← Daftar isi Doa · bab 18/19

PUASA DAN DOA

Orang Kristen sudah tidak asing lagi dengan hal doa puasa, sayang banyak orang yang salah memahami maknanya, menganggapnya sebagai hal yang biasa. Saya kuatir, orang yang benar-benar mengerti doa puasa tidaklah banyak. Sekarang kita akan berpaling kepada Alkitab untuk melihat hal ini dengan cermat.

Kali pertama Alkitab menyinggung tentang doa, belum disinggung tentang puasa. Anda tidak nampak Nuh berdoa puasa, juga tidak nampak Abraham berdoa puasa. Hingga pada zaman Musa, meskipun Alkitab tidak dengan perkataan yang tegas menyatakan bahwa dia berdoa puasa, namun Anda dan saya harus percaya, saat Musa di Gunung Sinai, selama empat puluh hari empat puluh malam di hadapan Allah, dia berdoa puasa. Selanjutnya, Alkitab mulai sering menyinggung tentang berdoa puasa. Khususnya sampai Perjanjian Baru, dengan jelas menunjukkan bahwa puasa memiliki hubungan yang sangat besar dengan doa. Orang pertama yang berpuasa yang disinggung dalam Perjanjian Baru adalah Yohanes Pembaptis. Matius 11:18 berkata, bahwa Yohanes Pembaptis datang, dia tidak makan, juga tidak minum. Tentu, itu bukan mengacu kepada Yohanes Pembaptis mutlak berpuasa, melainkan mengacu kepada tidak berbagiannya dia dalam kesenangan dunia. Karena itu, di satu aspek Yohanes Pembaptis tidak makan dan tidak minum, di aspek lain dia makan belalang dan madu hutan (Mat. 3:4). Namun bagaimanapun, dia boleh dijajarkan dalam deretan orang-orang yang berpuasa.

Orang kedua dalam Alkitab Perjanjian Baru yang berpuasa adalah Tuhan Yesus. Ketika Tuhan mulai menunaikan ministri-Nya, Dia berpuasa selama empat puluh hari lamanya, kemudian di dalam pengajaran-Nya, Ia juga menyinggung beberapa hal tentang berpuasa. Tuhan berkata, ketika Dia beserta dengan murid-murid- Nya, mereka tidak perlu berpuasa, namun ketika Dia meninggalkan mereka, mereka akan berpuasa (Mrk. 2:18-20). Juga berkata, bahwa ada setan yang tidak bisa diusir hanya bersandarkan doa (Mat. 17:21). Karena itu dari teladan Tuhan Yesus kita bisa nampak, bahwa Dia benar-benar adalah Orang yang berpuasa. Bersamaan dengan itu pengajaran-Nya juga menampakkan kepada kita, apa sebenarnya berpuasa. Selanjutnya, kitab Kisah Para Rasul memperlihatkan kepada kita, bahwa para rasul sering berdoa dan berpuasa. Kisah Para Rasul 13 dengan jelas mencantumkan, dalam gereja di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, mereka di sana berpuasa dan berdoa. Lebih-lebih ketika akan mengutus dua orang untuk pergi ke tanah kafir, mereka berpuasa dan berdoa, kemudian baru mengutus dua orang pergi. Catatan tentang doa dalam pasal 13 ini boleh dikatakan mencapai puncaknya.

Dengan sederhana saya telah menunjukkan hubungan antara puasa dan doa dalam Alkitab. Dari sini kita bisa nampak, apakah sebenarnya hubungan antara puasa dengan doa. Atau dengan kata lain, apakah makna berpuasa dalam berdoa?

