allah, dan satu Bapa. Dengan menghubungkan Tubuh dengan Allah Tritunggal jelas menunjukkan bahwa keesaan sebenarnya adalah perbauran antara Allah Tritunggal dengan kaum beriman.

Dalam Efesus 3 Paulus menyinggung tiga dari Allah Tritunggal. Paulus berdoa kepada Bapa, melalui Roh-Nya, supaya semua orang beriman diteguhkan ke dalam roh manusia batiniah mereka, supaya Kristus diam di dalam hati mereka. Di sini ada Bapa, Roh Kristus (Anak). Kemudian dalam pasal 4 disinggung Roh Tuhan dan Bapa. Dia menghubungkan Allah Tritunggal dengan keesaan Roh itu dan Tubuh. Ini menunjukkan bahwa keesaan bukan suatu masalah pertambahan, melainkan masalah perbauran antara Allah Tritunggal dengan kaum beriman. Keesaan adalah berbaurnya Allah yang telah melalui proses dengan kaum beriman.

Dalam Alkitab banyak tempat yang menyinggung Allah Tritunggal, khususnya dalam Surat-surat Kiriman rasul, yang menunjukkan proses yang telah dilalui Allah. Dalam Perjanjian Baru Allah Tritunggal — Bapa, Anak, Roh — dengan jelas diwahyukan dalam kaitan inkarnasi, kehidupan insani, ketersaliban, dan kebangkitan Kristus. Dalam Matius 28:19 Tuhan berpesan kepada murid-murid agar menjadikan segala bangsa murid-Nya, dan membaptis mereka ke dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sebelum kebangkitan Kristus, Anda tidak dapat membaptis orang ke dalam nama Allah Tritunggal. Kecuali setelah Allah melalui proses inkarnasi, kehidupan insani, ketersaliban, dan kebangkitan Kristus, barulah orang-orang yang percaya dapat dibaptis ke dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dibaptis ke dalam nama Allah yang telah melalui proses ini berarti mengambil bagian dalam Allah yang telah melalui proses itu. Selain itu, dalam Surat Kiriman rasul kita nampak bahwa Allah Tritunggal yang telah melalui proses itu adalah untuk bagian dan kenikmatan kita. Jadi, akhirnya Allah Tritunggal berbaur dengan kita. Perbauran ini adalah keesaan.

Keesaan sebagai hasil pertambahan adalah yang sangat dangkal. Keesaan yang diwahyukan dalam Alkitab adalah perbauran antara Allah Tritunggal yang telah melalui proses dengan umat pilihan-Nya. Jika kita nampak hal ini, maka kita akan lebih mudah memahami doa tentang keesaan Tuhan dalam Yohanes 17. Keesaan dalam Yohanes 17 adalah perbauran antara sifat ilahi dan sifat insani. Akan tetapi, sifat ilahi di sini bukan yang ada pada mulanya, melainkan yang telah melalui proses inkarnasi, kehidupan insani, ketersaliban, dan kebangkitan. Setelah melalui proses sedemikian, maka Allah Tritunggal menjadi bagian dan kenikmatan kita. Sebagai Roh pemberi-hayat, Dia membaurkan diri-Nya dengan orang-orang yang beriman ke dalam Kristus.

Setelah memiliki konsepsi keesaan yang demikian, maka bolehlah kita kembali kepada Yohanes 17:21. Kita telah nampak di sini Tuhan berdoa: “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita.”Di sini Tuhan berkata bahwa Dia di dalam Bapa, Bapa di dalam Dia. Tak dapat disangsikan, ini menunjukkan perbauran antara Bapa dengan Anak. Perbauran ini adalah keesaan antara Bapa dan Anak. Keesaan antara Bapa dan Anak adalah Bapa di dalam Anak dan Anak di dalam Bapa. Tuhan berdoa supaya kita bisa menjadi esa sama seperti demikian, bahkan supaya kita bisa menjadi satu “di dalam Kita”, yakni di dalam Allah Tritunggal.

