PRINSIP DOA
Pembacaan Alkitab :
Yehezkiel 36:37, "Beginilah firman Tuhan ALLAH : Dalam hal ini juga Aku menginginkan, supaya kaum Israel meminta dari pada-Ku apa yang hendak Kulakukan bagi mereka, yaitu membuat mereka banyak seperti lautan manusia."
Yeremia 29:10-14, "Sebab beginilah Firman TUHAN : Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, dernikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu."
Kita telah melihat makna doa, sekarang kita akan melihat prinsip doa. Kita akan mengemukakan sepuluh butir prinsip doa yang paling penting. Doa yang haik, doa yang bernilai, doa yang memenuhi standar, harus memenuhi prinsip-prinsip berikut ini.
1. DOA HARUS DIMULAI DARI ALLAH,
BUKAN DARI MANUSIA
Menyinggung tentang prinsip doa, pertama-tama kita harus nampak, bahwa doa harus dimulai dari Allah, bukan dari manusia. Setiap doa, termasuk pengakuan dosa kita di hadapan Allah, harus merupakan hasil pekerjaan Allah di dalam kita. Ketika kita berdoa mengaku dosa di hadapan Allah, kelihatannya kita mengaku dosa kepada Allah menurut diri kita sendiri, tetapi sebenarnya yang memulai doa itu adalah Allah di dalam kita. Bila bukan Roh Kudus yang bekerja di dalam kita, kita tidak mungkin datang ke hadapan Allah untuk mengaku dosa kita. Setiap kali orang datang ke hadapan Allah untuk mengakui dosanya, pasti disebabkan Roh itu telah memulainya di dalam dia, mendorong dia, menggerakkan dia, dan menyebabkan dia merasa bersalah dan perlu mengakuinya. Sebenarnya, setiap macam doa yang kita doakan seharusnya dimulai dari Roh Allah.
Jika Anda menyimak seluruh pengalaman doa, Anda akan menemukan, bahwa setiap pengalaman yang terhitung sebagai doa di hadapan Allah tidak pernah dimulai oleh manusia menurut dirinya sendiri, melainkan oleh Roh Kudus di dalam manusia. Setiap doa yang dimulai oleh manusia atas kehendaknya sendiri tidak sesuai dengan prinsip ini. Ini adalah perkara yang sangat serius. Kalau doa kita bukan dimulai oleh Allah dari dalam kita, Anda dan saya tidak akan pernah memiliki doa yang diperkenan Allah, atau doa yang menjamah kehendak-Nya, bahkan menjamah takhta Allah. Karena itu, setiap doa yang bukan dimulai dari Allah di dalam manusia, tetapi hanya dari keinginan manusia sendin, tidak dapat terlutung sebagai doa di hadapan Allah. Bila kita mengingat prinsip ini, kita akan dibetulkan dan dilatih dalam perkara doa.
2. DOA ADALAH
ALLAH MELALUI MANUSIA DAN DOANYA
Satu doa yang memenubi standar pasti adalah doa yang dilalui Allah. Doa bukan hanya dimulai oleh Allah, tetapi juga dilalui oleh Allah. Ketika Anda berdoa, Allah melalui Anda dan juga doa Anda.
Sama hainya ketika saya berbicara di depan mikrofon. Listrik melalui perkataan yang saya ucapkan. Suara yang terdengar oleh kalian yang duduk jauh dari saya, mengandung cerita listrik itu. Jika saya tidak memakai mikrofon, perkataan saya akan murni perkataan manusia, di dalamnya tidak dilalui oleh listrik Demikian juga halnya
dengan doa kita. Kadang-kadang sepertinya kita datang kehadapan Allah untuk berdoa, tetapi sebenarnya diri kita sendirilah yang berdoa, tanpa dilalui Allah. Akan tetapi kadang-kadang kita benar- benar merasa, bahwa setiap kalimat dalam doa kita mengandung Allah, Allah benar-benar telah melalui diri kita. Biasanya bila hal ini tedadi kita berkata, bahwa doa kita telah menjamah Allah, doa kita menjamah penyertaan Allah. Tetapi ini kurang tepat dikatakan sebagai pengalaman. Lebih tepat dikatakan bahwa Allah telah melalui doa kita dan juga diri kita. Saudara saudari, coba Anda simak kembali pengalaman lampau Anda. Anda akan melihat bahwa setiap doa yang benar-benar bernilai di hadapan Allah adalah doa yang dilalui Allah. Di dalam doa Anda terkandung kadar Allah, Allah ada di dalam doa Anda.
