BERDOA DAN TINGGAL DALAM TUHAN
Yohanes 15:7, "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya."
Ayat Alkitab ini dapat dibagi menjadi empat bagian. Pertama, "kamu tinggal di dalam Aku".Kedua, "dan firmanKu tinggal di dalam kamu." Ayat 4 dan 5 berbicara mengenai kita tinggal di dalam Tuhan dan Tuhan tinggal di dalam kita. Tetapi di sini, "Aku" diganti menjadi "firman-Ku" -- "kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu". "Aku" diganti menjadi "firman-Ku,"yang berarti Aku mempunyai sesuatu untuk dijelaskan kepada kamu. Sepertinya, saya pergi ke rumah Anda, pertama-tama diri saya pergi ke sana. Setelah saya berada di sana, saya akan berbicara dan menyatakan tujuan kunjungan saya. Karena itu, perkataan, "firman-Ku tinggal di dalam kamu" adalah sebuah langkah maju. Ketiga, "apa saja yang kamu kehendaki". Karena firman Tuhan di dalam kita, kita mulai menginginkan sesuatu, dan keinginan ini berasal dari firman Tuhan. Keempat, "mintalah . . . dan kamu akan menerimanya". Ketika kita tinggal di dalam Tuhan, firmanNya tinggal di dalam kita, dan keinginan timbul di dalam kita yang berasal dari firman-Nya; akhirnya, "kehendak" menjadi "permintaan".Permintaan ini bukan doa yang biasa, melainkan doa yang khusus. Setiap kali kata "permintaan" disinggung di dalam Alkitab, pasti mengacu kepada doa yang khusus. Demikianlah, "permintaan" ini akan didengar oleh Allah.
Ayat Alkitab ini menyinggung dua hal : di satu pihak, kita tinggal di dalam Tuhan, dan di pihak lain firman Tuhan tinggal di dalam kita. Hasilnya, dari firman ini muncullah doa. Setiap doa yang kuat, doa yang terhitung di hadapan Tuhan, pasti merupakan hasil dari kita tinggal di dalam Tuhan dan membiarkan firman-Nya tinggal di dalam kita.
Satu Yohanes 1:5-7 mengatakan, "Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu : Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, mmyucikan kita dari pada segala dosa."
Beberapa ayat ini mencakup tiga hal: persekutuan, terang, dan darah. Jika kita memiliki persekutuan dengan Allah, kita pasti di dalam terang, karena Allah adalah terang. Ada persekutuan, ada terang. Begitu ada terang, perlu darah. Karena begitu terang datang, kenajisan dan dosa kita akan tersingkap, demikianlah kita perlu pembasuhan darah.
Satu Yohanes 2:27-28 mengatakan, "Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengaiar kamu tentang segala sesuatu - dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta - dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia. Maka sekarang, anak-anakku, tinggal di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya."
Kedua ayat Alkitab ini juga menunjukkan tiga hal : pertama, "pengurapan"; kedua, "sebagaimana pengurapan itu mengajar kamu,... demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia"; dan ketiga, "tinggallah di dalam Kristus". Tinggal di dalam Tuhan di sini sama seperti yang dibicarakan dalam Yohanes 15. Pengurapan adalah satu hal, dan tinggal dalam Tuhan menurut pengurapan adalah hal yang lain. Terakhir, ayat ini menekankan kembali, "Anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus".
Dalam sepuluh bab di depan, kita telah berbicara banyak mengenai makna doa dan organ yang digunakan dalam berdoa, yaitu sarana doa. Sekarang, kita akan mulai menjamah sedikit mengenai doa itu sendiri untuk melihat sebenarnya bagaimana keadaan doa manusia yang sejati di hadapan Allah.
Orang yang melakukan pekerjaan apa, harus menjadi orang macam apa. Orang yang bekerja sebagai dokter, pasti adalah seorang dokter; orang yang bekerja sebagai guru, pasti adalah seorang guru; orang yang bekerja sebagai ibu, pasti adalah seorang ibu. Demikian juga, Anda harus menjadi pendoa, baru Anda dapat melakukan perkara doa. Pendek kata, pendoa adalah orang yang tinggal di dalam Tuhan. Sekarang kita akan melihat perkara yang bagaimanakah tinggal di dalam Tuhan itu.
