← Daftar isi Tumpuan Keesaan yang Sejati · bab 2/10

HAKIKI KEESAAN — HAYAT DAN TERANG

Pembacaan Alkitab:

Kej. 2:8-9; Im. 1:1-2; Mzm. 36:9-10; 133:1-3;

Yes. 2:3, 5; Yoh. 17:11, 17, 21-23; Ef. 4:3-6; Why. 21:22-24; 22:1-2; Ef. 1:10

Dalam bab pertama kita telah nampak keempat karya besar Allah dalam alam semesta, yaitu mengenai penciptaan, pemilihan, ciptaan baru, dan Yerusalem Baru dalam langit dan bumi baru. Dalam tiap tindakan karya tersebut, kita selalu nampak prinsip keesaan. Dalam penciptaan terdapat satu manusia korporat: dalam pemilihan Allah atas Abraham juga hanya terdapat satu manusia; kemudian gereja sebagai satu manusia baru, juga adalah satu-satunya ciptaan baru Allah. Terakhir, kota baru dalam alam semesta baru pun bercirikan keesaan. Pada hakikatnya, kota itu adalah satu manusia korporat. Karena itu, dalam setiap tindakan karya Allah, unsur dasarnya adalah keesaan.

KEESAAN YANG MENCAKUP KELIMPAHAN

Asal mula keesaan ini adalah karena Allah itu sendiri adalah esa, keesaan adalah hakiki-Nya. Dalam setiap tindakan Allah, kita melihat satu sumber, satu unsur, dan satu hakiki. Dalam penciptaan Allah, kita melihat satu Allah dan satu manusia korporat. Dalam pemilihan-Nya, kita melihat satu Allah dan satu manusia. Dalam gereja, juga hanya ada satu Roh dan satu manusia baru. Terakhir, di Yerusalem Baru pun hanya ada Allah Tritunggal yang unik di dalam satu kota. Dan kota ini bercirikan satu takhta, satu jalan, satu sungai, dan sebuah pohon. Jadi, keesaan yang kita bicarakan di sini bukan keesaan sebagian, melainkan satu keesaan yang agung, lengkap, luas, dan menyeluruh. Mudahmudahan kita semua memiliki kesan yang dalam terhadap visi keesaan ini. Bila kita nampak visi keesaan keseluruhan ini, niscaya kuman-kuman perpecahan akan terbunuh habis dan kita pun akan diselamatkan dari berbagai macam perpecahan.

HAYAT MEMPERTAHANKAN KEESAAN

Kejadian 2:8 mengatakan: “Selanjutnya Tuhan Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; di situlah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.” Taman merupakan sebuah tempat yang memiliki hayat. Setelah Allah menciptakan manusia, Ia menempatkan manusia di sebuah tempat yang penuh hayat. Di tengah-tengah Taman Eden terdapat sebatang pohon yang disebut pohon hayat (kehidupan). Taman itu tidak saja merupakan tempat yang memiliki hayat, bahkan di dalamnya ada pohon hayat. Tuhan Sang Khalik menempatkan manusia di dalam lingkungan sedemikian itu menunjukkan satu fakta bahwa Allah membentangkan diri-Nya sendiri dan dikaruniakan kepada manusia sebagai sumber dan suplai hayat.

Namun manusia tidak memakan buah pohon hayat, sebaliknya memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat. Karenanya, pada akhirnya manusia terpecah-belah menjadi bangsa-bangsa. Di Babel, manusia yang tercipta demi kehendak dan tujuan Allah telah terpecah-belah menjadi berbagai bangsa. Itulah akibat manusia tergoda oleh Iblis dan memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat. Babel adalah akibat manusia memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa kita perlu waspada untuk tidak menerima semua perkara yang bukan hayat. Sebab perkara apa pun yang sejenis itu, pasti mengakibatkan perpecahan, yaitu Babel.