3. DOA ADALAH
MANUSIA DAN DOANYA MELALUI ALLAH
Doa bukan hanya Allah melalui diri kita; setiap kali kita memiliki doa yang baik yang menjamah Allah, menjamah takhta-Nya, kita juga merasa bahwa dalam doa demikian kita sedang berjalan di dalam Allah, dan bahkan perkataan doa kita diucapkan di dalam Allah. Baik kita yang berdoa maupun perkataan doa kita, semuanya melalui Allah. Karena kedua aspek melalui ini, maka ketika kita berdoa, kita sering merasakan kehadiran Allah yang lebih kuat daripada kapan pun. Dalam kehidupan kita, Allah menyertai kita dengan cara paling akrab, dalam dan manis, ketika kita memiliki doa yang baik. Pada waktu kita berdoa, di satu pihak Allah melalui kita; di pihak lain, kita melalui Allah. Di satu pihak, Allah melalui perkataan doa kita; di pihak lain, perkataan doa kita melalui Allah. Karenanya, pada saat doa itu, kita dengan sangat kuat merasakan penyertaan Allah. Sekali lagi saya katakan perkataan sederhana ini, doa adalah Allah bedalan di dalam kita, juga adalah kita bergerak di dalam Allah. Begitu kita kehilangan perasaan seperti in! dalam doa kita, kita harus segera membetulkan diri kita, karena kita telah menyimpang dari prinsip doa dan bermasalah di hadapan Allah.
4. DOA ADALAH MANUSIA DAN ALLAH,
ALLAH DAN MANUSIA BERDOA BERSAMA
Doa bukan hanya perkara Allah dan manusia saling melalui, tetapi juga suatu perkara yang dikerjakan bersama oleh Allah dan manusia. Saya mengakui perkataan seperti ini jarang disinggung di antara umat Kristen. Jarang ada orang yang memberi tahu Anda, bahwa ketika Anda berdoa, Anda harus berdoa dengan Allah. Tetapi kenyataannya, banyak orang yang berdoa dengan baik memiliki pengalaman ini. Seperti yang telah kita singgung dalam berita pertama, bahwa doa yang benar adalah Kristus di dalam Anda berdoa kepada Kristus yang duduk di atas takhta.
Saya ingin menunjukkan satu hal untuk kita lihat. Misalkan, ketika seseorang menyampaikan firman secara tepat, perkataan yang dia ucapkan bukan hanya perkataannya, tetapi juga perkataan Roh itu. Ketika hal seperti ini terjadi dan Anda mendengamya, Anda benar-benar merasa sedang menjamah Allah. Ia bukan hanya membuat Anda tergerak, tetapi juga membuat Anda menjamah Allah. Dalam pelayanan firman Allah, dalam doa juga demikian. Sering ketika Anda berdoa bersama saudara saudari, hal seperti ini dapat terjadi. Ketika seseorang sedang berdoa secara tepat, Anda dapat merasakan, bahwa Anda telah menjamah Allah dalam perkataan doanya dan bahwa perkataannya keluar dari Allah. Ketika kita menemukan situasi seperti ini, kita mengatakan, bahwa rohnya telah keluar. Sesungguhnya, Allah ternyata keluar dari dia, karena yang berdoa bukan hanya dia, tetapi Allah dan dia berdoa bersama-sama. Allah berdoa di dalam dia, dia berdoa di dalam Allah. Dia dapat berkata, "Doaku adalah Allah dan aku, aku dan Allah berdoa bersama." Saya yakin saudara saudari memiliki pengalaman seperti ini sebelumnya, hanya saja hal ini belum dijelaskan sepenuhnya, belum ada pengenalan yang penuh mengenai hal ini. Sekarang kami dapat menjelaskan dari pengalaman kami, bahwa doa yang memenuhi standar bukan hanya Allah melalui manusia dan manusia melalui Allah, tetapi juga manusia dan Allah, Allah dan manusia bersama-sama berdoa.