KEESAAN DI DALAM KEMULIAAN ILAHI

Dalam ayat 22 Tuhan berkata bahwa kemuliaan yang diberikan Bapa kepada-Nya telah diberikan-Nya kepada kaum beriman-Nya, “supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” Kemuliaan adalah ekspresi Allah, ekspresi ini telah diberikan kepada Anak. Bapa telah memberikan kemuliaan kepada Anak, supaya Anak mengekspresikan Dia di dalam hayat ilahi. Kini Anak memberikan kemuliaan itu kepada kita, supaya kita menjadi satu, sama seperti Bapa dan Anak adalah satu. Keesaan ini adalah keesaan di dalam kemuliaan ilahi, supaya Allah beroleh ekspresi korporat.

DISEMPURNAKAN MENJADI ESA

Ayat 23 Tuhan berdoa selanjutnya, “Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna.” Di sini kita nampak perbauran antara Allah yang telah melalui proses dengan kaum beriman. Kata “Aku”, “mereka”, dan “Engkau” dalam ayat ini masing-masing mengacu kepada Kristus, kaum beriman, dan Bapa. Anak di dalam kaum beriman, Bapa di dalam Anak. Ini adalah perbauran antara Allah dengan kaum beriman. Hasil dari perbauran ini ialah disatukannya kita dengan sempurna.

Boleh jadi Anda merasa heran apa artinya menjadi satu dengan sempurna. Pada hari kita beriman ke dalam Kristus, kita sudah masuk ke dalam keesaan itu. Namun insan alamiah kita, temperamen, dan watak alamiah kita masih bermasalah. Tetapi semakin kita mengalami Kristus sebagai Roh pemberi-hayat, maka semua unsur alamiah kita akan semakin berkurang. Begitu unsur-unsur itu berkurang melalui kita mengalami Allah Tritunggal, kita pun akan disempurnakan menjadi esa.

Kita semua harus mempunyai kesan yang dalam tentang fakta bahwa keesaan yang diwahyukan Alkitab bukanlah perkara pertambahan kaum beriman untuk membentuk suatu unit yang harmonis. Konsepsi demikian tentang keesaan adalah alamiah dan dangkal. Kita tegaskan sekali lagi: keesaan ini adalah perbauran antara Allah Tritunggal yang telah melalui proses dengan kaum beriman. Setelah nampak keesaan yang terwahyu dalam Yohanes 17 dan Efesus 4, marilah sekarang kita melihat Mazmur 133.

DUA ASPEK KEESAAN

Mazmur ini demikian dalamnya sehingga sulit dibicarakan. Ayat 1 mengatakan, “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dalam keesaan!” (Tl.). Perhatikan, pemazmur memakai dua kata sifat untuk melukiskan saudara-saudara diam bersama dalam keesaan. Katanya, alangkah baiknya dan indahnya. Digunakannya dua kata sifat dikarenakan pada kalimat berikutnya perihal diam bersama dalam keesaan itu diibaratkan dua benda: minyak urapan yang mahal di atas kepala Harun dan embun Hermon di gunung-gunung Sion. Kedua kata sifat itu menunjuk pada dua aspek dari keesaan, yakni baik dan indah. Baik seperti minyak urapan yang mahal dan indah seperti embun yang turun.

Aspek pertama dari kedua aspek — Harun — adalah satu manusia; aspek kedua — Sion, adalah satu tempat. Pernahkah Anda nampak kedua aspek dari gereja? Gereja di satu aspek adalah satu manusia, di aspek lain adalah satu tempat. Sebagai satu manusia, gereja mencakup kepala dan tubuh; sebagai satu tempat, gereja adalah kediaman Allah. Di lain tempat dalam Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa gereja adalah mempelai perempuan, manusia baru, dan laskar; semua itu adalah aspek gereja sebagai satu manusia. Sebenarnya gereja hanya mempunyai dua aspek utama: aspek satu manusia dan aspek satu kediaman. Yang berkaitan dengan kedua aspek ini ialah minyak urapan dan embun.

