MANUSIA DOA
Kita tahu bahwa dalam melakukan pekerjaan, hasilnya tergantung pada bagaimana orang yang mengerjakan. Anda dapat melakukan hal yang sama dengan yang dikerjakan orang lain, tetapi ketika Anda mengerjakannya, hasilnya berbeda. Pepatah mengatakan, "Hasil suatu pekerjaan tergantung pada orang yang mengerjakannya". Banyak orang mengira hasil pekerjaan ditentukan oleh metode, tetapi sebenarnya faktor manusia lebih penting daripada metode. Metode itu mat, sedangkan manusia itu hidup. Karena itu, hanya memiliki suatu metode belumlah cukup; perlu juga memiliki manusianya. Dalam hal rohani, hampir dapat dikatakan bahwa orang adalah metode. Bila orangnya tidak benar, tak peduli betapa benarnya metode yang akan dipakai, metode itu tidak akan berguna; sebab perkara rohani adalah perkara hayat, dan hayat tidak tergantung pada metode. Hayat selalu mengekspresikan dirinya sesuai dengan hakiki dan sifatnya. Karena itu, terhadap perkara rohani, dengan serius dapat dikatakan, manusia adalah metode.
Dalam seluruh Alkitab, Allah jarang mengajarkan metode pelayanan kepada orang yang melayani-Nya; tetapi Allah justru menanggulangi orang itu sendiri. Misalnya Musa, salah seorang hamba Allah yang terbesar di dalam Pedanjian Lama. Baik pada saat dia dipanggil, maupun sebelum dia dipanggil, tidak ada catatan bahwa Allah memberi tahu dia berbagai macarn metode pelayanan. Sebaliknya, Allah malab menggunakan waktu delapan puluh tahun lamanya untuk menanggulangi diri Musa ini. Karena dalam hal berkontak dengan Allah, manusia itulah metodenya. Meskipun kita telah membahas beberapa prinsip doa yang memberi tahu kita apakah doa itu sebenarnya, jika manusia kita salah dan kita hanya berdoa menurut prinsip-prinsip itu, tidak akan ada hasilnya. Karena itu, jika kita ingin belajar berdoa, kita harus tahu bagaimanakah manusia doa itu seharusnya. Karena hal ini merupakan topik yang sangat besai; kita hanya dapat membahas beberapa prinsip penting saja.
1. HARUS MENJADI ORANG
YANG MENCARI ALLAH DAN KEHENDAK ALLAH
Bila seseorang hanya tahu bagaimana menuntut bagi dirinya sendiri dan kehendaknya sendiri, memang dia dapat berdoa, tetapi dia bukaniah seorang pendoa. Seorang pendoa harus mencapai satu taraf, menjadi orang yang dalam seluruh alam semesta hanya memperhatikan Allah dan kehendak-Nya, selain itu tidak ada keinginan yang lain.
Kita dapat melihat hal ini dengan jelas pada diri Tuhan Yesus ketika Ia hidup sebagai manusia di bumi. Ketika berdoa di taman Getsemani, meskipun di sana Ia juga berunding dengan Allah mengenai kematian-Nya, dan berkata, "Jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dan pada-Ku, tetapi kemudian Ia mengatakan, "Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki" (Mat. 26:39). Sampai tiga kali Ia berkata kepada Allah, bahwa Ia menginginkan kehendak Allah, bukan kehendak-Nya sendiri. Pada umumnya kita mengira, orang berdoa adalah mohon Allah melakukan sesuatu baginya. Misalkan, seseorang memiliki suatu keinginan, lalu ia berdoa menurut keinginannya itu dan meminta Allah mengabulkannya. Tetapi di taman Getsemani, kita nampak satu Orang berdoa demikian : Bukan menurut kehendak-Ku, tetapi menurut kehendak- Mu. Meskipun di sini Aku berdoa, Aku tidak meminta Engkau melakukan sesuatu untuk-Ku; sebaliknya Aku meminta agar kehendak-Mu terlaksana. Aku tidak menuntut apa pun dalam alam semesta ini. Satu-satunya kehendak-Ku adalah agar Engkau lancar dan kehendak-Mu dapat terlaksana. Aku adalah Orang yang hanya menginginkan Engkau dan kehendak-Mu."
Marilah kita simak lagi teladan doa yang diajarkan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya; doa ini juga menurut prinsip yang sama. Pada permulaan Ia berkata, "Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga" (Mat. 6:9-10). Perkataan doa ini dengan jelas memberi tahu kita apakah hasrat hati-Nya. Saudara-saudara, bila kita hanya tahu berdoa untuk kehidupan, pekerjaan, dan keluarga kita sendiri, maka doa kita sangat bermasalah. Itu membuktikan bahwa kita kurang tulus murni di hadapan Allah, di dalam kita masih, kompleks dan campur aduk, kita mau Allah, juga mau hal-hal di luar Allah.
Bahkan kadang-kadang dalam pekerjaan Allah kita masih tamak untuk diri sendiri. Hati dan Roh kita belum dimurnikan sedemikian rupa sehingga kita hanya mau Allah dan kehendak-Nya. Karena itu, kita bukan pendoa. Kita bisa berdoa, tetapi ditinjau dari manusia kita, kita bukan pendoa. Seorang pendoa adalah orang yang doa-doanya di hadapan Allah untuk kehendak Allah, supaya Allah lancar, supaya kehendak-Nya rampung. Ia tidak mencari kelancaran, kemajuan, kenikmatan, atau penggenapan pribadinya sendiri. Yang dikehendakinya adalah Allah dan kehendak Allah; dia puas selama Allah memiliki jalan untuk maju dan menggenapkan kehendak-Nya. Saudara saudari, hanya orang yang demikianlah yang disebut pendoa.