Kita harus nampak bahwa manusia telah merosot terusmenerus dari Babel ke Babilon, dan dari Babilon ke Babilon Besar. Pada permulaan Perjanjian Lama ada Babel, pada akhir Perjanjian Lama ada Babilon, dan hingga akhir Perjanjian Baru ada Babilon Besar. Baik Babel, Babilon, maupun Babilon Besar, semua bersumber pada pohon pengetahuan baik dan jahat. Jadi, dari sini kita melihat bahwa akibat manusia menggunakan pohon pengetahuan adalah perpecahan.

Namun pada aspek lain, hayat adalah hakiki keesaan. Dalam ekonomi Allah, keesaan sempurna dan agung yang diwahyukan Alkitab hanya dapat dijaga dan dipertahankan dengan hayat. Begitu meninggalkan hayat, keesaan itu mustahil ada.

Hal ini dapat dibuktikan dari tubuh manusia. Walaupun pada tubuh manusia terdapat banyak anggota, namun hanya karena sama-sama menikmati satu hayat, yakni hayat tubuh, maka mereka adalah esa. Jadi keesaan tubuh jasmani kita itulah hayat tubuh jasmani kita. Lain halnya dengan sesosok mayat. Karena tidak memiliki hayat, ia akan terpisah satu dengan yang lain setelah dikubur. Begitu hayat meninggalkan tubuh, maka anggotanya pasti akan terpencar. Hal ini membuktikan suatu fakta, yakni hakiki keesaan tubuh jasmani manusia itulah hayat tubuhnya. Tanpa hayat, tidak ada keesaan.

Kekristenan yang jatuh pada hari ini pada hakikatnya bukan tubuh, melainkan sesosok mayat. Tulang-tulang kering yang tercantum dalam Yehezkiel 37 bukan hanya mencerminkan kondisi bangsa Israel pada masa lampau, tetapi juga boleh dipakai untuk melukiskan keadaan orang-orang Kristen pada hari ini. Dalam ayat-ayat Alkitab tersebut Allah memperlihatkan satu visi kepada nabi Yehezkiel yaitu di sebuah lembah terdapat tumpukan tulang belulang kering. “. . . tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel” (ayat 11). Kaum Israel mula-mulanya adalah satu tubuh yang hidup, namun setelah mereka terpecah-belah dan tercerai-berai, mereka menjadi tulang-tulang kering yang tidak saling bertaut satu dengan yang lain. Karena hayat telah meninggalkan tulang-tulang itu, maka hakiki keesaan lenyaplah. Hal ini sebaliknya membuktikan bahwa hakiki keesaan adalah hayat.

Allah menetapkan bahwa manusia korporat ciptaan-Nya berkembang biak dan melahirkan banyak keturunan. Bagaimanakah keturunan ini dapat mempertahankan keesaan? Dengan pendidikan? Dengan kekuasaan tertentu? Atau dengan organisasi? Tidak. Jalan satu-satunya ialah dengan hayat. Keesaan baru dapat dipertahankan bila kita berada di dalam hayat dan memakai hayat. Seandainya Adam memakan buah pohon hayat, walaupun keturunannya laksaan banyaknya, tetap dapat mempertahankan keesaan. Sayang, Adam telah memakan buah pohon pengetahuan, akibatnya hakiki perpecahan telah terinfus ke dalamnya, sehingga keturunannya pun terpecah-belah. Hakiki Babel yang ternyata dalam Kejadian 11 itulah yang terinfus ke dalam manusia pada Kejadian 3. Hal ini membuktikan bahwa semua ketidakrukunan dan perpecahan timbul dikarenakan kita menerima perkara-perkara yang bukan milik hayat ke dalam diri kita. Unsur semacam itu adalah faktor, sumber, dan hakiki perpecahan. Sebaliknya, hakiki keesaan adalah hayat; hanya hayatlah yang dapat mempertahankan kita di dalam keesaan.