PENYEBARAN MINYAK URAPAN DAN TURUNNYA EMBUN

Minyak urapan yang dimaksud dalam ayat 2 mengacu kepada minyak urapan kudus dalam Keluaran 30. Minyak urapan ini adalah sejenis minyak urapan majemuk, yang terbuat dari minyak zaitun yang dicampur dengan empat macam rempah-rempah. Harun, anak-anaknya, Kemah Pertemuan, dan setiap benda yang berkaitan dengan Kemah Pertemuan harus dioles dengan minyak urapan ini. Menurut Mazmur 133, minyak urapan kudus ini dituangkan ke atas kepala seorang, yakni Harun. Berbeda kontras dengan hal itu, embun yang segar dan mendiris itu turun di satu tempat, yakni di Gunung Sion.

Baik minyak urapan maupun embun tidak mengalir dengan cepat. Embun tidak menetes turun seperti hujan, melainkan turun perlahan-lahan. Demikian pula minyak urapan di atas kepala Harun bukan dengan deras mengalir ke janggutnya, melainkan menyebar dengan lambat dan lembut, kemudian menyebar lagi ke leher jubahnya. Keesaan sejati terbentuk dari minyak urapan yang tersebar dan embun yang turun.

DIURAPI DENGAN ALLAH TRITUNGGAL YANG TELAH MELALUI PROSES

Kita telah menegaskan dengan khusus bahwa keesaan yang sejati adalah perbauran antara Allah yang telah melalui proses dengan kaum beriman. Walau hal ini diwahyukan dalam Perjanjian Baru, namun dalam Perjanjian Baru kita tidak nampak cara untuk mempraktekkan keesaan ini. Cara mempraktekkan perbauran ini terdapat dalam Mazmur 133. Minyak urapan mahal dalam ayat 2 melambangkan bahwa hari ini Allah Tritunggal yang telah melalui proses adalah Roh majemuk yang almuhit. Menurut Keluaran 30, minyak urapan ini terbuat dari minyak zaitun satu hin yang dicampur dengan empat macam rempah-rempah. Ramuan majemuk ini melambangkan Roh almuhit (yaitu Allah yang telah melalui proses) untuk menjadi kenikmatan kita. Dalam Roh majemuk ini tidak hanya ada sifat ilahi, tetapi juga ada sifat insani Kristus, khasiat kematian Kristus, dan kuasa kebangkitan Kristus. Dalam hidup gereja, Roh majemuk ini sedang mengurapi kita secara berkesinambungan.

Minyak urapan bisa diibaratkan seperti cat, dan pengurapannya ibarat pengecatan. Ketika Anda mengecat sebuah kursi, Anda bisa mengoleskan cat itu selapis demi selapis ke atasnya. Ketika Roh majemuk mengurapi kita, Ia pun seolah mengecat kita dengan “cat” Allah Tritunggal. Di dalam “cat” ini terkandung sifat insani Kristus, khasiat kematian Kristus, dan kuasa kebangkitan Kristus. Selain itu, terdapat pula sifat ilahi dan insani Kristus. Ketika unsur-unsur minyak urapan ini terterap ke atas kita, maka kita pun akan “tercat” oleh Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan oleh semua unsur yang ada dalam minyak urapan majemuk itu. Hidup gereja yang wajar adalah sejenis kehidupan yang di dalam keesaan, keesaan ini adalah perbauran antara Allah Tritunggal yang telah melalui proses dengan kaum beriman. Ketika kita tinggal di dalam keesaan ini, kita akan “dicat” dengan minyak urapan. Semakin kita terurap sedemikian, temperamen alamiah dan watak pribadi kita akan semakin terkikis, dan yang tertinggal ialah perbauran Allah Tritunggal yang telah melalui proses dengan sifat insani kita yang ditinggikan. Inilah keesaan.

Di dalam keesaan yang demikian tidak mungkin ada perpecahan, perselisihan pun tidak ada. Di dalam keesaan ini sama sekali tidak ada kedudukan lagi bagi opini kita. Walau kita perlu lebih banyak mengalami “pengecatan” ilahi yang membawa kita ke dalam keesaan, tetapi sedikit banyak kita telah memiliki pengalaman ini di dalam hidup gereja. Setidak-tidaknya, pada tingkat tertentu, kita semua telah memasuki keesaan ini.