Meskipun tampaknya perkataan ini sedikit terlalu dini dan terlalu tinggi bagi orang beriman baru, tetapi Anda dan saya harus memiliki iman, bahwa sejak semula kita harus mengusahakan agar kaum beriman baru mendapatkan pelatihan yang tepat mengenai berdoa. Anda dapat menjelaskan secara sederhana dengan jelas kepada mereka, bahkan ketika berdoa untuk sarapan pagi, kita seharusnya mengatakan kepada Allah, "Ya Allah, meskipun aku berdoa agar Engkau memberi kami makanan sehari-hari, doa kami bukan untuk diri kami, melainkan untuk Engkau. Kami makan dan minum karena kami ingin hidup untuk Engkau. Bahkan ketika kami berdoa untuk suatu urusan kecil, hati kami tetap hanya untuk-Mu, bukan untuk diri kami sendiri. Kami hanya menginginkan Engkau dan kehendak-Mu, bukan kenikmatan dan kelancaran kami."
Juga dalam melakukan bisnis, dalam mengajar, dalam hal-hal lainnya, prinsipnya tetap sama. Anda dapat berkata kepada Allah, "Ya Allah, berkatilah pekerjaan ini, bukan untuk kami, melainkan untuk Engkau. Di sini, karni berdoa agar bisnis ini lancar dan menghasilkan keuntungan, tetapi ini bukan untuk, diri kami sendiri, melainkan untuk Kerajaan-Mu."
Prinsip ini berlaku untuk pekerjaan, pengabaran Injil kita, juga dalam hal mendirikan, mengatur, dan membangun gereja. Kadang- kadang setelah menderita suatu pukulan dalam pekerjaannya, orang lalu mencucurkan air mata dengan sedih di hadapan Allah. Tetapi kesedihan itu belum tentu berharga dan cucuran air mata itu belum tentu diingat oleh Allah. Allah akan bertanya kepada Anda, "Untuk siapa engkau merasa sedih? Untuk siapa engkau mencucurkan air matamu? Allah akan membuat Anda nampak, bahwa motivasi Anda tidak murni, dalam pekerjaan Allah, Anda masih memiliki pamrih, harapan, dan tujuan Anda sendiri.
Karena itu saudara saudari, apa saja yang kita doakan, kita harus dapat memberi tahu Allah, "Ya Allah, aku berdoa untuk urusan ini adalah bagi-Mu dan Kerajaan-Mu, aku hanya mau diri- Mu dan kehendak-Mu." Orang yang dapat berdoa demikian adalah pendoa. Di sini kita harus diperiksa, diuji oleh Allah. Di luar nampaknya kita berdoa kepada Allah untuk sesuatu dan meminta Dia mengabulkannya bagi kita, tetapi apakah kita, menyadari bahwa doa kita merupakan ujian yang menguji kita sebenarnya berada di mana.
Sebenarnya apakah yang kita inginkan dalam alam semesta ini? Kita menginginkan kepentingan kita atau Allah? Kita untuk diri kita sendiri atau untuk Allah? Kita menginginkan Allah menggenapi kehendak kita atau kehendakNya? Cepat atau lambat, setiap orang harus diuji dalam doanya. Orang yang belum pernah dibimbing Allah kepada keadaan yang mumi, bukanlah pendoa. Dia mungkin sering berdoa, tetapi di hadapan Allah tidak seberapa bernilai, dan dia masih belum terhitung sebagai orang yang bekerja bersama Allah, bekerja sama dengan-Nya, berdoa untukNya, dan merampungkan kehendak-Nya.
2. HARUS MENJADI ORANG YANG HIDUP
DI DALAM ALLAH DAN SELALU MEMILIKI
PERSEKUTUAN DENGAN-NYA
Orang Kristen tidak cukup hanya hidup di hadapan Allah, juga harus belajar hidup di dalam Allah. Dalam kekristenan hari ini kita sering mendengar orang mengatakan, bahwa kita harus hidup di hadapan Allah dan memiliki hati yang takwa kepada-Nya. Memang ajaran ini sangat baik, tetapi ingatlah, bahwa dalam zaman Perjanjian Baru tidak cukup bagi manusia hanya hidup di hadapan Allah, masih perlu hidup di dalam Allah. Dalam Yohanes 15:7 Tuhan Yesus berkata, "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." Dalam firman ini Tuhan menampakkan kepada kita, bahwa seorang pendoa haruslah orang yang tinggal di dalam Dia. Hidup di hadapan Tuhan tentu saja baik, tetapi ada kemungkinan Anda dengan Tuhan masih terpisah. Tuhan adalah Tuhan dan Anda adalah Anda. Bila Anda hidup di dalam Tuhan, baru Anda dapat bersatu dengan-Nya. Saat itu Anda dapat berkata kepada Tuhan, "Tuhan, di sini bukan aku sendiri yang berdoa, melainkan Engkau dan aku, aku dan Engkau berdoa bersama. Bukan hanya aku berdoa di hadapan-Mu, lebih-lebih aku berdoa di dalam-Mu. Aku adalah orang yang bersatu dengan-Mu dan yang esa dengan-Mu. Karena itu, aku dapat berdoa dalam nama-Mu."
