HATI DOA 1. KEDUDUKAN HATI
Alkitab dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa manusia diciptakan atas tiga bagian : Roh, jiwa, dan tubuh. Bagian yang paling luar dari manusia adalah tubuh, sedangkan bagian yang paling dalam adalah roh. Di antara tubuh dan Roh ada bagian yang disebut jiwa. Kita telah membahas bahwa Roh terdiri dari hati nurani, persekutuan, dan intuisi. Kita juga telah membahas bahwa jiwa terdiri dari pikiran, emosi, dan tekad. Tetapi Alkitab masih menunjukkan kepada kita, bahwa ada bagian lain yang penting dalam diri manusia, yaitu hati. Hati terdiri dari unsur-unsur yang berasal dari jiwa maupun roh.
Pikiran, emosi, tekad dari jiwa, dan hati nurani dari Roh, adalah organ-organ yang menjadi bagian dari hati. Berbicara mengenai pikiran, Ibrani 4:12 mengatakan, "ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." Di dalam hati ada pikiran, ini menunjukkan dengan jelas bahwa pikiran dalam jiwa adalah bagian dari hati. Ibrani 4:12 juga membicarakan pertimbangan hati. Pemikiran adalah sesuatu yang berasal dari pikiran, sedangkan pertimbangan adalah cerita dari tekad. Jadi kita bisa melihat bahwa pikiran dan tekad adalah bagian dari hati. Selain itu, Yohanes 16:22 mengatakan, "hatimu akan bergembira" dan 14:1 berkata, "Janganlah gelisah hatimu."Karena kegembiraan dan kegelisahan merupakan bagian dari emosi, ini juga membuktikan bahwa dalam hati tercakup juga emosi. Jadi, ketiga bagian dari jiwa adalah unsur-unsur dari hati.
Dan lagi, Ibrani 10:22 mengatakan, "oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat. " Satu Yohanes 3:20 mengatakan bahwa hati kita menuduh kita. Tuduhan merupakan fungsi dari hati nurani. Karena itulah kita nampak bahwa hati juga mencakup hati nurani.
Jadi, hati tersusun dari empat bagian : pikiran, tekad, emosi, dan hati nurani. Pikiran, tekad, dan emosi adalah bagian-bagian dari jiwa, sedangkan hati nurani adalah bagian utama roh. Dengan demikian, hati adalah bagian terbesar dari keseluruhan diri kita. Jika kita tahu bahwa dalam hati kita terdapat bagian-bagian ini, maka kita segera tahu di mana kedudukan hati. Kedudukan hati merupakan kedudukan pikiran, tekad, emosi, dan hati nurani; kedudukan ini ini sangat luas, meliputi semua bagian dari jiwa ditambah bagian utama roh.
2. HATI YANG TULUS
Membicarakan hati, Alkitab pertama-tama memperhatikan tentang ketulusannya. Ibrani 10:22 memberi tahu kita, bahwa hati harus tutus. Setiap orang yang datang kehadapan Allah harus memiliki hati yang tutus. Tutus di sini bukan hanya mengacu kepada sungguh-sungguh dan tidak palsu juga mengacu kepada lurus, tidak bengkok. Hati orang yang bengkok pasti tidak tutus. Tidak hanya demikian, tulus juga berard tidak bercabang. Jika seseorang datang ke hadapan Allah untuk mencari sesuatu selain Allah, mencari barang-barang lain, dia adalah orang yang bercabang hati dan tidak tulus. Hati yang tulus adalah hati yang sejati, tidak palsu, lurus, tidak bengkok, tunggal, tidak bercabang. Hati yang tulus hanya menginginkan satu hal, yaitu Allah sendiri.
