← Daftar isi Doa · bab 1/19

MAKNA DOA

Pembacaan Alkitab:

Mazmur 119:147-148, "Pagi-pagi buta aku bangun dan berteriak minta tolong aku berharap kepada firman-Mu. Aku bangun mendahului waktu jaga malam untuk merenungkan janjiMu."

Yohanes 15:7, "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.

PEMADUAN DOA

DENGAN PEMBACAAN ALKITAB

Sebelum kita menyinggung makna doa, marilah kita melihat pernaduan antara berdoa dengan membaca Alkitab. Kedua ayat Alkitab di atas dengan jelas menunjukkan kepada kita, kedua hal ini - berdoa dan membaca Alkitab - adalah dua hal yang saling menunjang dan berjalan seiring. Dalam Mazmur 119 ada seorang pencari Allah yang hidup di hadapan Allah. Ia memadukan seruannya di hadapan Allah, yaitu doanya, dengan penuntutannya membaca firman Allah. Dalam Yohanes 15, ketika membicarakan janji pengabulan doa, Tuhan menunjukkan kepada kita dari aspek lain bagaimana seharusnya kita memadukan doa kita dengan pembacaan Alkitab. Firman Tuhan menampakkan kepada kita, bahwa doa akan dijawab berdasarkan dua hal : Pertama, kita. harus tinggal di dalam-Nya; kedua, firmanNya juga harus tinggal di dalam kita. Ia berjanji bahwa bila kedua syarat dasar ini ada, kita dapat minta apa saja yang kita kehendaki dan kita akan menerimanya. Karena itu di sini disinggung mengenai pemaduan doa dengan permbacaan Alkitab.

Saudara saudari, bagi seorang Kristen yang normal, kedua hal ini - membaca Alkitab dan berdoa, merupakan dua aspek kehidupannya; tidak boleh kekurangan salah satu. Kita dapat melihat, bahwa dalam penentuan Allah, hampir setiap hal dalam alam semesta memiliki dua aspek. Misalnya, atas bawah, kanan kiri, positif negatif, siang malam, laki-laki perempuan - semuanya merupakan dua aspek, atau dapat dikatakan, bahwa kedua aspek tersebut adalah bagian fungsi yang penuh dan benar. Tubuh kita. memberi kita banyak contoh mengenai hal ini. Misalnya, saya memiliki dua kaki yang membuat saya nyaman untuk berdiri atau bedalan. Apabila saya hanya memiliki satu kaki, maka saya tidak akan dapat berdiri dengan baik, dan saya bahkan akan mengalami kesulitan untuk berjalan. Bukan itu saja, tangan, telinga, mata, lubang hidung saya pun berpasangan, dan diatur secara simetris. Kehidupan seharihari orang Kristen di hadapan Tuhan juga memiliki dua aspek, di satu aspek membaca Alkitab, dan di aspek lain berdoa. Ketika kita berjalan, kita harus menggunakan kedua kaki kita berbarengan untuk menjaga keseimbangan. Kita seharusnya tidak berjalan dua puluh langkah dengan kaki kanan dan hanya dua langkah dengan kaki kiri kita. Demikian juga perihal hidup kristiani di hadapan Allah, kita juga perlu membaca Alkitab dan berdoa secara berbarengan, untuk menjaga keseimbangan.

Tetapi sangat disayangkan, ketika ketetapan yang telah ditetapkan Allah sampai di tangan kita, sering kali kita menjadikannya satu sisi saja. Allah menentukan orang Kristen harus memberikan titik berat yang sama bagi pembacaan Alkitab dan berdoa. Namun, beberapa saudara saudari hanya senang membaca Alkitab, tidak senang berdoa. Ketika mereka membaca Alkitab, mereka mungkin membenamkan kepala ke dalamnya dari pagi sampai malam, semakin membaca, semakin ada rasanya. Setiap halaman Alkitab mereka telah digambari dengan banyak garis, ada yang tebal, ada yang tipis, ada yang merah, dan ada yang biru. Ada yang telah menandai dua atau tiga jilid Alkitab, meskipun mereka baru beroleh selamat empat tahun. Namun yang mengherankan, mereka jarang berdoa; bahkan adakalanya, walaupun mereka telah digerakkan oleh Roh Kudus, mereka tetap tidak mau berdoa. Ketika mereka membaca Alkitab, rasa yang didapat tidak terbatas, tetapi ketika berdoa, bagaikan makan obat pahit. Pada pibak lain, ada sebagian orang yang sangat senang berdoa. Begitu berlutut langsung tergerak hingga menangis, kadang kala ada yang berbahasa lidah, menyanyikan nyanyian rohani. Begitu berdoa, sangat berselera dan membubung tinggi. Namun bila Anda meminta mereka membaca Alkitab, sebentar saja mereka sudah mendengktir. Mereka lebih suka berdoa setiap hari daripada membaca Alkitab. Lihatlah, sekali lagi, ini juga adalah satu penyimpangan.