1. MAKNA TINGGAL DI DALAM TUHAN
a. Di dalam Tuhan
Pengalaman tinggal di dalam Tuhan adalah berdasarkan fakta di dalam Tuhan. Jika Anda tidak di dalam Tuhan, Anda tidak mungkin tinggal di dalam Tuhan. Fakta kita di dalam Tuhan sudah terampungkan pada waktu yang lampau. Perampungan dapat dibagi menjadi dua masa. Masa pertama, ketika Tuhan menyelesaikan penebusan di atas salib, Dia telah menyatukan kita dengan diri-Nya, menaruh kita ke dalam-Nya. Masa kedua, ketika kita dilahirkan kembali, Roh Kudus masuk ke dalam kita dan dengan sangat riil menyatukan kita kepada Kristus, menaruh kita ke dalam-Nya.
Roma 6:3 mengatakan, bahwa kita dibaptis ke dalam Kristus Yesus. Di sini kita nampak, bahwa dibaptis berarti ditaruh ke dalam Kristus. Kalimat "percaya kepada Tuhan," menurut bahasa Yunaninya, lebih tepat diterjemahkan "percaya ke dalam Tuhan". Kata "ke dalam" dalam "percaya ke dalam Tuhan" dan "ke dalam" dalam "dibaptis ke dalam Kristus" adalah kata yang sama. Roma 6 mengatakan "dibaptis ke dalam," dan Yohanes 3:16 mengatakan, "percaya ke dalam". Yang satu adalah dibaptis ke dalam, dan yang lain adalah percaya ke dalam. Dalam baptisan, Anda dibaptis ke dalam Kristus, dan dalam percaya, Anda percaya ke dalam Kristus. Begitu kita percaya kepada Tuhan, Roh itu menaruh diri kita seluruhnya ke dalam Kristus, sehingga kita memiliki kesatuan organik dengan Kristus. Setelah itu, secara dil, kita menjadi orang di dalam Kristus. Karena itu, 2 Korintus 5:17 mengatakan, bahwa jika seseorang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru.
Setiap orang yang damba tinggal di dalam Kristus harus melihat fakta ada di dalam Kristus. Jika seseorang tidak melihat fakta ini, percurna saja mendorongnya untuk tinggal di dalam Kristus. Hal itu bahkan akan menjadi tekanan baginya, karena bagaimana pun ia berusaha tinggal di dalam Kristus, ia tidak akan pernah berhasil. Namun, jika Anda memiliki terang, memiliki wahyu, Anda akan nampak bahwa perkara ini adalah perkara yang sangat mudah, karena Anda tidak perlu menuntut untuk tinggal, Anda sudah di dalam. Fakta ini sudah Anda miliki.
Misalnya, Anda adalah anggota keluarga Wangsa. Begitu dilahirkan, Anda sudah di dalam keluarga Wangsa. Anda dilahirkan dalam keluarga Wangsa, dengan sendirinya Anda tinggal bersama mereka. Akan tetapi, jika Anda adalah orang luar, dan Anda memaksa untuk tinggal di dalam rumah keluarga Wangsa, ini tidak mudah. Pertama Anda harus melihat, bahwa Anda adalah orang di dalam keluarga Wangsa. Ini adalah fakta yang telah rampung berdasarkan kelahiran Anda. Karena itu, Anda adalah orang dari keluarga Wangsa, dan yang perlu Anda lakukan adalah mengenal fakta ini. Sekarang yang diminta dari Anda adalah Anda harus tinggal di rumah, berdiam di rumah.