PENYERTAAN ALLAH TERHADAP ABARAHAM ADALAH HAYAT

Karena kasus Babel, maka Allah terpaksa meninggalkan bangsa ciptaan-Nya dan melakukan satu tindakan lain, yakni memilih dan memanggil Abraham. Walaupun kisah Abraham dalam Kejadian tidak memakai istilah hayat maupun terang, namun pada hakikatnya, baik hayat maupun terang, keduanya itu besar sangkut-pautnya dengan Allah memilih Abraham. Allah menyertai Abraham, dan penyertaan Allah terhadap Abraham itulah hayat. Ketika Abraham dipanggil Allah, ia tidak tahu harus ke mana, sebab ia tidak memiliki peta atau petunjuk lain yang jelas. Penyertaan Allah menjadi peta, pimpinan, dan suplainya. Penyertaan Allah terhadap Abraham adalah hayat, juga segalanya. Kecuali penyertaan Allah, Abraham tidak mempunyai apa pun. Dia benar-benar seorang yang menikmati penyertaan Allah.

Berdasarkan catatan Kitab Kejadian, Allah pernah beberapa kali menampakkan diri kepadanya. Sudah tentu ketika Allah menampakkan diri, Allah juga berbicara kepadanya. Namun terhadap Abraham, berbicaranya Allah tidak lebih penting daripada penampakan-Nya. Kisah Para Rasul 7:2 mengatakan bahwa Abraham terpanggil karena Allah yang mulia menampakkan diri-Nya kepadanya.

PEMBICARAAN ALLAH DAN TUMPUAN KEESAAN

Ketika keturunan Abraham — orang Israel keluar dari Mesir dan tiba di padang gurun, mereka mendirikan sebuah kemah. Allah tinggal di dalam kemah ini, hasilnya, kemah ini menjadi Kemah Pertemuan. Kitab Imamat dan Bilangan penuh dengan pembicaraan Allah. Dalam Imamat 1:1 dikatakan bahwa dalam Kemah Pertemuan itu Tuhan Allah berbicara kepada Musa. Jadi, kemah, Kemah Pertemuan telah menjadi pusat berfirmannya Allah. Hampir keseluruhan Kitab Imamat merupakan catatan berbicaranya Allah kepada Musa dari Kemah Pertemuan ini.

Jika Musa dan orang Israel meninggalkan Kemah Pertemuan, mereka tidak dapat mendengarkan firman Allah. Mungkin ada beberapa orang Israel berkomentar, “Allah itu Mahahadir, berdasarkan apa kalian mengatakan bahwa Allah hanya berbicara di satu tempat? Kalian terlalu picik dan eksklusif. Allah itu Mahaagung, Dia tidak mungkin terbatas oleh Kemah Pertemuan. Kalian jangan mengatakan Allah hanya berfirman di satu tempat tertentu saja. Kalian jangan membatasi Allah yang tak terbatas itu di dalam Kemah Pertemuan yang kecil itu.” Memang benar Allah itu Mahabesar dan Mahahadir, tetapi berdasarkan kitab Perjanjian Lama, Dia senang tinggal di dalam kemah yang dibangun oleh umat-Nya di padang gurun itu. Walaupun langit memang luas, namun Allah tidak senang tinggal bersemayam di surga. Lagi pula Dia tidak berbicara kepada umat-Nya dari surga, melainkan dari Kemah Pertemuan.

Boleh jadi Anda merasa heran, apa hubungannya hal ini dengan Gereja? Anda akan bertanya, apa hubungannya antara pembicaraan Allah dengan tumpuan Gereja? Ya, pembicaraan Allah erat sekali hubungannya dengan tumpuan keesaan. Jika kita berada di atas tumpuan yang tepat, niscaya kita tiap hari akan mendengar pembicaraan Allah. Sebaliknya, jika kita tidak mendengar pembicaraan Allah, itu mungkin karena kita tidak mempunyai tumpuan keesaan.

Menurut Kitab Imamat, Allah berbicara dalam ruang maha kudus. Kitab Imamat justru adalah kumpulan dari pembicaraan ilahi itu. Karena itu, Allah berbicara di dalam keesaan. Begitu keesaan itu lenyap, pembicaraan Allah pun lenyap.