1. BERPUASA ADALAH PERNYATAAN YANG MUNCUL DENGAN SENDIRINYA KARENA SESEORANG MENERIMA

TANGGUNG JAWAB YANG BESAR

Pertama, berpuasa adalah satu macam pernyataan yang muncul dengan sendirinya dari seseorang yang menerima satu tanggung jawab yang besar di hadapan Allah. Pada saat demikian, ia dengan sendirinya akan berpuasa. Pengalaman kita bisa membuktikan hal ini. Ketika kita menghadapi satu perkara yang besar dalam penempuhan hidup manusia kita, kita sering tidak bisa makan. Memang, ada perkara yang membuat kita bersukacita sehingga kita banyak makan, namun ada juga perkara yang membuat kita tertekan sehingga tidak bisa makan. Karena perkara yang dihadapi sangat besar, tanggung jawab yang dipikul sangat berat, maka dengan sendirinya kita tidak bisa makan; sampai perkara itu terselesaikan, tanggung jawab ditunaikan, kita baru bisa menghela nafas lega, memulihkan kehidupan yang normal. Demikian juga, ketika kita menerima satu perkara yang besar dari Allah, di dalam kita ada perasaan yang sangat dalam, tanpa harus sengaja berpuasa kita sudah berpuasa. Di Gunung Sinai, karena Musa menerima satu tanggung jawab yang besar dan berat dari Allah, maka selama empat puluh hari dia tidak makan. Lambat laun Anda akan nampak, ketika Tuhan Yesus keluar menunaikan pekerjaan-Nya, Dia menerima satu tanggung jawab yang besar, Dia juga tidak bisa makan. Bukannya Dia benar-benar tidak bisa makan, melainkan Dia tidak berminat makan, seolab-olah di dalam diri-Nya tidak ada lagi tempat untuk menerima makanan. Sampai pada Kisah Para Rasul 13, karena ada satu perkara yang besar menimpa para nabi dan pengajar itu, seluruh diri mereka harus dituangkan untuk tanggung jawab itu, dengan sendirinya mereka lalu berpuasa dan berdoa. Inilah makna pertama dari berpuasa.

2. BERPUASA ADALAH

PERNYATAN MUTLAK DARI SESEORANG

Kedua, berpuasa adalah pernyataan mutlak bahwa seseorang berdiri di pihak Allah. Dalam doa peperangan telah kita katakan, bahwa berdoa adalah pernyataan manusia di alam semesta yang menyatakan bahwa dirinya berdiri di pihak Allah untuk menentang Iblis. Dan berpuasa adalah satu pernyataan mutlak dari berdoa. Hari ini, jika seseorang ingin menyatakan kemutlakannya terhadap sesuatu hal, dia akan berhenti makan. Demikian juga, jika seseorang atas sesuatu hal ingin menyatakan mutlak berdiri di pihak Allah dan menentang Iblis, dia akan menyatakannya melalui berpuasa. Jika Anda di satu pihak berdoa untuk suatu hal, di pibak lain masih bisa makan, itu menyatakan bahwa Anda masih belum dengan mutlak berdiri di pihak Allah, sikap Anda masih kurang teguh. Karena itu, ketika saudara saudari berdoa, janganlah meremehkan doa dengan sembarangan berpuasa. Ingatlah selalu, bahwa berpuasa di sini berarti ada satu perkara yang sangat berat dan besar, terhadap perkara ini sikapku, motivasiku, seratus persen mutlak berdiri di pihak Allah untuk menentang musuh Allah.

3. BERPUASA ADALAH

MELEPASKAN HAK YANG SAH

Ketiga, makna hakiki berpuasa adalah melepaskan hak yang sah. Dalam hidup manusia, tidak ada perkara kedua yang lebih sah daripada makan. Setelah Allah menciptakan manusia, pengaturan pertama bagi manusia adalah masalah makan. Dalam Kejadian 1, setelah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, Allah segera menetapkan sayur-mayur sebagai makanan manusia. Jadi, makan adalah sah bagi manusia. Manusia berpuasa, ini menyatakan, bahwa demi menanggung satu perkara yang besar, manusia melepaskan hak yang sangat sah.

Karena berpuasa berarti melepaskan hak yang sah, maka atas banyak hal kita pun harus belajar melepaskan hak yang sah. Jika dalam kehidupan masih tidak bisa melepaskan kenikmatan, lalu hanya melakukan tindakan berpuasa, berpuasa yang demikian tidak ada artinya. Kehidupan Tuhan Yesus berpadanan dengan puasa-Nya, karena ketika Dia hidup sebagai manusia di bumi, banyak hak yang sah telah dilepaskan-Nya. Dalam seumur hidup-Nya, Tuhan Yesus hidup di dalam prinsip berpuasa. Dia telah melepaskan hak-Nya yang sah, melepaskan kenikmatan yang seharusnya diperoleh. Karena itu, meskipun Dia tidak setiap hari berpuasa, namun setiap hari Dia hidup di dalam prinsip berpuasa.

