← Daftar isi Tumpuan Keesaan yang Sejati · bab 5/10

MENIKMATI KRISTUS BERSAMA DENGAN ALLAH PADA TUMPUAN KEESAAN

Pembacaan Alkitab:

Ul. 12:5-7, 13-14, 17-18; 1 Tim. 3:15b-16a; Ibr. 10:25;

Mzm. 23:6; 27:4; 36:9-10; 42:5; 43:3-4; 66:13, 15;

84:2-9, 11-13; 92:11, 14-15; 133:1-3

Kitab Ulangan 12 adalah satu pasal yang kaya. Menurut ayat 2 dan 3, orang Israel harus memusnahkan pusatpusat penyembahan, berhala-berhala, patung-patung, dan nama-nama itu. Berhala-berhala tidak saja terdapat pada pusat-pusat penyembahan agama kafir, juga terdapat pada kekristenan yang telah jatuh. Jika kita menerima terang melalui potongan firman ini, secara rohani kita pun akan memusnahkan segala tempat, berhala, dan nama itu.

Pusat penyembahan agama kafir lazimnya berlokasi di gunung-gunung atau bukit-bukit atau di bawah pohon rindang (Ul. 12:2). Gunung-gunung dan bukit-bukit melambangkan ditinggikannya sesuatu selain diri Kristus, dan pohon-pohon rindang melambangkan sesuatu yang indah dan menarik. Berbagai pusat penyembahan dalam kekristenan hari ini telah meninggikan sesuatu selain diri Kristus. Pada prinsipnya, pusat-pusat penyembahan itu berada di atas gunung-gunung atau bukit-bukit, di tempat-tempat tinggi. Namun, umat Allah harus pergi ke Bukit Sion, tempat unik pilihan Allah bagi penyembahan korporat. Penyembahan di tempat-tempat tinggi itu merupakan faktor tercerai-berainya bangsa Israel.

Pada prinsipnya, kita harus memusnahkan semua tempat itu, berhala-berhala, dan nama-nama. Bertindak demikian berarti melakukan perkara yang benar dalam pandangan Allah. Tetapi jika kita mempertahankan pilihan kita sendiri, itu berarti melakukan sesuatu yang baik dalam pandangan kita sendiri. Kita harus takut kepada Tuhan dan pergi ke tempat yang telah dipilih Allah.

JALAN PERPECAHAN

Kekristenan telah mengikuti dunia, yaitu menggunakan jalan perpecahan. Mulai dari Babel, umat manusia di dunia telah tercerai-berai. Alasan perpecahan itu ialah karena masing-masing mempertahankan pilihan dan kesukaannya sendiri. Karena itulah masyarakat manusia hari ini sama sekali telah tercerai-berai. Gereja harus berbeda. Sebagai tempat unik pilihan Allah, gereja tidak seharusnya ada perpecahan. Ini berarti gereja tidak seharusnya mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa atau praktek-praktek agama kafir dalam masyarakat manusia. Namun, sejak abad kedua, gereja telah terpecah-belah karena opini-opini tentang persona Kristus. Berbagai aliran tentang Kristologi, yakni penyelidikan tentang persona Kristus, telah menjadi “gunung-gunung” dan “bukit-bukit”. Karena itu, gereja tidak saja terpecahbelah karena perkara-perkara yang jahat, juga karena perkara-perkara yang baik, bahkan karena pandangan atau pendapat terhadap Kristus.

Seperti kita semua ketahui, dalam beberapa abad setelah reformasi, kekristenan telah memiliki ratusan perpecahan (sekte). Sesudah Perang Dunia ke-2, kelompok-kelompok independen mulai berkembang di seluruh Amerika Serikat. Pada tahun 1963 ada orang memberi tahu saya bahwa di California Selatan saja terdapat lebih dari seribu kelompok semacam itu. Dari sejarah kekristenan terbukti bahwa aspek yang paling mencolok dari kekristenan dalam hal mengikuti dunia ialah berpecah-belah. Praktek agama kafir yang berpecah-belah menuruti pilihan, selera, dan kesenangan diri sendiri telah menjadi pemandangan umum dalam kekristenan hari ini. Sekalipun kita hanya memiliki pikiran perpecahan saja, itu sudah berarti menempuh jalan sistem agama kafir, yaitu praktek berpecah-belah dari kebiasaan bangsa-bangsa.

Ketika orang Israel memasuki tanah permai, pusat penyembahan kafir terdapat di mana-mana. Di beberapa tempat ada mezbah-mezbah, di tempat-tempat lain ada patungpatung berhala, dan di tempat-tempat lain lagi ada arcaarca ukiran dari dewa dewi kafir. Tanah Kanaan penuh dengan berhala. Karena itu, Allah berpesan kepada orang Israel supaya memusnahkan berhala-berhala itu dan pergi ke tempat unik yang dipilih Allah. Pada prinsipnya, kita hari ini pun harus berbuat hal yang serupa.

Hari ini banyak orang Kristen yang mencari apa yang disebut “gereja” sama seperti orang ingin membeli sepatu di toko. Mereka mencari dari satu toko ke toko lain untuk mendapatkan sepasang sepatu yang cocok dengan seleranya sendiri. Ada orang-orang Kristen yang telah menggunakan beberapa tahun lamanya pergi dari satu tempat kebaktian ke tempat kebaktian lain demi mencari satu tempat yang sesuai dengan selera mereka dan yang dapat memuaskan keinginan mereka. Orang Kristen semacam ini dapat disebut “wisatawan” gereja. Sebelum saya masuk ke dalam hidup gereja, saya juga dalam taraf tertentu, melakukan wisata semacam itu. Tetapi ketika saya datang ke gereja dalam pemulihan Tuhan, berakhirlah wisata saya. Saya tahu bahwa saya telah tiba di tempat pilihan Allah.

Ulangan 12:5 mengatakan, “Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi.” Setelah orang Israel masuk ke tanah permai, mereka tidak diizinkan meniru perbuatan bangsa-bangsa. Mereka tidak boleh memilih menurut kemauan sendiri, mereka hanya boleh pergi ke tempat unik yang dipilihkan Allah. Dari kitab Perjanjian Lama lainnya kita melihat bahwa tempat unik ini tidak lain adalah Bukit Sion Yerusalem, Bait Allah, tempat kediaman yang dibangun Allah.