Alkitab mengatakan bahwa kita harus berdoa dalam nama Tuhan. Berdoa dalam nama Tuhan adalah berdoa di dalam Tuhan. Anda yang berdoa dalam nama Tuhan adalah di dalam Tuhan dan merupakan bagian dari-Nya; Anda dan Tuhan telah menjadi satu. Saya sering menggunakan sebuah contoh untuk menjelaskan hal berdoa dalam nama Tuhan. Misalnya, saya memiliki uang yang ditabung di sebuah bank. Kemudian saya menulis selembar cek, menandatanganinya, dan menyerahkannya kepada seorang saudara untuk menarik uang dari.bank tersebut. Ketika dia pergi menarik uang, dia mewakili saya, bukan mewakili dirinya sendiri. Ketika kasir memberikan uang itu, ia tidak melakukannya atas nama saudara itu, tetapi atas nama saya. Pada saat itu, saudara tersebut adalah saya. Demikian juga halnya ketika kita berdoa dalam nama Tuhan dan Allah menjawab doa kita. Karena itu, untuk menjadi seorang pendoa, kita harus menjadi orang yang hidup di dalam Tuhan.
Dalam Yohanes 14, 15, dan 16, Tuhan Yesus memberi tahu orang untuk berdoa dalam nama-Nya. Dalam ketiga pasal ini, paling sedikit 6 atau 7 kali Tuhan mengatakan, "Mintalah di dalam nama-Ku". Ini sama seperti yang Tuhan katakan, "Tinggallah di dalam-Ku," "Kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu." Meminta di dalam Tuhan berarti meminta dalam nama Tuhan. Ketika kita berdoa, Tuhanlah yang berdoa di dalam kita, dan kita berdoa di dalam Dia. Tuhan dan kita berdoa bersama-sama, sebab kita adalah orang yang bersatu dengan Tuhan dan esa denganNya.
Jika Anda demikian tinggal di dalam Tuhan, maka tidak akan ada saat terputusnya persekutuan Anda dengan Tuhan. Aliran listrik bolak-balik adalah contoh terbaik untuk menggambarkan persekutuan yang dibicarakan di dalam Alkitab. Persekutuan rohani adalah aliran dalam roh Roh Allah dengan roh kita, roh kita dengan Roh Allah dua roh saling bersekutu. Dalam doa yang tepat, Roh Allah dengan roh manusia selalu bersekutu satu sama lain, saling mengalir; dua roh telah berpadu menjadi satu roh. Ketika kita benar-benar masuk ke dalam doa, kita dapat berkata, "Allah, di sini ada seorang yang hidup di dalam-Mu dan yang memiliki persekutuan dengan-Mu di dalam roh." Setiap kali kita berdoa, baik berdoa dengan bersuara atau tidak, kita harus merasakan bahwa Roh Allah sedang bergerak di dalam kita. Memang kita yang berdoa, tetapi yang bergerak di dalam kita adalah Roh Allah. Orang yang demikian adalah orang yang bersekutu dengan Tuhan dan adalah pendoa.
Ada orang mengatakan bahwa penderitaan memaksa kita untuk berdoa. Tetapi saya ingin memberi tahu Anda, saudara saudari, bila Anda menunggu sampai kesulitan datang untuk mendorong Anda ke dalam doa, maka Anda bukan pendoa. Seorang pendoa yang normal tidak menunggu kesulitan datang, baru berdoa; sebaliknya, setiap hari dia belajar tinggal di dalam Tuhan dan senantiasa memiliki persekutuan dengan Tuhan. Demikian, dengan sendirinya dia memiliki Roh doa di dalam dirinya. Roh Kudus adalah Roh yang memberi karunia yang menyebabkan manusia meminta kepada Allah. Karena itu, Dia di dalam Roh manusia pasti menggerakkan manusia untuk berdoa.
Bersekutu dengan Tuhan tidak mengijinkan sekatan apa pun di antara Anda dengan Tuhan. Suatu sekatan yang dibiarkan tinggal menyebabkan Anda jauh dari Allah. Karena itulah Tuhan berkata, "Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkaniah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu …!" (Mat. 5:23-24). Ini berarti Anda tidak seharusnya bermasalah dengan siapa pun. Sekali Anda bermasalah dengan orang, segera timbul sekatan antara Anda dengan Allah, dan Anda tidak dapat menjadi orang yang tinggal di dalam Allah dan bersekutu dengan Allah.
Saya rasa kita semua memiliki pengalaman semacam ini. Kadang kala sekatan dapat terjadi karena suatu dosa (belum tentu dosa yang besar) yang tidak mau kita tanggulangi, atau suatu hobi, ikatan yang tidak ingin kita putuskan, semua itu meniadi sekatan antara kita dengan Tuhan. Begitu kita jatuh ke dalam situasi yang demikian, Roh doa kita akan terhenti. Hal ini dikarenakan kita tidak tinggal di dalam Tuhan, dan persekutuan antara kita dengan Tuhan hilang. Ketika kehidupan doa terputus, sekalipun kita melatih pikiran kita untuk berdoa atau melatih tekad kita untuk mengucapkan doa, akan percuma saja.
