← Daftar isi Tumpuan Keesaan yang Sejati · bab 3/10

AKIBAT PERPECAHAN — BABEL, BABILON, DAN BABILON BESAR

Pembacaan Alkitab:

Kej. 2:9b, 17; 11:4, 9; 1 Raj. 12:26-30; 15:34;

2 Taw. 36:5-20; 1 Kor. 1:11-13a; Why. 17:3-5

DUA GARIS

Dalam Alkitab ada dua garis: garis hayat dan garis maut. Kedua garis ini berasal dari dua sumber yang ada dalam alam semesta. Satu dari sumber itu ialah Allah, dan satunya lagi ialah Iblis, Satan. Tambahan pula, kedua garis ini masing-masing mempunyai akibatnya yang khas. Garis hayat berawal dari pohon hayat dan berakhir pada Yerusalem Baru. Garis maut berawal dari pohon pengetahuan baik dan jahat, melalui Babilon Besar, dan berakhir pada lautan api. Keesaan berada pada garis hayat, berawal dari Allah, dan berakhir pada Yerusalem Baru. Tetapi perpecahan berada pada garis maut, berawal dari Iblis, melewati Babilon Besar, dan berakhir pada lautan api. Jika kita ingin memahami kebenaran yang besar mengenai keesaan dalam Alkitab, perlulah kita jelas akan kedua sumber, garis, dan akibat ini. Kemudian kita akan mengetahui keesaan dan perpecahan milik aspek mana.

Kebanyakan orang Kristen tidak memperhatikan masalah perpecahan, sebab mereka tidak nampak keseriusan kedua garis ini. Janganlah mengira perpecahan itu suatu perkara yang sepele. Perpecahan adalah perkara yang sangat serius, berkaitan dengan hayat dan maut. Di dalam keesaan berarti di dalam hayat, tetapi di dalam perpecahan berarti di dalam maut. Pada bab terdahulu telah kita tunjukkan bahwa hakiki keesaan adalah hayat dan terang. Dalam bab ini kita akan maju ke depan untuk melihat akibat perpecahan yang pertama yaitu Babel, kemudian Babilon, dan terakhir Babilon Besar.

TAKKAN TERPECAH-BELAH LAGI

Empat karya besar Allah berkaitan dengan penciptaan, pemilihan, ciptaan baru, dan Yerusalem Baru dalam langit baru dan bumi baru. Selain Allah sebagai satu-satunya sumber yang wajar dalam alam semesta, ada sumber lain, yakni Iblis, yang memiliki unsur dan akibat yang lain. Sampai pada Yerusalem Baru, sumber, unsur, dan akibat ini, semuanya akan dicampakkan ke dalam lautan api. Maka, dalam langit baru dan bumi baru, Allah akan menjadi sumber yang unik, dan hanya unsur dan akibatnya yang tetap tinggal. Jadi, dalam alam semesta baru tidak akan ada perpecahan, tidak ada maut, tidak ada duka, tidak ada ratapan, tidak ada kesakitan, dan tidak ada kegelapan lagi. Kita pun dapat berkata bahwa dalam langit baru dan bumi baru tidak ada dosa, dunia, daging, ego, dan Iblis. Di sana tidak akan ada perkara-perkara negatif. Ini berarti tidak ada perpecahan lagi.

Perpecahan mencakup segala perkara negatif, antara lain seperti Iblis, dosa, dunia, daging, ego, manusia lama, temperamen buruk, dan sebagainya. Kalau kita beroleh terang tentang sifat perpecahan, kita akan nampak bahwa ia mencakup setiap perkara negatif. Jangan mengira perpecahan itu berdiri sendiri, tanpa berkaitan dengan daging, ego, dan keduniawian. Perpecahan tidak hanya berkaitan dengan semua perkara negatif, bahkan ia mencakup segala perkara negatif.