Demikian juga, jika Anda ingin tinggal di dalam Tuhan, Anda harus nampak satu fakta, bahwa sesuatu telah terjadi pada Anda dan Anda sekarang ada di dalam Kristus. Sebelum beroleh selamat, Anda dilahirkan dalam Adam. Tetapi setelah beroleh selamat, Allah memindahkan Anda dari alam Adam ke dalam alam Kristus. Fakta ada di dalam Kristus sudah rampung. "Di dalam" adalah sehuah kata yang sangat mustika.
b. Tinggal di dalam Tuhan
Kata "tinggal" di sini berarti diam. Tinggal di dalam Tuhan juga dapat diterjemahkan dengan diam di dalam Tuhan. Efesus 3:17 mengatakan bahwa Kristus diam di dalam hati kita oleh iman. Kata "diam" di sana berarti membuat rumah. Ketika Anda tinggal di dalam sebuah rumah, itu berarti Anda menetap di sana. Ketika Anda pergi ke satu tempat dan tinggal di sana selama sepuluh hari, itu berarti Anda diam di sana. Kata "tinggal" dalam kalimat "tinggal dalam Tuhan bukan berarti berumah atau berhuni, melainkan berarti diam. Anda adalah orang yang sudah beroleh selamat, Anda ada di dalam Tuhan. Sekarang, yang diminta dari Anda ialah diam di dalam Tuhan, jangan meninggalkan Tuhan. Anda telah ada di dalam Tuhan, Anda harus diam di atas fakta ini.
Misalnya, kemarin Anda dibaptis. Batin Anda dengan sangat jelas merasakan bahwa Anda sudah disatukan dengan Tuhan dan Anda berada di dalam Tuhan. Akan tetapi, malam harinya seorang teman datang dan mengajak Anda ke gedung bioskop. Saat Anda ingin pergi dengannya, di dalam Anda terasa ada sesuatu yang mengganjal di antara Anda dengan Tuhan, Anda lalu, memikirkan ada apa sebenarnya. Namun, teman Anda terus mengajak, maka Anda pun memutuskan untuk pergi dengannya. Pada saat itu Anda merasa bahwa persekutuan Anda dengan Tuhan terputus. Anda merasa demikian karena Anda tidak diam di dalam Tuhan. Anda telah beroleh selamat dan ada di dalam Tuhan, tetapi dalam pengalaman Anda tidak diam di dalam Dia. Dalam pengalaman Anda, sepertinya Anda telah keluar dari Tuhan, sehingga persekutuan Anda dengan Tuhan terputus.
Contoh lagi, Anda baru saja beroleh selamat dan benar-benar memiliki perasaan bahwa Anda telah bersatu dengan Tuhan. Akan tetapi, hari ini terjadi sesuatu yang membuat Anda tertekan. Ketika mau marah, Anda merasa ada sesuatu yang salah di dalam. Akan tetapi, Anda terus melampiaskan amarah Anda. Setelah melampiaskan arnarah, Anda sendiri tahu, bahwa persekutuan dengan Tuhan di dalam Anda terputus. Anda telah keluar dari Tuhan. Ini berarti Anda tidak diam di dalam Dia.
Diam di dalam Tuhan adalah tinggal di dalam Tuhan. Ketika Anda diam di dalam Tuhan, Anda memiliki persekutuan yang terus-menerus denganNya. Berada di dalam Tuhan adalah masalah kesatuan, tinggal di dalam Tuhan adalah masalah persekutuan. Persekutuan adalah pemeliharaan kesatuan, kesinambungan dari kesatuan. Terus-menerus bersatu dengan Tuhan berarti memiliki persekutuan yang tak putus-putusnya dengan Tuhan, juga berarti tinggal di dalam Tuhan.