Adakalanya, kita hanya mengasihi dunia sedikit saja, secara sembunyi-sembunyi sedikit bersatu dengannya, sedikit tembus dengannya, hal ini pun segera membuat kita tidak mampu berdoa. Kadang kala sekatan timbul karena di dalam kita ada sedikit kesombongan, bangga diri, atau pamer diri. Mungkin ada pikiran yang tidak murni, tidak tulus, melainkan menginginkan sesuatu untuk diri sendiri, semua itu adalah faktor, boleh juga disebut racun, yang dapat membunuh Roh doa di dalam kita. Jika Anda rela menanggulangi dosa-dosa dengan tuntas, memisahkan diri Anda sepenuhnya dari dunia, menuntut kemurnian di hadapan Tuhan, membiarkan Roh Tuhan menyucikan Anda dan mengizinkan salib membunuh segala sesuatu yang dihakimi oleh Tuhan di dalam Anda, maka Anda akan segera nampak bahwa Roh doa di dalam Anda hidup. Anda pasti menikmati berdoa, memiliki selera berdoa, dan mampu berdoa dengan kuat, karena pada saat itu Anda adalah orang yang tinggal di dalam Tuhan dan memiliki persekutuan dengan-Nya. Sungguh ajaib bahwa hayat yang di dalam kita adalah hayat doa. Jika Anda bertanya kepada saya, "Apakah fungsi utama Roh Kudus di dalam kita?" Saya akan mengatakan bahwa fungsinya adalah untuk memimpin kita berdoa. Begitu Anda memberikan kedudukan kepada Roh Kudus dan menaati-Nya sejenak, akibatnya pasti Ia memimpin Anda berdoa. Sebaliknya, kapan kala Anda tidak menaati atau memadamkan Roh itu, doa di dalam Anda segera terhenti dan Roh doa juga akan sirna. Karena itu saudara saudari, jika Anda ingin menjadi pendoa, Anda harus menjadi orang yang tinggal di dalam Allah juga orang yang di dalamnya Roh Allah memiliki kedudukan. Anda tinggal di dalam Roh Allah dan memiliki persekutuan yang terus-menerus dengan-Nya, dua Roh saling tembus. Semakin tembus, semakin ada doa Anda bisa tembus sedemikian rupa, sehingga Anda tidak hanya dapat berdoa di dalam karnar Anda, tetapi Roh di dalam Anda juga dapat berdoa pada waktu Anda mengendarai mobil, berjalan di jalanan, atau ketika sedang berbicara dengan orang. Bahkan ketika Anda sedang berdiri berkhotbah di mimbar, Anda bisa berbicara sambil berdoa, dan ketika Anda berbicara dengan orang lain dan mengontak mereka, Anda dapat mengontak mereka dan tetap berdoa di dalam Roh Anda.
Roh berdoa adalah suatu hukum doa, sama seperti pencernaan dalam lambung adalah suatu hukum. Ketika saya berbicara, lambung saya sedang mencerna; ketika saya tidur, ia mencerna; ketika saya bedalan, ia masih mencerna. Jika tidak ada masalah dengan lambung saya, maka fungsi pencernaan akan tetap berlangsung menurut hukum di dalam lambung. Dalam prinsip yang sama, di dalam roh kita juga ada hukum doa. Kapan kala kita hidup di dalam roh, membiarkan Roh itu berkedudukan di dalam kita, di dalam roh kita akan ada hukum doa dan saat itu doa kita akan menjadi sangat spontan.
Jangan sekali-kali mengira, bahwa ketika orang menutup pintu, khusus berdoa, itu baru terhitung sebagai doa. Saya akui bahwa hal itu perlu, tetapi bagi pendoa, tidak ditekankan bahwa dia harus khusus berdoa, melainkan ditekankan pada membiarkan roh doa berkedudukan di dalam dia. Begitu roh doa berkedudukan, hukum doa di dalam rohnya menggerakkan dia untuk berdoa kapan saja; bahkan ketika dia sedang tidak berdoa.
Karena itu, saya harap, setiap orang yang melayankan firman bisa melatih satu hal ini -- di satu pihak melayankan firman, di pihak lain berdoa. Jika di dalam kita masih ada nafsu dosa atau ada hal duniawi yang masib dipertahankan, meskipun secara luaran kita dapat berbicara, tetapi di dalam telah tersumbat. Pada saat demikian, orang yang mendengar tahu, bahwa perkataan kita hanya perkataan di luar, kosong, mati, usang, karena perkataan kita kekurangan Roh. Namun di aspek lain, saat kita berbicara dan di dalam kita juga berdoa serta memiliki persekutuan di dalam Roh, meskipun perkataannya sama dengan yang pernah kita bicarakan dahulu, ketika kata-kata itu meluncur, orang lain dapat merasakan kesegaran. Ini merupakan perkara yang ajaib. Jika batin orang yang berbicara hidup dan tembus dengan Roh, orang lain dapat merasakannya. Ketika dia sedang berbicara, orang lain dapat merasakan bahwa dia bukan saia berbicara secara luaran, tetapi dia juga sedang berdoa di dalam, menjamah Allah, dan bersekutu dengan-Nya. Orang yang memiliki keadaan ini barulah orang yang tinggal di dalam Allah, bersekutu dengan Allah, tidak ada sekatan dengan Allah.
