← Daftar isi Doa · bab 7/19

EMOSI DOA

Seorang yang berdoa bukan saja rohnya harus tepat, bagian-bagian dari jiwanya pun harus normal. Jika kita ingin belajar berdoa dengan baik, kita perlu menepatkan seluruh diri kita. Kita harus menyadari, bahwa kita adalah manusia yang telah jatuh, dan tidak satu pun begian di dalam kita yang tepat. Jangan sekali-kali berpikir bahwa semua masalah dalam, diri kita telah diselesaikan oleh kelahiran kembali. Tidak sesederhana itu. Walaupun kelahiran kembali telah menghidupkan roh kita, namun seluruh bagian diri kita masih belum cukup teratur, benar, dun tepat. Oleh sebab itu seluruh bagian diri kita terus ditepatkan. Pikiran kita masih tidak pada tempatnya. Karena itu, Alkitab memberi tahu kita bahwa setelah manusia beroleh selamat, pikirannya herus diperberui. Pembaruan ini hampir mencakup semua pengaturan atas seluruh pikiran kita. Tidak hanya demikian, Alkitab juga mengatakan kepada kita, "Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita dan menangislah dengan orang yang menangis" (Rm. 12:15). Ini adalah perihal penepatan emosi. Ada orang yang emosinya tidak tepat; seharusnya bergembira, tidak bergembira, seharusnya menangis, tidak menangis. Emosi demikian tidak sesuai bagi seorang Kristen yang normal. Jika emosi kita perlu ditepatkan dalam penempuhan hidup manusia, terlebih lagi emosi kita perlu ditepatkan dalam hal berdoa.

Berdoa adalah perkara manusia datang dengan seluruh dirinya ke hadapan Allah untuk melakukan suatu hal yang sangat serius. Jika di dalam Anda ada bagian yang tidak tepat, maka Anda tidak bisa menjadi seorang pendoa yang betul, tepat, dan benar; misalnya, Anda hanya menggemari doa yang bergairah, doa yang gaduh. Semua contoh doa dalam Alkitab menampakkan kepada kita, bahwa setiap pendoa memiliki roh yang lurus, pikiran yang jernih, dan emosi yang tepat. Tidak diragukan lagi, emosi mereka telah terlatih dan telah dibetulkan.

Pada umumnya para pendidik moderen hanya memperhatikan pendidikan atas pikiran dan otak manusia, sedikit sekali yang memperhatikan pembinaan emosi manusia. Ada yang memperhatikan pembinaan emosi, namun pembinaan tersebut sering dilakukan dengan cara mendengarkan musik yang sesat dan keras. Akibatnya, emosi manusia bahkan menjadi lebih kacau. Oleh sebab itu kita bisa mengatakan, bahwa pendidikan manusia dengan segala metodenya belum memperhatikan perihal pembinaan emosi yang tepat. Emosi manusia juga adalah bagian diri manusia yang jatuh dan rusak parah. Kita harus mengakui bahwa banyak kesalahan, dosa, dan kebejatan bukanlah hasil dari pikiran manusia, melainkan hasil dari emosi, yang menipu kita untuk melakukan hal-hal yang tidak benar. Karena itu, jika kita ingin menjadi orang Kristen yang tepat, menjadi pendoa di hadapan Allah, kita bukan hanya perlu memperhatikan pikiran kita seperti yang telah dibahas dalam bab terdahulu, tetapi juga perlu memperhatikan perihal emosi yang tepat.