Ketika Anda datang untuk berdoa kepada Allah, Anda seharusnya hanya mengingini Allah sendiri dan tidak mengingini sesuatu apa pun di luar Allah. Anda seharusnya hanya mau kehendak Allah dan bukan yang lain, di luar kehendak Allah. Sering kali ketika Anda berdoa kepada Allah untuk suatu hal, Anda meminta agar Allah menunjukkan hasrat hati-Nya, tetapi Anda juga memiliki hasrat hati Anda. Hati sedemikian adalah hati yang palsu, bercabang, dan tidak tulus. Hati Anda harus tulus, melulu mencari hasrat Allah. Di hadapan Allah, hati yang tulus merupakan hal yang paling penting,
3. HATI YANG SUCI
Matius 5:8 berkata, "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." Mazmur 73:1 berkata, "Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya." Hati yang suci juga mengacu kepada hati yang murni. Hati yang murni adalah hati yang hanya menginginkan Allah sendiri, tidak memiliki sasaran atau tujuan lain selain diri Allah sendiri. Karena itu, Matius 5:8 berkata, "Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." Yang mereka dambakan adalah Allah sendiri, dengan sendirinya yang mereka nampak juga adalah Allah sendiri. Karena itu hati yang suci tidak ditekankan pada dalam hatinya bebas dari pikiran jahat dan cemar, tetapi hati yang hanya menginginkan Allah, hati yang secara murni dan tulus menginginkan Allah dan mencari kehendak-Nya.
Ingatlah, bahwa hati yang tidak sungguh-sungguh, hati yang tidak lurus, hati yang tidak khusus, adalah hati yang tidak tulus. Namun, sering kali hati kita sepertinya tulus, tetapi di dalamnya tidak murni, karena masih mengingini banyak hal lain selain Allah. Hati kita terlihat tulus di hadapan manusia, tetapi tidak tulus di mata Allah, karena di dalam kita masih tidak murni, masih bercabang. Agar menjadi tulus, perlu mumi, dan agar menjadi murni juga perlu tulus. Pada akhimya kita melihat, bahwa kedua butir di atas menunjukkan bahwa hati kita seharusnya hanya menginginkan Allah. Kemurnian hati akan bermasalah jika mendambakan hal lain selain Allah. Jika hati kita masih bercabang dan tidak murni di hadapan Allah, pasti akan timbul kesulitan besar dalam doa kita. Karena itu, untuk belajar berdoa, kita juga harus menanggulangi masalah hati.
4. HATI YANG TANPA TEGURAN
Satu Yohanes 3:20-21 membicarakan.teguran hati. Ayat ini berkata bahwa Allah lebih besar daripada hati kita, dan jika hati kita menuduh (menegur) kita, Allah terlebih lagi akan menuduh kita. Tetapi kalau hati kita tidak menuduh kita, kita memiliki keberanian untuk mendekati Allah. Bagian hati yang menuduh (menegur) kita adalah hati nurani. Peneguran yang ada di dalam hati merupakan fungsi dari hati nurani. Tidak ada teguran dalam hati berarti tidak ada pelanggaran atau kesalahan pada hati nurani. Jika kita ingin belajar berdoa, kita harus menanggulangi masalah yang berhubungan dengan hati kita sehingga bebas dari teguran.
Untuk berdoa kepada Allah, hati harus memiliki keberanian, tidak ada sekatan di antara kita dengan Allah. Begitu hati kehilangan keberanian karena tuduhan atau teguran, doa akan menjadi sangat sulit. Kita tidak hanya sulit memiliki iman setelah berdoa, bahkan ketike berdoa kita juga akan sangat sulit memiliki iman. Jika hati Anda menuduh diri Anda sendiri, maka Allah akan terlebih lagi menuduh Anda. Anda tidak akan bisa berdoa. Oleh sebab itu dalam hal berdoa, Anda harus menanggulangi masalah hati Anda sehingga benar-benar bebas dari tuduhan. Dengan demikian Anda baru bisa memiliki keberanian di hadapan Allah, dan doa Anda akan dikabulkan.
5. HATI YANG BERPALING
Dua Korintus 3:14-16 memberi tahu kita, bahwa sampai sekarang anak-anak Israel masih memiliki selubung yang menyelubungi hati mereka. Hati mereka masib, tertutup oleh lapisan, selubung, di antara mereka dengan Allah masih tidak transparan, masih ada penutup. Namun kapan saja hati berpaling kepada Allah, selubung itu segera diarnbil. Hati mereka mengarah kepada hal-hal di luar Tuhan dan itulah yang disebut selubung. Jadi untuk belajar berdoa, hati harus berpaling dari segala sesuatu yang lain kepada Allah.