3. HARUS MENJADI ORANG YANG SELALU
MENANTI DI HADAPAN ALLAH
Seorang pendoa juga adalah orang yang tinggal di dalam Allah, sepenuh hati menanti di hadapan Allah. Setiap orang yang pernah belajar dengan baik dalam pelajaran berdoa, selalu menanti di hadapan Allah dan kemudian perlahan-lahan masuk ke dalam doa. Hal ini dibicarakan di dalam kitab Mazmur yang sering mencanturnkan "hendaknya menanti Allah." Ketika Anda datang berdoa, Anda tidak seharusnya tergesa-gesa membuka mulut Anda untuk mengutarakan maksud Anda dan melampiaskan perasaan Anda. Sebaliknya, Anda perlu berhenti, mengesampingkan pikiran dan perasaan Anda, seantero diri Anda menanti di hadapan Allah.
Dalam Perjanjian Lama terdapat sejumlah contoh demikian. Misalnya, Kejadian 18 mencatat Allah secara khusus menampakkan diri kepada Abraham dan disambut oleh Abraham di kemahnya. Saat itu Abraham melayani terus menerus di hadapan Allah dan tidak meminta sesuatu kepada Allah. Allah menyelesaikan menyantap roti dan daging anak lembu yang dihidangkan dan berbicara tentang Sara. Ketika Allah akan meninggalkan Abraham, Abraham berjalan bersama Allah untuk mengantar. Saat itu Allah berhenti dan berpikir, "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham tentang apa yang hendak Kulakukan ini?" (Kej. 18:17). Pada saat itu, Allah menjelaskan bahwa Ia datang ke bumi untuk menghakimi Sodom. Ketika Abraham mendengar hal ini, dia segera mengerti maksud hati Allah dan mengetabui bahwa Allah sangat memperhatikan Lot, yang tinggal di Sodom tetapi yang adalah milik Allah. Abraham segera berdoa menurut kepribatinan Allah. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa dia adalah orang yang benar- benar menanti di hadapan Allah.
Tentu, hal ini bukan berarti kita perlu mengunci diri kita sendiri dalam kamar seharian penub untuk menantikan Allah, melainkan dalam hidup sepanjang hari, kita harus memiliki cukup waktu untuk menanti di hadapan Allah. Kita tidak seharusnya sembarangan membuka mulut kita kepada Allah, atau dengan ceroboh meminta sesuatu kepada Allah. Sebaliknya, kita harus selalu memelihara roh, motivasi, sikap, dan keadaan yang memberi Allah kesempatan untuk membuat kita merasakan perasaan-Nya dan membiarkan Dia menyatakan maksud hati-Nya di dalam roh kita. Kita seharusnya menunggu sampai kita menjamah kehendak Allah dan perasaan-Nya kemudian baru berdoa. Inilah doa yang dimulai oleh Allah di dalam kita.
Saya ingin mengatakan kepada saudara saudari, bahwa contoh doa pertama yang baik dalam Alkitab adalah doa Abraham dalam Kejadian 18. Beberapa prinsip yang sangat penting terkandung dalam doa itu. Ketika seluruh dunia menolak Allah, ada seorang yang menginginkan Allah. Orang itu adalah Abraham. Walaupun dari luar kelihatannya ia tidak hidup di dalam Allah, tetapi sesungguhnya ia benar-benar adalah orang yang memiliki persekutuan dengan Allah dan yang menanti di hadApan Allah. Ketika dia melihat Allah, dia tidak segera berkata, "Yehova telah datang, malaikat surga telah datang, aku ingin ini, aku ingin itu." Tidak, dia tidak minta apa pun; sebaliknya, dia menanti di hadapan Allah. Di luar kemah, dia tetap menanti; setelah mengantar tamu- tamu surgawi, dia masih berdiri dan menanti di hadapan Allah. Dalam penantian ini baru Allah mengatakan, "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?" Demikianlah Allah menyatakan maksud-Nya kepada Abraham.
Pada kesempatan khusus itu, Allah berbicara dengan Abraham dalam suatu teka-teki. Karena itu, doa Abraham di hadapan Allah juga berupa teka-teki, bukan dengan katakata jelas. Maksud Allah menyinggung Sodom adalah ditujukan kepada Lot. Allah menghendaki seseorang berdoa untuk Lot agar Ia dapat memiliki kesempatan untuk menyelamatkan Lot. Abraham mengetahui hati Allah, dan begitu dia mendengar Allah menyinggung Sodom, dia langsung teringat akan Lot yang telah jatuh ke Sodom dan mulai berdoa untuknya di hadapan Allah. Ajaibnya di sini : baik Allah maupun Abraham tidak menyebut nama Lot. Lalu, bagaimana kita tahu Abraham berdoa untuk Lot? Kita tahu karena ayat-ayat dalam pasal 19 memberi tahu kita, bahwa ketika Allah memusnahkan seluruh dataran rendah dan kota Sodom, Ia mengingat Abraham dan menyelamatkan Lot dari kota itu. Dari sini kita nampak bahwa baik doa Abraham di hadapan Allah maupun syafaat yang Allah amanatkan kepada Abraham berpusat pada diri Lot. Baik Allah maupun Abraham tidak menyebut nama Lot, tetapi hati Allah dan hati Abraham terletak pada diri Lot.
Abraham dapat memiliki doa yang demikian menjamah hati Allah karena dia adalah orang yang menanti di hadapan Allah. Dia tidak memiliki banyak pendapat, permohonan, permintaan, dan saran; dia adalah orang yang menghentikan aktivitas dirinya di hadapan Allah. Dia menanti di hadapan Allah, memberi Allah kesempatan berbicara, kemudian dia berdoa sesuai dengan apa yang telah Allah firmankan. Karena itu, seorang pendoa pasti adalah orang yang mampu menanti di hadapan Allah. Ini adalah pelajaran yang sangat dalam yang perlu kita pelajari dengan tuntas. Orang yang datang ke hadapan Allah untuk berdoa harus menghentikan dirinya. Maksudnya, emosi, pikiran, dan tekadnya harus dihentikan sampai taraf tertentu. Hanya orang demikian, yang menghentikan akitivitas dirinya sendiri, baru bisa menantikan Allah.