KONSEPSI ALLAH TERHADAP PENYEMBAHAN

Di tempat pilihan Allah itulah umat Israel makan di hadapan Tuhan sambil bersukaria (Ul. 12:7). Tidak ada satu tempat pun dalam Kitab Ulangan yang mengatakan bahwa umat Allah pergi ke tempat unik itu hanya “menyembah” Allah saja. Tentu saja mereka memang berharap untuk menyembah Allah di tempat pilihan Tuhan itu. Namun tidak menurut konsepsi mereka sendiri, melainkan menurut konsepsi Allah. Menurut konsepsi alamiah manusia, menyembah Allah itu harus bersujud, membungkukkan badan, atau meniarapkan diri di hadapan Allah. Praktek demikian dilakukan oleh pemeluk agama tertentu di tempat sembahyang mereka. Suatu saat saya pernah mengunjungi sebuah tempat tersebut di waktu mereka melakukan penyembahan. Saya perhatikan bahwa orang-orang yang sembahyang itu tidak menampakkan perasaan yang nikmat, dan banyak di antara penyembah-penyembah itu kelihatannya lebih tua dari usianya sendiri. Penyembahan yang dikatakan dalam Ulangan 12 bukanlah bersujud, membungkukkan badan, atau bertiarap di hadapan Tuhan. Berdasarkan pasal ini, menyembah Tuhan adalah makan di hadapan-Nya. Umat Allah datang ke tempat pilihan Allah harus memakan kurban persembahan yang terbaik itu di hadapan Allah.

Demikian dikatakan Ulangan 12:6, “Ke sanalah harus kamu bawa kurban bakaran dan kurban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu, kurban nazarmu dan kurban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu.” Hasil yang terbaik dari tanah permai itu harus dibawa ke tempat pilihan Allah, lalu dimakan di hadapan Allah. Orang Israel harus menyimpan sepersepuluh dari hasil bumi yang terbaik, untuk dibawa ke tempat pilihan Allah; juga harus menyimpan anak-anak sulung sapi dan kambing domba mereka. Kemudian, tiga kali setahun, yakni pada hari raya Roti Tidak Beragi, hari raya Tujuh Minggu, dan hari raya Pondok Daun, barangbarang itu dibawa ke Yerusalem, Bait Allah, lalu dimakan, dinikmati di hadapan Allah. Mereka tidak diizinkan menikmati bagian yang khusus itu di rumah masing-masing, hanya boleh menikmati di tempat yang telah ditetapkan Allah pada hari-hari raya tersebut. Mereka memakan kurban-kurban persembahan itu, itulah yang disebut menyembah Allah. Setelah kurban-kurban persepuluhan dan kurban-kurban lainnya dibawa ke tempat yang telah ditetapkan dan setelah dipersembahkan di atas mezbah, maka kurban-kurban tersebut mereka makan bersama. Sebagian di antaranya bagi Allah, sebagian bagi para imam, dan sebagian lainnya bagi orang-orang yang mempersembahkan. Jadi, umat Allah menikmati hasil tanah permai adalah di hadapan Allah dan menikmati bersama Allah. Inilah penyembahan yang sejati terhadap Allah.

Pernahkah Anda berpikiran bahwa inilah penyembahan yang dikehendaki Allah? Ulangan 12 tidak menyinggung soal berkidung atau berdoa. Berdasarkan ayat-ayat itu, penyembahan yang tepat ialah memakan hasil tanah permai di hadapan Allah. Tanah permai melambangkan Kristus, hasil yang kaya melambangkan kekayaan Kristus. Maka penyembahan yang dikehendaki Allah ialah memakan dan menikmati kekayaan Kristus di hadapan Allah. Secara rohani, kita semua harus membuat “berat badan” kita bertambah-tambah karena lebih banyak memakan Kristus. Fokus Kitab Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan ialah makan Kristus. Jika kita tidak makan Kristus, kita tidak dapat menyembah Allah. Penyembahan yang dikehendaki Allah berkaitan dengan kenikmatan atas Kristus. Kurban persembahan yang berbeda-beda dalam Kitab Ulangan 12 melambangkan Kristus sebagai kenikmatan kita dalam aspek yang berbeda-beda. Kiranya kita semua terkesan dengan fakta bahwa penyembahan yang wajar adalah perkara makan dari hasil tanah permai, yaitu perkara menikmati kekayaan Kristus bersama Allah dan di hadapan Allah, di tempat yang dipilih Allah.

Dalam penempuhan sejarah kekristenan, penyembahan semacam ini telah hilang. Namun saya memiliki keyakinan penuh bahwa Tuhan kini sedang memulihkan penyembahan semacam ini. Di dalam gereja, Ia sedang membawa kita kembali ke penyembahan sejati ini, yakni kembali ke kenikmatan atas Kristus di tempat unik pilihan Allah. Di hadapan Allah dan bersama dengan Allah kita menikmati Kristus di atas tumpuan keesaan. Terpujilah Dia atas hal memakan dan menikmati kekayaan Kristus!

MAKAN DAN BERSUKARIA

Ulangan 12:7 juga mengatakan, “Di sanalah kamu makan di hadapan TUHAN, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh TUHAN, Allahmu.” Ini menunjukkan bahwa orang Israel tidak hanya makan di hadapan Tuhan, mereka pun bersukaria di hadapan-Nya. Makan dan bersukaria selalu bergandengan. Ketika orang Israel menikmati hasil tanah permai di hadapan Allah, sudah tentu mereka bersukaria. Tanpa kekayaan Tanah Kanaan, mereka tidak mungkin ada makanan, juga tidak mungkin ada sukaria. Jadi, makan dan sukaria berasal dari kekayaan itu. Sering kali kita diundang menghadiri pesta makan, ketika makanan sudah diletakkan di atas meja, kita tentu sangat gembira. Seprinsip dengan itu, kekayaan Kristus adalah alasan dan faktor sukaria kita di tempat pilihan Allah.

