← Daftar isi Doa · bab 8/19

TEKAD DOA 1. KEDUDUKAN TEKAD

Tekad juga adalah salah satu bagian dari jiwa. Kita telah membahas mengenai pikiran dan emosi dari jiwa. Mengenai pikiran, yang ditekankan adalah pemahaman dan pengertian jiwa terhadap masalah-masalah; mengenai emosi, yang ditekankan adalah kesukaan dan ketidaksukaan jiwa; dan mengenai tekad, yang ditekankan adalah keputusan dan ketetapan dari jiwa. Misalnya, terhadap suatu perkara atau suatu benda, apakah Anda mau nau tidak, memutuskan atau tidak, memilih atau tidak, menolak atau tidak, semua pertimbangan atau keputusan itu adalah fungsi dari tekad. Meskipun pikiran memiliki andil besar di dalam jiwa, tetapi pikiran bukanlah organ yang menentukan. Bagian yang menentukan, bagian yang memimpin dalam jiwa adalah tekad. Memastikan apakah seseorang menyukai atau tidak terhadap suatu hal adalah fungsi dari emosi. Memahami dan mengerti suatu hal adalah kemampuan dari pikiran. Setelah memahami, kemudian menyukai atau tidak menyukai, namun apa yang akan dipilih atau ditolak ditentukan oleh tekad. Oleh sebab itu organ yang memberikan keputusan terakhir adalah tekad. Di dalam orang yang tepat, tekad seharusnya menduduki tempat yang lebih tinggi daripada pikiran dan emosi. Tekad seharusnya berdiri pada kedudukan yang tertinggi.

Dalam keadaan normal, seseorang akan menggunakan pikirannya untuk mengerti dan memahami, dan menggunakan emosinya untuk mendambakan atau membenci, tetapi yang akhirnya berfungsi untuk menentukan dan menetapkan adalah tekad. Misalnya, seseorang datang mendengarkan Injil. Organ pertama yang dia pakai adalah pikirannya. Dia mendengar, mengerti, dan memahami dengan pikirannya. Setelah dia mengerti dan memahami, dia menggunakan organ berikutnya, yaitu emosi. Setelah pikirannya terjamah, Roh Kudus menembus pikirannya menjamah hati nuraninya. Begitu hati nuraninya tergerak, emosinya terpengaruh dan dia senang percaya kepada Tuhan. Demikianlah dia menyesali kehidupan lampaunya, dan hatinya mulai berpaling kepada Allah. Pada saat itu dia perlu tekad untuk memutuskan dan menentukan percaya kepada Tuhan. Oleh sebab itu tekad adalah bagian yang memimpin di dalam manusia, bagian yang memimpin untuk memutuskan sesuatu. Meskipun pikiran seseorang sudah mengerti akan suatu hal dan emosinya juga menyukainya, tetapi jika tekad tidak menentukan apa-apa, tidak akan terjadi sesuatu. Tekad adalah organ paling akhir yang menentukan sesuatu.

Banyak orang seperti tidak memiliki tekad; juga banyak orang seperti tidak menggunakan tekad. Mereka meletakkan tekad di bawah kuasa emosi dan membiarkan tekadnya terbunuh oleh pikiran mereka. Orang-orang semacam itu tidak tepat. Orang yang tidak memiliki tekad atau yang tidak menggunakan tekad sama seperti sebuah kapal yang tidak memiliki kemudi. Misalnya, ada sebuah kapal yang tidak memiliki kemudi atau tidak menggunakan kemudi yang ada padanya. Kapal itu akan mengarah ke mana pun angin meniupnya, tanpa sasaran. Orang yang bertindak sepenuhnya menurut dorongan emosi dan tanpa kontrol sama seperti sebuah kapal tanpa kemudi mau sebuah mobil tanpa rem. Itu sangat berbahaya.

