← Daftar isi Doa · bab 6/19

PIKIRAN DOA 1. KEDUDUKAN PIKIRAN

Kita semua tahu bahwa manusia tercipta atas tiga bagian : roh, jiwa, dan tubuh. Jiwa ada di tengah-tengah, di antara roh dan tubuh. Jiwa adalah kepribadian kita, ego kita. Di dalam jiwa, pikiran adalah bagian utama. Baik emosi maupun tekad, keduanya lebih kecil daripada pikiran. Keluar masuknya manusia tergantung pada pikiran. Keluar adalah penyataan atau penampilan manusia, masuk adalah daya tangkap manusia. Baik kita menyatakan apa yang ada di dalam kita maupun menerima sesuatu dari luar, keduanya harus melewati pikiran. Karena itu, pikiran tidak hanya menduduki posisi utama dalam jiwa, tetapi juga merupakan bagian yang sangat penting dari keseluruhan diri kita.

Orang Kristen memakai istilah "pikiran" sebagai istilah khusus dalam hubungannya dengan kebenaran Alkitabiah. Orang- orang kafir menganggap pikiran ini mengacu kepada otak atau mental/jiwa. Istilah "otak" dipakai sebagai istilah yang mengacu kepada satuan yang jasmani, dan istilah "jiwa/mental" dipakai sebagai satuan jiwani. Pendidikan duniawi mendidik otak dan jiwa manusia. Setiap jenis pengetahuan, baik itu ilmu, filsafat, aliran, atau teori apa pun, semuanya berkaitan dengan otak manusia atau jiwa manusia. Menurut sistern pendidikan zaman ini, seseorang memerlukan pendidikan formal sekurang-kurangnya dua puluh tahun, untuk mendapat gelar Doktor. Diperlukan proses belajar selama dua puluh tahun untuk mengembangkan otak manusia secara memadai agar berguna bagi hidup manusia. Dari sini dapat kita lihat, betapa pentingnya kedudukan pikiran bagi manusia.

Jika pikiran perlu dididik untuk hidup, manusia, terlebih lagi pikiran perlu dilatih untuk doa. Kalau pikiran tidak dilatih, maka pikiran tidak berdaya menerima beban doa, juga tidak berdaya melepas behan doa. Baik menerima maupun melepas beban dalam doa, memerlukan pikiran yang berfungsi. Walaupun doa berasal dari roh, doa tetap harus melewati pikiran; begitu pikiran tidak beres, pasti ada masalah dalam doa. Jadi untuk menjadi seorang pendoa, kita tidak bisa tidak memperhatikan peladhan pikiran kita.

2. PEMBARUAN PIKIRAN

Alkitab menunjukkan kepada kita, bahwa karena kejatuhan, pikiran manusia menjadi gelap dan mati rasa. Karena manusia berdosa, pikirannya menjadi sia-sia dan sesat. Sesat berarti tidak tepat. Tidak memperhatikan hal-hal yang seharusnya diperhatikan, malah memperhatikan hal-hal yang tidak seharusnya diperhatikan. Hari ini terhadap hal berbuat dosa, manusia memiliki pikiran yang pandai, tetapi terhadap hal mencari Allah dan mendengarkan kebenaranNya, pikiran manusia sangat tidak memadai. Ini membuktikan bahwa pikiran orang berdosa sudah gelap dan sesat. Itulah sebabnya Roma 12:2 mengatakan, "berubahlah oleh pembaharuan pikiranmu" (Tl).

Pada saat kita dilahirkan kembali, roh kita diperbarui dengan masuknya Roh Allah ke dalam roh kita. Selanjutnya, Roh Kudus mulai menyebar keluar dari dalam roh kita, mencapai setiap bagian jiwa kita, khususnya ke dalam pikiran kita. Roh Kudus akan menyorotkan sinar dari dalam roh kita untuk menerangi pikiran kita, menyingkirkan kegelapan, dan membetulkannya dari kesesatannya. Penyingkiran kegelapan, dan pembetulan dari kesesatan ini merupakan pekerjaan pembaruan Roh Kudus di dalam pikiran kita.