5. BERDOA BUKAN UNTUK DIRI MANUSIA
TETAPI UNTUK ALLAH
Doa yang memenuhi standar haruslah doa yang tidak untuk diri manusia sendiri, tetapi untuk Allah. Semua doa yang sejati bukanlah doa untuk diri sendiri, juga bukan untuk orang lain, melainkan untuk Allah. Bahkan ketika kita berdoa agar orang dosa beroleh selamat atau agar saudara saudari dibangunkan, haruslah berdoa untuk Allah. Dalam Alkitab ada banyak contoh doa yang demikian. Misalnya, dalam Daniel 9, Daniel berdoa agar Allah mau mendengar dan memberikan karunia kepada dia dan orang-orang Israel, bukan demi kepentingan mereka, tetapi "oleh karena Engkau sendiri" (ayat 19). Ini berarti, meskipun Engkau memberkati kami, tetapi bukan untuk kami, melainkan untuk diri-Mu sendiri.
Jadi, saudara saudari, apakah doa itu? Makna tertinggi dari doa adalah agar Allah mendapatkan kuasa dan faedah. Secara luaran, kelihatannya Anda berdoa untuk banyak orang, untuk banyak urusan, atau untuk diri sendirii tetapi Anda harus menelusuri sumbernya dan mengatakan, "Ya Allah, doaku ini semuanya adalah bagi-Mu. Apakah perinohonanku dikabulkan atau tidak, itu tidak penting, tetapi kuasa dan faedah yang Engkau dapat darinya sangatlah penting. Karena itu, meskipun aku berdoa untuk orang, urusan, dan benda, sesungguhnya semua itu untuk-Mu. Demikian juga ketika aku berdoa untuk gereja. Apakah gereja dingin atau panas, baik atau buruk, hidup atau mati, semuanya adalah masalah kecil; tetapi apakah rencana-Mu, kesaksian-Mu, kuasa dan faedah. Aku memperoleh kedudukan yang semestinya, ini baru masalah besar. Karena itu, aku bukan berdoa untuk kebangunan gereja, tetapi untuk kuasa dan faedah-Mu." Saudara saudari, saya tahu, bila doa kita memenuhi keempat prinsip di atas, doa kita pasti akan menjadi doa yang melaluinya Allah dapat memperoleh kuasa dan faedah- Nya.
Mohon Tuhan menutupi saya dengan darah-Nya, dan membiarkan saya mempersekutukan sedikit pengalaman saya pribadi. Sering kali ketika saya mengalami kekurangan atas keuangan, kebutuhan jasmani, saat saya berdoa mengenai hal ini, saya segera mengalami pencobaan. Baru saja saya berlutut di hadapan Allah, di dalam timbul suatu teguran, "Kamu berdoa untuk dirimu sendiri atau untuk Allah?" Setiap kali ada teguran seperti ini di dalam, segera saya tersungkur di hadapan Allah dan berkata kepada-Nya, Ta Allah, bila ini untuk diriku sendiri, tidak menjadi masalah bila aku menderita miskin dan lapar, bahkan sampai mati. Namun engkau tahu, di sini ada kuasa dan faedah-Mu, ada takhta-Mu. Karena itu, meskipun aku meminta sedikit benda materiil dari-Mu, ini bukan untuk kepentinganku, melainkan untuk kepentingan-Mu. Bila Engkau rela membiarkan kuasa dan faedah-Mu dirugikan, miskin dan laparku bukanlah apa-apa." Lihatlah, inilah doa yang hebat. Namun, saya tahu, ketika beberapa saudara saudari berdoa untuk kebutuhan-kebutuhan ini, sering kali mereka tidak bisa demikian perkasa. Sebaliknya, begitu berlutut, mereka segera mencucurkan air mata dan berdoa, "Ya Allah, kasihanilah aku, aku tidak memiliki apa-apa untuk dimakan, aku tidak memiliki apa-apa untuk dipakai, aku tidak memiliki tempat tinggal. Aku mohon kepada-Mu, kasihanilah aku." Doa seperti ini sangat kasihan, karena hanya untuk diri Anda sendiri. Jadi, dalam hal meminta benda materid kepada Allah, kita mungkin memiliki dua motivasi yang jauh berbeda, yakni untuk kepentingan Allah atau untuk diri kita sendiri.
