← Daftar isi Doa · bab 9/19

HATI NURANI DOA 1. KEDUDUKAN HATI NURANI

Hati nurani adalah bagian yang paling mencolok dari roh manusia. Selain hati nurani, di dalam roh masih ada dua bagian lainnya, yaitu intuisi (perasaan langsung) dan persekutuan (komunikasi). Namun dalam manutia yang jatuh, fungsi kedua bagian ini kabur dan tidak jelas, hanya hati nurani yang masih dapat sedikit menunjukkan fungsinya. Dalam diri orang yang telah diselamatkan, fungsi intuisi maupun persekutuan telah dipulihkan. Akan tetapi fungsi yang paling mencolok dari roh tetap adalah hati nurani. Karena hati nurani adalah bagian yang paling mencolok, maka ini juga merupakan bagian yang paling penting dari roh. Dalam bab mengenai Roh Doa, kita telah membahas, bahwa orang yang ingin berdoa harus di dalam Roh dan rohnya harus terlatih dengan baik. Akan tetapi, untuk melatih Roh, terlebih dahulu harus melatih hati nuraninya. Jika hati nurani manusim tidak ditanggulangi dengan baik, maka roh tidak akan berguna di hadapan Allah. Jika hati nurani tidak tepat, maka roh tidak akan berfungsi bahkan kempis. Jadi kita nampak, betapa pentingnya kedudukan hati nurani di dalam kita.

Walaupun hati nurani adalah bagian utama dari roh kita, ia bukanlah ego kita. Kepribadian kita, ego kita adalah jiwa. Jiwa dengan berbagai kemampuannya, yaitu pikiran, emosi, dan tekad adalah faktor penentu dari perbuatan-perbuatan kita. Ditinjau dari perbuatan-perbuatan, yang menjadi faktor penentu adalah jiwa dengan berbagai bagiannya, bukan hati nurani. Hati nurani diibaratkan seperti Dewan Pengawas sedangkan bagian-bagian dari jiwa diibaratkan seperti Dewan Legisiatif Pengawasan terhadap, semua kegiatan jiwa adalah tanggung-jawab hati nurani. Bukan hati nurani yang memprakarsai, bukan hati nurani yang mernaharni, dan bukan hati nurani yang menyenangi; hati nurani hanya mengawasi. Anda berbuat benar atau salah, diperkenan Allah atau tidak, pikiran Anda dalam kegelapan atau terang, emosi Anda tepat atau tidak, keputusan Anda menyenangkan Allah atau tidak, semua ini di bawah pengawasan dan pemeriksaan hati nurani. Jika pikiran Anda diperkenan Allah, hati nurani akan berkata, ya; jika tidak, ia akan berkata, tidak. Kalau kesenangan Anda adalah juga kesenangan Allah, hati nurani akan setuju; kalau tidak, ia akan tidak setuju. Jika keputusan atau pikhan Anda sesuai dengan keinginan Allah, hati nurani akan berkata, amin; jika tidak, ia tidak akan setuju.

Butir-butir di atas membentuk kedudukan hati nurani. Hati nurani adalah bagian utama, bagian yang paling mencolok dari roh. Walaupun hati nurani bukan organ yang memerintah dari ego, namun ia adalah organ yang mengawasi dan memeriksa berbagai bagian jiwa.

2. HATI NURANI YANG MURNI

Satu Timotius 1:5 den 19 membicarakan tentang hati nurani yang murni (baik). Dalam pengertian kita, hati nurani yang murni adalah hati nurani tanpa tuduhan. Tetapi ada perbedaan antara murni dan tanpa tuduhan. Dalam butir ini kita akan membahas mengenai hati nurani yang murni dan butir selanjutnya kita akan membahas mengenai hati nurani tanpa tuduhan.