Saudara saudari, jika seseorang membaca Alkitab lebih banyak daripada berdoa, dia akan jatuh ke dalam doktrin harflah dan peraturan, kondisi rohaninya sering kali tenggelam dan kering layu. Tetapi yang menyimpang ke sisi yang lain, yakni lebih banyak berdoa daripada membaca Alkitab, bisa terjaingkit "gila rohani". Bila kita ingin memiliki kehidupan kristiani yang normal, hendaknya kita memberikan penekanan yang sama terhadap membaca Alkitab dan berdoa. Sama seperti kita selalu menggunakan kaki secara seimbang ketika berjalan, kita harus selalu membaca dan berdoa, berdoa dan membaca. Setiap kali kita berdoa, kita harus menjamah firman Allah, dan setiap membaca Alkitab harus dipadukan dengan doa.

Mengenai hal ini, dapat kita ambil satu contoh dalam Efesus 5:18-20. Setelah ayat ini mengatakan, bahwa hendaklah kita dipenuhi dengan Roh, selaiijutnya memberitahu kita bahwa kita seharusnya berkata-kata seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian, dan nyanyian rohani, bernyanyi dan bersorak bagi Tuhan dengan segenap hati, dan mengucap syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama'Tuhan kita kepada Allah. Juga di dalam Kolose 3:16-17 dikatakan, hendaknya perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di dalam kita. Selanjutnya memberi tahu kita, bahwa kita seharusnya menyanyikan mazmur, dan puji-pujian, dan nyanyian rohani dengan kasih karunia mengucap syukur kepada Allah dalam nama Tuhan. Kedua bagian dari Alkitab tersebut membicarakan bagaimana orang-orang Kristen memuji dan bersyukur kepada Allah, tetapi penyebabnya berbeda. Yang satu karena di dalamnya dipenuhi Roh, sedangkan yang lain karena di dalamnya dipenuhi firman Tuhan. Dengan menggabungkan kedua bagian ini, kita dapat melihat bahwa baik membaca Alkitab maupun berdoa adalah sesuatu yang manusia alami di dalam Roh itu. Anda tidak dapat memisahkan firman dari Roh, karena firman Tuhan adalah perwujudan dari Roh Kudus dan Roh Kudus itu dimasukkan ke dalam firman Tuhan. Dalam keadaan normal, bila Anda memiliki kepenuhan firman Alkitab, Anda pun memiliki kepenuhan Roh Kudus. Dan ketika Anda dipenuhi dengan Roh itu, Anda tidak dapat tidak berdoa. Ada berbagai cara berdoa, misalnya bersyukur kepada Allah, memuji Tuhan, berkidung memuji Tuhan, bercucuran air mata dan berseru di hadapan Tuhan, berpuasa memohon sesuatu kepada Tuhan, dan sebagainya. Semua doa itu adalah cerita Roh itu di dalam manusia. Ketika Anda menjamah firman Tuhan, Anda pasti memiliki penyertaan Roh itu di dalam Anda. Ketika Anda memiliki penyertaan Roh itu, Anda tidak dapat tidak berdoa; jika Anda tidak berdoa, Anda adalah orang yang memadamkan Roh itu. Karenanya, kita harus selalu memadukan membaca Alkitab dengan berdoa.

Di pihak lain, bila Anda hanya berdoa tetapi tidak membaca Alkitab, tidak menjamah firman Tuhan, sulit dihindarkan bahwa doa Anda akan berasal dari maksud, pikiran, pandangan, dan pengertian Anda. Jika Anda ingin memiliki doa yang berasal dari Roh dan bukan berasal dari diri Anda, Anda harus memiliki firman Tuhan. Sekarang, Anda dapat memahami, mengapa Yohanes 15:7 terlebih dulu mengatakan, "Jika kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu" kemudian Ia berkata, "Mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." Perkataan ini menampakkan kepada kita bahwa seseorang yang belajar untuk selalu bersekutu dengan Tuhan dan hidup di dalam. Tuhan, firman-Nya akan tetap tinggal di dalamnya. Orang yang membaca Alkitab secara tepat, pastilah orang yang tinggal di dalam Tuhan. Orang yang tinggal di luar Tuhan, tidak akan mampu membaca Alkitab secara rohani, paling-paling ia hanya melatih pikirannya untuk mengerti, tetapi tidak pemah dapat menggunakan rohnya untuk menjamah firman. Orang yang tinggal di dalam Tuhan, mudah mendapatkan firman Tuhan tinggal di dalamnya. Karena firman Tuhan tinggal di dalamnya, maka dia tidak dapat tidak menjamah Roh, karena firman Tuhan adalah roh. Begitu Roh Tuhan memenuhinya, ia tidak bisa tidak berdoa. Tuhan berjanji, bahwa apa pun yang diminta oleh orang yang demikian, dia akan menerimanya. Karena pada saat ini, apa pun yang dikehendaki hatinya bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari firman Tuhan dan Roh-Nya - yaitu Tuhan itu sendiri. Karena itu, bila ingin memiliki doa yang tepat, terlebih dulu perlu memiliki pembacaan Alkitab yang tepat.