EMPAT CIRI KHAS DALAM HIDUP GEREJA YANG WAJAR

Dalam bab di depan telah kita tunjukkan empat ciri khas dalam hidup gereja yang wajar: nama, tempat kediaman, kenikmatan, dan sukaria. Berbicara tentang gereja sebagai tempat kediaman Allah itu berarti kehadiran Allah ada di dalam gereja. Allah bukan hanya datang melihat gereja sebentar, atau singgah sebentar, ibarat orang tinggal di sebuah hotel. Karena gereja adalah Bait Allah yang hidup, sudah tentu ia adalah rumah Allah, kediaman Allah. Karena itu, penyertaan Allah ada di dalam gereja. Di dalam gereja kita menikmati kekayaan Kristus bahkan bersukaria di dalam Tuhan. Itulah hidup gereja yang wajar, sejati, dan normal. Di sini kita ada nama Tuhan dan penyertaan-Nya. Kita datang ke gereja untuk menjumpai dan menikmati penyertaan-Nya. Di sini kita bersama-sama Allah menikmati kekayaan Kristus. Ketika kita menikmati kekayaankekayaan ini, kita pun bersukaria di dalam Tuhan.

Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa dulu kita di tempat lain tidak beroleh realitas nama Tuhan dan penyertaan Tuhan. Bahkan kita tidak menikmati kekayaan dan sukaria dari Kristus. Keempat ciri khas dari hidup gereja yang wajar ini hampir-hampir tidak kita dapati di dalam kebanyakan pusat penyembahan Kristen hari ini. Dipandang dari luar, di tempat-tempat itu mungkin masih ada nama Kristus, tetapi pada hakikatnya tidak ada realitas nama Tuhan. Di tempat-tempat itu juga tidak ada penyertaan Tuhan. Hal ini juga ditekankan A.W. Tozer dalam bukunya yang berjudul: “The Waning Authority of Christ in the Churches”. Kita pun dapat bersaksi melalui pengalaman kita bahwa di banyak pusat penyembahan kristiani tidak ada kenikmatan terhadap Kristus, juga tidak ada sukaria yang berasal dari kenikmatan ini. Akan tetapi, di tempat pilihan Allah, yakni di dalam gereja, kita memiliki nama Tuhan, penyertaan Tuhan, kenikmatan atas kekayaan Kristus, dan sukaria di dalam Tuhan.

TINGGAL DALAM BAIT ALLAH

Dalam Kitab Mazmur kita nampak bagaimana kaum saleh Perjanjian Lama menikmati Tuhan di tempat unik pilihan Allah. Baiklah sekarang kita memeriksa beberapa ayat Alkitab untuk membuktikan kenikmatan semacam ini. Dalam ayat-ayat ini kita melihat bagaimana umat Allah menyembah Allah melalui hasil-hasil yang kaya dari tanah permai di hadapan Allah. Kaum saleh sebermula itu benarbenar bersama dengan Allah menikmati Kristus di tempat unik pilihan Allah. Kita akan meninjau ayat-ayat yang menonjol dalam Kitab Mazmur yang membahas menikmati kekayaan tanah permai di tempat pilihan Allah itu.

Dalam Mazmur 23:6 dikatakan demikian, “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” Orang Kristen pada umumnya menyukai Mazmur 23, karena mazmur ini mengatakan bahwa Tuhan adalah gembala kita. Namun sasaran akhir dari penggembalaan Tuhan terhadap kita adalah rumah Allah. Berdasarkan ayat ini, Tuhan memimpin kita dari satu pos ke pos lainnya, terus hingga kita masuk ke dalam rumah-Nya. Dia membaringkan kita di padang yang berumput hijau, membimbing kita ke air yang tenang, menuntun kita di jalan yang benar, Dia membawa kita berjalan melewati lembah kekelaman, kemudian memimpin kita ke medan perang, dan terakhir membawa kita tinggal di dalam Bait-Nya. Setelah kita berada di rumah Tuhan, barulah ada kebajikan dan kemurahan dalam seumur hidup kita. Kita tidak seharusnya hanya melihat-lihat sebentar di rumah Allah, melainkan kita harus menghabiskan “seumur hidup” kita tinggal di rumah Allah, yakni tinggal sampai selama-lamanya.

Dalam ayat 6 terdapat konstruksi paralel. Di satu pihak kebajikan dan kemurahan akan mengikuti kita seumur hidup kita, di pihak lain kita akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa. Seumur hidup adalah paralel dengan sepanjang masa, ini menunjukkan bahwa asalkan kita diam di rumah Tuhan, maka kebajikan dan kemurahan pasti akan mengikuti kita. Jika kita ingin mengambil bagian dalam kebajikan dan kemurahan Tuhan, perlulah kita diam di dalam rumah-Nya. Tempat kediaman-Nya hari ini adalah gereja. Di luar gereja, mustahillah kita dapat menikmati kebajikan dan kemurahan Tuhan. Namun, di dalam gereja, kita akan menikmati kebajikan dan kemurahan Tuhan seumur hidup kita.

SEBUAH KEINGINAN

Mazmur 27:4 mengatakan, “Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan (keindahan, kemuliaan) TUHAN dan menikmati (bertanya dalam) bait-Nya.” Di sini kita nampak pemazmur mempunyai sebuah keinginan, yakni diam dalam rumah Tuhan seumur hidup. Rumah Tuhan hari ini adalah gereja. Jika kita juga seperti pemazmur, kita akan ingin diam dalam gereja seumur hidup kita. Di dalam gereja, kita memandang keindahan dan kemuliaan-Nya, yakni penyertaan-Nya. Selain itu, kita juga akan bertanya di rumah Allah. Kita tidak berdoa menurut maksud diri sendiri, melainkan bertanya apa kehendak-Nya, mencari maksud hati-Nya. Jika kita ingin memandang keindahan dan kemuliaan Tuhan dan bertanya di dalam rumah-Nya, haruslah kita tinggal di rumah Tuhan, yakni di dalam gereja.

MENIKMATI KEKAYAAN KRISTUS

Mazmur 36:9 mengatakan, “Mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu.” Lemak di rumah Tuhan secara perlambangan mengacu kepada hasil tanah permai yang kaya melimpah. Segala kekayaan yang dipersembahkan di Bait Allah akan menjadi lemak dalam rumah Tuhan. Lambang ini tergenap pada diri Kristus, Dialah realitas dari lemak di rumah Allah itu. Umat Allah Perjanjian Lama hanya bisa menikmati lemak-lemak tersebut di tempat kediaman pilihan Allah. Karena itu, pemazmur mengumumkan bahwa umat Allah akan dikenyangkan dengan lemak di rumah Allah.