Orang sering berkata, "Hati nurani si A buruk" atau "hati nurani si B sangat baik". Pemikiran tentang hati nurani yang baik den tidak baik ini benar-benar sesuai dengan konsep Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru, hati nurani yang baik berarti hati nurani yang tidak bengkok, tidak sesat, melainkan hati nurani yang normal dan benar. Hati nurani yang tidak sesat adalah hati nurani yang normal sedangkan hati nurani yang tidak bengkok adalah hati nurani yang benar. Hati nurani yang murni adalah hati nurani yang normal dan benar. Sebaliknya hati nurani yang tidak baik adalah hati nurani yang sesat dan bengkok. Misalnya, saya ketahuan mencuri uang majikan saya, namun saya membenarkan perbuatan saya dengan berkata, bahwa majikan saya berhutang kepada saya. Saya beralasan, karena majikan saya tidak membayar apa yang seharusnya saya peroleh, maka tidaklah salah kalau saya mencuri uangnya guna membereskan kekurangan itu. Setiap orang tahu bahwa alasan semacam itu adalah memutarbalikkan fakta. Jika saya beralasan seperti itu, itu membuktikan bahwa hati nurani saya tidak baik.

Dalam 1 Timotius 1, rasul berkata, bahwa beberapa orang telah menolak hati nuraninya, dan karena itu kandaslah iman mereka. Oleh sebab itu, orang Kristen harus terus-menerus melatih dirinya untuk memiliki hati nurani yang benar dan normal, tidak bengkok, tidak sesat. Hati nurani harusiah lurus dan tidak berat sebelah. Jika ya, katakan ya, jika tidak, katakan tidak; jika Anda salah, akuilah; jika Anda benar, akuilah walaupun kepala Anda sebagai taruhannya dan jangan takut akan penindasan atau kesulitan. Jika Anda berbuat salah, akuilah sekalipun Anda mungkin menderita kerugian. Peliharalah sikap ini terhadap diri Anda sendiri dan juga terhadap orang lain. Ada saudara saudari yang sering menunjukkan hati nurani yang tidak tepat. Contohnya, jika ada persoalan yang melibatkan istrinya atau sanak keluarganya sendiri, perkataannya sungguh berbeda dengan bila persoalan itu melibatkan orang lain. Jika orang lain bersalah, ia akan dengan mudah mencela dan menghukurn. Tetapi jika adiknya sendui bersalah, ia akan memperkecil kesalahan adiknya, mengabaikannya, dan bahkan mencari alasan untuk mencuci atau menutupinya. Perilaku demikian menunjukkan bahwa hat nuramnya tidak tepat, tidak nonnal, dan bengkok. Itu adalah hati nurani yang tidak baik. Jika kita ingin melayani Allah dan ingin menjadi orang yang berdoa, hati nurani kita harus lurus. Jika istri saya atau adik saya atau bahkan saya sendiri yang bersalah, maka saya harus mengakui kesalahan itu. Garis yang ditarik harus benar-benar lurus dan tepat. Tidak peduli siapa, apa, di mana, atau kapan, jika ada perbuatan yang melanggar garis ini, harus dinyatakan salah. Inilah hati nurani yang lurus, hati nurani yang murni.

Ketika rasul Paulus menulis surat kepada Timotius, gereja sudah berada dalam keadaan merosot dan banyak hal berada dalam kegelapan. Pada saat demikian, rasul secara khusus menyinggung tentang hati nurani; pada saat dernikian, untuk memutuskan perkara apa pun, ditinjau dari aspek manusia, harus memakai hati nurani sebagai tolok ukur. Perdebatan, argumen, dan pertengkaran, tidaklah berguna. Anda hanya perlu memeriksa hati nurani Anda.

