← Daftar isi Tumpuan Keesaan yang Sejati · bab 1/10

KEESAAN DALAM EMPAT KARYA BESAR ALLAH

Pembacaan Alkitab:

Kej. 1:26; 2:8-9, 16-17; 12:1-2; Mat. 16:16-19;

Ef. 1:22-23; 3:9-11, 21; 4:4-6, 11-12; 5:25-27;

Kol. 3:10-11; Why. 21:2-3; 22:1-2

Setiap kali kita membicarakan tumpuan gereja, kita merasa sedang terlibat dalam kancah peperangan rohani. Iblis, musuh Allah sangat benci kepada perkara tumpuan gereja yang telah tersembunyi berabad-abad bagi umat Allah. Tumpuan gereja langsung berkaitan dengan pentingnya gereja. Beberapa bagian dari Alkitab antara lain seperti Injil Matius, Kitab Efesus, dan Kitab Wahyu, semua mewahyukan pentingnya gereja. Baiklah kita terlebih dulu melihat pentingnya gereja yang diwahyukan dalam kitabkitab tersebut, kemudian maju ke depan melihat berbagai aspek dalam dan luar gereja. Hal ini akan membantu kita untuk mengapresiasi keesaan yang diwahyukan dalam empat karya besar Allah.

RENCANA DALAM KEKEKALAN YANG LAMPAU

Dalam Kitab Efesus yang khusus membicarakan gereja, kita melihat bahwa gereja adalah yang direncanakan Allah dalam kekekalan yang lampau. Sesuai kerelaan hati-Nya sebelum waktu berawal, menurut tujuan dan rencana kekal-Nya, Allah telah merencanakan ada gereja. Walau gereja muncul di dalam waktu, namun telah direncanakan Allah dalam kekekalan.

Hari ini sangat sedikit orang Kristen yang benar-benar mementingkan gereja. Mereka menganggap gereja sebagai sesuatu yang sedemikian saja, dan yang mereka perhatikan hanya keselamatan, kesucian, kemenangan, kerohanian, dan sebagainya. Ketika orang Kristen menyinggung masalah gereja, kebanyakan hanya bersifat argumentatif atau kritik, sedikit sekali yang memperhatikan gereja secara positif. Banyak orang Kristen yang aktif menganggap berkonsentrasi memperhatikan gereja adalah membuang-buang waktu. Namun dalam Kitab Efesus kita melihat bahwa gereja berkaitan dengan kehendak dan hasrat hati Allah. Karena gereja adalah satu perkara yang demikian besarnya dalam pandangan Allah, maka kita tidak berani sembarangan mengabaikannya.

TUBUH — KEPENUHAN KRISTUS

Kitab Efesus juga mewahyukan bahwa gereja adalah Tubuh — “Kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu” (Ef. 1:23). Gereja adalah Tubuh dan kepenuhan Kristus yang almuhit dan tak terbatas. Betapa besar dan agungnya gereja! Gereja bukan sekadar sejenis lembaga atau organisasi agama; gereja adalah Tubuh Kristus. Sebagaimana kita perlu satu tubuh materi untuk mengekspresikan diri kita, Kristus yang tak terhingga dan tak terbatas ini pun perlu satu Tubuh sebagai kepenuhan-Nya untuk mengekspresikan diri-Nya dalam alam semesta. Tentu, hal ini jauh lebih penting daripada keselamatan atau kerohanian pribadi seseorang. Saat kita nampak bahwa gereja adalah Tubuh dan kepenuhan Kristus yang almuhit, niscaya kita selamanya tidak akan lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak penting.