1. KEDUDUKAN EMOSI

Emosi adalah bagian dari jiwa dan kedudukannya berada di bawah pikiran dan tekad. Dengan kata lain, emosi seharusnya di bawah pengendalian tekad dan pikiran. Kita sering berkata bahwa kita tidak seharusnya melakukan sesuatu menurut emosi kita. Ini berarti kita tidak seharusnya takluk kepada emosi kita, sebaliknya emosilah yang seharusnya tunduk pada pengaturan pikiran yang jernih dan tekad yang tepat. Jika, emosi menduduki posisi kepala dan mengatur segala sesuatu, maka entah sudah berapa jauh kita menyimpang. Begitu bersukacita, segera membubung sampai langit ketiga, tetapi jika sedih, bahkan tidak ingin hidup lebih lama lagi. Namun orang yang normal, walaupun emosinya berlimpah, emosinya itu dapat dikendalikan oleh pikiran. Baik dalam Alkitab atau dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa nampak, bahwa orang yang tepat adalah orang yang emosinya mutlak di bawah pengendalian tekad dan pikirannya; dan semakin terkendali, semakin tepat orangnya. Orang yang emosinya tidak dibawah pengendalian pikiran dan tekad, ia ibarat mobil tanpa rem, begitu mobil itu berjalan, pasti akan celaka; selain itu, mobil itu tidak terarah, tidak tahu akan ke mana. Ini sangat berbahaya. Oleh sebab itu, kedudukan emosi harusiah di bawah pengendalian pikiran dan tekad.

2. EMOSI YANG PANTAS

Kita sering berkata, bahwa ada orang memiliki emosi yang meluap, penuh dengan emosi, sebaliknya ada orang yang tidak memiliki banyak emosi, dingin, seperti manusia kayu atau batu. Saudara saudari, kita perlu nampak bahwa terlampau emosional itu salah, tidak memiliki emosi pun salah, kedua-duanya tidak pantas. Orang yang tepat adalah orang yang memiliki kesenangan, kernarahan, kesedihan, dan sukacita yang pantas. Baik senang atau susah, ia memiliki tingkatan tertentu. Bila ia tertawa, ia tertawa sampai pada batas tertentu, jika dia menangis atau bersedih, ia pun bersedih sampai pada batas tertentu. Emosinya itu pantas dan sesuai.

Tiga puluh tahun yang lalu, ketika saya bersidang di China Utara, saya mehhat beherapa keadaan dari emosi yang tidak pantas. Ada saudara saudari, ketika berdoa, keadaan sukacita mereka tidak bisa dilukiskan. Mereka berteriak, bertepuk tangan, tertawa, gemetaran. Ada yang tertawa sampai seperti orang gila. Sulit rasanya mencari suatu kata dalam kamus untuk menggambarkan situasi itu. Saya juga melihat ada orang yang menangis sedemikian rupa sehingga benar-benar tidak bisa terbayangkan. Bahkan mungkin orang yang orang tuanya meninggal dunia pun tidak akan meratap sekeras itu. Dia menangis demikian sedihnya sehingga tangisannya membuat orang lain merinding. Itulah keadaan emosi yang tidak tepat dan berlebihan. Dalam 2Korintus 5 Paulus mengatakan, bahwa kita harus tidak menguasai diri dalam pelayanan Allah, namun menguasai diri di hadapan manusia. Inilah cara menyetel dan mengendalikan emosi kita.

Tanpa emosi yang pantas, kita tidak dapat berdoa dengan baik. Tidaklah tepat bila memiliki emosi yang berlebihan, juga tidaklah tepat jika kekurangan emosi. Ada saudara saudari yang ketika berdoa di dalam sidang, mereka seperti robot. Mereka berdoa tanpa ekspresi apa pun dan mengeluarkan suara seperti sebuah mesin ketik. Kalau keadaan yang terdahulu memperlihatkan suatu emosi yang berlebihan, sedangkan yang belakangan memperlihatkan suatu keadaan yang kekurangan emozi. Kedua keadaan itu adalah keadaan dari emosi yang tidak pantas.