4. BERPUASA ADALAH

PERNYATAAN ORANG YANG TIDAK

MEMPERHATIKAN DIRI SENDIRI

Keempat, berpuasa adalah pernyataan bahwa orang tidak memperhatikan dirinya sendiri, bahkan tidak menyayangi jiwanya. Inilah yang dikatakan sebagai orang yang tidak memperhatikan hidup atau mati. Makan sangat berkaitan dengan keberadaan manusia; tanpa makan, manusia bisa mati kelaparan. Karena itu, berpuasa berarti menjaminkan nyawa. Arti berpuasa ialah aku rela mati, asalkan perkara ini tergenapi. Aku bergumul dengan nyawa, bergumul dengan mati dan hidup. Adakalanya, orang yang bekerja di pemerintahan, bergumul untuk masalah tinggal atau pergi karena sesuatu hal. Anda setuju dengan maksudku, Anda tinggal; Anda tidak setuju dengan maksudku, Anda pergi. Ingatlah, berpuasa adalah bergumul dengan mati atau hidup, sampai mati tidak akan rela membiarkan perkara ini lewat, lebih baik mati namun bisa membiarkan perkara ini terus maju. Menjaminkan hayat, bergumul dengan mati atau hidup, inilah pemyataan dari berpuasa.

Karena itu, jika kita berdoa bagi suatu beban, namun dalam hati masih bisa memperhatikan masa depan, memperhatikan nasib, memperhatikan hidup atau mati, ingatlah, kita boleh saja berdoa, tetapi tidak perlu berpuasa. Jika Anda benar-benar mau berdoa puasa untuk suatu perkara, Anda harus memiliki satu keadaan, yaitu mengesampingkan nyawa Anda sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Paulus, "Aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun" (Kis. 20:24). Ketika Paulus untuk kali terakhir ingin pergi ke Yerusalem, sepanjang jalan ada kaum saleh yang memperingatkan dia, bahwa begitu dia sampai di sana, akan ada belenggu dan bahaya. Mereka menasihati Paulus sedemikian rupa sehingga Patiltis tidak tahan dun berkata, "Mengapa kamu menangis dan dengan jalan demikian mau menghancurkan hatiku? Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan" (Kis. 21:13). Ingatlah, inilah prinsip berpuasa. Berpuasa tidak hanya melepaskan hak yang sah, bahkan mempertaruhkan nyawa. Karena itu, adakalanya kita merasa bahwa puasa kita tidaklah bermakna, sebab puasa kita hanya berupa sedikit pernyataan lahiriah, di dalamnya tidak ada perbedaan apapun. Berpuasa ialah ada satu perkara yang menekan diri Anda, Anda bergumul dengan nyawa Anda, Anda rela mati dan tidak akan membiarkan perkara ini lewat begitu saja, mati pun akan tetap menyatakan hal ini kepada Allah. Berpuasa baru ada maknanya jika memiliki perasaan yang demikian kuat.