Tekad seharusnya menjadi organ yang mengontrol di dalam jiwa kita. Penyebab seseorang marah dengan beringas atau melakukan tindak kejahatan adalah dikarenakan emosi yang terlampau aktif, sedangkan tekadnya kurang kuat untuk mengontrol. Penyebab seseorang bisa sangat gembira sehingga lupa diri dan bertindak di luar betas kelakuan normal juga dikarenakan kurangnya tekad yang mengontrol dirinya. Kehidupan doa orang sedemikian selalu berubah-ubah seiring dengan tiupan angin. Bila ada suasana baik mempengaruhinya, dim akan berdoa; kalau tidak, dia tidak berdoa. Tekadnya tidak memiliki kekuatan untuk mengontrol. Hal ini akan terjadi baik dalam doa pribadinya maupun doa di dalam sidang. Ketika emosinya timbul, dia hanya akan memanjatkan doa sesuai dengan perasaannya sendiri tanpa mempedulikan arus dari sidang. Namun bila emosinya tidak timbul, dia tidak akan berdoa sama sekali. Baik doa pribadinya maupun doa dalam sidang, keduanya sama sekali tergantung pada gerakan emosi dan bukan di bawah kendali tekad. Orang semacam ini tidak dapat menjadi orang yang berdoa.

Tekad yang tunduk kepada pengendalian roh harus menjadi bagian yang memimpin jiwa. Inilah kedudukan tekad.

2. TEKAD YANG KUAT

Tekad manusia harus kuat. Emosinya harus sedikit lemah, tetapi tekad tidak boleh lemah. Memiliki tekad lemah sama dengan tidak memiliki tekad. Mari kita pikirkan : bila rem dari suatu mobil lemah, bagaimana Anda dapat menghentikan mobil itu? Jika kemudi sebuah kapal terbuat dari kertas, tentu kemudi itu tidak dapat berfungsi sebagai kemudi. Kemudi harus kuat dan keras. Demikian juga, tekad seseorang tidak bisa berfungsi dengan efektif jika tekadnya lemah.

Setiap orang yang mengikuti Tuhan dengan setia dan tetap tidak berubah sampai ajal adalah orang yang memiliki tekad yang kuat. Orang yang mati martir adalah orang yang memiliki tekad yang kuat dan teguh. Lihatlah Martin Luther atau John Wydiffe. Mereka adalah orang-orang yang memiliki tekad yang kuat dan teguh. Lihat juga ketiga teman Daniel. Keadaan di perapian yang menyala-nyala memperlihatkan bahwa mereka benar-benar memiliki tekad yang kuat dan teguh. Demikianlah jika kita tidak memiliki tekad yang kuat dan teguh, maka doa-doa kita tidak akan tahan lama. Tuhan Yesus mengatakan, "Berjaga-jagalah dan berdoalah; berdoalah senantiasa." Kita perlu tekad yang kuat dan teguh supaya dapat berjaga-jaga dan terus-menerus berdoa. Orang yang lemah seperti ubur-ubur tidak akan bisa berjaga-jaga, ia hanya bisa kadang- kadang berdoa, tidak bisa berdoa senantiasa. Meskipun doa adalah hal yang lembut, tetapi doa memerlukan tekad yang kuat dan teguh. Sejak hari pertama Daniel berdoa bagi negaranya, doanya telah didengar oleh Allah dan Allah pun mengutus malaikat untuk menjawab doanya. Namun malaikat itu mendapat perlawanan dari penguasa jahat di udara dan berperang selama tiga minggu sebelum dia bisa mencapai bumi. Saat demikian, Daniel yang di bumi perlu tekad yang teguh untuk tetap memanjatkan doa selama tiga minggu. Orang yang pandai berdoa, bisa berdoa, dan juga sering berdoa, adalah orang yang tidak memiliki tekad yang lemah; sebaliknya, memiliki tekad yang kuat.

Orang yang jatuh memiliki banyak keadaan yang tidak normal; misalnya, tekad yang seharusnya kuat ternyata tidak kuat, pikiran yang seharusnya jernih ternyata tidak jernih, dan emosi yang seharusnya kaya ternyata tidak kaya. Namun seorang yang rohani, pikirannya pasti jernih, limpah, emosinya pasti kaya dan pantas, tekadnya pun kuat dan teguh. Kita sering berkata, bahwa orang harus memiliki keberanian. Namun orang yang tekadnya lemah sulit memiliki keberanian. Orang yang berani adalah orang yang bertekad teguh. Ketiga teman Daniel adalah orangorang yang berani sekalipun mereka berada di bawah ancaman perapian; tekad mereka benar-benar teguh. Keberanian itu datang dari kekuatan tekad. Ada orang yang sangat lemah dan dapat dengan mudah ditakut-takuti dengan satu ancaman kecil. Penyebab ketakutan adalah tidak teguhnya tekad. Orang yang demikian tidak dapat berdoa. Satan (Iblis) akan memakai segala macarn cara untuk mengikis, melenyapkan, dan membinasakan hayat doa manusia. Maka, jika manusia tidak memiliki tekad yang kuat, kehidupan doanya akan hancur. Karena itu, perlu tekad yang kuat untuk mempertahankan kehidupan doa.