Ketika saya tinggal di China Utara lebih dari 30 tahun yang lalu, saya sering menghadapi tentangan dari luar sehubungan dengan kebenaran-kebenaran dan berita-berita yang saya sampaikan. Setiap kali setelah saya menyampaikan berita pada hari Tuhan atau dalam sidang-sidang istimewa, reaksi-reaksi selalu datang dengan cepat. Beberapa saudara mengatakan kepada saya, "Saudara Lee, penatua, pendeta, atau penginjil tertentu berkata bahwa pengajaranmu salah dan apa yang kauberitakan itu bidah." Terkadang saya hanya mengatakan, "Jika ia membiarkan Tuhan Yesus menjamah setiap apa yang ia miliki, ia akan mengetahui bahwa pengajaran saya adalah benar." Anda tahu apa yang saya maksudkan. Mengapa ia berkata bahwa pemberitaan saya salah? Karena hati nuraninya tidak lurus; dan berita itu telah menyentuh apa yang dimilikinya di hadapan Tuhan. Jika ia adalah orang yang hidup mutlak untuk Tuhan dan telah mempersembahkan diri sepenuhnya, ia akan memiliki hati nurani yang lurus. Jika ia berbicara sesuai dengan hati nurani yang lurus, ia tentu mengakui bahwa berita yang saya sampaikan adalah benar. Akan tetapi, karena ia berada dalam kegersangan dan kegagalan di hadapan Tuhan, maka hati nuraninya telah bengkok, mernutarbalikkan fakta, dan ia membela dirinya sendiri. Akibatnya, ia tidak dapat berbicara sesuai dengan hati nurani yang lurus.

Bagian yang paling akurat di dalam manusia adalah hati nurani. Tetapi ketika manusia jatuh dan gelap, kejatuhan dan kegelapan itu mempengaruhi hati nuraninya dan menyebabkan penyimpangan. Kapan kala gereja berada dalam terang, semuanya berjalan menurut kebenaran, maka gereja tidak ada masalah. Namun ketika gereja gersang dan jatuh, timbullah kekacauan. Saat demikian, hanya memberitakan kebenaran tidak ada gunanya, karena bagaimana mungkin seseorang yang jauh dari Tuhan bisa bergumul untuk kebenaran? Justru dalam situasi demikian inilah rasul menulis surat-surat kiriman, khususnya mengenai hati nurani. Ada orang sering datang untuk beragumen dengan kita mengenai kebenaran tertentu. Pada akhir setiap argumentasi, kita hanya berkata, "Saudara, karena kita hari ini berada dalam zaman yang gelap, setiap anak Allah harus hidup di hadapan Tuhan berdasarkan hati nuraninya." Setelah kita berkata demikian, ada orang yang tidak lagi berargumentasi dengan kita. Begitu kita menjamah hati nuraninya, orang akan tidak lagi banyak bicara. Karena bagaimanapun, selalu ada standar dalam hati nurani manusia. Namun pada umumnya manusia tidak menjaga hati nuraninya agar menjadi hati nurani yang baik. Sebakknya, manusia sering mengkhianati hati nuraninya dan membelokkannya, sehingga menghasilkan hati nurani yang tidak baik. Dalam masa kernerosotan gereja, Anda dan saya perlu melatih diri agar tidak mengikuti zaman yang bengkok ini, juga tidak berjalan menurut kondisi kekristenan yang merosot. Kita harus memelihara hati nurani yang lurus, normal, tepat, dan murni. Demikian kita bisa menjadi pendoa yang tepat.

3. HATI NURANI TANPA CELA

Hati nurani tanpa cela adalah hati nurani tanpa dosa. Tanpa dosa berarti semua perbuatan yang dihakimi oleh hati nurani telah ditanggulangi di hadapan Allah dan telah diampuni oleh Allah. Karena itu, tidak ada lagi perasaan bersalah dan penghukuman dalam hati nurani. Ini dinyatakan dalam Kisah Para Rasul 24:16,"Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni (tidak bercela) di hadapan Allah dan manusia." Begitu kita melakukan kesalahan, kita harus segera menanggulanginya, sehingga tidak ada tuduhan, perasaan bersalah atau cela pada hati nurani kita. Hati nurani kita harus bebas dari penghakiman di hadapan Allah, juga bebas dari tuduhan di hadapan manusia. Hati nurani kita harus merespon dengan jelas ketika terjamah.