5. BERPUASA ADALAH

MENGINGINKAN KEHENDAK ALLAH TERAMPUNGKAN, IBLIS TERKALAHKAN

Kelima, berpuasa adalah menginginkan kehendak Allah terampungkan, Iblis terkalahkan. Catatan berdoa puasa dalam Alkitab, jika bukan untuk perampungan kehendak Allah, tentu untuk mengusir Iblis; Anda sulit menemukan satu contoh bahwa berdoa puasa adalah untuk faedah manusia sendiri. Karena itu kita boleh memastikan, bahwa berpuasa yang sejati adalah di satu aspek menginginkan kehendak Allah terampungkan, di satu aspek menginginkan Iblis disingkirkan. Mungkin Anda berkata, "Kami berdoa puasa bagi penyembuhan suatu penyakit, bisakah itu dikatakan menginginkan kehendak Allah terampungkan dan menginginkan Iblis tersingkirkan" Persoalannya di sini, jika Anda melulu berdoa untuk penyakit Anda, konsepsi Anda, pandangan Anda, hanya melulu menginginkan Allah menyembuhkan Anda, doa puasa Anda itu tidaklah berguna. Namun ketika Anda mendapat belas kasihan, mendapatkan terang, mendapatkan pimpinan sedemikian rupa sehingga saat Anda tertekan di dalam penyakit Anda dan seolah-olah tanpa harapan akan sembuh lagi, Anda masih bisa bergumul di hadapan Allah dan berkata, "Ya Allah, jika Engkau membiarkan aku di bumi, aku mau hari-hariku selanjutnya mutlak bagi-Mu; jika tidak, mohon Engkau cepat-cepat membiarkan aku pergi. Aku tidak ingin hidup di bumi bagi diriku sendiri. Ya Allah, hari ini aku di sini memohon Engkau melakukan satu hal, menyembuhkan aku, supaya hari-hariku selanjutnya mutlak hidup bagi-Mu." Jika Anda memiliki keadaan demikian, hati demikian, konsepsi demikian, Anda sudah berada di dalam prinsip puasa. Saya percaya, kebanyakan penyakit akan disembuhkan pada saat demikian.

Saya tambahkan beberapa perkataan. Jangan sekali-kali percaya bahwa penyembuhan Allah itu mutlak tanpa syarat, tanpa batas. Menurut kuat kuasa Allah, memang tanpa batas, namun bagi orang yang mendapatkan penyembuhan Allah, masih terbatas. Ketahuilah, orang-orang yang dulu pemah mendapatkan penyembuhan Allah, sejangka waktu setelah penyembuhan itu, mereka masih bisa mati lagi. Sekalipun Lazarus telah dibangkitkan dari antara orang mati, akhirnya ia tetap mati lagi. Penyembuhan yang tanpa batas harus menunggu hari kebangkitan kelak. Hari ini segala macam penyakit tidak ada yang mendapatkan penyembuhan mutlak, tidak ada yang mendapatkan penyembuhan total. Dua ribu tahun berselang, jutaan orang dalam gereja telah mendapatkan penyembuhan. Saya ingin bertanya, di mana orang-orang itu sekarang? Mereka ada di dalam kubur. Mereka sedang menantikan penyembuhan di dalam kematian. Syair sebuah kidung yang digubah oleh saudara Darby mengatakan, "Menunggu Dia datang menjemput kita, terlepas dari maut dan kubur." Meskipun hari ini Anda dan saya belum masuk ke dalam kubur, namun kita berada di dalam kematian. Semua penyakit adalah faktor kematian. Sesungguhnya, sebelum kebangkitan tiba, penyembuhan yang dialami manusia adalah penyembuhan yang sementara. Hari ini, di saat kita membutuhkan, Allah memberi kita penyembuhan yang terbatas, masih memberi kita beberapa tahun lagi untuk hidup di bumi, namun itu bukan untuk kesehatan kita, juga bukan agar kita panjang umur, melainkan untuk kehendak-Nya.