3. TEKAD YANG LENTUR

Kuat merupakan satu hal, luwes adalah satu hal yang lain. Kuat tanpa lentur adalah keras kepala. Menjadi kuat itu harus, tetapi tidak seharusnya menjadi keras kepala. Setiap orang yang belajar berdoa harus memiliki tekad yang kuat tetapi tidak keras kepala. Tekad harusiah lentur. Kelenturan ini dapat diilustrasikan dengan per yang ada di dalam sebuah jam tangan. Anda dapat mengatakan bahwa per tersebut keras, tetapi juga lentur. Per itu bisa menjadi daya gerak karena kuat juga lentur.

Saya kuat berarti saya menolak segala sesuatu yang negatif Saya lentur berarti saya menerima dan menyerahkan diri saya kepada segala sesuatu yang positif. Saya menggunakan tekad yang kuat untuk menghadapi segala yang berasal dari Satan (Iblis), tetapi dengan tekad yang lentur saya menerima segala sesuatu yang datang dari Allah. Dalam doa, sering kali kita baru menjamah kehadiran Allah, tetapi tak berapa lama kita kembah kehilangan penyertaan-Nya. Sebab utamanya ialah kita tidak cukup lentur. Dalam doa kita, perasaan Allah sudah berbelok tapi kita tidak. Kita bersikeras berdoa seperti semula. Bersikeras seperti itu bukanlah kuat, melainkan keras kepala.

Suatu hari, ketika Petrus naik ke atas rumah untuk berdoa dan melihat sebuah kain lebar, tekadnya teguh tapi tidak keras kepala; tekadnya lentur. Dalam Kisah Para Rasul 10 dikatakan bahwa, ketika ia sedang berdoa, ia merasa lapar. Lalu ia melihat sebuah benda berbentuk kain lebar, di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menialar, dan burung. Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya, "Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!" Tetapi Petrus menjawab, "Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir." Inilah keteguhan Petrus. Tetapi Allah berbicara kepadanya hingga tiga kali, dan pada saat terakhir, ada orang datang mencarinya. Roh Kudus pun menyuruh Petrus turun. Begitu sampai di bawah, sikapnya sudah berubah dan dia segera setuju untuk pergi bersama orang-orang kafir itu. Di sini Anda bisa melihat, bahwa tekad Petrus itu sangat lentur dan tidak keras kepala. Keras kepala berarti degil. Kalau dia bersikeras tidak mau berhubungan dengan orang kafir atau menjamah apa saja yang haram dan tidak tahir, dia adalah orang yang keras kepala, degil.

Sering kali kita tidak dapat mengikuti gerakan Roh dalam doa kita karena kita begitu keras sehingga menjadi degil. Inilah kesulitan kita yang sangat besar. Bukan hanya dalam hal doa, tapi juga dalam banyak hal lainnya. Kadang kala kita yang seharusnya kuat, tetapi ternyata tidak. Pada kesempatan lain, kuat kita berlebihan sehingga menjadi keras. Itulah sebabnya kita tidak bisa nampak terang, tidak menjamah kehadiran Allah, tidak mengalami pertumbuhan rohani. Pada saat yang sama, kita tidak mampu bertahan dalam doa. Keteguhan tekad memerlukan kelenturan. Kelenturan ini harus seimbang dengan keteguhan, demikian baru sesuai dengan doa. Satan sering memanfaatkan manusia, benda, dan perkara yang di luar untuk mengauskan, memadamkan, dan membunuh kehidupan doa kita. Karena itu, kita perlu melatih tekad kita agar dapat berdiri teguh. Pada saat yang sama, dalam doa-doa kita, tekad kita harus setiap saat dapat tunduk dan berpaling sesuai dengan perasaan di dalam roh kita.