4. HARUS MENJADI ORANG YANG MELETAKKAN
SEGALA SESUATU YANG BERASAL DARI DIRI SENDIRI,
TERUTAMA KEMAMPUAN DAN OPININYA
Orang yang belajar berdoa harus dengan hebat belajar meletakkan dan menghentikan diri sendiri. Di sini diri sendiri terutama mengacu kepada opini diri dan kemampuan alamiah. Dalam Kisah Para Rasul 10 ada seorang, Petrus, naik ke atas rumah untuk berdoa. Pada waktu itu, dia telah mengalami hari Pentakosta dan memiliki sejumlah pengalaman rohani yang cukup banyak, tetapi doanya menunjukkan bahwa dia masih belurn dapat meletakkan opininya sendiri. Meskipun dia naik ke atas rurnah untuk berdoa, namun di sana dia masih, berselisih dengan Allah, sehingga Allah masih perlu memberinya visi sekali lagi. Ketika dia melihat selembar kain lebar turun dari langit dan mendengar suatu suara berkata, "Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!" Dia berkata, "Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir" (Kis. 10: 13-14). Ini adalah opininya. Allah segera berkata kepadanya, "Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram" (Kis. 10:15). Di sini opini Petrus bertentangan dengan kehendak Allah; karena itu, dia tidak dapat tembus dalam doanya.
Jangan sekali-kali mengira bahwa dalam hal doa kita memiliki pertentangan terhadap, Allah yang lebih sedikit daripada Petrus. Ketika datang ke hadapan Allah, opini kita terlalu banyak. Bacalah doa-doa di dalam Alkitab, Anda dapat melihat adanya alamiah manusia dan juga opini manusia dalam sebagian besar doa mereka. Misalnya, Yunus dalam Perjanjian Lama. Ketika dia berdoa, dia tidak dapat meletakkan opininya. Dia berdoa dari opininya, dan opininya justru bertentangan dengan Allah. Mari kita lihat Petrus. Pada malam Tuhan Yesus dijual, sepertinya dia juga berdoa kepada Tuhan, katanya, "Biarpun mereka semua terguncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak...sekalipun aku harus mati bersama- sama Tuhan." Karena Petrus erat berpegang pada kemampuan alamiahnya, maka Tuhan tidak dapat menjawab doanya. Doanya ialah : "Sekalipun orang lain jatuh, aku tetap minta Engkau membuatku berdiri teguh." Meskipun dia tidak demikian mengatakannya, Anda harus percaya bahwa dia berharap untuk dapat berdiri. Harapan itu adalah haeratnya di hadapan Allah. Tetapi Tuhan berkata, "Engkau pasti jatuh; Aku tidak dapat menjawab doamu yang bertujuan agar kemampuan alamiahmu itu sukses."
Orang yang berdoa di hadapan Allah seharusnya adalah orang yang sering rebah di hadepan Allah. Ilustrasi yang paling baik adalah pengalaman Yakub di tepi sungai Yabok. Pada waktu itu, doanya di hadapan Allah penuh dengan kekuatan alamiahnya. Di sana dia bahkan bergumul dengan Allah, dan karena tidak ada altematif lain, Allah terpaksa menjamah pangkal pahanya. Akibatnya, Yakub menjadi pincang. Ada banyak contoh seperti ini di dalam Alkitab. Cukup banyak orang datang ke hadapan Allah dan berdoa dengan kekuatan alamiah mereka serta menurut opini mereka sendiri - keduanya adalah penghalang terbesar dalam berdoa.
Karena itu, pendoa yang sejati pastilah orang yang rebah di hadapan Allah, yang kekuatan alamiah, opini, dan pandangannya telah diremukkan oleh Allah. Baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, mereka yang dapat menjamah Allah dan berdoa di hadapan-Nya adalah orangorang yang kekuatan alamiahnya telah habis dan pandangannya sendiri telah dikesampingkan. Daniel adalah orang yang sepenuhnya rebah di hadapan Allah -- dia tidak memiliki kekuatan atau pandangan. Demikian juga halnya dengan Daud di dalam kitab Mazmur. Karena itu, semua pendoa yang sejati sangat lunak di hadapan Allah. Mereka telah mengesampingkan. diri, telah rebah di hadapan Allah, dan telah diremukkan. Mereka tidak mengukuhkan diri sendiri, tidak ada kekuatan alamiah, juga tidak ada ide dan opini sendiri. Hanya orang seperti ini yang dapat menjamah takhta Allah dan kehendak-Nya. Hanya orang seperti ini yang dapat menjadi pendoa.
5. HARUS MENJADI ORANG YANG RELA
MEMBAYAR HARGA APA PUN UNTUK
MENJAWAB SELURUH PERMINUAN ALLAH
Syarat lain dari seorang pendoa adalah dia harus rela membayar harga apa pun untuk menjawab setiap tuntutan Allah. Saya ingin memberi tahu anak-anak Allah, bahwa tidak pernah ada satu contoh yang menunjukkan ketika seseorang bertemu dengan Allah dalam persekutuan, Allah tidak meminta apa-apa darinya. Kita selalu mengira bahwa Allah adalah Allah Yang menganugerahkan kasih karunia kepada kita. Tetapi saya ingin memberi tahu Anda, saudara saudari, Allah juga adalah Allah Yang mengajukan permintaan kepada kita.