Dalam memperbarui pikiran kita, Allah tidak hanya membetulkan dan menerangi melalui Roh Kudus di dalam roh kita, Dia pun memberi kita Firman Kudus-Nya, yaitu Alkitab, di luar kita. Kita membaca Alkitab, bukan hanya untuk menjamah Allah, mengenal maksud hati-Nya, bersamaan dengan itu, melalui firman Alkitab, pikiran kita yang gelap bisa diterangi, mental kita yang sesat dibetulkan, dan angan-angan kita yang usang diperbarui. Sayang, kadang-kadang dalam membaca Alkitab, orang bukan membaca Alkitab masuk ke dalam dirinya, sebaliknya membaca dirinya sendiri ke dalam Alkitab. Orang sedemikian bukannya ingin dengan hati yang kosong menerima bimbingan dan koreksi Alkitab, sebaliknya ingin membacakan pandangannya sendiri ke dalam Alkitab. Karena itu dia tidak bisa mempersilakan Alkitab memperbarui pikirannya, dia tidak mendapatkan manfaat sejati dari pembacaan Alkitab. Jadi, setiap pembaca Alkitab yang benar, harus belajar mengesampingkan pandangannya sendiri, mengabaikan pemikirannya sendiri. Dia harus membaca Alkitab dengan hati kosong dan tanpa prasangka. Jika kita membaca Alkitab dengan sikap yang demikian, kita dapat menerima ajaran Alkitab ke dalam kita. Begitu ajaran Alkitab itu masuk ke dalam kita, angan-angan, pandangan, dan opini dalam pikiran kita akan diubah. Alkitab yang di luar bekerja sama dengan Roh Kudus yang di dalam untuk menerangi pikiran kita dan membetulkan mentalitas kita, membuat pikiran kita yang gelap dan sesat diperbarui.

Oleh sebab itu, orang yang mengasihi Tuhan dan hidup menurut Roh itu, semakin membaca Alkitab, semakin menerima bimbingan dari Alkitab, pikirannya akan semakin cerdas dan tepat. Dia akan tumpul terhadap hal-hal yang jahat, tetapi sangat hidup terhadap hal-hal rohani. Hanya pikiran yang telah diperbarui inilah yang bisa bekerja sama dengan Roh pendoa untuk berdoa.

3. KEJERNIHAN PIKIRAN

Pikiran yang sudah diperbarui tentu sangat bersih dan terang. Otak orang yang sedernikian ini juga sangat bening, jernih. Kadang-kadang Anda tidak bisa membicarakan hal-hal rohani kepada saudara atau saudari tertentu, karena pikiran mereka tidak jernih, juga tidak bening; pikiran mereka campur aduk, kacau. Orang yang bermental seperti itu tidak dapat melihat dengan jelas kepala atau ekor dari suatu perkara. Baginya, delapan tidak begitu berbeda dengan sembilan, sembilan tidak begitu berbeda dengan sepuluh. Lihatlah, bisakah orang semacam ini berdoa? Kalau pikirannya kacau, ia pasti tidak dapat berdoa dengan tepat. Bacalah contoh-contoh doa dalam Alkitab. Tidak ada seorang pun yang berdoa dengan perkataan-perkataan yang kacau. Hana, ibu Samuel, adalah teladan yang baik. Setelah Samuel lahir, dia pergi ke hadapan Allah untuk mempersembahkan ucapan syukur. Tidak mungkin Hana memiliki pendidikan yang tinggi, karena saat itu tidak ada sekolah putri di kalangan orang Israel. Namun, bila Anda membaca kata-kata yang diucapkannya dalam doa, Anda dapat merasakan bahwa dia bukan hanya memiliki roh yang jernih, juga memiliki pikiran yang jelas. Pikirannya seperti jendela kaca yang bersih dan jernih, Roh Allah dapat langsung menembuskan kata-kata doa melalui rohnya.

Dalam Perjanjian Baru ada seorang ibu lain yaitu Maria ibu Tuhan Vesus. Ia berlatar belakang sederhana, tidak berpendidikan tinggi. Namun doanya menunjukkan bahwa pikirannya sangat jernih dan otaknya sama sekali tidak kacau. Doa yang kacau adalah hasil dari pikiran yang kacau. Sering kali demi belas kasiban Allah, Allah bisa menjawab doa-doa yang kacau. Namun Anda tidak seharusnya puas dengan doa yang kacau karena berpikir bahwa Allah akan selalu mendengar doa apa pun. Bersikap demikian tidaklah patut. Orang-orang yang mengenal doa tahu bahwa sering kali ketika kita datang ke hadapan Allah untuk berdoa, keadaannya seperti sedang menangani hubungan diplomatik atau membela suatu perkara di pengadilan. Seorang pengacara tahu, bahwa ketika ia membela kliennya, pikirannya harus jernih dan kata-katanya harus jelas. Ucapan yang jelas berdasar pada kemampuannya untuk mengerti juga untuk mengutarakan dengan jelas. Karena itu untuk menjadi seorang pendoa, orang memerlukan pikiran yang diperbarui juga jernih. Pembaruan pikiran adalah pekerjaan Roh Kudus melalui Firman. Tetapi untuk memiliki pikiran yang jernih, kita perlu bertanggung jawab melatih pikiran kita.