Ayat ini juga mengatakan, “Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu.” Ketika kita menikmati lemak di rumah Tuhan, kita pun minum air sungai kesenangan Tuhan. Bagi orang-orang yang datang ke tempat pilihan Allah, kesenangan semacam ini adalah sebatang sungai kesenangan. Kesenangan ini berasal dari kenikmatan atas lemak di rumah Tuhan. Karena itu, di dalam rumah Tuhan, ketika kita minum air sungai kesenangan, kita akan dipenuhi sukacita.

Ayat 10 melanjutkan, “Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.” Dalam ayat-ayat ini ada lemak, kesenangan, hayat, dan terang. Kita tidak hanya menikmati sungai, juga menikmati sumber. Di dalam rumah Allah — gereja —, kenikmatan yang kaya melimpah menjadi milik kita. Di dalam gereja kita akan puas karena kekayaan Kristus, dan akan dipenuhi dengan kesenangan dan sukacita. Pula ada sebatang sungai kesenangan untuk kita minum. Tidak hanya demikian, masih ada sumber hayat. Hayat ini bahkan menjadi terang, sehingga kita beroleh terang dalam terang-Nya.

Pengalaman kita terhadap kekayaan Kristus akan menjadi penyembahan kita yang sejati terhadap Allah. Penyembahan semacam ini adalah unsur dasar hidup gereja. Hidup gereja mencakup penyembahan yang berasal dari kenikmatan atas Kristus. Kenikmatan demikian akan membuat kita penuh dengan kesenangan dan sukacita; dan kesenangan demikian akan menjadi sebatang sungai untuk kita minum. Akhirnya, kita akan tiba pada sumber hayat, dan melihat terang dalam terang Tuhan. Di sini tidak ada kegelapan, maut, kelemahan, dan kehampaan; kita akan menikmati hayat dan terang karena minum sukacita Tuhan, dan karenanya kita merasa gembira dan puas. Penyembahan yang dihasilkan dari kenikmatan yang sedemikian inilah yang menjadi penyembahan yang dikehendaki Allah hari ini. Kenikmatan dan penyembahan sedemikian inilah yang membentuk hidup gereja yang wajar dan normal. Walaupun penyembahan yang demikian belum dimengerti oleh kekristenan, namun Tuhan sedang memulihkan penyembahan ini dalam hidup gereja dewasa ini.

BERSAMA DENGAN SEMUA ORANG PERGI KE RUMAH ALLAH

Pemazmur berkata dalam Mazmur 42:5, “Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan.” Di sini pemazmur mengenangkan betapa nikmatnya bersama dengan orang banyak menuju ke rumah Allah. Ia teringat betapa mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur ketika mengadakan perayaan bersama. Perkataan ini diucapkan pemazmur ketika ia ditawan dan kehilangan kenikmatan rumah Allah. Begitu teringat akan hal ini, jiwanya menjadi gundah gulana.

Ayat ini seperti sebuah jendela yang melaluinya kita dapat membayangkan betapa kaum saleh sebermula menikmati hasil tanah permai di rumah Allah. Dengan suara soraksorai dan nyanyian syukur mereka datang ke hadapan Allah di rumah Allah. Mereka menikmati hasil yang terbaik dari tanah permai di hadapan Tuhan. Pada prinsipnya, ini justru adalah pengalaman kita dalam menempuh hidup gereja pada hari ini. Kita bersama orang banyak mengadakan perayaan, untuk menikmati Kristus. Setiap kali kita hadir dalam sidang gereja menikmati kekayaan perjamuan Kristus, itu berarti kita sedang mengadakan perayaan. Di rumah Tuhan ini kita benar-benar menikmati Kristus bersama dengan Allah.

TERANG DAN KEBENARAN

Mazmur 43:3 mengatakan, “Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu!” Terang dan kebenaran bukan dua perkara yang terpisah, melainkan dua aspek dari satu perkara yang sama. Kita telah menunjukkan di tempat lain bahwa pada Injil Yohanes ada anugerah (kasih karunia) dan kebenaran, tetapi dalam Surat Yohanes ada kasih dan terang. Kebenaran itulah pancaran dari terang. Ketika terang menyoroti kita, kita akan menerima kebenaran, realitas. Namun, ketika kita bersekutu dengan Allah, kita berada di dalam terang. Karena itu, pada aspek kita itulah kebenaran, sedangkan pada aspek Allah itulah terang. Berdasarkan Mazmur 43:3, kita perlu ada terang ditambah dengan kebenaran.

Ayat di atas menunjukkan bahwa terang dan kebenaran itu membawa kita ke gunung kudus Tuhan, ke kemah-Nya, yakni rumah-Nya. Dari hari ke hari kita menerima pimpinan dari terang dan kebenaran yang bersumber dari Allah. Dalam 1 Timotius 3:15-16 kita nampak gereja, rumah Allah yang hidup, adalah tiang penopang dan dasar kebenaran. Ini menunjukkan bahwa di dalam gereja, rumah Allah, kita dapat melihat kebenaran. Ketika kita mempunyai kebenaran, kita pun mempunyai terang. Jadi, terang dan kebenaran semua berada di dalam gereja.

Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa terang dan kebenaran memiliki kegunaan yang khusus dan tegas, yakni membawa kita ke gunung kudus, ke kemah Allah, ke tempat pilihan Allah, ke tempat kediaman Allah. Orang Kristen hari ini banyak yang mencari-cari terang dan kebenaran, namun, jaranglah yang mencarinya karena ingin dibawa ke tempat pilihan Allah. Akan tetapi, kalau sasaran kita adalah ingin dibawa ke gunung kudus, tempat kediaman Allah, niscayalah terang dan kebenaran akan mendatangi kita. Banyak di antara kita yang dapat bersaksi, kita bisa beroleh terang dan kebenaran sebelum kita masuk ke dalam hidup gereja, itu dikarenakan kita sudah mulai mempertimbangkan masalah gereja. Karena kita telah mempunyai angan-angan ingin datang ke gereja, maka terang dan kebenaran masuk ke dalam kita. Namun, bila kita masih bersikap ragu-ragu terhadap masalah gereja, terang dan kebenaran itu menjadi lenyap seketika. Akan tetapi, ketika kita nampak perlunya kita menempuh jalan gereja, terang mulai berpancar, kebenaran juga lebih nyata daripada sebelumnya. Kemudian, setelah kita masuk ke dalam hidup gereja, kita pun berada di dalam terang siang bolong, dan menerima lebih banyak kebenaran. Ini membuktikan bahwa terang dan kebenaran sudah memimpin kita ke gunung kudus Allah, membawa kita ke tempat kediaman Allah, yaitu gereja.