Saya khawatir ada saudara saudari yang tidak pernah mengira bahwa Allah adalah Allah Yang mengajukan perminuan. Tidak dapat disangkal bahwa Allah menyuplai kita, tetapi kita semua harus ingat bahwa kita tidak perlu berdoa untuk suplai Allah, karena semua suplai-Nya sudah menjadi milik kita. Yang paling kita perlukan adalah pelucutan/pengupasan oleh Allah. Meskipun salib adalah sebuah tanda tambah, sebenarnya salib adalah tanda kurang. Masalah kita hari ini bukan karena terlalu sedikit barangbarang yang ada pada kita; melainkan kita memiliki terlalu banyak. Karena itu, kapan saja Allah bertemu dengan kita, Ia meminta agar kita melepaskan sesuatu.
Silakan baca kisah Abraham. Sejak dia dijumpai oleh Allah untuk kali pertama sampai akhirnya dia mengenal Allah, Allah tidak pernah menampakkan diri kepadanya tanpa melepaskan sesuatu darinya. Kali pertama Allah berkata, "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu." Kali kedua Ia berkata, "Pergilah dari rumah bapamu ini" (Kej. 12:1). Kali pertama, Allah melepaskan dia dari negerinya; kali kedua, Allah melepaskan dia dari bapanya. Pada kesempatan lain dia dilepaskan dari Lot. Tadinya Abraham bagaikan berjalan menyeret lumpur, menyeret Lot yang seharusnya dia tinggalkan; karena Lot berasal dari negeri, sanak saudara, dan rumah bapanya. Dalam pasal 15, akhirnya Abraham melepaskan Lot, namun dia mengalihkan ketergantungannya kepada Eliezer dari Damsyik. Ia memberi tahu Allah, "Ya Tuhan ALLAH ... yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu . . ." (Kej. 15:4). Tetapi Allah berkata, "Tidak. Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu..." (Kej. 15:4). Orang ini pun harus dilepaskan. Lalu, dalam pasal 16, Abraham mengambill Hagar dan mendapatkan Ismael. Makin banyak hal ditambahkan kepadanya; tetapi penambahan itu berasal dari Mesir, bukan diberikan oleh salib. Karena itu, dalam pasal 17, Allah datang kepadanya dan berkata, bahwa dia perlu disunat, dipotong, karena dia memiliki terlalu banyak. Perjanjian yang dibuat oleh Allah dengan Abraham adalah perjanjian yang mengurangi bukan menambahkan. Kemudian, dalam pasal 21, Allah berkata secara resmi bahwa Hagar dan Ismael perlu diusir. Ketahuilah, bahkan yang terakhir yang masih tinggal, Ishak, yang adalah pekerjaan kasih karunia Allah, juga harus dipersembahkan. Kita berkata bahwa Abraham adalah orang yang mewarisi berkat-berkat, tetapi ketika kita membaca kisah dia ditanggulangi Allah, kita jarang melihat dia menerima sesuatu dari Allah; sebaliknya, apa yang kita lihat adalah pelucutan dan pelepasan oleh Allah, juga permintaan-permintaan yang diajukan Allah kepadanya.
Satu hal yang dapat saya tegaskan kepada anak-anak Allah, jika hari ini Allah belum meminta apa-apa dari Anda, itu dikarenakan Anda belum bertemu dengan Dia. Jika Anda bertemu dengan Allah, Dia pasti meminta sesuatu dari Anda. Jika doa Anda menjamah Allah, Anda pasti menjamah suatu permintam. Karena itu, Anda harus siap membayar harga. Bukan hanya yang berasal dari daging perlu dipotong, bahkan yang diperoleh dari kasih karunia juga perlu dilepaskan. Ismael perlu diusir, dan Ishak perlu dipersembahkan. Setiap doa yang sejati pasti menjamah Allah, dan setiap orang yang menjamah Allah pasti menjamah tuntutan-Nya. Karena itu, seorang pendoa pasti adalah orang yang membayar harga.
Saudara saudari, masalah Anda dan saya di hadapan Allah bukan karena kita kekurangan sesuatu, melainkan kelebihan sesuatu; bukan karena milik kita terlalu sedikit, melainkan karena milik kita terlalu banyak. Kita memiliki terlalu banyak barang, sehingga setiap kali Allah menjamah kita, ada sesuatu yang harus kita lepas. Setiap kali Allah mengajukan permintaan, setiap kali pula kita perlu membayar harga. Jika Allah memiliki permintaan, tetapi Anda tidak mau menjawabnya, tidak mau membayar harga, maka Anda akan sulit memelihara satu persekutuan yang bebas, dan tembus dengan Dia, dan Anda tidak dapat hidup dalam roh doa. Meskipun Anda masih dapat berdoa, namun Anda bukanlah pendoa. Karena itu, untuk menjadi pendoa, orang harus rela membeyar harga. Apa pun yang diminta Allah dari Anda, Anda dapat berkata, “Ya Allah, oleh kasih karunia-Mu aku rela membayar harga ini. Bahkan Ishak yang Engkau berikan kepadaku, jika Engkam menghendaki, aku rela mempersembahkannya di mezbah." Orang yang rela membayar harga untuk menjawab segala permintaan Allah baru bisa menjadi pendoa.
