TEMPAT UNIK PILIHAN ALLAH UNTUK MEMELIHARA KEESAAN
Pembacaan Alkitab:
Ul. 12:1-8, 11, 13-15, 17-18, 26-18; 14:23; 16:16
Pada tiga bab terdahulu kita telah membahas beberapa prinsip yang berkaitan dengan keesaan. Mulai bab ini kita akan menyinggung sejumlah rinciannya. Rincian pertama ialah tempat unik pilihan Allah untuk memelihara keesaan. Dalam Kitab Ulangan 12, 14, 15, dan 16, tempat unik yang dipilih Allah disebut paling sedikit enam belas kali. Misalkan pada pasal 12:5, Musa berpesan kepada umat untuk pergi ke “tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana.” Berdasarkan Ulangan 14:23, umat Allah harus memakan persembahan persepuluhan di hadapan Tuhan, di tempat yang dipilih-Nya itu. Fakta disinggungnya berkali-kali perkara yang unik ini menunjukkan bahwa perkara ini sangatlah penting. Kitab Ulangan adalah kitab yang membicarakan kenikmatan kekayaan tanah permai, tanah yang dilukiskan sebagai berlimpah-limpah dengan susu dan madu. Perkataan yang tercatat dalam kitab ini, yakni kitab Musa yang terakhir, adalah yang dikatakannya ketika bani Israel berada di pinggir tanah permai menjelang mereka ingin memasuki dan memilikinya. Karena Musa prihatin terhadap kenikmatan mereka di tanah permai itu, maka ia menggunakan banyak waktu untuk memberikan petunjuk kepada mereka tentang kehidupan di tanah permai. Karena itu, Kitab Ulangan adalah pesan yang diucapkan oleh seorang yang lanjut usia, ayah yang penuh kasih sayang, mengenai kebahagiaan yang akan datang bagi anak-anaknya.
MEMUSNAHKAN SEGALA TEMPAT
PENYEMBAHAN BERHALA BANGSA KAFIR
Kitab Ulangan 12 membicarakan kehendak Allah tentang kehidupan orang Israel di tanah permai. Ayat 1 mengatakan tentang ketetapan dan peraturan yang harus dilakukan dengan setia di negeri yang diberikan Tuhan kepada umat Allah. Dalam ayat 2 Musa mengutarakan ketetapan dan peraturan itu, yang pertama ialah: “Kamu harus memusnahkan sama sekali segala tempat, di mana bangsabangsa yang daerahnya kamu duduki itu beribadah kepada allah mereka.” Ayat 3 menyambung: “Mezbah mereka kamu harus robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu bakar habis, patungpatung allah mereka kamu hancurkan, dan nama mereka kamu hapuskan dari tempat itu.” Sebelum orang Israel memiliki kenikmatan penuh atas kekayaan tanah permai itu, mereka harus memusnahkan sama sekali tempat-tempat penyembahan berhala bangsa kafir itu. Setiap tempat yang dipakai untuk pusat penyembahan berhala harus dimusnahkan. Tak peduli tempat-tempat seperti di gununggunung yang tinggi, di bukit-bukit dan di bawah setiap pohon yang rimbun (ayat 2). Umat Allah wajib merobohkan mezbah mereka, meremukkan tugu-tugu berhala mereka, membakar habis tiang-tiang berhala mereka, menghancurkan patung-patung allah mereka, dan menghapuskan nama mereka dari tempat-tempat itu. Tiga hal utama yang harus ditanggulangi: tempat, berhala, dan nama. Ini menyatakan bahwa tanah permai harus bersih sama sekali dari pusat penyembahan bangsa kafir.
Ulangan 12:4 mengatakan, “Jangan kamu berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu.” Ini menunjukkan bahwa umat Israel tidak boleh menyembah TUHAN seperti cara bangsa-bangsa itu menyembah allah mereka.