Saya bertanya kepada kalian, saudara saudari, seandainya hari ini anak Anda sakit dan Anda berdoa untuknya, dapatkah Anda berkata kepada Allah dalam doa Anda, "Ya Allah, anakku sedang sakit, sembuhkanlah dia, tetapi doaku ini bukanlah demi diriku sendiri, melainkan demi kepentingan-Mu? Dapatkah Anda berdoa demikian? Atau apakah Anda berdoa sambil memikirkan bahwa anak Anda sangat manis sehingga Anda bingung apa yang akan tedadi kalau dia sampai mati; sebab itu Anda mencucurkan air mata, dengan tersedu-sedu mohon Allah menyembuhkan dia. Jika demikian, saya dengan berani mengatakan, bahwa meskipun doa Anda sangat antusias, doa Anda tidak di dalam Tuhan, melainkan sepenuhnya di dalam diri Anda. Permohonan Anda tidak melalui Allah juga tidak membiarkan Allah melalui Anda, lagi pula bukan Allah dengan Anda, atau Anda dengan Allah berdoa bersama. Sebaliknya, hanya murni Anda sendiri yang berdoa di hadapan Allah; jadi doa Anda hanya untuk diri Anda sendiri, bukan untuk Allah. Namun ada juga orang-orang yang sudah belajar mengenai berdoa dan telah menerima bimbingan, sehingga pada waktu mereka berdoa untuk kesembuhan anaknya, mereka juga dapat berkata di hadapan Tuhan, "Ya Allah, ini bukan untuk diriku, melainkan untuk-Mu. Ini bukan urusanku, tetapi urusan-Mu. Bukan hanya bila satu anak yang sakit, bahkan kalau semua anakku sakit dan akan mati, ini juga adalah urusan-Mu, bukan urusanku."
Saudara-saudara, kita harus menjamah prinsip yang dalam dan besar ini dan mengukur doa kita dengannya. Jika Anda demikian mengukurnya, Anda akan menemukan, bahkan dalam perkara ilahi seperti berdoa ini, betapa dalam diri Anda masih banyak dipenuhi dengan diri Anda sendiri, dan betapa sedikit Anda melalui penyucian Allah! Baik tujuan, motivasi, atau harapan doa Anda, di dalam Anda masih penuh campuran. Anda memang berdoa kepada Allah, tetapi dalam hati Anda, Anda sepenuhnya berdoa di dalam Anda sendiri. Anda berdoa mohon Allah memberi kasih karunia kepada Anda, namun di dalamnya hanya ada unsur diri Anda. Dalam banyak doa penuh dengan campur aduk diri Anda. Karena itu, Anda harus ditanggulangi oleh Allah, sampai pada suatu hari Anda dapat berkata, "Ya Allah, aku bukan berdoa untuk diriku sendiri, melainkan untuk diri-Mu. Dalam motivasi, tujuan dan pengharapanku tidak ada tempat bagiku; semuanya adalah untuk Engkau."
Saudara-saudara, bila kita mau belajar pelajaran ini, kita tidak akan lagi mengucapkan doa yang memelas kepada Allah atau minta dikasihani; sebaliknya, kita akan berdoa dengan berani dan perkasa, karena kita tidak berdoa untuk diri kita sendiri, melainkan untuk Allah. Saya sangat menyukai perkataan yang diucapkan oleh Daniel, "Ya, Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan, ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindak dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri" (Dan. 9:19). Tidak diragukan lagi, Daniel adalah orang yang melalui Allah dan membiarkan Allah melalui dia. Dia juga adalah orang yang berdoa bersama Allah dan membiarkan Allah berdoa bersamanya. Karenanya, dia dapat berkata, "Ya Tuhan dengarlah ... oleh karena Engkau sendiri." Ini adalab prinsip yang sangat dasar.
6. DOA ADALAH
PERNYATAAN MAKSUD HATI ALLAH
Setiap doa yang tepat juga adalah manusia mengemukakan maksud hati Allah. Memang Anda yang berbicara, tetapi Allah yang mengungkapkan maksud hati-Nya. Perkataan Anda merupakan ungkapan maksud hati Allah. Misalnya, Anda berdoa, "Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku." Perkataan ini mengungkapkan hasrat Allah mengampuni Anda dari dosa-dosa Anda. Karena itu, doa yang sejati bukan mengekspresikan maksud hati kita, melainkan mengekspresikan maksud hati Allah melalui doa kita.