Sebagaimana perpecahan itu mencakup segala perkara negatif, maka seprinsip dengan itu, keesaan pun mencakup berbagai perkara; ia mencakup Allah, Kristus, dan Roh Kudus. Efesus 4:3-6 menunjukkan hal ini. Ayat-ayat ini mewahyukan bahwa di dalam keesaan ada Allah Bapa, Kristus Tuhan, dan Roh itu sebagai pemberi hayat. Keesaan ini mencakup bahkan perkara-perkara positif seperti roh kelahiran kembali kita dan pikiran kita yang telah diubah dan diperbarui. Setiap perkara positif tercakup di dalam keesaan yang wajar ini.

Yerusalem Baru kelak akan menjadi totalitas akhir keesaan yang di dalamnya mencakup semua perkara positif. Namun lautan api akan menjadi tempat timbunan perpecahan serta segala perkara negatif yang tercakup di dalamnya. Kita boleh mengatakan bahwa lautan api akan menjadi lautan maut abadi yang mencakup semua perkara negatif dalam alam semesta. Lautan api akan menjadi tong sampah yang terakhir dan universal, sedangkan Yerusalem Baru akan menjadi totalitas akhir dan ekspresi keesaan. Kota ini akan berciri-ciri khas dengan sebuah takhta, sebatang sungai, sebatang pohon, dan seruas jalan. Di jalan itu akan mengalir sungai air hayat dan di seberang-menyeberang sungai akan tumbuh pohon hayat. Jadi, kita boleh dengan memadai menyebut satu jalan yang satu di Yerusalem Baru itu jalan hayat. Jalan yang unik ini akan menihilkan perpecahan. Perpecahan dengan segala perkara negatif yang berkaitan dengannya hanya dapat terlihat di dalam lautan api.

SUMBER BABEL

Akibat pertama perpecahan ialah Babel. Sumber Babel ialah pohon pengetahuan baik dan jahat. Andaikata Hawa tidak memakan buah pohon pengetahuan itu, maka tidak mungkinlah keturunannya membangun Menara dan Kota Babel. Berdasarkan catatan Kejadian 3, Adam telah memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat. Karena dia telah memakan buah itu, maka pohon pengetahuan itu sesungguhnya telah masuk ke dalam dirinya dan secara subyektif telah menjadi bagiannya. Hal ini ditunjukkan dalam Kejadian 4. Dalam pasal tersebut kita melihat munculnya kebencian, pembunuhan, poligami, dan penemuan berbagai senjata untuk berperang. Kejadian 6 menyingkapkan suatu situasi yang lebih jahat lagi. Manusia telah menjadi daging (ayat 3), kejahatan manusia besar di bumi (ayat 5). Lagi pula, seperti tertulis dalam ayat 11, “Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan.” Allah melihat dunia ini telah bejat benar, “sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi” (ayat 12). Seperti kita ketahui, kemudian Allah menghukum generasi bejat itu dengan air bah. Tetapi penghukuman itu pun tidak dapat mengubah sifat manusia. Berdasarkan Kejadian 11, manusia bahkan berani melawan Allah. Pada ayat 4 pasal tersebut dikatakan, “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara . . . dan marilah kita cari nama.”Untuk mencari nama bagi diri sendiri, mereka memberontak kepada Allah. Akibat pemberontakan itu ialah perpecahan dan kekacauan. Itulah Babel, akibat pertama perpecahan. Akibat dari pemberontakan di Babel itu, manusia menjadi terpecah-belah.

MAKNA BABEL

Perpecahan di Babel meliputi penyembahan berhala. Beberapa sejarawan percaya bahwa pada bata-bata yang dipakai untuk mendirikan Menara dan Kota Babel bertuliskan nama-nama berhala. Yosua 24:2 mengatakan, “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain.” Ayat ini menunjukkan bahwa sebelum Abraham dipanggil Allah, ia melayani allah-allah lain di Ur-kasdim, ini berarti ia beribadah kepada berhala. Maka perpecahan manusia di Babel meliputi penyembahan berhala.