4. KONSENTRASI PIKIRAN

Pikiran kita seharusnya tidak hanya jernih, juga harus mampu berkonsentrasi. Saya percaya, banyak saudara saudari menyadari bahwa masalah terbesar dalam berdoa adalah pikiran yang bercabang, tidak mudah berkonsentrasi, melainkan selalu melayang- layang, terbang ke sana ke mari. Ada saudara saudari berlutut berdoa, tidak kurang dari lima menit, pikiran mereka mulai melanglang buana. Sebentar memikirkan Amerika Serikat, sebentar memikirkan Inggris, setelah itu memikirkan Hongkong. Pikiran mereka tidak bisa dikonsentrasikan dan selalu melayang-layang ke berbagai tempat.

Saya rasa kita semua memiliki pengalaman ini. Penyebab kita tidak dapat berdoa ialah pikiran kita yang terus-menerus melayang- layang. Kita tidak bisa menariknya, tidak bisa mengendalikannya. Sangat aneh, hal ini tidak terjadi pada saat kita membaca Alkitab atau berbicara dengan orang lain. Namun setiap kali kita berdoa, di dalam diri kita sepertinya ada telegrap yang terus menyampaikan pesan-pesan sehingga kita tidak mampu berdoa. Inilah yang disebut pikiran yang melayang-layang. Mungkin kita tidak sadar bahwa kita memiliki pikiran yang tidak jernih, tetapi kita tahu jelas apa yang dimaksud dengan pikiran yang melayang-layang. Begitu pikiran kita melayang-layang, kita tidak dapat berdoa. Oleh sebab itu, agar bisa berdoa, kita harus memiliki konsentrasi yang baik.

Untuk memiliki pikiran yang terkonsentrasi, perlu latihan yang teratur. Cara melatih pikiran adalah dengan mengendalikan pemikiran angan-angan Anda. Jangan biarkan angan-angan Anda liar. Ada orang yang terlalu kendor, terlalu lepas dalam pikirannya; lepas sedemikian rupa sehingga terumbar, sedikit pun tidak dikendali, sedikit pun tidak dibatasi. Pikiran semacam ini sarna seperti kuda liar yang tanpa kekang, angan-angan orang sedemikian bukan hanya tidak dapat berdoa, malah juga tidak dapat membaca Alkitab. Karena Itu belajarlah mengendalikan pikiran Anda dan jangan membiarkan pikiran Anda menerawang liar. Bersamaan dengan ini, batasilah pikiran Anda senantiasa agar tidak berpikir melewati batas; yang wajar, pikirkanlah hal-hal yang pantas yang berkaitan dengan tugas atau tanggung jawab Anda. Misalnya, kalau hari ini Anda ingin mengunjungi seorang teman, Anda perlu menggunakan pikiran Anda sejenak untuk mempertimbangkan harus lewat jalan mana, naik kendaraan apa, kapan waktu terbaik untuk pergi, apa yang akan dilakukan di sana, dan kapan harus pulang. Pikiran semacam ini adalah yang pantas, yang seharusnya. Tetapi kadang-kadang Anda membiarkan diri Anda memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya Anda pikirkan. Pada saat yang demikian, Anda perlu membatasi diri. Mungkin berkali-kali Anda merasa tidak berdaya membatasi pikiran Anda. Kalau demikian, saya anjurkan Anda melakukan suatu aktivitas atau membaca buku. Setiap kali Anda merasa pikiran Anda liar, carilah kesibukan. Semakin Anda biarkan, pikiran Anda akan semakin liar; liar sedemikian rupa sehingga terumbar, dan Anda tidak bisa berdoa. Lagi pula sering kali pikiran yang bukan dari diri kita masuk ke dalam pikiran kita; itu adalah anak panah yang ditembakkan dari luar. Pikiran seperti anak panah itu juga menyelewengkan pikiran kita dan mengganggu doa kita. Karena itu kita harus belajar menolaknya. Mungkin Anda menolak pikiran-pikiran itu, namun pikiran-pikiran itu datang lagi; Anda tolak lagi, datang lagi; tetapi jangan sekali-kali menerimanya. Kadang-kadang, semakin Anda menolak pikiran yang bagaikan anak panah itu, pikiran itu menjadi semakin ganas; sepertilah anak-anak nakal yang mengetuk-ngetuk pintu Anda, semakin Anda larang mengetuk, semakin keras ketukan mereka. Pada saat ini, Anda boleh berhenti menolaknya, dan tidak mempedulikan pikiran itu; demikian, pikiran-pikiran itu akan sirna. Ringkasnya, untuk berkonsentrasi dengan baik, kita perlu belajar mengendalikan pikiran kita dan menolak pikiran yang dipanahkan kepada kita. Setelah melalui latihan itu, pikiran kita dengan sendirinya akan tepat; dan ketika kita berlutut untuk berdoa, pikiran kita akan menuruti pengaturan kita dan kita akan mampu berkonsentrasi.