Karena itu, saudara saudari, pembacaan Alkitab yang normal tentu disertai doa, dan doa yang baik pasti bermula dari pembacaan Alkitab. Kedua hal ini sama pentingnya, tidak boleh berat sebelah. Lagi pula kedua hal ini tidak dapat ditetapkan prioritasnya, keduanya hendaknya berjalan seiring. Bila kita membaca Yohanes 15:7, sepertinya kita harus mendahulukan pembacaan Alkitab baru berdoa, tetapi dalam Mumur 119 yang menyebutkan, "Pagi-pagi buta aku bangun dan berteriak minta tolong, aku berharap kepada firman-Mu," malah berdoa dulu baru membaca Alkitab. Karena itu, keduanya tidak perlu ditetapkan secara kaku, Anda hanya perlu membiarkannya bedalan secara spontan.

Sering orang bertanya kepada saya, "Saudara Lee, dalam bermunajat, sebaiknya membaca Alkitab dulu baru berdoa atau berdoa dulu baru membaca Alkitab?" Ini sulit dijawab. Saya sudah hidup bertahun-tahun lamanya, tetapi sampai hari ini setiap kali saya berjalan, saya tidak jelas apakah saya mulai dengan kaki kanan atau kaki kiri. Dapatkah saya bertanya kepada Anda, "Pagi hari ini, ketika Anda bangun dan mulai berjalan, apakah Anda mulai dengan kaki kanan atau kaki kiri dulu?" Bila ada orang sebelum berjalan selalu berpikir akan melangkahkan kaki kanan atau kaki kiri dulu, tentunya Anda akan berkata, bahwa orang itu mungkin sinting. Setiap kali kita berjalan, kita melakukannya begitu saja tanpa pernah berpikir untuk melangkahkan kaki kiri atau kaki kanan dulu. Ingatlah, Anda tidak perlu setiap pagi memutuskan membaca dulu kemudian berdoa atau sebaliknya, tetapi datang saja ke hadapan Tuhan. Adakalanya Anda membaca Alkitab dulu kemudian berdoa, adakalanya berdoa dulu baru membaca Alkitab. Tidak perlu Anda tetapkan satu peraturan mati. Adakalanya begitu bangun pagi, Anda hanya berdoa beberapa kalimat lalu membaca Alkitab. Tetapi adakalanya perasaan di dalam Anda ingin membuka Alkitab dan membaca beberapa ayat; setelah membaca, mungkin timbul perasaan dan Anda mulai berdoa. Kedua hal tersebut biasanya timbul pada waktu yang sama dan memerlukan waktu yang sama pula. Untuk ilustrasinya, mari kita perhatikan Saudara George Muller, yang menangani sebuah panti asuhan di Inggris. Dia adalah seorang yang pada abad ke-18 berdoa dan membaca Alkitab, membaca Alkitab dan berdoa. Dalam otobiografinya, ia berkata, bahwa setiap pagi ia menggunakan waktu untuk menghampiri Tuhan. Anda tidak dapat mengatakan ia hanya membaca Alkitab, juga tidak dapat mengatakan ia hanya berdoa; Anda hanya dapat berkata, bahwa ia berdoa dan membaca Alkitab, membaca Alkitab dan berdoa. Ketika dia datang ke hadapan Tuhan, dia memberikan perhatian yang sama kepada membaca Alkitab dan berdoa. Karena itu, dalam abad yang lalu, hampir semua orang mengakui, bahwa berkenaan dengan pelaksanaan membaca Alkitab dan berdoa, George Muller adalah satu teladan yang. paling tepat. Dia tidak memberatkan satu sisi. Dia adalah orang yang memakai pikirannya untuk memahami Alkitab dan melatih rohnya untuk menjamah firman. Tidak hanya demikian, dia juga adalah orang yang memadukan pembacaan Alkitab dengan doa. Karena itu, di hadapan Tuhan ia sangat hidup dan segar, juga teguh dan mantap. Saudara saudari, saya harap kalian memperhatikan perkara ini sebelum melanjutkan pelajaran mengenai doa.