Tema surat kiriman Yohanes yang pertama adalah persekutuan. Dalam pasal pertama kitab itu memberi tahu kita, bahwa kita yang memiliki Kristus sebagai hayat memiliki persekutuan dengan Allah. Hayat yang kita terima di dalam membuat kita memiliki persekutuan dengan-Nya. Injil Yobanes membicarakan hayat; surat kiriman Yohanes yang pertama membicarakan persekutuan. Injil Yohanes berulang-ulang menunjukkan kepada kita, bagaimana Tuhan datang dan masuk ke dalam manusia sebagai hayat dan menyelamatkan mereka. Surat Yohanes yang pertama melanjutkan berbicara mengenai persekutuan. Begitu Anda beroleh selamat dan memiliki Kristus sebagai hayat, hayat ini akan membuat Anda memiliki persekutuan dengan Allah. Satu Yohanes 1 membicarakan persekutuan, dan pasal 2 membicarakan tinggal di dalam Tuhan. Tinggal di dalam Tuhan yang disinggung dalam pasal 2 adalah persekutuan yang disinggung dalam pasal satu. Apakah artinya tinggal di dalam Tuhan? Artinya, memiliki persekutuan yang terus-menerus dengan Tuhan, tidak keluar dari persekutuan, dan terus-menerus dalam kesatuan dengan Tuhan.
2. MEMELIHARA TETAP TINGGAL
DALAM TUHAN
Tinggal di dalam Tuhan adalah cara untuk memelihara dan melanjutkan pengalaman kita atas fakta berada di dalam Tuhan. Begitu kita beroleh selamat, Allah menaruh kita ke dalam Kristus. Tetapi bagaimana kita dapat terus-menerus memelihara persekutuan dengan Tuhan? Satu Yohanes menunjukkan dua sarana : darah dan pengurapan.
a. Penyucian Darah
Satu Yohanes 1 dengan jelas dan tegas memperlihatkan kepada kita, bahwa kita perlu memelihara persekutuan bersandar darah. Allah adalah terang. Begitu Anda memiliki persekutuan dengan Allah dan menjamah-Nya, Anda tidak dapat tidak berada di dalam terang. Persekutuan menempatkan Anda di hadapan Allah, dan juga menempatkan Anda di dalam terang. Begitu Anda di dalam terang, Anda pasti melihat dosa-dosa Anda. Misalnya, sekilas pandang, udara di sekitar kita kelihatannya cukup bersih. Namun jika kita membiarkan sinar matahari menyorot masuk, kita segera melihat partikel debu yang tak terhitung banyaknya melayang- layang di udara. Tanpa sorotan terang matahari, kita tidak akan mampu melihatnya. Demikian juga, jika kita kurang bersekutu dengan Allah dan karena itu tidak berada dalam terang, kita tidak akan menyadari kesalahan kita. Namun begitu kita masuk ke dalam persekutuan dengan Allah dan kita ditaruh dalam terang, kita akan tahu, bahwa diri kita penuh dengan kenajisan. Banyak kenajisan dalam pikiran, emosi, tekad, tujuan, motivasi, dan bahkan dalam perasaan roh kita. Begitu kita berada dalam terang kondisi kita pasti tersingkap. Begitu tersingkap, hati nurani kita akan mendakwa kita. Jika tidak ada penyucian darah, timbullah celaan di dalam hati nurani kita. Begitu ada pelanggaran dalam hati nurani kita, persekutuan antara Allah dengan kita terputus, dan karenanya kita keluar dari hadirat Allah.
Di samping itu, dalam kehidupan sehari-hari kita, masih banyak dosa yang nyata yang dapat membuat hati nurani kita bercela. Kita telah membicarakannya di depan, seperti pergi ke bioskop dan marah-marah. Tanpa perlu diajar orang lain, diri Anda sendiri tahu persis bahwa hal-hal itu salah. Sebagai orang yang telah beroleh selamat, yang berada di dalam Kristus, dan yang berada di dalam terang, Anda dengan sendirinya mempunyai perasaan ini. Meskipun demikian, karena kelemahan Anda, Anda masih melakukan hal-hal itu. Dan begitu Anda melakukannya, segera timbul rasa bersalah di dalam hati nurani Anda, dan Anda merasa bahwa Anda telah keluar dari hadirat Allah.
Pada saat ini, Anda perlu dicuci oleh darah Tuhan Yesus kita. Jika kita di dalam terang, sama seperti Allah di dalam terang, maka kita akan memiliki persekutuan satu sama lain (1 Yoh. 1:7). Di bawah terang persekutuan demikian, kita melihat dosa kita dan secara spontan mengakuinya di hadapan Tuhan. Darah Yesus, Anak-Nya, akan mencuci kita dan menghapus pelanggaran dari hati nurani kita (1 Yoh. 1:9). Kemudian kita merasa, bahwa kita sekali lagi berada dalam persekutuan dengan Tuhan. Darah mampu mengembalikan dan memulihkan persekutuan kita. Pemulihan ini adalah pemeliharaan.