Firman Allah mendatangkan terang, dan terang berasal dari hayat. Bila kita tidak mempunyai pembicaraan Allah, kita akan jatuh ke dalam maut dan kegelapan. Maut dan kegelapan akan melukai dan mencelakakan Tubuh dan membuat anggota Tubuh itu tercerai-berai. Kekristenan yang merosot hari ini kekurangan keesaan sejati dalam hayat, karena itu, penuh dengan maut dan kegelapan.

MENERIMA TERANG DARI ALLAH YANG BERBICARA

Sering kali ada sejumlah orang Kristen bertanya dari mana datangnya terang yang kita sampaikan dalam tulisantulisan kita. Menyinggung tentang terang, diri kita sendiri tidak ada yang bisa dimegahkan. Terang kita itu kita terima dari Allah yang berbicara. Untuk menerima terang, kita perlu memiliki pembicaraan Allah di atas tumpuan keesaan yang wajar. Hari ini Allah masih tetap berbicara di dalam Kemah Pertemuan, yakni pusat tumpuan keesaan. Kemah Pertemuan adalah tumpuan dan fondasi keesaan. Di sinilah Allah berfirman dan menerangi kita. Begitu kita meninggalkan firman Allah, kita akan berada dalam kegelapan. Namun begitu firman-Nya datang, kita akan berada dalam terang. Di mana ada firman Allah, di situ pasti ada terang.

Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa sebelum kita datang ke jalan pemulihan Tuhan, kita berada dalam kegelapan. Tetapi sekarang kita merasa bahwa setiap perkara menjadi begitu jelas, transparan. Inilah terang. Ketika Anda mendengarkan berita-berita, Anda segera mengalami sorotan terang Tuhan. Baik ketika Anda dalam sidang, maupun di rumah, Anda tahu bahwa Anda berada di bawah sorotan terang-Nya. Penerangan sedemikian berasal dari firman Allah pada tumpuan keesaan. Karena itu, tiap kali orang bertanya tentang sumber terang yang kita terima, kita hanya dapat berkata bahwa kita memiliki terang karena kita berada di atas tumpuan keesaan.

KEPUASAN YANG BERLIMPAH

Orang Israel tidak hanya menikmati firman Allah, mereka juga dikenyangkan secara berlimpah dengan lemak di rumah Allah (Mzm. 36:9). Rumah Allah mengacu kepada Bait Suci, yaitu kelanjutan dan perluasan dari Kemah Perhimpunan. Pemazmur berkata selanjutnya dalam Mazmur 36:10, “Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.” Ayat ini pun berkaitan dengan Bait. Hanya di dalam Baitlah baru umat Allah dapat menikmati sumber hayat. Lagi pula, hanya di dalam Bait baru mereka dapat melihat terang dalam terang Allah. Ini merupakan petunjuk lagi bahwa hakiki keesaan umat Allah adalah hayat dan terang.

HAYAT MEMPERTAHANKAN KEESAAN

Hal ini diperkuat oleh Mazmur 133 yang berawal dengan kalimat: “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun (keesaan).” Dan Mazmur ini berakhir begini: “Sebab ke sanalah Tuhan memerintahkan berkat, yaitu hayat yang kekal” (Tl.). Mazmur ini dengan jelas menyatakan bahwa berkat hayat berkaitan dengan keesaan umat Allah.