MAKNA DOA

Sekarang marilah kita membahas pelajaran pertama mengenai doa, makna doa. Saya ingin bertanya kepada kalian, saudara saudari, apakah doa itu? Apa sebenarnya berdoa itu? Apakah makna doa? Banyak orang begitu mendengar, kata doa, langsung berpikir bahwa yang dimaksud adalah manusia datang ke hadapan Allah untuk mengajukan permohonan. Karena manusia berkekurangan, perlu suplai barang-barang jasmani; atau sakit dan perlu kesembuhan; atau ada masalah-masalah lainnya, perlu penyelesaian; karena itu manusia pergi ke hadapan Allah, memintaNya menyuplai kebutuhannya, menyembuhkan penyakitnya, dan menyelesaikan masalah-masalahnya. Orang mengira inilah yang dimaksud dengan doa. Secara lahiriah tampaknya, dalam Alkitab terdapat contoh- contoh doa yang demikian. Misalkan janda dalam Lukas 18 yang selalu datang kepada hakim, minta haknya dibela terhadap lawannya. Akan tetapi saudara saudari, ingatlah, itu bukan makna doa yang tepat seperti yang diwahyukan dalam Alkitab. Meskipun definisi sedemikian tidak salah, tetapi terlampau dangkal, kurang dalam, dan kurang tepat. Jika kita ingin benar-benar mengetahui apakah doa itu, kita harus dengan jelas mengerti bahwa doa bukan melulu manusia mengajukan permohonan di hadapan Allah untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Kita harus tahu, bahwa kita tidak bisa memutuskan satu kebenaran apa pun dari Alkitab hanya berdasarkan satu bagian atau satu aspek saja. Seperti juga Anda tidak dapat mengatakan seperti apa sebuah rumah bila hanya dipandang dari satu sudut atau satu bidang. Anda perlu memandangnya, dari berbagai sisi secara keseluruhan, kemudian baru Anda dapat membuat keputusan yang benar. Dengan prinsip, yang sama, bila kita kumpulkan semua ayat dalam Alkitab mengenai doa dan memandangnya sebagai suatu keseluruhan, kita akan melihat bahwa doa bukan hanya perkara manusia mengajukan permohonan kepada Allah karena manusia membutuhkan sesuatu. Itu hanya sebagian dari makna doa, bukan keseluruhan. Bila kita masih ada waktu, kita bisa mengumpulkan semua contoh doa yang konkrit dalam Alkitab dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, dan perlu melihatnya baik-baik. Misalnya, dalam Perjanjian Lama ada doa Abraham, doa Musa, doa Daud, doa Salomo, doa Nehemia, doa Elia, doa Yesaya, doa Daniel, dan doa nabi-nabi lainnya; sedangkan dalam Perjanjian Baru ada doa Tuhan Yesus, doa para rasul. Bila kita melihat dengan seksama doa-doa itu satu per satu, berarti kita mengumpulkan seluruh doa dalam Aktab, membentuknya menjadi suatu bangunan, saat itu kita dapat melihat dengan jelas apakah sebetulnya doa itu. Tentu saja sekarang kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk meneliti sedemikian rinci. Kita hanya bisa menggunakan perkataan sederhana untuk berbicara mengenai definisi doa.

1. DOA ADALAH SALING KONTAK

ANTARA MANUSIA DENGAN ALLAH

Doa bukan hanya manusia mengontak Allah, melainkan saling kontak antara manusia dengan Allah. Perkara kontak antara Allah dengan manusia adalah judul yang sangat besar dalam Alkitab. Kita sering mengatakan, bahwa manusia hidup untuk menjadi bejana Allah. Dalam alam semesta, Allah adalah isi manusia, dan manusia adalah bejana Allah. Tanpa manusia, Allah tidak memiliki wadah untuk menaruh diri-Nya - Ia menjadi Allah yang tuna wisma. Saya tidak mengerti mengapa demikian, yang saya tahu, inilah faktanya. Kebutuhan Allah yang terbesar dalam alam semesta ini adalah manusia. Dikatakan dari diri Allah sendiri, hakiki-Nya sudah sempurna, tetapi dikatakan dari cerita Allah dalam alam semesta, Ia masih memerlukan manusia untuk berkoordinasi.