Dalam Perjanjian Lama, pada hari penghapusan dosa, Imam Besar harus membawa darah ke dalam ruang Kudus dan membubuhkannya pada mezbah ukupan. Kemudian dia harus membawanya ke dalam ruang Mahakudus dan memercikkannya ke atas tutup pendamaian, dipercikkan di hadapan Allah. Ibrani 9 memberi tahu kita, bahwa Tuhan Yesus juga membawa darah, yang Dia alirkan di atas salib, ke dalam hadirat Allah dan memercikkannya di hadapan Allah. Sampai hari ini, darah Tuhan Yesus masih berbicara untuk kita di hadapan Allah. Dia membela kita, berdiri di atas kedudukan penghapusan dosa bagi kita. Hari ini, berdasarkan darah inilah kita mengakui pelanggaran kita di hadapan Allah. Ketika kita mengaku, Roh itu menerapkan khasiat penyucian darah atas hati nurani kita. Hati nurani kita dibersihkan dari semua pelanggaran, sehingga tidak ada lagi sekatan di antara Allah dengan kita, persekutuan pun dipulihkan. Karena itu, untuk tinggal dalam Tuhan, sarana pertama ialah bersandar darah.
b. Pengurapan Minyak Urapan
Pengurapan minyak urapan adalah pengurapan yang dibicarakan dalam 1 Yohanes 2. Dalam zaman Perjanjian Baru, Allah datang kepada manusia sebagai Roh Kudus. Roh Kudus bukan hanya minyak, tetapi juga minyak urapan. Allah datang kepada manusia sebagai minyak urapan yang bergerak di dalam manusia. Gerakan ini adalah pengurapan. Satu. Yohanes 2:27 tidak hanya membicarakan Roh sebagai minyak urapan di dalam kita, lebih-lebih sebagai minyak urapan yang mengurapi di dalam kita. Karena itu, pengurapan minyak urapan tidak membicarakan minyak urapan itu sendiri, melainkan gerakan pengurapan minyak urapan, yang adalah gerakan Roh Kudus di dalam kita. Gerakan Roh Kudus yang terus- menerus di dalam kita memelihara kita, agar tetap dalam persekutuan Allah dan tinggal dalam Tuhan. Karena itu, pengurapan juga memelihara fakta keberadaan kita dalam Tuhan.
Jadi, sarana pertama yang memelihara persekutuan adalah penyucian darah, dan kedua adalah pengurapan minyak urapan. Ini sangat berkaitan dengan lambang-lambang dalam Perjanjian Lama. Lambang-lambang dalam Perjanjian Lama menunjukkan, bahwa ketika manusia ingin berkontak dengan Allah dan bersekutu dengan Allah, pertama-tama dia harus dibubuhi darah dan kemudian diurapi dengan minyak urapan. Sampai Perjanjian Baru, ketika membicarakan memelihara persekutuan, juga disinggung pemercikan darah dan pengurapan minyak urapan. Pemercikan darah adalah untuk membersihkan semua yang tidak seharusnya ada. Pengurapan minyak urapan adalah untuk mengurapi kita dengan unsur Allah, bahkan dengan Allah sendiri. Sama seperti orang mengecat perabotan. Hasilnya, cat itu dioleskan pada perabotan. Roh itu datang kepada manusia adalah Allah datang kepada manusia. Dan karena gerakan dan pengurapan Roh di dalam manusia, Allah digarapkan ke dalam manusia.
Karena itu, di sisi negatif, darah mencuci semua hal yang tidak seharusnya kita miliki. Di sisi positif, minyak urapan mengurapi kita dengan apa yang seharusnya kita miliki. Yang tidak seharusnya kita miliki adalah dosa, dan yang seharusnya kita miliki adalah Allah sendiri. Dengan penyucian dan pengurapan yang terus-menerus oleh darah dan minyak urapan, kita terpelihara di dalam persekutuan dengan Tuhan.