TUJUAN KEMATIAN KRISTUS

Dalam Efesus 5:25 Paulus berkata, “Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Kata-kata ini menunjukkan bahwa ketika Kristus mati di atas salib, itu adalah penyerahan diri-Nya bagi gereja. Tujuan kematian-Nya adalah untuk melahirkan gereja. Pada waktu kita diselamatkan, kita nampak Kristus mengasihi kita dan mati bagi kita. Pengenalan demikian sudah tentu tidak salah. Akan tetapi kita pun perlu nampak bahwa tujuan Kristus mengasihi kita dan mati bagi kita adalah membuat kita menjadi satu bagian dari gereja. Dia telah menyerahkan diri-Nya dan pada akhirnya adalah untuk melahirkan gereja. Kematian karena kasih yang dinyatakan Kristus di atas salib mengandung satu target yang pasti, dan target tersebut bukan untuk memperoleh jutaan kaum beriman individual, melainkan untuk melahirkan gereja. Untuk gerejalah Kristus mengasihi kita. Dia mengasihi kita dan menyerahkan diri-Nya bagi kita adalah untuk membuat kita menjadi anggota dalam Tubuh-Nya.

TUJUAN KARUNIA-KARUNIA

Dalam Efesus 4:11-12 tercantum, “Dialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberitapemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajarpengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan Tubuh Kristus.” Tujuan Kristus memberikan karunia-karunia kepada gereja bukanlah untuk pekerjaan penginjilan atau pengajaran Alkitab atau untuk pembinaan kaum saleh. Pemberian karunia-karunia itu adalah untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pembangunan Tubuh Kristus. Jadi, tujuan pemberian rasul-rasul, nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala-gembala, dan pengajar-pengajar hanya satu, yaitu memperlengkapi kaum saleh bagi pembangunan gereja. Namun sayang, pekerjaan dan aktivitas kebanyakan orang Kristen dewasa ini tidak memperhatikan gereja. Karena itu kita perlu mempunyai kesan yang dalam terhadap pentingnya gereja. Berdasarkan Kitab Efesus, kehendak Allah terpaut pada gereja, setiap karunia yang Dia berikan adalah untuk pembangunan gereja.

MENJADI ANAK-ANAK UNTUK TUBUH

Pentingnya gereja tercantum dalam Matius 16. Dalam ayat 15-16 Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya, “‘Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?’ Jawab Simon Petrus, ‘Engkaulah Mesias (Kristus), Anak Allah yang hidup!’” Petrus beroleh wahyu dan mengenal Yesus adalah Kristus yang diutus Allah untuk menggenapkan amanat-Nya. Tidak diragukan lagi bahwa amanat ini berkaitan dengan pembangunan gereja. Petrus telah nampak bahwa Tuhan Yesus adalah Kristus dan Anak Allah yang hidup. Karena Tuhan adalah Anak Allah yang hidup, maka Ia melahirkan anak-anak Allah, yakni anggota-anggota Tubuh. Tubuh Kristus tidak dapat dibangun dengan manusia yang alamiah, hanya dapat dibangun dengan orang-orang yang telah dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah.

Ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita tidak sekadar menerima Dia sebagai Juruselamat dan Penebus, terlebih pula menerima Dia sebagai Anak Allah yang hidup. Kebanyakan orang mengetahui pada saat mereka diselamatkan mereka telah menerima Kristus sebagai Juruselamat dan Penebus, namun sedikit sekali yang mengetahui bahwa mereka telah menerima Dia sebagai Anak Allah yang hidup. Saya juga tidak memiliki pengetahuan demikian ketika saya bertobat dan percaya kepada Tuhan. Yesus Kristus Tuhan Penyelamat kita adalah Anak Allah yang hidup. Sebutan Kristus ini memiliki makna bahwa Dia adalah Persona yang membuat kita menjadi anak-anak Allah. Melalui menerima Kristus sebagai Anak Allah, kita pun menjadi anak-anak Allah.

Berdasarkan Kitab Roma, setiap orang yang dibenarkan oleh iman di dalam Kristus adalah anggota dalam Tubuh Kristus. Namun untuk menjadi anggota dalam Tubuh, perlu terlebih dulu menjadi anak-anak Allah, yaitu kita harus terlebih dulu “diputrakan”. Itulah sebabnya Roma 8 terlebih dulu mengatakan tentang keputraan, dan sampai hak keputraan, pasal 12 baru dikatakan Tubuh. Hanya bila kita telah menjadi anak-anak Allah, barulah kita dapat menjadi anggota dalam Tubuh.