Sampai di sini barulah kita mengerti kalimat terakhir dari Efesus 1, yang mengatakan bahwa gereja adalah Tubuh Kristus, kepenuhan Kristus. Istilah kepenuhan ini sulit diterjemahkan. Istilah ini bukan hanya mengacu kepada kepenuhan Kristus, tetapi juga mengandung arti kelengkapan Kristus. Karena itu, di satu aspek gereja adalah kepenuhan Kristus, di pihak lain gereja adalah kelengkapan Kristus. Dengan kata lain, tanpa gereja sepertinya Kristus kurang lengkap.

Kita, semua harus hati-hati dalam memahami perkataan ini, karena hal ini bisa menimbulkan perdebatan sengit dalam teologi. Saya tidak mengatakan Allah itu tidak sempurna sehingga Ia memerlukan manusia untuk membuat-Nya sempurna. Yang saya maksud ialah Allah di dalam diri-Nya sendiri mutlak sempurna, tetapi tanpa manusia, dalam alam semesta ini Allah masih kurang lengkap. 0, saudara saudari, alangkah mulianya perkara ini.

Dalam rencana kekal-Nya, Allah menetapkan manusia untuk menjadi bejana-Nya atau dengan kata lain, menghendaki manusia menjadi kelengkapan-Nya. Karena itu, Kejadian 1 dan 2 menunjukkan kepada kita, bahwa ketika Allah menciptakan manusia, Ia telah melakukan dua persiapan bagi manusia. Persiapan pertama ialah Ia menciptakan manusia menurut gambar dan rupa- Nya. Manusia diciptakan menurut rupa Allah, karena itu hari ini dalam banyak aspek manusia menyerupai Allah. Berbagai aspek dari ekspresi manusia seperti kesukaan, kemarahan, kesedihan, kegembiraan, kesenangan, pilihan, dan lain-lain - baik emosi, tekad, atau wataknya - mengekspresikan Allah sampai pada tingkat tertentu dan merupakan miniatur dari cerita di dalam Allah.

Persiapan lainnya ialah Allah menciptakan Roh di batin manusia. Dari berbagai macam makhluk hidup yang tidak terbilang dalam alam semesta, selain manusia, tidak ada makhluk hidup lainnya yang memiliki Roh. (Malaikat adalah Roh, ini adalah perkara lain). Di antara seluruh ciptaan ada satu makhluk ciptaan yang bukan Roh tetapi memiliki Roh, dan itu adalah manusia. Mengapa Allah menciptakan Roh untuk manusia di dalam batinnya? Kita semua tahu, ini karena Allah menghendaki manusia menerima Dia, Allah Sang Roh. Sama seperti Ia telah menciptakan lambung untuk manusia agar manusia dapat makan. Coba pikirkan : seandainya Allah tidak menciptakan lambung bagi manusia, bagaimana kita dapat makan? Karena kita memiliki lambung, maka kita dapat menerima makanan ke dalam kita, menikmatinya, mencernanya, dan mengasimilasinya ke dalam diri kita. Demikian juga, karena kita memiliki Roh di batin kita, kita dapat menerima Allah ke dalam kita dan mengasimilasi Dia, menjadikan Dia unsur kita.

Dalam dua pasal pertama kitab Kejadian, ketika Allah menciptakan manusia sebagai bejana-Nya, Ia telah melakilkan dua langkah persiapan. Langkah pertama, menciptakan manusia serupa diri-Nya, dan langkah kedua ialah menciptakan Roh di dalam manusia supaya manusia dapat menerima-Nya. Setelah Ia selesai mengadakan kedua persiapan ini, Ia menaruh diri-Nya sendiri di hadapan manusia dalam rupa pohon hayat, agar manusia dapat menerima-Nya, mendapatkan-Nya sebagai hayat. Saudara saudari, di dalam Roh manusialah terjadi kontak antara Allah dengan manusia. Ketika terjadi kontak seperti ini antara Allah dengan manusia, Allah masuk ke dalam manusia untuk menjadi isinya, dan manusia menjadi bejana-Nya untuk mengekspresikan Dia secara lahiriah. Dengan demikian tujuan kekal Allah tercapai di atas diri manusia.

Ingatlah, doa yang sejati adalah saling kontak antara Allah dengan manusia. Doa bukan hanya manusia mengontak Allah, tetapi juga Allah mengontak manusia. Apabila dalam doa manusia tidak menjamah atau mengontak Allah, dan Allah tidak menjamah atau mengontak manusia, doa tersebut di bawah standar normal. Setiap doa yang memenuhi standar adalah doa yang saling mengalir dan saling kontak antara Allah dengan manusia. Allah dan manusia bagaikan aliran listrik yang mengalir ke dalam satu sama lain. Sulit dikatakan bahwa doa adalah Allah di dalam manusia secara sepihak atau, manusia di dalam Allah secara sepihak. Menurut fakta dan pengalaman, doa adalah aliran antara Allah dengan manusia. Setiap doa yang benar-benar memenuhi standar pasti memiliki keadaan saling mengalir antara Allah dengan manusia, sehingga manusia dapat menjamah Allah, dan Allah dapat menjamah manusia. Karena itu, makna doa yang paling tinggi dan paling tepat adalah saling kontak antara Allah dengan manusia.