Jangan menganggap hal ini sebagai perkara kecil. Ketika Tuhan Yesus di Betani melibet keadaan Maria dan orang Yahudi, dan memikirkan kematian Lazarus, Dia menangis. Inilah ayat terpendek dalam Alkitab yang memper lihatkan, bahwa Tuhan memiliki emosi. Namun tangisan Tuhan tidak meraung-raung sehingga membuat orang-orang yang di dekat-Nya merinding. Delam Alkitab tertulis sangat sederhana, "Maka Yesus menangis" (Yoh. 11:35). Dengan membaca catatan ini Anda dapat mengetahui bahwa Dia adalah Orang yang memiliki emosi yang sangat pantas. Pada kesempatan lain, Dia menyucikan bait Allah. Dia mengambil cambuk dan menyingkirkan semua domba dan lembu, dan menjungkir-balikkan meja penukar uang. Boleh dikatakan bahwa Dia begitu marah pada hari itu. Tetapi Anda tidak menemukan satu bagian pun yang menunjukkan bahwa pada hari itu Tuhan Yesus telah membuat kekacauan yang sangat besar dengan memporak- porandakan segala sesuatu di dalam bait Allah. Ada saudara yang jika tidak marah, maka segala sesuatunya baik-baik saja; tetapi bila mereka marah, mereka membuat kekacauan yang besar dengan menghancurkan segala sesuatu - kaca jendela, cangkir/piring, dan lain-lainnya. Oh, betapa tepatnya emosi Tuhan Yesus kita! Jika Anda dan saya benar-benar ingin menjadi orang Kristen yang normal, emosi kita harus tepat. Baik sukacita atau sedih, emosi kita harus ada batasannya.

3. EMOSI YANG TEPAT

Emosi seseorang bukan saja harus pantas, tetapi juga harus tepat. Pantas adalah masalah martabatnya, sedangkan tepat adalah masalah sifatnya. Kita semua mengerti apa artinya tepat. Ada kalanya saudara saudari tertawa, tetapi tertawa mereka sangat buruk, ketika mereka sedih, kesedihan mereka juga sangat buruk. Perasaan mereka - senang, marah, sedih, dan gembira - tidaklah tepat. Demikian pula bila seseorang hanya bisa tertawa namun tidak bisa menangis dan tidak pernah marah, mungkin ia adalah orang Kristen palsu. Alkitab mengatakan, "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa" (Ef. 4:26). Bila seseorang berdosa dalam amarahnya, maka amarahnya itu tidak tepat, jahat. Ada orang yang menangis atau tertawa dengan sopan, tetapi ada juga orang menangis atau tertawa dengan cara yang tidak tepat dan tidak pantas. Semua emosi yang tidak tepat merupakan hambatan dalam doa. Oleh sebab itu, jika kita ingin menjadi pendoa yang normal, emosi kita harus pantas, juga harus tepat.

4. EMOSI YANG HALUS

Halus di sini berarti lembut, baik, dan sopan. Emosi orang Kristen harus sopan, bukan liar. Sopan ketika bergembira, juga sopan ketika bersedih. Anda dapat merasakan bahwa dia sopan dan patut dikasihi, bahkan dalam keadaan duka ataupun dalam amarahnya. Semua ini adalah hal-hal emosi yang perlu disesuaikan. Ada saudara saudari yang sangat ramah dan sopan terhadap Anda ketika mereka dalam keadaan baik dengan Anda, tetapi ketika mereka marah kepada Anda, mereka seperti setan yang keluar dari lubang yang tak berdatar; itu membuktikan bahwa emosinya kurang halus. Ada orang yang terlihat sangat buruk ketika bergembira, bertingkah laku dengan sikap yang liar dan lepas kendali. Itu berarti emosi mereka belum tepat. Dengan bersandar hayat Kristus, Anda den saya perlu berlatih sehingga meskipun kita marah, kita masih memiliki kelembutan. Sekali lagi saya katakan, emosi doa haruslah emosi yang halus.