TEMPAT UNTUK MENEGAKKAN NAMA ALLAH
Dalam ayat 5 Musa mengucapkan perkataan yang sangat penting: “Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi.” Setelah semua tempat bangsa-bangsa itu menyembah berhala dimusnahkan, maka umat Allah harus pergi ke tempat yang dipilih Allah. Di tempat yang unik itulah Allah akan menegakkan nama-Nya. Nama Allah mengacu kepada persona-Nya. Ditegakkan nama-Nya di tempat tertentu itu berarti Dia sendiri akan diam di tempat itu. Ini menunjukkan bahwa tempat unik yang dipilih Allah itulah tempat kediaman Allah.
MAKNA PERLAMBANGAN
Berdasarkan prinsip azasi wahyu ilahi dalam Alkitab, catatan dalam Perjanjian Lama mengandung lambang, gambar, dan bayang-bayang dari perkara-perkara yang terdapat dalam Perjanjian Baru. Jika Ulangan 12 hanya memuat ketetapan-ketetapan untuk orang Israel, maka pasal ini tentu tidak dapat diterapkan pada situasi kita hari ini. Tetapi ketetapan-ketetapan dalam pasal tersebut mempunyai makna rohani. Kalau kita memegang makna rohani dari ketetapanketetapan itu, kita akan nampak bahwa bagian Alkitab tersebut tidak hanya ditulis untuk orang Israel, tetapi juga untuk kita hari ini. Rasul Paulus mengetahui bahwa sejarah bangsa Israel mengandung makna perlambangan terhadap kaum beriman Perjanjian Baru, maka pada 1 Korintus 10:6 dia berkata, “Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh (lambang) bagi kita untuk memperingatkan kita . . .” Dalam 1 Korintus 10:11 dia menyambung: “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh (lambang) dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita . . .” Karena itu, dalam Roma 15:4 Paulus dapat berkata, “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita . . .”
Lambang terpenting dalam Perjanjian Baru ialah tanah permai, yang merupakan satu lambang lengkap dan menyeluruh dari Kristus. Selain itu, kenikmatan atas hasil bumi di tanah permai itu melambangkan kenikmatan kita atas kekayaan Kristus yang tak terduga (Ef. 3:8). Sebelum Anda datang menempuh hidup gereja, mungkin Anda tidak pernah mendengar tentang kenikmatan atas Kristus. Saya justru demikian. Dulu saya hanya tahu Kristus sebagai Anak Allah, Juruselamat dan Jurutebus, tidak pernah mendengar kalau Kristus dapat menjadi kenikmatan saya.
Berdasarkan perlambangan, yang paling dulu dinikmati bangsa Israel ialah anak domba Paskah, itu adalah lambang Kristus. Satu Korintus 5:7 menunjukkan dengan jelas bahwa hari raya Paskah adalah satu lambang dari Kristus: “Sebab anak domba Paskah kita, yaitu Kristus, juga telah disembelih.” Setelah bangsa Israel keluar dari Mesir, mereka mengembara di padang gurun, di sana mereka menikmati manna. Menurut 1 Korintus 10:4, manna juga sebagai satu lambang dari Kristus. Manna melambangkan Kristus sebagai makanan rohani kita; setiap hari kita makan manna. Walau banyak orang Kristen tahu manna itu melambangkan Kristus, tetapi jarang ada orang nampak bahwa tanah permai juga melambangkan Kristus. Yosua 5:12 mengatakan, “Lalu berhentilah manna itu, pada keesokan harinya setelah mereka makan hasil negeri itu. Jadi orang Israel tidak beroleh manna lagi, tetapi dalam tahun itu mereka makan yang dihasilkan tanah Kanaan.” Ayat itu dengan jelas mengatakan bahwa hasil tanah permai Kanaan telah menggantikan manna. Jika anak domba Paskah dan manna melambangkan Kristus sebagai kenikmatan umat Allah, maka tanah permai dan hasilnya yang melimpah itu tentu saja melambangkan Kristus sebagai kenikmatan kita juga. Banyak di antara kita yang dapat bersaksi, setelah kita masuk ke dalam pemulihan Tuhan dan menempuh hidup gereja, kita baru mendengar bahwa Kristus itulah tanah permai untuk kenikmatan kita.