2. DOA ADALAH MANUSIA MENGHIRUP ALLAH,

MENDAPATKAN ALLAH,

DAN DIDAPATKAN OLEH ALLAH

Satu doa yang sejati juga berarti manusia menghirup Allah, seperti menghirup udara. Ketika Anda menghirup Allah secara demikian, dengan sendirinya Anda mendapatkan Allah, sama seperti ketika Anda menghirup udara, Anda menerima udara. Hasilnya, bukan hanya Allah didapatkan oleh Anda dan menjadi kenikmatan Anda, tetapi juga seluruh diri Anda akan ditaklukkan oleh Allah, berpaling kepada Allah, sepenuhnya didapatkan Allah. Semakin banyak berdoa, Anda akan semakin dipenuhi Allah, semakin ditaklukkan Allah, didapatkcan oleh Allah. Bila Anda tidak berdoa selama seminggu atau bahkan sebulan, maka Anda akan jauh dari Allah. Apa maksudnya jauh dari Allah? Ini berarti Anda tidak mendapatkan Allah, dan Allah tidak mendapatkan Anda. Jika Anda ingin kembali mendapatkan Allah dan membiarkan Allah mendapatkan Anda, jalan satu-satunya adalah berdoa. Tidak cukup hanya berdoa dua atau tiga menit, Anda harus berdoa dan berdoa lagi, sampai Anda benar-benar telah menghirup Allah, Anda didapatkan Allah, dan Anda mendapatkan Allah. Karena itu, saudara saudari, doa yang sejati sangatlah penting bagi kehidupan orang Kristen.

Saudara saudari, jangan sekali-kali mengira bahwa doa hanya sekadar memohon sesuatu kepada Allah. Misalkan Anda membutuhkan rumah, Anda minta Allah menyer diakannya. Setelah berdoa, Anda menerima sebuah perkataan Tuhan yang mengatakan, bahwa apa yang telah Anda minta akan Anda terima. Keesokan harinya, datanglah seorang saudara dan berkata kepada Anda, "Apakah Anda membutuhkan sebuah rumah? Tetangga saya memiliki dua buah rumah untuk disewakan; lokasinya nyaman dan harga sewanya pun murah." Dengan segera Anda bersyukur dan mernuji Allah, berkata, "Haleluya, Tuhan adalah Allah yang benar dan hidup; Ia telah menjawab doaku." Saya tidak berkata, bahwa itu bukan doa, tetapi doa itu tidak cukup. Saudara saudari, bila Anda benar-benar telah mempelajari pelajaran mengenai berdoa, perihal Anda dapat menemukan sebuah rumah atau tidak adalah soal kedua; hal pertama yang perlu Anda perhatikan adalah apakah dengan doa tersebut Anda telah lebih banyak mendapatkan Allah, dan apakah Anda lebih banyak didapatkan oleh Allah. Bila hasil dari suatu doa berupa pemenuhan terhadap suatu hal tertentu tanpa mendapatkan Allah atau didapatkan Allah, maka doa itu adalah doa yang tidak lulus, gagal. Puncak dari suatu doa seharusnya mengakibatkan pendoa lebih banyak mendapatkan Allah dan lebih banyak didapatkan oleh Allah, walaupun hal yang dia minta kepada Allah juga dikabulkan.