5. EMOSI YANG SABAR DAN TERKENDALI

Sabar berarti lembut den menunjukkan rasa hormat. Terkendali berarti mampu membatasi diri. Jadi, emosi yang sabar dan terkendali berarti selalu menunjukkan rasa hormat, sopan, dan di bawah pengendalian diri. Janganlah menangis dengan tak ada kendali dan kehilangan keadaan yang lazim. Kalaupun menangis, tetap harus menunjukkan kehormatan dan kesopanan, bisa rnengontrol dan membatasi diri. Juga, jangan membiarkan diri tak terkendali ketika marah. Ketika sedang emosi, hendaknya sabar, menunjukkan rasa hormat, sopan, mengendalikan diri, dan membatasi diri. Ini bukan hanya masalah pantas, tepat, dan halus. Halus hanya berarti bahwa emosinya sangat sopan dan baik, tetapi sabar dan pengendalian diri berarti selain sopan juga masih ada suatu pengendalian diri, pembatasan diri.

Mengapa kita harus memakai kata-kata ini? Karena emosi adalah suatu hal yang sangat halus. Untuk menepatkan emosi, harus menyinggung hal yang sangat halus ini. Harus pantas, harus tepat, harus lembut, dan harus sabar dan terkendali. Seorang Kristen yang normal bukanlah seorang manusia kayu, bukan manusia batu, melainkan kaya dengan emosi, selalu memiliki raut wajah yang ceria terhadap orang lain, juga pantas, tepat, sehat, halus, menunjukkan rasa hormat dan sopan, serta ada pengendalian diri.

Kadang-kadang Anda mungkin secara kebetulan bertemu dengan seorang saudara atau saudari yang tidak menunjukkan emosi apa pun. Dia tidak pernah tertawa atau menangis. Orang semacam ini sama seperti sehongkah es atau seperti batu. Pada kesempatan lain, Anda mungkin bertemu dengan seorang saudara atau saudari yang emosinya berantakan dan tidak teratur seperti rambut yang tak disisir pada saat bangun pagi; baik tertawa atau menangis, semuanya kacau, tidak sabar, tidak terkendali dan tidak lembut. Emosi seperti itu merupakan rintangan yang besar bagi doa kita. Jika kita ingin belajar berdoa, kita perlu belajar pelajaran-pelajaran mengenai emosi ini.

6. EMOSI YANG TENANG

Ketenangan emosi mengandung arti bahwa emosi mampu diredakan. Tenang berarti damai, Keduanya hampir searti. Sangatlah mudah bagi seseorang yang penuh emosi untuk menjadi panas, karena itu, harus belajar untuk menjadi reda dalam emosinya. Menjadi tenang di sini bukan berarti menjadi diam, melainkan menjadi reda dan mantap. Misalnya, ada orang begitu mendengar berita sukacita segera larut dalam sukacita, sehingga ia tidak dapat berdoa. Bukan saja tidak dapat berdoa lagi, bahkan tidak bisa duduk tenang di rumah, harus berjalan-jalan ke luar rumah. Ini berarti emosinya tidak tenang. Ada orang yang tak bisa berdoa setelah marah-marah, ini juga menyatakan emosi yang tidak tenang.

Kita sering mengira, bahwa kita tidak bisa berdoa dikarenakan pikiran kita sedang kacau atau terganggu. Sebenarnya, sangat mudah mengattai kekacauan pikiran. Jika kita bisa memelihara suatu emosi yang tenang, kita tidak akan terpengaruh walaupun ada orang sedang berbicara di samping kita.

Namun bila emosi kita tergerak, maka akan sangat sulit bagi kita untuk masuk ke dalam roh kita untuk berdoa. Kadang-kadang hal ini mungkin berlanjut selarna berhari-hari sampai kita mampu berdoa lagi.

Emosi yang kacau atau terganggu akan sangat mempengaruhi kehidupan doa kita. Ada orang ketika gembira, mereka akan menangis dan tertawa dalam doa mereka dan bahkan sampai lupa makan. Tetapi ketika mereka susah hati, mereka bisa berhenti berdoa selama satu minggu. Kehidupan doa mereka tidak pasti, dan seluruhnya berada dalam pengendalian emosi mereka. Orang yang emosinya tidak tenang, tidak bisa berdoa. Sebab itu perlu melatih diri untuk menjadi tenang.