Jadi, saudara saudari, ini bukan berarti, ketika Anda sakit dan Anda berdoa puasa, Allah akan menyembuhkan Anda. Makna puasa ialah Anda di sini mutlak bagi tergenapnya kehendak Allah, Anda ingin musuh Allah terusir; tentang Anda mendapatkan penyembuhan atau tidak, itu perkara lain. Anda nampak kehidupan Anda yang lampau sehingga Anda menyesal dan berkata kepada Allah, bahwa jika Allah berkenan, mohon Dia membiarkan Anda hidup sejangka waktu lagi di bumi. Anda rela kehendak-Nya tergenap atas diri Anda, Iblis tidak ada tempat atas diri Anda, inilah yang membuat Anda berpuasa di hadapan Allah. Jika demikian, saya percaya, di antara sepuluh kasus, ada delapan kasus yang akan mendapatkan penyembuhan Allah. Akan tetapi, sekali lagi saya katakan, penyembuhan sedemikian ada waktunya. Di dalam kehendak-Nya, Allah memberi Anda penyembuhan dalam waktu, agar kehendak-Nya tergenap di atas diri Anda; kalau tidak, sekalipun Anda berdoa puasa, tetap tidak ada gunanya. Jangan mengira asal berdoa dan berpuasa, Allah pasti mengabulkan. Prinsip dasar berdoa puasa ialah menyatakan bahwa seseorang mutlak menginginkan kehendak Allah tergenap, Iblis terusir. Tidak ada satu contoh dalam Alkitab yang mengatakan, bahwa Tuhan mendengar doa puasa bagi faedah manusia secara individu. Setiap tempat dalam Alkitab yang menyinggung tentang doa puasa, kalau bukan untuk tergenapnya kehendak Allah di pihak positif, tentu untuk pengusiran Iblis di pihak negatif. Jangan sekali-kali mengira, ketika usaha Anda rugi, Anda sekeluarga berpuasa dan berdoa, lalu esok harinya usaha Anda mendapatkan keuntungan besar. Tidak ada perkara ini. Berbuat demikian adalah takhayul. Semua doa puasa dalam Alkitab selalu dikarenakan manusia di bumi ini menjamah maksud hati Allah, dan ingin agar Allah menggenapkannya; atau menjumpai musuh Allah, dan ingin agar dia disingkirkan.

6. TIDAK BOLEH SEMBARANGAN

DAN GAMPANG BERPUASA

Makna puasa demikian khidmat, karena itu, saya menasihati saudara saudari : jangan sembarangan dan secara gampang berpuasa. Dalam kitab Injil, kita tidak menemukan Tuhan Yesus sering berpuasa. Jangan sekali-kali memandang puasa adalah perkara yang gampangan. Hanya orang-orang Farisi yang munafik itulah yang bisa berkata, bahwa mereka berpuasa dua kali seminggu, mereka memandang hal puasa sebagai hal yang biasa. Dalam Perjanjian Lama, nabi Yesaya sangat mencela puasa semacam itu, karena doa puasa semacam itu tidak diperkenan Allah. Jangan menganggap puasa sebagai liturgi agama, juga jangan menganggap puasa sebagai syarat yang takhayul. Sebaliknya ketika Allah mengamanatkan satu amanat yang besar kepada Anda, karena tanggung jawab itu demikian berat, perkara itu demikian besar, dan karena Anda mengasihi Allah, mau Allah, memperhatikan kehendak Allah sedemikian rupa, maka Anda rela melepaskan kenikmatan Anda yang sah, bersamaan dengan itu Anda rela bergumul dengan maut, saat demikian dengan otomatis Anda pasti berpuasa.