Dalam pengajaran-Nya di atas gunung, Tuhan Yesus berkata bahwa di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Hati sama seperti jarum kompas yang menunjuk kepada yang menariknya. Jika kita mengasihi anak-anak kita lebih daripada Allah, maka hati kita akan tertuju dan berpaling kepada anak-anak kita. Jika kita lebih mengasihi pakaian daripada Allah, hati kita akan tertuju kepada pakaian. Jika kita lebih mengasihi pendidikan, kedudukan, atau uang daripada Allah, hati kita dengan sendirinya akan berpaling kepada hal-hal itu. Begitu hati kita berpaling kepada hal-hal itu, hati kita menyimpang, tidak murni lagi, tidak tulus, dan tidak ada jalan untuk bebas dari tuduhan, masalah-masalah pun bermunculan. Oleh karena itu, hati kita harus berpaling kepada Allah. Ketika hati kita berpaling ke arah yang tepat, sepenuhnya tertuju kepada Allah, maka dalam hati kita tidak akan ada tuduhan. Mungkin kita dapat menipu yang lain, tetapi kita tidak dapat menipu Allah, juga tidak dapat menipu diri sendiri. Oleh sebab itu, kita harus belajar menanggulangi hati, memalingkan hati kepada Allah.
Sering kali, dalam sidang Doa atau sidang Pemecahan Roti, terlalu sedikit saudara saudari yang berdoa, mengucap syukur, atau memuji. Delapan puluh sampai sembilan puluh persen itu disebabkan saudara saudari memiliki masalah dengan hati mereka. Jika selama seminggu sebelumnya hati Anda tidak benar di hadapan Allah, tentu dengan sendirinya Anda tidak dapat mengucap syukur atau mempersembahkan pujian ketika menghadiri Pemecahan Roti. Pada saat yang sama kita sulit menniliki inspirasi (perasaan roh). Hati kita mungkin cenderung memilih hal-hal di luar Allah. Sedikit saja penyimpangan akan menyebabkan kita merasakan ada selubung di antara kita dengan Allah, tidak transparan, seolah-olah wajah Allah tidak terbuka kepada kita lagi. Sebenarnya bukan wajah Allah yang tidak terbuka, melainkan kita yang terselubung. Misalnya, saya mengambil sebuah saputangan dan menutup wajah saya, maka saya tidak akan dapat melihat Anda. Sebenarnya bukan wajah Anda yang berpaling dari saya, melainkan penglihatan saya terhadap Anda yang terhalang.
Meskipun saya tidak menutipi muka saya, tetapi jika saya berpaling dari Anda, membelakangi Anda, maka itu pun akan menjadi selubung yang menghalangi penglihatan saya terhadap Anda. Dua Korintus 3:16 berkata, bahwa apabila hati seorang berpaling kepada Tuhan, maka selubung itu akan diambil darinya. Selubung yang dibicarakan di sini adalah berpalingnya Anda dari Tuhan. Ketika hati Anda berpaling dari Allah kepada hal-hal lain, itulah selubung yang menghalangi Anda untuk melihat Allah. Jika hati Anda tertuju kepada anak-anak Anda, anak-anak Anda akan menjadi selubung Anda. Jika hati Anda tertuju kepada kekayaan, kekayaan menjadi selubung Anda. Jika hati Anda cenderung kepada pendidikan, pendidikan akan menjadi selubung Anda.
Beberapa orang datang kepada saya dan bertanya, "Saudara Lee, mengapa kami tidak mendapatkan terang ketika membaca Alkitab?" Saya sering menjawab, "Saudara, tidak ada alasan lain selain hati Anda yang tidak tertuju kepada Allah. Allah adalah terang. Ketika hati Anda tertuju kepada hal-hal selain Allah, maka hal-hal itu menjadi selubung bagi Anda. Ketika Anda membaca Alkitab, bukan terang yang timbul, melainkan selubung, karena hati Anda mengasihi hal-hal selain Allah. Jika ada selubung, tentu Anda tidak merniliki terang."