Saudara-saudara, ini adalah perkara yang sangat serius. Anda mungkin dapat menipu orang lain, tetapi ingatlah, Anda tidak mungkin menipu hati nurani Anda sendiri. Sering kali, lebih-lebih pada saat kemerosotan dan kekacauan gereja, hanyak orang senang berdebat tentang doktrin-doktrin dan berselisih mengenai pelayanan terhadap Allah. Jika Anda memiliki hati nurani yang tidak bercela, Anda telah sepenuhnya menanggulangi segala sesuatu di hadapan Allah, maka di dalam Anda akan ada respon yang jelas dan tegas ketika Anda berdebat dengan orang lain. Namun jika ada hal-hal yang belum Anda tanggulangi di hadapan Allah, misalnya, Anda tidak mematuhi terang yang Anda lihat, atau Anda tidak menjawab permintaan Allah, atau Anda tidak mau melepaskan sesuatu yang Allah minta agar Anda lepaskan, maka akan ada tuduhan dalam hati nurani Anda, dan Anda tidak akan dapat berbicara dengan lantang dan berbobot.

Pada tahun-tahun yang lalu, kami menjumpai banyak orang semacam ini. Kadang-kadang diri kita sendiri juga seperti itu karena keengganan kita menjawab permintaan tertentu dari Allah, dan akhirnya menyebabkan tuduhan dalam hati nurani kita. Tuduhan ini menjadi lubang yang mengakibatkan kebocoran di dalam kita. Walaupun kita tetap menyanyi dan melayani, tetapi roh kita tidak kuat, doa dan perkataan kita tidak bisa lantang. Hingga suatu hari, kita menanggulangi tuduhan itu bersandarkan kasih karunia Allah, menjawab permintaan Allah, segera tuduhan dalam hati nurani kita lenyap, doa kita berubah, dan saat kita berdiri untuk bersaksi, di dalam kita ada satu penunjang, penopang, inilah hati nurani yang tidak bercela.

Hari ini, saat gereja demikian morosot, tidaklah mudah bagi orang yang melayani Tuhan untuk menjaga hati nuraninya tidak bercela. Paulus mengatakan perkataan ini ketika dia dihakimi. Pada saat itu, bukan hanya kekuatan duniawi menentangnya, tetapi juga ada penguasa-penguasa agama Yahudi mengecamnya dengan firman Allah dan hukum-hukum Perjanjian Lama. Bukanlah hal yang mudah bagi Paulus untuk nnenjaga hati nurani tak bercela di hadapan Allah. Dia bisa berdiri di hadapan pejabat-pejabat kafir dan penguasa-penguasa Yahudi, baik dari kelompok politik maupun kelompok agama, dan berkata dengan lantang, "Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia." Ditinjau dari sudut politik, aku tidak bersalah; ditinjau dari sudut agama, yaitu hukum-hukukm orang Yahudi, aku tidak berdosa. Hati nuraniku mantap di hadapan Allah. Tidak ada kebocoran, lubang, cela pelanggaran, dosa, atau dakwaan dalam hati nuraniku. Itulah sebabnya aku mampu berdiri di hadapan kalian dan berbicara dengan lantang."

Pemimpin-pemimpin agama Yahudi, orang-orang Farisi, orang-orang Saduki, memiliki hati nurani yang bercela di hadapan Allah. Jika Paulus bertanya kepada mereka dengan pertanyaan ringan, sedikit ketukan saja akan membuktikan kebusukan hati nurani mereka. Karena hati nurani Paulus telah ditanggulangi di hadapan Allah, maka ia dapat berkata bahwa hati nuraninya tanpa cela; karena itu ia adalah orang yang melayani Allah dan juga orang yang berdoa. Hati nuraninya menunjang karena tidak ada cela di dalamnya. Demikian juga kita, kita harus menjaga hati nurani kita tidak bercela bersandarkan pembasuhan darah adi, agar dapat menjadi pendoa.