MEMPERSEMBAHKAN KURBAN-KURBAN KITA KEPADA ALLAH

Mazmur 66:13 mengatakan, “Aku akan masuk ke dalam rumah-Mu dengan membawa kurban-kurban bakaran, aku akan membayar kepada-Mu nazarku.” Ayat 15 melanjutkan, “Kurban-kurban bakaran dari binatang gemuk akan kupersembahkan kepada-Mu, dengan asap kurban dari dombadomba jantan; aku akan menyediakan lembu-lembu dan kambing-kambing jantan.” Pemazmur tahu bahwa dia hanya dapat mempersembahkan kurban bakaran dan kurban pendamaian di rumah Allah, yaitu di Bait Suci. Ia tahu hanya di tempat pilihan Allah baru dapat mempersembahkan kurban-kurban itu kepada Allah. Berdasarkan perlambangan ini, jika kita hari ini ingin mempersembahkan kurban kepada Allah, kita harus datang ke tempat pilihan Allah — gereja. Untuk mempersembahkan kurban kepada Allah, bani Israel perlu datang ke Bait Suci, sebab Allah tidak berkenan kalau mereka mempersembahkan kurban di tempat lain yang mana pun. Andaikata seorang Israel dari Dan berhasrat mempersembahkan sesuatu kepada Allah di Dan, Tuhan pasti berkata, “Aku tidak dapat menerima kurban persembahanmu di sini, Aku hanya mau menerima persembahanmu di Sion.” Ini tidak berarti Allah itu picik, melainkan Dia telah menetapkan Bait Suci sebagai fokus perhatian-Nya. Dia telah memilih Sion sebagai tempat unik untuk penyembahan umat-Nya. Maka umat-Nya hanya dapat mempersembahkan kurban mereka di sana.

Prinsip ini boleh diterapkan ke dalam hidup gereja hari ini. Banyak di antara kita yang dapat bersaksi, ketika ingin mempersembahkan sesuatu kepada Allah di luar gereja, persembahan itu tidak begitu memiliki perasaan sukacita. Saya tidak berani berkata bahwa orang Kristen tidak dapat mempersembahkan sesuatu kepada Allah di luar gereja; namun, saya dapat bersaksi, persembahan-persembahan yang dilakukan di luar gereja tidak begitu ada sukacitanya. Menurut perlambangan ini, kurban-kurban kita harus dipersembahkan di tempat unik pilihan Allah.

KEKANGAN KARENA DATANG KE TEMPAT PILIHAN ALLAH

Mungkin kita mengira permintaan sedemikian sangat aneh. Tetapi bagaimanapun, angan-angan Allah lebih tinggi daripada angan-angan kita. Kita terkekang pada tempat pilihan Allah, hal ini membuat kita tidak akan menyianyiakan anugerah Allah. Bersamaan dengan itu, kesukaan, watak, dan karakter kita pun akan terkekang. Kita semua mempunyai sifat alamiah, unik, temperamen, dan karakteristik sendiri. Namun, bagaimanapun ciri-ciri khas kita, kita semua harus menerima kekangan. Bila kita tetap berada di dalam hayat, temperamen, dan karakteristik alamiah kita, mustahillah kita mempunyai penyembahan yang dikehendaki Allah. Kita semua harus menerima kekangan karena datang ke tempat atau tumpuan unik ini. Maksudnya, kita semua harus dikekang oleh gereja. Jika kita enggan menerima kekangan, kita akan bentrok dengan para penatua, akan berselisih dengan saudara atau saudari lain, bahkan bermasalah dengan suami atau istri kita. Bahkan kita akan berbeda pendapat dengan orang lain demi perkaraperkara rohani. Kita merasa perkara ini harus dilakukan begini, tetapi orang lain ingin begitu. Karena itu, kita benar-benar perlu menerima kekangan karena menempuh jalan gereja!

Dalam Pelajaran-Hayat Kolose pernah kita tunjukkan bahwa kita perlu membiarkan damai sejahtera Kristus menjadi juri dalam hati kita. Namun, di luar hidup gereja, sangatlah sulit kita mengalami penjurian damai sejahtera Kristus itu. Memang benar damai sejahtera Kristus itu menjadi juri dalam hati kita, tetapi itu harus berada dalam ruang lingkup hidup gereja. Pada hakikatnya, gereja itulah juri kita. Jalan gereja adalah jalan pengekangan. Karena kita menerima kekangan tumpuan gereja, barulah kita dapat terpelihara di dalam keesaan. Di tempat pilihan Allah yang unik ini kita terpelihara hingga tidak menyia-nyiakan anugerah Allah, dan hal itu mengekang kita. Selain itu, jalan unik ini membuat kita menikmati Kristus dengan sepenuhnya. Ketika kita memiliki kenikmatan sejati terhadap Kristus, kita adalah esa. Kita esa di dalam kenikmatan terhadap Kristus, kita juga esa di dalam memakan kekayaan hasil tanah permai. Tetapi seperti telah kita tunjukkan, kita hanya dapat mempersembahkan hasil semacam itu sebagai kurban kita di tempat pilihan Allah. Seperti yang dikatakan pemazmur, kita harus membawa kurban kita ke Bait Suci Allah.

MEMPERSEMBAHKAN KURBAN WANGI-WANGIAN KEPADA ALLAH

Mazmur 66:15 mengatakan, “Kurban-kurban bakaran dari binatang gemuk akan kupersembahkan kepada-Mu, dengan asap (wangi) kurban dari domba-domba jantan; aku akan menyediakan lembu-lembu dan kambing-kambing jantan.” Dalam ayat ini saya paling menyukai frase: “asap kurban dari domba-domba jantan”. Ini berarti kurban-kurban kita menjadi wangi-wangian tersembah kepada Allah. Dalam kurban-kurban kita itu terdapat aroma yang semerbak. Ketika kita membawa kurban bakaran ke dalam gereja, dan ketika kurban itu dipersembahkan kepada Tuhan, maka ada aroma yang harum menyertai kurban bakaran kita. Kurban wangi-wangian ini mengandung aroma yang harum, yang diperkenan Tuhan.