HANYA ADA SATU NAMA
Sebelum kita menempuh hidup gereja, kebanyakan kita berada di tempat-tempat yang dilambangkan oleh gununggunung, bukit-bukit dan pohon-pohon rindang (Ul. 12:2) untuk menyembah Allah, sedangkan semua itu adalah tempat di mana orang kafir menyembah berhala mereka. Hari ini kita dapat melihat adanya berhala-berhala di kalangan kekristenan yang telah merosot. Ada sejumlah orang Kristen setuju bahwa di kalangan agama Kristen tertentu ada berhala-berhala, tetapi mereka tidak mengakui bahwa di antara berbagai denominasi atau sekte juga ada berhala. Camkanlah perkataan Musa tentang penghapusan nama-nama berhala yang dikatakannya pada pasal 2 ayat 3. Setiap sekte agama Kristen pasti memiliki satu nama lain selain nama Kristus. Misalkan, ada gereja-gereja yang menggunakan nama orang atau tokoh-tokoh tertentu. Pada prinsipnya, semua yang di luar nama Kristus, yang memakai nama lain, itu berarti membuat satu berhala. Orang-orang dalam sekte atau denominasi tertentu mungkin akan membantah dengan mengatakan bahwa nama-nama itu bukan berhala, melainkan hanya untuk menandakan organisasi orang Kristen belaka. Namun penggunaan nama sedemikian itu tak ubah dengan seorang perempuan yang sudah menikah, tetapi memakai nama laki-laki lain di luar nama suaminya; itu merupakan cara yang menyedihkan! Dalam kekristenan hari ini, sebagian besar memiliki berhala, sebab tempat-tempat itu memasang nama-nama lain selain nama Kristus. Tidak jarang gedung-gedung kebaktian itu disebut dengan nama seseorang. Pada prinsipnya, itu adalah berhala. Kita hanya boleh ada satu nama, yakni nama Yesus Kristus.
Berdasarkan lambang dari Kitab Ulangan 12:3, kita harus memusnahkan tempat-tempat itu dan menghapus nama-nama itu. Bersamaan dengan itu, praktek-praktek yang digunakan kekristenan yang berbau agama kafir juga harus ditiadakan satu per satu. Semua itu seharusnya sama sekali tidak ada kedudukannya di dalam gereja. Dalam buku “Dua Babilon” membuktikan betapa banyaknya benda-benda agama kafir yang diserap oleh agama Kristen tertentu. Misalnya seperti hari Natal, Paskah, dan Kebangkitan, semua itu bersumber dari agama kafir. Benda-benda atau praktekpraktek itu tidak hanya terdapat di dalam agama Kristen tertentu, juga dalam berbagai sekte dan denominasi kekristenan. Ditinjau dari aspek rohani, tempat-tempat, berhalaberhala, dan nama-nama itu harus kita enyahkan. Itulah sebabnya, pemulihan Tuhan tidak bisa berkompromi dengan sekte atau denominasi yang menyembah berhala-berhala di gunung-gunung tinggi, di bukit-bukit, dan di bawah pohonpohon rindang itu. Namun, kita sendiri pun harus waspada, jangan sampai ada gunung-gunung, bukit-bukit atau pohonpohon rindang macam apa pun di tengah-tengah kita. Kita hanya boleh memiliki tempat unik pilihan Kristus dan Allah demi memelihara keesaan.
BELAJAR TAKUT KEPADA ALLAH
Jika kita nampak keharusan memusnahkan semua tempat yang lain, dan hanya datang ke tempat unik pilihan Allah, maka kita harus melihat lagi beberapa butir lainnya yang diwahyukan dalam Kitab Ulangan 12 ini. Pertama, kita harus belajar takut kepada Allah, yaitu harus datang ke tempat pilihan Allah. Ulangan 14:23 mengatakan, “Di hadapan TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilih-Nya untuk membuat nama-Nya diam di sana, haruslah engkau memakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, ataupun dari anakanak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu, supaya engkau belajar untuk selalu takut akan TUHAN, Allahmu.”Pergi ke tempat pilihan Allah berarti takut akan Allah; sebaliknya, memilih tempat atau pusat penyembahan dengan bebas berarti tidak takut kepada Allah, melainkan hanya ingin memuaskan keinginan pribadi.