5. KETENANGAN PIKIRAN

Seseorang yang pandai berdoa, sering bisa diam tenang dalam pikirannya. Dia tidak hanya dapat mengkonsentrasikan pikirannya, tetapi juga bisa menenangkan pikirannya. Sama seperti tanda berhenti sejenak dalam musik. Seorang pianis memainkan piano, begitu tiba pada tanda berhenti sejenak, ia berhenti bermain kemudian melanjutkan lagi. Ini juga sama seperti "sela" dalam Mazmur, yang menunjukkan suatu waktu tertentu untuk diam (berhenti). Kadang-kadang doa kita di hadapan Allah perlu berhenti. Kita perlu melatih dan mengendalikan pikiran kita sedemikian rupa sehingga kita dapat berpikir, berhenti, berkonsentrasi, dan mendengarkan amanat; demikian baru bisa menjadi seorang pendoa.

Ketenangan pikiran bukan hanya berarti mengaso, berhenti sejenak, tetapi juga beristirahat. Orang yang pikirannya tidak pernah berhenti, yang menggunakan pikirannya secara berlebihan, akan mengalami kesulitan pada saat ingin berdoa karena pikirannya tidak bisa tenang. Sering kali kita tidak dapat berdoa sebelum tidur malam, ini juga karena sepanjang hari pikiran kita hampir tidak pernah berhenti, terus digunakan hingga lelah. Roh ingin berdoa, tetapi pikiran letih dan tidak dapat digunakan; ini sangat merusak doa. Oleh sebab itu, demi berdoa, Anda perlu sering menenangkan pikiran Anda. Anda bukan hanya perlu menahan diri dari pikiran yang ngawur dan khayalan yang hampa, tetapi sekalipun Anda telah dengan benar menggunakan pikiran Anda, kadang-kadang Anda juga perlu berhenti menggunakan pikiran. Harus menyisihkan kekuatan pikiran Anda untuk doa. Jika pikiran tidak dikendalikan dengan baik, pasti akan ada masalah dalam doa.

6. MENGARAHKAN PIKIRAN

KEPADA HAL-HAL ROHANI

Baik konsentrasi maupun berhenti sejenak adalah mengendalikan pikiran di aspek negatif. Mengarahkan pikiran kepada hal-hal rohani adalah melatih pikiran di aspek positif Tidaklah mudah menghentikan pikiran kita. Para psikolog mengatakan, bahwa pada saat manusia tidur, pikiran manusia mungkin saja tidak beristirahat, sehingga timbullah mimpi-mimpi. Oleh karena itu kita perlu lebih banyak menekankan aspek positif melatih pikiran kita. Selain dipakai untuk melakukan tugas-tugas yang normal, seseorang harus menggunakan pikirannya untuk memikirkan hal-hal rohani pada waktu luang. Inilah yang dimaksud dengan memikirkan hal-hal yang dari Roh (Rm. 8:5). Ketika pikiran Anda kosong, Anda perlu mengarahkannya kepada hal-hal rohani.