Kita telah membahas sebelumnya, bahwa setiap doa yang memenuhi standar bukan dimulai dari manusia tetapi dari Allah. Dimulai berarti Allah mengurapkan maksud hati-Nya ke dalam manusia. Setelah manusia menerima maksud hati ini, lalu mengubahnya ke dalam perkataan dan mengutarakannya kepada Allah. Inilah doa. Karena itu, ketika Anda berdoa untuk keselamatan kerabat dan teman-teman Anda, jika doa Anda tepat, Anda seharusnya percaya bahwa dalam alam semesta Allah memiliki kehendak untuk menyelamatkan kerabat atau teman Anda itu. Kehendak Allah ini tidak akan diungkapkan atau dirampungkan oleh Allah sendiri, ini adalah satu hukum. Allah menghendaki semua orang beroleh selamat; ini adalah maksud hati-Nya. Akan tetapi bila tidak ada orang yang berdoa untuk semua orang, semua orang itu tidak dapat beroleh selamat. Karena itu, bila Anda tidak berdoa untuk kerabat atau teman Anda, Anda tidak menyatakan hasrat Allah, maka kehendak-Nya tidak dapat digenapkan, dan kerabat atau ternan Anda tidak dapat beroleh selamat. Sebab itu, ketika kita datang ke hadapan Allah untuk berdoa, jangan langsung berdoa menurut maksud kita sendiri, karena doa seperti itu biasanya dimulai daridiri sendiri, bukan dari Allah. Ketika kita berdoa, kita harus terlebih dulu berdiarn diri di hadapan Allah, bersekutu dengan Dia, dan membiarkan Dia mengurapkan kehendak-Nya ke dalam kita; demikian doa kita baru dapat menyatakan maksud hati Allah.
7. DOA ADALAH KEHENDAK ALLAH
MASUK KE DALAM KEHENDAK MANUSIA
Setiap doa yang tepat, juga merupakan kehendak Allah masuk ke dalam kehendak manusia. Orang yang bisa demikian berdoa, pasti adalah orang yang sering menghampiri Allah, membiarkan Allah mendapatkannya, dan hidup di dalam Allah. Karena itu, dia memberi Allah kesempatan untuk menaruh maksud hati-Nya ke dalam dirinya. Asalnya adalah kehendak Allah, tetapi sekarang masuk ke dalam manusia dan menjadi kehendak di dalam manusia. Misalnya, seperti yang telah kita singgung sebelumnya. Anda berdoa untuk kerabat atau teman tertentu agar beroleh selamat. Ketika berdoa, Anda mulai mengutarakan kehendak Allah untuk menyelamatkan orang itu. Mengapa bisa demikian? Karena Anda adalah orang yang dekat dengan Allah. Ketika Anda sedang menghampiri Allah sedernikian rupa, Allah menaruh kehendak-Nya untuk menyelamatkan kerabat atau teman tersebut ke dalam Anda. Demikianlah, hasrat-Nya menjadi hasrat Anda. Sebab itu, ketika Anda berdoa untuk hal ini, sepertinya Anda sedang mengungkapkan kehendak Anda sendiri, tetapi sebenarnya kehendak-Nyalah yang Anda ungkapkan.
Karena inilah, sering kali ketika ada orang meminta kita berdoa bagi mereka, kita belum tentu dapat memenuhi permintaannya, karena kita tahu, bahwa doa yang tepat di hadapan Allah tidak boleh menurut keputusan kita sendiri, tetapi menurut beban yang kita terima dari Allah ketika kita berkontak dengan-Nya dan menjamah-Nya. Karena itu pada awal doa kita, kita tidak dapat langsung membawa urusan orang lain dan berdoa untuk mereka.
Tidak hanya demikian, sebelurn kita membuka mulut untuk berdoa bagi suatu urusan, kita perlu memiliki sejangka waktu yang cukup untuk meletakkan diri kita di hadapan Allah. Tidak ada seorang pun yang pandai berdoa yang begitu datang ke hadapan Allah langsung membuka mulutnya untuk berdoa. Orang demikian adalah orang yang setiap hari membawa Roh yang berdoa, berdiam diri di hadapan Allah, tidak banyak berbicara, dan tidak banyak mengajukan usulan. Pada saat demikian, kehendak Allah diurapkan ke dalam dia satu demi satu. Karena itu, doa juga merupakan kehendak Allah masuk ke dalam kehendak manusia.