Anda boleh saja mempersembahkan kurban-kurban Anda kepada Tuhan di luar gereja, namun, di dalamnya tanpa aroma yang harum. Tetapi jika kita mempersembahkan kurban di dalam gereja, akan terasa bahwa dalam persembahan kita itu disertai “wangi kurban domba-domba jantan”. O, betapa harum dan semerbaknya kurban-kurban yang dipersembahkan kepada Allah di dalam gereja. Walaupun aroma yang harum ini khusus diperuntukkan bagi Allah, kita juga dapat menciumnya. Di luar hidup gereja tidak mungkin kita mengalami keharuman sedemikian. Hanya di dalam hidup gereja barulah kita dapat mempersembahkan kurban kepada Allah dengan wajar, dan barulah kita dapat menjadi wangi-wangian yang memuaskan hati Allah.

BETAPA DISENANGI TEMPAT KEDIAMAN ALLAH

Mazmur 84 adalah sebuah mazmur yang kayanya luar biasa. Ayat 2 dan 3 mengatakan, “Betapa disenangi tempat (-tempat) kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.” Tempat kediaman dalam ayat 2 dalam bahasa aslinya berbentuk jamak, tidak hanya sebuah, melainkan banyak. Maka tidak diragukan lagi bahwa tempat-tempat kediaman ini melambangkan gereja-gereja lokal. Memang gereja lokal betapa menyenangkan bagi kita, dan betapa hati kita merindukannya. Berdasarkan ayat 3 pemazmur bahkan merindukan pelataran-pelataran Tuhan. Dalam penilaiannya, tidak saja bagian dalam tempat kediaman Allah itu begitu menyenangkan, bahkan pelataran-pelatarannya pun sangat menyenangkan. Tempat kediaman Allah menyenangkan karena ada Allah yang hidup berhuni di dalamnya. Penyertaan Allah di dalam gereja lokal membuat gereja menjadi elok menyenangkan.

Ayat 4 mengatakan, “Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku.” Tidak diragukan lagi bahwa kita adalah burung-burung pipit dan burung layang-layang, binatang-binatang yang lemah dan kecil. Namun, burung-burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya. Betapa manisnya perasaan pemazmur terhadap tempat kediaman Allah! Itu adalah tempat tinggal burung-burung pipit dan tempat bersarang burung layang-layang. Di dalam tempat kediaman Allah, kita, burung pipit dan burung layang-layang, telah beroleh sebuah rumah di mezbah Tuhan. Di mezbah Tuhan kita telah beroleh sebuah sarang, yaitu tempat di mana kita terpelihara dan beroleh perhentian.

Pada zaman kuno, di dalam kemah atau Bait Suci terdapat dua buah mezbah: yang satu di pelataran luar, yang satu lagi di dalam tempat kudus. Yang di pelataran luar adalah mezbah tembaga, tempat untuk persembahan kurban bagi penanggulangan perkara-perkara negatif, untuk menyucikan umat Allah, dan menyelamatkan mereka dari segala masalah. Yang di tempat kudus adalah mezbah emas, yakni mezbah ukupan wangi-wangian yang melambangkan Kristus yang telah dibangkitkan demi diperkenannya kita oleh Allah. Karena itu, kedua mezbah tersebut melambangkan Kristus yang di atas salib dan Kristus yang bangkit. Di sinilah, di dalam Bait Allah, kita telah beroleh rumah dan perhentian kita.

Semua orang kecil itu — “Burung pipit” dan “Burung layang-layang”, di dalam gereja harus mengetahui dan memahami ketersaliban dan kebangkitan Kristus serta segala sesuatu yang telah dirampungkan-Nya. Mereka perlu memahami bagaimana Kristus di atas mezbah adalah Sang tersalib, dan di atas mezbah wangi-wangian sebagai Sang bangkit. Bila mereka memiliki pemahaman demikian, mereka akan dapat menikmati kebajikan dan keindahan Kristus yang tersalib dan Kristus yang bangkit. Di atas kedua mezbah itu kita memperoleh sebuah tempat perhentian sejati, satu sarang yang membuat kita beroleh perawatan dan pengasuhan, di sanalah kita bisa memiliki perhentian. Di tempat kediaman Allah, gereja lokal, kenikmatan demikian sungguh betapa ajaib!

Dalam ayat 5 pemazmur maju selangkah berkata, “Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau.” Kita tidak seharusnya hanya berkunjung sebentar di rumah Allah, melainkan harus diam di sana sepanjang hari. Berdasarkan perkataan ayat ini, berbahagialah jika kita diam di rumah Allah. Mereka bahkan terus-menerus memuji Allah sepanjang hari. Kapan saja kita berhimpun bersama, haruslah kita menghabiskan banyak waktu untuk memuji, dan waktu memuji harus lebih banyak daripada mengajar. Semoga kita semua belajar memuji-muji Tuhan.

Ayat 7 mengatakan, “Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat.” “Baka” berarti mencucurkan air mata. Dalam kehidupan gereja kita mungkin melintasi lembah air mata, tetapi kita bisa membuat lembah itu menjadi sumur, bahkan menjadi mata air. Selain itu, sebagai pengganti air mata ialah hujan pada awal musim yang menyelubungi seluruh lembah. Pengalaman semacam ini hanya bisa kita peroleh di rumah Allah.

Bukan itu saja, dalam hidup gereja kita juga akan berjalan makin lama makin kuat untuk menghadap Allah (ayat 8). Dalam gereja kita akan menyadari bahwa “lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain.” Orang-orang yang menikmati hidup gereja dapat berkata, “Lebih baik berdiri di ambang pintu (sebagai penjaga) rumah Allahku daripada diam di kemah-kemah orang fasik” (ayat 11).

Ayat 12 menunjukkan bahwa hidup gereja adalah tempat yang penuh dengan berkat: “Sebab Tuhan Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.” Di bait Allah, kita menikmati Allah sebagai matahari dan perisai. Matahari untuk menyuplai, perisai untuk melindungi. Di dalam hidup gereja, Tuhan adalah suplai dan pelindung kita. Selain itu, di sini kita menikmati anugerah dan kemuliaan-Nya. Anugerah adalah kenikmatan di dalam, kemuliaan adalah ekspresi di luar. Dalam hidup gereja kita memiliki kenikmatan anugerah di dalam, dan ekspresi kemuliaan di luar. O, betapa berkatnya hidup gereja.