Dari beberapa pasal Kitab Kejadian ini kita nampak bahwa perpecahan mencakup perkara-perkara negatif seperti kebencian, pembunuhan, poligami, peperangan, kebejatan, pemberontakan, dan penyembahan berhala. Akibat dari unsur perpecahan yang mencakup berbagai hal itu, pertama adalah Babel dengan perpecahan dan kekacauannya. Maka makna Babel ialah perpecahan dan kekacauan.

KEESAAN UMAT ALLAH

Walaupun Allah perlu melepaskan atau mengesampingkan suku bangsa ciptaan-Nya, namun Ia tidak melepaskan tujuan kekal-Nya terhadap manusia. Demi belas kasihan-Nya, Ia malah menampakkan diri kepada seorang dari anggota ras Adam itu, yaitu Abraham, dan memanggil dia keluar dari lingkungannya itu. Di sini kita nampak pemilihan Allah. Seperti yang telah kita tunjukkan, dalam hal pemilihan Abraham, Allah bertindak menurut sifat keesaan-Nya. Jadi, Ia hanya memilih satu orang, bukan sekelompok orang banyak. Allah menyuruh Abraham meninggalkan negeri, sanak saudara, dan rumah bapanya, ke suatu tempat yang akan diberikan-Nya kepada Abraham dan keturunannya.

Kemudian, di bawah berkat Tuhan, keturunan Abraham, bani Israel, berkembang biak. Setelah bani Israel keluar dari Mesir, mereka masuk ke tanah permai, negeri yang dijanjikan Allah kepada Abraham. Berdasarkan catatan Kitab Ulangan, Allah berpesan kepada mereka jangan melakukan ibadah di tempat pilihan mereka sendiri (Ul. 12). Sebaliknya, mereka harus merendahkan diri di hadapan Allah dan menerima pilihan-Nya. Dengan menghormati Tuhan dalam hal tempat bagi penyembahan korporat dan menerima tempat unik pilihan Allah, maka bani Israel akan terpelihara dalam keesaan. Menurut pilihan Allah, Bait Suci itu didirikan di atas Bukit Sion, dan umat Allah harus melakukan perjalanan ke sana tiga kali setahun. Ruang maha kudus dalam bait yang dibangun di Bukit Sion itulah pusat keesaan umat Allah. Pusat ini adalah tempat Allah berfirman dan ia memelihara keesaan umat pilihan Allah.

EGOISME DAN AMBISI ADALAH PENYEBAB PERPECAHAN

Namun, pada suatu hari, negara ini telah terpecah menjadi dua kerajaan; yang di utara menjadi Kerajaan Israel, yang di selatan menjadi Kerajaan Yehuda. Yerobeam menjadi raja kerajaan utara, Rehabeam menjadi raja kerajaan selatan. Setelah terjadi perpecahan, masuklah perkara penyembahan berhala. Yerobeam tidak hanya membuat kerajaan terpecah, ia pun menetapkan berhala di Betel dan di Dan (1 Raj. 12:29). Yerobeam membuat dua lembu emas dan berkata kepada umat: “Hai Israel, lihatlah sekarang allah-allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.” Berhala-berhala itu berasal dari ambisi egois Yerobeam. Yerobeam mendirikan pusat ibadah lain oleh karena ia takut kehilangan kerajaannya. Satu Raja-raja 12:26-27 mengatakan, “Maka berkatalah Yerobeam dalam hatinya: ‘Kini mungkin kerajaan itu kembali kepada keluarga Daud. Jika bangsa itu pergi mempersembahkan kurban sembelihan di rumah TUHAN di Yerusalem, maka tentulah hati bangsa ini akan berbalik kepada tuan mereka, yaitu Rehabeam, raja Yehuda, kemudian mereka akan membunuh aku dan akan kembali kepada Rehabeam, raja Yehuda.’” Untuk mencegah hal itu terjadi dan untuk melindungi kerajaannya, Yerobeam mendirikan satu pusat penyembahan tandingan, mendirikan berhala. Ini dengan jelas menunjukkan bahwa penyembahan berhala itu berasal dari ambisinya.