Perhatikan, betapa lenturnya per di dalam sebuah jam tangan. Namun begitu diputar dan mulai menggerakkan jarum jam, ia tidak akan ditundukkan atau dikalahkan; inilah keteguhan. Ada orang yang tidak bisa berdoa saat diganggu oleh hal-hal yang sepele. Ini menunjukkan bahwa tekadnya tidak cukup kuat. Namun ada juga orang yang sangat kuat, bersikeras berdoa untuk hal tertentu, terus mempertahankannya, tidak bisa berbelok, tidak bisa mengikuti gerakan Roh di dalam; itu juga tidak cukup lentur. Banyak orang memiliki tekad yang terlalu lunak atau terlalu kuat. Tetapi baik lunak maupun keras bukanlah yang dikehendaki. Tekad yang kita perlukan adalah tekad yang kuat tapi tidak keras, lentur tapi tidak lunak.

4. KEPEMIMPINAN TEKAD

Kepemimpinan tekad berarti pengendalian tekad. Bukan tekad yang dikendali melainkan tekadlah yang mengendalikan, mengontrol bagian-bagian lain dari jiwa. Pada bab mengenai emosi, kita telah mengatakan bahwa emosi harus dikendalikan oleh tekad. Ketika kedua putra Harun melanggar kekudusan Allah dan mereka mati, Harun tidak menangis. Jika dia tidak melatih tekadnya, dia pasti sudah meratap dan menangis meraung-raung. Tapi karena dia melatih tekadnya untuk menguasai emosinya, dia dapat sepenuhnya taat pada kata-kata Musa dan tidak menunjukkan tanda-tanda berkabung. Itu bukan hal yang mudah. Jika tekad tidak dilatih hingga mencapai taraf keteguhan dan kelenturannya saling bekerja sarna, pasti tidak mungkin ada pengendalian semacam itu.

Efesus 4:26 memberi tahu kita, "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa." Marah adalah masalah emosi, tetapi tidak berbuat dosa adalah masalah pengendalian. Ayat ini selanjutnya mengatakan, "Janganlah matahari terbenam sebelum padam marahmu." Begitu matahari terbenam, amarah harus lenyap bersamanya. Pertanyaannya adalah bagaimana Anda dapat mengusir amarah Anda? Ini hanya bisa dilakukan melalui pengendalian tekad. Tetapi ada orang yang begitu marah, amarahnya tetap tinggal di dalam dirinya; begitu orang bersalah kepadanya, selama-lamanya, dia tidak mau mengampuninya. Ingatlah, itu berarti tekad tidak terkendali, tekad tidak dapat mengendalikan emosi. Untuk menjadi orang Kristen yang baik yang dapat berdoa, tekad harus mampu mengendalikan emosi. Tak peduli berapa banyak seorang saudara membuat Anda marah, amarah Anda harus disingkirkan bersamaan dengan terbenamnya matahari. Orang yang tekadnya sudah dilatih dan dikendalikan oleh rohnya, bisa marah dalam satu menit ini dan mengusir amarahnya di menit berikutnya.

Saya pernah mendengar orang berkata, "Orang itu atau marah sehingga aku tidak dapat perkara itu membuatku berdoa lagi." Memang benar bahwa Anda tidak dapat berdoa bila Anda sedang marah. Bila Anda mau berdoa, Anda perlu mengusir amarah Anda. Namun untuk dapat menghilangkan amarah, perlu tekad menguasai emosi. Mungkin saja seorang saudara telah melakukan hal yang salah sehingga membuat Anda marah, tetapi ingatlah, satu menit di depan Anda, setengah menit kemudian amarah harus sudah reda. Kalau tidak, Anda tidak dapat berdoa.

Bukan hanya amarah saja yang bisa membuat orang tidak dapat berdoa, sukacita pun dapat membuat orang tidak dapat berdoa. Seseorang mungkin menjadi begitu gembira mengenai putranya yang lulus ujian untuk sekolah di luar negeri, sehingga ia tidak dapat berdoa. Dia ingin bersyukur kepada Tuhan, tapi karena ia tidak bisa berdoa, dia tidak ada jalan untuk bersyukur. Ini membuktikan bahwa tekadnya tidak terkendali.