BAGI PEMBANGUNAN GEREJA

Petrus sungguh berbahagia karena ia nampak wahyu bahwa Yesus adalah Dia yang diurapi, yang melaksanakan amanat Allah. Dia juga adalah Anak Allah yang menghasilkan anak-anak Allah menjadi anggota Tubuh — gereja. Begitu Petrus menyatakan bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang hidup, Tuhan segera berkata bahwa Dia akan membangun gereja-Nya, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku” (ayat 18). Hal ini mengacu kepada semua apa adanya Kristus adalah untuk pembangunan gereja. Tidak hanya kematian Kristus untuk gereja, bahkan diri-Nya sendiri, persona-Nya, segala kualifikasi, predikat, dan jabatan-Nya, semua adalah untuk pembangunan gereja.

DUA ALAM LINGKUNGAN

Tuhan pun berkata kepada Petrus bahwa alam maut tidak akan menguasai gereja yang telah terbangun. Gereja akan mempengaruhi kuasa alam maut. Dalam ayat 19 Tuhan menyinggung kunci Kerajaan Surga. Kuasa alam maut mengacu kepada ruang lingkup kuasa kerajaan Iblis, sedangkan Kerajaan Surga mengacu kepada alam lingkungan yang diperintah oleh Allah. Di sini terdapat dua alam lingkungan: alam lingkungan alam maut di bawah kekuasaan Iblis dan alam lingkungan surgawi Kerajaan Allah. Gereja menempati posisi penting di antara kedua alam lingkungan ini. Namun si licik itu sangat benci apabila melihat umat Allah memperhatikan gereja. Ia tahu bahwa gereja sanggup menanggulangi kuasa alam maut, dan ia pun tahu kuasa alam maut tidak berdaya mengalahkan gereja yang dibangun Kristus di atas batu karang ini. Batu karang pada satu aspek mengacu kepada Kristus sendiri, pada aspek lain mengacu kepada wahyu mengenai Kristus yang ditunjukkan Allah Bapa kepada Petrus. Tuhan tidak berkata, “Kuasa alam maut tidak akan menguasai laksaan orang Kristen yang telah diselamatkan.” Musuh tidak merasa terancam oleh orang-orang Kristen secara individual. Namun ketika semua orang beriman berkumpul menjadi gereja, Iblis akan gemetar, kuasa alam maut pun akan terancam.

Kata-kata Tuhan ini memberi isyarat bahwa ketika Ia membangun gereja-Nya, kuasa alam maut akan bangkit menentang, tetapi alam maut tidak berdaya mengalahkan gereja yang dibangun oleh Kristus. Kata “menguasai” menyiratkan peperangan. Begitu pembangunan gereja direalisasikan, suasana perang pun meningkat. Kendati demikian, kuasa alam maut tidak berdaya mengalahkan gereja.

Sebelum pemulihan Tuhan datang ke Amerika Serikat, tidak pernah kita melihat peperangan rohani seperti yang kita lihat hari ini. Dalam pemulihan Tuhan, jumlah kita tidak banyak, jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan Katolik dan berbagai denominasi besar. Walaupun kecil, seolah tidak berbobot, namun kita telah mengalami serangan dan perlawanan yang dahsyat. Jelas bahwa di balik serangan dan perlawanan itu ada kuasa Iblis dan alam maut. Sebelum pemulihan hidup gereja dimulai di Amerika Serikat, kuasa kegelapan boleh istirahat dengan tenang, tetapi dewasa ini Tuhan sedang melangsungkan pembangunan hidup gereja yang normal. Maka bangkitlah kuasa itu memusuhi dan menentang gereja. Namun, gereja mempunyai kunci Kerajaan Surga, dan kunci ini pasti dapat mengalahkan kuasa alam maut.

Pentingnya gereja menjadi lebih nyata lagi dalam bentrokan antara gereja dan alam maut. Di mana ada gereja, maka kuasa alam maut di situ tidak akan menang, sebab Kerajaan Surga di situ berkuasa dan unggul. Kuasa kunci Kerajaan Surga sedang bekerja dengan perkasa di dalam gereja.