Kita harus menerapkan prinsip ini kepada situasi orang Kristen hari ini. Perpecahan dalam kekristenan diakibatkan dari egoisme dan ambisi. Karena ada orang-orang tertentu berambisi memiliki “kekaisaran” mereka, maka mereka mengabaikan pilihan Allah. Ambisi mereka ialah memiliki satu “kerajaan” untuk memenuhi atau memuaskan keinginan egoisnya sendiri. Dalam Perjanjian Lama, tempat unik pilihan Allah ialah Bukit Sion di Yerusalem. Di tempat inilah Bait Suci dan ruang maha kudus untuk Allah berfirman berada. Namun Yerobeam, seorang yang ambisius dan egois, telah mendirikan pusat penyembahan lain. Boleh jadi ada orang akan membela dia, mengatakan bahwa dia bukan mendirikan sebuah pusat rekreasi duniawi, melainkan sebuah tempat untuk menyembah Allah. Akan tetapi, pusat penyembahan itu sebenarnya hanya sebuah selubung untuk menutupi ambisi Yerobeam. Demikian juga keadaannya hari ini. Karena egoisme dan ambisi, banyak tokoh Kristen mendirikan pusat penyembahan. Dari luar, pusat-pusat itu memang dibangun untuk beribadah kepada Allah, tetapi sebenarnya untuk memuaskan ambisi mereka dalam membangun “kekaisaran” manusia. Dalam arti yang sebenarnya, para pendiri organisasi kekristenan itu adalah Yerobeam-Yerobeam masa kini. Pusat penyembahan yang mereka dirikan sebenarnya adalah pusat ambisi semata. Karena itulah “berhala-berhala” dapat ditemukan di tempat-tempat itu.

Menurut prinsip dalam 1 Raja-raja 12:26-30, banyak organisasi kekristenan telah meletakkan “berhala-berhala” di dalamnya dengan maksud menarik dan menahan orang. “Berhala-berhala” itu membuat orang meninggalkan Allah. Yerobeam mencontoh teladan Harun di Gunung Sinai, yakni membuat dua patung lembu emas, dan berkata kepada umat, itulah allah yang membawa mereka keluar dari Mesir. Kita merasa heran mengapa bani Israel demikian buta sehingga mau menerima berhala-berhala itu sebagai allah mereka. Karena kita memandang dari kejauhan, maka kita dapat melihat dengan jelas. Tetapi andaikata kita berada di situ, jangan-jangan kita pun akan mengikuti Yerobeam dan bersekongkol dengannya.

Kita harus jelas terhadap situasi kekristenan hari ini. Kalau kita berada di bawah sorotan terang surgawi, kita pasti akan mengetahui bahwa “berhala” telah didirikan sebagai pengganti Allah dalam kebanyakan kelompok atau organisasi. “Berhala-berhala” itu menarik orang ke dalam kelompok-kelompok itu dan kemudian menahan mereka di sana.

KEDAMBAAN TERHADAP RUMAH ALLAH

Kita telah menunjukkan bahwa tempat Allah berfirman yang sejati adalah ruang maha kudus dalam Bait Suci. Mazmur 27:4 menyatakan keinginan yang dalam dari umat Allah terhadap Bait Suci, rumah Allah. Ayat ini mengatakan, “Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.” Betapa dambanya pemazmur tinggal dalam bait Tuhan dan memandang-Nya!