Mazmur 84 berakhir dengan perkataan begini: “Ya TUHAN semesta alam, berbahagialah manusia yang percaya (bersandar) kepada-Mu!” (ayat 13). Mungkin kita bisa bersandar kepada Allah di luar gereja lokal, namun itu sangat sulit. Kita dapat bersaksi bahwa bersandar kepada Allah di dalam gereja adalah sangat mudah. Rumah Allah adalah tempat yang wajar untuk kita belajar bersandar kepada Allah.

PENINGGIAN, PERBAURAN, PENANAMAN, DAN PENUNASAN

Dalam Mazmur 92 kita nampak pula lebih banyak kekayaan di dalam rumah Allah. Ayat 11 mengatakan, “Tetapi Kautinggikan tandukku seperti tanduk banteng, aku dituangi dengan minyak baru.” Dalam hidup gereja kita akan menjadi perkasa seperti banteng. Kita juga mempunyai dua buah tanduk yang ditinggikan. Hal ini hanya mungkin terdapat di rumah Allah. Bersamaan dengan itu, kita pun telah diurapi dengan minyak, bahkan dibauri dengan minyak baru (arti dalam bahasa Ibrani). Di luar kita ada tanduk yang ditinggikan, di dalam kita dibauri dengan minyak baru. Setiap orang yang berada dalam hidup gereja pasti memiliki tanduk bagaikan banteng dan ada minyak yang terbaur.

Banyak orang yang masuk ke dalam hidup gereja mengalami ditinggikannya tanduknya. Sebelum kita masuk ke dalam hidup gereja, keadaan kita selalu rendah, dan sering dikalahkan oleh musuh-musuh. Tetapi begitu kita masuk ke dalam hidup gereja, kita merasa bahwa tanduk kita lebih tinggi daripada musuh-musuh kita, bahkan merasa terbaur dengan minyak. Di dalam rumah Allah, kita sungguh merasa setiap hari terbaur dengan minyak baru. Setiap hari kita merasa ada sesuatu yang baru dan segar, inilah minyak yang terbaur di dalam kita. Kita baru dan segar karena terbaur dengan minyak yang baru ini.

Ayat 14 mengatakan, “Mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita.” Kita tidak seharusnya hanya tinggal di rumah Allah, kita juga harus ditanam di situ. Pernahkah Anda ditanam di dalam hidup gereja? Orang-orang yang meninggalkan gereja semua tidak pernah ditanam di dalamnya. Tetapi begitu kita ditanam di dalam rumah Tuhan, kita tak berdaya meninggalkannya.

Bila kita ditanam di dalam rumah Allah, kita akan bertunas menjadi subur dan segar di pelatarannya. Ini adalah satu ungkapan yang sangat berarti. Bila kita berada di dalam rumah dan di pelataran, maka akar kita akan menancap di dalam rumah, namun ranting-ranting akan membentang keluar. Bertunas terutama bukan pada akarnya, tetapi pada ranting-rantingnya.

Ayat 15 melanjutkan: “Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar.” Walaupun saya sekarang adalah seorang yang lanjut usia, namun hari ini lebih banyak berbuah daripada masa lampau. Seperti yang dikatakan dalam ayat ini, pada masa tua pun saya masih berbuah, bahkan saya akan subur, . . . gemuk dan segar. Semoga kita bertunas sedemikian rupa, walau pada masa tua pun masih berbuah. Hal ini hanya bisa terjadi bila kita berada di dalam gereja, rumah Allah. Jika kita ditanam di rumah Allah, kita akan bertunas di pelataran Allah, pada masa tua pun kita masih berbuah, bahkan menjadi gemuk dan segar. Lebih lama kita tinggal di sini, kita akan semakin muda. Ini adalah akibat dari tinggal di dalam rumah Allah.

Ayat-ayat dalam Mazmur 92 ini menunjukkan bahwa tempat unik pilihan Allah ini tidak hanya sebagai tempat penyembahan yang tepat, tetapi juga sebagai tempat yang cocok untuk pertumbuhan hayat. Kehidupan orang Kristen yang normal adalah ditanam di dalam gereja, dan yang bertunas di dalam pelataran hidup gereja. Di dalam hidup gereja kita mempunyai pertumbuhan hayat yang sesungguhnya. Dalam proses pertumbuhan ini kita akan dipenuhi oleh getah sehingga kita gemuk dan segar. Hasilnya, dengan sendirinya kita memiliki kekudusan, kerohanian, dan kemenangan.

Siapakah yang kekudusan, kerohanian, dan kemenangannya dapat melebihi orang-orang yang tertanam di rumah Allah? Pada aspek-aspek itu tidak ada orang yang dapat mengungguli mereka. Orang-orang yang tinggal di tempat kediaman Allah tidak perlu menuntut kekudusan, kerohanian, dan kemenangan, semuanya itu dengan sendirinya menjadi milik mereka, sebab mereka tertanam di dalam hidup gereja dan bertunas di dalamnya. Karena mereka penuh dengan getah dan senantiasa gemuk dan segar, maka dengan sendirinya mereka menjadi kudus, rohani, dan menang. Ini menunjukkan bahwa jalan yang wajar bagi kehidupan orang Kristen ialah menempuh hidup gereja yang wajar. Di luar hidup gereja yang wajar, mustahillah kita menjadi kudus, rohani, dan menang. Atribut-atribut itu hanya bisa diperoleh dalam hidup gereja. Begitu kita tertanam di dalam hidup gereja, kita akan bertunas hingga penuh dengan kekudusan, kerohanian, dan kemenangan. Hasilnya, kita akan tidak hanya menyembah Allah secara obyektif, tetapi juga akan memiliki penyembahan yang bersifat menyalurkan yang subyektif. Penyembahan semacam ini berasal dari kenikmatan atas Kristus di dalam penyertaan Allah.

TINGGAL BERSAMA DALAM KEESAAN

Terakhir mari kita baca Mazmur 133. Ayat 1 mengatakan, “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!” (Bahasa aslinya: diam bersama dalam keesaan). Ayat ini mengatakan kebaikan dan keindahan diam bersama dalam keesaan. Menurut ayat 2, tinggal bersama yang demikian “seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.” Perhatikanlah, ayat ini mengatakan “minyak yang baik”, dalam bahasa aslinya adalah “minyak urapan”. Minyak urapan itu lebih pelan mengalirnya daripada minyak biasa. Dalam hidup gereja, minyak urapan ini tidak mengalir dengan cepat, melainkan perlahan-lahan, berangsur-angsur dan dengan lembut. Dan minyak urapan yang baik ini mengalir dari kepala Harun, lalu membasahi leher jubahnya, ini menunjukkan minyak urapan ini mengalir dari kepala ke seluruh tubuh.