6. HARUS MENJADI ORANG YANG
KEHIDUPANNYA SERASI DENGAN DOANYA
Sebagai pendoa, kebidupan Anda harus serasi dengan apa yang Anda doakan. Seseorang mungkin mohon Tuhan membangunkan gereja atau menyelamatkan orang dosa, tetapi kehidupannya tidak serasi dengan doanya itu. Ia tidak menempuh kehidupan yang turut menyebabkan kebangunan gereja, atau yang berguna untuk membawa orang dosa kepada keselamatan. Meskipun dia dapat berdoa, dia bukanlah pendoa. Seorang pendoa bukan hanya menampilkan tindakan berdoa, tetapi juga menempuh kehidupan doa - kehidupannya adalah doa. Kita sering berdoa untuk beberapa hal, tetapi setelah berdoa, kehidupan yang kita tempuh tidak serasi dengan yang kita doakan, kita tidak di dalamnya. Ini berarti kita memiliki tindakan doa, tetapi kita bukanlah pendoa.
Karena itu saudara-saudara, ingatlah, secara batiniah doa adalah hayat kita; dan secara lahiriah doa adalah kehidupan kita. Doa bukan satu perkara, juga bukan satu pekerjaan. Memang, pada satu aspek doa adalah pekerjaan, tetapi diri Anda harus berada di dalam doa tersebut. Misalnya, seorang saudara atau saudari berdoa mohon Allah membangunkan gereja. Ketika dia berdoa mohon Allah membangunkan gereja, dia berdoa dengan tekun, air matanya menetes, orang-orang yang berdoa bersamanya, benarbenar dapat merasakan keseriusannya dan bebannya. Tetapi, tidak disangka, setelah selesai berdoa, dia bangun, lalu pergi menonton bioskop. Lihatlah, apakah dia adalah pendoa? Tentu, saya tidak bermaksud bahwa setelah berdoa kita semua perlu berpura-pura dengan bersikap muram dan sedih. Tuhan Yesus memberi tahu kita, bahwa kita tidak seharusnya melakukan hal seperti itu. Ketika Anda berpuasa dan berdoa, Anda masih perlu merapikan penampilan Anda; berpura-pura tidak ada gunanya. Namun di aspek lain, jika Anda benar-benar ingin memiliki doa yang sejati, kehidupan Anda harus sesuai dengan doa Anda. Tidak mungkin orang percaya bahwa hati Anda benar-benar memikul beban gereja, jika setelah doa usai, Anda langsung bisa pergi menonton bioskop. Kehidupan Anda tidak sesuai dengan doa Anda. Jika Anda adalah seorang pendoa, kehidupan Anda pasti merupakan satu hal dengen doa Anda. Kehidupan Anda adalah doa Anda. Hayat di dalam adalah hayat doa, kehidupan di luar adalah kehidupan doa. Dengan demikian, Anda adalah seorang pendoa.
Mungkin ada yang memberi tahu Anda bahwa doa memerlukan iman. Tetapi ketahuilah, iman bukanlah barang yang dapat Anda miliki saat Anda menginginkannya. Sebenarnya, iman adalah suatu fungsi di dalam kita yang dihasilkan oleh Allah. Jika Anda adalah orang yang tinggal di dalam Allah, hidup di dalam Allah, den membiarkan Allah memiliki kedudukan di dalam Anda, maka Allah di dalam Anda akan menghasilkan sebuah fungsi yang disebut iman. Iman bukan berasal dari Anda. Hampir dapat kita katakan bahwa iman adalah Allah sendiri, same seperti kuasa adalah Allah sendiri. Orang yang dipenuhi Allah, barulah orang yang penuh kuasa. Demikian juga, hanya orang yang dipenuhi Allah barulah dipenuhi iman. Karena itu, hanya mendorong orang untuk memiliki iman adalah tindakan yang sia-sia. Sekalipun di sini saya memberitakan seratus berita yang memberi tahu bahwa Anda perlu memiliki iman, Anda tetap tidak akan memiliki iman. Jika Anda benar-benar ingin memiliki iman, Anda harus menjadi pendoa yang hidup di dalam Allah, dibereskan oleh-Nya, rela menjawab permintaan-Nya, rela membiarkan Dia mengupas Anda. Ketika Dia memiliki tempat di dalam Anda, maka Dia adalah iman di dalam Anda. Ketika Dia memenuhi Anda, saat itu di dalam Anda penuh iman. Anda tidak perlu bergumul untuk percaya, juga tidak usah memaksa diri untuk percaya; Anda pasti dapat percaya. Karena di dalam Anda ada Allah yang kepada-Nya Anda berdoa - Ia telah menjadi iman Anda. Ingatlah, pada saat ini, Anda tahu dengan pasti bahwa doa Anda diterima Dia, berasal dari Dia, menjamah Dia, dan karena itu Dia tidak bisa tidak menjawab doa Anda. Inilah iman. Iman ada bukan karena Anda menginginkannya. Sebaliknya, iman adalah Allah memenuhi Anda sedemikian rupa sehingga Anda tidak dapat berbuat apa-apa selain beriman. Semoga saudara saudari bukan hanya belajar bagaimana berdoa, tetapi oleh kasih karunia Tuhan, juga menjadi pendoa-pendoa.