Anak Domba dan Merpati dalam Yohanes 1 adalah cerita tentang darah dan minyak urapan. Darah adalah Anak Domba, dan minyak urapan adalah Merpati. Anak Domba mengacu kepada Tuhan yang mencucurkan darahNya bagi kita di atas salib untuk menghapus dosa kita; Merpati mengacu kepada Roh yang datang kepada manusia untuk menambahkan elemen Allah ke dalam manusia. Karena itu, kita harus belajar terus-menerus menerima darah untuk penyucian dosa kita dan bergerak menurut pengurapan minyak urapan di dalam. Di satu pihak, begitu kita merasa ada kesalahan, kita harus segera mengakui kesalahan kita dan menerima penyucian darah. Di pihak lain, setiap kali Roh itu bergerak di dalam kita, kita harus langsung bergerak menurut perasaan pengurapan itu, sehingga kita tinggal dan diam dalam Tuhan. Ini seharusnya menjadi praktek kita yang terus-menerus dan tak terputus.
3. KEHIDUPAN YANG TINGGAL
DI DALAM TUHAN
Kehidupan kristiani adalah kehidupan tinggal dalam Tuhan. Jika Anda senantiasa tinggal dalam Tuhan, kehidupan Anda pasti kudus, menang, dan rohani. Setiap aspek kehidupan Kristiani kita tercakup dalam kehidupan tinggal dalam Tuhan. Ada beberapa butir dalam kehidupan ini yang perlu kita pelajari dengan baik :
a. Berjalan Menurut Roh
Berjalan menurut Roh adalah berjalan menurut pengurapan minyak urapan. Kita telah mengatakan, bahwa Allah datang kepada kita sebagai minyak urapan di dalam kita, yang selalu mengurapi kita dan memberikan perasaan. Jika kita berjalan menurut perasaan ini, berarti kita berjalan menurut Roh. Misalnya, pada saat Anda berbicara, perasaan Anda di dalam melarang terus berbicara, maka Anda harus berhenti. Jika perasaan batin mendesak Anda mengambil tindakan, Anda harus menaatinya dan melakukan tindakan tersebut. Anda mungkin ingin menyatakan perasaan tertentu, tetapi jika perasaan di dalam seperti membatasi Anda, maka Anda harus segera berhenti dan tidak menyatakannya. Dalam hal besar atau kecil, belajarlah mengikuti perasaan di dalam. Menaati perasaan di dalam adalah berjalan menurut Roh. Berjalan,menurut Roh adalah menaati pengurapah minyak urapan. Ini adalah tinggal di dalam Tuhan menurut pengurapan minyak urapan.
Begitu kita beroleh selamat, kita segera memiliki Roh itu sebagai minyak urapan yang mengurapi kita dan bergerak di dalam kita. Karena itu, kita pasti memiliki perasaan pengurapan. Tanggung jawab kita adalah memperhatikan perasaan di dalam kita dengan ketat. Jangan berpikir atau beralasan dengan pikiran Anda. Begitu Anda memikirkannya, menimbang-nimbang, mendebat, atau menganalisis, Anda akan keluar dari roh Anda dan tidak lagi tinggal di dalam Tuhan. Pikiran, alasan, dan penglihatan alamiah Anda sering kali membuat persekutuan Anda dengan Tuhan terputus. Karena itu, jangan memperhatikan itu, sebaliknya perhatikanlah perasaan di dalam batin Anda. Semakin Anda berjalan menurut perasaan ini, Anda akan mengetahui, bahwa Anda semakin tinggal di dalam Tuhan. Pacia saat yang sama dan dengan spontan, kehidupan Anda akan menjadi kehidupan yang tinggal di dalam Tuhan.