7. EMOSI YANG TERKONTROL

Semua pelajaran yang terdahulu adalah untuk pengontrolan emosi. Pengontrolan emosi bukan berarti melakukan sesuatu yang pura-pura, melainkan sungguh-sungguh. Tertawa seorang yang sedang berdiplomasi adalah tertawa yang palsu, dan rasa simpatinya kepada orang lain juga tidak sejati. Apa yang kita maksudkan dengan emosi yang terkontrol adalah bukan emosi palsu dari seorang diplomat. Sebaliknya, emosi tersebut asli tetapi telah melewati pembetulan, tidak kasar, tidak liar, tidak lepas, tidak tanpa batas. Emosi yang dapat dikontrol adalah yang dibatasi, dibetulkan, dan diletakkan. Jika emosi tidak dilatih dengan pelajaran-pelajaran ini, maka kehidupan doanya sulit berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

8. EMOSI YANG ROHANI

Bila emosi Anda sudah dibenahi hingga menjadi pantas, tepat, halus, sabar dan terkendali, tenang, dan terkontrol, Anda akan bisa meletakkan seluruh emosi Anda di bawah roh untuk dikuasai oleh roh. Demikianlah emosi Anda akan diatur oleh roh. Emosi Anda tidak akan bertindak dengan bebas, melainkan mutlak ditutupi di hadapan roh, membiarkan roh yang menjadi kepala. Ketika roh itu gembira, emosi pun bergembira. Ketika roh bersedih, emosi pun bersedih. Begitu roh bergerak, emosi pun ikut bergerak. Emosi selalu mengikuti Roh. Emosi yang bisa dipimpin oleh roh inilah baru merupakan emosi yang tepat, pantas, halus, sabar dan terkendali, tenang, dan mampu mengontrol diri. Pada tahap ini, emosi menjadi emosi yang rohani.

Saudara saudari, saya yakin jika kalian tidak beropini lain dan mau memikirkan dengan tenang butir-butir ini, kalian pasti menemukan bahwa penyebab dari banyaknya masalah dalam kehidupan doa kalian terletak pada emosi. Kehidupan doa Anda tidak tahan lama, kehidupan doa rohani Anda di hadapan Allah tidak begitu normal, tiba-tiba tinggi tiba-tiba rendah, itu dikarenakan emosi Anda belum dibetulkan sedemikian rupa sehingga menjadi pantas, tepat, halus, sabar dan terkendali, tenang, dan selalu terkontrol. Anda belum bisa membuat emosi Anda tunduk kepada pimpinan roh. Emosi Anda masih individualistis, melampaui roh Anda. Anda masih terus-menerus diganggu oleh emosi. Oleh sebab itu, untuk menjadi pendoa yang normal, emosi harus tunduk di bawah roh, membiarkan roh menempati tempat yang utama, demikianlah Anda bisa menempuh kehidupan doa yang normal.