Sebelum Anda datang menempuh hidup gereja, boleh jadi Anda sudah beralih dari satu denominasi ke denominasi lain, dari tempat ini beralih ke tempat itu, untuk memuaskan kesenangan dan selera Anda. Praktek semacam itu bukanlah cara yang wajar untuk takut kepada Allah. Kalau kita benar-benar takut kepada Allah, kita harus pergi ke tempat unik yang dipilih Allah.
Allah tidak mengizinkan kita memiliki kebebasan untuk memilih sendiri tempat penyembahan. Dalam hal ini kita wajib takut kepada-Nya, kita harus pergi ke tempat pilihan-Nya saja. Kalau kita ingin menggunakan hak memilih sendiri, berarti kita sudah menempuh cara orang kafir dan bangsa-bangsa. Berdasarkan Ulangan 12, orang Israel harus memusnahkan semua tempat penyembahan orang kafir. Pada prinsipnya, ketika kita datang menempuh hidup gereja, kita pun harus melakukan perkara serupa. Pemilihan tempat penyembahan mutlak tergantung pada Tuhan, tidak boleh menurut kesenangan kita. Jika kita bertindak menurut kesenangan sendiri, itu berarti mengumbar hawa nafsu, sebab kita hanya menuntut kepuasan, keinginan kita mengenai tempat penyembahan. Tingkah laku demikian akan seperti seorang perempuan terlibat dengan seorang laki-laki di luar suaminya. Itu adalah perzinaan. Sebagaimana seorang perempuan dalam hal pernikahan harus terbatas pada satu laki-laki, demikian juga penyembahan kita secara korporat harus terbatas pada tempat yang dipilih oleh Allah. Kita semua harus belajar takut kepada Tuhan Allah kita. Dalam hal perhimpunan orang Kristen, kita harus takut kepada Allah, kita harus melaksanakannya hanya menurut pilihan-Nya. Allah menyuruh kita untuk memusnahkan semua pusat penyembahan yang lain, dan hanya pergi ke tempat yang dipilih oleh-Nya.
MELAKUKAN PERKARA YANG BENAR DALAM PANDANGAN ALLAH
Ulangan 12:8 mengatakan, “Jangan kamu melakukan apa pun yang kita lakukan di sini sekarang, yakni masingmasing berbuat segala sesuatu yang dipandangnya benar.” Melakukan segala sesuatu yang kita sendiri pandang benar itu adalah mengerikan. Tuhan berpesan agar kita tidak berbuat demikian. Namun, orang-orang Kristen hari ini sering mengatakan bahwa perkara anu dalam pandangan mereka benar atau tidak benar. Praktek demikian berarti melakukan perkara yang dipandang benar oleh diri sendiri. Akan tetapi hendaklah kita melakukan segala sesuatu yang dipandang benar oleh Allah. Menurut Ulangan 12:13, bangsa Israel tidak diizinkan memberi persembahan kurban bakaran di tempat yang mereka anggap benar. “Hati-hatilah, supaya jangan engkau mempersembahkan kurban-kurban bakaranmu di sembarang tempat yang kaulihat.” Jelas mereka tidak diizinkan mempersembahkan kurban-kurban bakaran di gunung-gunung, di bukit-bukit, atau di bawah pohon-pohon rindang. Mereka tidak mempunyai hak untuk menyembah Allah di tempat yang menjadi pilihan mereka sendiri. Mereka harus melakukan perkara yang dipandang benar dan baik oleh Allah. Kita perlu berdoa: “Tuhan, belas kasihani kami, agar kami tidak melakukan perkara yang benar dalam pandangan kami sendiri. Tuhan, bantulah kami untuk melakukan perkara yang benar dalam pandangan-Mu.” Kita harus melupakan cara berpikir kita terhadap setiap perkara, dan memperhatikan kehendak dan pilihan Allah. Mungkin kita memandang suatu hal itu benar, tetapi bagaimana pemikiran Allah? Menurut penilaian kita mungkin menyembah Allah di tempat tertentu itu benar, tetapi jangan-jangan Allah menganggap tempat itu adalah pusat penyembahan berhala.