Ada juga saudara saudari yang berkata, "Ketika aku berdoa, sepertinya ada suatu sekatan antara Allah dengan diriku, dan aku tidak dapat menjamah Dia. Mengapa demikian?" Saya menjawab, "Saya khawatir sebab utama dari hal tersebut adalah hati Anda yang cenderung kepada sesuatu di luar Allah. Jika hati Anda cenderung kepada hal-hal yang lain, bagaimana Anda dapat melihat terang wajahNya? Itu adalah hal yang tidak mungkin."
Ketika bani Israel berada di kaki gunung Sinai, ada selubung di atas diri mereka karena mereka tidak murni terhadap Allah; mereka menginginkan hal-hal lain. Jika hati kita lebih mengasihi anak-anak kita, kekayaan, atau pakaian daripada Allah, maka hal-hal itu akan menjadi selubung. Bahkan bila hati kita lebih mengasihi pemberitaan Injil atau suatu pekerjaan daripada Allah, maka pemberitaan Injil dan pekerjaan itu akan menjadi selubung. Ada orang Kristen yang sulit melihat terang, karena mereka lebih memperhatikan pekerjaan Allah daripada diri Allah sendiri. Mereka membiarkan pekerjaan itu menggantikan Allah. Sepertinya mereka mempertahankan sikap bahwa mereka dapat mengorbankan Allah, bukan pekerjaan itu. Mereka bisa membiarkan kehendak dan hasrat hati Allah beriAlu, tetapi mereka harus mempertahankan pekerjaan itu dengan mengorbankan apa saja. Ingatlah, pekerjaan semacam itu bisa menjadi selubung, dan menyebabkan mereka tidak memiliki terang di dalam. Mereka kurang terang bukan karena Allah tidak bersinar di atas mereka, tetapi karena ada selubung. Hati mereka tidak tertuju kepada Allah, tetapi tertuju kepada hal-hal lain di luar Allah.
Jika kita ingin belajar berdoa dan mendekati Allah, kita harus merniliki hati yang tepat dan mengarahkannya kepada Allah. Bukan hanya tidak mengasihi dunia, dosa, mode, dan uang, bahkan pekerjaan Allah pun tidak dapat menarik aku, karena hatiku terarah kepada diri Allah sendiri. Allah adalah terang, dan saat Anda berpaling kepada Dia, Anda berada di dalam terang wajah-Nya, dan Anda diterangi di dalam. Ini sudah pasti.
6. HATI YANG TERANG
Dalam Matius 6:22-23 Tuhan Yesus berkata, "Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu." Perkataan ini menunjukkan bahwa hati seseorang mungkin tidak terang, tetapi gelap. Mengapa gelap? Karena hati tidak tertuju kepada Allah; setidaknya hati sedikit menyimpang sehingga kehilangan terang wajah Allah. Sebelum dan sesudah kedua ayat ini, Tuhan berkata, "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."Perkataan ini memberi tahu kita, bahwa hati manusia gelap karena tidak mau Allah, melainkan mengingini yang di luar Allah. Allah adalah terang, dan jika hati kita tertuju kepada Allah, kita pasti akan diterangi di dalam. Tetapi bila hati kita berpaling, menjauhi Allah, kegelapan langsung timbul di dalam kita. Orang yang berdoa harus selalu melatih dirinya untuk memiliki hati yang terang.
Kita sering mendengar orang berkata, "Aku sangat bingung dan gelap dalam beberapa hari ini." Kondisi itu memperlihatkan bahwa hati orang yang bersangkutan telah berpaling dari Allah dan perlu ditanggulangi secara cermat. Penanggulangan ini tidak hanya berkenaan dengan dosa atau dunia, lebih-lebih berkaitan dengan arah hati. Apakah hati Anda murni menginginkan Allah sendiri, atau menginginkan hal lain selain Allah? Jika Anda mencari hasil pekerjaan, berkat Allah, atau kenikmatan rohani, maka hati Anda menuju ke arah yang salah. Begitu hati Anda salah arah, maka kegelapan segera timbul di dalam Anda.