4. HATI NURANI YANG MURNI DAN BERSIH

Tuhan Yesus berkata, "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah" (Mat. 5:8). Suci berarti bersih, juga murni. Kita juga perlu hati nurani yang bersih, murni. Dalam 2 Timotius 1:3 rasul berkata, bahwa ia melayani Allah dengan hati nurani yang murni. Ini bukan sekadar hati yang bersih. Sesuatu yang bersih belum tentu murni, karena mungkin ada campuran di dalamnya. Contohnya, jika Anda menggandengkan sepotong besi dan sepotong kayu bersarnaari dan mencucinya dengan bersih; keduanya akan bersih, tetapi tidak murni. Kita harus mempunyai hati nurani yang bersih juga murni.

Misalnya, seseorang meminta kepada Allah berbagai hal yang baik, tetapi dia tidak mencari Allah dengan mutlak, dalam hati nuraninya juga tidak ada perasaan bersalah. Hati nurani semacam ini meskipun bersih, tetapi tidak murni. Seseorang bisa saja mengarah kepada Allah dan pada saat yang sama mengarah kepada pekerjaan Injil, mendambakan pemberitaan Injil yang sukses, menghasilkan buah. Hal-hal ini tidak bisa dikatakan sebagai hal yang buruk atau cemar, tetapi maksud di dalam dirinya mungkin tidak murni, masih menginginkan sesuatu selain Allah. Menghasilkan buah dalam pemberitaan Injil, memiliki kekuatan untuk melaksanakan pekerjaan, memimpin gereja agar berkernbang, semua itu baik, tetapi di dalam semua itu mungkin ada motivasi yang tidak murni. Itu berarti hati nurani tidak murni.

Apa artinya memiliki hati nurani yang murni? Memiliki hati nurani yang murni berarti Anda bisa berkata kepada Allah, “Ya Allah, aku hanya menginginkan-Mu, tidak ada yang lain. Aku bahkan tidak peduli dengan pekerjaan Injil, atau kekuatan untuk melayani, atau berbuah dalam pekerjaan, atau penyebaran dan perkembangan gereja. Aku hanya menginginkan diri-Mu." Hati nurani seperti ini adalah hati nurani yang murni. Pada masa kemerosotan gereja, Paulus berbicara dalam Surat Kirimannya kepada Timotius mengenai hati nurani yang murni, hati nurani yang baik. Paulus berkata, bahwa dia melayani Allah dengan hati nurani yang murni. Hati nuraninya hanya mencari Allah. Segala sesuatu yang di luar Allah tidak memiliki tempat di dalam dirinya. Dia adalah orang yang melayani Allah dengan hati nurani yang murni sedemikian ini.

Ada orang dengan serius mempersalahkan pekerjaannya sendiri di hadapan Allah. Ini tidak berarti bahwa pekerjaannya gagal. Sebaliknya, pekerjaannya sangat efektif. Sejumlah orang diselamatkan, dan banyak yang menerima bantuan. Tetapi suatu hari, ketika terang Allah menyoroti dirinya, ia bisa berkata kepada Tuhan, "0 Tuhan, atas diriku, hal-hal ini telah demikian menggantikan-Mu, telah merampas kedudukan-Mu. Terhadap-Mu batinku tidak cukup murni, tidak cukup bersih, tidak cukup mutlak. Aku masih menginginkan hal-hal lain selain Engkau." Ketika Anda bertemu dengan orang-orang yang demikian, di dalam Anda akan ada perasaan yang mendalam bahwa mereka adalah orang-orang yang hidup di hadapan Allah, mereka mempunyai hati nurani yang murni. Ingatlah, hanya orang-orang seperti inilah yang dapat bekerja bagi Tuhan, dan buah-buah yang sesungguhnya dari pekerjaan itu akan temyata pada diri mereka. Orang-orang yang memperhatikan hasil pekerjaannya, mungkin malah tidak akan mempunyai hasil. Orang yang menginginkan kekuatan dalam pemberitaan Injil, mungkin tidak memperoleh kekuatan. Hasil dan kekuatan yang sesungguhnya ada pada orang yang hanya mau diri Allah sendiri, karena hasil dan kekuatan adalah diri Allah sendiri. Orang-orang demikian memiliki hati nurani yang murni, karena itu, mereka bisa melayani Allah.