KESAKSIAN YESUS

Dalam kitab terakhir, Kitab Wahyu, dikatakan bahwa gereja di setiap lokal adalah kesaksian Yesus. Hal ini lebih memperkuat pentingnya gereja. Setiap gereja lokal adalah sebuah kaki pelita yang memancarkan Kristus. Tanpa gereja lokal yang wajar, kesaksian Yesus tidak mungkin menjadi riil dan berkuasa.

KEBERADAAN DALAM DAN LUAR GEREJA

Setelah memahami pentingnya gereja, baiklah sekarang kita melihat keberadaan dalam dan luar gereja. Menurut prinsip ketetapan Allah, setiap benda dalam alam semesta pada hakikatnya memiliki dua aspek: aspek di dalam, berkaitan dengan isi; dan aspek yang di luar, berkaitan dengan penampilan. Demikian pula dengan gereja. Keberadaan dalam gereja itulah isi gereja yang berkaitan dengan kesaksian gereja. Keberadaan luar gereja berkaitan dengan tumpuan dan penampilan gereja. Isi gereja adalah kesaksian gereja, tetapi penampilan gereja adalah tumpuan gereja. Banyak orang rohani hanya memperhatikan isi gereja, kesaksian gereja, namun sama sekali tidak memperhatikan tumpuan gereja. Hanya mementingkan satu aspek dan mengabaikan aspek lainnya, adalah perkara yang sangat menggelikan. Kita harus dengan seimbang mementingkan isi gereja dan tumpuan gereja.

Keberadaan kita sebagai umat manusia membuktikan pentingnya kedua aspek ini. Manusia memiliki aspek dalam: jiwa dan roh, dan aspek luar, yakni tubuh. Meskipun kita sangat mengapresiasi roh dan jiwa, kita pun sangat memperhatikan tubuh jasmani kita. Sebenarnya, kebudayaan kita sebagian besar diperuntukkan bagi pemeliharaan keberadaan tubuh kita. Kita sedikit pun tidak berani menilai rendah kepentingan aspek luar dari hayat manusia.

PENTINGNYA TUMPUAN GEREJA

Walaupun kita mudah sekali menyadari pentingnya aspek luar hayat manusia, namun mungkin kita tidak nampak pentingnya aspek luar dari keberadaan gereja. Ada sejumlah orang yang disebut orang rohani, tetapi mereka pada hakikatnya telah mengabaikan tumpuan gereja. Mereka malahan mengatakan aspek luar gereja itu tidak penting dan tidak diperlukan. Mungkin saja mereka beranggapan bila mulai menyinggung hal tersebut, maka akan timbul masalah; sedangkan bila kita hanya membicarakan aspek rohani atau kesaksian kerohanian gereja, maka sedikitlah masalah yang timbul. Itulah sebabnya mengapa kebanyakan orang hanya menuntut kerohanian dan menghindari tumpuan gereja. Namun, sebagaimana kita perlu memperhatikan tubuh kita demi mempertahankan hidup, begitu pula kita harus mementingkan tumpuan gereja agar kita dapat menempuh hidup gereja yang wajar. Tanpa tumpuan, gereja mustahil ada secara riil. Karena kekristenan hari ini mengabaikan tumpuan gereja, maka tidak ada ekspresi gereja yang riil di antara mereka. Dengan ini kita nampak bahwa masalah tumpuan gereja adalah perkara yang sangat penting.

Lebih dari lima puluh tahun yang lalu, di China, Tuhan membangkitkan sekelompok orang muda untuk mendatangkan pemulihan-Nya. Lewat beberapa tahun kemudian, barulah kita mulai nampak tumpuan gereja. Namun hingga tahun 1937, ketika Saudara Watchman Nee menyampaikan beberapa berita (kemudian dibukukan dengan judul “Merenungkan Kembali Misi Kita”), barulah kita nampak pentingnya tumpuan gereja. Sekarang dengan belas kasihan Tuhan, masalah ini menjadi jelas dan transparan bagaikan kristal.

Masalah tumpuan gereja telah menyingkapkan betapa seriusnya perpecahan. Kapan saja kita membicarakan tumpuan gereja, kita harus siap menghadapi masalah perpecahan. Kita semua tahu bahwa dalam kekristenan hari ini terdapat ribuan sekte atau denominasi. Perpecahan-perpecahan itu bukan disebabkan karena isi atau kesaksian gereja, melainkan karena semuanya telah mengabaikan tumpuan gereja.