Mazmur 133 juga mengatakan tentang minyak dan embun Gunung Hermon. Minyak dan embun yang berharga itu bukan berada di mana-mana, ia hanya dapat dinikmati di tempat tertentu. Kalau seorang Israel ingin menikmati berkat yang diperintahkan Tuhan, maka ia harus berada di tempat keesaan itu. Artinya, ia paling tidak setahun tiga kali melakukan perjalanan ke Bukit Sion. Misalkan, dari suku Dan ada beberapa orang berkata, “Mengapa kita semua harus pergi ke satu tempat untuk beribadah kepada Allah? Itu terlalu picik, terlalu agamawi, dan terlalu eksklusif. Allah itu ada di mana-mana. Kita boleh tinggal di Dan untuk menikmati, berkidung, dan memuji Allah.” Mereka memang boleh menikmati dan bernyanyi, namun mereka tidak mungkin menikmati berkat yang diperintahkan Tuhan itu, kecuali mereka pergi ke Bukit Sion.

Prinsip ini juga berlaku pada hari ini. Jika kita mau menikmati berkat hayat yang diperintahkan Tuhan, kita harus berada dalam tumpuan keesaan. Para penentang boleh mengklaim bahwa mereka memiliki berkat yang diperintahkan itu, tetapi sesungguhnya mereka tidak memiliki berkat tersebut. Maka, orang-orang yang mengira dirinya telah memilikinya adalah orang-orang yang takhayul. Allah tidak picik dan eksklusif, tetapi Dia adalah teguh, tidak goyah. Ia teguh terhadap prinsip dan ekonomi-Nya. Allah tidak bertindak berlawanan dengan keteguhan prinsip-Nya sendiri. Perkataan dalam Mazmur 133:3 itu pasti. Pemazmur di sini berkata bahwa ke sanalah, yakni ke keesaan itulah Tuhan memerintahkan berkat, yaitu hayat yang kekal. Ketika saudara-saudara diam bersama dalam keesaan, di sanalah ada minyak mengalir, dan embun turun, dan umat Allah menikmati berkat hayat. Jika kita kehilangan keesaan, kita kehilangan pengalaman urapan minyak, turunnya embun, dan berkat hayat. Jika kita ingin bertahan dalam keesaan, kita harus tinggal dalam hayat, sebab hayat mempertahankan keesaan. Hal ini benar bagi orang Israel pada zaman dulu, benar juga bagi kita pada hari ini.

TERPELIHARA DALAM HAYAT DAN TERANG

Kita telah nampak bahwa hayat berkaitan dengan manusia korporat ciptaan Allah yang semula, dan juga berkaitan dengan Abraham serta keturunannya, yakni bani Israel. Sekarang kita akan melihat bagaimana hayat adalah hakiki keesaan gereja sebagai ciptaan baru Allah. Dalam Yohanes 17, Tuhan pernah menyinggung masalah keesaan bukan dengan mengajarkannya kepada murid-murid-Nya, melainkan mendoakan mereka dengan hal tersebut. Doa itu menunjukkan bahwa keesaan hanya dapat dipelihara dan direalisasikan di dalam hayat. Dalam ayat 11 Tuhan berdoa, “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” Terpelihara di dalam nama Bapa berarti terpelihara di dalam hayat-Nya, sebab hanya orang yang lahir dari Bapa, yang memiliki hayat Bapa, baru bisa mengambil bagian dalam nama Bapa. Sang Anak telah memberikan hayat Bapa kepada orang yang dikaruniakan Bapa kepada-Nya (ayat 2). Karena itu, orang-orang yang percaya dapat menikmati hayat ilahi sebagai hakiki keesaan mereka. Jika kita terpelihara di dalam hayat Bapa, kita akan terpelihara di dalam keesaan.

Dalam ayat 17 Tuhan melanjutkan doanya, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu itulah kebenaran.” Dikuduskan berarti dipisahkan dari dunia bagi Allah. Makna sesungguhnya dari dikuduskan ialah dipelihara. Di sini Tuhan berdoa kepada Bapa agar orang-orang yang percaya itu dikuduskan dalam kebenaran, yaitu dalam firman Bapa. Kalau nama Bapa itu masalah hayat, maka kebenaran itu masalah terang. Jadi, hayat dan terang adalah hakiki keesaan.