Tentu saja, ketika memikirkan hal-hal rohani sekalipun, janganlah memikirkan yang bukan-bukan. Dulu ada seorang saudari di daerah Utara yang selalu membayangkan dirinya sebagai Madame Guyon. Dia sering duduk sambil menutup mata, dan berkhayal, namun dia mengira dirinya sedang bersekutu dengan Tuhan. Dia berkata, "Aku ingin memperbarui janji pernikahanku dengan Tuhan." Dia juga berkata, "Aku mau memilih salib, bukan kenyamanan." Demikianlah dia larut dalam pikirannya yang bukan- bukan. Memikirkan hal-hal rohani seperti ini tidaklah normal. Untuk mernikirkan hal-hal rohani dengan wajar, perlu berpikir secara tepat. Misalnya, mungkin Anda memikirkan beberapa firman Tuhan, merenungkan kemuliaan Tuhan, atau memikirkan bagaimana Roh Kudus di dalam kita memimpin kita. Kita perlu memikirkan hal-hal rohani semacam ini.

Ada beberapa saudara yang bertanya kepada saya tentang kekurangan petah lidah ketika berkhotbah. Saya sering senang menjawab demikian, "Itu disebabkan Anda biasanya tidak pernah memikirkan hal-hal rohani." Kalau Anda tidak sedang memikirkan banjir di daerah Tengah, mungkin Anda sedang memikirkan bahwa bayam yang biasanya dijual satu yen per pon, kini naik menjadi tiga yen. Anda selalu memikirkan hal-hal duniawi. Karena Anda terlalu memikirkan hal-hal tersebut, maka ketika Anda menyampaikan firman, Anda kekurangan petah lidah. Kalau Anda tetap tidak mau membatasi pikiran Anda, saya khawatir pada suatu hari, kalimat "bayam dijual tiga yen perpon" akan meluncur dari mulut Anda ketika Anda menyampaikan Firman. Karena Anda hanya memikirkan hal-hal itu dan tidak memikirkan hal-hal rohani, maka pikiran Anda menjadi sangat tumpul. Begitu pula dengan doa. Ada orang bila mengucapkan perkataan humor, perkataan sindiran, dan perkataan ejekan, kedua bibimya bisa sangat tajam, tetapi jika mereka diminta berdoa, pikirannya tidak jalan. Saudara saudari, saya ingin memberi tahu Anda bahwa petah lidah dalam penyampaian Firman adalah simpanan dari setiap hari memikirkan hal-hal rohani. Begitu Anda memiliki waktu luang, pikirkanlah hal-hal rohani seperti : apa yang dimaksud dengan menanggulangi daging? Apa yang dimaksud dengan menanggulangi ego? Apa bedanya menanggulangi ego dengan menanggulangi daging? Mengapa dalam Alkitab dikatakan, bahwa manusia lama kita sudah disalibkan dan juga dikatakan, bahwa daging kita sudah disalibkan? Jika Anda memikirkan hal-hal ini, Anda akan memiliki pengutaraan yang baik dan Roh Anda akan membara. Ketika tiba waktunya melayankan firman, dengan spontan Anda akan memiliki inspirasi Roh, dan Anda memiliki pengutaraan yang diperlukan. Karena Anda sudah siap sedia jauh sebelumnya, dan Anda dapat menggunakannya kapan saja. Oleh karena itu, untuk melatih pikiran, harus sering memikirkan hal-hal rohani.