b. Menanggulangi Dosa
Di dalam kita ada sifat dosa, di luar kita ada kehidupan dalam masyarakat yang penuh dengan pencemaran dosa. Tanpa disadari, setiap hari kita dicemari oleh dosa. Karena itu, jika kita sungguh- sungguh berjalan menurut Roh dan terus-menerus hidup dalam Tuhan, kita pasti memiliki perasaan terhadap dosa. Saat ini, kita harus mengaku dosa di hadapan Tuhan, dan dengan pimpinan-Nya terlepas dari dosa. Adanya lingkungan dosa di luar dan sifat dosa di dalam, membuat kita sangat sukar untuk hidup tanpa dicemari oleh dosa. Sering kali, tanpa disadari, dosa datang mengganggu pikiran kita, merusak emosi kita, mencemari roh kita, dan membuat kita berdosa dalam perbuatan kita. Karena itu, hanya demi darah kita dapat sekali demi sekali mengaku dosa, sehingga kita dapat senantiasa tinggal dalam Tuhan.
Orang yang pandai berdoa hampir tidak pernah datang ke hadapan Allah untuk berdoa tanpa terlebih dahulu mengaku dosa. Semakin berjalan menurut Roh, ia semakin menemukan bahwa dirinya memiliki banyak dosa di dalam dan di luar. Semakin berjalan menurut Roh, ia semakin peka terhadap perasaan dosa. Sedikit saja melakukan kesalahan, dia akan langsung merasakannya dan menanggulanginya. Semakin menanggulangi, di dalam semakin terang; semakin menanggulangi, di dalam semakin peka semakin menanggulangi, di dalam semakin transparan, damai, segar, dan akhimya, semakin hidup di dalam Tuhan. Inilah kehidupan tinggal dalam Tuhan.
c. Mutlak Tidak Ada Sekatan dengan Tuhan
Secara luaran, atau secara moral, ada beberapa hal yang mungkin tidak terhitung sebagai dosa, namun jika setelah Anda melakukannya timbul suatu sekatan antara Anda dengan Tuhan, Anda perlu juga menanggulanginya. Kehidupan tinggal di dalam. Tuhan bukan hanya tidak mau dosa, tetapi juga tidak mau sekatan. Misalnya, Anda bercakap-cakap sebentar dengan seorang saudara. Perkataannya tepat, dan hal yang Anda bicarakan bukan dosa. Namun jika setelah percakapan ada sekatan antara Anda dengan Tuhan, maka hal itu pun adalah dosa. Karena Anda membicarakan sesuatu yang berlawanan dengan perasaan di dalam Anda, itu adalah dosa ketidaktaatan. Allah memberi tahu Saul, "Taat lebih baik daripada kurban sembelihan, memperhatikan lebih baik daiipada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim." (1 Sam. 15:22-23). Ketika seseorang tidak menaati Allah, ketidaktaatan itu menjadi suatu dosa yang menimbulkan sekatan antara dia dengan Tuhan.
Karena itu, kehidupan tinggal di dalam Tuhan bukan hanya menuntut kita berjalan menurut Roh, menanggulangi dosa, menghindari dosa, tetapi juga tidak memiliki sekatan dengan Tuhan. Tak peduli betapa baiknya suatu hal, jika karena melakukannya menimbulkan sekatan antara saya dengan Tuhan, maka saya seharusnya tidak melakukannya. Janganlah bertindak menurut standar moral, tetapi ambillah Tuhan sendiri sebagai standarnya. Kadang-kadang Anda mungkin memberikan sejumlah uang kepada orang lain atau membantunya. Hal itu memang perbuatan yang baik, tetapi kadang-kadang Tuhan melarang melakukannya. Jika Anda tetap melakukannya tanpa peduli pada laranganNya, bahkan beramal atau membantu seseorang akan memutuskan persekutuan Anda dengan Tuhan dan menimbulkan sekatan. Batasilah diri Anda dari melakukan apa pun yang memisahkan Anda dengan Tuhan. Untuk memelihara kehidupan tinggal dalam. Tuhan, bukan hanya dosa yang perlu ditanggulangi, setiap sekatan juga harus disingkirkan.