8. DOA ADALAH HASRAT HATI ALLAH
MELALUI MANUSIA DAN KEMBALI KEPADA ALLAH
Setiap doa yang tepat bukan mengutarakan perkataan yang terkandung dalam pikiran manusia, tetapi mengutarakan perkataan yang keluar dari beban dalam batin. Dari mana asainya beban itu? Berasal dari kehendak Allah yang diurapkan ke dalam kita melalui Roh itu sehingga menjadi kehendak kita. Berdasarkan kehendak dan beban yang kita rasakan dalam batin, kita pergi ke hadapan Allah untuk berdoa. Karena itu, kita dapat mengatakan bahwa doa kita adalah kehendak Allah yang keluar dari Allah, melalui kita dan kembali kepada-Nya.
9. DOA ADALAH MELEPASKAN BEBAN KITA
DI HADAPAN ALLAH
Doa yang tepat, pada mulanya selalu merasa sangat berbeban, tetapi sangat ringan pada kesudahannya. Bila pada permulaan doa Anda tidak merasakan sesuatu dan pada akhirnya juga tidak merasakan sesuatu; bila Anda tidak berbeban maupun merasa ringan; bila sepertinya berdoa dan tidak berdoa tak ada bedanya; ketahuilah, doa Anda itu tidak memenuhi standar. Doa yang memenuhi standar haruslah doa yang sebelumnya menghampiri Allah. Ketika Anda menghampiri Allah, ada hasrat masuk ke dalam Anda sehingga menjadi beban Anda, membuat Anda merasa perlu pergi ke depan Allah untuk mencurahkan isi hati Anda dan melepaskan beban Anda. Setelah Anda cukup berdoa, di dalam Anda langsung terasa ringan; beban telah dilepaskan. Jika tidak ada keadaan ini, berarti doa Anda belurn tepat.
Sebagai contoh, kita ambil kisah keselamatan Hudson Taylor, pendiri Misi Pedalaman China. Biografinya memberi tahu kita, bahwa ketika dia berusia sekitar 15-16 tabun, pada hari dia beroleh selamat, ibunya sedang mengunjungi seorang kerabat sejauh kira-kira 70-80 mil. Pada sore hari, ibunya merasakan beban yang berat terhadap keselamatan putranya. Karena itu, ia mengunci diri di dalam kamar dan berdoa di hadapan Allah, mencurahkan hasrat hatinya. Ia berdoa sampai beban di dalamnya hilang, terasa ringan dan lega. Ia tahu bahwa Allah telah mengabulkan doanya., kemudian ia bersyukur dan mernuji Allah. Ajaib sekali, ketika sang ibu sedang berdoa, Hudson Taylor berada di dalam ruang baca ayahnya, sedang memperhatikan selembar traktat Injil yang memuat kalimat : "Karya yang digenapkan Kristus." Sangat ajaib, perkataan yang sederhana itu telah menjamah dan mendorongnya untuk dengan segenap hati menerima Tuhan sebagai Juruselamatnya. Sejangka waktu kemudian, ketika ibunya pulang, Hudson Taylor menyongsong ibunya di pintu, sambil memberi tahu bahwa dia memiliki berita baik untuknya. Tetapi ibunya memeluknya sambil tersenyurn dan berkata, "Anakku, ibu sudah tahu tentang berita demikian dan sudah bersukacita selama dua minggu".
Dalam kisah ini kita nampak, pertama-tama Allah berhasrat pada waktu itu menyelamatkan Hudson Taylor, sedang ibunya adalah orang yang berpaling kepada Allah, dan berdiam diri di hadapan Allah. Karena itu, Allah mendapat kesempatan untuk menaruh kehendak-Nya ke dalam ibunya, menjadikannya beban di dalam ibunya yang dia curahkan di hadapan-Nya. Akhirnya, beban ini sepenuhnya diletakkan di atas takhta Allah, dan Allah selanjutnya mengabulkan doanya.
Contoh di atas seharusnya meyakinkan kita bahwa doa ini bukan hanya menyebabkan Hudson Taylor beroleh selamat, tetapi juga membuat ibunya yang berdoa masuk lebih jauh ke dalam Allah dan didapatkan Allah secara lebih dalam. Kita tidak dapat mengatakan secara tepat berapa dalam perbauran antara manusia dengan Allah di dalam dirinya telah bertambah setelah berdoa. Lagi pula, doa bukan hanya perkara jiwa beroleh selamat, juga menyangkut perkara mengenai kuasa dan faedah yang Allah dapatkan melalui Hudson Taylor. Beroleh selamatnya Hudson Taylor adalah perkara kecil, tetapi kuasa dan faedah yang Allah peroleh melalui Hudson Taylor tak terukur besamya. Inilah hasil dari doa yang tepat.