9. EMOSI DAN ROH

Di sini kita akan membahas hubungan antara emosi dengan Roh dan fungsinya terhadap Roh. Kita tahu bahwa emosi adalah organ yang olehnya manusia mengekspresikan dirinya. Meskipun pikiran bisa memberi manusia cara untuk mengekspresikan dirinya, membuat manusia tahu bagaimana mengekspresikan dirinya, tetapi sesungguhnya emosi manusialah yang secara langsung mengekspresikan diri manusia itu. Demikian juga, sampai taraf tertentu Allah mengekspresikan diri-Nya dari roh kita melatui pikiran kita, namun Dia mengekspresikan diri-Nya lebih banyak melalui emosi kita. Ketika seseorang berdoa, emosinyalah yang langsung mengutarakan beban di dalam roh. Misalnya, Roh Kudus memberi Anda perasaan sedih dan pertobatan, tetapi Anda kekurangan emosi sedih dan Anda masih bisa tertawa-tawa. Jika demikian bagaimana Anda bisa memanjatkan doa dengan perasaan yang sedih? Dari sini kita bisa nampak betapa pentingnya emosi bagi Roh. Ekspresi manusia terletak pada emosi, dan ekspresi Allah lebih-lebih hampir seluruhnya melalui emosi kita. Orang yang tanpa emosi tidak bisa mengekspresikan roh, juga tidak bisa mengekspresikan Allah. Oleh sebab itu, orang yang hidup di hadapan Allah, yang berdoa, harus memiliki emosi, bahkan emosi yang melimpah. Semua orang yang dingin seperti es dalam emosi tidak mungkin menjadi rohani. Ini bukan berarti bahwa jika Anda limpah dalam emosi secara otomatis Anda akan menjadi rohani. Mungkin saja emosi Anda yang berlimpah itu malah akan membuat Anda menjadi kacau-balau. Jika ingin menjadi rohani tanpa kekacauan diri, Anda perlu suatu emosi yang pantas, tepat, halus, sabar dan terkendali, tenang, terkontrol, rohani, dan kaya. Orang yang bisa mempelajari pelajaran-pelajaran ini, emosinya akan menjadi yang paling berguna dan bernilai. Emosinya akan menjadi yang paling mampu mengekspresikan Allah dan juga mengekspresikan roh. Orang yang demikian adalah orang yang pandai berdoa, den Allah bisa lebih banyak di ekspresikan melalui dia.

Jika Anda membaca sejarah gereja dan membaca biografi para rohaniwan, Anda akan menemukan bahwa semua rohaniwan kaya dalam emosi. Semakin rohani seseorang, semakin kaya emosinya. Dalam Alkitab, ada nabi yang menangis yang bernama Yeremia. Dia berkata, "Karena inilah aku menangis, mataku mencucurkan air" (Rat. 1:16), dan, "Air mataku mengalir bagaikan batang air" (Rat. 3:48). Dia benar-benar seorang nabi yang menangis. Perasaan untuk menangis sangatlah berat di dalam dirinya. Tetapi jika Anda membaca kitab Yeremia, Anda bisa merasakan bahwa walaupun dia menangis, emosinya telah terlatih. Emosinya yang duka dan sedih itu telah terkendali, sehingga Allah dapat mencarinya dan memakai dia untuk mengekspresikan peraaaan duka yang ada di dalam hati Allah. Walaupun Allah bersedih den terluka karena umatNya, namun Allah harus mendapatkan seorang yang memiliki perasaan demikian di bumi ini. Kemudian ketika Roh Allah menghampirinya den menaruh perasaan-Nya dalam roh orang tersebut, maka dia akan mengekspresikan perasaan duka dari Allah melalui emosinya. Jika Yeremia adalah seorang nabi yang riang gembira, maka Allah tidak

akan bisa memakai dia. Karena itu, agar Allah dapat terekspresi sepenuhnya melalui Anda, emosi Anda harusiah emosi yang rohani.

10. EMOSI DAN DOA

Dari sembilan butir di atas kita nampak, bahwa ketika emosi kita telah dilatih sehingga bisa dipakai oleh roh, barulah emosi kita bisa berguna dalam doa. Imamat 10:6-9 menyebutkan, ketika anak- anak Harun, Nadab dan Abihu, mempersembahkan api asing dan mereka mati di hadapan Allah, Musa berkata kepada Harun dan kedua anaknya yang lain, "Janganlah kamu berkabung dan janganlah kamu berdukacita," untuk melarang mereka menyatakan emosi apa pun. Mereka pun melakukan menurut perkataan Musa. Jika pada saat itu Harun berduka dan berkabung, dia mungkin tidak bisa menjadi imam lagi. Ini bukan hal yang mudah. Harun bukan tidak memiliki perasaan duka, namun dia perlu mengontrol emosinya sedemikian rupa sehingga dia bisa berguna di hadapan Allah.

11. EMOSI DOA

Jika emosi seseorang telah dibenahi hingga mencapai kesepuluh butir di atas, maka emosinya itu adalah emosi yang dapat bekerja sama dengan Allah. Ketika emosinya telah terlatih sedemikian rupa, maka ia bisa menjadi seorang pendoa di hadapan Allah.