Kedambaan serupa juga terungkap dalam Mazmur 84. Dalam ayat 2-3 pemazmur berkata, “Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN . . . “ Ayat 11 menyambung, “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku daripada diam di kemah-kemah orang-orang fasik.” Di sini kita nampak betapa kuatnya kedambaan pemazmur terhadap rumah Allah, sampaisampai ingin diam di pelataran bait Tuhan. Ia rela sekalipun berdiri di ambang pintu bait, maksudnya menjadi penjaga pintu bait Tuhan.

Mazmur 36 dan 23 juga menyatakan kerinduan pemazmur akan bait Tuhan. Dalam Mazmur 36:9 pemazmur berkata bahwa umat Allah “mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu.” Sebab di dalam bait Allah itu mereka akan minum dari sungai kesenangan Tuhan. Dan di dalam bait Allah mereka baru beroleh sumber hayat, dan dalam terang-Nya ia melihat terang (ayat 10). Mazmur 23 ditutup dengan perkataan, “dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa” (ayat 6). Pada zaman Perjanjian Lama, orang-orang yang takwa, semua rindu diam dalam bait Allah, yaitu tempat kediaman Allah.

Kedambaan demikian akan menangkal kefasikan. Hanya karena kedambaan berada di hadirat Tuhan, di dalam rumah Allah, maka segala perpecahan dan perkara-perkara negatif yang tercakup di dalamnya akan tertangkal. Kedambaan ini akan membuat kita menjadi takwa, kudus, dan pada akhirnya menjadi esa dengan anak-anak Allah.

Ketika bani Israel menyanyikan Mazmur 133 sambil mendaki Bukit Sion, mereka sungguh tak mungkin saling membenci dan meremehkan. Mazmur 133 adalah sebuah mazmur keesaan. Keesaan ini mencakup semua perangai dan pekerti positif. Dengan memelihara keesaan, maka dengan spontan kita akan menikmati segala perangai dan pekerti itu. Tidak hanya demikian, kita akan memiliki penyertaan Allah.

KEESAAN MELINDUNGI KITA DARI BERBUAT DOSA

Melalui memelihara diri kita dalam keesaan, kita memiliki berkat yang diperintahkan Allah, yaitu hidup yang kekal. Tetapi jika ada beberapa orang Israel terpecah-belah dan enggan pergi ke Bait Suci, dengan sendirinya mereka akan kehilangan semua perkara atau berkat positif ini. Dan jika mereka memisahkan diri dari keesaan umat Allah, dengan sendirinya mereka akan dipenuhi dengan perkaraperkara negatif seperti kesombongan, kebencian, kritik, desas-desus, dan dusta. Ada yang berpura-pura tetap bersekutu dengan Allah, namun mendirikan satu pusat penyembahan lain. Tetapi seperti dalam kasus Yerobeam, jelas bagi kita bahwa tindakan perpecahan sedemikian telah membuka pintu bagi penyembahan berhala dan segala perkara jahat masuk ke dalam.

Berdasarkan catatan Perjanjian Lama, dosa Yerobeam, dosa perpecahan, telah membuka pintu bagi bermacam-macam kejahatan. Pada akhirnya, situasi umat Allah menjadi begitu bejatnya sehingga Allah membiarkan Nebukadnezar, raja Babilon, membakar Bait Allah, meruntuhkan dinding Yerusalem dan menawan umat itu ke Babilon. Maka, penawanan ke Babilon merupakan akibat lebih lanjut dari perpecahan. Yerusalem mewakili keesaan, tetapi Babilon serta semua kejahatannya mewakili perpecahan.