Saudara saudari, dengan terus terang saya katakan, hari ini tidak banyak orang Kristen yang batinnya terang. Hal itu dikarenakan masih banyak campuran dalam hati mereka. Mereka tidak mencari Allah dengan hati yang murni. Mari kita melihat beberapa ilustrasi. Andaikata Anda memberitakan Injil, ada dua orang yang beroleh selamat; orang lain memberitakan Injil, ada dua puluh orang yang diselematkan. Melihat hal ini hati Anda merasa tidak nyaman. Ini membuktikan bahwa batin Anda tidak murni. Satu contoh lagi, misalnya Anda sedang dalam proses pembelian tanah untuk pembangunan balai sidang di tempat Anda, dan ada satu gereja yang mendapat beban dari Tuhan untuk menyuplai kebutuhan beberapa gereja-gereja lain. Jika gereja-gereja lain menerima seratus ribu dolar atau delapan puluh ribu dolar dan tempat Anda hanya mendapat delapan ribu dolar, khatlah, Anda merasa gembira atau tidak? Kita balik situasinya. Gereja yang menyuplai itu hanya memiliki delapan ribu dolar, satu dolar pun tidak diberikan kepada gereja-gereja lain, melainkan hanya kepada tempat Anda. Pasti Anda akan tersenyurn simpul, bersyukur dan memuji Tuhan. Sama-sama uang sejumlah delapan ribu dolar, namun reaksi Anda sama sekali berbeda! Contoh lain, andalkata Anda dan seorang saudara adalah teman satu kamar. Suatu hari seorang saudara pewajib gereja datang menjenguk teman sekamar Anda dan berbincang-bincang dengannya selama lima menit; esok harinya, saudara pewajib itu datang lagi dan berbincang dengannya selama sepuluh menit; lusa, lima belas menit. Empat minggu berturutturut, tetapi dia sama sekali tidak pernah bersekutu dengan Anda. Bagaimana perasaan di dalam Anda? Pasti Anda akan menggerutu. Semua cerita di dalam itu membuktikan bahwa Anda tidak murni. Satu contoh lagi, pada hari Tuhan saat Pemecahan Roti, kita sama-sama berdoa. Orang lain mengatakan amin pada setiap tiga kalimat dari doa Anda, tetapi mereka mengatakan amin pada setiap kalimat yang saya doakan. Mereka selalu mengikuti setiap kalimat saya dengan amin. Apakah Anda merasa senang atau tidak? Anda tidak akan gembira karena setiap orang hanya sedikit mengatakan amin kepada Anda, tetapi banyak mengatakan amin kepada saya.
Saudara saudari, hal-hal ini nampaknya sepele, namun membuktikan kepada kita betapa menyimpang dan rumitnya hati kita. Jangan percaya bahwa kita baik. Bila orang ingin menulis biografi kita, saya rasa, dia tidak perlu menulis yang lain, hanya menulis tentang hati kita, yaitu pergerakan hati kita dari pagi hingga malam, dari malam hingga pagi, sudah tidak habis terutarakan. Setelah ada catatan sedemikian, Anda baru tahu betapa menyimpangnya hati Anda, hati Anda tidak mau Allah. Inilah sebabnya tidak banyak orang yang jernih dan terang. Penyebab kita menjadi gelap dan tidak diterangi di dalam adalah tidak mengarahkan diri kepada terang itu. Bila kita melayani dua tuan, mengasihi hal-hal di luar Tuhan, maka mata hati kita menjadi jahat. Ini sudah pasti.
Karena itu saudara saudari, harga untuk mendapatkan terang adalah memiliki hati yang berpaling kepada Allah. Jika seseorang ingin memperoleh terang, ingin mendapatkan wahyu, hanya ada satu rahasia, yaitu hati yang murni yang hanya mau Allah sendiri. Jika jarum dalam diri manusia menunjuk kepada banyak hal; misalnya, pada pagi hari menunjuk ke arah keuntungan, di siang hari menunjuk ke arah kedudukan, di waktu yang lain menunjuk ke arah pujian manusia, sampai sidang Doa menunjuk ke arah respon amin dari manusia, lalu bagaimana mungkin orang yang demikian kompleks itu bisa mendapat terang? Oleh sebab itu, untuk belajar berdoa, harus menanggulangi hati, agar di dalam bisa terang.