TIDAK MENYIA-NYIAKAN ANUGERAH ALLAH
Allah berpesan agar kita jangan melakukan perkara yang benar dalam pandangan kita sendiri, melainkan harus pergi ke tempat pilihan Allah, hal itu mengandung banyak alasan. Pertama, agar kita tidak menyia-nyiakan anugerah Allah. Bangsa Israel harus mengambil sepersepuluh dari hasil tanah permai untuk dipersembahkan kepada Allah. Lembu dan kambing sulung pun harus dipersembahkan kepada Allah. Mereka tidak berhak memiliki hewan-hewan sulung dan hasil yang terbaik sebanyak sepersepuluh itu untuk diri sendiri. Mereka tidak diizinkan memakan barang-barang itu di rumah masing-masing. Ulangan 12:17-18 mengatakan, “Di dalam tempatmu tidak boleh kaumakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu, ataupun sesuatu dari kurban yang akan kaunazarkan, ataupun dari kurban sukarelamu, ataupun persembahan khususmu. Tetapi di hadapan TUHAN, Allahmu, haruslah engkau memakannya, di tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu; . . .” Kedua ayat ini menunjukkan bahwa orang Israel harus membawa persembahan nazar dan persembahan sukarela mereka, dipersembahkan ke hadapan Allah di tempat pilihan Allah. Sudah tentu yang dipersembahkan umat Allah adalah hasil bumi, lembu dan kambing yang terbaik sebagai persembahan nazar dan sukarela mereka kepada Allah. Jadi titik utama ayat-ayat ini ialah: semua kurban — hasil bumi persepuluhan, hewanhewan sulung, kurban nazar dan kurban sukarela — semuanya itu hanya dapat dinikmati di tempat pilihan Allah untuk menegakkan nama-Nya. Dengan perkataan lain, orang Israel harus membawa bagian-bagian yang terindah dari hasil tanah permai yang melimpah itu ke tempat kediaman Allah. Hal ini menegaskan bahwa mereka tidak boleh menyianyiakan anugerah Allah. Mereka tidak berhak menikmati bagian-bagian yang terbaik itu menurut kesenangan atau pilihan mereka, melainkan harus menikmati barang-barang tersebut menurut ketentuan Allah. Mereka tidak ada pilihan lain, sebab mereka hanya diizinkan membawa kurbankurban itu ke tempat kediaman Allah yang dipilih oleh-Nya untuk menegakkan nama-Nya.
Prinsip ini tetap berlaku bagi hidup gereja hari ini. Jika kita tidak hadir dalam persidangan gereja, mustahillah kita menikmati bagian terindah dari Kristus itu. Kapan saja kita sengaja tinggal di rumah, tidak pergi bersidang, kita akan kehilangan kenikmatan kita atas bagian terindah dari Kristus. Walaupun kita mungkin juga bisa beroleh sedikit kenikmatan dalam berdoa-baca atau persekutuan (secara pribadi), tetapi kita tidak mungkin menikmati bagian terindah dari Kristus yang dilambangkan oleh hewan sulung, hasil bumi persepuluhan, kurban nazar dan kurban sukarela itu. Di sini ada sebuah peraturan ilahi yang melarang kita menyia-nyiakan anugerah Allah. Dan menurut ketentuan ini, kita harus pergi ke rumah Allah — gereja — baru kita dapat menikmati bagian terindah dari Kristus.