Tumpuan gereja adalah keesaan gereja. Begitu ada keesaan, saat itu juga ada tumpuan. Bila kita kehilangan keesaan sejati, kita pun kehilangan tumpuan. Karena itu, jika kita ingin membahas tumpuan gereja, kita harus membahas keesaan gereja. Keesaan dalam Alkitab merupakan satu kebenaran yang besar.

KEESAAN DALAM PENCIPTAAN ALLAH

Alkitab mewahyukan adanya empat karya besar atau empat perbuatan besar dari Allah: penciptaan, pemilihan, ciptaan baru, dan Yerusalem Baru. Dalam setiap karya-Nya kita nampak keesaan. Ketiga karya yang pertama — penciptaan, pemilihan Kerajaan Israel, dan pembentukan gereja, yakni ciptaan baru — adalah yang sudah terjadi di masa lampau. Yang masih harus ditunggu kedatangannya ialah Yerusalem Baru, kota Allah yang baru. Setelah masa Kerajaan Seribu Tahun berlalu, kota baru ini akan muncul secara penuh dan sempurna.

Penciptaan Allah adalah esa. Allah hanya menciptakan satu alam semesta. Dalam alam semesta yang esa ini, manusia adalah inti ciptaan Allah. Alkitab mewahyukan dengan jelas bahwa Allah hanya menciptakan satu manusia. Ketika saya masih muda, saya tidak mengerti mengapa Allah tidak serentak menciptakan jutaan manusia. Menurut pikiran saya, Allah akan lebih bijak jika Dia berbuat demikian. Sudah tentu Allah bisa menciptakan jutaan manusia dalam waktu yang sama, tetapi Allah tidak berbuat demikian. Demi keesaan, Allah hanya menciptakan satu manusia: Adam.

Kejadian 1:26 mengatakan, “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa. . .” Menurut ayat ini, Allah terlebih dulu berkata, “Baiklah kita menjadikan manusia” (tunggal), kemudian berkata “supaya mereka berkuasa”. Allah memakai kata ganti orang jamak untuk menyebut manusia yang Ia ciptakan, ini menyatakan bahwa seorang manusia yang Ia ciptakan adalah satu manusia korporat. Sebab Allah tidak bermaksud mendapatkan banyak manusia, melainkan satu manusia korporat. Ini adalah untuk memelihara keesaan.

Prinsip ini berlaku untuk gereja hari ini. Menyinggung tentang gereja, di satu aspek, boleh dikatakan gereja di suatu tempat, misalkan, gereja di Anaheim. Namun di aspek lain, boleh juga memakai kata ganti orang jamak atau majemuk (seperti “kita”) untuk menyebutkan anggota gereja, sebab gereja merupakan satu wujud korporat yang mencakup seluruh orang beriman di satu lokal. Jadi, berbicara tentang gereja boleh dengan bentuk tunggal, mengacu kepada gereja, boleh pula dalam bentuk jamak yang mengacu kepada kita, semua orang beriman di dalam Kristus. Ini berarti gereja adalah satu wujud korporat dan kita adalah gereja. Dalam prinsip yang sama, manusia ciptaan Allah adalah satu manusia korporat, gereja pun adalah satu wujud korporat.