7. PENGARUH PADA HATI
Pengaruh pada hati di sini tidak mengacu kepada hati mempengaruhi orang lain, melainkan hati terpengaruh oleh orang lain. Pengaruh pada hati kita datang dari empat bagian yang menyusun hati. Jika seorang memiliki masalah dalam hati nuraninya, hatinya akan terpengaruh. Jika ada tuduhan dalam hati nurani, pasti akan ada teguran dalam hati. Demikian juga, jika pikiran menyimpang dan tidak tepat, hatinya juga tidak benar. Kenyataannya enam, namun mengatakan delapan, ketidakbenaran ini timbul dari pikiran yang tidak benar, dan pikiran yang demikian mempengaruhi hati. Tidak hanya itu, jika mengasihi banyak hal selain Allah di dalam emosi, maka hal-hal itu juga akan mempengaruhi hati. Jika tekad manusia demikian keras sehingga tidak pernah mempertimbangkan kembali keputusan yang telah dibuat, ini juga mempengaruhi hati dan membuatnya menjadi keras. Misalnya, seseorang mungkin tergerak oleh Injil yang ia dengar, tetapi karena dia sudah menetapkan bahwa dirinya tidak mau menerima kepercayaan yang ia anggap berasal dari Barat, maka ia bersikeras, dan hatinya menjadi sangat keras.
Ingatlah, hati nurani, pikiran, emosi, dan tekad perlu ditanggulangi dengan baik agar dapat memiliki hati yang tepat. Jika ada pelanggaran dalam hati nurani, maka adanya teguran dalam hati tidak dapat dihindari. Jika pikiran menjadi tidak logis, hati pasti tidak tepat. Demikian juga jika emosi memiliki keinginannya sendiri, hati pasti tidak dapat mengasihi Allah. Dan jika tekad menjadi keras dan tidak berubah, hati pasti juga menjadi keras.
Pengaruh pada hati ini merupakan pengaruh pada jiwa dan Roh. Karena itu, hati mewakili seluruh keberadaan kita. Untuk memiliki hati yang baik, kita harus menanggulangi setiap bagian dari jiwa dan Roh dengan baik. Sebaliknya, jika hati kita baik, maka seluruh diri kita juga baik. Jika tidak ada teguran di dalam hati, berarti tidak ada tuduhan dalam hati nurani. Begitu hati kita tepat, pikiran kita juga tertib. Jika hati mutlak mengasihi Allah, maka emosi pasti tepat. Pada saat yang sama, jika hati lembut dan tak keras sedikit pun, maka tak ada masalah dengan tekad. Jadi, seseorang bisa benar jika hatinya benar.
8. HATI DAN DOA
Bila hati seseorang tulus, murni, tanpa tuduhan, berpaling kepada Allah, terang, normal dalam setiap aspek, saat ini dia baru dapat berdoa. Hati dan doa sangat berkaitan. Meskipun Roh adalah organ yang dipakai untuk berdoa, tetapi seseorang tidak akan bisa berdoa jika hatinya tidak ditanggulangi dengan baik. Kalaupun berdoa, dia tidak akan yakin bahwa Allah akan mengabulkannya. Begitu ada masalah dengan hati, tidak mungkin berdoa.
Karena hubungan yang demikian erat antara hati dengan doa, maka hampir dapat dikatakan, asal hati telah di tanggulangi, itu sama dengan doa; asal Anda sedikit menyeru kepada Allah, itu sudah cukup. Sering kali doa kita tak berbobot, tidak bernilai, penyebab utamanya ialah hati kita yang tidak tepat. Satu Yohanes 3:19-22 memberi tahu kita, jika hati kita tidak menuduh kita, kita memiliki keberanian terhadap Allah, dan apa saja yang kita minta, akan kita terima dari Dia. Karena itu, kalau ingin doa kita berbobot dan mantap, kita harus menanggulangi hati kita.
9. HATI DOA
Hati doa adalah hati yang tulus, tidak bengkok, tidak palsu, tidak bercabang, murni, hanya mau Allah, tidak mau hal yang lain. Hati ini juga hati yang tanpa tuduhan dan pelanggaran, yang berpaling kepada Allah, tertuju hanya kepada-Nya, hati yang terang, di dalam penuh dengan terang dan berada dalam terang wajah Allah. Akhirnya, juga adalah hati yang tepat terhadap pengaruh dari berbagai aspek. Seorang yang berdoa perlu memiliki hati doa yang demikian.