7. HARUS BERPUASA

Di satu pihak, orang Kristen tidak boleh sembarangan dan gampang berpuasa, di pihak lain orang Kristen harus berpuasa. Orang Kristen yang tidak pernah berpuasa adalah orang Kristen yang bermasalah. Ini bisa terjadi jika bukan karena Allah belum pernah mengamanatkan satu perkara pun kepada dirinya, tentu pada dirinya meskipun telah ada amanat Allah, namun dia tidak mau menerimanya. Jika selamanya Anda tidak pernah merasakan bahwa Allah telah mengamanatkan satu tanggung jawab yang berat kepada Anda, ini menyatakan bahwa Anda tidak pernah ada satu sikap yang teguh yang menyatakan kepada Allah bahwa Anda mau kehendak Allah, Anda mau berdiri di pihak Allah. Anda memandang perkara Allah sebagai hal yang tak berarti, remeh, boleh memberitakan Injil, juga boleh tidak memberitakan Injil; orang dosa beroleh selamat itu baik, tidak beroleh selamat juga baik; semuanya tidak penting, Anda hanya berdoa bagi mereka, setelah berdoa, Anda masih bisa bersenang-senang dan makan minum. Saudara saudari, jika sikap Anda begitu, Anda benar-benar orang Kristen yang luar biasa! Gereja gersang atau tidak gersang, tidak Anda pedulikan, Anda tetap bisa makan. Terhadap perkara Allah Anda tidak memiliki konsep hidup mati, ini membuktikan bahwa diri Anda sebagai orang Kristen berada dalam satu masalah besar. Asal Anda mau sedikit saja bersimpati kepada hati Allah, pasti beban Injil akan menimpa diri Anda, dan Anda akan bergumul untuk hidup dan mati; Anda akan berdoa, “Ya Allah, Injil harus memiliki kuat kuasa, di sini Engkau harus menyelamatkan sejumlah orang, jika tidak, aku tidak bisa makan, tidak bisa minum." Inilah berdoa puasa. Anda juga bisa memperhatikan rumah Allah sedemikian rupa sehingga berkata kepada Allah, “Ya Allah, aku boleh mati, namun gereja tidak boleh demikian gersang. Jika Engkau tidak membereskan kegersangan gereja, lebih baik aku mati." Saudara saudari, ketahuilah, pada saat demikian, Anda pasti berpuasa. Jika anak-anak Allah selamanya belum pernah memiliki pengalaman sedemikan, itu sungguh luar biasa, itu membuktikan bahwa mereka tidak memperhatikan kehendak Allah, juga tidak merasakan betapa ganasnya musuh Allah. Karena itu, apakah berpuasa? Berpuasa berarti, Anda terlalu memperhatikan kehendak Allah, sangat merasakan keganasan musuh Allah, perasaan ini menekan Anda sedemikian rupa sehingga Anda tidak bisa seperti orang pada umumnya yang makan dan minum, bersenang-senang; Anda harus berpuasa.

8. UJIAN ATAS PUASA

Sekarang kita akan melihat ujian atas puasa. Sebenarnya bagaimana Anda tahu bahwa Anda harus berpuasa? Itu dilihat dari apakah Anda lapar ketika Anda tidak makan. Jika Anda merasa lapar ketika tidak makan, dan Anda ingin makan, itu membuktikan bahwa Anda tidak seharusnya berpuasa. Jika Anda tidak merasa lapar ketika tidak makan, tidak haus ketika tidak minum, itulah saatnya Anda harus berpuasa. Adakalanya saudara saudari berkata, "Mari kita berpuasa!" Tetapi baru saja di pagi hari mulai berpuasa, pukul sebelas siang sudah berkata, "Wah aku sungguh lapar." Ketahuilah, puasa pagi hari itu berarti salah. Tidak seharusnya berpuasa. Semua orang yang benar-benar berpuasa tidak akan merasa lapar. Jika ada seorang saudari, sebagai janda, pada suatu hari kehilangan anak tunggalnya, saat itu kalaupun dia tiga hari tidak makan dia tidak akan merasa lapar. Orang lain akan mengkhawatirkannya dan berkata, "Saudari, Anda telah tiga hari tidak makan, ini sungguh luar biasa!" Saudari itu akan berkata, "Sedikit pun aku tidak lapar, aku tidak bisa makan nasi ini."

Karena itu ketika saudara saudari berpuasa dan merasa lapar, lebih baik cepat-cepat makan, jangan munafik, itu berdosa kepada Allah. Hanya tatkala ada satu kesulitan, satu beban, satu situasi menekan diri Anda, membuat Anda tidak bisa makan, sepertinya di dalam Anda tidak ada satu tempat untuk menampung makanan karena kesulitan dan beban itu memenuhi Anda, saat demikian Anda tidak bisa tidak berpuasa. Karena itu harus atau tidaknya berpuasa dilihat dari apakah Anda lapar jika tidak makan. Jika lapar, janganlah berpuasa; bila tidak lapar, baru berpuasa.