Ayat 3 mengatakan diam bersama dalam keesaan bagaikan embun Gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Hermon adalah gunung yang tinggi, melambangkan surga; embun turun dari sana. Gunung itulah gereja lokal, embun itulah anugerah Kristus. Embun yang turun ke atas gereja itu sangat segar dan baru. Kita dapat bersaksi bahwa unsur Kristus yang segar dan baru itu di dalam gereja lokal turun ke atas diri kita. Terpujilah Tuhan, Dia menurunkan embun surgawi ke atas gereja lokal untuk kenikmatan kita.

Minyak urapan dan embun itu mendatangkan hayat. Ayat 3 mengatakan, “Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.” Perhatikanlah, ayat ini tidak berkata “TUHAN memberi berkat”, melainkan “TUHAN memerintahkan berkat”. Dalam rumah Allah, gereja, kita menikmati berkat yang diperintahkan Allah.

Sekalipun dalam masa Perjanjian Lama, ketika umat Allah datang ke bait material, mereka pun menikmati kehidupan yang indah dan nyaman di dalam rumah Allah. Mereka berhimpun mengelilingi bait sambil mempersembahkan bagian-bagian yang top dari hasil tanah permai yang kaya itu. Kemudian di hadapan Allah dan bersama dengan Allah mereka menikmati kurban-kurban tersebut. Itulah hayat dan kehidupan mereka serta penyembahan mereka. Melalui menikmati kekayaan tanah permai, mereka datang menyembah Allah. Karena itu adalah kehidupan mereka, maka mereka tertanam dan bertunas di rumah Allah. Ini adalah sebuah lukisan perlambangan yang menggambarkan kemungkinan yang terjadi pada tumpuan keesaan.

KETETAPAN ALLAH

Tumpuan keesaan tidak sekadar masalah satu lokal satu gereja. Ia lebih mendalam, lebih kaya, lebih unggul dan lebih sempurna daripada itu. Kita semua harus mengetahui bahwa di alam semesta ini Allah hanya memilih satu tempat, tempat itu ialah gereja. Allah telah menetapkan kita harus pergi ke tempat pilihan-Nya itu. Dengan istilah rohani boleh kita katakan bahwa kita harus memusnahkan setiap tempat di luar gereja dan setiap nama di luar nama Kristus. Ini berarti kita harus memusnahkan latar belakang budaya dan agama kita. Bila Anda dilahirkan di suatu tempat di negeri ini, Anda harus meninggalkan pengaruhpengaruh yang Anda peroleh dari tempat ini. Mungkin Anda telah memiliki latar belakang agama tertentu karena Anda pernah berada dalam sekte tertentu itu, sekarang Anda harus memusnahkan tempat sekte yang di dalam Anda itu. Yang perlu kita musnahkan adalah termasuk watak pribadi, temperamen, dan kebiasaan-kebiasaan kita. Kita harus memusnahkan segala sesuatu yang dapat merugikan dan mencelakakan manusia baru kita.

Berdasarkan Kolose 3:11, di dalam manusia baru ini “tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” Gereja yang memiliki Kristus inilah tempat unik pilihan Allah. Untuk mewujudkan perkataan dalam Kolose 3:11, maka tempat-tempat yang lain harus dimusnahkan satu per satu. Setiap hal yang bukan gereja yang memiliki Kristus, haruslah dimusnahkan. Dengan demikian kita akan dapat menikmati Kristus sebagai kekayaan tanah permai secara murni dalam hidup gereja. Ketika kita bersama Allah menikmati Kristus, kita akan tertanam dalam rumah Tuhan, dan kita akan bertumbuh dan bertunas. Ini adalah jalan yang wajar bagi kehidupan orang Kristen dan hidup gereja. Inilah tumpuan keesaan.

Di atas tumpuan ini tidak mungkin ada perpecahan, sebab dasar perpecahan telah diruntuhkan. Watak pribadi, temperamen, ciri-ciri khas alamiah, dan kegemaran kita semua telah dienyahkan. Agama, kebudayaan, dan praktek-praktek kita yang khusus pun telah didobrak. Kalau semua tempat milik ajaran kafir itu telah ditiadakan, maka kita akan datang ke tempat pilihan Allah dengan sederhana dan murni.

Kelemahan hidup gereja justru karena kekurangan minat kita untuk memusnahkan tempat-tempat milik ajaran kafir itu. Ulangan 12 mengandung makna rohani yang sangat besar bagi kita hari ini. Banyak tempat dalam kehidupan dan kebudayaan kita masih ada, belum dimusnahkan. Kita harus memusnahkannya semua, kemudian kita harus datang ke tempat unik pilihan Allah, yakni gereja. Dalam gereja, kecuali Kristus tidak ada yang lainnya. Kristus harus menjadi segalanya dan di dalam segalanya. Mengucapkan perkataan ini memang mudah, tetapi mempraktekkannya sangat sulit. Namun, kita tidak boleh beralasan, kita harus mempraktekkan sesuai prinsip ini.

Setiap tempat yang harus dimusnahkan pasti ada tugu, patung, dan berhala. Ini berarti bahkan di dalam karakter, watak pribadi kita pun mungkin ada tugu, patung, dan berhala. Karena itu, kita harus memusnahkan segala tugu, patung, dan berhala itu. Jangan kita menyisakan tempat yang mana pun, musnahkan saja semua, dan datang saja ke tempat unik pilihan Allah. Berulang-ulang kita tegaskan bahwa tempat ini adalah gereja. Jika kita sudah datang ke gereja, kecuali pribadi Kristus dan jalan unik salib, tidak ada yang lain. Kalau demikian maka kita akan menikmati Kristus sebagai bagian yang top dari hasil kekayaan tanah permai. Kita menikmati Dia di hadapan Allah, kenikmatan semacam ini akan menjadi penyembahan kita, hidup gereja kita, bahkan kehidupan kristiani sehari-hari kita. Setelah itu, kita akan bertumbuh dewasa di atas tumpuan keesaan.