4. HASIL DARI TINGGAL DALAM TUHAN
a. Memahami Hasrat Allah
Begitu seseorang tinggal dalam Tuhan, dengan sendirinya dia akan menjamah perasaan Allah dan memahami hasrat Allah. Dalam Perjanjian Lama, Abraham adalah contoh dari hal ini. Karena dia senantiasa tinggal di hadapan Allah, Allah tidak dapat menahan diri- Nya untuk tidak memberitahukan maksud-Nya kepada Abraham. Mazmur 32:8 mengatakan, bahwa Allah menuntun kita dengan mata-Nya. Seperti ada pepatah mengatakan, bahwa seseorang bertindak melalui kedipan dan sorotan mata. Jika Anda tinggal dalam persekutuan, Anda akan memahami apa yang dimaksudkan Alkitab dengan Allah memimpin kita dengan mata-Nya. Kita tidak seharusnya seperti kuda atau keledai yang tidak mempunyai pengertian, sehingga Allah harus mengendalikan kita dengan les, tali, dan kekang, agar kita dapat memahami hasrat-Nya. Kita hanya perlu tinggal dalam persekutuan, tinggal di hadirat-Nya, dan menghampiriNya. Kemudian dengan sendirinya kita dapat memahami temperamen, watak, dan prinsip-prinsip tindakan-Nya. Roh kita bagaikan melihat sorotan mata Tuhan, secara spontan menjamah perasaan-Nya dan memahami hasrat-Nya.
b. Memiliki Hasrat Allah
Setelah kita menjamah perasaan Allah din memahami maksud-Nya, secara spontan di dalam kita akan memiliki hasrat- Nya. Pada saat itu, hasrat-Nya menjadi hasrat kita, dan apa yang Dia inginkan juga sama dengan yang kita inginkan.
5. DOA YANG BERASAL
DARI TINGGAL DALAM TUHAN
Setelah kita menjamah perasaan Allah, memahami maksud hati-Nya, dan mendambakan apa yang Dia dambakan, kita bisa berdoa. Inilah yang dikatakan dalam Yohanes 15:7,"Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." Permintaan ini bukan berasal dari orang yang berdoa. Sebaliknya, berasal dari yang Allah urapkan ke dalam dirinya. Karena keinginan ini adalah keinginan Allah, maka begitu didoakan, Allah pun menjawab.
Ada orang setelah beroleh selamat, membaca ayat ini dalam Yohanes 15, lalu berkata, "Janji dari Tuhan ini sungguh baik. Aku dapat meminta apa pun yang aku mau dan Dia akan mengabulkannya." Kemudian mereka mulai meminta apa pun yang mereka inginkan. Akhirnya, mereka menemukan bahwa yang mereka minta tidak dikabulkan. Itu bukan karena janji Tuhan tidak dapat dinyatakan, melainkan karena mereka mengambil janji Tuhan dengan menyimpang dari konteks. Mereka berdoa tanpa terlebih dahulu memenuhi persyaratan yang diperlukan. Mereka salah paham atas ayat ini. Yohanes 15:7 mencakup empat butir. Pertama, "kamu tetap tinggal dalam Aku." Kedua, Firman-Ku tinggal dalam kamu." Ketiga, karena perkataan-Ku mengutarakan maksud hati-Ku, maka perkataan ini menjadi hasrat di dalam kamu sehingga apa pun yang kamu inginkan adalah apa yang Aku inginkan. Keempat, hasilnya, doa demikian pasti dijawab oleh Allah. Sekarang kita mengerti bahwa keinginan dalam doa itu bukanlah berasal dari manusia, tetapi berasal dari Allah. Pertama-tama, manusia terus-menerus tinggal dalam Tuhan. Kemudian, Allah menjadi firman dalam manusia sehingga manusia mampu memahami maksud Allah. Hal itu menimbulkan keinginan dalam manusia yang adalah keinginan Allah. Ketika manusia berdoa menurut keinginan itu, Allah tidak punya pilihan lain, kecuali menjawabnya. Doa itu adalah doa yang dihasilkan dari tetap tinggal dalam Tuhan.