Yohanes 17:22 mengatakan “Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Tritunggal dengan kemuliaan-Nya memelihara keesaan orang-orang yang percaya. Kita bukan terpelihara dalam keesaan melalui ajaranajaran atau doktrin-doktrin, melainkan melalui hayat dan terang. Allah Tritunggal itu sendiri adalah hayat, dan firman-Nya serta pembicaraan-Nya adalah terang. Melalui hayat dan terang inilah keesaan itu terpelihara. Itulah sebabnya Efesus 4 mengkaitkan keesaan gereja (Tubuh Kristus) dengan Allah Tritunggal, Roh itu, Tuhan, dan Allah Bapa.

Dalam sidang-sidang gereja, kita menikmati penyertaan Allah Tritunggal. Hal ini khususnya lebih terasa dalam sidang perjamuan Tuhan dan sidang doa. Melalui doa-doa yang diucapkan oleh kaum saleh dalam sidang doa, saya menikmati kemanisan Tuhan. Saya dapat bersaksi bahwa setiap kali saya hadir dalam sidang doa, saya selalu menikmati pengurapan Tuhan. Banyak di antara kita yang dapat bersaksi, yaitu kita tidak pernah memiliki kenikmatan sedemikian sebelum kita berada dalam pemulihan Tuhan. Namun ketika kita mengecap kemanisan Tuhan dalam sidang-sidang gereja, kita pun menerima suplai hayat dan mengalami sorotan terang hayat. O, saya begitu tersuplai dan diterangi dalam sidang doa! Allah Tritunggal beserta kemuliaan-Nya benar-benar menyertai kita. Dalam Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh — dengan kemuliaan-Nya itulah kita terpelihara dalam keesaan. Inilah sebabnya sesudah sidang doa, kita sering merasakan suatu kasih yang segar terhadap kaum saleh. Kita juga mempunyai suatu perasaan, yaitu telah mengalami lebih banyak pembangunan.

PERPUTARAN HAYAT, TERANG, DAN KEESAAN

Sangatlah penting bagi kita untuk nampak bahwa keesaan di antara anak-anak Allah terpelihara oleh hayat dan terang. Keesaan bukan terpelihara melalui doktrin, organisasi, atau strategi. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa dalam pemulihan-Nya, kita memiliki terang dan hayat. Pertama kita diterangi melalui firman Tuhan; kemudian kita menerima suplai hayat; dan terakhir hayat mendatangkan terang lebih banyak. Sesungguhnya kita menikmati perputaran terang dan hayat, hayat dan terang. Makin banyak terang yang kita miliki, makin banyak pula hayat yang kita nikmati; makin banyak hayat yang kita nikmati, makin banyak pula terang yang kita terima. Terang, hayat, dan keesaan, berjalan bersama-sama. Makin banyak terang, makin banyak pula hayat; makin banyak hayat, makin banyak pula keesaan; makin banyak keesaan, terang pun makin banyak pula. Perputaran terang, hayat, dan keesaan inilah yang memelihara keesaan kita.

Namun kita akan kehilangan keesaan jika kita berada dalam kegelapan dan maut. Kegelapan mendatangkan maut dan maut menyebabkan perpecahan. Tetapi ketika kita bertobat dan mengaku dosa kepada Tuhan, darah adi-Nya akan menyucikan kita. Penyucian darah adi selalu berkaitan dengan sorotan terang (1 Yoh. 1:7). Ketika dibasuh oleh darah di bawah sorotan terang, kita akan mengalami hayat lagi. Sesuai dengan pengalaman, kita dapat bersaksi bahwa hayat, terang, dan darah dalam 1 Yohanes 1 itu juga memiliki fungsi perputaran yang akan memelihara keesaan kita. Namun jika kita berada di dalam kegelapan, kita akan kehilangan keesaan, sebab kita kehilangan tumpuan gereja yang wajar. Dan akibatnya ialah maut dan perpecahan. Sekali lagi kita nampak bahwa hakiki keesaan adalah hayat dan terang. Keesaan berada di dalam hayat dengan terang dan di atas tumpuan yang wajar.