7. PENGATURAN ROH ATAS PIKIRAN

Dalam seluruh diri kita, bagian yang paling tinggi adalah roh; roh adalah tuan seluruh diri kita. Walaupun roh kita harus tunduk kepada pengaturan Tuhan, roh kita tetap menempati kedudukan utama dalam diri kita. Roh mengatur jiwa dan melalui jiwa mengatur tubuh. Karena itu pikiran harus tunduk kepada pengaturan roh. Kita harus sering berlatih agar roh dapat mengatur pikiran. Tentu kita mengakui bahwa hal ini tidak mudah. Tidaklah mudah memusatkan pikiran kita dan lebih sulit lagi membuat roh kita mengatur pikiran kita. Ada orang yang tidak pernah belajar melatih roh, tidak pernah belajar memakai perasaan roh, juga tidak pernah belajar menggunakan inspirasi roh. Keadan seperti itu bukan hanya ada pada orang kafir, orang-orang Kristen yang demikian pun ada. Semua orang yang tidak tahu bagaimana melatih roh mereka, pasti pikiran mereka menjadi yang utama. Karena pikiran menguasai roh, maka mereka tidak dapat berdoa. Kalau Anda selalu mengutamakan roh, mengijinkannya memerintah dan mengendalikan pikiran Anda, barulah pikiran benar-benar berguna dalam hal-hal rohani. Sering kali kita menganjuri orang untuk berdoa, tetapi itu tidak berguna. Banyak alasan yang membuat seseorang tidak dapat berdoa, tetapi alasan utama adalah pikirannya tidak berada pada kedudukan yang seharusnya. Pikiran telah melampaui roh dan telah membalikkan urutannya, dari posisi hamba menjadi tuan. Karena itu, harus belajar menggunakan tekad untuk menaklukkan pikiran, agar roh menjadi tuan dan mengatur pikiran. Demikian baru bisa memiliki doa yang normal. Mari kita ambil contoh mengenai membiarkan roh menguasai pikiran. Misalnya, ketika seseorang datang menemui Anda dan Anda mendengarkan pembicaraannya, pergunakanlah dulu roh Anda untuk menjamah, jangan menggunakan pikiran untuk memikirkannya. Ketika dalam roh Anda timbul perasaan, biarkanlah roh Anda mengatur pikiran untuk memahami dan menyatakannya. Inilah yang disebut roh sebagai tuan, memerintah pikiran. Namun pada umumnya ketika kita berbicara dengan orang lain, kita mengesampingkan roh kita dan membiarkannya tidak bekerja; pikiran kita malah bergerak aktif. Bila dalam kehidupan sehari-hari pikiran kita naik sangat tinggi sedangkan roh kita menurun sangat rendah, maka ketika ingin berdoa tidaklah mudah bagi roh kita untuk bangkit kembali. Karena itu, dalam hidup kita sehari-hari, kita harus senantiasa berlatih tidak membiarkan pikiran menguasai Roh, melainkan membiarkan roh memerintah dan mengarahkan pikiran. Dengan demikian kita akan bisa berdoa dengan baik.

8. PIKIRAN ROH

Roma 8:6 mengatakan, "Pikiran daging adalah maut; pikiran roh adalah hidup dan damai sejahtera" (Tl). Ayat ini memberi tahu kita adanya dua macam pikiran, yakni pikiran daging dan pikiran roh. Pikiran daging mengacu kepada pikiran yang memihak daging dan diperintah oleh daging. Pikiran roh mengacu kepada pikiran yang memihak roh, bekerja sama dengan roh, dikuasai oleh roh, dan memikirkan hal-hal rohani. Roma 8:5-6 mengatakan, "Karena mereka yang hidup menurut daging memikirkan hal-hal yang dari daging, tetapi mereka yang hidup menurut roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Sebab pikiran daging adalah maut, tetap pikiran roh adalah hidup dan damai sejahtera" (Tl). Dalam ayat 5 kata pikiran dipakai sebagai kata kerja. Dalam ayat 6, pikiran dipakai sebagai kata benda, yaitu pikiran roh. Bila pikiran Anda dikuasai roh, tunduk kepada roh, dan selalu memikirkan hal-hal roh, pikiran Anda menjadi rohani, menjadi pikiran roh. Hanya pikiran roh baru dapat membuat Anda menjamah hayat dan damai sejahtera di batin. Pikiran doa adalah pikiran roh, bekeda sama dengan roh, tunduk kepada pengaturan roh, dan memikirkan roh. Hanya pikiran semacam inilah yang dapat berdoa, bahkan berdoa dengan baik.