10. TUJUAN DOA ADALAH
AGAR ALLAH MENDAPATKAN KEMULIAAN
Doa yang tepat tidak menyebabkan manusia memiliki kenikmatan dalam penggenapannya atau dalam hasilnya, tetapi menyebabkan Allah memperoleh seratus persen kemuliaan. Ya, Anda yang berdoa dan Allah yang menjawab serta mengabulkannya, tetapi Anda seharusnya tidak berkedudukan di dalamnya. Bila terhadap suatu doa yang telah dikabulkan, Anda berkedudukan di dalamnya, Anda penuh kenikmatan, Anda harus sadar bahwa doa Anda ada penyakitnya - Anda belum belajar mengenai berdoa secara tuntas. Karena itu, prinsip ini sangat penting.
Dalam Yeremia 29 Allah berfirman, "Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan" (ay. 10-11). Firman ini menyatakan maksud hati Allah terhadap bangsa Israel; hal-hal inilah yang hendak Dia lakukan. Namun, saya ingin bertanya, saudara saudari, bagaimana Allah dapat melaksanakan maksud hati-Nya? Menurut prinsip Allah, harus melalui doa manusia di bumi. Tanpa doa manusia, hasrat Allah tidak akan dapat tercapai. Orang macam apakah yang dapat dipakai Allah untuk berdoa bagi kehendak-Nya? Hanya satu macam orang, yakni orang yang hidup di hadapan Allah, menanti di hadapan-Nya, dan membiarkan Allah memulai, bukan dirinya yang memulai. Ketika Anda membaca kitab Daniel, Anda melihat bahwa Daniel adalah orang yang sungguh-sungguh tidak memulai apa pun di hadapan Allah. Ia menunggu di hadapan Allah, hanya memperhatikan Allah, bukan dirinya sendiri. Jadi, dia telah menjamah dan memahami kehendak khusus Allah dan mengerti bahwa Allah akan mengembalikan bani Israel ke tanah mereka setelah genap tujuh puluh tahun. Karena hasrat Daniel sesuai dengan kehendak Allah, dia berpuasa dan mencurahkan hasrat ini di hadapan Allah dalam doa. Dengan demikian, hasrat hati dan kehendak Allah berasal dari Allah, masuk ke dalam Daniel, melalui dia, dan akhirnya kembali ke takhta Allah. Kemudian takhta Allah segera mengambil tindakan terhadap situasi itu dengan membangunkan seorang saja. Hasil tindakan itu sama sekali bukan untuk kenikmatan atau kemuliaan Daniel, tetapi agar Allah mendapatkan kemuliaan. Alangkah bermakna hal ini. Meskipun Daniel berdoa untuk orang lain supaya Allah mengembalikan mereka, namun Daniel sendiri tidak kembali. Mungkin juga ia kembali pada akhimya, tetapi tidak ada catatan yang jelas di dalam Alkitab. Sepertinya dia telah meminta satu hal dan Allah telah mengabulkannya, tetapi dia sendiri tidak menikmatinya.
Jadi, menyinggung prinsip doa, seluruh diri Anda dari kepala sampai kaki harus dikesampingkan. Di dalam doa, diri Anda memiliki kedudukan tertentu. Pada awainya Allah yang memulai, dalam proses Anda hanyalah orang yang bekerja sama dengan Allah, dan akhimya doa adalah untuk kemuliaan Allah. Inilah doa yang sejati. Doa-yang sejati adalah manusia bersatu dengan Allah dan bekeda sama dengan-Nya di bumi, membiarkan-Nya menyatakan diri-Nya sendiri dan menggenapkan kehendak-Nya melalui manusia. Berdasarkan hal di atas, kita memiliki sepuluh prinsip doa. Melalui melakukan pengujian terhadap kesepuluh prinsip ini, Anda dapat mengetahui doa macam apakah doa Anda. Jika doa Anda bisa melewati kesepuluh prinsip ini, doa Anda di hadapan Allah adalah murni, di dalam diri Anda tidak banyak campuran. Akan tetapi hari ini betapa langkanya orang di bumi yang dapat lulus ujian dari kesepuluh prinsip doa ini. Ini menuntut kita belajar mengenai berdoa dengan sangat ketat. Semoga Allah membelaskasihani kita agar kita memiliki penuntutan yang baik terhadap perkara berdoa ini.