9. BEBERAPA HAL

YANG HARUS DIPERHATIKAN

Terakhir, mari kita melihat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berdoa puasa. Pertama, jika benar-benar ada satu beban yang menekan Anda sedemikian rupa sehingga Anda tidak bisa tidak berpuasa, ingatlah, jangan sekali-kali hanya berpuasa tanpa berdoa. Harus berpuasa dan berdoa. Harus berusaha mewujudkan waktu puasa, suasana puasa, tekanan puasa menjadi doa. Orang yang berpengalaman tahu, bahwa berdoa puasa sedemikian mutlak terlepas dari segala bentuk peraturan, tidak perlu dipikirkan, tidak perlu diingat, mutlak berasal dari dalam. Hanya berpuasa tapi tanpa doa adalah perkara yang paling merugikan. Tubuh Anda akan rugi, syaraf Anda akan terluka, bahkan roh Anda akan menderita kerugian. Puasa yang tanpa doa akan membuat beban Anda sulit tersalurkan. Karena itu, kapan kala ada beban yang menekan Anda sedemikian rupa sehingga Anda tidak bisa tidak berpuasa, Anda harus sekuatnya berdoa. Doa yang demikian bisa menjadi makanan rohani Anda, juga bisa membuat syaraf Anda mendapatkan kemantapan, bahkan membuat tubuh Anda mendapatkan semacam suplai kekuatan. Berpuasa tanpa berdoa adalah satu pengausan yang besar; berpuasa dan berdoa adalah satu pemulihan yang besar.

Selanjutnya, ketika berdoa puasa, Anda perlu senantiasa menghindari terlalu banyaknya perkara yang menjadi beban Anda. Jangan berdoa untuk memikul hal-hal yang lain, berdoa khusus untuk satu perkara sudahlah cukup. Mengapa Anda demikian memikul beban? Mengapa Anda demikian sedih? Mengapa Anda tidak bisa melewatkannya? Mengapa Anda bisa tidak makan namun tidak merasa lapar? Anda harus secara khusus berdoa untuk satu perkara itu. Mungkin untuk Injil, mungkin untuk gereja, mungkin untuk keselamatan jiwa tertentu. Kesalahan kita ialah, ketika kita berpuasa, kita memikul banyak perkara. Setiap orang yang berdoa sambil memikul banyak perkara tidak seharusnya berpuasa, karena belum mencapai taraf tidak bisa makan, tidak bisa minum, tidak bisa tidak datang ke hadapan Allah untuk berdoa.

Doa yang sejati selalu dikarenakan manusia mengasihi Allah, hidup di hadapan Allah, menjamah maksud hati Allah, demikianlah Roh Allah kemudian membuat satu perkara yang ingin Allah lakukan menjadi beban berat yang menimpa ke atas dirinya sedemikian rupa sehingga dia tidak bisa makan. Saat ini dengan sendirinya dia harus berpuasa dan datang ke hadapan Allah untuk berdoa. Hasil doa yang demikian tentulah menggenapkan kehendak Allah, mengusir Iblis, dan mendatangkan kuasa Allah.

Terakhir, masih ada satu butir yang harus diperhatikan, yaitu ketika Anda benar-benar memiliki beban untuk berpuasa, jangan melakukannya secara berlebihan. Harus belajar memiliki satu keseimbangan di hadapan Allah. Jangan sekali-kali berkata, "Bukankah Tuhan Yesus berpuasa selama empat puluh hari? Bukankah Musa ketika di atas gunung juga berpuasa selama empat puluh hari? Karena itu aku berpuasa selama delapan atau sepuluh hari tidaklah mengapa." Dua puluh tahun lebih yang lalu, saya pernah melihat seorang saudari, karena keterlaluan dalam berpuasa, tubuhnya menjadi sangat lemah, syarafnya menjadi letih, sehingga Iblis memiliki kesempatan menyerang dia, dan orang lain tidak berdaya membantunya. Akhirnya dia terus berpuasa hingga meninggal. Karena itu, di satu pihak kita jangan sembarangan berpuasa, di pihak lain bila benar-benar memiliki beban, juga jangan melakukannya secara berlebihan, harus ada keseimbangan. Setelah merasa cukup, harus berhenti.

Akhirnya, semoga di tengah-tengah kita, di mana pun dan kapan pun, ada orang yang berdoa puasa. Dalam proses pelayanan kita kepada Tuhan, sampai suatu saat haruslah ada satu perkara yang tidak bisa kita lewatkan di hadapan Allah, saat itu kita harus dengan berdoa puasa menanggulangi perkara tersebut.