Anda perlu memahami situasi pada saat Paulus menulis surat kedua kepada Timotius. Jika. dia bukan hanya mau Allah, jika hati nuraninya bukan hanya memandang Allah sebagai sasaran, maka tidak mungkin dia berdiri teguh pada saat itu; karena pada saat itu ia telah kehilangan segala sesuatu. Gereja-gereja di Asia, yang menerima bantuan yang paling besar darinya, telah meninggalkan dia. Bahkan Demas, kawan sekerjanya, mengasihi dunia, meninggalkannya dan pergi ke Tesalonika. Semua yang ada di sampingnya telah meninggalkannya dan mengabaikannya di dalam penjara. Dia harus menangani pembelaannya sendiri. Walaupun demikian, dia tidak patah semangat, dia tahu apa yang dia inginkan. Dia tidak menginginkan gereja atau pekerjaan, melainkan Allah sendiri. Oleh sebab itu, meskipun keadaan lingkungan semuanya berubah, ia tetap berdiri teguh. Hati nuraninya tidak hanya bersih, tetapi juga murni.

Jika hati nurani kita murni sedemikian rupa, kita juga akan menghakimi semua hal yang di luar Allah. Kita tidak hanya akan menghakimi semua hal yang jahat, tetapi juga yang baik, karena semua itu bukan diri Allah sendiri. Apa yang kita inginkan bukanlah pekerjaan, berkat, atau gereja Allah; yang kita inginkan adalah diri Allah sendiri. Demikianlah hati nurani kita bersih sedemikian rupa sehingga murni. Inilah perkataan yang digunakan Paulus ketika menulis surat yang kedua kepada Timotius. Pada waktu itu ia tidak hanya ditolak oleh orang-orang kafir, tetapi juga ditinggalkan oleh gereja-gereja dan teman-teman sekerja. Walaupun semua orang meninggalkannya, ia tahu bahwa Tuhan tidak meninggalkannya. Oleh karena itu, pada saat itu ia dapat berkata, bahwa ia melayani Allah dengan hati nurani yang murni.

Saudara saudari, doa-doa kita sering tidak didengar oleh Allah. Pada mulanya Anda mungkin berdoa untuk sepuluh hal, dan Allah menjawabnya satu per satu. Tetapi lambat laun, Anda tidak berani dan tidak dapat berdoa untuk sejumlah hal, karena Anda tahu, bahwa semua itu bukan apa yang Allah inginkan. Sekalipun Anda tetap membawanya dalam doa, Allah tidak akan mendengarnya. Jika Anda tidak menanggulangi hati nurani Anda sehingga menjadi murni, Anda akan berkata, "Ah, mengapa aku harus berdoa? Bukankah Allah tidak akan mendengarkan doaku. Aku tidak perlu berdoa lagi, Aku tidak perlu melayani Allah." Akan tetapi jika hati nurani Anda murni sedemikian rupa, Anda tidak peduli pada segala sesuatu selain Allah sendiri, maka dalam situasi semacam ini, Anda tidak akan menggerutu kepada Allah. Sebaliknya, Anda akan berkata kepadaNya, “Ya Allah, aku bersyukur dan memuji-Mu karena Engkau tidak menjawab doaku itu, karena pada saat itu apa yang kuminta bukanlah diri-Mu sendiri. Walaupun hal itu adalah suatu hal yang baik dan tidak berdosa, tetapi hal itu tetap bukan yang Kauffiginkan." Ketika hati nurani Anda bersih, dan murni sedemikian rupa, Anda akan menjadi pendoa yang sangat dalam dan sangat tepat.