Kita perlu pergi ke tempat yang dipilih Allah, tidak boleh bertindak menurut pilihan dan kesenangan kita sendiri. Dengan menerima pilihan Allah, kita akan dapat patuh dan terpelihara hingga tidak menyia-nyiakan anugerah Allah.
PENANGGULANGAN TUHAN YANG PALING TUNTAS
Ketika kita pergi ke tempat pilihan Allah, kita akan mengalami penanggulangan yang paling tuntas dari Tuhan. Kita dipaksa untuk bersatu dengan saudara-saudara yang di dalam Kristus. Adakalanya kita mungkin tidak suka berjumpa dengan seorang saudara; walaupun kita hadir dalam sidang, tetapi kita ingin sedapat mungkin menghindarinya. Jika kita ingin menghindar dari saudara tersebut, kita akan tidak bisa menikmati bagian yang terindah dari Kristus. Maka kita perlu patuh sepenuhnya. Kita harus berdoa, “Tuhan, belas kasihanilah aku, agar aku bisa hidup bersama secara wajar dengan saudara ‘X’. Aku ingin bebas dari masalah apa pun dengan dia, dan aku ingin menikmati hidup bersamanya dalam gereja.” Contoh ini menunjukkan ketika kita datang ke tempat pilihan Tuhan, kita akan dengan tuntas ditanggulangi oleh-Nya.
Andaikata seorang Israel bermasalah dengan sesamanya, dan karena itu ia ingin menghindarinya. Kita tahu bahwa setiap laki-laki bangsa Israel harus tiga kali tiap tahun pergi ke Yerusalem. Siapa saja yang tidak ke Yerusalem akan dikerat dan tidak dapat tinggal dalam persekutuan umat Israel. Karena itu, apa pun masalah yang terjadi di antara orang Israel harus ditanggulangi dengan tuntas. Jika tidak, mereka tidak mungkin pergi ke Sion, mereka harus menyanyikan Mazmur 133: “Sungguh alangkah baik dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dalam keesaan!” (Tl.). Maka tempat unik yang Allah pilih ini akan memelihara keesaan umat Allah. Asalkan umat Israel menuruti pilihan Allah, selain bersatu, mereka tidak ada jalan lain.
Keadaan orang Kristen pada hari ini sama sekali tidak demikian. Jika seorang beriman tidak rukun dengan seorang beriman lainnya, maka ia pergi saja ke tempat kebaktian yang lain. Sebagian besar orang Kristen menganggap bahwa mereka boleh memilih satu tempat untuk menyesuaikan selera mereka. Karena itu, di antara kebanyakan orang Kristen tidak terdapat kepatuhan. Namun bila kita tidak menyia-nyiakan anugerah Allah, dan datang ke tempat pilihan-Nya dengan kepatuhan mutlak, niscayalah keesaan akan terpelihara. Tidak peduli bagaimana karakter kita, kita harus patuh, yakni datang ke tempat pilihan Allah. Jika tidak, kita akan dikerat, tidak dapat berada di dalam persekutuan umat Allah. Jika kita patuh, kita akan terpelihara di dalam keesaan yang wajar.
TEMPAT TUHAN MENEGAKKAN NAMA-NYA
Sekarang mari kita lihat bagaimana kita membedakan tempat pilihan Allah itu. Prinsip pertama, tempat pilihan Allah haruslah tidak memiliki nama lain kecuali nama Allah dan Kristus. Tempat apa pun jika selain nama Kristus masih memakai nama lain, itu pasti bukan tempat pilihan Allah. Dalam Ulangan 12 Allah berpesan kepada umat harus memusnahkan tempat-tempat itu serta nama-nama itu; nama apa pun tidak boleh ditinggalkan. Tempat unik pilihan Allah itulah tempat Tuhan menegakkan nama-Nya. Oleh sebab itu, ketika kita berhimpun dalam sidang gereja, kita harus berhimpun dalam nama Tuhan Yesus. Dalam Matius 18 Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita harus berhimpun ke dalam nama-Nya. Kita tidak boleh menggunakan nama-nama denominasi, seperti, gereja Anglikan, gereja Presbiterian, gereja . . . , dan lain sebagainya; semua nama itu harus disingkirkan.