9. ROH PIKIRAN

Efesus 4:23 mengatakan, "Supaya kamu dibarui di dalam roh dan pikiranmu" (T1). Roh pikiran menyatakan adanya roh di dalam pikiran, roh sudah masuk ke dalam pikiran. Tadinya, roh adalah roh dan pikiran adalah pikiran, tetapi kini roh dan pikiran telah bergabung dan berbaur menjadi satu. Bukan hanya roh telah diperbarui dan bukan hanya pikiran telah diperbarui, lebih-lebih roh dan pikiran berbaur dan sepenuhnya telah diperbarui. Inilah makna Efesus 4:23. Dengan kata lain, di sini ada pikiran yang tidak terpisah dari roh. Ini bukan hanya satu pikiran roh yang dimiliki oleh roh, tunduk kepada pengaturan roh, di atur oleh roh, memikirkan hal-hal dari roh, bahkan pikiran ini memiliki unsur roh di dalamnya dan berbaur dengan roh. Ketika pikiran roh itu berpikir, roh ada di dalam pikiran tersebut. Unsur roh terdapat dalam setiap gerakannya. Orang yang telah mencapai tahap ini adalah orang yang sangat berbobot di dalam Tuhan. Rohnya sudah menyebar ke dalam jiwanya, jiwanya berada di bawah pengendalian roh, dan di dalam pikiran jiwanya terdapat unsur roh. Orang yang demikian pasti bisa berdoa. Saya yakin saudara saudari akan lebih jelas bila saya menambahkan beberapa perkataan lagi. Ketika Anda membaca doa-doa dalam Alkitab, Anda dapat merasakan adanya roh dalam doa-doa tersebut. Pada saat yang sama, Anda juga merasakan adanya jalan pikiran doa-doa itu. Anda merasakan ada roh di dalam pikiran itu. Misalnya, Anda membaca doa pengakuan Daniel dalam pasal 9. Anda dapat merasakan perkataan-perkataannya penuh dengan jalan pikiran yang jelas yang keluar dari pikiran yang jernih. Pada saat yang sama, perkataan-perkataan itu penuh dengan roh, roh dan pikiran berbaur jadi satu, dan pikiran itu dipenubi dengan unsur roh. Inilah pikiran roh. Kita memerlukan pikiran yang demikian untuk berdoa. Sering kali ketika saudara saudari berdoa, mereka hanya memiliki pikiran, tetapi tidak memiliki roh. Pada kesempatan lain, ketika mereka memiliki cukup banyak unsur roh, pikiran mereka sangat miskin, tidak ada jalan pikirannya, dan tidak memadai. Ini menunjukkan bahwa mereka belum diperbarui di dalam roh pikiran mereka.

10. PENERJEMAHAN PIKIRAN

ATAS PERASAAN ROH

Begitu di dalam roh ada perasaan, pikiran perlu menerjemahkannya. Perasaan di dalam roh umumnya sangat halus, lembut. Karena itu agar pikiran mampu menafsirkannya, seseorang harus memperhatikan delapan hal yang sudah disebutkan di depan : (1) diperbarui, (2) jernih, (3) konsentrasi, (4) tenang, (5) memikirkan hal-hal rohani, (6) diatur oleh roh, (7) menjadi pikiran roh, dan (8) dalam pikiran harusiah penuh dengan unsur roh. Dengan demikian, pikiran dapat memahami beban rohani dan menafsirkan peranan rohani.

Misalnya, dalam suatu sidang doa, Anda berbeban untuk berdoa, tetapi Anda tidak jelas bagaimana harus berdoa. Ini berarti Anda tidak tahu arti beban itu, dan unsur roh di dalam pikiran Anda tidak memadai. Akan tetapi jika pada saat itu pikiran Anda rohani, sudah terlatih, Anda dapat segera memahami dan menyatakan beban itu dengan limpah. Demikian pula prinsipnya dengan pelayanan Firman. Saya mungkin berbeban untuk menyampaikan firman kepada saudara saudari, tetapi ini membutuhkan kerja sama dan penerjemahan oleh pikiran untuk memaharni arti beban dan perasaan di dalam roh saya. Semua doa yang baik dihasilkan bukan hanya karena di dalam roh ada perasaan, ada beban, juga ada pikiran yang sangat peka yang mampu dengan sepenuhnya menyatakan perasaan roh lewat katakata yang halus dan jalan pikiran yang kaya. Ada yang penuh perasaan dalam batin, kaya dalam perasaan rohani, tetapi pikiran mereka tidak dapat menerjemahkannya, karena itu mereka hanya dapat berteriak-teriak, atau menangis, atau tertawa. Mereka memiliki perasaan dan beban, tetapi pikiran mereka tidak memadai. Kira-kira tahun 1947, ketika sidang-sidang di Shanghai mulai mengalami kebangunan, dalam suatu sidang pemecahan roti pada Minggu sore, seorang saudara yang berasal dari Hokian Selatan mendapat perasaan roh dan berdoa dengan bahasa daerahnya untuk menyatakan perasaan rohnya. Pada saat mendengarkan dia berdoa, walaupun saya tidak begitu memahami dialeknya, namun saya dapat mengatakan bahkan dalam dialeknya sendiri, dia tidak dapat menyatakan perasaan rohnya dengan baik. Maka dia hanya dapat bermerah muka, gemetar, dan bercucuran air mata. Seluruh jernaat menyadari bahwa dia memiliki perasaan, tetapi sayang, karena kurangnya kerja sama dari pikirannya, dia tidak memiliki kata-kata yang memadai untuk menyatakan bebannya. Kalau pikirannya sudah terlatih dan dia dapat berbicara dalam bahasa Mandarin atau Shanghai, dengan memakai kata-kata yang limpah untuk mencurahkan seturuh perasaan batinnya, saya yakin, seluruh sidang akan meledak. Namun sayang, karena pikirannya tidak terlatih, dia tidak dapat menerjemahkan apa yang ada di dalam batinnya, beban itu tidak dapat meledak keluar. Karena itu, saudara-saudara, kalau kita mau berdoa dengan baik, kita perlu berlatih, agar pikiran kita mampu mengimbangi dan menerjemahkan perasaan di dalam roh kita. Ini tidak boleh kurang.