Hari ini, banyak doa kita yang kurang dalam, juga kurang tepat. Kita sama seperti anak-anak yang meminta semaunya sendiri kepada orang tua. Pada waktu itu, orang tua melihat kita masih kanak-kanak, belum mengerti, lalu memberi kita sesuai dengan apa yang kita minta. Akan tetapi lambat laun, jika kita bertumbuh di hadapan Tuhan, kita tidak dapat lagi berdoa sernau kita. Ada perkara, yang terhadapnya kita tidak dapat membuka mulut kita dan meminta; ada juga keadaan, ketika Tuhan tidak menjawab doa kita, kita tidak akan mengeluh, sebaliknya, kita akan mengucap syukur, karena kita tahu bahwa Allah tidak akan memberi kita hal-hal di luar diri-Nya. Oleh sebab itu, untuk menjadi pendoa yang dalam dan tepat, sangatlah besar hubungannya dengan hati nurani yang murni.

5. PEMBASUHAN HATI NURANI

Tidak peduli bagaimana kita melatih diri untuk memiliki hati nurani yang baik dan murni, setiap hari kita masih perlu membersihkan hati nurani kita. Ini dikarenakan kita masih di dalam ciptaan lama, di dalam daging, dan di dalam zaman yang jahat dan cemar. Entah berapa banyak kita telah tercemar dan telah melakukan pelanggaran dalam sehari. Kecemaran dan ketalahan dalam hati nurani kita hanya bisa dibasuh dengan darah Yesus. Inilah yang dikatakan Ibrani 10:22, "Oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat."

Semakin sering seorang berdoa di hadapan Allah, dia akan semakin menyadari pentingnya darah. Keperluan akan darah mutlak adalah satu perasaan yang ada dalam hati nurani. Jilta Anda tidak hidup di hadapan Allah, tidak sering berdoa, Anda tidak akan merasakan pentingnya darah. Jika Anda benar-benar hidup di hadapan Allah, maka perkataan dalam 1 Yohanes 1:7-9 baru terterap seluruhnya atas Anda. Allah adalah terang. Semakin Anda di dalam terang Anda akan semakin menemukan bahwa Anda telah bersalah terhadap seseorang, atau Anda bersalah dalam suatu perkara; anda tercemar saat berkontak dengan si anu; motivasi Anda, pikiran Anda juga bermasslah; hati nurani Anda penuh tuduhan; semuanya itu adalah pelanggaran terhadap hati nurani. Pada saat demikian, jika Anda tidak bersandar darah, hati nurani Anda akan tercemar. Semakin sering seseorang berdoa, mendekati Allah, hidup di dalam doa, dan hidup di dalam persekutuan, ia akan semakin merasakan perlunya pembasuhan darah. Dia akan menjadi orang yang sering mengalami pembasuhan darah.

Jika seseorang ingin datang ke hadapan Allah, dia harus melalui mezbah dan darah. Menurut lambang dalam Perjanjian Lama, setiap orang yang hendak masuk ke dalam ruang Mahakudus untuk mendekati Allah harus terlebih dahulu mempersembahkan kurban dan menyiramkan darahnya di sekeliling mezbah. Kemudian Imam Besar membawa darah kurban penghapus dosa itu ke ruang Mahakudus dan memercikkannya di hadapan Allah. Ini berarti, setiap kali Anda datang ke hadapan Allah, hati nurani Anda harus dibasuh oleh darah. Kita yang masih di dalam daging dan hidup pada zaman ini, tak seorang pun dapat datang ke hadapan Allah untuk berdoa tanpa memerlukan darah. Jika Anda tidak bersandar darah dan Anda mengandalkan kebaikan Anda sendiri, maka hati nurani Anda tidak akan bisa bersaksi bagi Anda. Akan selalu ada kecemaran atau dosa di dalam Anda, juga selalu ada kesalahan atau ketidaksetiaan di dalam Anda. Jika Anda sedikit lalai, segera timbul tuduhan dalam hati nurani Anda, dan tuduhan itu akan menjadi perasaan bersalah. Karena itu, jika Anda ingin menghilangkan perasaan bersalah di dalam hati nurani Anda, Anda harus senantiasa mencari pembasuhan darah.