Sebelum memasuki hidup gereja, banyak di antara kita yang sangat kendur dan sembarangan, melakukan setiap hal menurut kesenangan sendiri. Namun kita dapat bersaksi bahwa tak lama setelah kita masuk ke dalam pemulihan Tuhan, hati nurani kita mulai berfungsi dengan wajar. Sedikit demi sedikit kita menanggulangi hal-hal tertentu dan menanggalkan kebiasaan-kebiasaan dalam cara hidup lama. Namun saya pun tahu ada beberapa orang, karena meninggalkan hidup gereja, lalu mengalami keadaan yang sebaliknya. Hati nurani mereka mulai kehilangan fungsinya, perkara-perkara negatif dan duniawi yang dulu telah ditinggalkannya berangsur-angsur datang lagi. Banyak yang memulai lagi menuntut kesenangan duniawi yang dulu disukai. Dan berangsur-angsur perkara-perkara duniawi bahkan dosa kembali lagi. Hal itu menunjukkan bahwa keesaan melindungi kita dari kejahatan, sedangkan perpecahan membuka pintu bagi dosa.

Lebih dari tiga puluh lima tahun yang lalu ada seorang remaja putri yang berasal dari keluarga kaya datang mengikuti sidang gereja di Chefoo. Penampilannya sama sekali bercorak duniawi, rambutnya disanggul dengan model menara. Kemudian ia berkata bahwa ia sengaja merias rambutnya dengan model itu untuk menyatakan protesnya. Namun ketika ia terus-menerus datang mengikuti sidang gereja, penampilannya mulai berubah. Di dalam sidang kami tidak menyinggung soal keduniawian, kami hanya membicarakan tentang kasih kepada Kristus dan gereja. Tidak seorang pun yang ingin mengoreksi tingkah laku remaja putri tersebut. Tetapi melalui berkontak dengan gereja, hati nuraninya mulai berfungsi, dan tanpa pengarahan orang lain, dengan spontan ia mengubah model rambut dan busananya.

TIDAK BERSALAH TERHADAP BAIT

Bagi bani Israel, Bait Suci adalah pusat keesaan. Karena itu, sangatlah serius jika seorang umat Allah yang mana pun bersalah terhadap bait. Orang-orang yang bersikap benar terhadap bait dan yang karenanya memelihara keesaan akan menikmati penyertaan Allah, berkat hayat, dan setiap perkara positif lainnya. Namun orang yang bersalah terhadap bait, yang melakukan perpecahan, akan membuka pintu lebar-lebar bagi segala macam dosa. Demikian pula orang Kristen pada hari ini. Banyak yang membicarakan kekudusan, kemenangan, dan kerohanian, namun kalau kita ingin memiliki pekerti-pekerti tersebut, perlulah kita berada di dalam keesaan yang wajar.

Coba renungkan lagi pengalaman orang Israel. Kekudusan, kemenangan, dan kerohanian bukanlah hasil dari upaya mereka. Pekerti-pekerti itu mereka peroleh karena mereka tidak bersalah terhadap bait, ruang maha kudus, dan tabut. Asal mereka menghormati bait, bertahan dalam keesaan, maka tak perlu mereka mencoba berupaya untuk menjadi kudus, menang, atau rohani. Mereka memiliki pekerti-pekerti itu secara spontan sebagai berkat yang dikaruniakan Allah karena berada di dalam keesaan. Banyak orang Kristen tidak dapat menang, kudus, dan rohani, dikarenakan mereka bersalah terhadap gereja dan tabut yang berada di dalam ruang maha kudus — Kristus. Jika ingin menjadi kudus, rohani, dan menang, haruslah kita bersikap benar terhadap Kristus dan gereja. Dengan kata lain, kita harus berada dalam keesaan yang wajar. Hanya keesaan itulah yang bisa memberi kita jalan untuk memperoleh semua pekerti dan atribut positif itu.