TEMPAT KEDIAMAN ALLAH
Prinsip kedua ialah, tempat unik pilihan Allah harus merupakan tempat kediaman Allah, tempat Allah berhuni. Efesus 2:22 membantu kita untuk memahami makna prinsip ini. Ayat ini memberi tahu kita bahwa tempat kediaman Allah ialah roh kita. Ini berarti: tempat pilihan Allah yang sesungguhnya ialah roh kita. Jadi, dari nama-Nya dan dari roh manusia kita mengenal tempat pilihan Allah. Tempat kediaman Allah hari ini adalah roh kita.
Jika kita mengabaikan roh dan hidup di dalam ruang lingkup pikiran, emosi, dan tekad, kita akan sulit membuat orang lain mengenal kita berada di dalam tempat pilihan Allah. Tempat pilihan Allah adalah roh. Dalam hidup gereja, kita tidak boleh mengandalkan pernyataan pendapat, melainkan mengandalkan penggunaan roh. Datang ke tempat kediaman Allah berarti datang ke dalam roh.
SUATU TEMPAT YANG NIKMAT
Ketiga: tempat pilihan Allah adalah suatu tempat yang nikmat. Istilah makan berulang-ulang dipakai dalam Ulangan 12. Ayat 7 menunjukkan bahwa kita harus makan di hadapan Allah di tempat pilihan Allah. Dalam ayat 18 kita nampak persepuluhan dari hasil bumi tanah permai, lembu dan kambing sulung, semuanya harus dimakan di hadapan Allah di tempat pilihan-Nya. Masalah makan mengacu kepada kenikmatan. Jadi, tempat pilihan Allah ialah tempat yang ada kenikmatan. Bila di suatu tempat tidak mendatangkan kenikmatan Tuhan bagi kita, kita harus menaruh tanda tanya: apakah tempat ini tempat yang dipilih Allah? Hasil bumi tanah permai melambangkan kelimpahan kekayaan Kristus, ke manakah kita memperolehnya? Kita boleh memperolehnya di Bukit Sion di Yerusalem pada hari-hari raya tiap tahun. Menurut prinsip ini, hari ini kita boleh melalui adanya kenikmatan kekayaan Kristus mengenal tempat pilihan Allah. Kenikmatan itu merupakan ciri-ciri khas dari tempat pilihan Allah.
SUATU TEMPAT SUKARIA
Terakhir, tempat pilihan Allah adalah tempat sukaria. Ulangan 12:12 dan 18 mengatakan tentang sukaria di hadapan Tuhan. Sukaria semacam ini berkaitan dengan memakan buah bungar hasil bumi dan lembu dan anak kambing sulung. Sukaria semacam ini bukan sekadar sukacita. Jika orang sedang bersukacita, mungkin saja ia sangat tenang. Tetapi ketika seorang bersukaria, pasti ia akan mengucapkan beberapa patah kata, atau mengeluarkan suara soraksorai. Tempat kediaman Allah adalah sebuah tempat yang bersukaria. Bila umat Allah berhimpun bersama, memang seharusnya tidak saja senang, bahkan bersukaria.
Dari uraian kata-kata ini kita mempunyai empat jalur untuk mengenal gereja yang normal dan sejati: Satu gereja yang sejati harus memiliki nama yang unik, yakni nama Kristus. Di sini roh manusia mendapat keunggulan, kelimpahan kekayaan Kristus dinikmati orang, dan di sini kita dapat bersukaria di hadapan Tuhan. Ketika kelimpahan kekayaan Kristus menjadi kenikmatan kita, dengan sendirinya kita akan dipenuhi sukacita dan sukaria. Jadi, di dalam hidup gereja kita ada nama Tuhan dan penggunaan roh kita. Kita pun menikmati kelimpahan kekayaan Kristus dan bersukaria di dalam Tuhan. Inilah tempat pilihan Allah, tempat unik pilihan-Nya untuk memelihara keesaan.