KEESAAN KOTA BARU

Hayat dan terang juga adalah hakiki keesaan kota baru — Yerusalem Baru. Wahyu 21 dan 22 membicarakan kota baru ini. Dalam pasal 21 terutama kita nampak terang, sedang dalam pasal 22 terutama adalah masalah hayat. Wahyu 21:23 mengatakan, “Kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya.” Di Yerusalem Baru tidak memerlukan terang alamiah, sebab ada kemuliaan Allah Tritunggal yang bersinar di sana. Kota ini akan diterangi oleh cahaya sinar Allah sendiri. Dikatakan lagi dalam ayat berikutnya, “Bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya” (ayat 24). Hal ini mengingatkan kita pada Yesaya 2:5 yang berbunyi, “Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN.” Terang memelihara keesaan dan menghalau kekacauan. Dalam Yerusalem Baru, terang akan mengendalikan, menguasai, memimpin, dan memelihara setiap benda agar semuanya rapi teratur. Jadi, terang bisa memelihara keesaan.

Wahyu 22:1-2 mengatakan, “Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air hayat, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan Anak Domba itu. Di tengah-tengah jalan kota itu, . . . ada pohon hayat . . .” (Tl.). Sungai air hayat mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba untuk menyuplai seluruh kota itu. Air hayat di sini melambangkan Allah di dalam Kristus menjadi Roh yang mengalirkan diri-Nya ke dalam kaum tebusan-Nya sebagai hayat dan suplai hayat mereka. Dalam Wahyu 22:1, air hayat merupakan sebatang sungai yang mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba untuk menyuplai dan membasahi seluruh kota Yerusalem Baru. Dalam keadaan demikian, seluruh kota itu dipenuhi oleh hayat ilahi demi memancarkan kemuliaan-Nya dalam hayat.

Ayat 2 mengatakan bahwa pohon hayat itu tumbuh di seberang-menyeberang sungai itu. Sebatang pohon tumbuh di seberang-menyeberang sungai melambangkan bahwa pohon ini adalah pohon anggur yang berkembang dan menjalar mengikuti aliran sungai hayat untuk diterima dan dinikmati umat Allah. Umat tebusan Allah akan menikmati Kristus sebagai pohon hayat menjadi bagian kekal mereka di dalam kekekalan (Why. 22:14, 19). Kristus, Sang pohon hayat, adalah suplai hayat yang mengalir menurut arus Roh air hayat itu untuk memudahkan kita menikmatinya. Ke mana saja Roh itu mengalir, di sana akan ada suplai hayat Kristus. Melalui air hayat dan pohon hayat, kota baru itu akan selamanya beroleh suplai yang melimpah. Dan dengan suplai hayat yang melimpah ini, keesaan Yerusalem Baru akan dipertahankan sampai selamanya. Di sini tak mungkin ada perpecahan apa pun. Terang akan menyinari seluruh kota, dan hayat akan mendiris dan menyuplai seluruh kota. Hayat dan terang ini akan melenyapkan kemungkinan terjadinya perpecahan. Bahkan bangsa-bangsa di sekitar kota baru akan menjadi satu pula. Ketika itu segala yang ada, baik yang di surga maupun yang di bumi, akan menjadi satu di bawah satu Kepala (Ef. 1:10). Ini akan merupakan keesaan terakhir, universal, dan abadi. Seperti yang kita tegaskan berulang-ulang bahwa keesaan ini akan terpelihara di dalam hayat dan terang.

Semua gereja dalam pemulihan Tuhan haruslah berada di dalam hayat dan di bawah sorotan terang. Melalui sorotan terang dan pendirisan serta suplai hayat, kita adalah esa; tanpa harus ada pengaturan atau organisasi bentuk apa pun. Hakiki keesaan bukan organisasi, melainkan hayat dan terang. Keesaan hanya bisa beroleh keunggulan dan bertahan di dalam hayat dan terang. Semoga kita memiliki kesan yang dalam terhadap fakta ini!