11. PENGUTARAAN ROHANI DARI PIKIRAN

Pikiran seharusnya tidak hanya mampu menerjemahkan perasaan di dalam roh, tetapi juga perlu memiliki kata-kata untuk menyatakannya. Ini adalah perihal pengutaraan (petah lidah). Orang-orang yang pernah menjadi penerjemah tahu, bahwa hal ini tidaklah mudah. Anda harus memahaminya, begitu memahaminya segera menyatakannya; ini sungguh tidak mudah. Kadang-kadang kita sudah mengerti apa yang ada di dalam roh kita, tetapi kita tidak dapat menyatakannya. Pada kesempatan lain, kita menyatakannya tetapi orang lain tidak dapat memahaminya. Semua ini memerlukan latihan. Paulus meminta kaum saleh berdoa baginya agar dia diberikan pengutaraan (Ef 6:19). Pengutaraan yang dimaksud Paulus bukanlah kefasihan atau kecakapan berbicara dalam percakapan biasa, melainkan kemampuan untuk mengungkapkan perasaan yang ada di batin. Pengutaraan semacam. ini adalah talenta di dalam pikiran.

Ada saudara yang pikirannya sudah terlatih sedemikian. Ketika ia berdoa bersama beberapa orang, ia tidak hanya mampu mengungkapkan perasaan yang ada di dalam dirinya, tetapi juga mampu mengungkapkan perasaan di dalam orang lain. Maka, ketika ia berdoa, begitu perkataannya keluar, orang lain merasa lega, karena doanya membuat roh orang lain terbebaskan. Sebaliknya, orang yang belum terlatih dalam pikirannya untuk berdoa, semakin lama dia berdoa, orang-orang semakin tidak nyaman bahkan merasa susah dalam batin, sangat menderita. Semakin lama dia berdoa, Roh orang lain semakin tidak nyaman. karena pikirannya yang belum terlatih, tidak dapat menemukan pengungkapan yang cocok. Oleh sebab itu, jika Anda ingin menjadi orang yang mahir berdoa, Anda tidak bisa tidak melatih pikiran Anda. Harus berlatih membiarkan roh Anda mengendalikan pikiran Anda, membiarkan pikiran memahami perasaan di dalam roh, dan juga menemukan pengutaraan yang tepat untuk menyatakannya setiap saat.

12. DOA PIKIRAN

Bila Anda sudah memiliki butir-butir tersebut di atas, barulah Anda memiliki doa pikiran. Inilah yang dikatakan dalam 1 Korintus 14:15 (LAI mengatakan "berdoa dengan akal budi"). Kata "akal budi" di sini memiliki akar kata yang sama dengan kata "pikiran". Akal budi adalah pikiran. Di sana dikatakan, bahwa ada orang berdoa dengan roh, ada juga yang berdoa dengan akal budinya. Berdoa dengan roh mengacu kepada berbahasa lidah, yang tidak perlu melewati pikiran. Tetapi rasul Paulus mengatakan, bahwa di dalam gereja, doa semacam itu tidak begitu berharga dibandingkan dengan berdoa dengan akal budi, karena bahasa lidah tidak dapat dimengerti oleh orang lain, sedangkan doa dengan pikiran bisa dimengerti. Oleh sebab itu, untuk memiliki doa-doa yang dapat mengutarakan dan mengungkapkan perasaan dalam batin - doa-doa pikiran - pikiran Anda harus dilatih menurut butir-butir di atas. Doa pikiran bukan hanya ternyata dari pikiran, lebih-lebih keluar dari roh, melalui penafsiran pikiran, lalu diutarakan sebagai doa.