Dulu ketika kita berada di denominasi atau kelompok bebas, kita mudah sekali mempunyai opini atau berpola kritis. Namun di dalam gereja, unsur beda pendapat dan faktor perpecahan itu telah ditaklukkan. Ini adalah hasil keesaan. Semakin kita membiarkan Allah Tritunggal yang telah melalui proses itu “mengecat” diri kita, semakin sulitlah bagi kita untuk terpecah-belah. Melalui penerapan “cat” surgawi kita akan dibawa ke dalam keesaan yang sejati, bukan keesaan dangkal yang menurut konsepsi alamiah. Kita berada di dalam keesaan, dan keesaan ini adalah “pengecatan” Allah Tritunggal yang telah melalui proses ke dalam seluruh insan kita.

Seperti telah kita tunjukkan, minyak urapan ini, “cat” ilahi ini, tidak mengalir ke bawah dengan cepat, melainkan menyebar. Ketika saya mengecat rumah saya, saya ingin cat itu agak lengket, tidak dengan cat yang seperti air yang langsung mengalir ke bawah dinding. Ketika minyak urapan terterap pada diri kita, ia pun melekat di batin kita, tidak mengalir habis. Minyak urapan yang mengalir terlalu cepat itu akan seperti pengalaman aliran Pentakosta atau karismatik. Pengalaman semacam itu berlalu dengan cepat sekali. Namun, dalam hidup gereja, berkat rohani datang ke atas kita dengan berangsur-angsur, perlahan-lahan dan dengan lembut. Namun begitu ia datang, ia akan tinggal tetap. Begitu “cat” itu teroles pada diri kita, ia akan melekat terus, bahkan melekat sampai selamanya, apa pun tak berdaya menghapusnya.

Pengolesan minyak urapan tidak memberi seberapa perasaan pada emosi kita. Pengalaman yang datang dan pergi dengan cepat itu mudah merangsang emosi kita, namun itu bukan pengalaman normal dalam hidup gereja. Di dalam hidup gereja kita mengalami minyak urapan almuhit yang menyebar secara berangsur-angsur. Misalkan dalam sidang doa gereja kita boleh mengalami “pengurapan cat” selapis demi selapis, tetapi saat itu tidak seberapa terasa. Telah kita tunjukkan bahwa banyak unsur yang terkandung dalam minyak urapan itu. Untuk pemulihan Tuhan kita sungguh bersyukur kepada Tuhan! Dalam hidup gereja, dari hari ke hari, semua unsur minyak urapan tergarap ke dalam kita. Dengan menerapkan unsur-unsur itu ke dalam kita, dengan sendirinya kita akan berada di dalam keesaan. Dengan demikian sangat sulit bagi kita untuk menimbulkan perpecahan atau perselisihan. Keesaan dalam gereja sangatlah baik, indah, dan nikmat! Jika kita disuruh melakukan perpecahan, itu perlu membuat tekad keras yang bertentangan dengan insan batiniah kita. Kita esa secara spontan sebab kita telah “dicat” dengan segala unsur “cat” surgawi.

PENERAPAN ALLAH TRITUNGGAL

YANG TELAH MELALUI PROSES PADA DIRI KITA

Tumpuan keesaan tak lain ialah terterapnya Allah Tritunggal yang telah melalui proses ke atas diri kita. Hari ini kita justru berada di dalam keesaan yang demikian. Kita bukan berada di dalam keesaan hasil pertambahan orang-orang beriman dalam Kristus. Keesaan macam itu mudah ditambah pun mudah dikurangi. Namun keesaan kita adalah hasil dari terterapnya Allah Tritunggal yang telah melalui proses ke atas diri kita, karenanya sangat sulit untuk dikurangi. Keesaan ini sama sekali berbeda dengan persatuan yang dilakukan kekristenan hari ini. Persatuan kekristenan adakalanya bertambah, adakalanya berkurang. Tetapi keesaan dalam gereja pemulihan mencakup penerapan Allah Tritunggal ke dalam kita.