Ketika dulu saya berada di daratan China, Saudara Watchman Nee menjadi sasaran serangan dan oposisi. Orang-orang yang menyerang dan menentang dia berkata bahwa dia, gereja, dan para penatua, semuanya salah. Sewaktu saya pertama kali mendengar serangan dan penentangan demikian, saya merasa agak ragu, apakah situasinya benar demikian. Boleh jadi Saudara Watchman Nee, para penatua, dan gereja sudah salah. Namun pada akhirnya, saya mengetahui bahwa setiap penentang itu justru lebih banyak salahnya daripada Saudara Watchman Nee, para penatua, dan gereja. Saya perhatikan bahwa setiap orang yang menentang dan menyerang gereja, pada aspek kerohanian mereka menempuh kemerosotan. Saya tidak pernah melihat seorang di antara mereka masih bisa tumbuh maju kerohaniannya. Mereka telah merusak diri sendiri dan kondisi mereka semakin memburuk.

Satu-satunya perkara yang dapat melindungi kerohanian kita ialah keesaan. Jika kita tinggal dalam keesaan, semua perkara positif akan menjadi milik kita. Tetapi jika kita menempuh jalan perpecahan, maka berbagai dosa, kebencian, iri hati, pelecehan, bahkan mungkin percabulan dan penyembahan berhala, bisa menimpa kita. Cepat atau lambat, orang-orang yang melakukan perpecahan akan tertawan ke “Babilon” sebagai tawanan.

BABILON BESAR

Wahyu 17 juga menunjukkan bahwa dosa berkaitan dengan perpecahan. Pasal ini menyinggung tentang Babilon Besar. Pada ayat 5, Babilon Besar dijuluki sebagai “Ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi”. Ayat 4 mengungkapkan bahwa perempuan itu, walaupun luarannya enak dipandang, namun di dalamnya mengandung bermacam-macam dosa. “Perempuan itu memakai kain ungu dan kain kirmizi yang dihiasi dengan emas, permata dan mutiara, dan di tangannya ada suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya.” Pada luarannya, Babilon Besar mengenakan pakaian berwarna ungu dan kirmizi, berhias dengan emas, permata, dan mutiara, tetapi pada tangannya menggenggam cawan yang berisikan kekejian dan kenajisan percabulan. Ini merupakan sebuah lukisan kekristenan hari ini. Dalam kekristenan mungkin saja ada cawan emas, namun yang terisi dalam cawan adalah berhala, percabulan, dan berbagai jenis dosa. Itu adalah unsur dan hakiki perpecahan. Babilon Besar adalah totalitas akhir dari perpecahan yang diwahyukan dalam Wahyu 17.

Kekristenan hari ini benar-benar berada dalam keadaan perpecahan. Perpecahan demikian telah membuka jalan bagi berhala dan percabulan rohani. Dalam banyak kasus, mereka bahkan membuka jalan bagi berhala dan percabulan daging yang sesungguhnya. Kita telah berulang-ulang menegaskan bahwa itulah akibat perpecahan.

SERIUSNYA PERPECAHAN

Ketika kita beralih ke jalan pemulihan dan memasuki hidup gereja, perkara-perkara negatif yang berkaitan dengan perpecahan itu dengan sendirinya tersingkir. Tetapi seperti telah kita katakan bahwa orang-orang yang meninggalkan keesaan yang wajar, dengan sendirinya pula terlibat lagi dengan perkara-perkara jahat yang dulunya pernah dibuang itu. Ini menunjukkan kepada kita bahwa perpecahan adalah satu perkara yang sangat serius. Tidak ada perkara yang lebih menakutkan daripada perpecahan. Iblis tahu, asal ada ide perpecahan sedikit saja pada kita, maka ia secara diam-diam akan merusak kehidupan kristiani kita. Perpecahan ibarat rayap yang bisa membuat keropos rumah. Karena itu bahkan ide atau pikiran perpecahan pun harus kita tolak.

Ketika kita berada dalam keesaan, kita akan berada di dalam hayat dan menikmati berbagai pekerti dan atribut positif, lagi pula kondisi kerohanian kita akan berangsurangsur maju bertumbuh. Namun, asalkan kita menerima angan-angan perpecahan sedikit saja, kita akan membuka pintu bagi dosa dan membiarkannya masuk.