KEESAAN DALAM PEMILIHAN ALLAH

Karena kejatuhan manusia yang berulang-ulang, maka manusia korporat ciptaan Allah juga jatuh. Manusia yang diciptakan untuk kehendak Allah semakin merosot ke bawah hingga tingkat terendah, yakni Babel dan terpecahpecah menjadi berbagai bangsa. Adam yang satu itu memang milik Allah, tetapi bangsa-bangsa yang banyak itu berasal dari Iblis. Mereka menjadi teramat jahat, sebab mereka terbentuk dari perpecahan manusia korporat yang diciptakan Allah untuk menggenapkan kehendak-Nya. Karena mereka telah menjadi bangsa-bangsa, maka mereka tidak mungkin lagi dapat menggenapkan kehendak Allah. Saat demikian, Allah hanya dapat melepaskan umat manusia yang telah jatuh. Akan tetapi demi kehendak kekal-Nya, Allah kemudian memanggil satu orang, yaitu Abraham, untuk menjadi leluhur bangsa yang terpilih. Dari antara umat manusia yang telah jatuh itu Allah memilih satu orang untuk menjadi nenek moyang bangsa yang terpilih. Allah hanya menciptakan satu manusia, demikian pula Ia hanya memanggil satu manusia. Kita boleh mengira seharusnya Allah memanggil dan memilih banyak orang. Dan jika kita adalah Allah, kita pasti berbuat begitu. Namun itu tidak sesuai dengan hakiki Allah. Hakiki Allah adalah esa. Maka baik penciptaan maupun pemilihan-Nya, Ia setia pada hakiki-Nya sendiri. Ketika membicarakan keesaan gereja, dalam Efesus 4 Paulus mengatakan satu Roh, satu Tuhan, satu Allah. Karena Allah itu esa, maka Ia terikat oleh hakiki-Nya sendiri, sehingga Ia hanya menciptakan satu manusia dan hanya memanggil satu manusia. Jika tidak demikian, berarti Ia telah melanggar hakiki-Nya.

Dalam melaksanakan sesuatu Allah tidak pernah tergesa-gesa. Walaupun Ia adalah Allah yang mahakuasa, tetapi dalam melakukan apa pun, Ia tidak pernah tergesagesa. Ia telah menciptakan satu manusia — Adam; Ia juga telah memilih satu manusia — Abraham. Karena hakiki-Nya esa, maka Ia hanya menciptakan satu manusia, juga hanya memilih dan memanggil satu manusia.

Ketika keturunan Abaraham akan memasuki tanah permai, Allah berpesan kepada mereka jangan menyembah kepada-Nya di tempat yang mereka pilih sendiri (Ul. 12:8), mereka harus ke tempat yang dipilih Allah untuk menegakkan nama-Nya (Ul. 12:5). Tidak peduli berapa jumlah orang Israel, mereka diharuskan tiga kali setahun datang ke tempat pilihan-Nya. Menurut konsepsi alamiah, permintaan semacam itu tidak masuk akal. Namun Allah menuntut demikian kepada umat-Nya adalah demi memelihara keesaan mereka. Sayang, pada akhirnya keesaan umat Allah ini hilang. Pertama, keesaan umat manusia yang tercipta telah dirusak, kemudian karena kejatuhan Kerajaan Israel, keesaan umat pilihan Allah juga dirusak. Sebagian dari mereka dibawa ke Asyur, sebagian lainnya ke Mesir, dan sebagian besar lagi pergi ke Babilon. Karena umat Allah terpecah-pecah sedemikian rupa, maka terhambatlah penggenapan kehendak-Nya.

KEESAAN DALAM CIPTAAN BARU ALLAH

Dalam proses menghasilkan gereja sebagai ciptaan baru, Allah pun bertindak sesuai dengan hakiki-Nya yang esa. Pada hari Pentakosta, berapakah gereja yang terlahir? Jawabannya kita semua tahu, hanya satu gereja. Tuhan Yesus telah hidup selama tiga puluh tiga setengah tahun di bumi, pada akhir tahun-tahun itu tidak ada jutaan orang yang mengikut Dia seperti yang kita harapkan. Dia tidak pernah mendirikan sekolah untuk melatih murid-murid-Nya. Selama beberapa tahun Ia memberitakan Injil, setidaknya pernah dua kali Ia mengenyangkan orang banyak dengan mukjizat, tetapi Ia tidak menyuruh orang-orang itu tetap tinggal dan mengikuti Dia. Jadi, pada hari Pentakosta hanya ada 120 orang yang berhimpun bersama-sama.