Dalam keadaan yang normal, bukan gembira atau amarah yang membuat Anda tidak dapat berdoa, melainkan ketika waktu berdoa tiba, tekad Anda tidak bisa membatasi emosi Anda. Semua ketepatan, ketenangan, kesabaran, dan pembatasan emosi terletak pada pengendalian tekad. Jika tekad tidak dapat mengatur dengan baik, emosi tidak akan baik, karena keduanya saling berkaitan. Mungkin ada orang yang bertanya, "Mengapa hal-hal seperti ini Anda singgung ketika Anda membicarakan tentang doa?" Ingatlah bahwa doa melibatkan manusia melakukan sesuatu, dan di dalam organ manusia terdapat banyak hal yang rumit. Dalam sebuah mobil, jika ada onderdil mesinnya yang tidak beres, mobil itu tidak dapat dikendarai, perlu direparasi. Demikian pula, jika ada bagian di dalam Anda yang tidak beres, Anda tidak akan dapat berdoa. Karena itu, untuk dapat berdoa dengan baik, bagian-bagian di dalam manusia perlu dalam keadaan tepat.

Tekad bukan hanya perlu mengendalikan emosi, ia juga perlu mengendalikan pikiran. Ada orang yang pikirannya mudah sekali menerawang ke mana-mana. Baru saja berlutut berdoa, pikirannya sudah melanglang buana. Dalam waktu kurang dari dua atau tiga menit, pikirannya sudah mengelilingi dunia dua kali. Ini dikarenakan belum beriatih menggunakan tekad untuk mengendalikan pikiran. Anda mungkin berkata, "Ini dikarenakan ketidakpatuhan pikiranku." Pikiran Anda patuh atau tidak patuh itu masalah lain. Anda perlu melatih tekad Anda. Tekad Anda harus menjadi bagian yang memimpin di dalam diri Anda. Tekad tidak boleh menuruti Anda untuk memukul seseorang hanya karena Anda sedang marah. Hal demikian tidak boleh terjadi. Yang harus menguasai adalah tekad, bukan emosi; juga bukan harus maju terus melakukan suatu hal hanya karena pikiran Anda jelas mengenalnya. Meskipun Anda jelas, Anda masih harus menunggu tekad mengambil keputusan sebelum Anda bertindak. Bukan pikiran yang menjadi tuan, melainkan tekad.

Sebuah kapal akan aman jika kemudinya dapat diandalkan untuk menentukan arah; sebuah mobil akan aman jika remnya dapat diandalkan untuk mengendalikan kecepatan mobil itu. Akan tetapi bila arah kapal tidak ditentukan oleh kemudi, dan kecepatan mobil tidak dikendalikan oleh remnya, kapal maupun mobil tersebut tentu sangat berbahaya. Demikian juga, dalam perjalanan doa kita, kita harus membiarkan tekad kita menguasai emosi dan pikiran kita. Dengan demikian, kita dapat menjadi manusia yang tepat. Berperilaku menuruti pikiran dan emosi yang tidak terkendali sangatlah berbahaya. Seorang anak yang selalu bermain tapi tidak mau belajar pasti memiliki tekad yang lemah. Kalau tekadnya kuat dan dipergunakan dengan baik, ini akan membatasinya untuk bermain di saat dia harus belajar. Karena itu kita harus belajar melatih tekad supaya ia menjadi kuat tapi lentur. Kita juga harus belajar membiarkan tekad menguasai, memimpin, mengendalikan pikiran dan emosi. Demikian kita akan menjadi orang yang tepat. Pada saat demikian, kita dapat berdoa.