6. HATI NURANI DAN DOA

Ibrani 10:22, 2 Timotius 13, dan Kisah Para Rasul 23:1 menunjukkan kepada kita bahwa hati nurani mutlak berhubungan dengan doa. Seseorang tidak dapat berdoa jika hati nuraninya tidak dibasuh; karena ada sekatan di antara dia dengan Allah. Jika hati nuraninya tidak murni, ia juga tidak bisa berdoa di hadapan Allah. Ketika ada tuduhan atau teguran di dalam hati nurani, Anda akan merasa ada tirai dan selubung. Tirai membuat jarak dan pemisah di antara Anda dengan Allah; sedangkan selubung menutupi Anda sehingga Anda tidak dapat melihat Allah. Tidak hanya demikian, begitu ada masalah dalam hati nurani Anda, akan sulit bagi Anda untuk memiliki iman. Begitu ada lubang dalam hati nurani, iman akan bocor keluar. Orang yang hati nuraninya tidak baik, ada pelanggaran, tidak cukup murni, dan tidak dibasuh oleh darah yang adi, ia tidak dapat berdoa di hadapan Allah. Anda boleh saja tetap berdoa dengan seadanya, tetapi Anda akan merasa bahwa Anda sedang berdoa di luar tirai dan belum masuk ke dalam ruang Mahakudus. Oleh sebab itu, Anda tidak dapat melihat terang wajah Allah dan Anda tidak berada di hadirat-Nya. Doa Anda tidak tuntas di hadapan Allah dan sepertinya ada suatu tembok permisah atau lapisan selubung yang menghalangi doa Anda untuk mencapai Allah. Karena itu, untuk memiliki doa yang baik, tepat, dan yang mencapai hadirat Allah, Anda perlu menanggulangi hati nurani Anda sampai menjadi baik, tanpa tuduhan, murni, dan terbasuh. Selanjutnya, Anda akan bisa berdoa karena tidak ada lagi tuduhan dalam hati nurani Anda. Jadi, ada suatu hubungan yang mutlak antara hati nurani dengan doa.

7. HATI NURANI DOA

Setelah menggabungkan beberapa butir di depan, kita dapat melihat bahwa hati nurani doa adalah hati nurani yang baik, tanpa cela dan kesalahan, bebas dari tuduhan, bersih, murni, juga hati nurani yang sering dibasuh oleh darah adi. Dengan memiliki hati nurani yang demikian, ketika Anda masuk ke hadirat Allah untuk berdoa, Anda akan merasa bahwa Anda berada di hadapan-Nya, dalam terang wajah-Nya, dan tanpa tirai pemisah atau selubung yang menutupi. Kapan kala Anda datang ke hadirat Allah untuk berdoa, Anda harus menanggulangi hati nurani Anda dengan baik dan teliti. Setelah menanggulanginya dengan baik, Anda baru bisa berani datang dan berdoa kepada Allah dengan hati nurani yang bersih, murni, tanpa pelanggaran, dan baik. Anda tahu, bahwa Anda telah melewati tirai sehingga tidak ada pernisah di antara Anda dengan Allah. Anda juga mengerti, bahwa tidak ada selubung, tidak ada penutup di dalam Anda. Anda berada di hadirat Allah, di dalam terang wajah-Nya, dan ada perasaan yang ternbus di antara Anda dengan Allah. Pada saat itu hati nurani Anda akan membuat Anda berdoa dengan berani, penuh kekuatan, dan pasti. Hati nurani Anda akan meneguhkan dan menunjang doa Anda. Lebih lanjut, ada semacam lalu lintas dan pembauran di antara Anda dengan Allah, Allah akan mengurapkan maksud hati-Nya kepada Anda. Alhasil, kehendak-Nya akan menjadi kehendak Anda, perasaan-Nya akan menjadi perasaan Anda. Dia berdoa di dalam Anda, dan Anda berdoa dengan-Nya. Karena itu, jika kita ingin berdoa, kita perlu memiliki hati nurani yang bisa membuat kita berdoa.