Di sini kita sekali lagi nampak bahwa jalan Allah selalu esa. Maka, pada hari Pentakosta hanya terlahir satu gereja sebagai awal hidup gereja (church life). Hal ini menunjukkan bahwa awal gereja adalah sesuai dengan hakiki keesaan Allah. Kemudian, melalui perluasan hidup gereja, banyak gereja dibangunkan, itu seperti keturunan Adam dan Abraham. Meskipun Adam memiliki keturunan yang tak terhitung jumlahnya, tetapi dalam penciptaan Allah, hanya ada satu orang. Demikian juga, meskipun keturunan Abraham banyak seperti pasir di tepi laut, tetapi pada awalnya Allah hanya memilih dan memanggil satu orang. Kini dalam Perjanjian Baru kita nampak Roh Kudus pada hari Pentakosta hanya menghasilkan satu gereja. Gereja ini adalah Tubuh, juga satu manusia baru.

Sebagai manusia baru, gereja adalah satu manusia korporat, sama seperti Adam. Sebagaimana manusia korporat ciptaan Allah kemudian terbagi menjadi banyak bangsa, demikian pula manusia korporat ciptaan baru Allah kini telah terbagi menjadi banyak sekte atau denominasi. Inilah pekerjaan Iblis. Bangsa-bangsa telah merusak satu manusia ciptaan Allah, sedangkan sekte-sekte telah merusak manusia korporat ciptaan baru Allah. Sebagaimana manusia korporat ciptaan Allah dipecah-belah hingga tercerai-berai, dan sebagaimana bangsa Israel juga dipecah-belah hingga tercerai-berai, demikian pula gereja hari ini. Walaupun perpecahan demikian merupakan suatu rintangan bagi tergenapnya kehendak Allah, namun Allah selamanya tidak gagal atau kalah, kehendak-Nya pasti akan digenapkan-Nya.

KEESAAN DALAM YERUSALEM BARU

Pada akhirnya, kehendak Allah akan rampung melalui kota baru — Yerusalem Baru. Dalam pandangan Allah, kota baru ini telah dihasilkan. Prinsip kota baru sama dengan prinsip terciptanya manusia. Setelah manusia tercipta, ia ditempatkan di depan pohon hayat yang unik; ia juga diperingatkan agar jangan menyentuh pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Memakan buah pohon hayat, ia akan mempertahankan keesaan; tetapi memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, ia akan jatuh ke dalam perpecahan, sebab pohon itu berkaitan dengan maut, kegelapan, dan Iblis. Karena itu, dalam prinsip penciptaan-Nya, Allah hanya menciptakan satu manusia dan menempatkannya di depan sebatang pohon. Prinsip ini juga berlaku bagi Yerusalem Baru. Dalam kota yang unik ini kita melihat satu takhta, satu jalan, satu sungai, dan satu pohon hayat yang tumbuh di kedua tepi sungai.

Berdasarkan Efesus 1:10, Kristus — inti ekonomi Allah — pada akhirnya akan melalui gereja, mempersatukan segala sesuatu di bawah satu kepala. Perkataan Efesus 1:10 ini akan terpenuhi ketika Yerusalem Baru dalam langit dan bumi baru kelak. Dan Yerusalem Baru akan dipakai Allah untuk mempersatukan segala sesuatu di bawah satu Kepala. Ini berarti tidak akan ada perpecahan lagi, hanya ada keesaan sampai kekal.

DI ATAS TUMPUAN KEESAAN

Dari Kejadian 1 hingga akhir Wahyu 22, kita telah nampak adanya keesaan ilahi yang konsisten. Allah itu esa, manusia ciptaan Allah pun esa. Manusia yang esa ini ditempatkan di depan satu pohon hayat. Setelah manusia korporat ciptaan Allah terpecah-belah menjadi bangsabangsa, Allah lalu memilih satu orang — Abraham. Setelah beberapa abad kemudian Allah melahirkan satu gereja. Terakhir, Allah akan memperoleh satu kota abadi yang di dalamnya ada satu takhta, satu jalan, satu sungai, dan satu pohon. Jadi, dalam setiap tindakan dari keempat karya besar Allah kita dapat melihat satu prinsip, dan hal ini seharusnya menyadarkan kita bahwa gereja pada hari ini harus esa dan juga harus dibangun di atas tumpuan keesaan. Keesaan adalah satu-satunya tumpuan gereja. Semoga dalam hal keesaan yang mustika ini Tuhan mengaruniakan lebih banyak terang kepada kita.