5. HUBUNGAN ANTARA TEKAD DAN ROH

Fungsi pikiran adalah untuk memahami perasaan roh (inspirasi), dalam roh, fungsi emosi adalah untuk membuat roh terekspresi, akan tetapi, tanpa keputusan tekad, sesuatu yang telah dimengerti oleh pikiran dan yang dapat diekspresikan oleh emosi akan tidak berguna. Misalnya, pikiran Anda telah mengerti bahwa perasaan di dalam roh sedang mengarahkan Anda untuk berdoa, emosi Anda juga sudah bisa menyatakan perasaan roh, tetapi jika tekad Anda tidak mengambil keputusan, masih mengambang, Anda tetap tidak dapat berdoa. Suatu contoh, misalnya, dalam suatu sidang Pernecahan Roti seseorang memiliki inspirasi. Pikirannya mengerti inspirasi tersebut merasakan kemuliam Tuhan. Emosinya pun benar-benar merasakan kemuliaan Tuhan sampai sedemikian rupa sehingga dia bersukacita dan hampir meneteskan air mata. Akan tetapi, pada saat itu dia tetap ragu-ragu, tidak mau berdoa, mempertimbangkan ini dan itu. Mengapa bisa demikian? Ini dikarenakan kekurangan tekad. Tekad tidak bekerja sama dengan roh. Ketika dia sedang mempertimbangkan ini dan itu, seorang saudara yang lain memilih sebuah kidung. Setelah menyanyikan kidung itu, dia masih bimbang. Sekali lagi seorang saudara lainnya berdoa. Keraguannya telah meruntuhkan inspirasinya. Setelah sidang selesai, pulang ke rumah, dia resah sepanjang malam. Sebenarnya dia memiliki inspirasi, tetapi tidak ternyatakan. Itu bukan disebabkan pikirannya tidak dapat memahami, juga bukan karena dia tidak memiliki emosi untuk menyatakannya. Itu disebabkan tekadnya tidak mengambil keputusan. Karena tekadnya lemah dan tidak dapat mengambil keputusan, dia menjadi takut. Dia seharusnya melatih tekadnya untuk segera mengambil keputusan dan mulai berdoa. Dengan dernikian apa yang ada di dalam rohnya bisa dibebaskan. Inilah fungsi tekad dalam hubungannya dengan roh.

6. TEKAD DAN DOA

Jika seseorang tidak memiliki pikiran yang jernih dan emosi yang pantas, dia tidak bisa memanjatkan doa yang baik. Demikian juga jika seseorang tidak memiliki tekad yang kuat dan lentur, dia. tidak bisa berdoa dengan baik. Oleh sebab itu ada satu hubungan yang sangat erat antara tekad dan doa. Tak peduli perkara apa pun dalam hal rohani perlu dengan baik-baik menggunakan tekad. Pernyataan seseorang untuk percaya Tuhan pun demikian. Seseorang mungkin terjamah di dalam sidang pemberitaan Injil dan mungkin juga menangis. Namun ketika Anda menganjurinya untuk berdiri dan menerima Tuhan, dia mungkin menolak untuk mengambil keputusan dengan tekadnya. Dia mungkin berkata bahwa dia akan mernikirkan lagi, atau dia akan pulang untuk membicarakan hal itu dengan istrinya, dan lain sebagainya. Dia sudah mengerti dan sudah tedarnah. Pikiran dan emosinya telah berfungsi, tetapi karena dia menolak untuk menggunakan tekadnya, tiada jalan baginya untuk diselamatkan. Demikian juga dalam hubungan antara tekad dan doa. Untuk mempunyai doa yang baik, mutlak perlu mengunakan tekad dengan tepat.

7. DOA TEKAD

Kita sering mengira bahwa doa mutlak adalah cerita di dalam Roh, ini memang tidak salah. Namun sering kali tidak ada inspirasi. Apakah dengan demikian kita tidak berdoa? Tidak. Justru pada saat demikianlah kita harus belajar berdoa dengan tekad lebih dahulu. Meldui berdoa dengan tekad dulu, Anda dapat dengan mudah membawa masuk inspirasi. Hal ini acma seperti mengendarai mobil. Langkah pertama bukantah menginjak pedal gas, melainkan menstarter (menghidupkan) mobil. Begitu mesin hidup, segera timbul pembakaran bensin. Sering kali Anda mau berdoa, tapi roh Anda tidak tergerak. Kalau Anda terus menunggu sampai roh Anda tergerak, mungkin Anda tidak akan berdoa sepanjang hari itu. Misalnya, Anda bangun tidur di pagi hari, roh Anda tidak tergerak, make Anda tidak berdoa. Setelah menunggu selama dua jam, masih tidak ada gerakan di dalam roh, Anda tetap tidak berdoa. Hari ini tidak ada inspirasi, maka hari ini tidak ada doa. Jika esok hari tetap tidak ada inspirasi, juga tidak ada doa. Satu minggu tidak ada inspirasi, maka satu minggu tidak ada doa. Sangatlah berbahaya jika terus menunggu sampai tergerak di dalam roh baru berdoa. Karena itu Anda perlu belajar berdoa dengan tekad Anda untuk membawa masuk inspirasi.