Renungkanlah, apakah pengalaman doa Anda seperti ini? Meskipun sering kita tidak mengetahui makna doa ini dan masih berdoa kepada Allah mengenai urusan tertentu, Allah tetap membawa kita ke dalam Dia melalui doa kita untuk hal-hal tersebut. Misalnya, seorang saudari yang adalah seorang ibu sangat mengasihi anaknya tetapi sangat kurang mengasibi Tuhan. Bagaimanapun Anda membantunya, dia tetap tidak menuntut Tuhan. Pada suatu hari, anaknya jatuh sakit. Setelah berkali-kali pergi ke dokter, anak itu tetap tidak sembuh. Sang ibu menjadi tidak berdaya dan tidak ada pilihan lagi selain bersandar kepada Tuhan. Ketika ia berdoa, ia hanya minta kepada Tuhan agar Tuhan menyembuhkan anaknya. Ia sama sekali tidak bermaksud untuk mendapatkan Tuhan. Siapa sangka, melalui doa seperti ini ia malah bertemu Tuhan, menjamahNya, dan menikmati-Nya. Melalui doa semacam ini, orang yang bertahun-tahun menolak untuk didapatkan oleh Tuhan, secara spontan telah masuk ke dalam Allah dan pada saat yang sama, telah didapatkan oleh Allah. Namun ia tetap tidak mernahant apa yang telah terjadi.Tiga hari kemudian, anaknya sembuh, dan ia datang ke sidang persebtuan dan bersaksi betapa Allah itu setia, bagaimang ia telah menjawab doanya, dan bagaimana anaknya telah disembuhkan. Meskipun ia telah memperoleh realitas dalam doa, ia masih tidak menyadarinya. Kita sendiri juga sering demikian. Ketika kita nampak kegersangan gereja dan datang kepada Tuhan untuk berdoa, kita merasa bahwa kita berdoa untuk keadaan gereja. Tetapi dalam pandangan Allah, tujuan kita berdoa adalah menjamah-Nya, menghirup-Nya, mendapatkan-Nya, dan membiarkan-Nya mendapatkan kita.

Saya yakin dalam beberapa tahun terakhir ini, Allah membuat setiap anak-Nya mengenal lebih jelas bahwa doa yang sejati bukanlah doa untuk urusan, meminta hal-hal, atau bersyafaat bagi orang. Doa yang sejati adalah menghirup Allah sendiri, mendapatkan Allah, dan didapatkan oleh Allah. Semua doa untuk orang, urusan, dan barang di luar Allah bukanlah esens doa, melainkan hanya kulit luar dari doa atau hiasan tambahan dari doa saja. Doa yang sejati, doa yang hakiki, adalah doa yang di dalamnya Anda benar-benar berkontak dengan Allah, menghirup-Nya, menikmati-Nya, mendapatkan-Nya, dipenuhi dengan-Nya, dan membiarkan Dia mendapatkan diri Anda. Bila anak-anak Allah nampak hal ini, mereka akan lebih memahami makna doa yang sejati.

3. DOA ADALAH MANUSIA BEKERJA SAMA

DENGAN ALLAH, MEMBIARKAN ALLAH

MENGEKSPRESINAN DIRI-NYA SENDIRI DAN KEHENDAK-NYA MELALUI MANUSIA,

UNTUK MENGGENAPRAN KEHENDAK-NYA

Bila seorang saudara atau saudari telah benar-benar memahami rahasia doa yang tercakup dalam dua butir di atas, dengan sendirinya akan timbul hasil sebagai berikut: orang yang berdoa demikian pasti berkoordinasi dengan Allah, bekerja sama dengan Allah, dan membiarkan Allah mengekspresikan diri-Nya sendiri dan kehendak hati-Nya dari dalamnya dan melaluinya, dan akhimya merampungkan kehendak Allah. Inilah yang dikatakan Roma 8:26-27, yang memberi tahu kita, bahwa kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa; tetapi Roh Kudus berdoa di dalam kita menurut kehendak Allah. Va, kita tidak tahu bagaimana berdoa. Yang kita ketahui adalah yang biasa disebut orang permobonan, tetapi kita tidak tahu mengenai doa yang dibicarakan dalam Alkitab. Kali pertama saya.membaca kedua ayat dalam Roma 8 ini, saya bertanya-tanya apa maksudnya. Saya pikir, ketika saya sakit, bukankah saya berdoa kepada Allah meminta penyembuhan? Ketika saya kekurangan, bukankah saya berdoa kepada Allah untuk menyuplaiku? Bagaimana mungkin Alkitab berkata, bahwa kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa? Lambat laun, Tuhan menunjukkan kepada saya, bahwa kita sama sekali tidak tahu doa yang dikehendaki Allah. Kita paham terhadap doa-doa di bawah standar yang pada umumnya dianggap sebagai doa. Kita tidak tahu doa yang memenuhi standar dan yang menjamah kehendak Allah. Inilah kelemahan kita. Syukur kepada Allah, justru dalam kelemahan inilah, Roh itu menolong kita dan berdoa bagi kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

Saudara-saudara, doa yang sejati adalah Roh Kudus di dalam manusia, melalui manusia menyatakan kehendak Allah. Dengan kata lain, doa yang sejati adalah doa yang melibatkan dua persona. Dua persona ini bukan hanya manusia sendirian berdoa kepada Allah, tetapi Roh Kudus berbaur dengan manusia, mengenakan manusia, dan bersatu dengan manusia dalam doa. Di luar kelihatannya manusia sedang berdoa, tetapi di dalam Roh itu yang berdoa. Ini berarti dua persona menyatakan doa yang sama pada waktu yang sama. Ingatlah, inilah doa yang dikatakan dalam Alkitab.