UNTUK KEPALA BERSAMA DENGAN TUBUH

Minyak urapan bukan untuk perorangan, melainkan untuk Tubuh. Setiap hal yang terpisah dan terlepas dari Tubuh, mustahil dapat mengalami urapan minyak. Berdasarkan lukisan dalam Mazmur 133, minyak urapan berada di atas kepala Harun, kemudian meleleh ke janggut, terakhir meleleh ke leher jubah. Ini menunjukkan bila kita menyendiri, mustahillah kita mengalami minyak urapan. Ada orang akan membantah dengan mengatakan bahwa mereka pun bisa bersekutu dengan Tuhan seorang diri di rumah. Sudah pasti mereka bisa. Namun masalah utamanya ialah apakah kita bersatu dengan gereja. Jika kita dengan gereja esa, tentu saja kita dapat bersekutu dengan Tuhan secara wajar. Akan tetapi kalau kita meninggalkan gereja, persekutuan kita dengan Tuhan akan berbeda sama sekali. Sebab pengurapan minyak urapan bukan untuk anggota secara perorangan, melainkan untuk kepala dan Tubuh, bahkan untuk kepala bersama dengan Tubuh. Karena itu, jika kita ingin “dicat” oleh minyak urapan, wajiblah kita berada di dalam gereja. Dengan demikian dengan sendirinya kita akan menikmati minyak urapan dengan pengurapan berbagai unsur di dalamnya. Betapa ajaibnya keesaan yang dihasilkan oleh penerapan minyak urapan ini!

ANUGERAH — ALLAH TRITUNGGAL SEBAGAI

SUPLAI HAYAT KITA UNTUK KENIKMATAN KITA

Berdasarkan Mazmur 133:3, keesaan juga ibarat embun yang turun di atas gunung-gunung Sion. Memang minyak urapan berada di atas kepala Harun secara pribadi, namun embun turun di sebuah tempat — Sion. Embun melambangkan anugerah hayat (1 Ptr. 3:7). Anugerah hayat itulah suplai hayat. Dalam hidup gereja, kita tidak hanya ada di bawah minyak urapan, kita pun menerima suplai hayat, anugerah hayat. Ketika kita terurap oleh minyak urapan, kita pun menerima anugerah.

Misalkan, di antara dua orang saudara yang tinggal bersama di perumahan saudara timbul masalah. Namun melalui kenikmatan dalam hidup gereja, mereka berdua telah menerima anugerah, yakni menerima suplai hayat. Dengan sendirinya mereka tidak hanya ingin saling memaafkan, bahkan bisa saling mengasihi dengan sesungguhnya. Itulah pengalaman embun, anugerah.

Rasul Paulus pernah mengalami anugerah Tuhan dengan limpah. Dia berdoa tiga kali, mohon Tuhan mengambil “duri” yang membuatnya sengsara. Tetapi jawab Tuhan bahwa anugerah-Nya cukup baginya. Kata-kata itu menunjukkan bahwa Tuhan tidak mau mengambil duri itu, namun Tuhan akan menyuplainya dengan anugerah yang cukup baginya.

Dalam 2 Korintus 13:13 Paulus memberkati gereja dengan kata-kata demikian: “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Ayat ini menunjukkan bahwa anugerah adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi suplai hayat kita. Minyak urapan melambangkan Allah Tritunggal yang telah melalui proses “dicat” ke dalam kita, sedangkan embun melambangkan Allah Tritunggal menjadi suplai hayat kita, untuk kenikmatan kita. Karena itu, dalam hidup gereja kita setiap hari menerima minyak urapan dan anugerah. Kita telah “dicat” oleh Allah Tritunggal yang telah melalui proses, pun telah menerima anugerah Allah yang telah melalui proses, memperoleh Dia sebagai suplai hayat. Pengurapan minyak urapan dan suplai hayat memungkinkan kita hidup di dalam keesaan. Mazmur 133 mengatakan keesaan ini ibarat minyak urapan yang mahal dan embun yang turun. Di bawah pengurapan minyak urapan dan embun yang turun ini kita mengalami berkat hayat di atas tumpuan keesaan.