Situasi yang sama mungkin terjadi dalam sidang-sidang lainnya. Ketika kita berkumpul bersama, kita harus menunggu inspirasi dan berdoa bersandar inspirasi. Tapi sering kali, ini tidak benar, terutama bagi para saudara yang berada pada kedudukan memimpin untuk menunjang sidang itu, tidak bisa hanya duduk di sana dengan kaku dan pasif menunggu apa yang disebut inspirasi; berbuat begitu tidaklah benar. Kadang-kadang memang ada inspirasi roh, sehingga Anda tidak perlu memulai dahulu. Roh Kudus yang memulainya dan yang perlu Anda lakukan hanyalah berdoa menurut Roh. Namun pada kesempatan lain, tidak ada tanda-tanda jelas bahwa Roh yang memulai. Jika Anda adalah orang yang telah melewati pembasuhan, telah mendapatkan pengampunan, Anda menengadah kepada Tuhan, bersekutu dengan Tuhan, Anda tahu ada keperluan untuk berdoa di dalam sidang, Anda harus melatih tekad untuk membuka sidang. Begitu Anda menggunakan tekad untuk membuka mulut dan berdoa, kurang dari dua kalimat Anda sudah dapat membuat roh membubung. Ada kalanya seorang saudara mungkin diminta untuk memanjatkan doa. Saat itu dia mungkin tidak memiliki inspirasi apa pun, namun karena diminta, maka dia harus menggunakan tekadnya untuk berdoa. Jika dia adalah orang yang takut akan Allah, memiliki persekutuan dengan Dia, telah melatih roh, telah menjamah roh, maka dia berdoa kurang dari tiga atau lima kalimat, rohnya segera muncul. Doa tekadnya ini sama seperti menghidupkan mesin saat ingin mengemudikan mobil, begitu berdoa segera menghidupkan rohnya, dan menyebabkan rohnya membubung. Inilah yang dinamakan doa tekad.

Tidak hanya demikian, kadangkala ketika berdoa, sepertinya inspirasi Anda sudah terhenti, tetapi Anda merasa belum melepaskan beban doa Anda. Pada saat seperti itu Anda perlu mempertahankan doa Anda dengan tekad Anda. Setelah mempertahankannya selama satu atau dua menit, Anda akan nampak bahwa inspirasi itu kembali lagi. Tekad adalah suatu kemampuan yang sangat berguna. Kapan saja roh tidak mencapainya, Anda perlu menggantinya dengan tekad. Belajarlah melatih tekad Anda agar bekerja sama dengan roh Anda, tetapi janganlah menggunakan tekad tanpa menggunakan roh. Fungai tekad adalah untuk bekerja sama dengan roh dan untuk menggantikan roh. Sebelum roh digerakkan, Anda boleh mulai dengan tekad Anda. Pada waktu roh nampaknya beristirahat, Anda juga harus menggantikannya dengan tekad Anda. Doa yang dimulai dan diganti dengan tekad ini disebut doa tekad.

Selain itu, Alkitab menyuruh kita, "Berdoalah, "berjaga-jagalah," "berdoalah senantiasa," "berdoa dalam roh," dan lain sebagainya, semua perintah-perintah itu adalah komando yang diarahkan pada tekad kita. Semuanya perlu fungsi tekad. Hanya berfungsinya tekad yang dapat mempertahankan penghidupan berdoa.

Daniel 9:2-3 mengatakan, "Aku, Daniel, memperhatikan dalam kumpulan kitab jumlah tahun yang menurut firman Tuhan kepada nabi Yeremia akan berlaku atas timbunan puing Yerusalem, yakni tujuh puluh tahun. Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu." Ini menunjukkan bahwa doa Daniel seluruhnya adalah tindakan tekad. Doanya tidak dimulai oleh roh tapi oleh tekad. Namun setelah Anda meneruskan membaca ayat-ayat selanjutnya, Anda akan nampak bahwa meskipun kali pertama Daniel berdoa menurut tekadnya, namun setelah beberapa kalimat, rohnya muncul. Jika Anda membaca doa dalam kitab Daniel 9, Anda akan nampak bahwa doanya mutlak ada di dalam roh. Dengan tekadnya dia memulai doa, dengan tekadnya dia menggerakkan rohnya, dengan tekad dia menggantikan rohnya, dengan tekad dia mendorong rohnya, dengan tekad dia membakar rohnya. Demikianlah kita nampak betapa pentingnya tekad bagi doa. Tekad bukan saja harus menggerakkan roh untuk berdoa pada saat yang diperlukan, juga harus berdoa menggantikan roh. Inilah doa tekad.