Kita sering membicarakan mengenai doa Elia. Yakobus 5:17 berkata, "Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan." "Bersungguh-sungguh berdoa" dalam bahasa Yunani berarti berdoa dengan doa, atau berdoa dalam doa. Ini adalah satu pengungkapan yang sangat khusus di dalam Alkitab. Ingatlah, inilah yang dimaksud dengan doa dua persona. Ketika Elia berdoa, ia berdoa dengan doa atau ia berdoa di dalam doa. Dengan perkataan lain, ia berdoa dengan doa Roh itu yang ada di dalam dirinya. Karena itu, dapat kita katakan bahwa doa Elia adalah Allah berdoa kepada diri-Nya sendiri di dalam Elia. Saudara Andrew Murray pernah berkata, bahwa doa yang sejati adalah Kristus vang berumah di dalam kita berdoa kepada Kristus yang duduk di atas takhta. Kristus berdoa kepada Kristus sendiri, ini kedengarannya.aneh, tetapi dalam pengalaman kita memang demikian.

Mari kita perhatikan kembali Roma 8:27. Ada kalimat yang mengatakan, "Roh itu ... sesuai dengan kehendak Allah, berdoa . . ." (dalam bahasa aslinya tidak ada kata "kehendak".) Maksudnya, Roh Kudus berdoa di dalam kita sesuai dengan Allah, yaitu Allah berdoa di dalam kita melalui Roh-Nya. Jadi, doa demikian pasti menyatakan diri Allah sendiri, tentunya juga menyatakan kehendak Allah sendiri.

Dari beberapa contoh ini kita dapat rnelihat, bahwa doa yang sejati pasti akan membuat diri kita sepenuhnya berbaur dengan Allah, menjadi orang yang hepersona dua. Ketika Anda berdoa, Dialah yang berdoa, dan ketika Ia berdoa Anda juga berdoa. Ketika Dia berdoa di dalam Anda, maka Anda menyatakan doa itu di luar. Dia dan Anda sepenuhnya bersatu, baik di dalam maupun di luar; Anda dan Dia berdoa bersama pada saat yang sama. Pada saat itu Anda dan Allah tidak dapat dipisahkan. Hasilnya, Anda bukan hanya berkoordinasi dengan Allah, tetapi juga bekerja bersama Allah, sehingga diri Allah dan maksud hatiNya dapat dinyatakan melalui Anda, akhimya merampungkan kehendak Allah. Inilah doa sejati yang sesuai dengan Alkitab.

Karena itu, Yudas ayat 20 berkata, "Berdoalah dalam Roh Kudus." Ini berarti, Anda tidak bisa berdoa di dalam diri Anda sendiri. Dengan kata lain, doa Anda harusiah merupakan pernyataan dari dua persona (Anda dan Roh Kudus), berdoa sebagai kesatuan. Efesus 6:18 berkata, "Berdoalah setiap waktu di dalam Roh." Sulit dikatakan bahwa roh di sini hanya mengacu kepada Roh Kudus saja. Mereka yang membaca Alkitab dilihat dari sudut ortodoks mengakui bahwa roh di sini bukan mengacu kepada Roh Kudus melulu; tetapi, juga termasuk roh manusia kita. Ketika kita berdoa kita harus berdoa dalam roh yang berbaur semacam itu.

Saya percaya, sekarang saudara saudari dapat melihat, bahwa Alkitab adalah Allah mengembuskan diri-Nya sendiri, sedangkan berdoa adalah kita menghirup Allah masuk. Kita membaca Alkitab dan berdoa berarti kita menghirup Allah ke dalam kita. Karena itu kita tidak seharusnya membaca Alkitab dan tidak berdoa. Jika kita hanya membaca Alkitab, berarti kita hanya membiarkan Allah mengembuskan diri-Nya, namun kita tidak menghirup Allah. Karena itu, kita masih perlu berdoa. Tetapi, dalam doa, permohonan kita akan manusia, perkara, dan benda hanyalah kulit luar, tambahan. Doa yang sejati selalu sejalan dengan Alkitab; yaitu mengembus dan menghirup di hadapan Allah, sehingga kita dan Allah, Allah dan kita, berkontak satu sama lain dan mendapatkan satu sama lain. Hasilnya, kita sepenuhnya berkoordinasi dengan Allah, bekerja bersama Allah. Demikianlah Allah lalu menyatakan diri-Nya sendiri dan maksud hati-Nya melalui kita, sehingga kehendak-Nya terampungkan. Inilah definisi singkat mengenai doa di dalam Alkitab.